Balada Jam Karet

Disclaimer: Tidak semua orang Indonesia itu jam karet. Bacalah tulisan ini sampai habis sebelum marah karena merasa tersindir. 😄

Ada satu kebiasaan buruk sebagian besar orang Indonesia yang saya kenal: yup, ‘ngaret’ alias ‘jam karet’ atawa hobi datang terlambat saat janjian. Saya pribadi tidak luput dari ‘dosa’ yang satu ini, walaupun saya yakin ngaret bukan nama tengah saya, yang berarti saya pada dasarnya tidak suka ngaret.

Ada banyak alasan kenapa orang kita ‘hobi’ ngaret. Mulai dari alasan paling klasik seperti ‘macet’, alasan yang paling sering dibuat-buat seperti ‘salah ingat waktu janjian’, ‘ada urusan mendadak’, sampai alasan yang sifatnya menyalahkan orang lain untuk menyelamatkan muka kita sendiri seperti ‘nyokap gw mendadak minta tolong’ atau ‘anak gw mendadak ngamuk dan minta mainan jadinya gw telat’. Oke deh sip.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Jakarta dan sekitarnya, saya tahu benar bahwa kadang kala kita tidak benar-benar bisa tepat waktu dan akhirnya ‘terpaksa’ ngaret. Jalanan Jakarta sering kali tidak bisa ditebak. Ada-ada saja kejadiannya. Kecelakaan lalu lintas lah (tabrakan atau truk terbalik), demo buruh atau ormas agama lah, pengeboman lah (this rarely happened thankgod, but it did happen anyway!), acara wisuda bikin macet lah, hujan, banjir, ada tamu kenegaraan datang ke Jakarta sehingga jalanan ditutup lah, ada perbaikan jalan dadakan lah, galian kabel, dan seterusnya dan seterusnya. Hal-hal yang saya sebutkan ini memang sering kali terjadi di luar kuasa kita sebagai manusia biasa. Tapi ini kan tidak terjadi setiap hari dan setiap kita janjian dengan seseorang. Dengan kata lain, kita ‘boleh’ ngaret sekali-sekali jika memang ada kondisi yang sangat memaksa dan tidak bisa kita kendalikan, berhubung kita bukan Dewa. 

Saya kira tadinya yang punya kebiasaan ngaret hanya orang Jakarta dan kota-kota besat lainnya berhubung kondisi jalanan sukar diprediksi. TAPI setelah saya tinggal di luar Jakarta (Bali dan Solo) dan beberapa kali mengunjungi berbagai kota di provinsi lain di Indonesia, ternyata ‘tradisi ngaret’ bukanlah unik milik orang Jakarta dan kota besar lainnya. Bahkan di tempat di mana kata ‘macet menggila’ tidak dikenal, orang kita tetap hobi ngaret. Alasan pastinya saya tidak tahu tapi saya mencoba mengira-ngira. Perkiraan saya tentu saja bisa salah, tapi yah tidak ada salahnya saya mencoba ‘menganalisis’ kenapa orang kita suka ngaret. Lumayan untuk dijadikan bahan renungan untuk belajar memahami situasi dan kondisi.

Pertama, sebagian besar orang Indonesia menganut budaya santai. Santai dalam arti ‘tidak terburu-buru’. Kenapa harus buru-buru? Masih ada kereta dan angkot selanjutnya. Kenapa harus jalan cepat-cepat? Kan capek dan terlalu panas di luar sana. Kenapa buru-buru? Toh matahari selalu bersinar dan tidak ada salju, jadi tidak usah buru-buru karena cuaca tidak ekstrim. Kenapa harus bergegas? Toh toko-toko, restoran, dan mall buka sampai malam. Kenapa harus cepat-cepat? Toh paling yang lain juga akan datang terlambat. Nah. Tidak alasan untuk tidak santai, bukan? Mari kita jalan lambat-lambat, mari kita tinggalkan rumah mepet-mepet waktu janjian. Naik motor cepat, kok. Pesen gojek cuma butuh menunggu 5 menit. 

