Plus Minus Tinggal di Solo

“Betah di sana, Ra?”

“Bukannya gak ada apa-apa ya di Solo?”

Tahun 2015 lalu saya pindah dari Depok dan menetap di kota Solo. Karena saya lahir dan tumbuh besar di Jakarta, beberapa teman merasa heran mengapa saya memutuskan untuk tinggal di kota kecil. Sebenarnya, tinggal di mana saja ada plus minusnya. Tapi karena saya merasa tinggal di Solo lebih banyak untungnya, saya memutuskan tinggal di sini. Berikut sisi positif tinggal di kota kecil seperti Solo.

Pertama, tinggal di kota kecil itu berarti melepaskan diri dari kemacetan kota besar seperti Jakarta. Semua orang Jakarta yang saya kenal paling tidak pernah sekali mengeluhkan kemacetan dan lamanya waktu tempuh dari rumah ke tempat tujuan, kantor atau mall misalnya. Solo bukannya bebas macet sama sekali, sih. Saat weekend biasanya memang padat. Tapi tetap saja tidak bisa dibandingkan dengan kejamnya kemacetan Jakarta.

Kedua, karena luas wilayah yang relatif kecil dan jarang macet otomatis ke mana-mana pun terasa dekat dan cepat. Contohnya, rumah saya berjarak sekitar 6 km dari pusat kota Solo, saya hanya butuh 15 menit berkendara ke sana. Ke Bank dekat, ke pasar dekat, ke bandara dekat, ke mall dekat, ke stasiun dekat… Pokoknya mantaplah.

Walaupun kota kecil, Solo memiliki fasilitas dan ruang publik khas kota besar yang lumayan lengkap. Mau ke mall? Ada 5 mall besar di Solo. Ke bank? Hampir semua bank besar punya kantor cabang di Solo. Ke rumah sakit? Solo memiliki beberapa RS khusus, beberapa di antaranya menjadi rujukan nasional, seperti RS Ortopedi Soeharso, RS Mata Solo, RS Indriati dengan Cancer Center-nya, dan masih banyak RS umum dan swasta lainnya. Asiknya, Solo juga memiliki klinik dan puskesmas hewan dengan fasilitas IGD 24 jam, rawat inap, dan kamar bedah. Solo juga punya beberapa stasiun kereta dan sebuah bandara internasional. Fasilitas sekolah pun lumayan lengkap, mulai dari sekolah negeri, swasta, dan sekolah internasional. Tempat hangout seperti restoran dan cafe serta fasilitas olahraga pun cukup banyak. Oh, satu lagi. Solo juga punya fasilitas transportasi umum bernama Batik Trans yang berhenti di banyak halte di jalan-jalan utama. Busnya bagus, jauh lebih bagus dari Metromini atau angkot kecil di Depok dan Bogor. Hehe.

Keempat, biaya hidup di Solo lebih murah dari kota besar seperti Jakarta. Ini wajar, mengingat UMR Solo (1.5 juta)  kurang dari setengahnya UMR Jakarta (3.3 juta). Harga bahan pokok dan biaya jasa otomatis mengikuti UMR. Contoh sederhananya, harga pasar buah-buahan lokal (bukan impor) di Solo lebih rendah daripada di Jakarta. Sebagai pelanggan setia Superindo, saya sudah membuktikannya sendiri. Harga buah A, misalnya, Rp1200/100 gr di Superindo Solo. Buah yang sama dihargai Rp2200/100 gr di Superindo Depok. Kalau dipikir-pikir, ini mungkin juga karena buah tersebut ditanam dan dipanen di sebuah kota di Jawa Tengah yang jaraknya lebih dekat ke Solo dibandingkan ke Jakarta. Jadi, faktor geografis juga mempengaruhi harga bahan pokok di Solo. Biaya jasa seperti jasa dokter, jasa arsitek, jasa bersih-bersih rumah, reparasi AC, dan laundry kiloan otomatis lebih murah juga. Misalnya, jasa dokter spesialis di salah satu RS swasta di Solo Rp75.000/kunjungan, jasa dokter hewan Rp30.000/pemeriksaan, dan jasa cuci setrika laundry kiloan Rp3000/kilo. Bandingkan dengan di Jakarta atau kota-kota besar lainnya…

Kelima, tanpa kemacetan dan biaya hidup yang relatif rendah, tingkat stres saya pun jadi berkurang. Hehe. Di Jakarta saya sering merasa ‘tua di jalan’ karena lamanya jarak tempuh ke suatu tempat. Saya yang pada dasarnya ‘house fairy‘ (baca: anak rumahan) ini pun semakin malas keluar rumah karena memikirkan macetnya jalanan dan besarnya ongkos transportasi ke mana-mana. Kalau terjebak kemacetan saya mudah merasa stres, entah karena lelah secara mental atau karena kebelet ke toilet misalnya. Haha.

