I will

She said I wasn’t beautiful enough.

She wished I had been more like her.

She said I should’ve brushed my hair.

She told me I didn’t look good enough.

That I wore my clothes wrongly.

That I picked the wrong color of shoes.

That I should’ve been more confident.

That I could’ve done better to look nicer.

That I could’ve been prettier.

She taught me how to take a pose.

She told me a better angle for my picture.

Never once she told me I was okay.

That I was fine and hell yeah I was good enough.

That it didn’t matter if I didn’t smile all the time.

That I was worth to be with even when my choice of clothes was lame.

So, one day I told her.

That I say if I am beautiful. I say if I am strong. I say if I am cool.

That I am more than just my looks.

That she will not determine my story.

That I will.

Haura Emilia Erwin (inspired by Amy Schumer)

Iklan

Lika-Liku Orang Tua Baru Part 1: Team Work Ayah dan Ibu

Catatan: Tulisan ini adalah bagian pertama dari seri “Lika-liku orang tua baru” yang menceritakan kehidupan saya setelah menjadi orang tua. Di bagian pertama ini saya akan menjawab pertanyaan keluarga dan teman yang sering bertanya bagaimana caranya kami bertahan mengurus bayi dan rumah tanpa ART sambil tetap bekerja mencari nafkah. Di postingan-postingan berikutnya saya akan menulis tentang ibu menyusui dan ayah asi, baby blues dan post partum depression, tumbuh kembang bayi, vaksinasi dan topik-topik terkait kehidupan orang tua baru lainnya. Saya menulis seri ini agar kelak putri kami bisa membaca memoir tentang bagaimana dia dibesarkan. 🙂

“However pragmatic you are, it is very demanding being a new parent.”

-Robert Winston-

Indeed. Being a new parent is VERY demanding. Paling tidak itu yang saya rasakan sejak kelahiran putri pertama saya. Saya berusia 32 tahun ketika putri saya lahir. Saya menghabiskan paling tidak 10 tahun untuk berpikir dan mempertimbangkan sebelum memutuskan untuk memiliki anak. Benar, punya anak sebenarnya tidak pernah jadi prioritas dalam hidup saya. Saya tipe perempuan yang juga tidak begitu ‘kebelet’ menikah dan memilih untuk menjalankan hidup mengikuti arus saja. Jika bertemu orang yang tepat maka saya akan menikah dan punya anak. Jika tidak ya sudah, saya bisa melakukan hal lain, misalnya mengejar karir atau sekolah sampai mentok, bekerja sampai tua, dan keliling dunia.

Sepuluh tahun sejak lulus kuliah akhirnya saya punya anak. Waktu itu saya pikir 10 tahun adalah waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri untuk menjadi orang tua. Dan karena saya kala itu berusia 30 tahun dan suami saya 33 tahun, saya pikir kami (paling tidak saya, deh) sudah siap secara mental untuk memiliki anak. Saya sudah bisa membayangkan lelahnya mengurus bayi, hilangnya kesenangan-kesenangan kecil yang sebelum punya anak biasa dinikmati, dan berubahnya pola hidup sehari-hari, di mana siang menjadi malam dan malam menjadi siang. Saya sudah siap. At least I thought I was. Pada kenyataannya, tidak ada yang benar-benar bisa menyiapkan kita untuk menjadi orang tua baru. Menjadi orang tua baru hanya baru benar-benar bisa dipahami setelah menjalaninya sendiri. Menjadi orang tua baru bisa menjadi lebih sulit dari yang kita bayangkan.

Satu hal yang saya pelajari dari menjadi orang tua baru adalah pasangan memerlukan team work yang luar biasa kuat agar parenthood bisa berjalan, anak tumbuh sehat dan kedua orang tua tetap waras. Sebelum punya anak, saya dan suami hanya tinggal berdua dengan tiga ekor kucing kami. Kami tidak punya asisten rumah tangga dan jauh dari orang tua, jadi kami terbiasa melakukan semuanya sendiri. Suami saya pernah lumayan lama tinggal di luar negeri, saya pun pernah menjalaninya walau hanya dua tahun. Pengalaman ini membuat konsep ART dan babysitter menjadi asing bagi kami. Dalam konsep rumah tangga kami, segala sesuatu dilakukan berdua. Kalau benar-benar perlu bantuan orang lain baru nanti dicari solusinya. Kami biasa membagi rata pekerjaan rumah tangga. Misalnya, suami saya bertanggung jawab membersihkan lantai bawah, saya handle lantai atas.

