Tips Membuat Bayi dan Batita Makan Tertib di High Chair

Halo Ibu Ibu dan Bapak Bapak pembaca setia atau pun pembaca baru saya,

Saya sering menerima pertanyaan tentang bagaimana caranya putri saya Reina (jalan 14 bulan dan sudah bisa jalan dengan lancar, Reina mulai jalan usia 11 bulan) bisa makan tertib sambil duduk di high chair. Nah beberapa waktu lalu saya sudah menulis jawabannya di status Whatsapp. Saya posting screenshot-nya saja di sini berhubung saya belum punya waktu untuk menulis ulang.

Yuk kita simak. Silakan tinggalkan komentar kalau ada pertanyaan, ya. Remember, be clear, polite, and kind. πŸ™‚

Next…

Kuncinya apa, Ibu Ibu dan Bapak Bapak? Kuncinya sabar, gigih, konsisten dan tidak memaksa!

Oh iya, sebagai informasi tambahan, sekarang Reina pakai high chair Yamatoya Sukusuku, ya.

Semoga bermanfaat!

Cheers,

Haura Emilia

Iklan

Lika-Liku Orang Tua Baru Part 4: Tim Pejuang Mpasi

Disclaimer: Saya bukan dokter dan tidak punya latar belakang pendidikan medis. Semua yang saya tulis murni pendapat dan riset pribadi. Selalu konsultasikan dengan dokter spesialis anak terkait mpasi dan kelengkapannya atau ketika anak tidak mau makan dalam jangka waktu yang panjang. πŸ™‚

Seperti layaknya ibu-ibu millenial lainnya, saya sudah ‘heboh’ cari tahu soal makanan pendamping asi (mpasi atau complimentary feeding dalam bahasa Inggris) sebelum Reina 6 bulan. Segala macam literatur saya baca, mulai dari yang sangat subjektif dan relatable seperti blog mama-mama jaman now, yang ringan tapi berbobot seperti buku popular panduan mpasi yang ditulis oleh ahli gizi dan dokter anak, sampai yang serius dan standar baku seperti panduan mpasi dari WHO.

Tidak cukup membaca berbagai literatur saja, saya juga sudah nonton semua seri Youtube seminar mpasi salah satu dokter anak yang paling terkenal di kalangan ibu-ibu gaul: Dr. Tiwi SpA. Saya juga sudah konsultasi langsung dengan dokternya Reina soal Mpasi. Saya sudah siap mpasi, nih. Begitu pikir saya. Dan… Ternyata saya SALAH BESAR. πŸ˜…

Layaknya semua ibu-ibu, saya mengharapkan skenario berikut ini saat bayinya mulai makan: anak lahap makan, buka mulut dikasih apa saja, makan dengan riang gembira, berat badan naik normal, anak sehat dan aktif. POLOS banget ya saya? 🀣 Ternyata hidup tidak semudah itu, Marimar. Sebagai stay-at-home mom yang masih bekerja juga, gak punya ART, tinggal bertiga saja sama suami dan anak, plus jauh dari orang tua dan mertua, saya tadinya berencana mengombinasikan makanan rumahan dan instan untuk Reina. Maksudnya sih supaya saya tetap waras, tidak masak setiap hari. Jadi niatnya selang seling antara homemade dan instan. Tapi apa daya, kenyataannya Reina mulai menolak makan instan di hari ke-12 mpasi dan mulai menolak bubur sama sekali di minggu ke-2 mpasi. Aduh, Reina GTM (gerakan tutup mulut alias gak mau makan). Begitulah dugaan awal saya.

Tidak ada yang lebih bikin ibu-ibu stres selain anak sakit dan gak mau makan. Saya pun mencoba memberikan Reina berbagai macam bubur instan dan home-made dengan berbagai macam rasa dan topping. Anaknya tetap mingkem rapet bagaikan dilem mulutnya. Semua teori mpasi dan cara memberi makan bayi tiba-tiba menguap dari kepala saya berhubung saya sudah stres duluan. πŸ˜…

Tapi dasar saya anak sekolahan (baca: terlalu lama di bangku sekolah – kira-kira 20 tahun🀣), saya mencoba tetap waras dan memakai logika saya. Kalau logika sudah maju, emosi dan perasaan harus mundur dulu. Saya mencoba menerapkan apa yang bertahun-tahun saya pelajari: berpikir ilmiah. Ya, saya memutuskan untuk memperlakukan problem saya (anak susah makan) sebagai sebuah ‘subjek penelitian’ untuk mencari tahu akar masalah dan solusinya. Saya mulai mengobservasi tingkah laku dan pola makan Reina setiap harinya. Saya membuat jurnal dan food diary untuk mengumpulkan data yang nantinya bisa saya ‘analisis’ dan buat ‘hipotesisnya’.

Begini typical jurnal dan diary-nya:

Jadi setiap selesai mengamati pola dan respons makan Reina, saya membuat sebuah hipotesis. Misalnya: Reina maunya makan yang dingin-dingin, mungkin lagi teething; Reina gak suka sendoknya, maunya disuapin tangan; Reina menolak makan bubur sepertinya minta naik tekstur; Reina gak mood makan di pagi hari karena baru minum asi, dst. Setelah membuat satu hipotesis, saya akan uji selama beberapa hari untuk melihat apakah hipotesis saya benar. Memang sih, beberapa hipotesis tidak bisa saya konfirmasi kebenarannya sampai sekarang πŸ˜‚, tapi toh dari sini saya jadi banyak sekali belajar. Apa saja yang saya pelajari dan hasil dari ‘penelitian’ ini?

Pertama, saya jadi sadar bahwa makan adalah skill yang sangat kompleks bagi seorang bayi. Makan bukanlah sekadar proses mangap buka mulut dan mengunyah lalu telan. Literatur ternyata juga berkata demikian. Menurut Stevenson & Allaire (1991) yang saya kutip dari sini, perkembangan makan dan menelan anak itu merupakan interaksi dari banyak faktor! Diagramnya begini (diambil dari link yang sama):

Ada faktor keluarga/pengasuh, faktor si anak itu sendiri, dan faktor lain yang turunannya ada banyak lagi yang mempengaruhi perkembangan makan anak. Untuk menelan saja, salah satu komponen makan pada bayi, dibutuhkan 26 otot mulut, tenggorokan dan esofagus. Menelan juga melibatkan banyak saraf di tengkorak kepala, yang semuanya harus berkoordinasi dengan pernapasan. Itu baru satu faktor: faktor fisik si anak. Belum lagi faktor-faktor lainnya. Wow. See, makan itu JAUH lebih dari sekadar buka mulut dan telan. πŸ˜… Jadi sesungguhnya tahap mpasi adalah tahap belajar yang ‘berat’ bagi bayi kita. Itulah kenapa stock sabar orang tua harus berjuta-juta. Anak-anak kita yang baik itu sebenarnya sedang berusaha keras berjuang, belajar makan. Peran kita sebagai orang tua harusnya adalah pengajar, pembimbing dan pendukung utama. πŸ™‚

Kedua, berhubung Reina menolak makan makanan instan, saya jadi termotivasi membuat berbagai jenis makanan homemade untuk memberikan dia gizi yang seimbang. Hasilnya sejauh ini Reina sudah mencoba berbagai jenis makanan, dan bisa makan berbagai macam rasa, warna, aroma dan tekstur. Siapa yang menduga kalau bayi ternyata bisa suka sekali dengan kembang kol, yogurth plain (yang asam), keju edam (yang ada rasa pahit dan getirnya), dan pakchoy? Saya rasa itu karena saya memberikan Reina kesempatan untuk mencoba berbagai rasa, tanpa takut duluan dia bakalan menolak atau tidak suka.

Ketiga, saya jadi sudah mencoba berbagai metode pemberian mpasi seperti spoon-feeding, baby-led weaning (BLW-bayi makan sendiri) dan kombinasi keduanya, sambil mempelajari semua metode tersebut. Salah satu hasil observasi saya adalah Reina suka makan sendiri dan tampak menikmati prosesnya. Saya pun membeli buku tentang BLW dan mempelajari teknik, kekurangan, dan kelebihan metode ini. Hasilnya, Reina sudah terbiasa dengan finger food dan kemampuan motoriknya semakin terasah karena setiap hari saya memberikan dia kesempatan untuk memegang makanannya sendiri. Sekarang di usia 8 bulan, Reina bisa dengan asik mengambil makanannya di piring dan memasukannya ke dalam mulut.