Keenam, tinggal di Solo berarti bisa saving lebih banyak, salah satunya dari pos pengeluaran eating out alias makan di luar. Lagi-lagi saya harus membandingkan hal ini dengan di Jakarta. Kalau mau sering-sering keluar rumah kok rasanya apa-apa mahal di Jakarta. Menghabiskan Rp100.000-150.000 untuk seporsi makanan dan segelas minuman adalah hal biasa di Jakarta. Biar kita mampu sekali pun, kecuali uang sudah gak berseri di bank ya, pasti biaya sosialisasi seperti ini bisa menjadi beban jika tidak dikelola dengan baik. 😉 Di Solo, dengan modal Rp27.000 kita sudah bisa makan soto plus nasi 2 mangkok, 2 gelas es jeruk, lauk tahu dan tempe goreng, plus kerupuk. Kecuali makan di restoran di mall, ongkos makan di luar jauh lebih murah di Solo.

Ketujuh, jarang ada ‘drama’ tinggal di kota kecil seperti Solo. Tinggal di kota besar memang ada saja ‘dramanya’. Demo berserilah, aksi terorismelah (walaupun aksi teror bisa terjadi di mana saja, ya), KRL mogok di tengah jalan, banjir, antrean super panjang cuma untuk beli jus mangga atau tiket promo pesawat sampai kerusuhan di mall gara-gara ada satu outlet merek terkenal yang sedang sale*. Selama saya tinggal di Solo, saya belum pernah terjebak di jalan karena demo. Karena tidak ada KRL (kecuali kereta antar kota), otomatis saya tidak pernah stuck diam lama di dalam kereta, seperti yang dulu sering saya alami di Jakarta. Saat ada Travel Fair di mall, orang jarang antre. Kalau kedai ritel seperti KFC atau J.Co sedang ada promo, antrean tidak pernah panjang. Mungkin hal-hal ini terdengar sangat sepele dan sebagian besar orang tidak mengeluhkannya, tapi bagi saya kemudahan dan kelancaran hal-hal kecil begini membuat saya bisa lebih menikmati hidup dan merasa rileks.

Kedelapan, tinggal di Solo memudahkan saya untuk menjelajahi kota-kota lain di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pulau Jawa itu besar dan menyimpan banyak potensi wisata. Sebelum tinggal di Solo, ada banyak daerah wisata dan kota-kota Jawa Tengah yang belum pernah saya kunjungi. Mau ke Pantai? Di Gunung Kidul ada banyak pantai-pantai yang cantik. Mau panjat tebing? Di Jogja bisa. Mau naik gunung? Di Jawa Tengah saja ada begitu banyak gunung yang bisa kita daki. Wisata kota juga tidak kalah menarik. Kita bisa wisata kuliner di Jogja, Boyolali, Salatiga, Semarang, dan Pati. Modalnya pun hanya sedikit: waktu dan sedikit uang saku. 🙂

Rasanya tidak adil kalau hanya menulis sisi positif dari tinggal di Solo. Sekarang saya akan menulis kekurangan tinggal di kota kecil seperti Solo.

Pertama, sarana dan tempat sosialisasi di Solo tentu tidak bisa disamakan dengan di Jakarta yang semua ada. Kalau kita termasuk orang yang suka bersosialisasi di pusat perbelanjaan, klub, dan menyukai kehidupan malam, tinggal di Solo benar-benar bisa jadi membosankan dan membuat ‘mati gaya’. Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya kira-kira di mana tempat anak muda ‘dugem’ di Solo. Mungkin ini karena saya kurang gaul atau bisa jadi karena memang hanya ada sedikit sekali tempat dugem di Solo. Saya pernah makan di satu ‘tempat gaul’ bernama Social Kitchen di Solo, tapi tempat itu sudah tutup setelah di-sweeping masyarakat setempat karena menjual minuman keras. Tapi yah sepertinya hal ini tidak terlalu berpengaruh bagi kehidupan masyarakat Solo dan tidak terlalu terdengar juga pro kontranya.

Kedua, tinggal di Solo berarti butuh lebih banyak usaha untuk pergi ke luar negeri dan kota-kota lain di Indonesia. Penerbangan internasional di Solo hanya ada ke Singapura dan Malaysia. Itu pun tidak setiap hari. Kalau mau ke Thailand misalnya, saya harus ke Jogja atau Jakarta dulu dan terbang dari sana. Bepergian ke provinsi lain juga butuh lebih banyak waktu dan biaya. Kalau saya mau ke Jambi atau Padang, saya harus ke Jakarta dulu untuk transit.

