Referensi Tarif Penerjemahan (Inggris-Indonesia)

Disclaimer: Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi penulis. Harga atau tarif di lapangan bisa jadi berbeda. Jangan jadikan tulisan ini sebagai satu-satunya sumber referensi. Variabel penentu tarif penerjemahan sangat banyak. Kalau Anda seorang klien, selalu ketahui kebutuhan dan budget Anda. Jika Anda penerjemah pemula, selalu pertimbangan teks, usaha dan waktu yang diperlukan untuk menerjemahkan, serta cari tahu harga pasar terkini.

 

Via (calon klien): “Mbak, terjemahan Inggris-Indonesia sehalaman berapa, ya?”

Aryo (penerjemah pemula): “Tarif penerjemah Inggris-Indonesia umumnya berapa, sih?”

Sebagai penerjemah lepas, saya sering menerima pertanyaan terkait tarif penerjemahan untuk pasangan bahasa Inggris dan Indonesia. Pertanyaan biasanya datang dari calon klien atau rekan penerjemah pemula. Rupanya, pengetahuan masyarakat umum tentang tarif penerjemahan masih sangat kurang. Karena awamnya masyarakat tentang topik ini, masih banyak yang beranggapan bahwa menerjemahkan adalah pekerjaan sepele dan tarifnya pun diasumsikan ‘rendah’ atau ‘murah’. Padahal, profesi penerjemah sama saja dengan profesi-profesi lainnya, seperti pengacara, dokter, akuntan, arsitek, atau software developer, yang memerlukan keterampilan dan pengetahuan.

Nah, kali ini saya berinisiatif untuk menulis soal tarif penerjemahan khusus untuk pasangan bahasa Inggris dan Indonesia. Tarif yang saya maksud dalam tulisan ini mengacu pada tarif penerjemah lepas atau freelance. Saya tidak berbicara tentang tarif penerjemah yang bekerja pada perusahaan penerbitan atau agensi terjemahan. Informasi yang ada di sini bisa berguna baik untuk masyarakat umum, pencari jasa penerjemah, atau penerjemah (pemula) yang sedang mencari informasi seputar tarif penerjemahan.

Berdasarkan jenis teks yang diterjemahkan, ada 2 jenis tarif penerjemahan: terjemahan buku dan nonbuku. Tarif penerjemahan buku berkisar antara Rp8,5 dan Rp20 per karakter atau bermula dari Rp10.000 per halaman jadi (untuk pasangan bahasa Inggris-Indonesia).1 Sementara itu, terjemahan nonbuku tarifnya disarankan mulai dari Rp152.000/halaman jadi. 2 Kalau satu halaman jadi berisi 300 kata, maka kira-kira tarif terjemahan nonbuku yang disarankan adalah Rp506/kata. Dari mana tarif ini berasal? Tarif ini mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan PMK No. 65/PMK.02 Tahun 2015 Tentang Perubahan Standar Biaya Masukan Tahun Anggaran 2016 yang mengatur Satuan Biaya Penerjemahan dan Pengetikan (halaman 61 butir 5).3 Silakan buka website HPI untuk informasi selengkapnya. Mengapa bisa jauh sekali perbedaan tarif penerjemahan buku dan nonbuku? Karena biasanya untuk penerjemahan buku penerbit menggunakan tarif borongan, misalnya sekian juta rupiah untuk penerjemahan satu buku yang berisi sekian ratus halaman. Jadi tidak dihitung per kata atau halaman.

Berdasarkan jenis penerjemahnya, tarif penerjemahan dibagi menjadi 2 juga: tarif penerjemah tersumpah (sworn translator) dan penerjemah nontersumpah. Apa bedanya penerjemah tersumpah dan nontersumpah? Penerjemah tersumpah adalah penerjemah yang memiliki sertifikat dan izin resmi untuk menerjemahkan dokumen hukum/legal seperti ijazah, sertifikat rumah, KK, KTP, dsb. Penerjemah ini biasanya memiliki nomor dan cap sendiri. Untuk menerjemahkan teks nonhukum sebenarnya tidak perlu meminta jasa penerjemah tersumpah. Namun, karena kurangnya pengetahuan masyarakat kita tentang dunia terjemahan, banyak klien yang hanya mau menggunakan jasa penerjemah tersumpah. Padahal, jumlah penerjemah tersumpah jauh lebih sedikit daripada yang nontersumpah. Kembali ke masalah tarif. Karena biasanya tingkat kesulitan dokumen hukum lebih tinggi, maka tarif penerjemah tersumpah juga lebih mahal. Contohnya, jasa seorang penerjemah tersumpah untuk pasangan bahasa Inggris-Indonesia kurang lebih berkisar antara Rp160.000-180.000/halaman jadi.

