Kilas Balik 2017: Belajar Menentukan Prioritas

“Desires dictate our priorities, priorities shape our choices, and choices determine our actions.”
― Dallin H. Oaks

Sore itu langit di luar berwarna ungu muram kemerahan. Saya dan Mamat duduk di sebuah kedai kopi kecil dengan buku catatan di hadapan. Kami mengobrol serius tapi santai sambil menikmati Thai tea. Kami membicarakan tentang apa saja yang sudah kami kerjakan dan capai sepanjang tahun 2017.

Hasil mengobrol santai ini membawa saya pada satu kesimpulan: kami, saya dan dia, sangat sibuk sepanjang tahun. Bukti nyata dari kesibukan ini bisa dilihat dari peningkatan volume pekerjaan tahunan (ya, kami selalu meninjau pembukuan akhir tahun dan merencanakan budget finansial serta agenda kerja untuk tahun yang akan datang). Saya tidak meragukan bahwa Mamat memang sangat sibuk dan produktif bekerja sepanjang tahun. Yang saya ragukan adalah diri saya sendiri. Benarkah saya hanya sibuk bekerja sepanjang tahun? Itukah alasan saya gagal melakukan banyak hal lain di luar pekerjaan? Jangan-jangan selama ini saya hanya sok sibuk dan kesibukan yang terlihat dari luar sebenarnya adalah hasil ilusi yang saya ciptakan di kepala saya sendiri dan kemudian termanifestasi dalam cara saya menghabiskan hari.

Setelah saya evaluasi, banyak momen di mana saya tidak sepenuhnya sibuk bekerja, terutama di bulan-bulan low season (biasanya kuartal pertama atau ketiga), di mana volume pekerjaan jauh lebih sedikit dibandingkan high season (biasanya kuartal kedua dan keempat). Herannya, waktu tetap terasa cepat sekali berlalu. Saya tetap merasa sibuk setiap hari dan tidak punya waktu untuk melakukan banyak hal lain di luar pekerjaan. Ke mana saja 24 jam itu berlalu? Ada apa ini? 😰

Rupanya, alih-alih menjadi manusia produktif, saya disibukkan dengan begitu banyak distraction atau gangguan-gangguan tidak penting dalam hidup. Kita hidup di zaman di mana ada begitu banyak gangguan yang dapat mengalihkan fokus dan prioritas sehari-hari. Kita mengecek handphone mungkin lebih dari 30 kali dalam sehari, menghabiskan waktu untuk chat tidak penting (baca: bergosip) di Whatsapp, menonton film seri di TV berbayar, memposting status atau resep makanan di media sosial, membuat playlist lagu di Spotify, menonton video daily vlog youtuber favorit di Youtube, membaca berita pendek dengan headline murahan di portal berita populer, dan menyukai video kucing lucu di 9gag. Kalau kita pekerja kantoran, alasan kita untuk ‘sibuk’ bertambah lagi; ngobrol ngalor ngidul dengan kolega, istirahat makan siang lebih dari sejam, merokok di luar selama jam kantor sampai karaokean setelah jam kerja. Kalau kita bekerja di rumah, distraction juga tidak kalah banyaknya: kita harus memasak, membersihkan rumah, tidur-tiduran di sofa sambil nonton TV…. We’re all probably guilty of this constant distraction.

Akibatnya apa? Untuk saya pribadi, semua rencana dan target saya di luar pekerjaan berantakan. Hancur lebur, luluh lantak. Maaf lebay.* Awal tahun 2017 lalu sebenarnya saya berencana untuk membuat blog baru yang fokus pada satu topik saja, bertekad untuk berolahraga lebih rutin, dan membaca lebih banyak buku. Pada kenyataannya saya gagal total. Blog baru itu masih berupa ide yang mengambang di dalam kepala, olahraga dilakukan seadanya seminggu sekali (kadang 2 minggu sekali 😢),  dan saya hanya berhasil membaca sebuah buku dalam sebulan (yang berarti hanya membaca total 12 buku dalam setahun, ini lebih sedikit dari jumlah bacaan tahun sebelumnya).

Lalu bohlam itu menyala dan eureka moment menyapa. Saya gagal menetapkan prioritas dan kurang fokus. Saya baru sampai pada tahap perencanaan mentah tanpa eksekusi yang jelas. Lalu saya nangis di pojokan sambil ngunyah french fries. GAK LAH. Hehe. Daripada menangis, saya mencoba mengingat-ingat kembali tentang materi prioritas yang pernah saya baca (dan sayangnya lupakan).

Orang hidup sebaiknya memiliki prioritas yang jelas, entah itu pekerjaan, karir, keluarga, hubungan interpersonal, travel, atau misi keagamaan tertentu. Semua sah-sah saja. Ini soal pilihan. Namun, pada kenyataannya beberapa orang merasa baik-baik saja hidup berjalan mengikuti angin yang berhembus dan naik turunnya harga cabe di pasar. Santai wae and go with the flow aja lah. Sayangnya, kalau kita tipe yang selalu ingin berkembang dan menjadi lebih baik dari yang kemarin, menentukan prioritas adalah sebuah keharusan.

Salah satu orang terkaya di dunia, Warren Buffet, memperoleh kesuksesannya melalui kerja keras, prioritas dan fokus ‘level dewa’. Menurutnya, ada 5 langkah penting yang harus kita lakukan untuk mencapai kesuksesan.1Pertama, ketahui apa yang kita inginkan dalam hidup dan tulis, misalnya, 25 hal yang paling kita inginkan.2 Sebaiknya hal-hal ini adalah hal-hal yang sifatnya realistis, jadi ‘menang lotre’ atau ‘duet dengan Chris Brown’ tidak masuk hitungan. Kecuali Anda Agnes Monica, ya kan? Hehe. Buat sebagian orang, tahap ini mungkin terasa sulit karena tidak semua orang tahu apa yang mereka inginkan dalam hidup. Padahal, keinginan akan menentukan prioritas, prioritas akan menentukan pilihan, dan pilihan akan menentukan tindakan.

Kedua, dari 25 keinginan tadi, pilih 5 hal yang PALING penting dan kita inginkan.3 Intinya, kita perlu mengevaluasi dan menyortir dengan ketat mana yang akan kita prioritaskan dari banyaknya goal yang ingin dicapai. Langkah ini lagi-lagi bisa menjadi sulit karena kita bisa terjebak dalam paradoks pilihan di mana segalanya mungkin terasa urgent dan perlu dilakukan. Jadi, pikirkan dengan baik apa top 5 Anda.

Ketiga, tulis dengan jelas kapan kita akan mulai mengusahakan top 5 tadi dan pendekatan apa yang akan kita ambil untuk mencapainya.4  Hal ini penting, karena tanpa timeline dan rencana yang jelas, niat mulia ini akan menjadi sekadar wacana.

Keempat, marry your priorities.5 Maksudnya, bersungguh-sungguhlah menjalankan rencana dalam timeline yang telah ditentukan. Abaikan hal-hal lain yang sifatnya tidak mendukung rencana tersebut. Termasuk main Candy Crush dan bergosip dengan teman lama di grup Whatsapp selama jam kerja. Lupakan 20 dari 25 keinginan yang telah ditulis di awal dan masukkan 20 keinginan ini ke dalam daftar ‘hal-hal yang harus dihindari’ dalam (masukkan tanggal) tahun ke depan.

Kelima, sepenuhnya abaikan keinginan yang masuk dalam daftar ‘hal-hal yang harus dihindari’ dan fokuslah hanya pada 5 keinginan teratas yang menjadi prioritas.6 Ini mungkin tahap yang paling sulit, karena keinginan manusia tidak ada batasnya. Kita akan terus menginginkan sesuatu yang baru. Selain itu, tanpa keinginan dan tekad yang kuat kemungkinan kita akan merasa bosan sehingga mudah putus asa dan menyerah sebelum tujuan tercapai. Belum lagi godaan-godaan lain yang secara konstan datang silih berganti.

Kita perlu memahami bahwa tanpa tekad kuat dan fokus, prioritas atau goal mustahil diwujudkan. Saya sendiri sungguh sering gagal fokus. Misalnya, suatu hari saya hendak ke kamar untuk mengambil buku baru untuk dibaca, namun di tengah perjalanan handphone saya berbunyi. Saya mengambil handphone itu dan seketika lupa tujuan utama saya mengambil buku. Contoh lain, hari itu seharusnya saya mulai merencanakan blog baru saya, namun saya terserang rasa malas akut. Saya jadi tidak fokus. Alih-alih melakukan to-do-list menulis blog, saya nonton vlogmas (Christmas video blog) di Youtube. I’m not proud of it.