Ketika putri kami lahir, otomatis tanggung jawab kami bertambah. Sekarang ada satu bayi yang harus diurus. Sebagian besar waktu saya habis dengan menyusui si newborn. Bayi baru lahir menyusui dengan pola on demand, kapan saja, di mana pun, sebanyak dan sesering yang dia inginkan. Awalnya saya merasa kewalahan, pekerjaan rumah bagian saya tidak terpegang karena saya fokus dengan si bayi. Sementara suami saya sudah kembali bekerja setelah cuti 2 minggu.

Meskipun saya dan suami bekerja dari rumah (tidak perlu ngantor), pekerjaan kami membutuhkan fokus dan konsentrasi penuh sehingga tidak bisa disambil. Kalau sedang bekerja ya bekerja saja. Suami saya harus disiplin dan pintar-pintar membagi waktu antara bekerja, membantu mengurus si bayi, dan memberi makan kucing. Berhubung porsi beres-beres rumah saya berkurang, tugas yang tadinya bagian saya mau tidak mau pindah ke dia.

Lantas bagaimana cara kami mengatur waktu, membagi-baginya untuk bekerja, membersihkan rumah, mengurus bayi, dan memberi makan kucing? Jawabannya tidak mudah, namun mungkin dilakukan dengan memutar otak sedikit. Di sini lah kerja sama tim menjadi sangat penting. Kata kuncinya adalah mengotomatisasi pekerjaan rumah, menyederhanakan pola hidup, bersikap fleksibel, mengatur waktu dan metode belanja, serta disiplin dengan jadwal bayi.

Pertama, kami memutuskan untuk mengotomatisasi sebanyak mungkin hal untuk mengurangi beban kerja rumah tangga. Baju kami cuci dengan mesin. Kami juga membeli robot vacuum yang bisa menyapu sekaligus mengepel ruangan. Tidak murah, namun tetap lebih hemat dari menggaji ART (yang toh juga sulit dicari) selama 8 bulan (menurut standar kota tempat saya tinggal, Solo). Robot ini hemat listrik, hanya perlu 70 watt untuk mengisi dayanya sampai penuh (bisa membersihkan seluruh rumah dan masih sisa powernya). Robot ini bisa diatur jam berapa mulai bersih-bersih dan bisa dikendalikan lewat aplikasi di smartphone. Kita juga bisa memeriksa status pekerjaan dan sisa daya baterai si robot lewat aplikasi tersebut. Berikut penampakan robotnya:

Kedua, kami menyederhanakan apa yang kami bisa, misalnya soal memasak dan makan. Karena nyaris tidak ada waktu memasak, kami terpaksa membeli makanan atau jika ada waktu sedikit untuk memasak saya akan memasak makanan yang sangat sederhana seperti ayam goreng dan sayuran rebus/kukus. Modal peralatan masak saya hanya air fyer, fuzzy rice cooker, dan panci kukus. Menggoreng tanpa minyak sangat mudah, praktis dan lebih sehat dengan menggunakan air fryer. Sederhananya, berbagai jenis protein yang sudah dibumbui sebelumnya hanya tinggal ‘dilempar’ ke dalam air fryer, dan segala jenis sayuran hanya perlu direbus atau dikukus. Kami makan tanpa mengeluh dan menikmati saja apa yang ada. Kalau bosan saya biasanya masak makanan yang tidak kalah mudahnya dibuat seperti sandwich atau pasta. Mau lebih gampang lagi? Tinggal beli di luar atau pesan GoFood. Hehe.