Ketiga, Solo bukan kota yang tepat untuk mereka yang selalu ingin up-to-date dalam hal produk konsumen dan barang-barang ritel. Produk baru yang sedang tren atau baru masuk ke Indonesia (barang/chain retail) biasanya masuk ke kota-kota besar terlebih dulu. Orang Solo yang ingin mencoba makan di jaringan restoran yang baru masuk ke Indonesia mau tidak mau kita harus menunggu sampai mereka ke ibu kota dulu. Mau mencoba layanan internet terbaru yang sedang ngehip, eh ternyata belum ada jaringannya di Solo. Mau belanja di butik brand tertentu? Harus ke Jakarta dulu. Mau mencoba layanan spa terbaru? Siap-siap kecewa karena di Solo orang bahkan belum pernah mendengar namanya.

Keempat dan mungkin yang paling penting, lapangan pekerjaan di Solo tidak sebanyak di kota-kota besar. Orang Solo sendiri banyak yang pindah ke kota besar dan bahkan luar negeri demi mendapatkan pekerjaan. Orang Jakarta yang ingin pindah ke daerah tidak bisa seenaknya pindah kalau tidak ada pekerjaan baru yang jelas di kota kecil tujuan. Jadi, meskipun banyak orang kota besar yang bermimpi pindah ke kota kecil, hal tersebut bukan hal yang mudah dilakukan.

Kesimpulannya, buat saya pribadi tinggal di Solo sampai saat ini terasa menyenangkan, terlepas dari semua kekurangannya. Tapi… ini tidak berarti saya sudah pasti akan tinggal di sini selamanya. Kalau suatu hari Solo menjadi terlalu ramai dan tidak menyenangkan lagi, saya akan pindah ke tempat lain. Freelancer mah bebas. Hehe.

 

 

Cheers,

Haura Emilia

 

 

 

Catatan:

*Lihat video kerusuhan pas sale Nike di Grand Indonesia.

 

 

 

Iklan

Tentang liburan….

Sebagai seseorang yang berprofesi sebagai freelancer, volume pekerjaan saya sebenarnya cukup lumayan. Ini berarti saya bekerja Senin-Jumat atau setiap hari. Yang membedakan saya dengan pekerja kantoran adalah volume pekerjaan saya yang berbeda-beda setiap harinya. Kadang saya bekerja 8-14 jam sehari. Kadang saya hanya bekerja 1-2 jam sehari. Ada kalanya juga saya harus bekerja saat akhir pekan. Yang jelas, setiap hari saya ada pekerjaan. Mamat agak sedikit berbeda. Volume pekerjaan Mamat cenderung lebih banyak dari saya karena jumlah klien dia memang lebih banyak dari saya dan dia memang lebih rajin saja, sih. Hehe.

Seperti halnya pekerja yang lain, ada kalanya saya merasa sangat lelah, bosan, atau malah stres. Beberapa waktu yang lalu titik kebosanan saya bekerja (dan melihat Mamat bekerja) sampai pada puncaknya. Kenapa? Karena beberapa bulan sebelumnya Mamat bekerja lumayan gila-gilaan, 12-14 jam sehari, atau kadang lebih, Senin-Minggu, selama beberapa bulan (saya lupa pastinya berapa lama keadaan ini berlangsung). Saya pun mengajak Mamat liburan. Saya bilang, “Liburan yuuk?”. Setelah meyakinkan Mamat dan mengatur jadwal serta memberi tahu klien bahwa kami mau ‘cuti’, kami pun terbang ke Lombok. Kebetulan sekali, ada penerbangan langsung dari Solo ke Lombok. Senaaang! 😀

Kami menghabiskan 7 hari di Lombok. Ngapain aja 7 hari di sana? Niat kami liburan adalah ingin bersantai, maka kami tidak terlalu memikirkan itinerary-nya. Persiapan yang kami lakukan hanya pesan tiket pesawat, pesan akomodasi selama di Lombok dan Gili Air, dan packing 2 ransel kecil. Sudah itu saja. Empat hari pertama kami habiskan di daerah Senggigi. Aktivitas kami di Senggigi cuma sarapan, berenang, baca buku sambil leyeh-leyeh di pinggir kolam renang, dan sore harinya baru kami jalan-jalan ke pantai Senggigi dan area sekitar hotel.

