Mitos seputar profesi penerjemah

Halo semuanya,

Kali ini saya mau berbagi cerita mengenai mitos-mitos seputar profesi penerjemah. Saya rasa semua profesi memiliki mitosnya sendiri-sendiri. Nah, yang perlu kita ketahui (kalau berniat ingin tahun, sih) apakah mitos-mitos tersebut benar. Mengapa perlu tahu? Salah satunya adalah untuk menghapus kebimbangan jika teman-teman ada yang berniat menjadi penerjemah dan yang lainnya adalah sebagai ajang klarifikasi para penerjemah yang sering kali dipandang sebelah mata untuk menghapus stereotipe tidak tepat mengenai profesi penerjemah. Berikut beberapa mitos seputar profesi penerjemah.

1. Semua orang yang bisa berbicara minimal dua bahasa secara otomatis adalah penerjemah yang baik.

Ini adalah mitos yang paling umum dan paling sering saya dengar. “Saya bisa Bahasa Inggris, kok. Jadi saya bisa menerjemahkan, dong. Jadi kenapa harus mahal-mahal bayar penerjemah profesional segala?” Faktanya adalah, hanya karena seseorang bisa berbicara dua bahasa dengan baik atau cukup baik, hal ini tidak secara otomatis menjadikannya penerjemah yang baik pula. Sama seperti halnya keterampilan dan keahlian lainnya, keahlian menerjemahkan membutuhkan banyak latihan dan belajar. Mengerti sebuah bahasa asing tidak langsung menjadikan kita penerjemah yang baik karena kemampuan kita untuk mengerti sebuah bahasa tidak sama dengan kemampuan kita dalam menyampaikan maksud bahasa sumber ke bahasa target.

Anda mungkin mengerti sekali ungkapan “take your time” dalam bahasa Inggris, tetapi masalah menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia adalah hal yang berbeda. Penerjemah yang baik tahu cara menyampaikan maksud bahasa sumber ke bahasa target tanpa sering membuat pembaca mengerutkan kening karena kalimat terjemahannya aneh dan tidak nyaman dibaca.

Ada juga yang karena motif ekonomi (baca: mau hemat), seseorang memutuskan untuk menerjemahkan sendiri atau meminta tolong seorang teman yang dianggap bisa berbahasa asing untuk menerjemahkan suatu dokumen. Apa ini keputusan yang bijaksana? Ini tergantung juga, sebenarnya. Jika teks yang diterjemahkan tidak terlalu sulit dan kemampuan bahasa asing orang diminta menerjemahkan memang baik, mungkin hasil terjemahannya akan cukup baik. Tapi bagaimana jika teksnya sulit dan cukup kompleks? Saran saya, mintalah penerjemah profesional untuk menerjemahkan dokumen Anda. Jika memungkinkan, cari penerjemah dengan reputasi menerjemahkan yang baik.

2. Semua penerjemah menerjemahkan buku dan bekerja di sebuah perusahaan penerbitan

Ada beberapa macam penerjemah. yang jelas, tidak semua penerjemah menerjemahkan buku. Ada penerjemah yang bekerja lepas dan menerjemahkan dokumen atau teks lainnya. Ada penerjemah yang terlibat dalam proyek penerjemahan kompleks dan melibatkan berbagai macam perangkat lunak dan proses penerjemahan yang panjang dan rumit. Penerjemah jenis ini biasanya mengerjakan proyek terjemahan untuk situs web, antarmuka pengguna pada perangkat lunak (user interface), dan bekerja pada platform selain yang umum digunakan seperti produk Office.

3.  Semua penerjemah dapat berbicara dalam bahasa asing sama baiknya dengan kemampuan menerjemahkannya.

Mitos ini juga tidak tepat. Penerjemah yang hebat sekalipun, jika tidak pernah menggunakan bahasa asing yang dia gunakan untuk menerjemahkan secara lisan, belum tentu bisa berbicara dalam bahasa tersebut dengan lancar dan baik. Saya banyak menemui penerjemah profesional yang memiliki kemampuan lisan yang tidak sebaik kemampuan menerjemahkannya. Kok, bisa? Karena kemampuan menulis dan membaca tidak sama dengan kemampuan bicara dan mendengar. Sebuah bahasa harus terus digunakan agar tetap aktif.