Penyederhanaan lainnya berupa pilihan pakaian yang bahannya tidak perlu disetrika. Kami mengusahakan hanya memakai pakaian-pakaian yang tidak mudah kusut sehingga kami tidak perlu menyetrika. Jasa laundry kiloan memang lebih praktis, tapi kami tidak mungkin memercayakan perawatan baju bayi di laundry kiloan. Lagi pula, menurut keterangan di label baju bayi, rata-rata pakaian sehari-hari bayi tidak perlu disetrika. Hanya perlu dicuci mesin (atau tangan) dengan detergen khusus dan dikeringkan.

Ketiga, kami sepakat untuk bersikap fleksibel terkait pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak. Siapa pun yang sempat akan mengerjakan pekerjaan rumah atau memegang bayi. Misalnya, kalau waktu saya yang agak luang, saya yang akan mencuci pakaian. Kalau suami sedang main dengan bayi dan si bayi poop maka dia yang akan mengganti popoknya. Di malam hari pun kami bergantian mengganti popoknya. Siapa saja yang sempat membersihkan kamar mandi atau mencuci piring akan melakukannya. Tidak perlu tunggu-tungguan atau berharap yang lain yang akan mengerjakan.

Gambar: Baba memandikan dan memakaikan baju Reina.

Keempat, kami mengatur waktu dan metode belanja dengan jadwal dan metode yang menurut kami paling efektif dan efisien. Kami berbelanja grocery seminggu sekali, biasanya di hari yang sama. Karena waktu di pagi hari sudah habis untuk sarapan, beres-beres rumah, menyusui dan memandikan bayi, belanja otomatis hanya bisa dilakukan setelah magrib, sesudah si bayi terlelap. Biasanya yang pergi belanja adalah saya, karena suami biasa bekerja sampai malam. Jadi, suami bekerja sambil menjaga anak di rumah, sementara saya pergi ke pasar swalayan untuk belanja. Berhubung bahan makanan yang kami perlukan sangat simple dan tidak membutuhkan banyak bumbu, saya tidak perlu belanja ke pasar tradisional (yang toh tidak buka di malam hari).

Untuk belanja keperluan bulanan bayi seperti pospak dan perlengkapan mandi, saya membelinya dengan cara online. Selain lebih murah, dengan belanja online saya tidak perlu ke luar rumah. Hemat tenaga, waktu, ongkos dan tentunya lebih ramah lingkungan (tidak perlu naik kendaraan berbahan bakar).

Kelima, kami berusaha selalu disiplin dengan jadwal bayi. Kami memandikan Reina di jam yang hampir sama setiap hari, pagi dan sore. Mulai pukul 18.30 kami meredupkan lampu kamar dan melakukan aktivitas dengan suara seminim mungkin untuk mengajarkan bayi perbedaan siang dan malam dan memudahkannya tidur. Oh iya, kami tidak punya TV di dalam kamar. TV hanya ada di ruang keluarga dan itu pun jarang kami nyalakan. Hasilnya, Reina selalu sudah terlelap sekitar pukul 19.00. Dia baru bangun lagi untuk menyusu sekitar pukul 23.30. Ya, Reina sudah bisa tidur pulas 4.5 – 6 jam tanpa bangun atau gelisah sejak umur 2 bulan. Kami berusaha disiplin dan mempertahankan rutinitas ini agar kami berdua juga bisa beristirahat di malam hari dan tetap waras setiap harinya. 😹

Membesarkan anak sambil tetap mencari nafkah tanpa bantuan orang tua, mertua, saudara dan ART memang tidak mudah, namun ini bukanlah hal yang tidak mungkin. (Tapi perlu diingat bahwa ini mungkin hanya berlaku jika anak Anda hanya atau baru satu orang. Kalau lebih tentu lain lagi ceritanya.) Dengan manajemen waktu yang efisien dan disiplin, kami berdua sejauh ini berhasil menjalaninya. Saya bahkan masih sempat riset soal tumbuh kembang bayi, menulis blog, dan mengupdate Instagram serta status Whatsapp, khas gaya ibu milenial 😂 (biasanya saat si bayi tidur).

Cheers,

Haura Emilia

Perempuan Perkasa dan Lelaki Bertangan Besar

Belakangan ini peran saya sebagai perempuan bertambah satu: menjadi seorang ibu. Sebelum Reina lahir ke dunia, saya sebenarnya cukup menikmati peran saya sebagai seorang perempuan, seorang anak, seorang istri, seorang kakak, seorang profesional di dunia kerja, dan seorang warga negara.

