Mitos seputar profesi penerjemah

Halo semuanya,

Kali ini saya mau berbagi cerita mengenai mitos-mitos seputar profesi penerjemah. Saya rasa semua profesi memiliki mitosnya sendiri-sendiri. Nah, yang perlu kita ketahui (kalau berniat ingin tahun, sih) apakah mitos-mitos tersebut benar. Mengapa perlu tahu? Salah satunya adalah untuk menghapus kebimbangan jika teman-teman ada yang berniat menjadi penerjemah dan yang lainnya adalah sebagai ajang klarifikasi para penerjemah yang sering kali dipandang sebelah mata untuk menghapus stereotipe tidak tepat mengenai profesi penerjemah. Berikut beberapa mitos seputar profesi penerjemah.

1. Semua orang yang bisa berbicara minimal dua bahasa secara otomatis adalah penerjemah yang baik.

Ini adalah mitos yang paling umum dan paling sering saya dengar. “Saya bisa Bahasa Inggris, kok. Jadi saya bisa menerjemahkan, dong. Jadi kenapa harus mahal-mahal bayar penerjemah profesional segala?” Faktanya adalah, hanya karena seseorang bisa berbicara dua bahasa dengan baik atau cukup baik, hal ini tidak secara otomatis menjadikannya penerjemah yang baik pula. Sama seperti halnya keterampilan dan keahlian lainnya, keahlian menerjemahkan membutuhkan banyak latihan dan belajar. Mengerti sebuah bahasa asing tidak langsung menjadikan kita penerjemah yang baik karena kemampuan kita untuk mengerti sebuah bahasa tidak sama dengan kemampuan kita dalam menyampaikan maksud bahasa sumber ke bahasa target.

Anda mungkin mengerti sekali ungkapan “take your time” dalam bahasa Inggris, tetapi masalah menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia adalah hal yang berbeda. Penerjemah yang baik tahu cara menyampaikan maksud bahasa sumber ke bahasa target tanpa sering membuat pembaca mengerutkan kening karena kalimat terjemahannya aneh dan tidak nyaman dibaca.

Ada juga yang karena motif ekonomi (baca: mau hemat), seseorang memutuskan untuk menerjemahkan sendiri atau meminta tolong seorang teman yang dianggap bisa berbahasa asing untuk menerjemahkan suatu dokumen. Apa ini keputusan yang bijaksana? Ini tergantung juga, sebenarnya. Jika teks yang diterjemahkan tidak terlalu sulit dan kemampuan bahasa asing orang diminta menerjemahkan memang baik, mungkin hasil terjemahannya akan cukup baik. Tapi bagaimana jika teksnya sulit dan cukup kompleks? Saran saya, mintalah penerjemah profesional untuk menerjemahkan dokumen Anda. Jika memungkinkan, cari penerjemah dengan reputasi menerjemahkan yang baik.

2. Semua penerjemah menerjemahkan buku dan bekerja di sebuah perusahaan penerbitan

Ada beberapa macam penerjemah. yang jelas, tidak semua penerjemah menerjemahkan buku. Ada penerjemah yang bekerja lepas dan menerjemahkan dokumen atau teks lainnya. Ada penerjemah yang terlibat dalam proyek penerjemahan kompleks dan melibatkan berbagai macam perangkat lunak dan proses penerjemahan yang panjang dan rumit. Penerjemah jenis ini biasanya mengerjakan proyek terjemahan untuk situs web, antarmuka pengguna pada perangkat lunak (user interface), dan bekerja pada platform selain yang umum digunakan seperti produk Office.

