Membangun Kebiasaan dengan ‘Atomic Habits’: Teori, Praktik, dan Fasilitas Pendukung

Disclaimer: Tulisan ini bukan iklan dan saya tidak dibayar sepeser pun untuk menulisnya. Merek dan judul yang saya sebut di sini saya beli dan gunakan sendiri.

1

Ada satu hal yang selalu saya kenang tentang almarhum ayah saya; kebiasaan membacanya. Almarhum ayah saya dulu tidak pernah menyuruh-nyuruh saya belajar dan membaca. Tidak. Yang beliau lakukan adalah memberikan kami contoh dan teladan yang nyata. Setiap hari ayah menghabiskan paling tidak 2 hingga 3 jam untuk membaca buku. Saya dan adik saya otomatis tertular kebiasaan baik ini. Dari kecil hingga sekarang kami berdua sudah membaca ratusan buku. Kebiasaan ini tidak datang dengan tiba-tiba dalam waktu semalam, melainkan melalui sebuah proses panjang dan pengulangan selama bertahun-tahun. Membangun kebiasaan baik, atau sebaliknya meninggalkan kebiasaan buruk, bukanlah hal yang mudah dilakukan. Saya juga belajar bahwa untuk menjadi pribadi yang lebih dan terus berkembang, saya perlu membangun lebih banyak lagi kebiasaan atau habit baik.

Untuk mempermudah proses menulis tesis saya dulu, saya berusaha membangun kebiasaan menulis setiap hari. Saya membiasakan diri untuk menulis apa saja terkait bidang studi saya setiap hari, 5 hari dalam seminggu. Di semester terakhir kuliah, saya mewajibkan diri saya untuk menulis konten tesis 2 halaman setiap harinya. Kalau saya absen menulis sehari, maka keesokan harinya saya harus menulis 4 halaman. Kalau absen sehari lagi, besoknya saya harus menulis 6 halaman. Begitu seterusnya. Sebaliknya, kalau dalam sebulan saya berhasil mencapai target menulis sebanyak 90% dari target awal maka saya akan membelikan diri saya hadiah kecil, misalnya tas atau sepatu. Ya, saya menerapkan sistem punishment and reward untuk membangun habit demi mendukung proses menulis tesis.

Baru-baru ini saya membaca sebuah buku yang sangat menarik mengenai cara efektif membangun kebiasaan baik dan meninggalkan kebiasaan buruk. Buku ini adalah jawaban dari keresahan hati saya yang beberapa tahun terakhir mulai jarang membaca buku. Judul bukunya adalah Atomic Habits oleh James Clear. Atomic Habits pada dasarnya adalah kebiasaan atau rutinitas kecil yang mudah dan sederhana untuk dilaksanakan namun sebenarnya adalah sumber daya yang luar biasa, sebuah komponen dari sistem pengembangan diri. Hal-hal atau perubahan kecil yang pada awalnya terlihat sepele akan berkembang menjadi hasil yang luar biasa jika kita cukup sabar untuk terus melakukannya.

Ada 4 cara yang bisa kita lakukan untuk membangun kebiasaan baik. Pertama, jadikan kebiasaan tersebut jelas atau nyata (make it obvious). Fokus dan tuliskan habit apa yang ingin dibangun dan kapan ingin melaksanakannya. Pastikan untuk memulai kebiasaan baru sebelum atau sesudah kebiasaan lain yang sudah menjadi rutin bagi kita. Misalnya “ingin membangun kebiasaan membaca setiap hari sebelum tidur” atau “ingin membangun kebiasaan membersihkan kamar segera setelah sarapan”. Hal ini disebut dengan ‘habits stacking’. Kenapa kita perlu menetapkan waktunya? Karena dengan menetapkan waktu yang jelas kita tahu persis kapan memulainya dan tidak punya alasan untuk menunda atau tidak melakukannya. Pastikan di waktu yang kita tentukan tidak ada kegiatan lain yang kira-kira dapat mengganggu atau menggagalkan rencana kita untuk membangun rutinitas baru.

Kedua, jadikan kebiasaan itu menarik bagi kita (make it attractive). Kita cenderung mengadopsi sebuah kebiasaan jika lingkungan sekitar kita menganggap kebiasaan tersebut baik dan menarik pula. Maka, kalau kita ingin membangun kebiasaan membaca maka bertemanlah dengan orang-orang yang suka membaca juga. Jika ingin rajin menabung, dekati orang-orang yang pandai mengelola finansialnya. Sebuah kebiasaan akan terlihat menarik jika dilakukan oleh orang-orang terdekat atau lingkungan sekitar.

Ketiga, jadikan kebiasaan itu mudah (make it easy). Mulailah dengan kebiasaan kecil yang sederhana dan mudah dilakukan. Jangan memulainya dengan sesuatu yang terlalu ambisius dan sulit dijalankan. Jika ingin membangun kebiasaan menulis, mulailah dengan menulis 2 kalimat setiap harinya. Jika ingin rajin membaca, mulailah dengan membaca 1 halaman setiap harinya. Menulis 1 halaman mungkin sulit, tapi menulis 2 kalimat itu mudah. Membaca 2 jam sehari itu sulit, namun membaca 1 halaman itu mudah. Berolahraga 30 menit setiap hari itu sulit, mulailah dengan memakai sepatu olahraga setiap pagi. Jika sudah terbiasa melakukannya, lanjutkan dengan berjalan kaki 10 menit per hari. Terus kembangkan durasi/volumenya jika sudah dirasa nyaman dengan yang mudah.

Keempat, jadikan kebiasaan itu memuaskan (make it satisfying). Sesuatu terasa memuaskan jika kita bisa segera merasakan atau melihat hasilnya. Karena saya ingin membangun kembali kebiasaan membaca saya memposting judul dan review buku yang sudah selesai saya baca di Instastory Instagram lalu daftar buku ini saya letakkan di highlight profil Instagram saya. Ada kepuasan sendiri memposting hasil bacaan dan dalam konteks ini pamer tidak selalu berarti negatif karena efeknya memberikan kepuasan pribadi dan mendorong saya untuk terus membaca.

Kalau ingin membangun kebiasaan menabung, buka rekening bank yang memiliki aplikasi di smartphone sehingga kita bisa melihat saldo tabungan kita kapan saja. Atau berikan diri kita hadiah jika berhasil mempertahankan suatu rutinitas baik selama sebulan penuh, seperti contoh saya di atas. Alternatifnya, kita bisa mendownload aplikasi pelacak kebiasaan (habit tracker) yang memberikan kepuasan tersendiri saat melihat perkembangan kebiasaan kita.

Saya memakai aplikasi Habitify. Dengan aplikasi ini kita bisa menentukan kebiasaan yang mau kita bangun dan kapan melakukannya. Kita juga bisa menyetel alarm sebagai pengingat. Aplikasi ini akan memberikan laporan persentase rutinitas yang kita pilih. Begini contohnya

Laporan dan angka-angka ini bisa menjadi penyemangat bagi kita untuk meneruskan kebiasaan. Jika kita ingin rajin berolahraga, kita juga bisa mendownload aplikasi pendukung yang bisa memantau perkembangan pencapaian kita, yang nantinya bisa kita posting di media sosial. Sekali lagi, poinnya adalah menjadikan kebiasaan itu memuaskan untuk dilakukan.

Nah, sekarang bagaimana dengan meninggalkan kebiasaan buruk? Lakukan kebalikan semua 4 cara di atas: jadikan agar kebiasaan itu tidak jelas (make it unobvious), jadikan kebiasaan itu tidak menarik (make it unattractive), jadikan kebiasan itu sulit (make it hard), jadikan kebiasaan itu tidak memuaskan (make it unsatisfying). Menghentikan kebiasaan main sosmed terlalu lama? Letakkan smartphone di ruangan yang berbeda. Persulit aksesnya. Menghentikan kebiasaan makan junkfood? Jangan dibeli dan isi kulkas hanya dengan makanan sehat. Ingin berhenti merokok? Jangan berteman atau jangan dekat-dekat dengan perokok.

Ya, sayangnya hidup tidak semudah teori. Pada kenyataannya, ada-ada saja hal yang bisa membuat kita tidak disiplin atau berhenti melakukan sebuah kebiasaan baik. Salah satu penghalangnya adalah rasa bosan. Saya punya pengalaman pribadi tentang ini.

Sudah 11 tahun saya bekerja sebagai seorang penerjemah, dan 6 tahun sebagai penerjemah lepas. Saya bekerja di rumah sendiri, tanpa kolega yang bisa saya ajak bergosip atau rekan kerja yang lucu dan bisa diajak curhat. Teman saya adalah laptop dan kesendirian. Kadang saya merasa bosan yang teramat sangat bisa membunuh saya pelan-pelan. Tapi toh, walaupun bosan 1/2 mati saya masih bisa mengendalikannya dan terus bekerja. Seiring bertambahnya waktu, klien saya semakin banyak, portofolio saya semakin baik, skill saya semakin terasah. Saya pun menyadari bahwa salah satu kunci sukses mempertahankan kebiasaan baik, yang nantinya akan membawa hasil yang baik pula, adalah kemampuan untuk mengalahkan rasa bosan dan ‘sakit’.

Manusia tidak terprogram untuk menderita. Sebaliknya, insting purba kita selalu menginginkan sesuatu yang mudah, cepat, nyaman, dan enak. Inilah kenapa kita menyukai fast food dan tergila-gila dengan Facebook. Sayangnya, sesuatu yang mudah, cepat, nyaman, dan enak tidak menempa kita menjadi pribadi yang tangguh dan tahan banting.

Nah, biar tahan banting, sok atuh lah, sekarang mari kita coba dulu membangun kebiasaan baik secara perlahan. Jangan fokus di takut gagalnya duluan, ya.

Mengutip teman baik saya si Bulan, “senyum dulu, ah”. 😁

Cheers,

Haura Emilia

Note: I don’t own the first image above. Contact me for removal.

Iklan

Cerita Perempuan: Obsesi Reproduksi

”It is not female biology that has betrayed the female…it is the stories and myths we have come to believe about ourselves.”