Berbagai peran tersebut saya jalankan sebaik-baiknya dan cara saya memainkan peran tidak lepas dari didikan ibu saya.

Ibu adalah seorang perempuan perkasa. Ibu adalah dokter, chef, financial manager, dan guru bagi anak-anaknya. Ketika saya lapar, ibu adalah chef terbaik di dunia. Ketika saya sakit, ibu adalah dokter yang paling memahami saya. Pelukan dan cinta ibu adalah obat paling ampuh. Ketika saya harus pergi sekolah, ibu dengan sigap mengayuh sepeda mengantarkan saya ke sekolah. Sosok ibu yang mengayuh sepeda tampak seperti atlet olympiade di mata saya. Ibu juga financial manager andalan keluarga kami. Dengan penghasilan ayah sebagai guru yang tidak seberapa, entah bagaimana ibu bisa mengelola keuangan dan mengirim anak-anaknya hingga bangku S2.

Ketika kami akhirnya mampu membangun rumah kami sendiri, ibu menjelma jadi seorang arsitek andal, yang bisa mengubah sedikit pundi uang menjadi bangunan beratap yang kami sebut rumah. Ibu tahu persis setiap detail bangunan dan instalasi listrik. Ibu juga tahu proses pemasangan pompa air dan bisa mendeteksi jika ada kebocoran. Ketika atap rumah bocor, dengan cepat ibu bertindak dan memanggil tukang untuk memperbaikinya. Kalau saja ibu tidak takut memanjat, mungkin ibu akan memperbaikinya sendiri. Pendek kata, ibu adalah sosok wonder woman di mata kami anak-anaknya.

Sayangnya, seberapa hebatnya pun ibu, bagi banyak orang, ibu ‘hanyalah‘ perempuan, sekadar pelengkap yang bergantung kepada laki-laki, yakni ayah saya. Tidak sedikit yang berpikir bahwa ibu akan hancur tanpa ayah. Jarang ada yang melihat ‘mahkota’ di kepala ibu. Tidak banyak yang menyadari atau mau mengakui bahwa ibu adalah sesosok manusia tangguh dengan atau tanpa lelaki. Jarang ada yang mengakui semua kehebatan ibu tanpa memuji-muji ‘keberhasilan’ ayah dalam ‘mendidik’ sang istri. Semua kepandaian dan kecerdasan yang menjadi mahkota ibu, pupus dan saru, tertutup pesona dan dominasi laki-laki, karena ia adalah perempuan.

Banyak perempuan-perempuan hebat seperti ibu yang memilih untuk menyembunyikan atau bahkan melepas ‘mahkotanya’ (baca: harga diri, segala kepandaian dan kemampuannya), demi bisa diterima oleh atau berada di posisi yang lebih rendah dari laki-laki.

Sebut saja Luisa, rekan kerja saya waktu mengajar dulu, dia berhenti mengajar atas permintaan suaminya. Luisa sedih, karena menjadi dosen adalah impiannya. Sang suami menolak memiliki istri yang bekerja karena istri ‘seharusnya’ ada di rumah, mengurus kasur, sumur, dan dapur. Luisa pun dengan enggan merelakan mahkotanya dan berhenti mengajar. Mengabdikan diri memenuhi ego suami, walaupun sesungguhnya penghasilan Luisa lebih besar dari sang suami.

Ada juga Bu Setiawan, tetangga saya dulu, yang terkukung dalam tradisi patriarki, merendahkan diri di hadapan suami dengan memasrahkan segala keputusan rumah tangga di tangan suami tanpa pernah sekali pun mengeluarkan pendapatnya. Dia menerima dengan pasrah ketika suami memutuskan bahwa mereka tidak akan memakai kontrasepsi dan punya anak sebanyak-banyaknya. Padahal Bu Setiawan jauh lebih tahu betapa sulitnya mengurus anak banyak. Bu Setiawan adalah perempuan yang pandai mengurus anak, rumah tangga, dan berdagang. Tapi itu semua tidak ada artinya di mata sang suami. Bu Setiawan tetap ‘hanyalah’ seorang perempuan, yang posisinya selamanya di bawah kuasa laki-laki. Bu Setiawan harus menyembunyikan mahkotanya yang berkilauan agar sinarnya tidak mengaburkan sosok sang suami. Dia sembunyikan sedemikian rupa agar sang suami selalu terlihat sebagai sang pemeran utama di panggung kehidupan.