Sore itu, saya mengaduk-ngaduk sisa Thai tea di dalam gelas dan merenung. Saya memutuskan bahwa saya perlu menentukan ulang prioritas, mengalahkan gangguan-gangguan dari dalam dan luar, serta belajar untuk lebih fokus. I need to take things more seriously. Tiba-tiba langit di luar tidak lagi berwarna ungu muram. Saya pun meninggalkan kedai kopi dengan langkah yang lebih ringan. 🙂

Cheers,

Haura Emilia

NB: Happy new year 2018, everyone! ❤️

Referensi:

1-6Warren Buffett’s 5-Step Process for Prioritizing True Success (and Why Most People Never Do It). https://liveyourlegend.net/warren-buffetts-5-step-process-for-prioritizing-true-success-and-why-most-people-never-do-it/

Iklan

Memoar Pekerjaan Pertama: “Dari Nol, Ya…”

You don’t have to be great to start, but you have to start to be great.

-Zig Ziglar, motivational speaker-

Apa pekerjaan pertamamu? Pekerjaan pertama saya adalah mengajar les privat bahasa Inggris seorang bocah SD di rumahnya yang besar di bilangan Pondok Indah, Jakarta. Kala itu upah saya adalah Rp20.000/jam. Ini sudah termasuk ongkos saya ke sana dari kampus. Sekali datang saya mengajar selama 2 jam. Lumayan, Rp40.000 saya dapatkan sekali jalan. Jumlah ini cukup bagus mengingat saya hanya perlu naik Deborah sekali dari depan gang Kober di Jalan Margonda Raya Depok, yang lokasinya kebetulan dekat kampus saya.

Saya masih ingat betul ceritanya. Waktu itu saya cuma mahasiswa semester 5 yang ingin mencari pengalaman kerja dan tambahan uang jajan. Sekadar info, sebagai seorang mahasiswa saya mendapat jatah uang makan Rp50.000 seminggu dari orang tua. Ibu dan ayah saya bukan orang tajir melintir, jadi jumlah segitu sudah dirasa lumayan, apalagi kalau keadaan finansial lagi ‘seret’. Hehe. Sebenarnya uang segitu sudah cukup untuk makan, tapi saya pikir kalau saya bisa cari uang sendiri saya akan bisa menabung.

Di suatu siang yang cerah saat break kuliah, saya menemukan lowongan pekerjaan di majalah dinding kampus (jaman sekarang mading masih eksis gak, ya? 😆). Sebuah lembaga penyalur guru privat sedang mencari guru bahasa Inggris untuk mengajar klien mereka yang kebanyakan murid sekolah dasar. Lowongan itu nampak bersinar di mata saya. Seperti mendapatkan pencerahan, saya langsung memutuskan untuk melamar.

Singkat cerita, saya mendapatkan pekerjaan pertama saya. Dengan celana jeans dan baju kaus plus blazer pendek berwarna biru hadiah ulang tahun dari sahabat saya Tika, saya meninggalkan kampus untuk melakukan pekerjaan pertama saya. Sungguh semangat sekali saya hari itu. Ada perasaan gugup yang sulit saya ungkapkan. Kepala saya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak saya ketahui jawabannya.

“Apakah saya akan menjadi guru yang baik?”

“Apakah anak ini akan menyukai gaya mengajar saya?”

“Apakah saya akan bisa menjawab semua pertanyaannya?”

“Apakah suatu hari saya akan memenangkan nobel pendidikan?”. Yeah, right. 😂

Hari pertama saya berjalan lancar. Si anak, sebut saja namanya David, ternyata bocah yang pintar dan sudah lumayan lancar bicara dalam bahasa Inggris. Tidak heran, saya perhatikan di rumah adiknya yang kecil nonton Disney Channel dalam bahasa Inggris. Sepertinya dia dan adiknya memang sudah biasa mendengarkan bahasa Inggris sejak kecil.

Fast forward, setelah pekerjaan pertama itu berikutnya saya jadi sering mendapatkan pekerjaan mengajar kelas atau privat lainnya. Saya pernah mengajar siswa SMP di salah satu bimbingan belajar dekat rumah dan saya juga pernah mengajar privat teman seangkatan di UI yang beda jurusan. Setelah lulus saya juga sempat menjadi staf pengajar bahasa Inggris dan mengajar mahasiswa tahun pertama di beberapa universitas.

Upah mengajar terus terang tidak pernah besar. Di bimbingan belajar dekat rumah saya dibayar Rp17.000/jam, di salah satu lembaga bahasa Inggris saya dibayar Rp26.000/jam, saat mengajar privat teman kuliah saya dibayar Rp50.000/jam, di kampus, ini yang paling besar, saya dibayar Rp75.000/jam. Yang jelas, saya senang dan bangga sekali saat itu karena karena saya bisa mulai mandiri dan menabung. Saya juga bekerja keras agar bisa membeli laptop dan handphone sendiri. Tujuan saya satu, saya ingin sepenuhnya mandiri dan lepas dari tanggungan orang tua.

Ketika saya kenal dengan suami saya Mamat, kami saling bercerita tentang pekerjaan pertama kami. Ternyata pekerjaan pertama Mamat adalah menjaga warnet dengan upah Rp1000/jam. Dengan senyuman dia berkata bahwa dia bekerja semalaman selama 7 jam. Lumayan dapat 7 ribu, itu bisa untuk makan 2x di Jogja pada masa itu. 😄 Saya kaget, saya kira upah 20 ribu per jam saya waktu itu sudah kecil sekali. Eh, ternyata dia lebih nelangsa lagi. 😂 Pekerjaan kedua Mamat adalah menerjemahkan. Kala itu dia dibayar Rp2000/halaman! Pekerjaan ini dia lakukan dengan menulis manual menggunakan tangan berhubung dia tidak punya PC, apalagi laptop.

Ini semua terjadi lebih dari 10 tahun yang lalu. Kalau saya pikir-pikir lagi, ternyata banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil dari pekerjaan pertama kami.

Pertama, pekerjaan pertama mengajarkan kami untuk menghargai uang. Uang 7 ribu dan 20 ribu mungkin tidak ada artinya hari ini, namun dari sini lah kami belajar bahwa untuk mencari sesuap nasi kita perlu bekerja. Tujuh ribu rupiah adalah teman sejati yang menemani malam-malam panjang Mamat sebagai penjaga warnet. Begitu pula dengan saya. Uang 20 ribu menjadi saksi ‘perjuangan’ saya naik bus umum buluk tanpa AC bernama Deborah yang setia mengantar saya ke rumah murid pertama saya, David. Dengan menghasilkan uang sendiri, kami belajar bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini sehingga kami menghargai the value of money. Karena ternyata mencari uang itu tidak mudah, kami jadi lebih berhati-hati untuk menggunakannya.

Kedua, pekerjaan pertama kami mengajarkan bahwa dalam pekerjaan yang terlihat sepele sekali pun selalu ada kesempatan (opportunity) yang bisa diambil selama kita bisa melihatnya. Dalam kasus saya, mengajar ‘memaksa’ saya banyak belajar. Secara langsung saya juga jadi bisa mengamalkan ilmu yang saya dapatkan di bangku perkuliahan. Ini yang saya maksud dengan kesempatan. Mamat juga, bisa saja dia memilih untuk luntang-lantung menganggur sampai menemukan pekerjaan dengan upah lumayan. Pada akhirnya, dia melihat celah kesempatan dari pekerjaan bernilai seribu rupiah per jam. Jumlahnya memang tidak seberapa, namun Mamat sebenarnya mendapatkan banyak keuntungan dari menjaga warnet. Dia bisa mengerjakan tugas kuliah menggunakan komputer warnet dengan gratis dan dia jadi bisa belajar banyak tentang jaringan komputer dan internet.

Ketiga, pekerjaan pertama kami adalah pembuka, gerbang menuju posisi kami yang sekarang. Dalam waktu sepuluh tahun dan dengan kerja keras, kami berhasil menaikkan upah perjam kami berkali-kali lipat dibandingkan upah pertama kami dulu. Awal yang sederhana itu mengajarkan kami untuk meraih setiap kesempatan yang ada dengan pikiran terbuka dan sudut pandang yang positif.

Sekarang kami bisa bernapas lega karena telah berhasil settled down, menjadi tulang punggung bagi dua keluarga besar, memiliki atap tempat kami berteduh tanpa cicilan, sebuah kendaraan untuk membantu kami commute, dan berbagai investasi serta asuransi untuk masa depan dan hari tua.

Ketika saya melihat ke belakang, saya sungguh tidak memiliki penyesalan tentang jalan hidup yang saya pilih. Momen di mana saya menghabiskan waktu untuk belajar dan mengajar dengan setelan jeans dan baju kaus seadanya telah menjadi fondasi kokoh yang membentuk saya yang sekarang. Saya tidak malu mengakui saya cuma mahasiswa ‘gembel’ yang mengais rejeki 20 ribu per jam dengan naik bus tua yang terseok-seok berlari mengikuti irama metromini di jalanan ibu kota. Saya juga tidak malu menceritakan bahwa saya bukan AGJ alias Anak Gaul Jakarta karena memang saya tidak punya waktu dan modal untuk nongkrong di kafe-kafe dan pusat perbelanjaan. Saya juga tidak cukup cantik (menurut standar absurd media dan panitianya😆) dan tidak tertarik untuk ikutan kontes putri-putrian yang bisa menjadi modal saya ke ranah hiburan yang kemungkinan menawarkan bayaran yang jauh lebih besar dari mengajar.