–Glenys Livingstone

“Kapan (punya anak)?”

“Kapan nyusul (punya anak)?”

Gak mau nambah satu (anak) lagi?”

Kok belum (hamil) juga?”

Udah ‘isi’ belum?”

“Makan kurma muda biar cepet (hamil).”

Sebagai seorang perempuan yang sudah menikah dan belum punya anak, saya mendengar pertanyaan-pertanyaan di atas paling tidak 50 kali dalam setahun. Bukan hanya dari keluarga terdekat, tapi juga dari orang-orang yang secara teori adalah ‘orang asing’ (baca: tidak punya hubungan kerabat) seperti tetangga, kenalan baru, temannya teman, sampai tukang sayur di pasar. Kalau mood saya lagi bagus, saya hanya akan tersenyum dan minta didoakan (jawaban standar yang rupanya akan membuat si penanya tampak senang). Kalau mood sedang tidak baik saya akan pasang muka datar dan diam. Parahnya, kadang orang-orang ini tidak puas hanya dengan bertanya. Mereka merasa harus memegang perut saya juga. Bayangkan sekarang ekspresi wajah saya waktu seorang ibu-ibu tak dikenal memegang perut saya dan bertanya udah isi atau belum? Eww… Awkward. Saya yakin muka saya merah padam, antara pengen kabur dan marah tapi gak enak. Tau kan kenapa? Saya harus jaga image. Hehe. Sebagai perempuan, saya diharapkan bermoral tinggi dan sopan.

Sebenarnya, ‘serangan privasi’ seperti ini bukan dialami oleh saya saja. Adik perempuan saya, seorang ibu beranak 1, mungkin juga sudah kenyang ditanya kapan punya anak kedua. Sahabat saya yang baik bernama Tika mungkin sudah gerah ditanya kenapa memutuskan punya anak 4. Rekan kerja saya yang sudah 7 tahun menikah mungkin juga sudah bosan ditanya kapan punya anak. Sebenarnya kita semua mungkin pernah menanyakan hal yang sama kepada perempuan lain. Namun, outputnya bisa jadi sangat berbeda jika yang menanyakan adalah orang terdekat seperti keluarga inti atau sahabat. Ketika orang asing atau tidak dekat yang bertanya, para perempuan seperti saya bisa jadi malah curiga bahwa si penanya sekadar kepo alih-alih benar-benar peduli.

Hamil. Kehamilan. Kelahiran bayi. Anak. Sebenarnya bukan hanya masyarakat kita yang terobsesi dengan rahim dan masalah reproduksi perempuan. Masyarakat di negara barat juga sama terobsesinya. Saat ini orang-orang di Hollywood sana sedang terobsesi dengan kehamilan Kylie Jenner. Sebelumnya, Beyonce mendapatkan lebih dari 10 juta likes untuk foto kehamilannya. Ya, peristiwa kehamilan Kylie Jenner menyita lebih banyak perhatian daripada kematian Osama bin Laden atau didirikannya Solar City dan SpaceX oleh Elon Musk. Media barat dan lokal heboh membahas semua detail kehamilan Jenner. Mulai dari kapan due date-nya, siapa bapak anaknya, penampilan fashionnya selama hamil, apa yang dia makan selama hamil, berapa kilogram kenaikan berat badannya, dst., dst.

Pertanyaannya sekarang adalah, mengapa kita begitu terobsesi dengan rahim dan kemampuan (atau ketidakmampuan) perempuan untuk bereproduksi?

Obsesi manusia terhadap rahim perempuan sudah dimulai sejak jaman Yunani kuno. Filsuf Yunani kala itu, seperti Plato dan Hipokrates, menganggap kehamilan dan ‘rahim yang bisa bergerak’ sebagai sebuah penyakit.1 Rahim perempuan diyakini sebagai kunci perbedaan mendasar antara laki-laki dan perempuan, baik secara fisik maupun mental. Bagi masyarakat Yunani kala itu, memiliki rahim dinilai sebagai sebuah kelemahan. Hal ini mempengaruhi pemikiran masyarakat ribuan tahun setelahnya yang melihat rahim sebagai sebuah penyakit fisik dan merupakan alasan di balik disfungsi psikologis perempuan.2Pada abad ke-16 hingga 20 di Eropa, perempuan hamil sering kali dikurung di dalam rumah.3 Ini karena masyarakat meyakini bahwa kehamilan adalah hal privat yang memalukan dan harus dijaga, tidak boleh diumbar ke publik. Tahun 1905, produsen pakaian Sears meluncurkan produk pakaian khusus kehamilan (maternity wear) yang serba longgar dan tertutup.4 Tujuannya adalah untuk menutupi perut perempuan hamil karena kehamilan masih dianggap hal yang tidak nyaman dan cenderung tabu untuk dipamerkan. Baru pada awal tahun 1970an masyarakat barat mulai nyaman dengan wacana kehamilan.5 Hal ini dipengaruhi salah satunya oleh gelombang feminisme ke-2. Tahun 1991, Demi Moore tampil di cover majalah Vogue dalam keadaan hamil, telanjang, dan terlihat menawan. Momen ini mengubah pandangan masyarakat barat (baca: AS) pada umumnya mengenai kehamilan. Kehamilan perempuan menjadi sesuatu yang dirayakan (sering kali secara berlebihan) dan mendadak seiring dengan popularitas cover tersebut muncul serangkaian standar ekspektasi moral dan fisik baru yang diatributkan kepada perempuan hamil.

Lalu masalahnya apa, Ra? Boten ngertos aku.

Pertama, obsesi masyarakat terhadap rahim dan alat reproduksi perempuan telah menjadi alat untuk mengobjektifikasi (baca: merendahkan status sebuah objek) perempuan. Masyarakat umum lebih suka membahas kehamilan perempuan dibandingkan karirnya. Orang kebanyakan juga lebih suka menanyakan jumlah anak seorang perempuan dibandingkan dengan latar belakang pendidikannya. Banyak dari mereka yang juga lebih suka membicarakan kemampuan perempuan untuk memproduksi anak dibandingkan kontribusinya terhadap keluarga dan masyarakat.

Adik perempuan saya adalah seorang perempuan karir yang juga pengusaha kecil-kecilan. Di tengah-tengah kesibukannya bekerja yang sangat menyita waktu, dia masih harus meluangkan waktu untuk menjadi seorang ibu. Betapa pun tingginya dia sekolah, hebatnya dia di kantor, dan pandainya dia berjualan, masyarakat sekitarnya tidak peduli dan tidak pernah bertanya bagaimana dia bisa membagi waktunya untuk anak dan keluarga. Kebanyakan juga tidak peduli dengan segala macam prestasi yang pernah diraih adik saya. Yang lebih dipedulikan dan ditanyakan orang-orang adalah kapan dia akan punya anak kedua.

Contoh lain, ketika saya berada di sebuah lingkungan yang baru dan orang tahu bahwa saya sudah menikah, pertanyaan pertama yang ditanyakan oleh ‘teman-teman’ baru ini adalah berapa orang putra yang saya miliki. Ketika tahu saya belum punya anak, pertanyaan berikutnya sudah ketebak. KAPAN saya punya anak. Seolah saya mahatahu kapan sperma dan sel telur bertemu. Seolah saya sudah pasti mau punya anak. Tidak ada yang menanyakan nama belakang saya (they were happy knowing my husband’s name only). Tidak ada yang bertanya profesi saya apa. Jadi tentu saja saya tidak mengharapkan mereka menanyakan latar pendidikan saya.

Seluruh eksistensi perempuan tereduksi menjadi mesin produksi anak semata. Ini yang saya maksud dengan objektifikasi perempuan. Ketika perempuan tidak mampu hamil (atau bahkan ketika sebenarnya si laki-laki yang infertil) maka pihak perempuan lebih cenderung disalahkan dan dianggap ‘menyedihkan’. Jika seorang perempuan terang-terangan mendeklarasikan bahwa dia tidak ingin memiliki anak, dia akan dicap ‘kepinteran’, ‘melawan kodrat’, atau bahkan ‘mengidap gangguan mental’.

Kedua, obsesi masyarakat ini bisa membawa ‘petaka’ bagi perempuan hamil. Perempuan hamil bersuami sering kali merasa gerah karena terpaksa mendengarkan celotehan dan komentar-komentar (yang kebanyakan mitos dan tidak rasional) yang keluar dari mulut perempuan lain yang sudah pernah hamil atau laki-laki (yang herannya walau tidak pernah hamil suka ikutan iseng berkomentar). Perutnya dipegang-pegang (bahkan oleh orang yang tidak dikenal!), dinasehati ini dan itu (kalau nasihatnya benar sih gakpapa, ya. Hehe.). Perempuan hamil tidak bersuami sudah tidak usah ditanya lagi nasibnya. Banyak teman perempuan saya yang merasa tertekan selama masa kehamilan mereka. Ini karena mereka merasa tidak mampu memenuhi ekspektasi masyarakat tentang kehamilan, yang akan membawa kita ke poin nomor 3.

Obsesi terhadap reproduksi dan kehamilan ini juga melahirkan banyak ekspektasi moral dan prilaku tidak masuk akal terhadap perempuan hamil. Kalau berat badan naik banyak dikomentari tidak bisa menjaga berat badan, kalau hanya naik sedikit dicap kekurusan. Kalau perempuan hamil terlihat kucel dan tidak ‘bersinar’ (glowing) dianggap jorok dan tidak cantik. Ketika hamil perempuan juga merasa ditekan untuk melahirkan secara normal karena kalau melahirkan secara sesar akan dianggap bukan perempuan sejati. Setelah melahirkan harus ASI, kalau memberikan anak susu formula akan dianggap ibu yang gagal dan tidak bertanggung jawab. Bla bla bla. The list goes on and it seems to never end.