Hari ketiga baru kami keluar hotel seharian. Kami menyewa motor dan menempuh jarak 130 km PP, menjelajahi pantai-pantai di selatan Lombok. Hari ke-4 dan ke-5 kami menyebrang ke Gili Air dan menginap 2 malam di sana. Di Gili Air pun aktivitas kami kurang lebih sama. Berenang di kolam renang, berendam di laut, jalan kaki keliling pulau, dan lari pagi. No parties and crazily-packed itinerary. Hari ke-6 kami kembali ke Lombok dan mengunjungi desa adat suku sasak, lalu check-in di hotel dekat bandara.

 

Yang menarik, selama di villa di Senggigi dan Gili Air, Mamat dan saya adalah satu-satunya tamu lokal. Yang lainnya adalah turis asing. Karena kebanyakan aktivitas kami adalah bersantai, saya jadi mengamati orang-orang asing ini. Kebanyakan (kalau tidak semua) dari mereka tinggal di Lombok atau Indonesia untuk waktu yang lumayan lama dibandingkan waktu liburan orang Indonesia yang saya kenal. Ada yang menghabiskan waktu 2 minggu sampai sebulan di Lombok. Malah ada yang sudah tinggal di Gili Air selama berbulan-bulan. Apa saja yang mereka kerjakan di Lombok? Berjemur. Yup, tanning di pinggir pantai atau kolam renang. Entah itu sambil baca buku atau benar-benar berbaring saja. Beberapa malah benar-benar tidur berjam-jam beralaskan kain bali di bawah teriknya sinar matahari.

tanning

Saya pun jadi senyum-senyum sendiri membandingkannya dengan gaya berlibur kebanyakan orang Indonesia yang saya kenal. Orang kita cenderung liburan dalam rentang waktu yang lebih singkat dan kalau sudah liburan biasanya jadwalnya sangat padat supaya bisa mengunjungi sebanyak mungkin tempat wisata dalam waktu yang sangat singkat itu.

Pagi-pagi sudah heboh bangun dan mandi, lalu pergi rame-rame dengan mobil/bis sewaan (kalau perginya rombongan). Persis kayak waktu liburan dengan teman-teman satu sekolah jaman SMP dan SMA dulu. Kalau ke pantai mereka biasanya cuma menghabiskan waktu 10-30 menit untuk foto-foto lalu pergi lagi ke tujuan berikutnya. Suatu hari saat saya sedang santai berbaring di sun lounger di pantai Selong Belanak, saya melihat beberapa orang ibu-ibu PKK atau arisan heboh datang dan foto-foto di pantai. Saya amati beberapa turis asing sempat memperhatikan mereka asik foto-foto. 10 menit kemudian ibu-ibu ini pergi. Yaah, gak mau leyeh-leyeh dulu, bu? Panas, mbak. Lalu lanjut pake topi, sunblock dan jaket.* Hihihi…

Lalu saya jadi berpikir. Orang-orang asing ini sesungguhnya sudah sejak lama menguasai seni berdiam diri, alias gak ngapa-ngapain. The art of doing nothing. Liburan (terutama ke pantai) bagi mereka adalah saatnya untuk istirahat dan rileks. Makanya, mereka bisa menghabiskan satu hari penuh ‘cuma’ tiduran di satu pantai dan main air. Di malam hari mereka juga biasa berendam di kolam renang. Benar-benar berendam saja, bukan berenang, sambil minum cocktail. Saya sendiri pun yang dasarnya suka bermalas-malasan sangat menikmati aktivitas yang sama, jadi cenderung punya gaya liburan yang sama.

Sebelumnya saya tidak pernah berpikir soal  the art of doing nothing ini. Saya hanya termasuk orang yang malas liburan serba terburu-buru dan memaksakan diri mendatangi semua objek wisata dalam waktu yang sangat singkat. Waktu saya dan Mamat berlibur ke luar negeri pun, kami sangat santai dan tidak punya itinerary yang jelas atau padat. Tapi setelah ke Lombok kemarin, saya jadi benar-benar mengamati dan menikmati the art of doing nothing.

Suatu malam di sebuah restoran tepi pantai, saya dan Mamat juga berdiskusi ringan soal kenapa orang Indonesia jarang liburan dan kalau liburan pun biasanya dalam waktu yang relatif singkat (2-4 hari). Sambil makan pizza dan fries, kami pun ngobrol-ngobrol soal alasannya.

Hal pertama yang terlintas adalah alasan finansial. Buat begitu banyak orang kita, liburan adalah barang mewah. Apalagi buat yang memiliki keluarga besar atau anak lebih dari 2 orang. Saya sendiri menyadari ini karena sewaktu saya kecil saya termasuk jarang berlibur. Saya baru bisa sering berlibur setelah saya mulai bekerja dan menabung. Hihi.