Tapi saya akan selalu punya kisah untuk diceritakan. Kalau saya punya anak nanti saya akan mengajarkannya untuk meletakkan nasib di tangannya sendiri, seperti yang saya lakukan dulu. Saya akan mendukungnya untuk mencari pekerjaan pertamanya, no matter how small and humble it will be.

Terakhir, pekerjaan pertama mengajarkan saya bahwa kita tidak perlu menjadi hebat untuk memulai, namun kita semua perlu memulai untuk menjadi hebat. Kesuksesan tidak datang dengan sendirinya, kita lah yang harus menjemputnya. 🙂

 

Cheers,

Haura Emilia

Harga dari Kebebasan

Setengah bulan Desember sudah lewat dan akhir tahun menjelang, namun saya baru sempat menulis satu postingan blog.

Ada apa gerangan? Apa saya sakit? Apa saya sedang ada masalah? Tidak, saya hanya sedang banyak pekerjaan. Semua klien saya entah bagaimana seperti sepakat untuk menumpuk pekerjaan di akhir tahun. Jadi, saya tidak punya waktu sama sekali untuk menulis. Tulisan ini pun saya tulis dan posting di hape. Sebenarnya, saya sudah menulis beberapa draft pendek ide tulisan. Sayang, lagi-lagi keterbatasan waktu jadi alasan.

Sebagai seorang freelancer atau pekerja lepas, saya tidak pernah bisa benar-benar memprediksi volume pekerjaan saya setiap bulan. Ada bulan-bulan di mana saya punya banyak waktu untuk membaca buku, membersihkan rumah, dan memasak, ada pula hari-hari di mana saya bahkan tidak punya cukup waktu untuk tidur.

Dua bulan terakhir adalah puncak volume pekerjaan saya selama tahun 2017. Hampir setiap hari saya tidur malam atau bahkan pagi. Saya sadar betul ini tidak baik untuk kesehatan dalam jangka panjang. Namun, saya selalu punya excuse untuk tetap menjalaninya. Salah satu alasan saya tidak menolak pekerjaan yang mengurangi waktu tidur saya adalah karena pekerjaan banyak tidak datang setiap bulan. Bulan-bulan sibuk berarti pendapatan ekstra, yang bisa menutup lebih rendahnya pendapatan di bulan-bulan yang sepi. Alasan kedua mungkin karena saya diam-diam adalah seorang masochist, saya suka disiksa dan menyiksa diri sendiri. 😂

Jika seseorang mengikuti blog atau instagram saya, orang tersebut mungkin berpikir bahwa saya adalah orang yang sangat happy dan beruntung karena memiliki banyak kebebasan, salah satunya bebas bisa bekerja dari mana saja. Saya juga bebas bisa pergi travel ketika saya mau tanpa menunggu promo flight Air Asia. Saya juga bisa terus makan di restoran kalau saya mau (ini bukannya sombong, tapi karena saya tinggal di Solo, yang dengan modal 26 ribu bisa makan soto berdua. Hahaha).

Ya, saya memang memiliki banyak kebebasan, namun kebebasan itu datang dengan harga yang harus dibayar.

Harga pertama dari kebebasan adalah kesehatan fisik dan mental. Sejujurnya, saya bukan termasuk orang yang bisa dengan mudah menghadapi dan mengatasi stres. Saya cenderung masuk tipe yang mudah merasa depresi ketika melakukan suatu hal yang sama dalam jangka waktu yang lama. But, who doesn’t? Yang membedakan mungkin hanya derajatnya saja. Dalam kasus saya, jika saya bekerja dari pagi hingga malam (atau bahkan pagi lagi) selama lebih dari 5 hari, saya akan segera terserang stres. Tubuh saya menyikapi stres dengan pergolakan hormon yang membuat saya menjadi emosional dan ingin marah atau menangis tanpa alasan yang jelas selain karena lelah dan bosan. Selain itu, tubuh juga mengirim sinyal yang memaksa saya untuk berhenti bekerja dengan suatu fenomena khas orang Melayu bernama ”masuk angin”. Sebuah contoh fenomena yang tidak ada dalam kamus kedokteran.

Bekerja di rumah, di hadapan komputer setiap hari, tanpa ada interaksi nyata dengan manusia lain, bukanlah hal yang mudah. Paling tidak untuk saya. Di kantor, kita masih bertemu rekan kerja, di kantor kita masih bicara face to face dengan orang lain. Bekerja di rumah berarti interaksi terbatas di dunia maya. Awalnya mungkin terasa mudah, namun saya sudah melakukannya selama 4 tahun. Ada satu titik jenuh yang tidak akan pernah bisa saya jelaskan dengan tepat dan orang tidak akan pernah memahaminya kecuali mengalaminya sendiri. Ada masa-masa di mana saya merasa oke menatap dinding kosong di belakang meja kerja. Ada saat-saat saya hanya menatap kosong dinding tersebut dengan perasaan hampa. Lalu saya akan makan, bekerja, berjalan, dan tidur seperti robot yang sudah diatur jamnya. Bahkan Mamat yang saya tahu betul begitu tangguh menghadapi stres dan sangat positif plus produktif pun suatu hari berkata dengan ekspresi hampa, “aku bosan”. Jelas ini harga psikologis yang harus dibayar atas produktivitas tanpa henti yang dilakukan dalam kotak bernama rumah.

Kedua, harga lain yang harus dibayar adalah merenggangnya hubungan saya dengan orang terdekat, yakni suami saya. Tidak, kami tidak bertengkar. Namun kami jadi jarang bicara karena masing-masing sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Ini sungguh aneh, mengingat kami hanya tinggal berdua (berdelapan dengan kucing-kucing). Ada hari-hari di mana kami hanya bicara seadanya saat makan siang dan malam. Selebihnya, kami kembali ke ‘pertapaan’ masing-masing, yakni di depan laptop.

Ketiga, pekerjaan rumah dan hal remeh namun penting lainnya terpaksa dikorbankan. Sekadar informasi, saya tidak punya asisten rumah tangga (ART). Selama ini saya membanggakan diri sebagai ‘istri super’ yang bisa melakukan segalanya. Saya memasak, membersihkan rumah, mengurus laundry, bekerja, dan melakukan household chores lainnya sendiri tanpa ART. Mamat adalah laki-laki yang bisa melakukan semua hal ini dan mau membantu saya melakukannya. Namun, dia tidak ada waktu karena dia jauh lebih sibuk dari saya dalam urusan pekerjaan. Kami pun sepakat, saya akan lebih banyak mengurus rumah dan memasak. Nah, saat volume pekerjaan saya melesat, suatu pagi saya mendapati diri saya menangis di depan pintu kamar saat saya bangun tidur. Rumah tampak begitu kotor dan berantakan karena saya tidak punya waktu untuk menyentuhnya. FYI, saya dibesarkan oleh seorang ibu yang super perfectionist dalam urusan kebersihan dan kerapihan. Jadi saya biasa dengan kondisi bersih dan rapih. Ketika kondisi ini tidak tercapai saya rupanya tidak bisa menanggapinya dengan santai. Mood pagi saya yang biasanya enak berubah menjadi mood saya-mau-makan-orang.

Saya bukannya tidak tahu bahwa semua ini solusinya sangatlah sederhana dan rasa stres saya sebenarnya adalah konsekuensi dari pilihan saya sendiri. Solusi simple untuk kasus saya ada 2: mengurangi pekerjaan dengan konsekuensi pendapatan berkurang atau mempekerjakan ART agar saya bisa fokus bekerja. Gampang, kan? Hohoho… Tidak sesederhana itu karena saya orangnya ribet. 😂 Saya cenderung introvert dan malas berhubungan dengan banyak orang. Saya juga awkward dan pemalu ketika bertemu orang baru. Plus, drama ART ibu saya di masa lalu dan sifat perfectionist membuat saya malas mempekerjakan ART. Jadi, pilihan yang lebih tepat adalah mengurangi jam kerja (dengan menolak pekerjaan yang datang jika kapasitas saya sudah maksimal). Solusi lebih baik lagi mungkin dengan mempekerjakan beberapa tenaga penerjemah in-house yang bisa membantu saya dan Mamat. Dengan begitu, beban kerja bisa didistribusikan dengan lebih baik. Saya yang mudah stres ini bisa rileks sedikit dan ada sedikit waktu untuk membaca buku yang sudah lama pending dan meneruskan tulisan yang konsepnya memenuhi pikiran.