Selama berabad-abad lamanya, Laki-laki adalah pemilik otoritas mutlak atas identitas, tubuh, dan moralitas perempuan. Perempuan menerima hal ini dengan atau tanpa menyadarinya. Dalam tradisi masyarakat kita, sangat sulit bagi laki-laki untuk menerima perempuan yang kapasitasnya setara atau bahkan di atas laki-laki.

Bahkan dengan kesadaran akan hal ini, saya sendiri pun terkadang lupa dan secara tidak sengaja memandang rendah kemampuan saya karena saya perempuan. Saya kesulitan membaca peta dan alih-alih belajar membacanya, saya berpikir “Hmm, ya sudah lah, perempuan memang payah urusan baca peta”. Atau ketika mobil mendadak mogok, saya merasa malas mencari tahu sebabnya. Alih-alih mempelajari buku petunjuk cara kerja mobil dan mekanisme mesinnya, saya memilih menyerahkannya kepada seorang laki-laki, entah itu kerabat laki-laki atau bapak saya.

Tanpa sadar saya sering mengamini nilai sosial yang mengatakan bahwa saya hanya ‘setengah’ dari laki-laki. ‘Mahkota’ yang selama ini saya bawa di atas kepala, sering kali saya turunkan. Saya merendahkan potensi diri dan mengangkat kapasitas laki-laki, untuk hal-hal yang seharusnya juga mampu saya lakukan.

Semua perlahan berubah ketika saya bertemu dengan laki-laki yang menjadi suami saya. Saat ini kami mengurus seorang putri kecil hanya berdua saja, tanpa bantuan ibu, mertua, asisten rumah tangga atau baby sitter. Selain mengurus bayi, kami juga merawat 3 ekor kucing dan melakukan pekerjaan rumah tangga. Suatu masa, ketika hari terasa sangat berat saya berkata kepada suami, “Terima kasih ya, Mas. I don’t know how I’ll do this without you”. Dia pun membalas, “Bisa, kamu pasti bisa. Kamu kan perempuan yang pintar dan kuat”. Sesaat saya termenung, berusaha mencerna kata-katanya. Lalu saya mengerti satu hal.

Tidak seperti kebanyakan laki-laki lain, dia menerima dan mengakui kemampuan dan potensi saya. Dia tidak melihat saya sebagai sosok yang lebih lemah dari dirinya, hanya karena saya perempuan dan dia laki-laki. Saya tidak perlu menurunkan atau menyembunyikan mahkota saya. Saya tidak perlu bersembunyi di belakang bahunya. Saya bisa menjadi diri sendiri dan terus mengembangkan potensi dan mengasah kemampuan.

Saya melihat ke sekeliling. Ada begitu banyak perempuan-perempuan hebat. Yang ‘terlalu’ cantik, ‘terlalu’ kuat, ‘terlalu’ hebat, yang merasa harus menyembunyikan sinarnya agar berada di bawah laki-laki, demi memenuhi ‘kodrat’ sebagai perempuan, demi diterima oleh keluarga dan masyarakat, demi hidup ‘tenang’ tanpa rasa takut menjadi sendiri hingga tua karena dijauhi laki-laki. Untuk perempuan-perempuan hebat ini, saya berharap mereka akan terus memakai mahkota mereka dan berjalan dengan tegap, tanpa rasa takut. Karena sesungguhnya yang mereka butuhkan bukanlah mahkota yang lebih kecil. Yang mereka butuhkan adalah lelaki dengan hati dan tangan yang lebih besar.