Kedua, masalah cuti. Kelas menengah kita mungkin saja punya cukup uang untuk berlibur, tapi mereka kepentok sama cuti. Cuti. Sebuah kata keramat bagi semua kaum buruh dan kelas menengah kita. Setahu saya, kebanyakan orang Indonesia punya jatah cuti yang singkat, sebanyak 12 hari kerja dalam setahun. Ini pun sering kali dipotong ‘cuti bersama’. Pekerja kelas menengah juga kadang dipaksa pemerintah cuti pada waktu yang bersamaan. Belum lagi beberapa perusahaan cukup kejam dan hanya memberikan cuti kepada pegawai yang sudah satu tahun bekerja. 😦 Jadi KAPAN DONG LIBURAN SELAIN LEBARAN DAN NATALNYA, PAK/BU???!!! 😦 Jadi dengan sisa cuti yang sangat sedikit ini lah kebanyakan masyarakat urban kita memanfaatkan waktunya untuk berlibur. Hasilnya? Liburan kilat.

Alasan ketiga mungkin karena berlibur atau travelling belum menjadi budaya sebagian besar orang kita. Saya kenal dengan pasangan suami isteri yang menasehati anaknya untuk tidak makan di luar atau liburan karena lebih baik uangnya ditabung walaupun mereka tahu anak mereka berpenghasilan 40 juta/bulan dan hanya punya satu orang anak balita. Liburan dan aktivitas bersenang-senang lainnya masih dianggap sebagai ‘kegiatan buang-buang uang’. Banyak yang belum menyadari manfaat berlibur dan travelling.

Saya pribadi bertekad untuk membawa anak(-anak) saya kelak untuk berlibur dan travelling ke tempat-tempat baru setiap tahunnya. Berlibur sebenarnya bukan melulu soal masalah uang, tapi juga masalah mental. Siap gak tabungan berkurang banyak? Siap capek? Siap tidak nyaman berpisah dari semua kemudahan yang kita dapatkan di rumah? Siap mengalami kejadian-kejadian tak terduga di tempat yang sama sekali asing? Siap nyasar? 🙂 Saya percaya kalau berlibur, apakah itu hanya sekadar bermalas-malasan atau sibuk pindah dari satu tempat ke tempat yang lain akan memberikan banyak manfaat dan menambah pengetahuan. Seperti kali ini, saya belajar tentang seni tidak melakukan apa pun dan memikirkan alasan kenapa orang Indonesia cenderung jarang liburan dan kalau liburan pun semuanya serba ekspres.

Jadi, kapan nih mau liburan (lagi)? 🙂

 

Cheers,

Haura Emilia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

‘Apply’ Visa ke Eropa dengan mudah dan cepat (bahkan untuk freelancer)

Halo semuanya,

Kali ini saya ingin berbagi pengalaman pribadi mengenai cara melamar visa ke negara-negara Uni Eropa dengan visa Schengen. Sebelum melamar visa Schengen, saya pribadi banyak membaca blog-blog orang tentang tata caranya, namun saya rasa belum ada yang secara lengkap menjelaskan langkah demi langkahnya. Oleh karena itu, saya akan mencoba mengisi kekurangan yang ada dengan menuliskan sendiri pengalaman pribadi saya. Sebagai seorang freelancer atau pekerja lepas, tentu saya memiliki kekhawatiran sendiri bahwa visa saya akan ditolak karena freelancer umumnya dianggap ‘tidak memiliki pekerjaan dan atau penghasilan tetap’ walaupun dalam banyak kasus, seorang pekerja lepas bisa jadi sama sibuk atau bahkan lebih sibuk dari pekerja kantoran. 🙂 Lalu bagaimana cara mengatasinya? Please keep on reading. 🙂

Jika kita ingin berlibur atau pergi ke negara-negara yang ada di Uni Eropa, kita akan memerlukan visa Schengen. Kita bisa melamar sendiri visa (tanpa bantuan agen perjalanan) di salah satu kedutaan negara yang masuk negara anggota Schengen. Jadi, kita tidak perlu melamar visa ke semua negara UE yang ingin kita kunjungi. Cukup salah satunya saja. Negara apa saja yang masuk ke dalam kategori Schengen? Berikut informasi yang saya dapatkan dari situs web Kedutaan Besar Belanda di Jakarta:

  • Belgia
  • Denmark
  • Jerman
  • Finlandia
  • Perancis
  • Yunani
  • Italia
  • Luxemburg
  • Austria
  • Portugal
  • Belanda
  • Norwegia
  • Spanyol
  • Swedia
  • Islandia
  • Malta
  • Estonia
  • Hongaria
  • Latvia
  • Lithuania
  • Polandia
  • Slovenia
  • Slowakia
  • Ceko
  • Swiss
  • Liechtenstein

Pertanyaan berikutnya adalah, siapa saja yang memerlukan visa Schengen? Jawabannya adalah mereka yang ingin mengunjungi negara-negara di atas dalam jangka waktu singkat (maksimal 90 hari) untuk tujuan wisata, kunjungan keluarga, dan tujuan lainnya.