Jadi apa poin tulisan yang amat sangat tidak penting ini? 😅 Poinnya itu tadi, kebebasan memiliki harga yang harus dibayar. Kalau ada yang berpikir saya sungguh enak bisa ke sana ke mari setiap bulan, sesungguhnya dia belum melihat mata merah saya di depan laptop setelah bekerja 14 jam dalam sehari. Kalau sampai ada yang khilaf iri tahu saya punya rumah baru, pasti belum lihat saya menangis menahan rasa sakit di punggung, pinggang, jari dan pergelangan tangan karena terlalu lama duduk menghadap komputer. Kalau ada yang berpikir hidup saya sempurna dan tidak punya masalah, well dia kan hanya lihat luarnya saja. Dia tidak tahu 100 cerita perjuangan, masalah pribadi, dan kesulitan yang saya hadapi, yang tentunya tidak pernah saya share di media sosial. (Tapi ini semua bisa jadi hanya ada di kepala saya, sih. Mungkin ini cuma khayalan saya saja. Mungkin tidak ada yang iri atau peduli dengan saya. Lihat, kan? Apa yang bisa dilakukan “terlalu banyak melihat layar komputer dan nonton drama Korea” terhadap kepalamu? 😂)

Anyway, let’s go back to the real deal. Nothing comes easy, people. Silakan tanya Jack Ma, berapa lama dia tidak tidur saat Alibaba masih mencari bentuk dan modal. Saya bukan dan tidak kenal Jack Ma. (Saya curiga pembantu Jack Ma malah lebih sejahtera dibanding saya.) 😁 Tapi saya paham satu hal. Sukses ada harganya dan saya sudah mulai mencicilnya. Kebebasan, entah itu pekerjaan atau finansial, harus dibayar mahal. Jangan memimpikan hidup sejahtera kalau malas bekerja.

Senyum dulu, dong. 😊

 

Cheers,

Haura Emilia

Multitasking: Mitos dan Realita

Untitled

Mitos Multitasking

Waktu saya duduk di bangku sekolah dasar, ada seorang tetangga yang saya kagumi. Saya memanggilnya ‘Tante Martha’*. Tante Martha adalah sosok yang keren di mata saya kala itu karena saya perhatikan beliau sering melakukan satu hal yang tidak pernah dilakukan ibu saya: dia sangat sigap dan bisa melakukan beberapa hal dalam waktu yang bersamaan. Saat saya main ke rumahnya, saya perhatikan beliau bisa memasak sambil menjahit baju. Di lain waktu, saya lihat beliau sedang mengepel sambil memandikan anak-anaknya, yang lebih kecil dari saya. Waktu saya menceritakan hal ini ke ibu saya, beliau hanya berkomentar, “Ibu gak bisa begitu. Ibu susah fokus kalau melakukan banyak hal sekaligus”. Momen tersebut adalah perkenalan saya dengan konsep multitasking.

Kata multitasking sendiri baru mulai diperkenalkan pada tahun 1960an saat IBM melaporkan kemampuan kerja komputer buatannya.1 Istilah ini kemudian mulai digunakan secara lebih luas sebagai sebuah kondisi di mana seseorang melakukan lebih dari satu hal pada saat yang bersamaan. Orang-orang seperti Tante Martha membuat saya percaya bahwa multitasking adalah hal yang sangat mungkin dilakukan dan tidak semua orang mampu melakukannya. Lebih jauh lagi, saya juga percaya dengan pendapat yang mengatakan bahwa perempuan bisa melakukan multitasking dengan lebih baik dari laki-laki.

Saya pun menganggap diri saya cukup baik dalam hal ini. Selama kuliah saya adalah tipe mahasiswa yang suka mencatat sambil mendengarkan kuliah dari dosen. Karena catatan saya cukup lengkap, banyak teman-teman yang meminjamnya di musim ujian. Beberapa teman saya beragumen mereka tidak punya catatan sama sekali karena tidak bisa fokus menulis saat mendengarkan. Seorang teman baik saya bernama Awi mengatakan bahwa saya punya kemampuan multitasking yang bagus. Saya jadi tersanjung, karena saya pikir multitasking benar-benar sebuah skill bagus yang tidak semua orang miliki.

Semuanya berubah ketika saya memasuki dunia kerja. Dunia kerja mendekonstruksi keyakinan saya terhadap wacana multitasking. Di kantor saya dulu, rata-rata pegawai biasa seperti saya saja menerima paling tidak 300 email setiap harinya. Hampir semua pegawai mengecek email mereka setiap 5 menit. Ya, hampir semua orang mengecek inbox lalu membalas email di tengah-tengah proyek atau pekerjaan admin yang lain. Saya perhatikan beberapa orang kolega terlihat sangat sibuk melakukan banyak pekerjaan sekaligus. Ada yang menulis email sambil menjawab telepon, ada yang membuat PO (purchase order) sambil menulis laporan, dan bahkan ada yang terang-terangan main game Facebook di tengah-tengah pekerjaan. Saya amati PC saya sendiri dan kolega lainnya. Ada banyak sekali tab yang kami buka. Rupanya kami semua melakukan multitasking. Setiap hari. Saya sempat tertegun selama beberapa detik di hari pertama saya bekerja. Ternyata multitasking adalah hal yang biasa dalam dunia kerja dan saya tidak keren-keren amat.

 

Realita Multitasking

Suatu hari Mamat dengan enteng berkata, “Multitasking itu cuma mitos!”

Jeng jeng.

Saya terpana.

Saya tergelitik.

“Masa, sih?”, tanya saya.

“Coba deh kamu pikir-pikir lagi. Coba tes, apa kamu benar-benar bisa melakukan 2 hal pada waktu yang bersamaan?”

Saya terdiam. Lalu saya berpikir sejenak. Mungkin dia ada benarnya. Lalu saya googling sebentar soal multitasking.

Ada sebuah percobaan sederhana yang bisa mengetes apakah kita bisa melakukan 2 hal sekaligus. Ambil 2 buah pensil dan selembar kertas. Tulis huruf A dengan tangan kanan dan tarik garis lurus vertikal (atau horizontal) dengan tangan kiri.2 Bisa? Kalau pun kita bisa melakukannya, kemungkinan besar hasilnya tidak sempurna. Garis yang kita tarik kemungkinan akan miring dan huruf A yang kita tulis tidak rapi. “Ah, tapi itu kan karena kebanyakan orang memang tidak bisa menulis dengan tangan kiri, Ra. Coba contoh yang lain, dong. Saya bisa-bisa saja tuh nulis email sambil dengar musik.” Mungkin ada yang beragumen begitu.

Oke, kalau begitu mari kita ambil contoh ‘bekerja sambil mendengarkan musik’. Ketika kita menulis email sambil mendengarkan musik misalnya, kemungkinan besar kita hanya menjadikan musik sebagai background. Kita hanya mendengarkannya sambil lalu dan fokus utama kita ada di menulis email. Sekarang coba kita alihkan fokus ke lagu yang sedang didengarkan, dengarkan kata-katanya dan kalau perlu ikut nyanyi juga. Kebanyakan orang akan gagal fokus menulis email tersebut.

Lalu, seperti apa realita multitasking?

Pertama, multitasking sebenarnya tidak ada, yang ada hanyalah switch-tasking. Kita bisa berpindah dari 1 pekerjaan ke pekerjaan lainnya dengan cepat. Bekerja sambil menulis email. Masak sambil menjahit. Makan sambil menonton TV. Dan seterusnya. Dalam kasus ‘mendengarkan perkuliahan sambil mencatat’ pun sebenarnya tidak benar-benar terjadi dalam waktu yang bersamaan. Saya dulu harus mendengarkan poin yang dibuat dosen dulu sebelum mulai mencatat. Sama juga seperti cara juru bahasa atau interpreter simultan (simultaneous interpreter) bekerja. Kata simultaneous dalam bahasa Inggris berarti ‘terjadi pada saat yang bersamaan’, namun pada kenyataannya seorang juru bahasa tetap harus menunggu pembicara menyelesaikan paling tidak satu kalimat dulu sebelum mulai menerjemahkannya secara lisan.

Kedua, multitasking sering kali menghambat produktivitas. Menurut sebuah studi yang dipublikasikan oleh International Journal of Information Management tahun 2003,  para pekerja biasanya mengecek emailnya 5 menit sekali dan rata-rata membutuhkan waktu paling tidak 64 detik untuk kembali (fokus) ke pekerjaan sebelumnya.3 Jadi, jika kita memeriksa inbox 5 menit sekali dan bekerja selama 8 jam sehari bisa dihitung berapa banyak waktu yang terbuang untuk mengecek email saja. Apalagi kalau yang dicek media sosial yang kontennya kemungkinan lebih ‘seru’ dari email. Konten yang lucu akan membuat kita tertawa, yang menyebalkan bisa bikin BT atau bahkan menyulut emosi. Mood kerja kita bisa jadi rusak seharian. Pekerjaan pun tidak kunjung selesai.

Ketiga, multitasking mengurangi fokus dan menurunkan kualitas pekerjaan. Kalau kita memasak sambil menjahit, bukan tidak mungkin rasa makanan akan kurang enak karena kita tidak fokus dan lupa menambahkan garam atau bumbu lainnya. Kalau kita ikut bernyanyi sambil menulis email bukan tidak mungkin akan banyak typo atau bahkan lirik lagu ikut tertulis di dalam email. Hehe.