Penerjemah nontersumpah sendiri terbagi lagi menjadi 2: penerjemah pemula dan penerjemah senior. Umumnya, tarif penerjemah pemula, misalnya mahasiswa yang baru lulus kuliah, di bawah penerjemah ‘senior’. Kata ‘senior’ di sini dapat mengacu pada penerjemah yang sudah berkecimpung di dunia penerjemahan lebih dari 5 tahun atau yang jam terbangnya sudah banyak, misalnya sudah menerjemahkan lebih dari 500.000 kata atau sudah menerjemahkan banyak buku/teks. Beberapa penerjemah pemula yang saya kenal memiliki tarif antara Rp30.000-60.000 per halaman jadi. Sementara, penerjemah yang lebih senior tarifnya cenderung lebih tinggi dari penerjemah pemula. Ada yang mengikuti acuan tarif Peraturan Menteri Keuangan yang sudah saya sebutkan di atas (Rp152.000/halaman jadi), ada pula yang di atas itu (misalnya Rp180.000-Rp200.000/halaman jadi).

Berdasarkan kliennya, ada 2 jenis tarif penerjemahan: tarif penerjemahan untuk klien lokal dan klien internasional. Klien lokal (walau tidak semua) memiliki daya beli yang relatif lebih rendah dari klien yang berasal dari luar negeri. Jadi tarif yang biasanya dikenakan ke klien lokal di bawah klien luar negeri. Sebagai perbandingan, klien lokal mungkin hanya sanggup membayar maksimal Rp90.000/halaman jadi atau Rp300/kata sumber, sementara klien luar bisa membayar Rp180.000/halaman jadi atau sekitar Rp600 atau USD 0.045/kata sumber.

Klien ‘internasional’ pun sering kali memiliki daya beli yang berbeda pula. Klien agensi terjemahan yang berada di Asia umumnya membayar penerjemah dengan tarif yang lebih rendah dari klien agensi terjemahan yang berbasis di Eropa atau Amerika Serikat. Misalnya, klien Asia mungkin menawarkan tarif 0.02-0.05 USD/kata sumber sementara klien agensi yang berbasis di Amerika atau Eropa mungkin bisa menawarkan tarif antara 0.06-0.1 USD/kata sumber. Perlu diingat bahwa penggunaan USD dalam tulisan ini mengacu pada mata uang standar yang biasa digunakan klien internasional. Pada realitanya, penerjemah bisa saja menerima tarif dalam SGD, Euro, GBP, dst.

 

Referensi Tarif Penerjemahan Nonbuku Penerjemah Freelance

No. Pasangan Bahasa Satuan Penerjemah      Klien Tarif
1 Inggris-Indonesia Halaman jadi Pemula Lokal Rp30.000-Rp90.000
2 Inggris-Indonesia Halaman jadi Senior Lokal Rp100.000-180.000 (atau lebih)
3 Inggris-Indonesia Halaman jadi Tersumpah Lokal Rp160.000-180.000 (atau lebih)
4 Inggris-Indonesia Kata sumber Pemula & Senior (yang lulus tes klien agensi terjemahan) Asia USD 0.02-0.05
5 Inggris-Indonesia Kata sumber Pemula & Senior (yang lulus tes klien agensi terjemahan) Eropa & AS USD 0.06 – 0.1
6 Indonesia-Inggris Halaman jadi Pemula Lokal Rp30.000-Rp90.000
7 Indonesia-Inggris Halaman jadi Senior Lokal Rp100.000-180.000 (atau lebih)

 