4. Profesi penerjemah sama dengan profesi juru bahasa (interpreter)

Poin sebelumnya secara tidak langsung menjelaskan bahwa profesi penerjemah tidak sama dengan profesi juru bahasa atau interpreter. Seorang penerjemah biasanya fokus pada teks sehingga keahlian menulis dan membaca lebih diperlukan. Sebaliknya, seorang juru bahasa lebih fokus pada keahlian mendengar dan berbicara. Seorang penerjemah yang andal belum tentu seorang juru bahasa yang baik karena mungkin kemampuan bicara dan mendengarnya tidak sebaik kemampuan membaca dan menulisnya. Di lain sisi, seorang juru bahasa profesional mungkin bukan penerjemah yang baik karena kemampuan tata bahasa dan menulisnya tidak sebaik kemampuan bicara dan mendengarnya. Meski demikian, ada pula penerjemah yang juga juru bahasa dan bekerja sama baiknya di kedua bidang.

5. Menerjemahkan itu tidak sulit dan tidak keren jadi seharusnya kita tidak perlu membayar mahal ongkos terjemahan

Mitos ini terkait dengan mitos yang pertama, anggapan bahwa semua orang yang bisa berbicara bahasa asing maka secara otomatis adalah penerjemah yang andal. Benarkah menerjemahkan itu pekerjaan yang mudah? Hmmm… Ya dan tidak. Ya, jika Anda bisa berbahasa asing dengan baik dan teks yang diterjemahkan sederhana dan sedikit. Tidak, jika teks yang diterjemahkan rumit dan sangat spesifik.

Seorang penerjemah profesional yang sudah lama berkecimpung di dunia terjemahan sekali pun akan membutuhkan waktu untuk melakukan riset sebelum mulai dan selama menerjemahkan. Penerjemah adalah profesi yang diharapkan untuk menguasi isi teks yang dia terjemahkan. Misalnya, penerjemah harus mempelajari istilah-istilah medis sebelum menerjemahkan teks atau buku panduan alat-alat kesehatan, sementara dia tidak memiliki latar belakang kedokteran atau kesehatan. Beberapa teks bahkan sangat spesifik sehingga diperlukan penerjemah dengan keahlian khusus untuk menerjemahkannya, misalnya teks hukum.

Jadi apakah saya harus membayar mahal seorang penerjemah profesional? Logika sederhananya adalah, “ada harga ada mutu”. Harga mahal memang tidak 100% menjamin hasil terjemahan berkualitas tinggi. Tetapi, jika Anda ingin hasil kerja yang memuaskan dan berkualitas, jangan cemberut atau heran jika penerjemah mengajukan penawaran di atas “harga standar” atau ekspektasi pribadi Anda. Menawar boleh-boleh saja, tapi ingatlah pesan ini: “when you pay peanuts, you get monkeys”. 🙂

6. Profesi penerjemah itu tidak sekeren kerja kantoran, miskin dan tidak punya masa depan kurang atau tidak menjanjikan

Seperti halnya mitos “kuliah jurusan sastra tidak punya masa depan”, profesi penerjemah juga seringkali mendapatkan tuduhan yang sama. 🙂 Benarkah demikian? Saya percaya bahwa profesi apa pun jika ditekuni dengan sungguh-sungguh akan membawa kesuksesan. Lagi pula, semua tergantung pada definisi ‘kurang menjanjikan’ itu sendiri.

Jika tolak ukurnya ekonomi, maka itu kembali ke standar masing-masing. Menjadi penerjemah mungkin tidak akan menjadikan Anda sekaya dan seterkenal Syahrini Mark Zuckerberg, tapi menjadi penerjemah juga bukan berarti Anda pasti lebih ‘miskin’ dari seorang ‘dokter’ atau ‘manager’. Misalnya, seorang penerjemah yang bekerja untuk klien seperti Apple dan Samsung mungkin secara finansial lebih ‘mampu’ dibandingkan dengan dokter umum yang bekerja di puskesmas di desa kecil atau seorang manager toko makanan cepat saji.