Budaya santai ini ternyata punya sisi negatifnya sendiri. Kita menjadi orang-orang yang lambat dan gemar terlambat. Sisi positif budaya santai tentu saja ada:  kita menjadi orang-orang mudah memaklumi dan memahami keterlambatan dan kengaretan orang lain. Kenapa? Karena kita santai, karena kita ramah, karena kita suka basa-basi, karena kita tidak suka marah-marah untuk hal ‘sepele’ semacam ‘ngaret’. Kenapa harus kesal dan marah, sih? Situ lagi dapet? Santei aja kali. Orang-orang yang tidak suka ngaret pastilah orang-orang super serius dan tidak bisa menoleransi keadaan orang lain. Orang-orang yang tidak menyukai budaya ngaret pasti sudah kena cuci otak ‘budaya luar negeri’ dan merasa dirinya paling benar hanya karena dia tidak suka ngaret dan orang-orang yang hobi ngaret. Mungkin kita pernah berpikir demikian kalau kita termasuk yang hobi ngaret dan sering sebel disindir-sindir. 😝

Kedua, orang kita hobi ngaret mungkin karena tepat waktu bukanlah bagian dari pendidikan karakter dasar yang diajarkan di rumah dan sekolah sejak kita kecil. Kalau orang tua saya suka ngaret, guru sekolah saya sering masuk kelas terlambat, dan orang dewasa di sekitar saya selalu telat, kenapa saya tidak boleh jadi jam karet juga? Kenapa juga saya harus tepat waktu? Toh jadwal kereta sering terlambat, jadwal onboarding pesawat sering delay, bahkan jadwal rapat dan acara meeting/konferensi resmi tingkat nasional pun sering molor

Karakter suka menyalahkan keadaan dan malas berpikir ini membuat banyak orang Indonesia terjebak dalam budaya ngaret. Kita pasrah dengan keadaan, pasrah berada di tengah-tengah orang yang suka telat dan malah mengamininya dan jadi follower setia. Kita sering bercanda dan cengengesan bilang, “aahh ini kan sudah tradisi” ketika kita telat atau bertemu dengan orang dan situasi yang serba telat juga. 

Ketiga, banyak dari kita yang tidak menghargai arti pentingnya waktu bagi orang lain dan mengabaikan kemungkinan bahwa tidak semua orang punya waktu yang sama banyaknya dengan kita. Kalau si “tukang ngaret A”, misalnya, janjian ketemuan di mall X sama si “tepat waktu B”, si A berasumsi bahwa si B punya waktu dan kesabaran yang sama banyaknya dengan dia. Ketika mereka janjian untuk bertemu di mall X pada jam 11, si B datang pukul 10.55 dan si A muncul SATU JAM 10 MENIT kemudian. Lebih parahnya, si A datang tetap sambil senyam-senyum berwajah tanpa dosa dan dengan ceria bertanya ke si B, “sudah lama?” Si A ini mungkin tidak tahu (atau tidak mau tahu) kalau si B sudah ada janji lain pukul 11.30. Si A juga gak mikirin fakta kalau si B sudah jamuran garing nunggu si A. Si A tidak peduli kalau sebenarnya si B bisa menghabiskan waktunya untuk  melakukan hal produktif lain selain menunggu si A. Si A juga mungkin tidak sadar kalau si B sudah menghabiskan ekstra uang sakunya untuk beli minum lebih dulu hanya supaya bisa duduk di bangku cafe tempat dia janjian dengan si A.

Tentu saja, si B harus memaafkan si A kalau memang ada alasan valid dan dapat diterima akal sehat soal kenapa si A terlambat. Misalnya, motor si A disenggol orang di jalan dan dia harus membereskan urusan ini dulu. Atau, tiba-tiba ada demo atau kecelakan di jalan yang membuatnya terlambat. Tapi bagaimana kalau si A terlambat hanya karena dia hobi ngaret? Hanya karena si A telat bangun atau simply lelet. Si B tentu saja tidak akan pernah bisa benar-benar tahu kenapa si A terlambat. Si A bisa mengarang sejuta alasan. Still, the damage is done

Saya yakin masih ada alasan-alasan lain, alasan budaya atau psikologis, yang membuat banyak orang kita hobi ngaret. Tapi untuk sementara saya akan berhenti di tiga alasan yang saya anggap ‘klasik’ ini.

Jadi bagaimana kalau kita sudah terlanjur jadi ‘jam karet’? Bagaimana agar tidak ngaret?

Pertama, berangkatlah lebih awal. Jangan sepelekan kondisi jalanan. Terutama kalau kita tinggal di kota besar dan mau menghadiri acara-acara penting seperti rapat, wawancara, konferensi, atau naik transportasi berjadwal seperti kereta dan pesawat. Jangan tidur malam sebelum acara penting ini. Bangun lebih awal dan berangkat lebih cepat. 