Keempat, karena kegigihan mamanya memberikan berbagai macam jenis makanan dengan tekstur yang dinaikkan secara bertahap, sekarang Reina sudah bisa mengunyah nasi dan makanan rumahan (table food) yang bertekstur kasar.

Kelima, saya jadi banyak sekali belajar tentang bahan-bahan alami yang aman dimakan oleh bayi. Saya yang tadinya tidak paham bedanya steel-cut, wholegrain, quick-cooking, rolled, dan instant oats, sekarang jadi tahu. Yang tadinya tidak paham soal pasta sekarang jadi sudah belajar tentang pasta yang aman untuk bayi. Yang tadinya tidak tahu makanan apa yang mengandung paling banyak zat besi dan zinc yang diperlukan bayi, sekarang jadi tahu. Yang tadinya mengira olive oil adalah minyak terbaik untuk bayi, sekarang santai menggunakan minyak sawit biasa atau minyak nabati lainnya. Yang tadinya berpikir salmon ikan paling tinggi nutrisinya, sekarang beralih ke ikan kembung. The list goes on.

Terakhir, dan mungkin juga yang paling penting, dari perjalanan dan pengamatan saya selama mpasi Reina saya jadi belajar mengenal dan memahami putri saya. Saya jadi tahu kalau anak memang membutuhkan suasana makan yang menyenangkan agar mau makan. Bahwa gestur positif dan senyuman ibu bisa jadi penyemangat anak untuk makan. Tidak jarang saya bernyanyi sebelum membawa Reina ke ruang makan. Sebelum saya letakkan dia di high-chair-nya saya tatap matanya dan saya ajak dia bicara. Saya katakan padanya, “Reina, makan, yuk. Reina sudah lapar belum?”, atau “It’s breakfast time, Rei. Are you ready to eat?”, atau “Mama feels like having some banana today, would you like some?”, atau “Mama masak pasta nih hari ini, Reina mau coba, gak?”, atau “Kelinci makannya wortel, lho. Reina suka wortel, gak?” Semua saya katakan dengan nada yang ceria dan bersemangat. Biasanya Reina akan merespons saya dengan senyuman atau bahkan tawa. Saya tidak tahu seberapa banyak yang dia pahami, tapi komunikasi kami ini biasanya berhasil mengawali acara makan dia dengan mood yang baik.

Dengan segala usaha yang sudah saya coba, apakah Reina tidak pernah GTM lagi? Apakah selalu lancar makannya? Jawabannya tidak juga. Sesekali tetap ada hari di mana dia tidak mau makan sebanyak yang saya inginkan. Tapi saya berusaha keras untuk tidak terlalu kecewa.

Saya memilih untuk memberikan Reina waktu untuk belajar. Bukan hanya belajar makan, tapi juga belajar memahami dirinya, belajar mengenali rasa kenyang dan lapar, belajar memutuskan kapan dia mau makan banyak, kapan hanya sedikit, kapan sedang ingin makan buah kapan ingin makan nasi, belajar bahwa makan seharusnya adalah proses yang menyenangkan, bukan sebuah siksaan. Saya ingin memberikan dia kesempatan untuk belajar bahwa segala sesuatu memerlukan proses dan bahwa proses itu penting.

Mungkin saya berharap terlalu banyak, tapi saya juga berharap pada akhirnya ketika suatu hari dia bisa makan sendiri dengan lancar, dia akan tahu bahwa dia dibesarkan dengan penuh cinta. Bahwa mama adalah pendukung utamanya. πŸ™‚

Cheers,

Haura Emilia

Catatan: Buat ibu-ibu dan orang tua pejuang mpasi lainnya, semoga kita semua tetap sabar dan telaten dalam berjuang mengasuh dan memberi makan anak. Tidak ada orang tua yang sempurna. It’s okay. After all, our children don’t need perfect parents, they need people who stay with them and help them grow. ☺️

Lika-Liku Orang Tua Baru Part 3: Baby Blues dan Postpartum Depression

Pagi itu perut saya terasa sakit, rupanya itu akibat panggilan alam yang sulit dihindari. The nature calls. Ingin rasanya segera berlari ke toilet dan menyelesaikan urusan ‘duniawi’ ini, tapi apa daya, si bayi sedang rewel menangis minta ditemani. Sore hari sebelumnya Reina baru diimunisasi DPT 1. Konon kalau kita menggunakan vaksin paten yang jauh lebih mahal dari keluaran Biofarma, peluang anak demam berkurang drastis. Tapi toh ternyata Reina tetap demam.

Kembali ke urusan toilet tadi, karena Reina menangis saya tidak bisa begitu saja meninggalkannya. Masalahnya lagi, baba Reina sedang tidak di rumah. Dia sedang ada keperluan di luar. Jadi saya terpaksa tinggal di rumah berdua saja dengan Reina. Sambil meringis saya pun berusaha menenangkan Reina. Sempat terpikir untuk meletakkan Reina di stroller dan membawanya ke kamar mandi bersama saya. Tapi akhirnya saya memilih untuk mengabaikan panggilan alam sampai suami saya pulang.

Di lain waktu, saat saya sedang menikmati makan siang, Reina tiba-tiba terbangun dari bobok siangnya. Entah mengapa dia tiba-tiba terbangun padahal belum sejam dia tidur. Buru-buru saya naik ke lantai atas menuju kamar, dengan piring masih di tangan. Setelah mencuci tangan saya menghampiri Reina. Saya periksa popok kainnya, ternyata tidak basah. Mungkin dia hanya bermimpi buruk atau tiba-tiba merasa lapar. Segera saya menyusuinya. Lalu saya dengar perut saya berbunyi. Saya teringat bahwa saya belum sempat menikmati makan siang saya. Maka dengan satu tangan saya makan. Tangan saya yang satunya memegangi Reina yang sedang menyusu.

Kalau Anda perempuan dan seorang ibu, cerita di atas mungkin terdengar familiar. Seorang ibu harus mengorbankan banyak hal saat membesarkan anak-anaknya. Hal-hal sederhana seperti pergi ke toilet dengan damai, menikmati makan siang, sarapan sambil membalas Whatsapp, pergi ke salon dan mall menjadi barang mewah bagi seorang ibu yang baru melahirkan atau sedang menyusui. Seorang ibu tidak bisa seenaknya pergi meninggalkan rumah untuk nonton film terbaru karena ada bayi yang bisa kapan saja minta disusui. Ibu juga tidak bisa berlama-lama menikmati segarnya shower sambil keramas karena tidak mungkin meninggalkan si bayi sendiri. Keadaan ini tidak mudah berhubung si ibu kurang tidur, kemungkinan besar juga kurang makan, masih merasakan sakit yang diakibatkan trauma setelah melahirkan dan lelah secara fisik maupun mental.

Kelelahan atau fatigue bisa menyebabkan seorang ibu mengalami baby blues, yang biasanya berlangsung selama 2 minggu setelah melahirkan. Gejalanya, si ibu jadi sensitif, mudah marah atau menangis, merasa sedih dan tidak berdaya. Dalam kasus yang lebih serius, baby blues bisa berkembang menjadi postpartum depression. This is where things get really serious.

Beberapa tahun yang lalu saya kehilangan seorang teman dengan cara yang tragis. Dia mengakhiri hidupnya beberapa bulan setelah anaknya lahir. Dia tidak pernah mendapatkan bantuan ahli, seperti psikiater atau psikolog, entah karena kami, lingkungannya, cenderung mengabaikan stres yang dialami seorang ibu yang baru melahirkan, atau mungkin karena kami tidak menyadari bahwa apa yang dia alami adalah sesuatu yang serius. Atau mungkin keduanya.