Jika tolak ukurnya karir dan atau tunjangan hari tua, maka itu tergantung pribadi penerjemahnya juga. Jika nyaman tidak memiliki ‘karir berjenjang’ di pemerintahan atau kantor swasta, kenapa tidak menciptakan karir dan jalan hidup Anda sendiri? Soal tunjangan hari tua, sekarang ini ada banyak sekali produk keuangan dan investasi yang bisa digunakan untuk menjamin hari tua.

Jadi benarkah jadi penerjemah tidak menjanjikan?  Well, semuanya tergantung pintar-pintarnya Anda mencari klien dan kreativitas Anda untuk terus mengembangkan diri dan tidak pernah berhenti berinovasi. 🙂

7. Untuk jadi penerjemah harus kuliah jurusan sastra

Ini mitos yang paling umum, juga. Faktanya, banyak sekali penerjemah profesional yang tidak memiliki latar belakang linguistik atau sastra. Memang benar ada banyak penerjemah dengan latar belakang bahasa, tapi banyak pula yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang ekonomi, ilmu sosial, pengetahuan alam, teknik, psikologi, atau hukum. Semuanya kembali lagi pada kemauan seseorang untuk belajar menjadi penerjemah yang andal.

8. Penerjemah yang andal adalah penerjemah tersumpah (sworn translator) dan sebaliknya

Mitos ini beredar karena kurangnya informasi mengenai profesi penerjemah itu sendiri. Profesi penerjemah di Indonesia memang belum menjadi profesi yang umum, sehingga informasi yang didapatkan masyarakat sering kali tidak tepat atau bahkan menyesatkan. Penerjemah tersumpah adalah istilah yang digunakan untuk penerjemah yang khusus mempelajari dan memiliki keahlian untuk menerjemahkan teks hukum. Penerjemah ini umumnya memiliki cap sendiri yang bertuliskan nama dan nomor izin praktik terjemahan dari gubernur Jakarta.

Namun, mitos yang beredar adalah bahwa penerjemah yang baik adalah yang tersumpah. Untuk mendapatkan kualitas terjemahan yang baik hanya bisa melalui penerjemah tersumpah. Mitos ini tidak tepat. Penerjemah tersumpah memiliki keahlian khusus menerjemahkan teks hukum dan ‘izin’ untuk menerjemahkan teks hukum saja. Sehingga, untuk menerjemahkan teks non-hukum tidak memerlukan jasa penerjemah tersumpah.  Bahkan, ada penerjemah non tersumpah yang juga bisa menerjemahkan teks hukum. Penerjemah tersumpah belum tentu menguasai teks lain selain teks hukum dan tidak semua penerjemah tersumpah memiliki kualitas terjemahan yang baik.

Hanya saja, karena ketidaktahuan masyarakat mengenai hal ini, banyak yang lebih (dan hanya mau) memilih penerjemah tersumpah karena memiliki embel-embel ‘sertifikat’ dan ‘cap’. Selain itu, karena sertifikasi penerjemah umum (non tersumpah) tidak banyak diketahui oleh masyarakat kita, sehingga banyak yang berpikir bahwa penerjemah yang baik adalah penerjemah yang tersumpah.

 

Ada yang tahu mitos lain seputar profesi penerjemah? Tulis di kolom komentar, ya. 🙂

Cheers,

Haura Emilia

 

 

 

 

 

Tentang menjadi penerjemah lepas

 

Sejak kembali ke Indonesia, saya memutuskan untuk bekerja sebagai seorang penerjemah lepas. Ini bukan keputusan yang mudah pada awalnya, karena saya sempat berpikir untuk kembali mengajar di kampus. Tetapi setelah memperhitungkan kelebihan dan kekurangannya, saya memutuskan untuk menjadi penerjemah lepas purnawaktu yang bekerja dari rumah.