Keempat, multitasking membuat otak cepat lelah karena terus-menerus terganggu (distracted). Tidak seperti komputer dan smartphone, otak kita tidak dirancang untuk melakukan banyak hal sekaligus, apalagi melakukan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

Kelima, multitasking membuat kita tidak bisa benar-benar menghayati dan menikmati satu aktivitas. Saat kita makan sambil menonton TV, kita tidak benar-benar merasakan dan menikmati rasa makanan yang kita suapkan ke dalam mulut. Kita tidak terlalu mengamati teksturnya. Kita juga bisa sepenuhnya mengabaikan proses makanan tersebut sampai ke atas meja. Saat kita membaca timeline Facebook di tengah-tengah menulis laporan akhir bulan, kemungkinan kita juga tidak akan terlalu menghayati prosesnya.

 

Pelajaran dari multitasking

Melakukan aktivitas atau pekerjaan secara bertahap, satu per satu, pada dasarnya tetap lebih baik dan bisa menghasilkan pekerjaan yang lebih berkualitas. Kita perlu mengubah mindset bahwa sibuk melakukan banyak hal pada satu waktu bukanlah sebuah prestasi. Yang lebih penting adalah menetapkan prioritas. Jangan tergoda menetapkan semua hal sebagai prioritas. Jika semua hal adalah prioritas maka tidak ada lagi yang menjadi prioritas karena semua hal menjadi sama derajat kepentingannya. Saya pribadi belum benar-benar bisa menghindari multitasking, tapi mencatat dan menetapkan prioritas kerja setiap harinya membantu saya untuk bekerja dengan lebih efektif dan menyelesaikan lebih banyak hal. Terakhir, saya juga mengingatkan diri sendiri setiap harinya bahwa tanpa multitasking pekerjaan kita akan selesai dengan lebih cepat, dengan hasil yang lebih baik, dan dengan energi yang lebih sedikit. 😊

 

Salam produktif,

Haura Emilia

 

 

Catatan:

*Bukan nama sebenarnya

**I don’t own the image above. I took it from here. Please contact me for removal.

Referensi:

1,3The Myth of Multitasking: Why Fewer Priorities Leads to Better Work by James Clear. https://jamesclear.com/multitasking myth

2The Myth of Multitasking by Nancy K. Kapier PH.D. https://www.psychologytoday.com/blog/creativity-without-borders/201405/the-myth-multitasking 

 

Tahun Odyssey

Pada artikel The Times yang dipublikasikan bulan Oktober tahun 2007, David Brooks mendefinisikan ‘Odyssey Years’ sebagai “dekade mengembara yang biasanya terjadi antara masa remaja dan dewasa”.1 Sosiolog di negara-negara barat sepakat bahwa ‘Odyssey Years’ adalah salah satu tahap hidup masyarakat barat yang terjadi antara usia dua puluh dan tiga puluh lima tahun.2 Kata ‘Odyssey’ sendiri diambil dari salah satu puisi Yunani, yang diyakini ditulis di akhir abad ke-8 SM.3 Puisi ini mengisahkan seorang pahlawan Yunani bernama Odysseus, raja Ithaca, dan yang tidak kunjung pulang ke rumahnya 10 tahun setelah peperangan di Troy.4 Singkatnya, ‘Odyssey Years’ adalah masa ‘peralihan’ bagi seseorang yang telah lulus kuliah (atau sedang kuliah) sampai ke tahap sebelum ia memutuskan untuk settle down, alias menikah dan berkeluarga.

Dalam satu dekade (atau lebih) ini banyak hal yang mungkin terjadi, misalnya berganti-ganti profesi, jadi ‘kutu loncat’ dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya, hidup nomaden berpindah-pindah, melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang jauh, menganggur karena bingung mau kerja apa, mencoba bisnis satu dan yang lain, atau melakukan kegiatan apa pun yang sifatnya menunda untuk menikah dan berkeluarga.

Saya pernah mengalaminya. I had my own ‘Odyssey Years’. Kebetulan saya lulus S1 berdekatan dengan ulang tahun saya yang ke-21. Usia ini relatif muda dibandingkan dengan teman-teman seangkatan yang rata-rata setahun lebih tua. Ketika beberapa teman saya mulai memasuki tahap serius dalam kehidupan pribadi dan bahkan sudah ada yang menikah, saya bertekad untuk menunda menikah dan menikmati masa muda saya sebaik-baiknya. Dan ini ada alasannya.

Semasa sekolah (SMP-S1), saya adalah remaja kutu buku yang serius dan membosankan. Walaupun orang-orang terdekat menganggap saya goofy dan lucu, tapi di dalamnya saya adalah orang yang sangat serius dan selalu  memilih berpikir panjang sebelum mengambil keputusan. Waktu SMP, misalnya, saya sudah bertekad untuk memiliki rumah sendiri sebelum usia 30. Rumah yang saya beli dengan usaha sendiri, bukan warisan orang tua atau pemberian suami. Waktu SMA saya tidak pernah keluar malam Minggu untuk pacaran dan memilih untuk ikut les privat mata pelajaran fisika, seperti anjuran orang tua saya. Saya tidak pernah merokok, saya hampir tidak pernah pulang telat dengan alasan tidak jelas, saya tidak pernah clubbing, saya juga tidak pernah terpikir untuk mencoba drugs atau alkohol. Saya tidak melakukannya bukan karena saya menganggap diri sebagai orang yang lebih baik daripada orang-orang yang melakukannya.

Bukan karena saya orang yang baik. Saya hanya berusaha menghindari masalah dan hidup selurus mungkin. Sungguh malas rasanya kalau harus dimarahi orang tua ketika nilai rapor jelek, sungguh tidak ideal kalau di usia muda hamil dan punya anak, sungguh malas juga kalau jadi pencandu dan berakhir di penjara, dan hidup muda dengan kondisi fisik tidak sehat (karena narkotika, alkohol, atau rokok) sungguh bukan pilihan yang menarik buat saya. Saya juga ogah membayangkan di masa depan saya jadi beban orang tua dan pengangguran kalau malas sekolah. Jadi yah, buat beberapa orang, saya adalah anak yang ‘cupu’ dan ‘gak asik’.

Nah, karena pada akhirnya masa sekolah saya habiskan dengan belajar, saya bertekad untuk lebih menikmati hidup setelah lulus kuliah. Saya memutuskan untuk bekerja dan beberapa kali berganti profesi, pindah ke luar negeri, travel ke beberapa belas negara, dan sekolah lagi (S2). Sejak lulus tahun 2007, saya yang dulunya anak Depok, hidup berpindah-pindah. Tahun 2007-2009 saya mengajar di UI Depok dan PPB UI Salemba dan Depok. Dari Depok saya ‘hijrah’ ke Jakarta dan ngekos sambil meneruskan sekolah di UI Salemba. Saya tinggal di Jakarta selama 2 tahun. Tipikal hari-hari saya selama di sana adalah bangun pagi-pagi, pergi kursus bahasa Prancis di CCF (sekarang IFI) selama 4 jam, makan siang, pergi mengajar bahasa Inggris di kampus IISIP selama 2 jam, kembali ke kampus Salemba untuk kuliah sore sampai malam, pulang, tidur. Kapan dan di mana belajarnya? Sebelum tidur, bangun tidur, di kereta, di kamar kosan, di akhir pekan. Dua tahun itu adalah tahun yang sangat sibuk untuk saya.

Setelah lulus S2 tahun 2011, saya mendapatkan pekerjaan di Singapura, di sebuah perusahaan Inggris. Petualangan baru saya pun dimulai. Saya bekerja dan tinggal di sana sampai tahun 2013. Tahun 2013, kantor menawarkan saya untuk mengisi posisi sementara ‘trainer’ di Bali. Hmmm… Bali? Dasar saya orangnya bosanan, saya pun mengiyakan dan pindah ke Bali. Posisi ini hanya dibutuhkan selama 6 bulan. Setelah 6 bulan berlalu, saya memutuskan untuk tidak meneruskan posisi kontrak dan resign. Lalu mau ke mana lagi saya selanjutnya?

Saya kembali ke rumah orang tua di Depok dengan status pengangguran. Saya lalu mencoba peruntungan dengan menjadi penerjemah freelance. Ternyata itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat dalam hidup. Sejak akhir 2013 hingga awal 2015 saya tinggal di Depok dan bekerja sebagai penerjemah lepas purnawaktu. Tahun 2015 saya (akhirnya) menikah dan memutuskan untuk pindah ke Solo. Delapan tahun sejak lulus S1 akhirnya saya memutuskan untuk settle down. That was the end of my ‘Odyssey Years’….