3.  Semua penerjemah dapat berbicara dalam bahasa asing sama baiknya dengan kemampuan menerjemahkannya.

Mitos ini juga tidak tepat. Penerjemah yang hebat sekalipun, jika tidak pernah menggunakan bahasa asing yang dia gunakan untuk menerjemahkan secara lisan, belum tentu bisa berbicara dalam bahasa tersebut dengan lancar dan baik. Saya banyak menemui penerjemah profesional yang memiliki kemampuan lisan yang tidak sebaik kemampuan menerjemahkannya. Kok, bisa? Karena kemampuan menulis dan membaca tidak sama dengan kemampuan bicara dan mendengar. Sebuah bahasa harus terus digunakan agar tetap aktif.

4. Profesi penerjemah sama dengan profesi juru bahasa (interpreter)

Poin sebelumnya secara tidak langsung menjelaskan bahwa profesi penerjemah tidak sama dengan profesi juru bahasa atau interpreter. Seorang penerjemah biasanya fokus pada teks sehingga keahlian menulis dan membaca lebih diperlukan. Sebaliknya, seorang juru bahasa lebih fokus pada keahlian mendengar dan berbicara. Seorang penerjemah yang andal belum tentu seorang juru bahasa yang baik karena mungkin kemampuan bicara dan mendengarnya tidak sebaik kemampuan membaca dan menulisnya. Di lain sisi, seorang juru bahasa profesional mungkin bukan penerjemah yang baik karena kemampuan tata bahasa dan menulisnya tidak sebaik kemampuan bicara dan mendengarnya. Meski demikian, ada pula penerjemah yang juga juru bahasa dan bekerja sama baiknya di kedua bidang.

5. Menerjemahkan itu tidak sulit dan tidak keren jadi seharusnya kita tidak perlu membayar mahal ongkos terjemahan

Mitos ini terkait dengan mitos yang pertama, anggapan bahwa semua orang yang bisa berbicara bahasa asing maka secara otomatis adalah penerjemah yang andal. Benarkah menerjemahkan itu pekerjaan yang mudah? Hmmm… Ya dan tidak. Ya, jika Anda bisa berbahasa asing dengan baik dan teks yang diterjemahkan sederhana dan sedikit. Tidak, jika teks yang diterjemahkan rumit dan sangat spesifik.

Seorang penerjemah profesional yang sudah lama berkecimpung di dunia terjemahan sekali pun akan membutuhkan waktu untuk melakukan riset sebelum mulai dan selama menerjemahkan. Penerjemah adalah profesi yang diharapkan untuk menguasi isi teks yang dia terjemahkan. Misalnya, penerjemah harus mempelajari istilah-istilah medis sebelum menerjemahkan teks atau buku panduan alat-alat kesehatan, sementara dia tidak memiliki latar belakang kedokteran atau kesehatan. Beberapa teks bahkan sangat spesifik sehingga diperlukan penerjemah dengan keahlian khusus untuk menerjemahkannya, misalnya teks hukum.

Jadi apakah saya harus membayar mahal seorang penerjemah profesional? Logika sederhananya adalah, “ada harga ada mutu”. Harga mahal memang tidak 100% menjamin hasil terjemahan berkualitas tinggi. Tetapi, jika Anda ingin hasil kerja yang memuaskan dan berkualitas, jangan cemberut atau heran jika penerjemah mengajukan penawaran di atas “harga standar” atau ekspektasi pribadi Anda. Menawar boleh-boleh saja, tapi ingatlah pesan ini: “when you pay peanuts, you get monkeys”. 🙂

6. Profesi penerjemah itu tidak sekeren kerja kantoran, miskin dan tidak punya masa depan kurang atau tidak menjanjikan

Seperti halnya mitos “kuliah jurusan sastra tidak punya masa depan”, profesi penerjemah juga seringkali mendapatkan tuduhan yang sama. 🙂 Benarkah demikian? Saya percaya bahwa profesi apa pun jika ditekuni dengan sungguh-sungguh akan membawa kesuksesan. Lagi pula, semua tergantung pada definisi ‘kurang menjanjikan’ itu sendiri.