Kedua, rencanakan bagaimana kita akan pergi ke tempat tujuan sebelum berangkat. Mau nyetir sendiri? Bawa motor? Naik angkot? Naik kereta? Pastikan kita tahu rute, jalan, dan nomor angkotnya. Buka Google Maps dulu sebelum pergi kalau kita tidak yakin mau lewat mana dan naik apa. Pikirkan juga apakah kita perlu mampir dulu ke suatu tempat sebelum menuju tempat tujuan. Hitung perkiraan waktu yang dibutuhkan. Perencanaan yang baik akan meminimalkan potensi ngaret dan memperbesar peluang kita datang tepat waktu.

Pikirkan dengan siapa kita akan pergi dan siapkan plan B jika terjadi sesuatu yang disebabkan oleh kerempongan bepergian rame-rame atau dengan keluarga. Mau pergi membawa anak? Tentu saja boleh, tapi rencanakan dengan baik. Adik saya misalnya, membawakan anaknya mainan favoritnya supaya si anak kalem dan tenang di pesawat. Walaupun ini bukan jaminan si anak tenang, tapi paling tidak perencanaan yang baik akan membantu kita mengantisipasi keadaan. Ingin mengajak keluarga besar bertemu sahabat lama kita? Oke saja asalkan beri tahu teman kita agar dia bisa mengantisipasi keadaan. Bukan hal yang sulit memberi tahu teman kita sekadar informasi sederhana seperti, “Oi bro, gue bawa bokap nyokap, berhubung mereka agak lelet siap-siapnya, maklumin kalau gue telat 15-20 menit ya”. Dengan begitu teman kita bisa mengantisipasi perkiraan waktu kita datang dan tidak menunggu kita dengan clueless dan kesal.

Kalau semuanya sudah direncanakan dengan baik sebelumnya, tapi ternyata kita tetap telat dan ngaret terlepas dari apa pun alasannya, apa yang harus kita lakukan?? Kalau kita sudah terlanjur ngaret atas alasan sepele, bagaimana sebaiknya kita bersikap??

Ketika kita di jalan dan menyadari bahwa kita akan telat, beri tahu teman kita lewat telepon, Whatsapp, atau sms. Berikan alasan singkat dan perkiraan waktu sampai. Jangan diam saja dan berasumsi teman kita juga akan telat atau mendadak hilang ingatan dan tidak bisa baca jam. 😔

Tapi seandainya kita tidak mungkin memberi tahu teman bahwa kita akan telat (misalnya karena kita nyetir atau hape ketinggalan), maka hal pertama yang harus kita lakukan saat kita tiba adalah MINTA MAAF. Minta maaf memang tidak serta merta menghapus ‘dosa’ kita dan tidak memperbaiki keadaan yang sudah rusak karena keterlambatan kita, tetapi meminta maaf akan memperpanjang hubungan baik di depan. Dengan meminta maaf berarti kita menunjukkan niat baik, penyesalan, dan niat untuk memperbaiki keadaan di masa yang akan  datang. Permintaan maaf yang tulus akan membuat kita lebih dihargai orang lain. Jangan datang dengan tampang cengengesan dan tanpa dosa apalagi pura-pura tidak tahu akan keterlambatan kita. Remember, manners maketh men. Everyone makes a mistake once in a while, but at least make it up with a sincere apology in a good manner.

Kedua, kalau memang kita sudah terlanjur telat karena alasan sepele (seperti telat bangun atau terlalu lelet bersiap-siap) please jangan karang alasan yang tidak masuk akal atau membuat alasan yang berkesan menimpakan kesalahan kita ke orang lain (misalnya, “anak gue nangis” ketika anak kita tidak menangis atau “suami gue tiba-tiba kebelet poop di jalan jadi harus cari toilet umum” ketika sang suami sebenarnya baik-baik saja). Kalau memang alasan terlambat kita sangat sepele dan murni kesalahan kita, tidak usah berikan excuse, cukup minta maaf dan berjanji agar ke depan lebih tepat waktu. Embrace and admit our mistakes. That’s what makes us a bigger person.

Semoga akan tiba waktunya bagi sebagian orang Indonesia untuk bangun dari tidur dan mulai menyadari betapa berharganya waktu dan mau belajar untuk menghargai waktu. Bukan semata untuk kepentingan pribadinya, melainkan juga untuk kepentingan orang lain.

Yuk, belajar tepat waktu dan tinggalkan budaya jam karet! 🙂🙂🙂
Cheers,

Haura Emilia

Iklan