Apa yang saya pelajari dari ‘Tahun Odyssey’ saya sendiri? Pertama, saya jadi bisa memahami adanya pergeseran nilai sosial dalam masyarakat modern. Dulu, jaman bapak dan ibu saya, pernikahan sudah hampir mutlak menjadi pilihan hidup setelah lulus sekolah/kuliah. Bahkan banyak pula yang melewati masa remaja dan langsung memasuki dunia nyata dengan bekerja dan menikah. Generasi sekarang punya lebih banyak pilihan. Sejak kemunculan internet, telah lahir banyak pekerjaan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Dulu ayah saya mungkin hanya bisa bermimpi jadi seorang guru, bukan Social Media Manager. Tante saya hanya fokus ingin jadi PNS, karena pekerjaan lepas tidaklah eksis. Ibu saya hanya ingin jadi ibu rumah tangga, bukan Personal Shopper atau Homecook yang juga Youtuber. Dulu, Pakde saya tidak berani membayangkan dunia di luar Pulau Jawa dan Sumatra karena budget airline belum ada. Eyang saya juga tidak pernah terpikir untuk kerja di perusahaan asing di luar negeri karena menjadi tukang kue atau petani di desa jauh lebih masuk akal.

Teknologi dan kapitalisme melahirkan begitu banyak kesempatan dan peluang baru. Manusia menjadi semakin banyak tahu apa yang ada di belahan dunia lain. Ada begitu banyak tempat untuk didatangi, makanan baru untuk dicicipi, tren fashion terbaru untuk dicoba, skill baru untuk dipelajari, dan profesi baru untuk dilakoni. Generasi sekarang menjadi lebih greedy akan hal-hal baru. Mengapa harus segera menikah kalau bisa keliling dunia lebih dulu? Mengapa harus menimang dan mengurus bayi kalau bisa mengadopsi anjing dan bersenang-senang dengan pasangan dulu? Oh, jangan sebut-sebut soal ‘biological clock’ di depan perempuan modern jaman sekarang. Hanya karena punya uterus, bukan berarti harus digunakan, bukan?

Humanisme dan kapitalisme yang dibalut teknologi semakin fokus menjadikan manusia ‘pusat alam semesta’. Kebahagiaan dan ketenangan batin adalah hal utama yang harus diperhatikan. Tidak apa tidak menikah, asal hidup nyaman dan bahagia. Tidak apa menunda bekerja, asal bisa memiliki pengalaman lain yang sama berharganya dengan bekerja, misalnya travel keliling dunia (kalau mampu, tentu saja). Tidak apa tidak memiliki karir dan jadi freelancer, daripada pusing kerja kantoran dan dimarahi bos. Semuanya tentang bagaimana kita bisa jujur dan nyaman dalam merasakan dan mengalami sesuatu. Kita memiliki lebih banyak kebebasan. Everything is okay as long as we’re happy and we don’t hurt others. Tidak percaya? Coba lihat Instagram si A, dia single dan happy, kok. Coba intip Facebook si B, dia kerja freelance tapi bisa bangun rumah. Coba baca cuitan si C di Twitter, dia baru menikah umur 35 dan punya anak umur 37 dan tampak bahagia.

Kedua, ‘Tahun Odyssey’ mengajarkan saya untuk tidak terlalu keras terhadap diri saya sendiri. Waktu adik saya menikah tahun 2013 (saat saya masih bekerja di Singapura), saya sempat merasa tertekan karena keluarga dan masyarakat menilai hal tersebut sebagai tindakan yang paling wajar dan masuk akal bagi perempuan berumur 20an. Sehingga mereka mengharapkan saya untuk melakukan hal yang sama. Pada kenyataannya, saya sedang dalam masa-masa sulit dan pencarian ‘jati diri’ tentang apa yang saya benar-benar inginkan dalam hidup. Saya tidak pernah suka mengikuti pola dan cetakan. Saya ingin jadi diri saya sendiri. Tahun Odyssey memberikan saya waktu yang cukup panjang untuk berpikir, berkembang, tumbuh, dan menjadi dewasa. Dulu saya punya banyak target yang bahkan agak terlalu sulit untuk dicapai bahkan untuk diri saya sendiri. Waktu yang saya berikan untuk diri sendiri pada akhirnya mengajarkan saya bahwa ada banyak hal yang tidak dapat kita kontrol dalam hidup dan untuk merasa tenang serta bahagia kita perlu menyesuaikan ekspektasi dengan keadaan. Dengan kata lain, kita tidak perlu terlalu keras terhadap diri sendiri. Tidak bisa saya bayangkan jika saya harus melewati semua proses pendewasaan ini dengan bayi di pangkuan atau suami yang minta makan dan perhatian.

Ketiga, 8 tahun adalah waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri memasuki ‘adulthood’ dan mulai berinvestasi. Mungkin banyak yang berpikir bahwa saya cuma ‘malas’ memikul tanggung jawab menjadi seorang ibu dan istri sehingga baru menikah di usia 29. Bukan tidak mungkin juga ada yang berpikir bahwa saya adalah orang yang egois dan terlalu asik dengan diri sendiri. Namun benarkah demikian? Selama 8 tahun, walaupun tidak punya karir yang jelas dan jadi kutu loncat, saya bekerja dengan giat paling tidak untuk standar diri sendiri. Saya punya waktu untuk belajar berinvestasi. Dengan bekal ini, saya siap secara mental dan finansial untuk mulai berkeluarga tanpa perlu berharap menemukan jodoh ‘pangeran tampan’ yang berasal dari keluarga konglomerat dan terhormat.

‘Odyssey Years’ bisa menjadi tahun-tahun yang berat dan sulit, bahkan ketika kita secara sadar memilih untuk melaluinya. Memilih untuk menunda berkeluarga bukannya tidak memiliki konsekuensi sama sekali. Poin terpenting adalah menikmati setiap ‘momen pengembaraan’ yang ada di depan mata. Ketika masa-masa sulit datang ya dijalani dan ditertawakan saja. Konon katanya, orang-orang yang paling bahagia adalah mereka yang bisa menertawakan kesulitan mereka. Be strong, be happy, it’s a tough and wild world out there! 😊

 

Cheers,

 

Haura Emilia

 

 

 

Referensi:
1Brooks, David. “The Odyssey Years”. http://www.nytimes.com/2007/10/09/opinion/09brooks.html
2Shell, G. Richard. Springboard. Hal. 2.
3&4 Odysseus. https://en.wikipedia.org/wiki/Odysseus

 

 

 

 

Bersahabat dengan Kegagalan

Siapa yang tidak pernah gagal? Saya pernah. Sering malah. Saya gagal masuk SMA impian saya, saya gagal di beberapa mata pelajaran favorit dan mendapatkan nilai yang buruk, saya pernah gagal mencapai target IPK saat kuliah dulu, saya pernah beberapa kali gagal mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan, saya gagal memperoleh beasiswa impian, dan berkali-kali saya kalah dalam ajang kompetisi atau perlombaan. Saya juga pernah gagal berangkat ke Moscow untuk menjadi interpreter Miss Universe Indonesia dan saya berkali-kali ditolak saat pertama kali mencoba peruntungan menjadi penerjemah freelance. Kalau boleh jujur, ‘gagal’ adalah salah satu nama tengah saya. Perkenalan saya dengan ‘kegagalan’ sendiri terjadi saat saya berusia 6 tahun.

Waktu saya duduk di kelas 1 SD, saya belajar main sepeda untuk yang pertama kalinya. Tidak terhitung berapa kali saya jatuh. Dengan lutut lecet dan tangan yang luka-luka, saya meringis dan setengah menangis saya berusaha bangkit lagi. Saya bertanya-tanya kenapa saya jatuh sementara teman-teman saya terlihat gagah mengendarai sepeda dengan lancar. Hari pertama belajar saya pulang menangis dan mengadu kepada ibu. Saya menumpahkan kekesalan saya ke ibu dengan mengatakan bahwa bersepeda adalah sesuatu yang mustahil saya lakukan. Saya sungguh merasa gagal. Ibu hanya tersenyum dan menyuruh saya untuk melanjutkan belajar ketika luka saya sudah tidak sakit lagi.

Hari kedua, setelah lupa dengan rasa sakit yang dirasakan, saya belajar dengan ditemani saudara yang lebih tua. Kali ini saya masih jatuh, tapi tidak sebanyak hari pertama. Saudara saya memegangi boncengan dan mendorong sepeda saya perlahan dari belakang. Lalu pelan-pelan dia melepaskan pegangannya. Saat menyadari bahwa dia sudah tidak memegangi sepeda saya, saya panik dan menoleh ke belakang. Bruk. Jatuhlah saya. Hari kedua saya belajar bahwa untuk bersepeda kita harus fokus melihat ke depan. Berbekal pelajaran di hari ke-2, saya lebih percaya diri belajar di hari ke-3. Singkat cerita, pada hari ke-4 saya sudah bisa mengendarai sepeda dengan lancar. 😊

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa jarang sekali ada orang yang langsung bisa melakukan sesuatu ketika pertama kali mencobanya. Saya belajar bahwa untuk melakukan sesuatu dengan baik kita perlu memulainya dengan begitu banyak kegagalan. Kegagalan itu yang akan mengajarkan kita hal-hal yang sebaiknya tidak kita lakukan untuk mencapai tujuan. Saya belajar bahwa gagal itu tidak selalu memalukan. Sayangnya, dalam praktiknya, kita sering melupakan hal ini. Menerima kegagalan bukanlah hal yang mudah.