Saya kebetulan memang sudah mulai menerjemahkan sejak tahun 2006, saat masih duduk di bangku kuliah. Saya juga sempat bekerja sebagai penerjemah in-house di salah satu agensi terjemahan di Singapura. Tetapi, menjadi penerjemah lepas purnawaktu adalah hal yang sangat berbeda. Ada berbagai persoalan klasik yang harus dipecahkan sebelum sepenuhnya terjun bebas menjadi penerjemah lepas.

Persoalan pertama adalah mencari klien atau mitra, orang yang membutuhkan jasa saya sebagai penerjemah. Apakah saya harus berdiri di pinggir jalan sambil membawa-bawa papan bertuliskan ‘saya penerjemah, hubungi saya’? Tentu tidak, bisa-bisa saya dikira mbak-mbak sales marketing door to door stres yang memutuskan untuk jadi penerjemah. Atau saya harus menghubungi teman-teman lama dan bertanya kepada mereka satu persatu untuk menawarkan jasa? Sungguh membuang waktu dan tenaga. Ada beberapa tips dan cara yang lebih efektif yang bisa saya berikan untuk mulai menjadi penerjemah lepas.

1. Bergabunglah dengan mailing list penerjemah lokal maupun internasional atau, jika tertarik, jadilah anggota HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia). Dengan menjadi bagian dari kelompok orang yang memiliki minat dan profesi yang sama, kita akan lebih up-to-date dengan informasi seputar dunia terjemahan, dan bukan tidak mungkin mendapatkan pekerjaan menerjemahkan. Situs HPI bisa diakses di sini: http://www.hpi.or.id/.

2. Manfaatkan media sosial. Media sosial di sini maksudnya bukan hanya Facebook dan Twitter, melainkan juga Linkedin. Anda bisa mengikuti agensi-agensi terjemahan internasional dan meminta koneksi atau pertemanan dengan orang-orang yang berprofesi sama. Tampilkan profil yang menarik dan tekankan pada pengalaman menerjemahkan Anda. Jika Anda adalah penerjemah pemula, Anda bisa juga mencantumkan informasi lain yang relevan dengan dunia penerjemahan, seperti latar belakang pendidikan, minat, sertifikasi, dst.

3. Bergabunglah dengan berbagai situs web komunitas penerjemah dan linguistik internasional yang biasanya membuka kesempatan bidding untuk pekerjaan terjemahan. Di situs-situs seperti ini Anda bisa mendaftar menjadi anggota premium (dengan membayar iuran tahunan/bulanan) atau menjadi anggota reguler (gratis tanpa biaya apa pun). Contoh situs-situs yang populer adalah Translatorscafe.com, ProZ, Elance.com, Odesk.com, Translatorpub.com, dsb. Menjadi anggota premium tentu memiliki keuntungan tersendiri, misalnya, Anda akan menjadi salah satu orang yang pertama mengetahui tentang sebuah tawaran pekerjaan sehingga Anda bisa melakukan proses bidding terlebih dahulu sebelum anggota reguler mengetahuinya. Dengan demikian, kesempatan Anda juga akan menjadi lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Biaya untuk menjadi anggota premium bervariasi biasanya sekitar 90 – 110 USD per tahun. Anda juga bisa memilih keanggotaan premium bulanan dengan biaya yang lebih murah, jika ingin mengetes pasar terlebih dahulu.

4. Buat kartu nama profesional yang menunjukkan profesi Anda sebagai penerjemah. Tampilan dan kesan pertama sangatlah penting dalam hal mencari klien yang potensial. Cantumkan alamat email, nomor telepon, atau bahkan situs web yang bisa dihubungi jika seseorang memerlukan jasa Anda sebagai penerjemah. Setiap bertemu dengan orang-orang yang tepat atau yang kira-kira berpotensi menjadi klien, jangan ragu untuk memberikan kartu nama Anda.