Kalau mau jujur, proses hamil, melahirkan, dan menyusui memang tidak mudah. Masalahnya, masyarakat kita banyak yang menyepelekan apa yang dialami dan dirasakan seorang ibu. Bahkan sering kali seorang ibu dianggap lemah atau cengeng jika banyak menangis atau mengeluh pasca melahirkan. Tapi tahukah Anda bahwa postpartum depression adalah penyakit nyata yang membutuhkan perawatan profesional? Efek gejala postpartum depression yang diabaikan bisa membahayakan ibu dan bayinya. Ibu bisa memiliki keinginan untuk menyakiti diri atau bayinya, dalam kasus yang parah malah bisa mengakhiri hidup sendiri, bayinya, atau keduanya.

Salah satu kasus postpartum depression yang paling terkenal adalah kasus Andrea Yates. Yates ada seorang ibu dari Texas, AS, yang mengaku membunuh ke-5 orang anaknya dengan cara menenggelamkan mereka semua pada tanggal 20 Juni 2001. Yates didiagnosis postpartum psychosis, bentuk parah dari postpartum depression. Memang mungkin hanya ada sedikit kasus seperti ini, namun ini membuktikan bahwa depresi pascamelahirkan adalah suatu yang nyata, dan penderitanya bukan sekadar lemah iman, lebay, atau cengeng.

Setelah melahirkan, saya merasakan sendiri lelahnya mengurus anak. Terlebih-lebih lagi saya tidak punya asisten rumah tangga, jauh dari orang tua, sehingga harus mengurus bayi, rumah, pekerjaan, dan kucing berdua saja dengan suami. Ada kalanya saya merasa sangat lelah dan bosan. Dua hal ini bisa memicu stres. Apalagi kalau si bayi sedang rewel atau demam (seperti saat pascaimunisasi DPT). Suami saya yang sudah begitu supportive pun kadang tidak bisa menghentikan air mata saya yang tumpah karena terlalu penat dan lelah mengurus semuanya. Jadi, saya bisa memahami betapa sulitnya menjadi ibu baru apalagi jika suami dan keluarga tidak sepenuhnya mendukung, atau malah menambahkan beban kepada si ibu.

Cara terbaik untuk membantu ibu terhindar dari baby blues berkepanjangan adalah dengan memberikan bantuan dan mendengarkan keluhan-keluhannya. Seorang ibu baru memerlukan support system yang kuat untuk menjalankan hari-harinya. Semua ibu menyayangi bayinya, tapi bahkan ibu yang paling bahagia pun bisa sakit, lelah, kesal, dan sesekali ingin berteriak karena frustrasi. Ibu tidak hanya memerlukan orang untuk membantunya mengurus bayi dan pekerjaan rumah tangga, tapi ibu juga memerlukan teman bicara dan berbagi. Di sinilah peran suami atau orang terdekat lain dibutuhkan.

Saya cukup beruntung. Walaupun tidak ada asisten rumah tangga, suami saya sangat membantu dan memahami situasi dan kondisi saya. Di malam hari, selepas magrib saat si bayi sudah tertidur, dia menyuruh saya pergi ke cafe dekat rumah untuk sekadar membuka laptop dan menulis blog sambil menikmati secangkir kopi dan sepotong cookie. Dia tahu bahwa seorang ibu yang dunianya adalah bayinya tetap membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri, melakukan hal yang tidak berhubungan dengan anaknya. Perlu dipahami bahwa memiliki “me time” tidak menjadikan seorang ibu egois. Toh, ibu tidak perlu waktu lama untuk sendiri, dia akan segera kembali ke anaknya, ke dunianya. πŸ™‚

Ibu-ibu lain mungkin tidak seberuntung saya. Mungkin mereka tidak memiliki support system yang baik, mungkin mereka memiliki masalah ekonomi atau hal-hal lain yang membebani pikiran ketika mereka seharusnya hanya fokus merawat anak(-anak)nya saja. Jika Anda melihat seorang ibu dengan gejala baby blues berkepanjangan atau terlihat sedih dan depresi, tidak ada salahnya menanyakan kabarnya. Satu panggilan telepon atau sapaan di Whatsapp kadang bisa mencerahkan hari atau bahkan menyelamatkan hidup seorang ibu. Untuk para suami, berbaik hati dan dukunglah istrimu. Dia sudah mengorbankan diri dan hidupnya untuk melahirkan dan membesarkan anak-anakmu. Anak-anak tidak bisa besar hanya dengan uang. πŸ™‚ Kalau pergi ke psikiater dirasa terlalu mahal, paling tidak dengarkan curhatannya, ya.

Saat tulisan ini dibuat saya sedang santai sendiri, sementara si bayi dimandikan bapaknya. Sehari sebelumnya dia membantu saya melipat semua pakaian kering. Sungguh, bantuan-bantuan kecil seperti ini terasa besar dan merupakan obat lelah yang ampuh. Sepertinya sudah saatnya saya melambaikan tangan dadah-dadah ke si baby blues. Senyum dulu, ah. 😊

Cheers,

Haura Emilia

Lika-Liku Orang Tua Baru Part 2: Cerita Asi dan Menyusui

Disclaimer: Saya bukan dokter anak dan tidak memiliki latar belakang pendidikan di dunia medis. Apa yang saya tulis di sini murni pengalaman saya pribadi. Selama hamil saya aktif membaca buku dan literatur online mengenai asi dan menyusui, jadi beberapa hal yang saya tulis di sini juga berpedoman pada sumber-sumber tersebut. Harap diingat bahwa setiap bayi itu berbeda dan setiap dokter anak punya penilaian, standar, gaya, dan metode yang berbeda juga. Banyak-banyaklah membaca sumber tepercaya selama menyusui dan konsultasikan dengan dokter laktasi atau spesialis anak untuk masalah seputar asi dan menyusui.

Putri saya lahir prematur di usia kandungan 36 minggu 3 hari karena air ketuban pecah dini. Reina lahir dengan berat badan 2,9 kg dan panjang 48 cm. Namun saya beruntung, karena asi saya langsung keluar di hari saya melahirkannya. Kolostrum* saya terhitung cukup banyak, saya dapat 1/2 botol 100 ml asi di hari pertama. Ini luar biasa mengingat saya hanya sempat IMD* selama beberapa menit (karena melahirkan lewat metode sesar atau c-section), dan bayi sebenarnya hanya butuh 5-7 ml atau 1 sendok makan asi setiap kali minum di hari pertama kelahirannya berhubung ukuran lambungnya hanya sebesar kelereng.

Sebelum pulang ke rumah, berat badan Reina turun menjadi 2,7 kg. Berat badan (bb) turun adalah hal yang biasa pada bayi baru lahir karena umumnya bayi baru belajar menyusui atau kadang karena air susu ibunya belum keluar atau masih sedikit sekali. Selain bb yang turun, kulit Reina juga terlihat sedikit kuning. Dokter spesialis anak (DSA) yang membantu saya lahiran menjelaskan bahwa kuning pada bayi yang baru lahir adalah biasa. Faktanya, ada beberapa jenis kuning (jaundice) pada bayi, kuning yang masuk kategori normal atau yang disebut dengan kuning fisiologis dan kuning yang masuk kategori penyakit atau kuning patologis. Menurut sang DSA, kuning yang dialami Reina adalah kuning fisiologis yang akan hilang dengan sendirinya dengan ASI sehingga tidak memerlukan perawatan apa-apa.

Penjelasan yang diberikan Dr. Lucy (DSA Reina) sesuai dengan apa yang saya baca di buku-buku tentang ASI, jadi saya tenang dan sama sekali tidak panik. Kami pun pulang ke rumah dengan hati riang. Di rumah, perjuangan sesungguhnya menyusui pun dimulai….

Seperti kebanyakan ibu-ibu baru lainnya, saya kesulitan menyusui Reina walaupun saya sudah lelah membaca dan nonton youtube mengenai cara latching (pelekatan) yang benar. Menyusui, my dear friend, tidak semudah yang saya dan Anda (yang belum punya anak) bayangkan. Menyusui bukan hanya sekadar bayi mangap hap dan menghisap puting ibu lalu minum susu sampai tertidur kekenyangan. Pelekatan yang benar dan ideal adalah ketika bayi memasukkan sebagian besar areola (area gelap di sekitar puting) ibu ke dalam mulutnya, bukan hanya putingnya saja. Dagu bayi sebaiknya menempel ke payudara ibu agar hidungnya tidak tertutup dan bisa bebas bernafas selama menyusu. Areola ibu harus masuk ke mulut bayi karena sebenarnya dari situlah air susu lebih banyak keluar, bukan dari puting.