Pada tabel di atas, saya menyamaratakan tarif terjemahan untuk pasangan bahasa Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris. Ini semata karena memang banyak penerjemah yang saya kenal tidak membedakan tarifnya. Namun, ada pula penerjemah yang membedakan tarifnya. Terjemahan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris umumnya lebih sulit karena Inggris bukanlah bahasa ibu kebanyakan orang Indonesia, sehingga tarifnya pun lebih tinggi. Saya tidak tahu persisnya seberapa besar perbedaannya. Namun, saya pribadi menetapkan tarif 20% lebih mahal untuk pasangan bahasa Indonesia-Inggris. Karena tidak ada acuan yang pasti, tarif harus ditanyakan langsung ke penerjemah yang bersangkutan. Perlu diingat pula bahwa tidak semua penerjemah menawarkan jasa penerjemahan untuk pasangan bahasa Indonesia-Inggris. Alasannya bervariasi, ada yang semata karena tidak mau/suka, ada pula yang merasa penguasaan gramatika bahasa Inggrisnya tidak cukup baik untuk menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Untuk tarif penyuntingan (editing dan proofreading), biasanya tarifnya setengah dari tarif terjemahan. Klien internasional juga ada yang menetapkan tarif penyuntingan per jam, misalnya 20-30 USD untuk menyunting 1000 kata (3-4 halaman) dalam 1 jam.

Seluruh tarif di atas bukanlah harga mati. Ada banyak variabel yang menentukan tarif penerjemahan. Penerjemah bisa saja memberikan diskon jika volume proyek terjemahannya cukup besar. Sebaliknya, penerjemah juga bisa membebankan biaya ekstra jika klien membutuhkan hasil yang ‘kilat’ (kurang dari 24 jam) atau jika materinya terhitung sulit dan membutuhkan banyak riset.

Mengenai kualitas terjemahan, tarif terjemahan memang tidak bisa 100% menjamin mutu dan kualitas. Ada penerjemah berkualitas yang tarifnya tidak terlalu tinggi, ada pula penerjemah yang kualitas terjemahannya ‘kurang bagus’ namun tarifnya termasuk tinggi. Sebagai calon klien, Anda berhak meminta sampel terjemahan untuk melihat apakah kualitas terjemahannya memenuhi standar Anda. Yang jelas, jangan berharap terlalu banyak dari hasil terjemahan yang tarifnya cenderung rendah. Anda juga bisa curiga jika seorang penerjemah menawarkan tarif yang terlalu murah. Bagaimanapun, menerjemahkan membutuhkan tenaga, keterampilan, dan usaha yang tidak sedikit. Penerjemah senior umumnya paham betul hal ini sehingga mereka bisa mengenakan tarif yang ‘lumayan’ atau jauh di atas tarif penerjemah pemula.

Jika Anda seorang penerjemah pemula, atau orang yang baru aktif kembali di dunia penerjemahan, sebaiknya perhitungkan effort, waktu, serta teks yang akan diterjemahkan. Lebih baik lagi jika Anda mencari referensi tarif terjemahan di website yang khusus menyasar penerjemah freelance seperti ProZ dan Translatorscafe.

 

Cheers,

Haura Emilia

WhatsApp Image 2017-07-24 at 2.59.10 PM

 

Referensi:

1,2,3Acuan Tarif Penerjemahan. Begum, Dina. http://www.hpi.or.id/acuan-tarif-penerjemahan

 

Catatan:

Per halaman jadi umumnya ada sekitar 250-300 kata untuk ukuran kertas A4.

 

 

 

 

Iklan

Neural Machine Translation: Masa Depan Industri Terjemahan?

Untitled

Picture is taken from here. I don’t own the image above. Contact me for removal.

 

English:

ABC Hotel features stunning views of the sunset over the water.

Indonesian (1)

ABC Hotel menampilkan pemandangan matahari terbenam yang menakjubkan di atas air.

Indonesian (2)

ABC Hotel menyajikan pemandangan matahari terbenam di atas air yang menakjubkan.

 

Kalau harus menebak terjemahan mana yang merupakan hasil terjemahan mesin (machine translation atau MT) dan mana yang hasil terjemahan manusia, apa jawaban Anda? Non-penerjemah mungkin akan sedikit bingung dan menganggap keduanya hasil terjemahan manusia. Rata-rata penerjemah profesional mungkin akan memilih hasil terjemahan ke-2 sebagai hasil terjemahan manusia.