5. Susun CV yang menonjolkan profesi Anda sebagai penerjemah. CV yang disusun dengan baik dan pastinya tidak alay dan terlihat seperti anak baru lulus yang baru belajar membuat CV dapat menjadi faktor penarik utama bagi calon klien. Kenapa demikian? Jika Anda ingin mendapatkan pekerjaan menerjemahkan secara online dari seseorang atau agensi yang tidak Anda kenal atau mengenal Anda, seringkali CV adalah satu-satunya hal yang bisa dijadikan tolak ukur kualitas Anda sebagai seorang penerjemah. Jadi, semakin bagus dan efektif CV yang Anda buat, semakin besar pula kemungkinan Anda akan mendapatkan pekerjaan. Tetapi ingat, buatlah CV dengan jujur, jangan mempertaruhkan kredibilitas Anda dengan mencantumkan informasi yang tidak benar atau relevan di dalam CV.

Setelah masalah klien terpecahkan, maka Anda mungkin akan menghadapi persoalan yang berikutnya, yakni metode pembayaran. Jika Anda mendapatkan pekerjaan dari klien lokal, maka transfer bank sangat mudah untuk dilakukan.

Tetapi bagaimana jika Anda mendapatkan pekerjaan dari klien internasional? Transfer bank tetap bisa dilakukan, namun hal ini bisa menjadi sedikit rumit jika jumlah yang akan Anda terima ternyata lebih kecil dari potongan bank yang akan diambil langsung dari rekening Anda. Dalam proses remittance, seringkali pihak pengirim (dalam kasus ini klien yang membutuhkan jasa terjemahan) membebankan biaya pengiriman kepada Anda. Biayanya bervariasi di setiap bank lokal, yang jelas bisa mencapai sekitar 30-33 USD per pengiriman. Untuk menghindari biaya pemotongan seperti ini, Anda bisa mempertimbangkan untuk membuat akun Paypal dengan menggunakan kartu kredit. Keuntungannya adalah Anda bisa mengumpulkan terlebih dulu pembayaran yang Anda terima hingga jumlah yang Anda inginkan terpenuhi lalu kemudian mencairkannya dengan cara melakukan transfer terhadap dana yang ada ke nomor rekening bank yang Anda pilih.

Tantangan lain yang mungkin akan dihadapi penerjemah adalah mempelajari atau menggunakan alat atau software yang biasa digunakan untuk membantu menerjemahkan. Software yang saya maksud di sini bukanlah Google Translate atau mesin / situs penerjemah otomatis lainnya. Software terjemahan berfungsi membantu penerjemah untuk menjaga konsistensi terjemahan, memeriksa gramatika dan ejaan, menyimpan kata-kata yang telah diterjemahkan sebelumnya untuk digunakan di lain waktu di dokumen yang berbeda, dan masih banyak fungsi lainnya. Semua kegunaan software ini akan membantu penerjemah bekerja lebih cepat, efektif, dan efisien.

Mengapa software bisa menjadi tantangan tersendiri bagi seorang penerjemah? Karena tidak semua penerjemah terbiasa atau tahu cara menggunakannya. Ada beberapa software yang sangat popular digunakan, misalnya WordFast dan Trados. Untuk mempelajarinya, penerjemah bisa mengunduh versi trial terlebih dahulu dan mempelajari tutorialnya di Youtube atau blog tutorial yang bisa Anda google.

Berikut ini link tutorial yang bisa menjadi acuan awal untuk belajar menggunakan Trados:

Learn SDL Trados Studio 2011 in 10 minutes:

SDL Trados Studio 2014 in 10 minutes: Take a look inside:

Ada banyak blog dan informasi yang bisa Anda google mengenai software terjemahan. Anda bisa belajar banyak dari berbagai sumber. Jika sudah merasa yakin, Anda bisa membeli software aslinya. Mengingat bahwa harga software terjemahan yang asli ini bikin bangkrut tidak murah (berkisar antara 400-700an USD/software), sebaiknya pastikan terlebih dahulu bahwa Anda memang sudah memerlukan software yang dimaksud. Masih banyak klien yang tidak mengharuskan penggunaan software tertentu untuk mengerjakan proyek terjemahan. Beberapa klien hanya meminta proses pengerjaan terjemahan yang manual, dengan menggunakan Word, Excel, dan produk Office lainnya. Jangan ragu untuk bertanya kepada klien apakah Anda bisa mengerjakan proyek yang ditawarkan dengan cara manual.