Cheers,

Haura Emilia

Catatan: Tulisan ini terinspirasi dari tulisan berikut:

Dear Woman,
Sometimes you’ll just be too much woman.
Too smart,
Too beautiful,
Too strong.
Too much of something that makes a man feel like less of a man,
Which will make you feel like you have to be less of a woman.
The biggest mistake you can make
Is removing jewels from your crown
To make it easier for a man to carry.
When this happens, I need you to understand
You do not need a smaller crown—
You need a man with bigger hands.

Michael Reid

Cerita Perempuan: Obsesi Reproduksi

”It is not female biology that has betrayed the female…it is the stories and myths we have come to believe about ourselves.”

–Glenys Livingstone

“Kapan (punya anak)?”

“Kapan nyusul (punya anak)?”

Gak mau nambah satu (anak) lagi?”

Kok belum (hamil) juga?”

Udah ‘isi’ belum?”

“Makan kurma muda biar cepet (hamil).”

Sebagai seorang perempuan yang sudah menikah dan belum punya anak, saya mendengar pertanyaan-pertanyaan di atas paling tidak 50 kali dalam setahun. Bukan hanya dari keluarga terdekat, tapi juga dari orang-orang yang secara teori adalah ‘orang asing’ (baca: tidak punya hubungan kerabat) seperti tetangga, kenalan baru, temannya teman, sampai tukang sayur di pasar. Kalau mood saya lagi bagus, saya hanya akan tersenyum dan minta didoakan (jawaban standar yang rupanya akan membuat si penanya tampak senang). Kalau mood sedang tidak baik saya akan pasang muka datar dan diam. Parahnya, kadang orang-orang ini tidak puas hanya dengan bertanya. Mereka merasa harus memegang perut saya juga. Bayangkan sekarang ekspresi wajah saya waktu seorang ibu-ibu tak dikenal memegang perut saya dan bertanya udah isi atau belum? Eww… Awkward. Saya yakin muka saya merah padam, antara pengen kabur dan marah tapi gak enak. Tau kan kenapa? Saya harus jaga image. Hehe. Sebagai perempuan, saya diharapkan bermoral tinggi dan sopan.

Sebenarnya, ‘serangan privasi’ seperti ini bukan dialami oleh saya saja. Adik perempuan saya, seorang ibu beranak 1, mungkin juga sudah kenyang ditanya kapan punya anak kedua. Sahabat saya yang baik bernama Tika mungkin sudah gerah ditanya kenapa memutuskan punya anak 4. Rekan kerja saya yang sudah 7 tahun menikah mungkin juga sudah bosan ditanya kapan punya anak. Sebenarnya kita semua mungkin pernah menanyakan hal yang sama kepada perempuan lain. Namun, outputnya bisa jadi sangat berbeda jika yang menanyakan adalah orang terdekat seperti keluarga inti atau sahabat. Ketika orang asing atau tidak dekat yang bertanya, para perempuan seperti saya bisa jadi malah curiga bahwa si penanya sekadar kepo alih-alih benar-benar peduli.

Hamil. Kehamilan. Kelahiran bayi. Anak. Sebenarnya bukan hanya masyarakat kita yang terobsesi dengan rahim dan masalah reproduksi perempuan. Masyarakat di negara barat juga sama terobsesinya. Saat ini orang-orang di Hollywood sana sedang terobsesi dengan kehamilan Kylie Jenner. Sebelumnya, Beyonce mendapatkan lebih dari 10 juta likes untuk foto kehamilannya. Ya, peristiwa kehamilan Kylie Jenner menyita lebih banyak perhatian daripada kematian Osama bin Laden atau didirikannya Solar City dan SpaceX oleh Elon Musk. Media barat dan lokal heboh membahas semua detail kehamilan Jenner. Mulai dari kapan due date-nya, siapa bapak anaknya, penampilan fashionnya selama hamil, apa yang dia makan selama hamil, berapa kilogram kenaikan berat badannya, dst., dst.

Pertanyaannya sekarang adalah, mengapa kita begitu terobsesi dengan rahim dan kemampuan (atau ketidakmampuan) perempuan untuk bereproduksi?