Faktanya, terjemahan pertama (Indonesian (1)) adalah hasil terjemahan Google Translate dan terjemahan kedua (Indonesian (2)) adalah hasil terjemahan manusia. Kalau boleh jujur, hasil terjemahan Google pada contoh di atas tidaklah buruk. Bahkan orang awam mungkin tidak akan menyangka bahwa itu adalah hasil terjemahan mesin. Okay, I may cherry-pick the example, but that’s not the point I’m trying to make here. Poin saya adalah, hasil terjemahan mesin sudah begitu maju dan beberapa kalimat bisa diterjemahkan dengan cukup baik dan bisa dimengerti tanpa bantuan seorang post-editor*.

Google Translate bukanlah pemain tunggal atau pertama dalam industri MT. Ada banyak pemain MT lain yang bisa menghasilkan terjemahan mesin seperti Google Translate, misalnya Microsoft Translator, Systran, SDL, dst. MT sendiri sebenarnya bukanlah barang baru dalam industri terjemahan. MT adalah cabang dari computational linguistics yang mempelajari penggunaan software untuk menerjemahkan teks dari satu bahasa ke bahasa lainnya. Ada beberapa pendekatan yang digunakan dalam MT: Rule-based, Statistical, Example-based, Hybrid MT, dan Neural MT1 (Detailnya baca sendiri ya di Wikipedia. Hihi..). Google dan Microsoft sekarang menggunakan metode yang terakhir, Neural MT.2

Neural Machine Translation (NMT) adalah tren terbaru dalam industri penerjemahan. NMT adalah sebuah metode berbasis Artificial Neural Network (ANN), yang diperkenalkan pada akhir tahun 1950an.3 Untuk menjelaskan definisi NMT dan ANN, saya akan menerjemahkan (bebas) sebagian isi artikel “Why Neural Machine Translation (NMT) Might be the Next Big Step for the Industry”, yang saya kutip langsung dari sini:

“ANN adalah paradigma dalam pemrosesan informasi, yang terinspirasi dari cara sistem saraf biologis (seperti otak) memproses informasi. ANN terdiri dari sejumlah neuron yang saling terkoneksi dan bersama-sama bekerja untuk menyelesaikan suatu masalah. Seperti layaknya makhluk hidup yang memiliki kesadaran dan merasakan sesuatu (sentient being), ANN akan belajar melalui pengalaman dan contoh.

Neural MT atau NMT pada dasarnya berupaya menggunakan Recurrent Neural Network (RNN – atau sistem saraf buatan/artifisial) untuk meningkatkan kualitas terjemahan. Jauh melampaui terjemahan mesin statistik tradisional, NMT membangun jaringan neuron tunggal yang secara bersama-sama dapat digunakan untuk memaksimalkan kualitas terjemahan.”

Terdengar sulit dipahami? Sederhananya, NMT memanfaatkan teknologi jaringan saraf buatan (artifisial) untuk mempelajari struktur bahasa dan pada akhirnya menerjemahkan bahasa sumber ke bahasa target seperti layaknya otak manusia.

Baru-baru ini, tim Natural Language Processing (NLP) dari Harvard mengembangkan OpenNMT yang diprakarsai oleh Yoon Kim, seorang developer dan kandidat PhD Harvard. OpenNMT adalah sistem terjemahan mesin neural sumber terbuka yang menggunakan toolkit matematika Torch/PyTorch.4 “Sumber terbuka” (open-source) berarti siapa saja (baca: yang memiliki skill) dapat ikut bergabung untuk mengembangkan NMT. Tujuan OpenNMT adalah mendorong komunitas industri terjemahan untuk berkontribusi menyempurnakan NMT.5

Meskipun NMT adalah tren baru dan aplikasinya dalam bisnis sehari-hari masih sangat terbatas, kita bisa membaca tren yang sangat mungkin terjadi pada industri terjemahan di masa depan. Di masa depan, hasil terjemahan mesin kemungkinan besar akan sangat meningkat atau bahkan dapat menyamai kualitas terjemahan manusia. Tidak perlu tunggu 40 tahun ke depan, sekarang pun kita sudah bisa berkomunikasi (walaupun secara terbatas) dengan orang asing menggunakan Google Translate. NMT bisa jadi merupakan masa depan industri terjemahan.