Gambar di atas adalah contoh pelekatan yang benar. Gambar saya ambil dari Google.

Sayangnya, hal ini tidak mudah. Bayi rata-rata tidak langsung bisa melekat dengan benar. Bayi perlu waktu untuk belajar dan ibu juga perlu mengeksplorasi posisi yang tepat untuk membantu bayi melekat dengan sempurna. Akibat dari pelekatan yang tidak benar adalah puting lecet, bahkan bisa berdarah, dan tentunya rasa nyeri tidak terperi.

Awalnya saya konsultasi dengan konselor menyusui. Ketika diajari saya merasa oke. Tapi begitu bu konselor pulang, saya kesulitan lagi melekatkan Reina. Lalu saya berinisiatif mengambil kelas privat menyusui dengan konselor asi lainnya, kali ini orang Aimi (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia). Selama kelas berlangsung, Reina bisa membuka lebar mulutnya dan memasukkan sebagian besar areola. Sip, saya pikir masalah saya selesai. Tapi ternyata belum. Saya perhatikan Reina hanya sanggup membuka mulut lebar dalam hitungan detik saja. Setelah itu dia mengerucutkan lagi mulutnya dan kembali hanya menghisap puting saja. Ini membuat saya kesakitan and meringis-ringis.

Akhirnya saya berkonsultasi dengan DSA Reina, Dr. Lucy, yang juga dokter laktasi. Saya bercerita bahwa saya kesulitan menyusui Reina karena Reina kesulitan membuka mulut lebar. Dr. Lucy memeriksa gaya saya menyusui dan mengatakan bahwa posisi menyusui saya sudah benar. Beliau menyarankan agar saya terus menyusui Reina dan tidak terlalu terpaku pada pelekatan. Yang lebih penting adalah menghitung jumlah pipis Reina dalam sehari (minimal 6x) untuk memastikan bahwa dia mendapatkan asupan asi yang cukup. Jika jumlah pipis cukup dan kenaikan berat badannya sesuai standar saya hanya perlu menunggu sampai Reina bisa menyusu dengan baik dan puting saya tidak sakit lagi.

Ketika Reina umur sebulan, saya kembali kontrol ke Dr. Lucy. Menurut chart pertumbuhan bb bayi yang mengikuti standar WHO, sebulan setelah lahir seharusnya bb bayi bertambah 900 gr dari berat lahirnya, yang berarti seharusnya bb Reina 3,8 kg. Nyatanya, setelah ditimbang bb Reina hanya 3,25 kg! Ini berarti ada yang salah. 😿

Saya terdiam di depan ruang praktik dokter sebelum menemui Dr. Lucy. Selama beberapa menit saya merasa ingin menangis dan merasa bersalah terhadap Reina. Saya terus bertanya-tanya apa yang salah dengan cara saya. Saya merasa sudah melakukan yang terbaik. Saya sudah mempelajari teori asi dan menyusui dari literatur tepercaya. Saya sudah mengambil kelas privat menyusui dengan orang yang tepat. Bak mahasiswa yang mau ujian, saya bahkan punya jurnal yang isinya semua teori asi yang sudah saya pelajari, hapal, dan tulis ulang. Kenapa ibu-ibu lain yang mungkin tidak berusaha sekeras saya tidak mengalami masalah yang sama? Apa yang salah?

Yang lebih membuat sedih adalah fakta bahwa asi perah saya sangat banyak menumpuk di freezer. Dalam sebulan saya sudah berhasil menyimpan sekitar 100 kantong asi perah di dalam kulkas. Ini menyedihkan, asi ibunya banyak tapi anaknya kurus, tidak tercapai target penambahan berat badannya. πŸ˜“ Saya begitu disiplin memompa asi, sekitar 5-6x sehari ketika bayi tertidur. Asi yang tidak dikeluarkan dalam waktu lama bisa menyebabkan penyumbatan pada kelenjar susu dan bisa menyebabkan peradangan dan mastitis. Saya jadi semakin sedih dan menyalahkan diri sendiri.

Pikiran-pikiran negatif berkecamuk di kepala saya selama beberapa menit. Saya merasa sangat emosional dan ingin menangis. Tapi lalu logika mengambil alih. Otak kiri mengatakan bahwa saya terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa ada yang salah dengan cara saya. Otak kiri memerintahkan saya untuk tidak terbawa perasaan dan sebaiknya mulai mengumpulkan fakta dengan bertanya kepada dokter.

Ketika Dr. Lucy mengetahui bahwa bb Reina kurang 550 gr dari yang seharusnya, beliau mengambil Reina dan memeriksa mulut Reina. Dia memakai sarung tangan karet dan memasukkan jarinya ke mulut Reina. Ternyata Reina tongue-tie. Tonguetie atau ankyloglossia adalah kelainan kongenital di mana lidah tidak leluasa bergerak karena frenulum lidah yang terlalu pendek. Frenulum lidah adalah jaringan tipis di bawah lidah bagian tengah yang menghubungkan lidah dengan dasar mulut.* Begini contohnya (gambar saya ambil dari Google):

Rupanya inilah yang menyebabkan Reina kesulitan menyusu. Kondisi ini menyebabkan Reina tidak bisa menghisap asi dengan sempurna. Lalu, kebetulan Reina poop dan Dr. Lucy melihat poopnya. Warnanya hijau tua, alih-alih kuning (warna acuan). Ini berarti Reina lebih banyak mengonsumsi foremilk dibandingkan hindmilk (googling sendiri untuk tahu definisi dan perbedaannya, ya). Perpaduan tongue-tie dan terlalu banyak foremilk menyebabkan kenaikan bb tidak maksimal. Kesimpulannya, yang salah bukan cara menyusui saya. Untung tadi saya tidak baper lama-lama.

Dokter anak lain mungkin akan langsung menyarankan saya untuk memberi Reina formula agar bb nya cepat bertambah dan mengejar ketinggalan. Puji Tuhan, tidak dengan Dr. Lucy yang sangat pro asi. Dr. Lucy menyarankan saya menggunakan metode suplementasi. Suplementasi berarti memberikan asi perah (asip) ke bayi pada saat menyusui melalui selang. Metode ini ditujukan agar bayi mendapatkan dua sumber asi, dari payudara ibu dan dari asip yang diberikan lewat selang. Bayi dengan tongue-tie cenderung lebih sulit menghisap asi langsung, maka penambahan asip lewat selang akan memudahkan dan mempercepat dia mendapatkan air susu. Bagaimana caranya memberikan asip lewat selang sambil menyusui? Kira-kira begini contoh yang saya dapat dari foto Supplemental Nursing System Medela:

Gambar πŸ‘†: Bayi mendapatkan 2 sumber asi: payudara ibu dan asip yang diletakkan di dalam wadah dan diberikan lewat selang.

Gambar πŸ‘†: Alat suplementasi dari Medela.

Dr. Lucy tidak menyarankan memakai alat di atas karena sulit dicari dan harganya juga lumayan mahal (sekitar 600-800 ribuan, tergantung seller). Sebagai gantinya, beliau meresepkan selang intubasi dan syringe pump untuk tempat si asi perah, yang jauh lebih terjangkau.

Gambar πŸ‘†: syringe pump.

Tapi pada akhirnya saya tidak memakai si syringe pump karena sering macet. Sempat coba pakai botol susu biasa tapi kok ternyata ribet meganginnya. Akhirnya setelah trial and error berbagai wadah, saya menemukan wadah yang pas juga: Medela soft-cup feeder. Feeder ini warisan keponakan saya dulu yang menyusu asi perah berhubung ibunya pekerja kantoran. Asip saya masukkan ke dalam soft-cup feeder yang bagian atasnya sudah saya lepas, lalu saya masukkan selang. Percaya atau tidak, ini ide ayahnya Reina (makasih, Baba! Kamu memang ayah asi sejati! πŸ˜„). Hasilnya seperti ini:

Dokter menyuruh saya kembali konsultasi 2 minggu setelah mencoba metode ini. Ia berpesan bahwa berat Reina harus nambah paling tidak 450 gr dalam 2 minggu.