Mungkin tidak adil bagi saya untuk ‘mengkritisi’ masyarakat tentang obsesi kita terhadap isu reproduksi perempuan. Saya menyadari penuh, bahwa tidak semua orang punya akses yang sama terhadap pendidikan. Tidak semua ibu-ibu punya waktu untuk baca buku dan nyampah di blog seperti yang saya lakukan sekarang. Tidak semua perempuan bisa duduk di bangku kuliah. Kebanyakan perempuan harus bekerja dan memberi makan anak-anak dan keluarga mereka. Banyak perempuan yang hanya bisa diam menerima ‘takdir dan kodrat’ yang diatributkan masyarakat kepada mereka.

Yang bisa saya lakukan adalah memahami sudut pandang ibu saya dan ibu-ibu yang lain yang mungkin saja benar-benar mendoakan saya untuk punya anak, karena bagi banyak orang (tidak semua) punya anak berarti sumber kebahagiaan dan status sosial. Saya, dan mungkin banyak perempuan lain seperti saya, harus belajar menerima dan bersabar. Jika memungkinkan, sedikit demi sedikit mengedukasi masyarakat untuk mengajukan lebih sedikit pertanyaan dan bersikap lebih adil terhadap perempuan. Ini jelas tidak mudah dan merupakan tanggung jawab yang sangat besar. Most of the time, though, I wish people would ask fewer questions and be more sensitive and less judgemental.

Cheers,

Haura

 

Referensi:

1&2Simon, Matt. “Fantastically wrong: The theory of wondering wombs that drove women to madness”. https://www.wired.com/2014/05/fantastically-wrong-wandering-womb/

3&5Bronstein, Phoebe. “Our modern obsession with pregnancy is just another attempt to control women’s bodies”. https://qz.com/759987/our-modern-obsession-with-pregnancy-is-just-another-attempt-to-control-womens-bodies/

4Stein, Sadie. “A brief history of the bump watch”. https://jezebel.com/5754158/a-brief-history-of-the-bump-watch

The image above was taken from here. I do not own it. Contact me for removal.

Harga dari Kebebasan

Setengah bulan Desember sudah lewat dan akhir tahun menjelang, namun saya baru sempat menulis satu postingan blog.

Ada apa gerangan? Apa saya sakit? Apa saya sedang ada masalah? Tidak, saya hanya sedang banyak pekerjaan. Semua klien saya entah bagaimana seperti sepakat untuk menumpuk pekerjaan di akhir tahun. Jadi, saya tidak punya waktu sama sekali untuk menulis. Tulisan ini pun saya tulis dan posting di hape. Sebenarnya, saya sudah menulis beberapa draft pendek ide tulisan. Sayang, lagi-lagi keterbatasan waktu jadi alasan.

Sebagai seorang freelancer atau pekerja lepas, saya tidak pernah bisa benar-benar memprediksi volume pekerjaan saya setiap bulan. Ada bulan-bulan di mana saya punya banyak waktu untuk membaca buku, membersihkan rumah, dan memasak, ada pula hari-hari di mana saya bahkan tidak punya cukup waktu untuk tidur.

Dua bulan terakhir adalah puncak volume pekerjaan saya selama tahun 2017. Hampir setiap hari saya tidur malam atau bahkan pagi. Saya sadar betul ini tidak baik untuk kesehatan dalam jangka panjang. Namun, saya selalu punya excuse untuk tetap menjalaninya. Salah satu alasan saya tidak menolak pekerjaan yang mengurangi waktu tidur saya adalah karena pekerjaan banyak tidak datang setiap bulan. Bulan-bulan sibuk berarti pendapatan ekstra, yang bisa menutup lebih rendahnya pendapatan di bulan-bulan yang sepi. Alasan kedua mungkin karena saya diam-diam adalah seorang masochist, saya suka disiksa dan menyiksa diri sendiri. 😂

Jika seseorang mengikuti blog atau instagram saya, orang tersebut mungkin berpikir bahwa saya adalah orang yang sangat happy dan beruntung karena memiliki banyak kebebasan, salah satunya bebas bisa bekerja dari mana saja. Saya juga bebas bisa pergi travel ketika saya mau tanpa menunggu promo flight Air Asia. Saya juga bisa terus makan di restoran kalau saya mau (ini bukannya sombong, tapi karena saya tinggal di Solo, yang dengan modal 26 ribu bisa makan soto berdua. Hahaha).

Ya, saya memang memiliki banyak kebebasan, namun kebebasan itu datang dengan harga yang harus dibayar.

Harga pertama dari kebebasan adalah kesehatan fisik dan mental. Sejujurnya, saya bukan termasuk orang yang bisa dengan mudah menghadapi dan mengatasi stres. Saya cenderung masuk tipe yang mudah merasa depresi ketika melakukan suatu hal yang sama dalam jangka waktu yang lama. But, who doesn’t? Yang membedakan mungkin hanya derajatnya saja. Dalam kasus saya, jika saya bekerja dari pagi hingga malam (atau bahkan pagi lagi) selama lebih dari 5 hari, saya akan segera terserang stres. Tubuh saya menyikapi stres dengan pergolakan hormon yang membuat saya menjadi emosional dan ingin marah atau menangis tanpa alasan yang jelas selain karena lelah dan bosan. Selain itu, tubuh juga mengirim sinyal yang memaksa saya untuk berhenti bekerja dengan suatu fenomena khas orang Melayu bernama ”masuk angin”. Sebuah contoh fenomena yang tidak ada dalam kamus kedokteran.

Bekerja di rumah, di hadapan komputer setiap hari, tanpa ada interaksi nyata dengan manusia lain, bukanlah hal yang mudah. Paling tidak untuk saya. Di kantor, kita masih bertemu rekan kerja, di kantor kita masih bicara face to face dengan orang lain. Bekerja di rumah berarti interaksi terbatas di dunia maya. Awalnya mungkin terasa mudah, namun saya sudah melakukannya selama 4 tahun. Ada satu titik jenuh yang tidak akan pernah bisa saya jelaskan dengan tepat dan orang tidak akan pernah memahaminya kecuali mengalaminya sendiri. Ada masa-masa di mana saya merasa oke menatap dinding kosong di belakang meja kerja. Ada saat-saat saya hanya menatap kosong dinding tersebut dengan perasaan hampa. Lalu saya akan makan, bekerja, berjalan, dan tidur seperti robot yang sudah diatur jamnya. Bahkan Mamat yang saya tahu betul begitu tangguh menghadapi stres dan sangat positif plus produktif pun suatu hari berkata dengan ekspresi hampa, “aku bosan”. Jelas ini harga psikologis yang harus dibayar atas produktivitas tanpa henti yang dilakukan dalam kotak bernama rumah.

Kedua, harga lain yang harus dibayar adalah merenggangnya hubungan saya dengan orang terdekat, yakni suami saya. Tidak, kami tidak bertengkar. Namun kami jadi jarang bicara karena masing-masing sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Ini sungguh aneh, mengingat kami hanya tinggal berdua (berdelapan dengan kucing-kucing). Ada hari-hari di mana kami hanya bicara seadanya saat makan siang dan malam. Selebihnya, kami kembali ke ‘pertapaan’ masing-masing, yakni di depan laptop.

Ketiga, pekerjaan rumah dan hal remeh namun penting lainnya terpaksa dikorbankan. Sekadar informasi, saya tidak punya asisten rumah tangga (ART). Selama ini saya membanggakan diri sebagai ‘istri super’ yang bisa melakukan segalanya. Saya memasak, membersihkan rumah, mengurus laundry, bekerja, dan melakukan household chores lainnya sendiri tanpa ART. Mamat adalah laki-laki yang bisa melakukan semua hal ini dan mau membantu saya melakukannya. Namun, dia tidak ada waktu karena dia jauh lebih sibuk dari saya dalam urusan pekerjaan. Kami pun sepakat, saya akan lebih banyak mengurus rumah dan memasak. Nah, saat volume pekerjaan saya melesat, suatu pagi saya mendapati diri saya menangis di depan pintu kamar saat saya bangun tidur. Rumah tampak begitu kotor dan berantakan karena saya tidak punya waktu untuk menyentuhnya. FYI, saya dibesarkan oleh seorang ibu yang super perfectionist dalam urusan kebersihan dan kerapihan. Jadi saya biasa dengan kondisi bersih dan rapih. Ketika kondisi ini tidak tercapai saya rupanya tidak bisa menanggapinya dengan santai. Mood pagi saya yang biasanya enak berubah menjadi mood saya-mau-makan-orang.

Saya bukannya tidak tahu bahwa semua ini solusinya sangatlah sederhana dan rasa stres saya sebenarnya adalah konsekuensi dari pilihan saya sendiri. Solusi simple untuk kasus saya ada 2: mengurangi pekerjaan dengan konsekuensi pendapatan berkurang atau mempekerjakan ART agar saya bisa fokus bekerja. Gampang, kan? Hohoho… Tidak sesederhana itu karena saya orangnya ribet. 😂 Saya cenderung introvert dan malas berhubungan dengan banyak orang. Saya juga awkward dan pemalu ketika bertemu orang baru. Plus, drama ART ibu saya di masa lalu dan sifat perfectionist membuat saya malas mempekerjakan ART. Jadi, pilihan yang lebih tepat adalah mengurangi jam kerja (dengan menolak pekerjaan yang datang jika kapasitas saya sudah maksimal). Solusi lebih baik lagi mungkin dengan mempekerjakan beberapa tenaga penerjemah in-house yang bisa membantu saya dan Mamat. Dengan begitu, beban kerja bisa didistribusikan dengan lebih baik. Saya yang mudah stres ini bisa rileks sedikit dan ada sedikit waktu untuk membaca buku yang sudah lama pending dan meneruskan tulisan yang konsepnya memenuhi pikiran.