Perlu waktu yang cukup lama bagi seseorang untuk belajar dan terus berlatih untuk menjadi seorang penerjemah profesional dengan skill yang mumpuni. Katakanlah, seseorang memerlukan waktu 10 tahun untuk belajar dan berlatih menjadi penerjemah yang baik. Itu baru untuk satu orang penerjemah. Bayangkan berapa banyak waktu, biaya, dan energi yang dibutuhkan? Jika teknologi seperti NMT berhasil mengatasi hambatannya (seperti biaya untuk riset dan masalah teknis), kita bisa menukar 10 tahun tadi dengan waktu download beberapa detik saja untuk mendapatkan penerjemah yang andal di dalam saku masing-masing. Jadi, bukan tidak mungkin penerjemah akan masuk ke dalam daftar profesi yang akan punah karena digantikan oleh AI (Artificial Intelligence).

Mungkin perpindahan sepenuhnya dari penerjemah manusia ke mesin tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Dalam jangka pendek (misalnya 5-10 tahun lagi), alih-alih berpindah sepenuhnya ke MT, mungkin akan lebih banyak penerjemah yang beralih ke post-editing. Mesin akan menerjemahkan teks dan manusia berperan sebagai editornya. Jika memang hasil MT semakin baik, proses pengeditan bisa jadi lebih cepat dan volume teks yang akan diterjemahkan pun akan semakin banyak dalam waktu yang lebih singkat.

Sebagai penerjemah, kita memiliki beberapa pilihan. Pertama, kita bisa menolak kemungkinan ini mentah-mentah dan bersikeras bahwa penerjemah manusia akan terus bertahan hingga 100 tahun atau lebih ke depan. Kalau Anda termasuk yang berpikir demikian, think again. Sebagai perbandingan, mari kita lihat perkembangan AI di abad ke-21, misalnya Watson.

Watson adalah sistem kecerdasan buatan  keluaran IBM yang didesain untuk mendiagnosis penyakit pada manusia. “Watson memiliki potensi keunggulan yang jauh lebih besar dari dokter manusia. Watson dapat menyimpan data seluruh penyakit yang pernah diketahui dalam sejarah. Watson menyimpan riwayat penyakit dan data genom pasien dan keluarganya. Watson juga tidak pernah sakit, lapar, lelah, dan bisa fokus mendiagnosis penyakit manusia. Dengan seluruh keunggulannya, Watson dapat mengancam profesi dokter umum di masa depan.”6 AI juga sudah demikian maju di abad ke-21 ini hingga dapat mengalahkan atlet catur dan pemain Go* profesional tingkat dunia. Jadi, kalau teknologi AI bisa menggantikan peran dokter di masa depan dan saat ini sudah bisa mengalahkan atlet catur serta Go, why on earth can’t it replace the whole human translators, too?

Pilihan kedua, kita bisa menerima dengan lapang dada kemungkinan bahwa penerjemah manusia akan digantikan dengan mesin (misalnya dengan Neural MT) di masa yang akan datang. Dalam 30-40 tahun ke depan (atau bahkan lebih cepat), mungkin profesi penerjemah dan juru bahasa manusia sudah ditinggalkan. Jika hal ini benar-benar terjadi, masih relevankah mengarahkan anak-anak kita sekarang (yang masih kecil) untuk menjadi penerjemah di masa depan? Apakah profesi penerjemah masih ‘laku’ di jaman mereka nanti? Bagi penerjemah muda, apakah ini waktunya bagi kita untuk mulai memikirkan profesi baru dan belajar skill lainnya?

Saya tentu saja bisa salah, karena tidak ada yang pasti pada teknologi (atau apa pun di dunia ini). Tapi saya rasa tidak ada salahnya bagi generasi penerjemah muda dan calon penerjemah untuk berpikir jauh ke depan. Tidak ada gunanya hidup dalam penolakan, atau sebaliknya, ketakutan akan sesuatu yang serba tidak pasti. Lebih baik menyiapkan escape plan, terus belajar, dan tidak berhenti mengembangkan diri.