Sebaiknya, kita melamar visa di kedutaan negara yang akan pertama kali kita kunjungi atau yang akan paling lama kita kunjungi. Jika Anda ingin masuk dari Prancis maka silakan melamar visa di Kedutaan Besar Prancis.

Berdasarkan informasi yang saya kumpulkan, saya menyimpulkan bahwa Belanda adalah negara dengan kedutaan besar yang terkenal cepat dan efisien dalam proses lamaran dan pemberian visa Schengen. Dengan kesimpulan tersebut, saya pun memutuskan untuk melamar visa melalui Kedubes Belanda.

Saya sempat membandingkan dokumen yang diperlukan untuk melamar visa di kedutaan Spanyol dan Belanda, ternyata kedutaan Belanda mewajibkan lebih sedikit dokumen dibandingkan dengan Kedutaan Spanyol. Kedutaan Spanyol juga menuliskan bahwa visa diproses paling cepat dalam waktu 5 hari kerja, sedangkan kedutaan Belanda hanya menuliskan bahwa idealnya visa dapat dilamar 2 minggu sebelum tanggal keberangkatan kita.

A. Dokumen/syarat yang diperlukan untuk melamar visa di Kedubes Belanda adalah sebagai berikut:

1. Paspor.

Pastikan paspor berlaku paling tidak 6 bulan sebelum masa berlakunya habis. Jika ada paspor lama, silakan dibawa juga. Paspor lama penting untuk menunjukkan catatan perjalanan-perjalanan sebelumnya, terutama jika paspor baru Anda masih kosong.

2. Pas foto.

Peraturan untuk pas foto visa cukup ketat, misalnya, jarak antara wajah dengan latar belakang foto harus pas, ukuran pas foto harus tepat, wajah pemohon tidak boleh tersenyum, latar belakang harus putih, tidak disarankan memakai baju warna putih, dan seterusnya. Oleh karena itu, saya sarankan pemohon untuk langsung foto di Kedutaan Belanda saja. Jasa foto dan cetaknya disediakan di ruang tunggu Kedutaan dengan biaya tambahan. Pada saat saya melamar visa (tahun 2015), biayanya adalah Rp50.000/4 pas foto yang dicetak.

3. Membayar biaya aplikasi visa

Biaya aplikasi visa langsung dibayar pada saat wawancara sebesar 60 Euro untuk dewasa dan anak-anak di atas 12 tahun dan 35 Euro untuk anak-anak berusia 6-12 tahun. Anda akan ditagih dalam mata uang rupiah sesuai dengan kurs yang berlaku hari itu. Bawalah uang tunai, karena saya pribadi tidak melihat adanya pilihan pembayaran lain seperti debit/kartu kredit dan saya juga tidak menemukan ATM di dalam Kedutaan.

4. Formulir permohonan

Silakan unduh formulir permohonan di sini:

http://www.minbuza.nl/en/appendices/services/consular-services/visa/visas-for-the-netherlands-schengen-visas/applying-for-a-schengen-visa/visa-application-form-schengen-2011.html

Harap baca dan isi formulir dengan lengkap dan hati-hati. Jangan lupa tanda tangan dua kali, pada halaman 2 dan 3 formulir.

5. Asuransi perjalanan

Mengutip situs web kedutaan Belanda mengenai asuransi perjalanan:

“Asuransi perjalanan harus berlaku untuk seluruh periode perjalanan di wilayah Schengen dengan minimal nilai pertanggungan €30.000,- termasuk pengobatan – dan biaya repatriasi. Copy polis harus dilampirkan dalam permohonan, polis asli harus diperlihatkan.”

Asuransi bisa dibeli di berbagai badan penyedia asuransi. Dalam kasus saya, saya membeli asuransi melalui agen AXA Mandiri. Harga asuransi perjalanan tergantung dari jumlah hari Anda akan tinggal di Eropa. Semakin lama, semakin besar pula biaya asuransinya. Sebagai gambaran, untuk perjalanan hingga 21 hari, AXA mematok harga 65 USD/orang untuk asuransi jenis Platinum. Ada juga asuransi khusus untuk keluarga yang lebih hemat, jika Anda akan pergi dengan keluarga. Silakan hubungi agen asuransi Anda untuk menanyakan harga asuransi/pertanggungannya.