Awal-awal pemberian asip lewat selang ini lumayan drama, tidak mudah. Pertama, selang sering lepas kalau posisinya tidak pas. Selain itu, asip bisa tidak terhisap juga. Belum lagi kalau tidak hati-hati, Reina bisa tersedak selang. Tapi, dengan kesabaran dan ketelatenan akhirnya Reina bisa minum asip lewat selang dengan lancar. Setelah 2 minggu, saya kembali ke Dr. Lucy. Saat ditimbang ternyata bb Reina naik melesat 700 gr. πŸ˜„ Ini berarti metode suplementasi berhasil untuk Reina. Horeee! Senangnya melampaui selesai menulis tesis master dulu. 🀣

Reina menggunakan metode suplementasi ini sekitar sebulan. Di usia 2 bulan tiba-tiba saja dia bisa lancar menyusui. Mungkin benar kata sahabat saya Mey-Mey, kadang solusi suatu masalah cuma menunggu. Waktu yang akan menyelesaikan. Tsahh… πŸ˜†

Sekarang usia Reina sudah 3 bulan dan dari bulan ke-2 menuju bulan ke-3 bb Reina bertambah 1 kilo (yang berarti sehat dan normal). Sekarang bb Reina sudah 5 kiloan. Ini bb yang cukup apalagi jika mengingat Reina lahir prematur dan lahir dengan bb 2,9 kg, plus ada tongue-tie. Dengan panjang badan 60 cm, postur Reina terlihat langsing, yang tembem cuma pipinya (nasib punya keturunan mama yang chubby).

Banyak sekali hal yang saya pelajari tentang menyusui. Selama menyusui bayi mendapatkan banyak sekali stimulasi karena dengan menyusui bayi menggunakan jauh lebih banyak otot dan tenaga dibandingkan menyusu dari botol. Menyusui juga menguatkan ikatan atau bonding ibu dan bayi. Bayi belajar mengenali ibunya melalui bau, sentuhan, dan pendengarannya (karena penglihatan dan jarak pandang bayi masih terbatas). Sentuhan ibu juga menstimulasi otak bayi, membantu pertumbuhan dan perkembangannya. Dengan menyusu langsung, bayi juga jadi terpapar bakteri baik di tubuh ibu dan ini membantu menguatkan sistem imun tubuhnya. Jadi, seberat (dan se-boring) apa pun proses menyusui itu, manfaatnya jauh lebih besar. Selama tidak ada indikasi medis yang melarang bayi menyusu langsung pada ibunya, menyusu langsung ke payudara ibu (direct breastfeeding) adalah yang terbaik bagi bayi.

Kalau boleh jujur, menyusui adalah aktivitas yang menuntut komitmen tangguh dari seorang ibu dan memerlukan dukungan penuh dari ayahnya. Bayi baru lahir bisa menyusui 8-12x sehari dan kadang malah lebih. Ini bisa menjadi rutinitas yang sangat melelahkan dan membosankan. Bagi banyak ibu, menyusui juga membuat mereka sering lapar dan haus. Rasa lapar, haus, mengantuk, kelelahan serta nyeri is a recipe to disaster. πŸ˜‚ Jadi harap maklum kalau ibu menyusui kadang jadi sensitif, baper, atau malah galak bukan main. Mereka cuma lelah dan butuh dukungan. Haha.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan ayah untuk mendukung ibu selama proses menyusui. Membantu meringankan beban kerja ibu, memberikan pijat oksitosin untuk melancarkan LDR (let down reflex atau proses keluarnya asi), membuat ibu senang dan tenang (dengan cara memberikan tas LV, banyak camilan enak dan pujian) adalah bentuk dukungan terbaik. Suami adalah support system terbaik yang bisa dimiliki seorang ibu menyusui. Lagipula, anaknya kan anak bersama, maka mengurusnya juga harus bersama-sama.

Saya benar-benar berharap bisa memberikan Reina asi hingga dia 2 tahun. Memang kadang ada saja ibu-ibu yang produksi asinya berhenti sebelum 2 tahun, alasannya bisa banyak, but until then, I’ll keep my fingers crossed. πŸ™‚ Wish me luck! Untuk ibu-ibu pejuang asi lainnya, yang sekarang sedang berjuang menyusui buah hatinya, tetap semangat dan jangan putus asa. Jangan ragu untuk meminta saran ke dokter laktasi jika ada keraguan atau pertanyaan. Jangan biarkan masalah menyusui berlarut-larut tanpa dicari solusinya. At the end of the day, breastfeeding does and will get better! πŸ’ͺ

Gambar bonus, Reina si bayi asi. πŸ‘†

Cheers,

Haura Emilia

Catatan:

Kolostrum: cairan asi yang keluar pertama kali setelah bayi lahir, warnanya kekuningan dan kental.

IMD: Inisiasi Menyusui Dini. Pemberian asi segera setelah bayi lahir, biasanya 30 menit-1 jam setelah bayi lahir.

Lika-Liku Orang Tua Baru Part 1: Team Work Ayah dan Ibu

Catatan: Tulisan ini adalah bagian pertama dari seri “Lika-liku orang tua baru” yang menceritakan kehidupan saya setelah menjadi orang tua. Di bagian pertama ini saya akan menjawab pertanyaan keluarga dan teman yang sering bertanya bagaimana caranya kami bertahan mengurus bayi dan rumah tanpa ART sambil tetap bekerja mencari nafkah. Di postingan-postingan berikutnya saya akan menulis tentang ibu menyusui dan ayah asi, baby blues dan post partum depression, tumbuh kembang bayi, vaksinasi dan topik-topik terkait kehidupan orang tua baru lainnya. Saya menulis seri ini agar kelak putri kami bisa membaca memoir tentang bagaimana dia dibesarkan. πŸ™‚

“However pragmatic you are, it is very demanding being a new parent.”

-Robert Winston-

Indeed. Being a new parent is VERY demanding. Paling tidak itu yang saya rasakan sejak kelahiran putri pertama saya. Saya berusia 32 tahun ketika putri saya lahir. Saya menghabiskan paling tidak 10 tahun untuk berpikir dan mempertimbangkan sebelum memutuskan untuk memiliki anak. Benar, punya anak sebenarnya tidak pernah jadi prioritas dalam hidup saya. Saya tipe perempuan yang juga tidak begitu ‘kebelet’ menikah dan memilih untuk menjalankan hidup mengikuti arus saja. Jika bertemu orang yang tepat maka saya akan menikah dan punya anak. Jika tidak ya sudah, saya bisa melakukan hal lain, misalnya mengejar karir atau sekolah sampai mentok, bekerja sampai tua, dan keliling dunia.

Sepuluh tahun sejak lulus kuliah akhirnya saya punya anak. Waktu itu saya pikir 10 tahun adalah waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri untuk menjadi orang tua. Dan karena saya kala itu berusia 30 tahun dan suami saya 33 tahun, saya pikir kami (paling tidak saya, deh) sudah siap secara mental untuk memiliki anak. Saya sudah bisa membayangkan lelahnya mengurus bayi, hilangnya kesenangan-kesenangan kecil yang sebelum punya anak biasa dinikmati, dan berubahnya pola hidup sehari-hari, di mana siang menjadi malam dan malam menjadi siang. Saya sudah siap. At least I thought I was. Pada kenyataannya, tidak ada yang benar-benar bisa menyiapkan kita untuk menjadi orang tua baru. Menjadi orang tua baru hanya baru benar-benar bisa dipahami setelah menjalaninya sendiri. Menjadi orang tua baru bisa menjadi lebih sulit dari yang kita bayangkan.

Satu hal yang saya pelajari dari menjadi orang tua baru adalah pasangan memerlukan team work yang luar biasa kuat agar parenthood bisa berjalan, anak tumbuh sehat dan kedua orang tua tetap waras. Sebelum punya anak, saya dan suami hanya tinggal berdua dengan tiga ekor kucing kami. Kami tidak punya asisten rumah tangga dan jauh dari orang tua, jadi kami terbiasa melakukan semuanya sendiri. Suami saya pernah lumayan lama tinggal di luar negeri, saya pun pernah menjalaninya walau hanya dua tahun. Pengalaman ini membuat konsep ART dan babysitter menjadi asing bagi kami. Dalam konsep rumah tangga kami, segala sesuatu dilakukan berdua. Kalau benar-benar perlu bantuan orang lain baru nanti dicari solusinya. Kami biasa membagi rata pekerjaan rumah tangga. Misalnya, suami saya bertanggung jawab membersihkan lantai bawah, saya handle lantai atas.