Jika tolak ukurnya ekonomi, maka itu kembali ke standar masing-masing. Menjadi penerjemah mungkin tidak akan menjadikan Anda sekaya dan seterkenal Syahrini Mark Zuckerberg, tapi menjadi penerjemah juga bukan berarti Anda pasti lebih ‘miskin’ dari seorang ‘dokter’ atau ‘manager’. Misalnya, seorang penerjemah yang bekerja untuk klien seperti Apple dan Samsung mungkin secara finansial lebih ‘mampu’ dibandingkan dengan dokter umum yang bekerja di puskesmas di desa kecil atau seorang manager toko makanan cepat saji.

Jika tolak ukurnya karir dan atau tunjangan hari tua, maka itu tergantung pribadi penerjemahnya juga. Jika nyaman tidak memiliki ‘karir berjenjang’ di pemerintahan atau kantor swasta, kenapa tidak menciptakan karir dan jalan hidup Anda sendiri? Soal tunjangan hari tua, sekarang ini ada banyak sekali produk keuangan dan investasi yang bisa digunakan untuk menjamin hari tua.

Jadi benarkah jadi penerjemah tidak menjanjikan?  Well, semuanya tergantung pintar-pintarnya Anda mencari klien dan kreativitas Anda untuk terus mengembangkan diri dan tidak pernah berhenti berinovasi. 🙂

7. Untuk jadi penerjemah harus kuliah jurusan sastra

Ini mitos yang paling umum, juga. Faktanya, banyak sekali penerjemah profesional yang tidak memiliki latar belakang linguistik atau sastra. Memang benar ada banyak penerjemah dengan latar belakang bahasa, tapi banyak pula yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang ekonomi, ilmu sosial, pengetahuan alam, teknik, psikologi, atau hukum. Semuanya kembali lagi pada kemauan seseorang untuk belajar menjadi penerjemah yang andal.

8. Penerjemah yang andal adalah penerjemah tersumpah (sworn translator) dan sebaliknya

Mitos ini beredar karena kurangnya informasi mengenai profesi penerjemah itu sendiri. Profesi penerjemah di Indonesia memang belum menjadi profesi yang umum, sehingga informasi yang didapatkan masyarakat sering kali tidak tepat atau bahkan menyesatkan. Penerjemah tersumpah adalah istilah yang digunakan untuk penerjemah yang khusus mempelajari dan memiliki keahlian untuk menerjemahkan teks hukum. Penerjemah ini umumnya memiliki cap sendiri yang bertuliskan nama dan nomor izin praktik terjemahan dari gubernur Jakarta.

Namun, mitos yang beredar adalah bahwa penerjemah yang baik adalah yang tersumpah. Untuk mendapatkan kualitas terjemahan yang baik hanya bisa melalui penerjemah tersumpah. Mitos ini tidak tepat. Penerjemah tersumpah memiliki keahlian khusus menerjemahkan teks hukum dan ‘izin’ untuk menerjemahkan teks hukum saja. Sehingga, untuk menerjemahkan teks non-hukum tidak memerlukan jasa penerjemah tersumpah.  Bahkan, ada penerjemah non tersumpah yang juga bisa menerjemahkan teks hukum. Penerjemah tersumpah belum tentu menguasai teks lain selain teks hukum dan tidak semua penerjemah tersumpah memiliki kualitas terjemahan yang baik.

Hanya saja, karena ketidaktahuan masyarakat mengenai hal ini, banyak yang lebih (dan hanya mau) memilih penerjemah tersumpah karena memiliki embel-embel ‘sertifikat’ dan ‘cap’. Selain itu, karena sertifikasi penerjemah umum (non tersumpah) tidak banyak diketahui oleh masyarakat kita, sehingga banyak yang berpikir bahwa penerjemah yang baik adalah penerjemah yang tersumpah.

 

Ada yang tahu mitos lain seputar profesi penerjemah? Tulis di kolom komentar, ya. 🙂

Cheers,

Haura Emilia

 

 

 

 

 

Iklan