6. Bukti keuangan

Jika pemohon membiayai sendiri seluruh perjalanannya, pemohon diwajibkan untuk memiliki minimal 34 Euro/hari/orang di tabungan. Jumlah tersebut dikalikan dengan jumlah hari pemohon akan tinggal dan perhitungkan pula bahwa ini di luar biaya pesawat PP dan akomodasi (hotel/hostel/dsb.). Lampirkan catatan rekening berisi saldo selama 3 bulan terakhir dari bank Anda. Bank Statement ini bisa diminta di bank Anda masing-masing. Anda juga bisa mencantumkan slip gaji selama 3 bulan terakhir.

Jika Anda pergi dengan biaya sponsor, berikut persayaratannya yang saya kutip langsung dari situs web Kedubes Belanda:

“Sponsor di Belanda mempunyai minimum penghasilan dan berlaku 12 bulan kedepan saat permohonan visa diajukan. Lihat link berikut untuk mendapatkan informasi aktual tentang minimum penghasilan:http://.ind.nl/leges/tabel-normbedragen-voldoende-geld.aspx ”

7. Reservasi penerbangan

Pihak kedutaan memang tidak menyarankan Anda untuk langsung memesan tiket pesawat karena bisa saja visa Anda ditolak. Jadi bagaimana caranya untuk mendapatkan reservasi penerbangan tanpa perlu mengkhawatirkan risiko visa ditolak sementara tiket pesawat tidak dapat dikembalikan?

Ada beberapa cara yang bisa Anda coba:

1. Mintalah sebuah agen perjalanan untuk membuatkan Anda reservasi penerbangan yang nantinya bisa dibatalkan jika visa ditolak. Kekurangan metode ini adalah biasanya Anda tidak bisa mendapatkan tiket promo/harga terendah karena sifat tiket seperti ini biasanya sangat terbatas dan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).

2. Pesan langsung di situs penerbangan yang ingin Anda pesan. Beberapa perusahaan penerbangan seperti KLM memiliki kebijakan full refund atau pengembalian uang tiket 100% jika visa ditolak. Yang perlu dilakukan adalah memastikan bahwa tiket yang Anda pesan sifatnya refundable (dapat dikembalikan) dengan cara membaca baik-baik persayaratan pembelian (Terms & Conditions) atau Anda juga bisa menghubungi langsung kantor maskapai tersebut dan menanyakan status tiket Anda. Maskapai lain, misalnya Garuda Indonesia, memberlakukan sistem refund dengan pemotongan jumlah tertentu (misalnya sebesar 60 USD) jika Anda membatalkan pembelian tiket untuk alasan apa pun.

Tiket dapat dibeli dengan uang tunai, kartu kredit, atau debit, tergantung dari maskapai yang dipilih.

8. Surat keterangan kerja atau bukti kepemilikan usaha (S.I.U.P.)

Jika Anda bekerja di kantor/perusahaan, mintalah surat keterangan kerja yang menyatakan bahwa Anda adalah seorang karyawan di perusahaan tersebut dan bahwa Anda akan kembali ke Indonesia setelah perjalanan berakhir. Jika Anda seorang pengusaha/wiraswasta, Anda bisa mencantumkan SIUP atau Surat Izin Usaha Perdagangan.

Bagaimana jika Anda seorang freelancer atau pekerja lepas seperti saya?

Jika Anda seorang freelancer, Anda dapat meminta surat keterangan kerja (atau kerja sama) dari salah satu klien/mitra Anda yang menyatakan bahwa dia pernah menggunakan jasa Anda berikut dengan durasi atau gambaran garis waktu (time line) kontrak kerjanya. Minta klien Anda untuk mencetak surat di atas kop surat perusahaannya dan dilengkapi dengan tanda tangan orang yang bersangkutan/menggunakan jasa Anda. Berikan informasi yang jujur dan relevan di surat keterangan tersebut.

9. Bukti reservasi hotel/hostel/akomodasi lainnya di semua negara yang dikunjungi.

Akomodasi bisa dipesan melalui situs pemesanan hotel online seperti Agoda.com, booking.com, Expedia.com, dsb., dengan menggunakan kartu kredit. Pesanlah kamar yang sifatnya refundable,  sehingga Anda dapat membatalkan pemesanan jika permohonan visa ditolak.