Jadi apa poin tulisan yang amat sangat tidak penting ini? 😅 Poinnya itu tadi, kebebasan memiliki harga yang harus dibayar. Kalau ada yang berpikir saya sungguh enak bisa ke sana ke mari setiap bulan, sesungguhnya dia belum melihat mata merah saya di depan laptop setelah bekerja 14 jam dalam sehari. Kalau sampai ada yang khilaf iri tahu saya punya rumah baru, pasti belum lihat saya menangis menahan rasa sakit di punggung, pinggang, jari dan pergelangan tangan karena terlalu lama duduk menghadap komputer. Kalau ada yang berpikir hidup saya sempurna dan tidak punya masalah, well dia kan hanya lihat luarnya saja. Dia tidak tahu 100 cerita perjuangan, masalah pribadi, dan kesulitan yang saya hadapi, yang tentunya tidak pernah saya share di media sosial. (Tapi ini semua bisa jadi hanya ada di kepala saya, sih. Mungkin ini cuma khayalan saya saja. Mungkin tidak ada yang iri atau peduli dengan saya. Lihat, kan? Apa yang bisa dilakukan “terlalu banyak melihat layar komputer dan nonton drama Korea” terhadap kepalamu? 😂)

Anyway, let’s go back to the real deal. Nothing comes easy, people. Silakan tanya Jack Ma, berapa lama dia tidak tidur saat Alibaba masih mencari bentuk dan modal. Saya bukan dan tidak kenal Jack Ma. (Saya curiga pembantu Jack Ma malah lebih sejahtera dibanding saya.) 😁 Tapi saya paham satu hal. Sukses ada harganya dan saya sudah mulai mencicilnya. Kebebasan, entah itu pekerjaan atau finansial, harus dibayar mahal. Jangan memimpikan hidup sejahtera kalau malas bekerja.

Senyum dulu, dong. 😊

 

Cheers,

Haura Emilia

Tantangan Fokus dan Kesabaran di Era Gratifikasi Instan

Our entire consumer culture has elevated immediate gratification to life’s primary goal.

-Paul Roberts-

Siang itu saya terbengong-bengong melihat iklan Go-Jek yang dibintangi Dian Sastro. Dian mengunggah potongan iklan terbarunya itu di Instagram. Iklan tersebut menceritakan keseharian Dian, mulai dari aktivitas olahraga di pagi hari, membersihkan rumah, makan, sampai pergi shooting. Menariknya, semua kegiatan tersebut dilakukan dengan bantuan aplikasi Go-Jek. Mau makan? Tinggal pesan Go-Food. Mau bersih-bersih rumah? Ada Go-Clean. Mau belanja tapi malas keluar rumah? Tinggal pesan Go-Mart. Mau pergi shooting tapi macet? Beres, tinggal pesan Go-Jek. Ada dokumen penting yang ketinggalan di rumah? Jangan khawatir, kan ada Go-Send. Dian hanya butuh satu atau dua klik saja. Voila! Problem’s solved. Dalam hitungan detik. Secara instan. Fantastis.

“Aku males masak hari ini. Kita Go-Food aja, ya” adalah kalimat yang semakin sering kita dengar. Entah itu keluar dari mulut kita sendiri atau mulut pasangan. Mengapa tidak? Dalam beberapa menit saja makanan sudah siap terhidang di atas meja. Bandingkan dengan proses memasak (makanan Indonesia) yang memakan waktu paling tidak satu jam. Buat penggemar berat Go-Food, satu-satunya alasan mereka tidak menggunakan aplikasi ini setiap hari kemungkinan besar adalah keterbatasan dana. Jika uang bukan masalah, alasan lainnya kemungkinan adalah alasan kesehatan. Tanpa dua alasan tersebut, para fans berat Go-Food seperti saya mungkin tidak akan menginjakkan kaki di dapur lagi.

Segala sesuatu tidak pernah terjadi begitu cepat dan mudah seperti sekarang. Hampir semua persoalan hidup sehari-hari dapat kita selesaikan dengan bantuan aplikasi smartphone dan sedikit uang di rekening bank. Dengan kehadiran Uber dan Go-Car kita tidak perlu menyetir lagi untuk menembus kemacetan. Ribuan toko dan mall online siap memenuhi hasrat belanja kita 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Ketika berat badan terasa berlebih dan lemak di perut perlu dibasmi, ada ratusan jenis dan merek obat pelangsing yang menjanjikan hasil yang instan. “Turun 2 kilo dalam 7 hari” telah menjadi mantra sehat dan langsing kita yang mengidam-idamkan bentuk tubuh yang ideal. Kalau dulu kita harus tabah menunggu film seri atau sinetron favorit kita diputar seminggu sekali di TV, sekarang kita hanya perlu berlangganan NetFlix. Cukup ambil paket bulanan, film seri dan blockbuster favorit siap menemani kita siang dan malam. Binge watching Breaking Bad dan Grey’s Anatomy season 1 sampai 13 tidak pernah semudah sekarang. Cepatnya segala macam kemudahan telah menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari dan kita merasa hampa tanpanya.

Akui saja, sekarang kita hidup di jaman yang serba instan, di mana kesabaran jadi barang langka dan menunggu dianggap sebagai bencana. Menunggu telah menjadi kata kerja yang antre masuk museum. Yes, waiting has become the thing of the past. Praktis, mudah, dan cepat telah menjadi slogan kehidupan masa kini yang diamini setiap generasi millennial. Gaya hidup ini telah memuaskan hasrat dan kebutuhan dasar manusia untuk mendapatkan gratifikasi instan.

Definisi dan efek negatif gratifikasi instan

Menurut definisi, ‘gratifikasi instan’ (instant gratification) berarti sebuah kebiasaan untuk menghindari kesulitan jangka pendek yang berpotensi mengakibatkan kesulitan jangka panjang.1 Dengan kata lain, seseorang akan selalu menemukan alasan untuk tidak melakukan sesuatu karena prosesnya sulit walaupun dia mengetahui bahwa proses tersebut akan membantunya untuk mencapai tujuan atau cita-cita di masa depan. Ketika kita memilih untuk terus-terusan memesan makanan lewat Go-Food daripada memasak sendiri makanan yang lebih sehat atau memilih untuk menghabiskan lebih banyak waktu untuk menonton serial drama Korea daripada belajar atau membaca buku, sesungguhnya kita terbuai dalam perangkap gratifikasi instan.

Di masa lalu, generasi tua harus banyak bersabar untuk mendapatkan sesuatu. Hal sesederhana mengirim surat membutuhkan waktu yang lama untuk sampai. Untuk makan, mereka perlu bercocok tanam dan menunggu hasil panen sebelum akhirnya bahan makanan bisa diproses menuju meja makan. Teknologi mengubah semuanya. Teknologi berhasil menemukan solusi atas setiap penundaan yang menyakitkan ini. Tanpa penundaan, semua terasa lebih mudah dan nyaman. Gratifikasi instan pun menjadi salah satu kebutuhan hidup utama.

Ada beberapa alasan mengapa kita mencandu gratifikasi instan. Pertama, kita selalu berusaha menghindari penundaan. Menunggu bukanlah sesuatu yang menyenangkan. “Dari sudut pandang evolusi, manusia memiliki insting untuk mendapatkan hadiah langsung di tangan dan menolak insting tersebut tidaklah mudah. Evolusi telah memberikan manusia dan hewan lainnya keinginan yang kuat untuk mendapatkan sesuatu dengan cepat.”2

Kedua, kita menyukai segala sesuatu yang instan karena kita membenci ketidakpastian. Bayangkan jika harus menunggu berbulan-bulan hanya untuk mendapatkan surat balasan dari seorang teman yang tinggal di negeri seberang? Bagaimana nasib makanan yang kita pesan jika jasa delivery ‘sehari pasti sampai’ tidak pernah eksis? Kita tidak sanggup membayangkan apa yang terjadi dengan surat dan paket yang luntang-lantung tidak jelas keberadaannya di jalan.

Ketiga, kondisi psikologis seperti emosi dan sifat impulsif juga mendorong gaya hidup instan. Sekarang bayangkan Anda sedang asik menonton acara TV favorit. Saat break iklan, iklan restoran pizza yang baru buka tiba-tiba muncul. Berbagai menu lezat seperti pizza, pasta, dan lasagna menari-nari di depan mata. Seketika Anda merasa lapar, atau paling tidak Anda pikir Anda lapar. Nomor cantik yang mudah dihapal muncul berulang-ulang. Ya, tidak cukup sekali! Nomor kontak delivery pizza ini muncul paling tidak 3 kali dalam satu kali tayangan iklan. Liur Anda terbit. Saat itu juga Anda berpikir, “Kayaknya enak nih makan pizza SEKARANG”. Buru-buru Anda mengambil hape, membuka aplikasi dan memesan si pizza yang menari di pikiran. Ketika Anda menginginkan sesuatu Anda menginginkannya sekarang. Dan teknologi adalah pendukung utama Anda.

Terlepas dari semua kemudahan, kepraktisan, dan kecepatan ini, gratifikasi instan datang dengan harga yang harus kita bayar.

Harga pertama yang harus kita bayar adalah kepribadian kita. Kita telah bertransformasi menjadi generasi yang serba ingin cepat, antimenunggu, dan ingin melewatkan segala proses karena proses cenderung lambat dan menyulitkan. Dengan kata lain, kita menjadi pribadi yang tidak sabaran dan cepat marah. Saat internet melambat sedikit, kita akan mengumpat. Jika delivery belanjaan kita telat sehari kita akan resah dan panik. Ketika lampu mati selama beberapa jam dan kita tidak dapat mengisi daya handphone kita menjadi kesal dan marah karena bingung mau ngapain lagi.

Kita yang biasa dimanjakan dengan pertukaran informasi yang begitu cepat juga bisa mengalami fenomena yang dikenal dengan ‘Fear of Missing Out’ (FOMO). Kita tidak suka menunggu lama sedikit untuk mendapatkan update berita terbaru karena kita takut tertinggal berita dan tren terkini.

Kebiasaan mengharapkan sesuatu yang serba cepat dan instan ini juga meningkatkan ekspektasi kita terhadap sesuatu dan ketika kita tidak mendapatkannya kita akan kecewa. Misalnya, seseorang mengharapkan promosi ketika baru bekerja di sebuah perusahaan selama setahun atau dua tahun. Ketika ada yang salah sedikit atau ada sesuatu yang terasa tidak enak, orang ini langsung terpikir ingin keluar dan mencari pekerjaan baru. Ketidaksabaran dalam menghadapi masalah ini selanjutnya juga bisa menghambat kemampuan untuk menyelesaikan masalah. Ketidaksabaran dan keinginan untuk mendapatkan kemudahan secara instan menghentikan orang tersebut untuk mengevaluasi diri dan mencari solusi atas masalahnya di kantor.