Ketika putri kami lahir, otomatis tanggung jawab kami bertambah. Sekarang ada satu bayi yang harus diurus. Sebagian besar waktu saya habis dengan menyusui si newborn. Bayi baru lahir menyusui dengan pola on demand, kapan saja, di mana pun, sebanyak dan sesering yang dia inginkan. Awalnya saya merasa kewalahan, pekerjaan rumah bagian saya tidak terpegang karena saya fokus dengan si bayi. Sementara suami saya sudah kembali bekerja setelah cuti 2 minggu.

Meskipun saya dan suami bekerja dari rumah (tidak perlu ngantor), pekerjaan kami membutuhkan fokus dan konsentrasi penuh sehingga tidak bisa disambil. Kalau sedang bekerja ya bekerja saja. Suami saya harus disiplin dan pintar-pintar membagi waktu antara bekerja, membantu mengurus si bayi, dan memberi makan kucing. Berhubung porsi beres-beres rumah saya berkurang, tugas yang tadinya bagian saya mau tidak mau pindah ke dia.

Lantas bagaimana cara kami mengatur waktu, membagi-baginya untuk bekerja, membersihkan rumah, mengurus bayi, dan memberi makan kucing? Jawabannya tidak mudah, namun mungkin dilakukan dengan memutar otak sedikit. Di sini lah kerja sama tim menjadi sangat penting. Kata kuncinya adalah mengotomatisasi pekerjaan rumah, menyederhanakan pola hidup, bersikap fleksibel, mengatur waktu dan metode belanja, serta disiplin dengan jadwal bayi.

Pertama, kami memutuskan untuk mengotomatisasi sebanyak mungkin hal untuk mengurangi beban kerja rumah tangga. Baju kami cuci dengan mesin. Kami juga membeli robot vacuum yang bisa menyapu sekaligus mengepel ruangan. Tidak murah, namun tetap lebih hemat dari menggaji ART (yang toh juga sulit dicari) selama 8 bulan (menurut standar kota tempat saya tinggal, Solo). Robot ini hemat listrik, hanya perlu 70 watt untuk mengisi dayanya sampai penuh (bisa membersihkan seluruh rumah dan masih sisa powernya). Robot ini bisa diatur jam berapa mulai bersih-bersih dan bisa dikendalikan lewat aplikasi di smartphone. Kita juga bisa memeriksa status pekerjaan dan sisa daya baterai si robot lewat aplikasi tersebut. Berikut penampakan robotnya:

Kedua, kami menyederhanakan apa yang kami bisa, misalnya soal memasak dan makan. Karena nyaris tidak ada waktu memasak, kami terpaksa membeli makanan atau jika ada waktu sedikit untuk memasak saya akan memasak makanan yang sangat sederhana seperti ayam goreng dan sayuran rebus/kukus. Modal peralatan masak saya hanya air fyer, fuzzy rice cooker, dan panci kukus. Menggoreng tanpa minyak sangat mudah, praktis dan lebih sehat dengan menggunakan air fryer. Sederhananya, berbagai jenis protein yang sudah dibumbui sebelumnya hanya tinggal ‘dilempar’ ke dalam air fryer, dan segala jenis sayuran hanya perlu direbus atau dikukus. Kami makan tanpa mengeluh dan menikmati saja apa yang ada. Kalau bosan saya biasanya masak makanan yang tidak kalah mudahnya dibuat seperti sandwich atau pasta. Mau lebih gampang lagi? Tinggal beli di luar atau pesan GoFood. Hehe.

Penyederhanaan lainnya berupa pilihan pakaian yang bahannya tidak perlu disetrika. Kami mengusahakan hanya memakai pakaian-pakaian yang tidak mudah kusut sehingga kami tidak perlu menyetrika. Jasa laundry kiloan memang lebih praktis, tapi kami tidak mungkin memercayakan perawatan baju bayi di laundry kiloan. Lagi pula, menurut keterangan di label baju bayi, rata-rata pakaian sehari-hari bayi tidak perlu disetrika. Hanya perlu dicuci mesin (atau tangan) dengan detergen khusus dan dikeringkan.

Ketiga, kami sepakat untuk bersikap fleksibel terkait pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak. Siapa pun yang sempat akan mengerjakan pekerjaan rumah atau memegang bayi. Misalnya, kalau waktu saya yang agak luang, saya yang akan mencuci pakaian. Kalau suami sedang main dengan bayi dan si bayi poop maka dia yang akan mengganti popoknya. Di malam hari pun kami bergantian mengganti popoknya. Siapa saja yang sempat membersihkan kamar mandi atau mencuci piring akan melakukannya. Tidak perlu tunggu-tungguan atau berharap yang lain yang akan mengerjakan.

Gambar: Baba memandikan dan memakaikan baju Reina.

Keempat, kami mengatur waktu dan metode belanja dengan jadwal dan metode yang menurut kami paling efektif dan efisien. Kami berbelanja grocery seminggu sekali, biasanya di hari yang sama. Karena waktu di pagi hari sudah habis untuk sarapan, beres-beres rumah, menyusui dan memandikan bayi, belanja otomatis hanya bisa dilakukan setelah magrib, sesudah si bayi terlelap. Biasanya yang pergi belanja adalah saya, karena suami biasa bekerja sampai malam. Jadi, suami bekerja sambil menjaga anak di rumah, sementara saya pergi ke pasar swalayan untuk belanja. Berhubung bahan makanan yang kami perlukan sangat simple dan tidak membutuhkan banyak bumbu, saya tidak perlu belanja ke pasar tradisional (yang toh tidak buka di malam hari).

Untuk belanja keperluan bulanan bayi seperti pospak dan perlengkapan mandi, saya membelinya dengan cara online. Selain lebih murah, dengan belanja online saya tidak perlu ke luar rumah. Hemat tenaga, waktu, ongkos dan tentunya lebih ramah lingkungan (tidak perlu naik kendaraan berbahan bakar).

Kelima, kami berusaha selalu disiplin dengan jadwal bayi. Kami memandikan Reina di jam yang hampir sama setiap hari, pagi dan sore. Mulai pukul 18.30 kami meredupkan lampu kamar dan melakukan aktivitas dengan suara seminim mungkin untuk mengajarkan bayi perbedaan siang dan malam dan memudahkannya tidur. Oh iya, kami tidak punya TV di dalam kamar. TV hanya ada di ruang keluarga dan itu pun jarang kami nyalakan. Hasilnya, Reina selalu sudah terlelap sekitar pukul 19.00. Dia baru bangun lagi untuk menyusu sekitar pukul 23.30. Ya, Reina sudah bisa tidur pulas 4.5 – 6 jam tanpa bangun atau gelisah sejak umur 2 bulan. Kami berusaha disiplin dan mempertahankan rutinitas ini agar kami berdua juga bisa beristirahat di malam hari dan tetap waras setiap harinya. 😹

Membesarkan anak sambil tetap mencari nafkah tanpa bantuan orang tua, mertua, saudara dan ART memang tidak mudah, namun ini bukanlah hal yang tidak mungkin. (Tapi perlu diingat bahwa ini mungkin hanya berlaku jika anak Anda hanya atau baru satu orang. Kalau lebih tentu lain lagi ceritanya.) Dengan manajemen waktu yang efisien dan disiplin, kami berdua sejauh ini berhasil menjalaninya. Saya bahkan masih sempat riset soal tumbuh kembang bayi, menulis blog, dan mengupdate Instagram serta status Whatsapp, khas gaya ibu milenial πŸ˜‚ (biasanya saat si bayi tidur).