Tips: Anda bisa menggunakan Trivago.com untuk mencari akomodasi. Kelebihan Trivago adalah situs ini membandingkan harga kamar di berbagai situs pemesanan hotel populer sehingga Anda bisa mendapatkan harga kamar yang termurah. 🙂

9. Akte kelahiran dan buku nikah orang tua, jika membawa anak di bawah umur, berikut dengan salinannya.

Jika semua dokumen Anda sudah lengkap, silakan buat janji temu di kedutaan dengan mengisi formulir janji temu di sini:

https://jakarta.embassytools.com/en/index

Pilih janji temu ‘individual’ untuk mengatur janji temu aplikasi visa (jika peserta yang akan melamar berjumlah kurang dari 5 orang).

Pilih waktu yang masih tersedia. Harap diperhatikan bahwa jadwal janji temu di Kedutaan Belanda biasanya cukup padat dan hanya dibatasi hingga 20 orang per sesi. Jadi misalnya Anda membuka situs web pada tanggal 12 April untuk membuat janji, maka bisa saja Anda baru mendapatkan sesi yang kosong (tersedia) pada tanggal 20 April. Ini karena tingginya jumlah pelamar visa terutama pada musim atau waktu-waktu tertentu, misalnya musim liburan/panas.

Setelah membuat janji temu, Anda akan mendapatkan email konfirmasi yang wajib Anda print dan tunjukkan pada tanggal dan waktu yang telah ditentukan.

B. Hari Janji Temu

Pada hari janji temu, sebaiknya pastikan Anda hadir minimal 15 menit sebelum waktu yang telah ditentukan. Jangan datang terlambat lebih dari 15 menit. Hal ini bisa menyebabkan pembatalan janji temu Anda dan risikonya Anda akan ditolak masuk dan harus membuat janji temu ulang secara online. Silakan mengantri di luar pagar Kedubes Belanda dan tunggu instruksi satpam untuk masuk ke wilayah kedutaan.

Setelah masuk ke ruang tunggu, berikan print-an janji temu ke petugas yang ada dengan semua dokumen yang diperlukan. Petugas akan memeriksa kelengkapan dokumen Anda, dan jika Anda belum mempunyai pas foto, petugas akan mengarahkan Anda untuk foto terlebih dahulu, di tempat yang telah disediakan. Anda juga bisa memfotokopi dokumen yang kurang lengkap di tempat membuat pas foto. Biaya foto kopi adalah Rp5000/halaman dan biaya cetak email adalah Rp10.000/halaman. Biaya pas foto Rp50.000/orang.

Petugas juga akan memberikan lembar rencana perjalanan (itinerary) yang harus Anda isi secara manual. Lembar ini harus diisi dengan jumlah hari yang akan Anda habiskan di setiap negara yang akan dikunjungi.

Setelah semua dokumen, foto, dan rencana perjalanan lengkap, silakan melapor ke petugas kembali. Anda akan diberikan kunci loker untuk menyimpan tas, barang bawaan, dan handphone. HP dan tas tidak diperkenankan untuk digunakan di ruang tunggu dan tidak diizinkan dibawa masuk ke ruang wawancara. Jadi, tinggalkan barang bawaan di loker, dan masuk ke ruang wawancara hanya dengan dokumen di tangan dan uang tunai untuk membayar biaya aplikasi visa.

Di ruang wawancara Anda akan mengambil nomor antrian dan silakan menunggu nomor dipanggil. Saat nomor Anda dipanggil, petugas wawancara akan memeriksa kembali dokumen Anda, meminta biaya aplikasi, dan menanyakan beberapa pertanyaan terkait dengan rencana perjalanan. Saya sendiri tidak ditanya banyak, hanya sedikit sekali. Setelah itu, sidik jari Anda akan direkam oleh mesin pemindai. Ini adalah prosedur keamanan baru yang wajib dilakukan semua pelamar.

Jika semuanya lancar, Anda akan diminta kembali ke kedutaan beberapa hari kemudian (saya waktu itu melamar pada hari Rabu dan disuruh kembali pada hari Jumat). Pada hari inilah Anda akan mengetahui apakah aplikasi visa Anda diterima atau ditolak.

Sejauh pengamatan saya, jika semua dokumen Anda lengkap dan memenuhi persayaratan, maka kemungkinan besar aplikasi akan disetujui. Mudah, bukan? Sekarang Anda bisa mengurus aplikasi visa Anda sendiri tanpa bantuan agen perjalanan. Biaya pun akan lebih hemat. Selamat melamar visa dan liburan! 🙂

Cheers,

Haura Emilia