Obsesi manusia terhadap rahim perempuan sudah dimulai sejak jaman Yunani kuno. Filsuf Yunani kala itu, seperti Plato dan Hipokrates, menganggap kehamilan dan ‘rahim yang bisa bergerak’ sebagai sebuah penyakit.1 Rahim perempuan diyakini sebagai kunci perbedaan mendasar antara laki-laki dan perempuan, baik secara fisik maupun mental. Bagi masyarakat Yunani kala itu, memiliki rahim dinilai sebagai sebuah kelemahan. Hal ini mempengaruhi pemikiran masyarakat ribuan tahun setelahnya yang melihat rahim sebagai sebuah penyakit fisik dan merupakan alasan di balik disfungsi psikologis perempuan.2Pada abad ke-16 hingga 20 di Eropa, perempuan hamil sering kali dikurung di dalam rumah.3 Ini karena masyarakat meyakini bahwa kehamilan adalah hal privat yang memalukan dan harus dijaga, tidak boleh diumbar ke publik. Tahun 1905, produsen pakaian Sears meluncurkan produk pakaian khusus kehamilan (maternity wear) yang serba longgar dan tertutup.4 Tujuannya adalah untuk menutupi perut perempuan hamil karena kehamilan masih dianggap hal yang tidak nyaman dan cenderung tabu untuk dipamerkan. Baru pada awal tahun 1970an masyarakat barat mulai nyaman dengan wacana kehamilan.5 Hal ini dipengaruhi salah satunya oleh gelombang feminisme ke-2. Tahun 1991, Demi Moore tampil di cover majalah Vogue dalam keadaan hamil, telanjang, dan terlihat menawan. Momen ini mengubah pandangan masyarakat barat (baca: AS) pada umumnya mengenai kehamilan. Kehamilan perempuan menjadi sesuatu yang dirayakan (sering kali secara berlebihan) dan mendadak seiring dengan popularitas cover tersebut muncul serangkaian standar ekspektasi moral dan fisik baru yang diatributkan kepada perempuan hamil.

Lalu masalahnya apa, Ra? Boten ngertos aku.

Pertama, obsesi masyarakat terhadap rahim dan alat reproduksi perempuan telah menjadi alat untuk mengobjektifikasi (baca: merendahkan status sebuah objek) perempuan. Masyarakat umum lebih suka membahas kehamilan perempuan dibandingkan karirnya. Orang kebanyakan juga lebih suka menanyakan jumlah anak seorang perempuan dibandingkan dengan latar belakang pendidikannya. Banyak dari mereka yang juga lebih suka membicarakan kemampuan perempuan untuk memproduksi anak dibandingkan kontribusinya terhadap keluarga dan masyarakat.

Adik perempuan saya adalah seorang perempuan karir yang juga pengusaha kecil-kecilan. Di tengah-tengah kesibukannya bekerja yang sangat menyita waktu, dia masih harus meluangkan waktu untuk menjadi seorang ibu. Betapa pun tingginya dia sekolah, hebatnya dia di kantor, dan pandainya dia berjualan, masyarakat sekitarnya tidak peduli dan tidak pernah bertanya bagaimana dia bisa membagi waktunya untuk anak dan keluarga. Kebanyakan juga tidak peduli dengan segala macam prestasi yang pernah diraih adik saya. Yang lebih dipedulikan dan ditanyakan orang-orang adalah kapan dia akan punya anak kedua.

Contoh lain, ketika saya berada di sebuah lingkungan yang baru dan orang tahu bahwa saya sudah menikah, pertanyaan pertama yang ditanyakan oleh ‘teman-teman’ baru ini adalah berapa orang putra yang saya miliki. Ketika tahu saya belum punya anak, pertanyaan berikutnya sudah ketebak. KAPAN saya punya anak. Seolah saya mahatahu kapan sperma dan sel telur bertemu. Seolah saya sudah pasti mau punya anak. Tidak ada yang menanyakan nama belakang saya (they were happy knowing my husband’s name only). Tidak ada yang bertanya profesi saya apa. Jadi tentu saja saya tidak mengharapkan mereka menanyakan latar pendidikan saya.