Cheers,

Haura Emilia

Hyperemesis Gravidarum: Pregnancy Gone Bad

Malam itu saya terbangun untuk yang ke sekian kalinya. Dada saya terasa terbakar, lidah terasa pahit dan saya bisa merasakan asam lambung naik ke tenggorokan. Rasa mual menjalar lebih cepat dari yang saya harapkan. Dengan mata mengantuk dan kepala sakit, saya menyeret kaki ke toilet. Dalam hitungan detik saya memuntahkan seluruh isi perut saya, yang tidak lebih dari cairan kuning ke dalam toilet bowl. Dada saya masih sakit dan tenggorokan saya terasa terbakar. Itu adalah muntah saya ke-8 kalinya hari itu. Saya duduk di hadapan toilet dengan wajah setengah masuk ke lubang, lalu saya menangis terisak. Saya merasa sangat lelah, lemas, marah, dan putus asa. Sebagian dari diri saya menyesali mengapa saya harus hamil dengan kondisi seperti ini. Sebagian diri yang lain menyesali kehamilan itu sendiri.

Di tengah banyak penyesalan tersebut, saya merasa takut setiap kali malam tiba. Saya takut menghadapi esok hari karena saya tahu hal yang sama akan terulang lagi. Besok saya akan muntah-muntah hebat lagi. Kala itu, saya sedang hamil 8 minggu.

Hampir semua perempuan yang saya kenal mengatakan bahwa hamil adalah masa-masa paling indah dalam hidup mereka dan bahwa memiliki anak adalah hal paling membahagiakan dalam hidup. Mereka bercerita dan menceramahi saya bahwa mual muntah adalah hal yang biasa selama hamil. Perempuan harus kuat, tidak boleh mengeluh, tidak boleh mengutuk, tidak boleh bermuram durja. Tidak sedikit pula yang coba menasihati saya untuk minum obat ini itu, jamu ABC, pergi ke dokter XYZ, dan membaca doa serta mantra. Mereka mungkin lupa atau tidak sadar bahwa pengalaman kehamilan seseorang berbeda-beda, tidak ada yang sama. Dan hanya karena kehamilan mereka terasa ringan dan nyaris tanpa masalah, bukan berarti hal yang sama dialami perempuan lainnya.

Ketika saya curhat ke dokter kandungan bahwa saya muntah paling sedikit 4x sehari dan maksimal 8x sehari, dengan rata-rata 6x sehari, tanggapan beliau adalah “Biasa, itu biasa. Tidak apa-apa.” Hell yeah, saya merasa kesal. Tentu saja tidak apa-apa buat Anda, Pak. Anda laki-laki. Sehebat apa pun ilmu Bapak, Bapak tidak akan pernah tahu rasanya hamil. Saya hanya mengharapkan sedikit rasa simpati (atau pura-pura simpati pun tidak apa). Itu akan sangat membantu berhubung semua obat mual yang Anda berikan tidak ada yang mempan.

Saya tidak pernah didiagnosis dengan Hyperemesis Gravidarum (HG). Tapi adik saya pernah. Apa itu HG? HG adalah kondisi yang dalam level lanjut bisa mengancam nyawa ibu hamil karena jumlah muntah yang berlebihan (ada sumber yang mengatakan lebih dari 6x sehari). Pada kasus adik saya yang 2x mengalami HG, adik saya muntah 15-20x dalam sehari sampai bulan ke-5 masa kehamilannya. Apa pun yang dia konsumsi, air mineral sekali pun, akan langsung dia muntahkan. Jarak terlama antara 1 muntah ke muntah lainnya kadang hanya 10 menit. Karena sangat sedikitnya makanan dan cairan yang masuk, pada kehamilan pertamanya, adik saya turun berat badan sebanyak 7 kilogram. Sekadar info, adik saya tingginya 168 cm dengan berat badan sebelum hamil hanya 51 kg, maka setelah turun berat badan, bobot adik saya hanya tinggal 44 kg. 168 cm, 44 kg, dan hamil. Silakan bayangkan sendiri kondisi adik saya.

Pada kehamilan kedua, adik saya tidak bisa lagi pergi ke kantor karena dia terlalu lemah dan sakit untuk berjalan. Dia sempat dirawat di RS dan satu-satunya yang membuat kondisinya lebih baik adalah infus. Tidak satu pun obat yang diberikan manjur. Dia tetap muntah-muntah hebat. Tubuhnya menjadi lemah karena rendahnya kadar glukosa dan kalium dalam tubuh. Hal ini diperparah dengan stres karena tidak bisa bekerja dan karena dia punya balita di rumah.

Sayangnya, rekan-rekan di kantor dan atasannya tidak banyak membantu. Kebanyakan hanya bertanya dengan nada tidak percaya, “Separah itu, ya?”. Yang lebih menyebalkan lagi, banyak juga rekan kerja perempuan yang berkomentar, “Dulu gue hamil gak begitu, tuh.” Seakan-akan mereka berbagi gen dan punya kondisi tubuh dan riwayat kesehatan yang sama persis.

Dia sering menelepon saya dan menangis selama masa-masa ini. Ketika saya hamil dan mengalami kondisi yang mirip (dengan tingkat keparahan yang lebih ringan), saya gantian menelepon dia dan menangis. Kami tahu rasanya. Kami tahu rasanya melihat perut yang rata (trimester pertama perut belum membesar), tidak terlihat hamil, tapi mengalami kondisi yang sangat berat. Kami tahu bagaimana rasanya memeriksa kalender setiap hari dan menghitung hari untuk mengetahui usia kandungan. Berharap badai akan segera berlalu. Kami tahu rasanya saat rasa lapar menyerang dan perut terasa diiris-iris, namun nafsu makan sama sekali nol, dan ketika memaksa makan, apa pun yang masuk akan langsung keluar. Kami paham rasanya marah dan bertanya-tanya apakah kehamilan kami layak dipertahankan. Is this worth it? Why should I go with it? Why am I doing this to myself?

Kondisi fisik dan situasi yang ada selama masa-masa sulit ini membuat penderita HG mudah terjebak dalam stres dan depresi berkepanjangan. Dalam kasus kami, saya dan adik saya sering sekali menangis keras atau pun diam-diam (ketika tenaga sudah tidak ada lagi).

Saya dan adik saya bukan perempuan lemah. Kami besar dalam kondisi yang tidak mudah, dalam lingkungan yang serba keras. Saya sendiri pernah sakit waktu saya tinggal sendiri di negeri orang dan harus dioperasi sendirian, tanpa ditemani keluarga. Apakah saya menangis kala itu? Ya, tapi tidak separah saat saya hamil.

Adik saya bukan perempuan cengeng. Dia tidak takut sama sekali saat giginya dicabut dengan metode bedah waktu SD. Dia tidak menangis meraung saat harus menjalani operasi payudara karena mastitis. Saya dan adik saya sangat tegar saat ayah kami dalam kondisi kritis dan dokter memprediksi usia beliau tidak akan lama lagi. Saya sangat tenang dan waras saat ayah saya meninggal. Saya tidak berteriak, saya tidak marah.

Tapi ketika saya hamil sampai usia kehamilan 20 minggu, semua hal-hal tidak menyenangkan dan sakit rasanya saya alami. Saya merasa begitu putus asa dan menderita. Yang lebih menyedihkan adalah saya dan juga adik saya harus berpura-pura kuat dan tegar, agar tidak dibilang cengeng. Terpaksa mengamini semua komentar orang yang dengan enteng bilang, “Dinikmati saja lah.” Memang, lidah tidak bertulang.

So, I’ll say it here. My pregnancy sucks. It was so bad that I wanted to kill myself sometimes. There you go. Judge me. Satu-satunya pengobat duka saya adalah bercerita ke adik saya, orang yang paham betul apa yang saya alami. Orang yang, walaupun tahu betul bahagianya menjadi ibu, dengan jujur mengatakan “Pregnancy sucks. That’s the truth. At least for us.” Orang yang tidak berpura-pura bilang “hamil itu nikmat”. Orang yang tidak menasihati untuk bersabar.