Gratifikasi instan juga menekankan fokus pada output atau hasil, alih-alih pada proses. Dalam beberapa tahun terakhir ada semakin banyak lembaga pendidikan dan kursus yang menjanjikan masa sekolah dan pelatihan yang lebih singkat. Ingat iklan-iklan “Bisa bahasa Inggris dalam sebulan” atau “Kursus rakit komputer sehari” atau “Gelar S2 dalam setahun” yang banyak bertebaran di pintu angkot dan media cetak? Beberapa orang yang kebelet ingin naik jabatan mendaftar kuliah magister dan doktoral di universitas abal-abal yang menawarkan ijazah palsu. Media juga pernah memberitakan sebuah acara wisuda yang mahasiswanya tidak pernah mengikuti aktivitas perkuliahan. Di luar dunia pendidikan, banyak perempuan yang berbondong-bondong mengonsumsi pil diet yang tidak jelas efek samping jangka panjangnya demi tubuh langsing, alih-alih berolahraga dan makan makanan sehat dengan rutin. Semua terjadi karena kita mendambakan hasil yang instan.

Terakhir, ketagihan gratifikasi instan juga membuat kita membuang banyak waktu untuk hal-hal yang tidak produktif dan cenderung merugikan seperti menonton TV, berbelanja, main hape, main game, dan makan bahkan ketika kita tidak lapar.

Solusi

Dalam usaha menolak terperangkap dalam jebakan gratifikasi instan, saya berusaha mencari solusinya. Saya kemudian menyadari bahwa solusi utama untuk keluar dari perangkap ini adalah dengan membuat long-term goal. Tujuan atau cita-cita jangka panjang memaksa saya fokus pada proses yang diperlukan untuk mencapainya. Menonton TV memang lebih menyenangkan dibandingkan bekerja, memelototi timeline Facebook memang lebih mudah dari menulis blog, namun itu berarti saya menghabiskan waktu saya untuk kesenangan jangka pendek yang hanya akan mengalihkan fokus saya dari goal jangka panjang.

Kedua, saya belajar bahwa kita harus siap merangkul kesulitan dan penderitaan demi keuntungan di masa depan. Misalnya, saya selama ini malas sekali mengikuti ujian sertifikasi penerjemah padahal sertifikasi tersebut bisa membantu saya berkembang sebagai seorang penerjemah. Alasannya banyak: mengambil ujian sertifikasi berarti harus menghadapi kenyataan bahwa lokasi ujiannya jauh dari kota tempat saya tinggal, biaya ujiannya lumayan besar, ongkos transportasi dan akomodasi yang harus dikeluarkan cukup banyak, plus cuti harus diambil untuk mempersiapkan diri dan bepergian (yang otomatis berakibat pada penurunan penghasilan bagi pekerja freelance seperti saya). Tapi tanpa usaha tidak akan ada hasil. Tanpa keringat tidak ada kata sukses. No pain no gain.

Ketiga, kita perlu berhenti menjustifikasi hal-hal negatif demi mendapatkan kesenangan instan. Alasan-alasan seperti “Belanja impulsif? Ah, kan mau lebaran”; “Makan tanpa kontrol? Gampang, tinggal puasa dan minum teh hijau”; “Mau cepat lulus kuliah? Tinggal bayar orang untuk mengerjakan skripsi” adalah bentuk justifikasi diri yang harus dihindari. Kita juga perlu memahami bahwa kepuasan yang didapat secara instan sifatnya hanya sementara dan umumnya tidak memberikan keuntungan apa-apa di masa depan.

Terakhir, menciptakan lingkungan yang kondusif akan sangat membantu. Misalnya, bertemanlah dengan orang-orang yang positif dan giat bekerja, rajin berolahraga, gemar memasak makanan sehat, dan bukan Go-Food die-hard fans. 😊

Cheers,

Haura Emilia

Referensi:

1Adam Sicinski. Do You Struggle with Instant Gratification? You Must Try These 5 steps. http://blog.iqmatrix.com/instant-gratification

2Shahram Heshmat, Ph.D. 10 Reasons We Rush for Immediate Gratification. https://www.psychologytoday.com/blog/science-choice/201606/10-reasons-we-rush-immediate-gratification

 

Growth: Malapetaka Pembangunan dan Pertumbuhan

“Modernity is based on the firm belief that economic growth is not only possible, but absolutely essential.”

Yuval Noah Harari

Suatu hari saya dan Mamat berdiskusi ringan tentang investasi. Pembicaraan kami dimulai dari sekadar ngalor-ngidul kosong hingga yang serius seperti filosofi di balik investasi. Diskusi ini kemudian berlanjut dengan ide membeli sebuah apartemen untuk dilisting di AirBnB. Seperti layaknya jenis investasi yang lain, kami menyadari bahwa investasi di bidang properti memiliki risikonya sendiri.

“Tapi kalau malas memikirkan cicilan dan risikonya, ya sebaiknya gak usah saja. Toh kita selalu punya pilihan untuk berinvestasi atau tidak. Dananya didiamkan saja di bank”, begitu kata Mamat saat itu.

Saya tersentak. Pernyataan tersebut membuat saya berpikir. Sebuah pertanyaan muncul di benak saya. Mengapa kita berinvestasi? Mengapa kita tidak puas hanya dengan apa yang sudah kita miliki? Katakanlah Anda punya dana menganggur di tabungan sebesar 500 juta rupiah. Anda sudah memiliki sebuah rumah, sebuah mobil, tabungan pendidikan untuk anak-anak, asuransi kesehatan, dan kebutuhan sehari-hari bukan lagi sebuah masalah yang Anda pikirkan siang dan malam. Apa yang akan Anda lakukan dengan uang tunai tersebut? Apakah Anda akan mendepositokannya? Atau Anda akan menggunakannya untuk modal usaha? Atau, kalau Anda penggemar logam mulia, Anda akan belikan emas? Apa pun pilihan Anda, rasanya kecil kemungkinan Anda akan mendiamkan uang tersebut menganggur di bank atau menyimpannya di bawah kasur. Kemungkinan besar Anda akan menginvestasikannya, dengan cara apa pun yang Anda suka. Kembali ke pertanyaan saya tadi, jadi kenapa kita berinvestasi? Mengapa kita selalu menginginkan sesuatu yang lebih dalam hidup? Lebih banyak. Lebih besar. Lebih enak. Lebih nyaman. Lebih stabil. Harta, karir, kepribadian, spritualitas. Kita selalu ingin berkembang. Kita selalu mendambakan pertumbuhan. We all want more pies in life.

Saya dan Anda tidak sendirian. Dari sudut pandang makro, negara juga melakukan hal yang sama: wacana pembangunan dan pertumbuhan selalu jadi agenda utama dalam pemerintahan. Ide pertumbuhan income, saving, investasi, dan pembangunan tanpa henti telah menghantui kehidupan pascarevolusi industri. Salah satu konsekuensi revolusi industri adalah kapitalisme dan doktrin utamanya adalah pertumbuhan (growth). Pertumbuhan telah lama menjadi jualan utama politisi untuk memenangkan pemilihan. Ekonomi, infrastruktur, sumber daya manusia, pendidikan. Semua didorong untuk terus tumbuh dan berkembang.  Bahkan negara maju seperti Singapura belum berhenti membangun. Singapura berencana untuk terus membangun sarana transportasinya hingga seluruh pelosok negara dapat dijangkau MRT dan bus. Singapura bukan satu-satunya negara maju yang kecanduan pertumbuhan. Jepang, misalnya, berusaha mati-matian untuk menambah populasi penduduknya. Kenapa? Agar jumlah generasi produktif (baca: kelas pekerja) bertambah. Mengapa harus lebih produktif? Agar Jepang bisa membangun lebih banyak, agar ekonomi terus berkembang, dan agar bisa menghasilkan lebih banyak inovasi. Di Indonesia sendiri Presiden Jokowi dan Kabinet Kerjanya tidak bosan-bosan berbicara tentang pembangunan. Bahwa kita semua harus bekerja lebih keras untuk menumbuhkan perekonomian negara. In short, we’re all addicted to growth.

Logikanya, jika kita memproduksi lebih banyak maka kita bisa mengonsumsi lebih banyak, menaikkan standar kehidupan dan dengan demikian bisa menikmati hidup yang lebih bahagia.1 Kedua, selama manusia terus bereproduksi, pertumbuhan ekonomi diperlukan untuk paling tidak mempertahankan status quo.2 Indonesia, misalnya, memiliki sekitar 261 juta orang penduduk pada tahun 2016 dengan GDP 932,3 milyar dolar.3 Pada tahun 2018 diperkirakan akan ada sekitar 266 juta orang Indonesia.4 Dengan kata lain, akan ada sekitar 5 juta ‘manusia baru’ dalam rentang waktu 2 tahun. Jika GDP tidak meningkat, maka negara tidak akan bisa menyejahterakan 5 juta orang tambahan ini. Jika pie ekonomi tidak membesar maka pie kelompok kaya harus dibagi ke kelompok yang lebih miskin. Kebanyakan dari kita tidak akan menyukai ide ini. Maka kita tidak memiliki pilihan. Ekonomi harus tetap tumbuh dan berkembang untuk memberi makan mulut-mulut yang lapar. Growth is therefore a must.

Kepercayaan terhadap pertumbuhan ekonomi telah menjelma jadi agama baru. Semua orang menjadi sangat bernafsu dan terobsesi dengan pertumbuhan dan pembangunan. Para marketer dijanjikan bonus jika bisa menjual lebih banyak produk. Pegawai pemerintah di beberapa negara seperti Singapura bisa dinaikan gajinya kalau berhasil menaikkan GDP negara. Para investor terus mendorong bisnis untuk terus berkembang dan meningkatkan profit. Kelas menengah atas berlomba-lomba membeli lebih banyak barang dan properti. Perusahaan investasi baru terus bermunculan bak jamur di musim hujan. Investasi jenis baru terus lahir, mulai dari bitcoin dan digital currency lain semacam Ethereum dan Litecoin. Rakyat biasa tidak mau kalah: kita membeli lebih banyak makanan dari yang bisa kita habiskan, lebih banyak mobil dari yang bisa kita kendarai, lebih banyak rumah dari yang bisa kita tinggali. Beberapa kelompok masyarakat juga pergi kerja ke luar negeri demi mendapatkan income yang lebih besar.