Seluruh eksistensi perempuan tereduksi menjadi mesin produksi anak semata. Ini yang saya maksud dengan objektifikasi perempuan. Ketika perempuan tidak mampu hamil (atau bahkan ketika sebenarnya si laki-laki yang infertil) maka pihak perempuan lebih cenderung disalahkan dan dianggap ‘menyedihkan’. Jika seorang perempuan terang-terangan mendeklarasikan bahwa dia tidak ingin memiliki anak, dia akan dicap ‘kepinteran’, ‘melawan kodrat’, atau bahkan ‘mengidap gangguan mental’.

Kedua, obsesi masyarakat ini bisa membawa ‘petaka’ bagi perempuan hamil. Perempuan hamil bersuami sering kali merasa gerah karena terpaksa mendengarkan celotehan dan komentar-komentar (yang kebanyakan mitos dan tidak rasional) yang keluar dari mulut perempuan lain yang sudah pernah hamil atau laki-laki (yang herannya walau tidak pernah hamil suka ikutan iseng berkomentar). Perutnya dipegang-pegang (bahkan oleh orang yang tidak dikenal!), dinasehati ini dan itu (kalau nasihatnya benar sih gakpapa, ya. Hehe.). Perempuan hamil tidak bersuami sudah tidak usah ditanya lagi nasibnya. Banyak teman perempuan saya yang merasa tertekan selama masa kehamilan mereka. Ini karena mereka merasa tidak mampu memenuhi ekspektasi masyarakat tentang kehamilan, yang akan membawa kita ke poin nomor 3.

Obsesi terhadap reproduksi dan kehamilan ini juga melahirkan banyak ekspektasi moral dan prilaku tidak masuk akal terhadap perempuan hamil. Kalau berat badan naik banyak dikomentari tidak bisa menjaga berat badan, kalau hanya naik sedikit dicap kekurusan. Kalau perempuan hamil terlihat kucel dan tidak ‘bersinar’ (glowing) dianggap jorok dan tidak cantik. Ketika hamil perempuan juga merasa ditekan untuk melahirkan secara normal karena kalau melahirkan secara sesar akan dianggap bukan perempuan sejati. Setelah melahirkan harus ASI, kalau memberikan anak susu formula akan dianggap ibu yang gagal dan tidak bertanggung jawab. Bla bla bla. The list goes on and it seems to never end.

Mungkin tidak adil bagi saya untuk ‘mengkritisi’ masyarakat tentang obsesi kita terhadap isu reproduksi perempuan. Saya menyadari penuh, bahwa tidak semua orang punya akses yang sama terhadap pendidikan. Tidak semua ibu-ibu punya waktu untuk baca buku dan nyampah di blog seperti yang saya lakukan sekarang. Tidak semua perempuan bisa duduk di bangku kuliah. Kebanyakan perempuan harus bekerja dan memberi makan anak-anak dan keluarga mereka. Banyak perempuan yang hanya bisa diam menerima ‘takdir dan kodrat’ yang diatributkan masyarakat kepada mereka.

Yang bisa saya lakukan adalah memahami sudut pandang ibu saya dan ibu-ibu yang lain yang mungkin saja benar-benar mendoakan saya untuk punya anak, karena bagi banyak orang (tidak semua) punya anak berarti sumber kebahagiaan dan status sosial. Saya, dan mungkin banyak perempuan lain seperti saya, harus belajar menerima dan bersabar. Jika memungkinkan, sedikit demi sedikit mengedukasi masyarakat untuk mengajukan lebih sedikit pertanyaan dan bersikap lebih adil terhadap perempuan. Ini jelas tidak mudah dan merupakan tanggung jawab yang sangat besar. Most of the time, though, I wish people would ask fewer questions and be more sensitive and less judgemental.

Cheers,

Haura

 

Referensi:

1&2Simon, Matt. “Fantastically wrong: The theory of wondering wombs that drove women to madness”. https://www.wired.com/2014/05/fantastically-wrong-wandering-womb/

3&5Bronstein, Phoebe. “Our modern obsession with pregnancy is just another attempt to control women’s bodies”. https://qz.com/759987/our-modern-obsession-with-pregnancy-is-just-another-attempt-to-control-womens-bodies/

4Stein, Sadie. “A brief history of the bump watch”. https://jezebel.com/5754158/a-brief-history-of-the-bump-watch

The image above was taken from here. I do not own it. Contact me for removal.