Tidak ada seorang pun yang menyukai kegagalan. Kita semua ingin berhasil. Ingin sukses. Ingin menang. Jadi, alih-alih belajar dari kekalahan dan kegagalan, kita memilih untuk marah dan tidak jarang menyalahkan keadaan atau orang lain. Karena kekalahan itu pahit kita juga memilih untuk tenggelam dalam keputusasaan. Padahal, sedikit sekali dari kegagalan atau kekalahan kita yang sifatnya fatal.1  Oke, katakanlah nilai kita di rapor jelek? Lalu kenapa? Apa itu berarti masa depan kita otomatis suram? Tidak, kan? Atau, kita gagal mendapatkan pekerjaan di perusahaan impian. Apa itu berarti kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik? Belum tentu. Atau, investasi kita gagal. Selama investasi itu tidak melibatkan uang orang lain, hanya kita sendiri yang rugi, bukan? Kita selalu bisa mulai menabung dan berinvestasi kembali. Jadi sebenarnya kita selalu punya pilihan dalam menyikapi kegagalan.

Menurut kolumnis majalah The Economist dan Financial Times Tim Harford dalam bukunya Adapt: Why Success Always Starts with Failure, ada beberapa cara untuk beradaptasi dengan kegagalan. Berikut saya kutip dan terjemahkan langsung poin-poinnya (1-3) dari sini.

Pertama, cobalah berbagai macam hal baru dengan memegang prinsip dasar “gagal itu biasa”.2 Misalnya, saya yang buta soal tanaman ini bisa belajar bercocok tanam dengan menyadari bahwa tanaman saya bisa saja tidak tumbuh atau mati di tengah jalan. Yang tidak tahu soal fotografi bisa mengambil kursus fotografi dengan asumsi hasil karya pertamanya bisa jadi lebih mirip jepretan anak TK. Yang belum pernah berbisnis bisa belajar berdagang dengan mempersiapkan diri (dan dana darurat) jika ternyata dagangannya tidak laku. Dengan menyadari penuh bahwa kegagalan adalah proses belajar yang penting dan biasa, kita akan lebih siap menerima kekalahan.

Kedua, bereksperimenlah dengan sesuatu yang masih bisa kita tanggung risikonya.3 Katakanlah ada seseorang yang mencoba belajar berinvestasi di bursa saham. Di awal belajar, dia menginvestasikan seluruh tabungannya dengan menanamkan modal sebesar 100 juta rupiah. Sebulan kemudian, harga saham yang dia beli terjun bebas dari Rp1000/saham menjadi Rp450 saja! Padahal, saat itu dia butuh uang untuk membayar biaya rumah sakit anggota keluarganya. Apesnya, anggota keluarganya itu tidak punya asuransi. Terjun bebasnya harga saham yang dia beli menyebabkan dia kehilangan lebih dari setengah modal yang dia tanam. Namun, karena ia berada dalam kondisi terdesak, dia terpaksa menjual sahamnya. Unrealized loss (kerugian yang belum direalisasikan) pun segera berubah menjadi realized loss (kerugian yang direalisasikan). Apa yang bisa kita pelajari dari kasus ini? Kita perlu bereksperimen dengan sesuatu yang masih bisa kita tanggung risikonya. Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa si pemilik modal mengambil risiko besar dengan mempertaruhkan seluruh tabungannya. Dia tidak memikirkan bahwa dalam berinvestasi risiko gagal selalu ada. Seharusnya, dia menginvestasikan hanya sejumlah yang mampu ia tanggung jika hilang, bukan seluruh dana yang dia miliki. Jika risiko masih bisa kita tanggung, kegagalan tidak akan terasa pahit-pahit amat.

Ketiga, kenali momen saat kita gagal.4 Saat gagal, tidak jarang kita terjebak dalam fase penolakan alias ‘in denial’. Kita berusaha menghibur diri dan bahkan membohongi diri sendiri dengan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Bisa jadi kita juga menolak menerima bahwa kita salah dan sudah kalah. Skak mat. Kita gagal tapi tetap tidak mau mengakuinya.  Padahal dengan mengakui kegagalan kita bisa mulai melihat apa yang sebenarnya salah. Apa yang membuat rencana kita tidak berhasil. Dengan menerima kekalahan kita juga bisa mulai berpikir jernih mengenai langkah selanjutnya yang harus kita ambil. Apakah kita akan meneruskan perjalanan dengan sedikit ‘manuver’ atau berhenti di situ dan mulai dari awal. Tinggalkan emosi di belakang dan majulah ke depan dengan pelajaran baru di tangan.

Keempat, berpikir positif dan tidak pernah berhenti belajar. Saya ingat hari-hari di mana saya baru menjadi seorang freelancer. Saya mengirimkan ratusan email ke ratusan klien potensial. Setelah beberapa bulan menunggu, saya tidak mendengar kabar dari seorang pun. Ini berarti saya tidak punya pemasukan. Waktu, tenaga, dan usaha saya selama berbulan-bulan pun habis terbang dan menghilang. Saya punya dua pilihan. Saya bisa menangis dan putus asa, lalu mencari pekerjaan kantoran baru. Atau, saya bisa berpikir positif bahwa saya mungkin mencari pekerjaan di tempat yang salah. Agensi terjemahan yang saya dekati mungkin tidak punya proyek untuk pasangan bahasa Inggris dan Indonesia. Atau, kalau pun ternyata saya melamar di tempat yang benar, mungkin mereka sudah punya cukup penerjemah Indonesia yang lebih baik dari saya.

Jika hipotesis pertama yang benar, maka saya hanya perlu mengirimkan lamaran ke calon klien yang baru. Jika hipotesis kedua yang benar, maka saya perlu membangun resume saya agar lebih meyakinkan. Bagaimana caranya? Tentu dengan lebih banyak belajar dan menerima pekerjaan dari calon klien yang lebih dekat lokasinya dengan saya dan berpeluang lebih besar memberikan saya pekerjaan. Dengan berpikir positif, kegagalan terasa lebih mudah untuk dilalui.

Saya jadi ingat kata-kata almarhum ayah saya dulu, “Jangan takut gagal, Nak. Ketakutan tidak akan membawamu ke mana pun. Belajarlah dengan giat dan maju terus ke depan.”

 

Cheers,

Haura Emilia

 

 

Referensi:

1,2,3,4Rapp, Sarah. Why Success Always Starts with Failure. http://99u.com/articles/7072/why-success-always-starts-with-failure

 

 

 

 

Referensi Tarif Penerjemahan (Inggris-Indonesia)

Disclaimer: Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi penulis. Harga atau tarif di lapangan bisa jadi berbeda. Jangan jadikan tulisan ini sebagai satu-satunya sumber referensi. Variabel penentu tarif penerjemahan sangat banyak. Kalau Anda seorang klien, selalu ketahui kebutuhan dan budget Anda. Jika Anda penerjemah pemula, selalu pertimbangan teks, usaha dan waktu yang diperlukan untuk menerjemahkan, serta cari tahu harga pasar terkini.

 

Via (calon klien): “Mbak, terjemahan Inggris-Indonesia sehalaman berapa, ya?”

Aryo (penerjemah pemula): “Tarif penerjemah Inggris-Indonesia umumnya berapa, sih?”

Sebagai penerjemah lepas, saya sering menerima pertanyaan terkait tarif penerjemahan untuk pasangan bahasa Inggris dan Indonesia. Pertanyaan biasanya datang dari calon klien atau rekan penerjemah pemula. Rupanya, pengetahuan masyarakat umum tentang tarif penerjemahan masih sangat kurang. Karena awamnya masyarakat tentang topik ini, masih banyak yang beranggapan bahwa menerjemahkan adalah pekerjaan sepele dan tarifnya pun diasumsikan ‘rendah’ atau ‘murah’. Padahal, profesi penerjemah sama saja dengan profesi-profesi lainnya, seperti pengacara, dokter, akuntan, arsitek, atau software developer, yang memerlukan keterampilan dan pengetahuan.

Nah, kali ini saya berinisiatif untuk menulis soal tarif penerjemahan khusus untuk pasangan bahasa Inggris dan Indonesia. Tarif yang saya maksud dalam tulisan ini mengacu pada tarif penerjemah lepas atau freelance. Saya tidak berbicara tentang tarif penerjemah yang bekerja pada perusahaan penerbitan atau agensi terjemahan. Informasi yang ada di sini bisa berguna baik untuk masyarakat umum, pencari jasa penerjemah, atau penerjemah (pemula) yang sedang mencari informasi seputar tarif penerjemahan.