Oke, kita sudah membahas tantangannya. Lalu apa saja kelebihan dan kekurangan menjalani profesi ini? Karena saya orang yang berusaha mati-matian walaupun kadang gagal untuk menjadi selalu positif, jadi mari kita lihat kelebihannya terlebih dahulu:

1. Anda bisa bekerja dari rumah sambil mengasihani mereka yang setiap hari terjebak kemacetan ibu kota untuk bekerja—oke ini jahat ditemani keluarga tercinta. Ini berarti Anda juga akan menghemat anggaran beli baju kerja (karena bisa bekerja dengan celana pendek atau bahkan tanpa celana) di depan komputer, di rumah sendiri. Anda juga tidak perlu bangun pagi-pagi buta untuk bersiap-siap ke kantor. Daaann, pekerjaan Anda pun ‘water proof’, alias bebas banjir… 😀

2. Buat ibu rumah tangga, Anda bisa tetap bekerja sambil tetap mengawasi anak-anak, pengasuh anak-anak, dan asisten rumah tangga di rumah.

3. Kalau bosan bekerja, Anda bisa istirahat sejenak dan nonton TV. Anda juga bisa tidur siang dulu jika mengantuk seperti pengalaman pribadi saya. Kalau Anda tidur siang di kantor bisa-bisa Anda dapat SP, apalagi kalau tidur siangnya setiap hari.

4. Gaji Anda mungkin tidak akan selalu datang dalam bentuk Rupiah, melainkan dalam bentuk mata uang lain (yah walaupun ujung-ujungnya akan dikonversi ke Rupiah juga). Anda kemungkinan akan senang kalau kurs Rupiah jeblok jika Anda menerima bayaran dalam bentuk Dolar atau mata uang lainnya. Di sisi lain Anda tetap harus pura-pura berusaha empati karena kalau Rupiah jeblok, itu berarti apa-apa menjadi mahal.

5. Anda bisa bebas cuti kapan pun Anda mau. Mau cuti 3 bulan dalam setahun padahal Anda tidak melahirkan? Bisa!

6. Anda bisa bekerja dari mana pun selama ada jaringan internet. Bekerja dari Bangkok? Bisa! Dari kasur di kamar sendiri? Bisa! Dari Bali? Kenapa tidak? 🙂

7. Anda tidak punya bos atau kolega menyebalkan yang harus Anda buat senang dan lihat mukanya setiap hari. Kalaupun klien Anda ternyata menyusahkan dan banyak maunya, paling tidak Anda tidak perlu melihat mukanya, dan bisa menolak dengan halus dan sopan melalui email. Hidup pun lebih indah tanpa adanya politik kantor. 😉

8. Anda bisa memilih pekerjaan yang kira-kira Anda suka saja. Topik ini sulit diterjemahkan? Skip. Klien ini bayarnya terlalu lama? Skip. Pekerjaan ini bayarannya tidak sesuai standar Anda? Skip. Anda memiliki kebebasan untuk menentukan Anda mau mengerjakan apa dan dengan siapa. Tapi jangan tolak semua tawaran, karena ini sama saja menutup sumber penghasilan.

9. Anda bisa belajar hal-hal baru setiap harinya. Terjemahan soal perbankan padahal Anda tidak pernah kuliah perbankan? Harus belajar dulu. Terjemahan dokumen IT padahal Anda agak ‘gaptek’? Harus belajar dulu. Terjemahan teks hukum padahal Anda lulusan sastra atau ekonomi? Harus belajar dulu. Dengan menjadi penerjemah, Anda akan belajar banyak sekali hal-hal baru setiap harinya. Kalau Anda tidak takut menjadi pintar, menjadi penerjemah bisa menjadi profesi yang sangat menyenangkan. 🙂

Nah, menyenangkan bukan menjadi penerjemah? Tunggu dulu, tidak ada pekerjaan yang sempurna. Menjadi penerjemah juga memiliki kekurangannya tersendiri. Segala sesuatu pasti ada ‘jebakan betmennya’. Apa saja?