 

Cheers,

Haura Emilia

 

 

Catatan:

Post-editor: Orang yang mengedit hasil terjemahan mesin

Go: permainan papan strategi yang sangat rumit dari China

Referensi:

1Machine Translation: https://en.wikipedia.org/wiki/Machine_translation#Rule-based

2Neural Machine Translation: https://en.wikipedia.org/wiki/Neural_machine_translation

3Why Neural Machine Translation (NMT) Might be the Next Big Step for the Industry: https://kantanmtblog.com/2016/08/06/why-neural-machine-translation-nmt-might-be-the-next-big-step-for-the-industry/

4Open NMT: http://opennmt.net/

5Harvard Launches Open-source Neural Machine Translation System: https://slator.com/academia/harvard-launches-open-source-neural-machine-translation-system/

6Homo Deus: A Brief History of Tomorrow (Yuval Noah Harari), p. 366

 

5 Kiat Top untuk Memulai Freelancing Job

mamat-kerja

“Enak ya bisa kerja dari rumah dan di mana aja.”

“Gue iri sama lo, gak perlu capek terjebak kemacetan untuk pergi ke kantor setiap hari.”

“Enak ya, bisa libur kapan aja.”

“Enak ya bisa kerja sambil pakai celana pendek.”

“Gue juga pengen jadi freelancer, tapi gak berani mulai.”

Komentar-komentar di atas adalah kalimat yang sering saya dengar terkait pekerjaan saya sebagai seorang freelancer atau pekerja lepas. Banyak dari teman, keluarga, dan mantan kolega saya yang terang-terangan mengatakan bahwa mereka juga ingin menjadi freelancer tetapi mereka takut atau bingung memulainya.

Ada banyak alasan yang membuat seseorang takut untuk meninggalkan pekerjaan kantoran mereka untuk memulai freelancing job. Alasan klasik pertama adalah job security. Banyak orang beranggapan bahwa kerja kantoran jauh lebih aman daripada menjadi pekerja lepas. Tidak sedikit pula yang menganggap bahwa kerja kantoran lebih punya ‘masa depan’ daripada bekerja lepas. Tapi benarkah demikian?

Jika Anda bekerja sebagai pegawai swasta, Anda tidak akan pernah tahu apakah Anda akan pernah di-PHK. Anda juga tahu bahwa Anda sebenarnya bisa dipecat kapan saja oleh perusahaan, misalnya karena performa kerja Anda tidak memenuhi ekspektasi perusahaan. Pekerjaan tetap juga berarti gaji yang tetap, sampai ada kenaikan gaji atau jabatan. Sayangnya, kebutuhan Anda tidak selalu tetap. Kebutuhan hidup cenderung meningkat seiring dengan bertambahnya anggota keluarga dan inflasi. Kenaikan gaji tidak selalu berbanding lurus dengan naiknya kebutuhan hidup. Hal-hal seperti ini seharusnya cukup untuk mematahkan mitos bahwa pekerjaan tetap adalah jaminan kelayakan hidup, apalagi jaminan hari tua.

Alasan klasik kedua orang enggan menjadi pekerja lepas adalah ketakutan bahwa pekerjaan jenis ini tidak bisa memberikan dukungan finansial yang layak. Masa iya freelancing bisa menghasilkan income yang lebih besar dari pekerja kantoran? Bukankah freelancing sama dengan bekerja serabutan? Apa yang bisa kita harapkan dari pekerjaan serabutan? Apakah mitos ini benar? Terus terang, penghasilan saya sebagai freelancer lebih besar daripada penghasilan saya sebagai seorang pekerja kantoran yang pernah bekerja selama dua tahun di Singapura. Walaupun penghasilan seorang freelancer bisa sangat bervariasi, mitos yang mengatakan bahwa penghasilan freelancer tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup tidaklah benar. Semuanya kembali ke strategi dan seberapa keras Anda mau berusaha untuk mendapatkan pemasukan yang layak dari freelancing.

Keuntungan lain bekerja lepas pun sangat banyak. Selain kebebasan waktu yang tidak bisa dibeli dengan uang, menjadi pekerja lepas sangat cocok bagi Anda yang menyukai tantangan, cepat bosan dengan rutinitas pekerjaan yang monoton, dan merupakan perkerjaan impian jika Anda suka mempelajari sesuatu yang baru setiap harinya.