Lalu di mana masalahnya? Pembangunan dan pertumbuhan ekonomi dapat menyejahterakan banyak orang. Perkembangan teknologi dan pertumbuhan ekonomi dalam seratus tahun terakhir telah memperpanjang umur manusia, menyembuhkan berbagai penyakit, memperpendek jarak antarbenua, dan mengakhiri wabah epidemik dan bencana kelaparan. Bukan kah ini hal yang positif? Pada kenyataannya, pertumbuhan sejatinya adalah pisau bermata dua. Pertumbuhan juga bisa berubah menjadi malapetaka.

Pertama, pembangunan dan pertumbuhan yang tidak terkendali dan terus menerus membawa banyak masalah sosial: besarnya gap ekonomi dan sosial, masalah lingkungan (ecological apocalypse), eksploitasi manusia dan pekerja anak. Ketika pembangunan masif dilakukan tanpa mempertimbangkan efeknya terhadap lingkungan, sesungguhnya generasi masa depan akan membayarnya dengan kualitas udara yang buruk akibat meningkatnya kadar CO2 atau tenggelam dalam lautan sampah elektronik dan plastik yang sulit didaur ulang. Ketika para raksasa fast-fashion berlomba-lomba meningkatkan laba penjualannya mereka terus berekspansi ke tempat-tempat di mana mereka bisa memproduksi fashion item dengan biaya serendah mungkin walaupun konsekuensinya mereka harus mempekerjakan buruh kerja berpenghasilan rendah. Ketika perusahaan kelapa sawit membuka lahan baru dengan agresif, banyak petani kecil yang kehilangan pekerjaannya dan mengorbankan anak-anak usia sekolah bekerja kasar di ladang untuk membantu perekonomian keluarga. Saat hutan-hutan dibakar dan kayu-kayu ditebang secara massal dan liar, kita sesungguhnya memusnahkan pabrik O2 dan habitat hewan liar.

Kedua, dalam skala yang lebih kecil pertumbuhan atau growth bisa mengubah hubungan interpersonal manusia. Di negara maju dan berkembang, ada banyak pasangan suami istri yang pergi bekerja demi mendapatkan income yang lebih besar. Jika mereka  memiliki anak, mereka akan membayar seseorang untuk mengasuh anaknya atau menitipkan anaknya di childcare. Hal ini merupakan praktik yang biasa. Namun, ini tidak pernah terjadi di masa lalu. Sebelum revolusi industri, kebanyakan orang hidup dari bertani atau kalau pun mereka berdagang atau memproduksi sesuatu, kebanyakan melakukannya di rumah. Orang-orang dulu (dan banyak orang sekarang yang masih tinggal di desa) tidak pergi ke kantor setiap hari dan meninggalkan keluarganya di rumah. Mereka juga tidak menitipkan anak-anaknya ke orang tua atau tetangga. Dorongan untuk terus tumbuh dan berkembang telah mengubah hubungan antarmanusia. Ketika kita menyadari dan menyesalinya, doktrin pertumbuhan tanpa henti menjelma menjadi sebuah mimpi buruk.

Lucunya, ketika kita berpikir bahwa kita pasti akan lebih bahagia dengan memiliki lebih banyak hal dan pencapaian, doktrin pertumbuhan sering kali meninggalkan kita dengan perasaan hampa dan ketidakpuasan. Tidak peduli sebanyak apa pun yang sudah kita punya dan capai kita tidak akan pernah merasa puas. Kita tidak akan pernah jadi cukup bagus dalam hal apa pun. Kita selalu merasa kekurangan. Kapitalisme terus menyuapi kita dengan ide-ide untuk memiliki hal-hal yang tidak kita punya. Pada satu titik, kita menjadi frustasi karena merasa tidak mampu berlari mengikuti cepatnya pertumbuhan dan pembangunan. Perkembangan orang lain membuat kita merasa ketinggalan. Sejak kapan si A punya 2 buah rumah? Mengapa si B mampu jalan-jalan keliling dunia? Mengapa Manila sudah lama punya MRT dan Jakarta masih belum punya juga? Sekali lagi, keadaan tidaklah selalu seperti ini. Masyarakat dulu harus puas dengan penghasilan yang mereka dapat dari bertani dan berdagang. Mereka tidak terpikir untuk menanamkan sejumlah uang di pasar saham dengan harapan suatu hari investasi mereka bisa menjamin masa depan yang tidak seorang pun bisa lihat dan prediksi.

Tidak ada seorang pun yang akan membantah bahwa pertumbuhan dan pembangunan memiliki banyak sisi positif dan suatu saat akan membawa manusia ke planet Mars dan memusnahkan penyakit kanker untuk selamanya. Perkembangan teknologi suatu saat mungkin bisa membuat manusia hidup selamanya sehingga kita hanya perlu mengkhawatirkan kecelakaan lalu lintas sebagai penyebab utama kematian. Namun, kita juga tidak bisa menutup mata terhadap berbagai malapetaka yang lahir dari perubahan dan perkembangan yang konstan. Di dunia yang tidak pernah berhenti tumbuh ini, mungkin yang kita perlukan adalah kemampuan untuk melihat kapan harus merangkul pertumbuhan dan mengantisipasi konsekuensinya.

 

Referensi:

1&2Yuval Noah Harari. Homo Deus, p. 240

3Data World Bank.

4Indonesia Population. http://www.worldometers.info/world-population/indonesia-population/

Note:

I don’t own the image above. It was taken from here. Contact me for removal.

 

Paradoks Pilihan

“Learning to choose is hard. Learning to choose well is harder. And learning to choose well in a world of unlimited possibilities is harder still, perhaps too hard.”
― Barry SchwartzThe Paradox of Choice: Why More Is Less

Pada suatu hari di tahun 2017 saya termenung di depan rak toiletries di sebuah supermarket di dekat rumah. Rak itu berisi puluhan merek dan jenis sampo. Sampo anti-ketombe. Sampo untuk rambut berminyak. Sampo untuk rambut kering. Sampo untuk rambut rusak. Sampo untuk rambut rontok. Sampo merek A. Merek B. Merek C. Dan seterusnya. Dan seterusnya. Karena tidak yakin mau pakai sampo yang mana, saya pun pulang ke rumah.

Sampai di rumah saya langsung googling satu brand sampo ‘premium’ yang mengklaim produknya ampuh mengatasi masalah kulit kepala sensitif karena kandungannya yang hypoallergenic. Satu botolnya Rp350.000. Saya tidak yakin dengan klaim ini, bisa saja ini cuma taktik marketing untuk menjual produk mahal yang sebenarnya tidak jauh beda dengan merek umum yang dijual di pasaran. Tanpa sadar saya sudah menghabiskan waktu sejam untuk melakukan riset kecil-kecilan tentang si sampo mahal itu. Ulasannya rupanya beragam. Ada yang memuji-muji keampuhan si sampo mahal, namun tidak sedikit juga yang berpendapat bahwa produk itu overrated. Tanpa saya sadari saya sudah membuang waktu saya yang berharga untuk memilih produk yang akan hilang disapu air di kamar mandi. Pekerjaan sepele sesederhana memilih sampo bisa menghabiskan waktu yang begitu lama. Pekerjaan yang seharusnya hanya butuh beberapa detik sudah menyita perhatian saya.

Sebagian orang mungkin akan berpikir saya konyol dan berlebihan. Tapi benarkah hanya saya yang sering dibingungkan dengan banyaknya pilihan? Coba ingat-ingat lagi. Apa Anda pernah menghabiskan waktu beberapa menit hanya untuk memilih menu makanan yang ada di sebuah foodcourt di mall? Mie ayam atau bakso? Ayam goreng atau ayam bakar? Itu baru makanan. Bagaimana dengan pakaian? Pakai baju apa hari ini? Warna biru atau hijau? Pakai rok atau celana? Saat hendak membeli celana jeans, ada puluhan jenis celana jeans yang bisa dipilih. Low cut, skinny, slim fit, regular fit, atau bell bottom? Saat memilih sekolah untuk anak, banyak teman saya yang juga bingung setengah mati. Sekolah negeri, swasta, atau internasional? Atau malah home-schooling? Sekolah dengan kurikulum nasional atau bersertifikasi Cambridge? Sekolah dekat rumah dengan uang bulanan mahal atau sekolah jauh dari rumah dengan uang bulanan lebih murah? The list goes on and it seems to never end

Tanpa kita sadari kita dibanjiri dengan pilihan setiap hari. Otak kita dipaksa membuat keputusan setiap waktu. Mulai dari hal yang penting seperti memilih calon presiden, calon gubernur, dan ketua organisasi tertentu hingga yang tidak penting seperti warna baju dan merek smartphone. Ada ratusan merek minyak goreng di pasaran, ratusan jenis permen, dan puluhan rasa saus sambal di rak supermarket. Ada jutaan jenis barang elektronik di pasaran dan ribuan furnitur yang bisa kita pilih di Ikea. Ada ratusan jenis produk asuransi dan investasi yang bisa kita pilih.