1. Selamat tinggal kehidupan sosial. Karena Anda bekerja dari rumah, maka otomatis kehidupan sosial juga akan mati secara perlahan jika Anda tidak berusaha menghidupkannya. Anda bisa dilanda rasa bosan yang amat sangat dan mulai merindukan punya teman bekerja untuk diajak bergosip bercerita dan bersosialisasi. Bahkan bukan tidak mungkin Anda tidak menyadari bahwa tetangga Anda ternyata sudah membuka warung atau satu mall lagi sudah selesai dibangun karena Anda jarang sekali keluar rumah.

2. Anda akan lebih sulit mengajukan visa, melamar kartu kredit, mengajukan cicilan kendaraan motor atau rumah, karena Anda dianggap sebagai ‘pengangguran terselubung’ atau ‘kerjanya tidak jelas’. Tapi hal ini bukannya tidak mungkin, ya. Anda hanya perlu lebih memutar otak sedikit lebih keras dibandingkan mereka yang kerja kantoran.

3. Pengaturan waktu. Karena Anda mengatur jam kerja Anda sendiri, ini bisa menjadi tantangan bagi yang tidak disiplin. Misalnya, kalau Anda bangun terlalu siang, maka otomatis Anda harus bekerja sampai malam. Belum lagi jika klien Anda ada di belahan bumi atau benua yang berbeda. Anda harus paham dan ingat benar deadline kerja Anda. Jam berapakah dalam WIB atau WITA pukul 5 CET itu? Jerman itu GMT+ berapa? Rapat dengan klien pukul 7 UTC? Semuanya harus Anda catat dan ingat dengan baik agar tidak ada yang terlewat.

4. Penghasilan yang tidak tetap. Yup, benar sekali. Anda biasanya tidak akan memiliki jumlah gaji yang tetap karena semuanya tergantung order atau pekerjaan yang Anda ambil, terima atau dapatkan. Mungkin akan ada masa-masa di mana Anda bisa berlibur ke luar negeri setelah dua bulan bekerja, dan ada masa-masa di mana Anda harus mengais-ngais menguras tabungan, karena lagi sepi ‘orderan’.

5. Ketidakpastian. Buat yang memilih hidup tanpa drama, gaji tetap bulanan, dan karir yang ‘jelas’, saya tidak sarankan untuk jadi penerjemah lepas purnawaktu. Kenapa? Pekerjaan seperti ini memiliki risiko tersendiri. Jika tidak hati-hati atau nasib sedang tidak baik, bisa saja klien Anda menolak membayar atas alasan apa pun atau tiba-tiba memutuskan untuk memotong bayaran Anda untuk alasan yang mungkin menurut Anda tidak jelas. Anda tidak bisa menuntut kalau klien Anda ada di Eropa bukan? Mau sok sewa pengacara dan menuntut segala juga tidak mungkin, karena bayar pengacara lebih mahal dari jumlah uang yang Anda tuntut. Anda juga harus mempersiapkan mental untuk dicap ‘tidak punya masa depan’, ‘tidak punya pekerjaan tetap dan jelas’, dan anggapan-anggapan miring lainnya, yang belum tentu benar.

6. Tanpa asuransi atau jaminan hari tua (pensiunan). Keuntungan bekerja di sebuah perusahaan atau lembaga pemerintah adalah jaminan kesehatan dan hari tua. Kalau Anda bekerja untuk diri sendiri, maka Anda harus pintar-pintar mengatur finansial Anda. Anda harus membayar asuransi Anda sendiri dan menabung untuk hari tua.

Intinya, semua pekerjaan punya risiko dan keindahannya masing-masing. Kalau Anda senang mempelajari hal-hal baru, easy going, tidak takut tiba-tiba tidak punya pekerjaan, tidak mengejar karir, menyukai kebebasan dan berjiwa petualang, plus punya keahlian menerjemahkan, Anda bisa menjadikan terjemahan sebagai sumber utama penghasilan Anda. Jangan takut, saya kenal banyak penerjemah yang ‘kaya raya’, kok. Yang penting mau berusaha, belajar, bersabar, dan jangan pernah menyerah.

Bagaimana? Sudah siap menjadi penerjemah? 🙂

Cheers,

Haura Emilia