Saya tidak akan mengatakan bahwa freelancing adalah pekerjaan yang mudah. Bekerja sebagai freelancer jelas memiliki tantangan tersendiri, namun ini bukanlah hal yang tidak mungkin dilakukan. Saat yang terbaik untuk memulai pekerjaan freelance saya akui memang ketika Anda masih single. Saat masih single, kemungkinan Anda memiliki lebih sedikit tanggungan daripada ketika Anda telah berkeluarga. Meski demikian, memulai freelancing sebenarnya bisa dilakukan kapan saja. Yang perlu Anda lakukan jika benar-benar ingin menjadi seorang freelancer adalah perencanaan dan riset yang matang.

Berikut ini 5 kiat untuk memulai freelancing yang saya tulis berdasarkan pengalaman saya menjadi part-time freelancer selama 2 tahun dan full-time freelancer selama 4 tahun. Sebagai catatan, selain telah bekerja sebagai penerjemah freelance selama 6 tahun, saya juga memiliki pengalaman bekerja kantoran di industri yang sama selama 4 tahun.

Tips pertama adalah: tentukan jenis pekerjaan lepas yang ingin Anda lakukan dengan mempertimbangkan skill yang Anda punya. Ada banyak jenis pekerjaan freelance yang ada di pasaran. Penulis konten berita atau artikel, editor, penerjemah, fotografer, website developercopywriter, blogger, ghost writer, desainer grafis, web analyst, video editor, voiceover artist adalah beberapa contoh pekerjaan lepas yang bisa Anda lakukan. Pertimbangkan skill Anda sebelum memutuskan untuk bekerja sebagai freelancer. Apakah skill Anda memiliki value yang cukup bagi Anda untuk bertahan di tengah ‘kerasnya’ persaingan di dunia freelancing? Apakah Anda cukup pede dengan skill tersebut? Untuk menjadi seorang freelancer Anda tidak perlu menjadi ‘sempurna’ di pekerjaan Anda. Yang Anda perlukan adalah kemampuan dasar untuk menghasilkan output yang layak dijual. Seiring dengan banyaknya pekerjaan yang Anda lakukan, kemampuan Anda akan semakin terasah dan berkembang.

Kedua, kenali dan pahami natur pekerjaan freelance yang Anda pilih. Untuk melakukannya, mulailah dengan meriset market atau target pasar Anda. Apakah banyak yang akan membutuhkan jasa Anda? Apakah benar-benar ada orang yang memerlukan skill yang Anda punya? Di mana mereka berada? Bagaimana menemukan mereka? Cari tahu juga frekuensi job yang mungkin Anda dapatkan selama 6 bulan pertama menjadi freelancer. Anda juga perlu mengetahui jam kerja dan pola deadline pekerjaan yang akan Anda terima. Jika klien potensial Anda misalnya kebanyakan berasal dari luar negeri, pertimbangkan jam kerja Anda. Apakah Anda tidak masalah kerja sampai malam karena klien Anda berada di belahan bumi dan GMT yang berbeda? Selain itu, cari tahu juga soal rate atau tarif umum dari skill yang Anda tawarkan. Terakhir, cari tahu siapa saja kira-kira yang akan menjadi kompetitor Anda. Apakah mereka juga profesional seperti Anda? Apakah mereka kebanyakan fresh graduate? Apakah ada terlalu banyak kompetitor, atau justru masih sedikit yang menawarkan jasa yang serupa? Semakin banyak informasi yang Anda miliki, semakin baik persiapan Anda untuk memulai.

Ketiga, buat business plan dan SWOT analysis sebelum memulai freelancing. Seperti layaknya memulai sebuah bisnis, menjadi freelancer memerlukan persiapan yang memadai. Hal paling dasar yang perlu Anda rencanakan adalah bagaimana Anda akan mencari klien. Saat ini ada banyak platform yang dapat memfasilitasi pertemuan klien dan freelancer. Berikut daftar website yang bisa Anda coba:

  1. Freelancer.com – Di situs ini Anda bisa menemukan berbagai macam klien yang membutuhkan jasa Anda. Situs ini merupakan salah satu platform yang populer karena memilik sekitar 23 juta pengguna aktif.
  2. 99designs.com – Jika Anda adalah seorang desainer grafis, maka ini adalah situs yang tepat bagi Anda untuk mencari klien. Di sini, Anda bisa mendaftar jadi salah satu desainernya.
  3. Fiverr.com – Situs ini memiliki lebih dari 100 kategori pekerjaan yang bisa Anda browsing untuk sekadar mencari ide pekerjaan atau skill. Anda bisa mendaftar secara gratis. Fiverr akan men-charge 20% dari total nilai proyek yang Anda terima untuk setiap transaksi. Anda bisa menyimpan 80%-nya. Anda juga tidak perlu mengejar-ngejar klien untuk membayar Anda. Rentang waktu pembayaran adalah 60 sampai 90 hari setelah invoice Anda kirimkan. Setelah klien menyelesaikan pembayaran, uang akan ditransfer ke rekening Anda.
  4. Blogmutt.com – Jika Anda adalah seorang penulis blog, website ini adalah website yang cocok untuk Anda. Di sini Anda bisa menawarkan jasa menulis blog untuk perusahaan atau bisnis yang memiliki blog namun tidak punya waktu atau keahlian untuk menulis kontennya.
  5. ProZ.com – Ini adalah platform-nya para penerjemah, juru bahasa (interpreter), dan voiceover artist dari seluruh dunia. Di sini, klien (biasanya agensi) akan membuka open bidding untuk proyek terjemahan yang mereka punya. Anda bisa ikut mengirimkan lamaran atau quote. Di ProZ, Anda bisa memilih untuk jadi anggota gratis atau berbayar. Anggota berbayar akan memiliki akses ke banyak fitur ProZ yang tidak dapat diakses anggota gratis. Anggota berbayar juga biasanya akan lebih dulu menerima notifikasi pekerjaan potensial, sehingga bisa mengirimkan quote terlebih dahulu. Beberapa klien juga ada yang hanya mengizinkan member berbayar untuk mengikuti bidding. Untuk menjadi anggota berbayar Anda harus mengeluarkan dana antara 100-200 USD per tahunnya.

Setelah mengetahui di mana Anda kira-kira akan menemukan klien, lakukan riset untuk mengetahui kira-kira berapa lama Anda akan mulai mendapatkan klien. Saya pribadi membutuhkan waktu sekitar 6 bulan sebelum akhirnya mendapatkan klien yang tepat dan setahun untuk mendapatkan volume pekerjaan yang cukup stabil. Jadi, siapkan dana untuk bertahan hidup paling tidak untuk 6-12 bulan ke depan, untuk berjaga-jaga kalau Anda tidak dapat klien sama sekali dalam kurun waktu tersebut.

Keempat, rencanakan keuangan Anda dengan baik sebelum memulai freelancing. Kalkukasi pemasukan minimum yang akan Anda perlukan untuk survive sebagai seorang freelancer. Masa-masa awal freelancing memang akan terasa berat karena kemungkinan pemasukan Anda 0 rupiah sangatlah besar. Oleh karena itu, rencanakan dan hitung kebutuhan finansial dengan baik. Hitung keperluan hidup dasar seperti sandang, pangan, papan, dan biaya sekolah anak (jika punya). Hitung juga kebutuhan hidup sekunder seperti biaya hiburan dan asuransi jiwa plus kesehatan. Setelah mulai mendapatkan klien, lakukan proyeksi sederhana keuangan Anda ke depannya. Perkirakan apakah Anda akan bisa survive ke depannya jika berkaca dari pendapatan yang sudah ada sekarang.

Tips kelima dan terakhir adalah menyiapkan “escape plan. Pada akhirnya, selalu ada hal-hal yang tidak dapat kita prediksi dan antisipasi di depan. Jika setelah mencoba freelancing selama beberapa bulan atau setahun Anda merasa stuck dan kesulitan mencari klien, Anda akan memerlukan plan B. Plan B bisa berarti mengubah strategi freelancing Anda secara total, mengevaluasi mana yang salah dan dapat diperbaiki, atau mengambil langkah drastis seperti kembali menjadi pekerja kantoran. Apa pun Plan B Anda, pastikan Anda memilikinya.

Perlu diingat bahwa setiap pekerjaan memiliki risiko dan benefit-nya sendiri. Jika Anda yakin bahwa freelancing adalah sesuatu yang cocok dengan kepribadian dan gaya kerja Anda, kenapa tidak mencobanya? 🙂

 

 

Cheers,

Haura Emilia