Perjuangan kita tidak berhenti sampai di situ. Ketika kita sakit, kita lagi-lagi dihadapkan dengan banyak pilihan. Ada ratusan rumah sakit dan klinik gigi yang bisa kita datangi. Ketika sudah memutuskan harus ke RS atau klinik mana, dokter akan menawarkan pilihan kepada kita: operasi atau terapi, obat generik atau yang mahal, harus kemoterapi atau tidak, dst. Saya punya pengalaman yang bisa mengilustrasikan hal ini. Kebetulan saya punya gigi bungsu yang posisinya tidur. Untungnya, saya tidak merasa sakit sama sekali. Tapi karena khawatir, saya tanyakan kepada dokter saya apakah gigi itu harus dicabut. Dokter saya bilang itu terserah saya. Dia bilang memang sebaiknya diambil tapi kalau tidak pun itu terserah saya. Toh selama ini tidak pernah sakit. Dokter itu lalu memberi tahu saya risiko dan keuntungan dicabut dan tidak dicabut. Namun, pada akhirnya saya yang harus mengambil keputusan tersebut. Dokter memberikan otonomi sepenuhnya kepada saya selaku pasiennya. Ini seharusnya hal yang bagus, bukan? Tapi, bukan itu poinnya. Poinnya adalah, dalam keadaan sakit pun kita sering kali dipaksa untuk membuat pilihan yang sering kali tidak mudah.

Tapi hidup itu kan memang pilihan. Begitu kita diajarkan sejak kecil.

Kita memilih mau menjalani hidup yang seperti apa. Sekolah di mana. Bekerja di mana. Menjalankan profesi apa. Kalau sudah bekerja kita lagi-lagi harus memilih mau bekerja di perusahaan tersebut berapa lama. Mau pindah atau bertahan. Seorang profesional harus memilih untuk bekerja dengan klien seperti apa. Freelancer seperti saya pun tidak jarang bingung karena banyaknya pilihan. Mau mengerjakan pekerjaan yang mana dulu. Jika pekerjaan sudah beres tapi hari masih panjang, saya masih harus memutuskan mau melakukan apa lagi. Beres-beres rumah, main dengan kucing, mau baca buku, mau masak, mau tidur, baca buku, atau nonton drama.

Sejak kecil kita didogma bahwa pilihan membuat hidup kita seharusnya jadi lebih mudah. Psikolog Barry Schwartz beragumen bahwa ada sebuah ‘official dogma’ yang mengatakan bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan (welfare), manusia harus diberikan kebebasan (freedom). Untuk memaksimalkan kebebasan, maka manusia harus diberikan pilihan (choice). Semakin banyak pilihan yang kita miliki maka semakin banyak kebebasan yang kita dapatkan dan semakin sejahtera pula kita. Pilihan membuat manusia, manusia. Kita senang diberikan pilihan karena dengan memiliki pilihan kita merasa memegang kontrol atau kendali atas hidup. Kendali membuat kita merasa tenang dan aman. Perasaan tenang dan aman mengarah kepada kebahagiaan. Masalahnya, benarkah kita lebih bahagia dengan banyaknya pilihan?

Menurut Schwartz, ada beberapa efek negatif dari terlalu banyaknya pilihan. Pertama, alih-alih merasakan kebebasan kita merasa ‘lumpuh’ tidak berdaya karena kita menjadi bingung dan sulit memilih.1 Seperti saya yang menghabiskan banyak waktu hanya untuk memilih sampo atau merek celana jeans, pada akhirnya saya tidak jadi membeli sampo sama sekali dan menunda membeli celana jeans. Kalau untuk hal sepele mungkin ini tidak terlalu menjadi masalah. Namun, ketika sesuatu yang harus kita pilih adalah hal penting seperti asuransi kesehatan atau investasi hari tua, menundanya bisa berakhir dengan kita tidak jadi membelinya sama sekali dan akhirnya bingung ketika sakit dan tidak memiliki apa pun yang bisa diandalkan di hari tua.

Kedua, kalau pun kita berhasil keluar dari kebingungan dan menentukan pilihan, kita cenderung tidak puas dengan pilihan yang diambil dibandingkan ketika kita memiliki lebih sedikit pilihan.2 Contohnya, ada ratusan jenis makanan yang bisa kita pilih di sebuah mall, tapi ternyata pilihan kita jatuh di makanan yang tidak enak. Kita akan menyesal membayangkan bagaimana menu lain mungkin lebih enak. Atau ketika kita sudah memilih satu asuransi kesehatan, tiba-tiba kita melihat iklan asuransi lain dengan premi yang lebih rendah namun dengan manfaat yang lebih banyak. Kita pun menyesal sudah memilih asuransi yang sudah kita beli. Terlepas dari fakta bahwa tidak ada jaminan bahwa menu makanan lain lebih enak dan asuransi lain benar-benar lebih menguntungkan, kita tetap tidak puas dan menyalahkan diri sendiri atas pilihan yang kita buat. Sekarang bayangkan jika di mall tersebut hanya ada satu jenis makanan dan hanya ada satu jenis asuransi di Indonesia. Kalau makanan itu tidak enak dan asuransi tersebut tidak seindah yang kita bayangkan benefitnya, paling-paling kita tinggal menyalahkan koki yang memasak dan perusahaan asuransi tersebut. Kita lalu move on. Kita tidak perlu menyalahkan diri sendiri. The world sucks. But the good news is it’s not our fault.

Ketiga, banyaknya pilihan membuat ekspektasi kita terhadap sesuatu meningkat.3 Kalau ada 100 merek minyak kelapa sawit di pasaran, pasti ada satu merek yang ‘sempurna’: minyak yang paling higienis, murah, dan sehat. Ada ratusan online shop yang menjual sprei. Kita memilih satu sprei berdasarkan foto produk yang sangat bagus. Ketika sampai ternyata bahannya kasar dan warnanya tidak seperti di foto. Akhirnya kita akan kecewa ketika barang yang kita beli tidak sesuai dengan ekspektasi awal ini. Ujung-ujungnya? Kita merasa kecewa karena hal yang sangat sepele. Jika ini hanya terjadi satu atau dua kali dalam hidup mungkin kita tidak akan terlalu merasakan efeknya. Namun, ketika ekspektasi kita terus-menerus bertentangan dengan realita yang ada tanpa sadar kita menjadi depresi dan tidak bahagia. Pilihan yang tidak terbatas jumlahnya telah menjadi sebuah paradoks. Alih-alih merasa bahagia, kita disulitkan dengan banyaknya pilihan.

Ironisnya, di kala banyak kelas menengah atas dipusingkan dengan masalah dunia pertama seperti bingung memilih merek sereal sarapan dan mau liburan ke mana, sekelompok masyarakat lain terjebak dalam kemiskinan struktural di mana pilihan hidup hanya ada tiga: bekerja mati-matian dengan penghasilan pas-pasan, melakukan pekerjaan ilegal dengan penghasilan (dan risiko) lebih besar, atau berdiam diri dan mati kelaparan.

Pemerintah dan para pemegang keputusan yang mengendalikan nasib orang banyak bukannya tidak melakukan apa-apa untuk membantu mereka yang kekurangan pilihan. Masalahnya, pemerintah pun terjebak dalam paradoks pilihan. Setiap hari. Bagaimana mengurangi angka kemiskinan? Bantuan tunai langsung atau membuka lapangan pekerjaan dalam skala masif? Apa solusi kemacetan? Membatasi jumlah peredaran kendaraan, menambah ruas jalan, atau membangun sarana transportasi massal dulu? Bagaimana mengatasi masalah banjir? Memindahkan dan menggusur orang-orang yang tinggal di bantaran kali dulu atau membersihkan sungai dan sumber air yang berpotensi meluap kala hujan besar? Selalu ada begitu banyak pilihan. Keadaan akan semakin sulit ketika kebijakan yang dipilih hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi orang banyak.

Lantas apa solusinya? Bagaimana caranya agar kita keluar dari lingkaran setan bernama paradoks pilihan? Schwartz percaya salah satunya adalah dengan ‘redistribusi pendapatan’. Dengan redistribusi kekayaan, diharapkan akses pilihan tak terbatas bagi sekelompok orang dipindahkan ke sekelompok orang yang tidak punya atau hanya punya sedikit sekali pilihan. Dengan kata lain, pareto improvement. Sebuah tindakan yang menguntungkan seseorang tanpa merugikan orang lain. Dengan mengurangi pilihan sekelompok orang dan memindahkannya ke orang lain yang punya lebih sedikit pilihan. Everybody is then happy. Atau paling tidak begitu teorinya.

Solusi sederhana bagi orang biasa seperti saya dan Anda adalah dengan berhenti memercayai dogma yang mengatakan bahwa banyaknya pilihan selalu berarti kebebasan dan kebebasan pasti berujung pada kebahagiaan dan kesejahteraan. Solusi terakhir adalah dengan secara sengaja mengurangi pilihan yang kita punya dan fokus pada sejumlah kecil pilihan saja. Anda yang berhak menentukan jumlahnya. Misalnya, solusi saya ketika memilih asuransi adalah dengan fokus pada 5 asuransi yang namanya paling sering saya dengar (walaupun mungkin bagi orang lain metode pemilihan ini sangatlah dangkal). Saya fokus riset pada 5 asuransi tersebut dan melupakan ratusan asuransi lainnya yang kemungkinan besar tidak akan pernah bisa saya pelajari semuanya. Untuk urusan sampo, saya belajar untuk fokus pada fungsinya saja, apakah untuk sekadar membersihkan rambut atau untuk menghilangkan ketombe. Saya juga menyerah mencoba menjadi fashionable dengan selalu memikirkan baju apa yang akan saya pakai hari ini. Saya mencoba fokus pada apa yang tersedia di lemari. Ketika terlanjur memilih menu yang tidak enak di restoran saya berhenti mengeluh dan move on. Pada akhirnya saya menyadari bahwa otak saya sangat lelah dengan decision making setiap menit dan setiap harinya. Waktu juga jadi banyak terbuang untuk mengurusi hal remeh-temeh. Lebih baik menghabiskan satu jam untuk bekerja atau membaca dibandingkan meriset kandungan sampo merek A.

Choose what matters and only do what gives meaning to life. 🙂

Cheers,

Haura Emilia

Referensi:

1,2,3Dikutip dan diterjemahkan dari presentasi Barry Schwartz, Paradox of Choice. https://www.youtube.com/watch?v=VO6XEQIsCoM

 

Candu Itu Bernama Smartphone

Catatan: Postingan ini ditulis berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi, serta terinspirasi dari artikel “Smartphone Addiction” yang ditulis oleh Melinda Smith, M.A., Lawrence Robinson, dan Jeanne Segal, Ph.D. Bagian-bagian artikel tersebut yang saya kutip dan terjemahkan saya berikan catatan kaki.