Berdasarkan jenis teks yang diterjemahkan, ada 2 jenis tarif penerjemahan: terjemahan buku dan nonbuku. Tarif penerjemahan buku berkisar antara Rp8,5 dan Rp20 per karakter atau bermula dari Rp10.000 per halaman jadi (untuk pasangan bahasa Inggris-Indonesia).1 Sementara itu, terjemahan nonbuku tarifnya disarankan mulai dari Rp152.000/halaman jadi. 2 Kalau satu halaman jadi berisi 300 kata, maka kira-kira tarif terjemahan nonbuku yang disarankan adalah Rp506/kata. Dari mana tarif ini berasal? Tarif ini mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan PMK No. 65/PMK.02 Tahun 2015 Tentang Perubahan Standar Biaya Masukan Tahun Anggaran 2016 yang mengatur Satuan Biaya Penerjemahan dan Pengetikan (halaman 61 butir 5).3 Silakan buka website HPI untuk informasi selengkapnya. Mengapa bisa jauh sekali perbedaan tarif penerjemahan buku dan nonbuku? Karena biasanya untuk penerjemahan buku penerbit menggunakan tarif borongan, misalnya sekian juta rupiah untuk penerjemahan satu buku yang berisi sekian ratus halaman. Jadi tidak dihitung per kata atau halaman.

Berdasarkan jenis penerjemahnya, tarif penerjemahan dibagi menjadi 2 juga: tarif penerjemah tersumpah (sworn translator) dan penerjemah nontersumpah. Apa bedanya penerjemah tersumpah dan nontersumpah? Penerjemah tersumpah adalah penerjemah yang memiliki sertifikat dan izin resmi untuk menerjemahkan dokumen hukum/legal seperti ijazah, sertifikat rumah, KK, KTP, dsb. Penerjemah ini biasanya memiliki nomor dan cap sendiri. Untuk menerjemahkan teks nonhukum sebenarnya tidak perlu meminta jasa penerjemah tersumpah. Namun, karena kurangnya pengetahuan masyarakat kita tentang dunia terjemahan, banyak klien yang hanya mau menggunakan jasa penerjemah tersumpah. Padahal, jumlah penerjemah tersumpah jauh lebih sedikit daripada yang nontersumpah. Kembali ke masalah tarif. Karena biasanya tingkat kesulitan dokumen hukum lebih tinggi, maka tarif penerjemah tersumpah juga lebih mahal. Contohnya, jasa seorang penerjemah tersumpah untuk pasangan bahasa Inggris-Indonesia kurang lebih berkisar antara Rp160.000-180.000/halaman jadi.

Penerjemah nontersumpah sendiri terbagi lagi menjadi 2: penerjemah pemula dan penerjemah senior. Umumnya, tarif penerjemah pemula, misalnya mahasiswa yang baru lulus kuliah, di bawah penerjemah ‘senior’. Kata ‘senior’ di sini dapat mengacu pada penerjemah yang sudah berkecimpung di dunia penerjemahan lebih dari 5 tahun atau yang jam terbangnya sudah banyak, misalnya sudah menerjemahkan lebih dari 500.000 kata atau sudah menerjemahkan banyak buku/teks. Beberapa penerjemah pemula yang saya kenal memiliki tarif antara Rp30.000-60.000 per halaman jadi. Sementara, penerjemah yang lebih senior tarifnya cenderung lebih tinggi dari penerjemah pemula. Ada yang mengikuti acuan tarif Peraturan Menteri Keuangan yang sudah saya sebutkan di atas (Rp152.000/halaman jadi), ada pula yang di atas itu (misalnya Rp180.000-Rp200.000/halaman jadi).

Berdasarkan kliennya, ada 2 jenis tarif penerjemahan: tarif penerjemahan untuk klien lokal dan klien internasional. Klien lokal (walau tidak semua) memiliki daya beli yang relatif lebih rendah dari klien yang berasal dari luar negeri. Jadi tarif yang biasanya dikenakan ke klien lokal di bawah klien luar negeri. Sebagai perbandingan, klien lokal mungkin hanya sanggup membayar maksimal Rp90.000/halaman jadi atau Rp300/kata sumber, sementara klien luar bisa membayar Rp180.000/halaman jadi atau sekitar Rp600 atau USD 0.045/kata sumber.

Klien ‘internasional’ pun sering kali memiliki daya beli yang berbeda pula. Klien agensi terjemahan yang berada di Asia umumnya membayar penerjemah dengan tarif yang lebih rendah dari klien agensi terjemahan yang berbasis di Eropa atau Amerika Serikat. Misalnya, klien Asia mungkin menawarkan tarif 0.02-0.05 USD/kata sumber sementara klien agensi yang berbasis di Amerika atau Eropa mungkin bisa menawarkan tarif antara 0.06-0.1 USD/kata sumber. Perlu diingat bahwa penggunaan USD dalam tulisan ini mengacu pada mata uang standar yang biasa digunakan klien internasional. Pada realitanya, penerjemah bisa saja menerima tarif dalam SGD, Euro, GBP, dst.

 

Referensi Tarif Penerjemahan Nonbuku Penerjemah Freelance

No. Pasangan Bahasa Satuan Penerjemah      Klien Tarif
1 Inggris-Indonesia Halaman jadi Pemula Lokal Rp30.000-Rp90.000
2 Inggris-Indonesia Halaman jadi Senior Lokal Rp100.000-180.000 (atau lebih)
3 Inggris-Indonesia Halaman jadi Tersumpah Lokal Rp160.000-180.000 (atau lebih)
4 Inggris-Indonesia Kata sumber Pemula & Senior (yang lulus tes klien agensi terjemahan) Asia USD 0.02-0.05
5 Inggris-Indonesia Kata sumber Pemula & Senior (yang lulus tes klien agensi terjemahan) Eropa & AS USD 0.06 – 0.1
6 Indonesia-Inggris Halaman jadi Pemula Lokal Rp30.000-Rp90.000
7 Indonesia-Inggris Halaman jadi Senior Lokal Rp100.000-180.000 (atau lebih)

 

Pada tabel di atas, saya menyamaratakan tarif terjemahan untuk pasangan bahasa Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris. Ini semata karena memang banyak penerjemah yang saya kenal tidak membedakan tarifnya. Namun, ada pula penerjemah yang membedakan tarifnya. Terjemahan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris umumnya lebih sulit karena Inggris bukanlah bahasa ibu kebanyakan orang Indonesia, sehingga tarifnya pun lebih tinggi. Saya tidak tahu persisnya seberapa besar perbedaannya. Namun, saya pribadi menetapkan tarif 20% lebih mahal untuk pasangan bahasa Indonesia-Inggris. Karena tidak ada acuan yang pasti, tarif harus ditanyakan langsung ke penerjemah yang bersangkutan. Perlu diingat pula bahwa tidak semua penerjemah menawarkan jasa penerjemahan untuk pasangan bahasa Indonesia-Inggris. Alasannya bervariasi, ada yang semata karena tidak mau/suka, ada pula yang merasa penguasaan gramatika bahasa Inggrisnya tidak cukup baik untuk menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Untuk tarif penyuntingan (editing dan proofreading), biasanya tarifnya setengah dari tarif terjemahan. Klien internasional juga ada yang menetapkan tarif penyuntingan per jam, misalnya 20-30 USD untuk menyunting 1000 kata (3-4 halaman) dalam 1 jam.

Seluruh tarif di atas bukanlah harga mati. Ada banyak variabel yang menentukan tarif penerjemahan. Penerjemah bisa saja memberikan diskon jika volume proyek terjemahannya cukup besar. Sebaliknya, penerjemah juga bisa membebankan biaya ekstra jika klien membutuhkan hasil yang ‘kilat’ (kurang dari 24 jam) atau jika materinya terhitung sulit dan membutuhkan banyak riset.

Mengenai kualitas terjemahan, tarif terjemahan memang tidak bisa 100% menjamin mutu dan kualitas. Ada penerjemah berkualitas yang tarifnya tidak terlalu tinggi, ada pula penerjemah yang kualitas terjemahannya ‘kurang bagus’ namun tarifnya termasuk tinggi. Sebagai calon klien, Anda berhak meminta sampel terjemahan untuk melihat apakah kualitas terjemahannya memenuhi standar Anda. Yang jelas, jangan berharap terlalu banyak dari hasil terjemahan yang tarifnya cenderung rendah. Anda juga bisa curiga jika seorang penerjemah menawarkan tarif yang terlalu murah. Bagaimanapun, menerjemahkan membutuhkan tenaga, keterampilan, dan usaha yang tidak sedikit. Penerjemah senior umumnya paham betul hal ini sehingga mereka bisa mengenakan tarif yang ‘lumayan’ atau jauh di atas tarif penerjemah pemula.

Jika Anda seorang penerjemah pemula, atau orang yang baru aktif kembali di dunia penerjemahan, sebaiknya perhitungkan effort, waktu, serta teks yang akan diterjemahkan. Lebih baik lagi jika Anda mencari referensi tarif terjemahan di website yang khusus menyasar penerjemah freelance seperti ProZ dan Translatorscafe.

 

Cheers,

Haura Emilia

WhatsApp Image 2017-07-24 at 2.59.10 PM

 

Referensi:

1,2,3Acuan Tarif Penerjemahan. Begum, Dina. http://www.hpi.or.id/acuan-tarif-penerjemahan

 

Catatan:

Per halaman jadi umumnya ada sekitar 250-300 kata untuk ukuran kertas A4.