 

Image 1

 

Gak ada hape di atas meja setiap kita eat out, ya.”

Begitu usul saya ke Mamat beberapa waktu yang lalu. Sebenarnya, yang punya masalah dengan smartphone itu bukan Mamat, tapi demi mencari dukungan saya mengajak Mamat untuk tidak menyentuh hape saat kami makan di luar. Waktu tunggu makanan disajikan memang kadang tidak sebentar, sehingga saya mudah terpancing untuk memainkan hape. Sebenarnya saya merasa tidak nyaman melihat kebiasaan banyak orang sekarang yang sibuk sendiri main hape saat sedang berkumpul bersama keluarga atau teman. Namun, saya sendiri juga melakukannya dan sering kali hanya karena kebiasaan, bukan karena memang ada yang perlu saya cek. Saya rasa saya tidak sendirian. Ponsel pintar telah menjelma menjadi candu dan penyakit sosial selama kurang lebih 10 tahun terakhir.

Smartphone addiction dikenal juga sebagai “nomophobia”, yakni “perasaan takut tanpa kehadiran telepon selular”. 1 Kecanduan ponsel biasanya disebabkan oleh penggunaan internet dan aplikasi handphone yang berlebihan. Seperti layaknya masalah kecanduan lainnya, kecanduan ponsel juga menyebabkan banyak masalah bagi penderitanya. Pertama, penggunaan hape secara konstan dan dalam jangka waktu yang lama bisa membuat seseorang terisolasi dari lingkungan nyata. Ingat saat kita tidak benar-benar mendengarkan seorang teman bicara karena sibuk dengan hape? Kedua, alih-alih merasa tenang dan rileks, memainkan hape terlalu lama bisa membuat seseorang merasa semakin sedih dan depresi. Ketiga, kebiasaan ini mengalihkan perhatian dari pekerjaan lain. Coba kita perhatikan, berapa banyak pekerjaan kita di kantor atau rumah yang menjadi tertunda karena kita sibuk dengan handphone. Bahkan pekerjaan-pekerjaan kecil dan ‘sepele’ seperti mencuci keset dan lap dapur mungkin tidak kita kerjakan sama sekali. Lebih jauh lagi, keasikan kita menatap layar dan berinteraksi dengan follower, yang mungkin tidak benar-benar care dengan kita, telah mengurangi waktu tidur.

Kecanduan smartphone tanpa disadari juga mengurangi rentang fokus dan kesabaran penderitanya. Sejak mengenal smartphone saya menyadari bahwa rentang fokus saya menurun drastis. Dulu, menghabiskan waktu seharian untuk membaca buku bukan masalah besar untuk saya. Sejak kehadiran iPhone, sulit bagi saya untuk fokus pada satu kegiatan selama sejam. Memang otak manusia tidak dirancang untuk terus menerus fokus pada waktu yang lama. Otak perlu break paling tidak setiap 20 menit dari satu kegiatan yang memerlukan konsentrasi.2 Namun, saya menyadari bahwa menurunnya fokus ini lebih disebabkan oleh kebiasaan memainkan hape. Kenapa bisa begitu?

Di smartphone segala sesuatu terjadi begitu cepat dalam hitungan detik. Kita tidak perlu waktu lama menunggu balasan seseorang di Whatsapp. Notifikasi baru bisa datang setiap menit. Pertukaran informasi dengan orang lain terjadi secepat kilat. Situasi di media sosial pun memiliki ritme yang sama. Media sosial umumnya memberikan batasan jumlah karakter yang dapat diposting sehingga semua tulisan yang kita baca umumnya pendek; tulisan yang dihasilkan umumnya terdiri dari puluhan atau seratusan karakter. Berita-berita online didesain begitu pendek sehingga sangat mudah dan cepat dibaca. Akibatnya, secara tidak sadar kita memiliki ekspektasi yang sama ketika melakukan kegiatan lain yang tidak melibatkan smartphone. Kita berharap bisa menyelesaikan buku dengan cepat, ingin film yang kita tonton memiliki durasi yang lebih singkat, dan berpikir bahwa jarum jam bergerak dengan sangat lambat ketika kita harus fokus pada pekerjaan.

Pekerjaan dan jam tidur bukan satu-satunya hal yang dikorbankan, kecanduan smartphone juga bisa berpengaruh terhadap mood dan kepribadian kita. Seorang pencandu bisa merasa resah dan gelisah ketika tidak ada update apa pun di akun media sosialnya. Dia bisa merasa sedih dan kecewa ketika tidak ada seorang pun yang memberikan like pada postingannya. Dia merasa ‘hampa’ dan ‘ada yang kurang’ jika tidak memposting apa pun di media sosial dalam beberapa jam. Dia merasa takut ketinggalan berita terbaru. Dia cepat merasa kesal atau emosi ketika membaca berita dan opini yang tidak sesuai dengan pendapatnya. Mungkin dia juga secara rutin mengecek inbox emailnya setiap beberapa menit. Kecepatannya merespons pesan yang masuk tidak perlu dipertanyakan lagi. Kegelisahan, perilaku narsistik dan obsesif kompulsif menjadi agenda sehari-hari.

Mungkin banyak yang merasa familiar dengan kondisi yang saya gambarkan di atas. Bisa jadi Anda juga seorang pencandu. Berikut ini ada sebuah tes kecil yang bisa Anda kerjakan untuk mengetesnya. Tes ini saya terjemahkan (bebas) dari artikel ini.

  • Apakah Anda sering tanpa sadar menghabiskan waktu menggunakan handphone bahkan saat ada hal lain yang lebih baik untuk dikerjakan?
  • Apakah Anda merasa waktu berjalan dengan sangat cepat saat memainkan handphone?
  • Apakah Anda menghabiskan lebih banyak waktu dengan handphone dibandingkan orang di dunia nyata?
  • Apakah Anda berharap Anda menghabiskan lebih sedikit waktu dengan handphone?
  • Apakah Anda meletakkan handphone di samping Anda saat tidur?
  • Apakah Anda menggunakan handphone Anda sepanjang hari, bahkan ketika itu mengganggu aktivitas yang lain?
  • Apakah Anda menggunakan handphone saat mengemudikan kendaraan atau melakukan kegiatan lain yang memerlukan konsentrasi?
  • Apakah Anda sulit berpisah dengan handphone meskipun hanya sebentar saja?
  • Apakah Anda selalu membawa handphone saat Anda meninggalkan rumah dan merasa kesal jika tidak sengaja meninggalkannya di rumah?
  • Apakah handphone Anda ada di atas meja saat Anda makan?
  • Saat handphone Anda berbunyi, apakah Anda merasa harus segera memeriksa pesan masuk, tweet, email, update, dan lainnya?
  • Apakah Anda sering tanpa berpikir memeriksa handphone berkali-kali dalam sehari walaupun tidak ada hal yang baru atau penting untuk dilihat?

Jika Anda menjawab “Ya” lebih dari 4 kali, Anda perlu mengkaji berapa banyak waktu yang Anda habiskan dengan smartphone dan mempertimbangkan pola penggunaannya.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi kecanduan.

Pertama, seorang pencandu perlu menyadari bahwa dirinya menderita kecanduan dan ingin mencari solusi. Banyak pencandu yang saya kenal terlalu gengsi untuk mengakui kalau mereka kecanduan. Pengakuan adalah langkah awal yang penting karena tanpa menyadari masalah yang ada kita tidak akan mencari solusinya.

Kedua, kenali pemicunya.3 Kapan dan kenapa ingin memegang handphone? Apakah saat bosan? Atau karena sedih dan merasa depresi? Atau justru ketika sedang berbunga-bunga dan ingin membagikannya dengan seluruh dunia? Sering kali ada masalah psikologis yang lebih besar yang menyebabkan kecanduan dan perilaku obsesif kompulsif.4 Apakah kita punya masalah besar dalam hidup? Apakah kita menggunakan smartphone sebagai pelarian? Apakah kita merasa kesepian dan tidak memiliki teman untuk diajak berbagi di dunia nyata? Apakah kita merasa tidak mendapatkan perhatian dan pengakuan yang kita yakini pantas kita dapatkan? Tanyakan ke diri sendiri kenapa perlu menyentuh hape sekarang. Apakah benar-benar ada yang penting? Adakah yang harus dihubungi? Perlukah saya mengecek Instagram dan Facebook saya lagi?

Ketiga, mintalah bantuan orang terdekat untuk membantu dan memberikan dukungan. Sebaiknya kita mencari dukungan dari orang terdekat yang tidak kecanduan atau tingkat kecanduannya tidak separah kita. Dalam kasus saya pribadi, saya meminta bantuan suami untuk mengingatkan jika saya terlalu banyak menghabiskan waktu dengan hape. Mamat juga memberikan saya saran aktivitas lain atau buku menarik untuk dibaca.

Keempat, setel hape Anda sedemikian rupa, sebisa mungkin agar tidak mendukung aktivitas yang menjadi candu. Hapus aplikasi media sosial yang paling sering dicek. Ubah warna display hape menjadi hitam putih. Setel alarm yang mengingatkan Anda untuk tidur agar berhenti main handphone. Anda juga bisa mendownload aplikasi seperti Pops dan Forest yang membantu Anda mengurangi waktu penggunaan hape dan meningkatkan produktivitas kerja.

Kelima, Anda bisa mengatur kapan menggunakan handphone. Misalnya, antara jam 7 sampai 9 malam seusai kerja. Jauhkan smartphone saat bekerja dan tidur agar bisa mematuhi jadwal yang sudah ditetapkan.

Good luck! 😊

 

 

Catatan:

Image 1: The image doesn’t belong to me. It was taken from here. Contact me for removal.

Perilaku obsesif kompulsif  = kecenderungan untuk melakukan sesuatu secara berulang.

1,3,4https://www.helpguide.org/articles/addictions/smartphone-addiction.htm Melinda Smith, M.A., Lawrence Robinson, and Jeanne Segal, Ph.D.

2Lihat postingan saya sebelumnya tentang fokus dan produktivitas di sini.