Saya menulis ini bukan untuk curhat, tapi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat umum tentang Hyperemesis Gravidarum. Jika Anda atau istri atau orang yang Anda kenal mengalaminya, ketahuilah bahwa mereka tidak butuh nasihat, tidak ingin disuruh bersabar, tidak mau diharapkan untuk berpura-pura kuat. Mereka hanya butuh didengarkan tanpa dihakimi. Mereka hanya butuh dipeluk dan digenggam tangannya. Tentu akan lebih baik jika ada orang yang bisa membantu mereka masak atau membelikan makanan, apa pun yang mereka mau. Mereka bukannya manja, bukan suka mengeluh, bukan sekadar ngidam. Hyperemesis Gravidarum is real and it’s a life-threatening condition. Belum ada obatnya (correct me if I am wrong). Penderitanya berada dalam masa di mana hidup terlalu berat untuk dijalani sendirian, tanpa orang-orang yang percaya, mau berusaha mengerti dan mendengarkan.

Cheers

Haura Emilia

Note:

I don’t own the images above. Contact me for removal.

Further reading:

http://parenting.firstcry.com/articles/hyperemesis-gravidarum-causes-symptoms-treatment/

Balada Mencari SpOG di Kota Solo

“While it may seem like a trivial matter, the doctor-patient relationship is actually one of the most intimate and important relationships there is.”

-Jon Bonnet-

Disclaimer: Tulisan ini murni pendapat pribadi saya yang telah saya usahakan seobjektif mungkin. Ekspektasi dan penilaian saya bisa jadi sangat berbeda dengan pembaca sekalian. Satu lagi, jangan menggunakan tulisan saya sebagai referensi medis. Saya bukan dokter. Silakan kontak dokter masing-masing untuk menanyakan masalah medis Anda. Jadilah pembaca yang cerdas. πŸ™‚

Bagi sebagian perempuan hamil yang tinggal di kota-kota di Indonesia, mencari dokter kandungan yang tepat mungkin bukan masalah serius yang harus mendapatkan perhatian ekstra. Malah ada juga yang memilih pergi ke bidan. Ini sah-sah saja. Namun, bagi sebagian lainnya, terutama calon ibu-ibu millenial dengan latar belakang tingkat pendidikan yang cukup tinggi, mencari dokter kandungan (SpOG) yang tepat adalah hal yang sangat penting. Paling tidak, buat saya ini masalah penting dan serius.

Bagaimana tidak? Dokter kandungan idealnya adalah ‘sahabat’ ibu hamil yang, kalau bisa, mendampinginya selama 9 bulan penuh hingga waktunya melahirkan. Untuk ‘bersahabat’ dengan seseorang dalam jangka waktu yang lumayan lama, sudah tentu kita memerlukan kecocokan. Dokter ini nantinya akan memeriksa kandungan kita setiap bulan, memberikan masukan dan saran medis, menentukan resep obat/vitamin yang akan kita minum, diharapkan akan menemukan ‘kelainan’ pada kandungan atau janin kita (jika ada masalah), hingga menegakkan diagnosis apakah kita bisa melahirkan secara spontan (vaginal birth) atau harus melalui operasi sesar (c-section).

Sebagai orang yang baru tinggal di kota Solo selama 2 tahunan dan belum memiliki teman, saya tidak punya ide sama sekali soal proses, tempat, dan dokter spesialis kebidanan di kota Solo. Insting pertama saya tentu bertanya kepada Mbah Google. Sayangnya, belum banyak informasi mengenai dokter kandungan dengan kriteria yang saya inginkan. Forum ibu hamil di Solo kebanyakan isinya obrolan para ibu tentang dokter kandungan yang pernah mereka temui atau membantu mereka melahirkan. Karena forum ini sifatnya tidak formal dan terdiri dari kumpulan ibu-ibu netizen dengan latar belakang sosial ekonomi serta latar belakang pendidikan yang sangat beragam, rata-rata pendapatnya sifatnya subjektif, konversasional, tidak lengkap, terkadang irasional, dan sering kali asumtif. πŸ˜„

Saya pribadi menginginkan dokter yang komunikatif, tidak pelit informasi, tidak malas menjelaskan, rasional, fokus pada bidangnya saja (dunia medis), dan kalau bisa antreannya tidak panjang. πŸ˜‚ Nah, berhubung saya banyak maunya (lol), saya sempat shopping (baca: gonta-ganti) dokter kandungan sebanyak 5x! Dalam tulisan ini saya tidak akan membeberkan semua nama dokter tersebut, untuk menghindari tuduhan ‘pencemaran nama baik’ atau masalah lain di kemudian hari (walaupun saya sama sekali tidak ada maksud menjelekkan siapa pun, ya). Saya akan memberikan inisialnya saja. Buat yang penasaran nama asli dokternya bisa menghubungi saya via email atau direct message di sini.

Oke, mari kita mulai balada pencarian dokter SpOG di kota Solo.

Dokter pertama yang saya temui adalah Dokter DK. Dokter ini termasuk jajaran dokter kandungan paling senior di Kota Solo. Beliau praktek di 2 RS swasta terkenal dan 1 apotek yang merangkap tempat praktek dokter di daerah Solo Baru. Cukup lama saya berkonsultasi dengan beliau, berhubung saya juga mengikuti program hamil dengan beliau sampai akhirnya berhasil 1 tahun 2 bulan kemudian. Perlu dicatat bahwa saya berumur 32 dan suami berumur 34 saat mengetahui bahwa saya hamil. Setelah hamil, saya terus berkonsultasi dengan beliau sampai umur kehamilan sekitar 3 bulan. Dokter DK orangnya sangatlah sabar, lemah lembut, baik hati, seperti kakek saya sendiri. Serius. Beliau juga sangat santai dan menenangkan ketika bicara dan menjelaskan. Bahasanya pun sangat santun. Tapi… beliau selalu memberikan obat dan vitamin yang harganya relatif mahal untuk ukuran kota Solo. Sekali konsultasi pasti lebih dari sejuta rupiah dengan tebusan resepnya. Ongkos konsultasi beliau (di apotek) sih tidak mahal, 150 ribu per kunjungan, sudah termasuk USG. Nah, sisanya yang mahal adalah obat plus vitaminnya yang seabreg-abreg.

Saya sebenarnya tidak keberatan dengan biayanya, karena saya besar di Jakarta dan pernah tinggal di Singapura yang biayanya dokter dan layanan kesehatannya berkali-kali lipat dari di Solo. Tapi…. akhirnya saya memutuskan untuk mencari dokter yang lain. Kenapa?

Jadi, di trimester awal kehamilan saya, saya termasuk yang kurang beruntung karena mengalami mual muntah parah 6x sehari, pusing, lemas, dan tidak bertenaga sama sekali (karena makanan sulit masuk), sehingga saya terpaksa bed rest. Pengalaman unik muntah-muntah ini mengajarkan saya bahwa untuk mengurangi muntah saya perlu makan sesering mungkin, kalau perlu sejam sekali dan harus makanan berat (baca: terutama karbohidrat dan protein). Metode ini berhasil untuk saya, lebih ampuh dari berbagai obat muntah yang diresepkan Dokter DK. Muntah-muntah saya berkurang jadi 3-4x sehari.

Masalahnya, metode ini bukannya tanpa efek samping. Karena banyaknya kalori yang masuk sementara saya bed rest alias tiduran doang selama 17 minggu pertama, berat badan saya melesat naik dengan mengerikan. Puncaknya, ada bulan di mana berat badan saya naik sebanyak 4 kilo!!! Saya sudah tentu stres. Bukan semata karena saya takut gendut, tapi karena saya tahu bahwa kenaikan berat badan yang drastis dan banyak berbahaya bagi kehamilan. Kenaikan bb yang tidak terkontrol berpotensi diabetes gestasional (diabetes selama masa kehamilan), bb janin yang terlalu besar sehingga mempersulit persalinan spontan (normal), serta masalah-masalah kesehatan lainnya pada ibu hamil (monggo digoogle sendiri ya, ibu-ibu).

Naah, saya kan curhat tuh sama Dokter DK soal bb saya yang melonjak drastis padahal baru trimester pertama. Apa jawabannya? “Oh, santai saja. Tidak ada batasan harus naik bb berapa selama kehamilan, 20 kilo atau 40 kilo boleh.” Saya bengong. Suami saya bengong. Abang mie ayam depan apotek bengong. Angin semilir berhembus. Lalu diganti jadi topan. Bumi luluh lantak. Dramatis abis. Hihi…*. Intinya, saya dan suami terkejut. Tanpa bermaksud sok tahu dan sok pintar, dengan segala kerendahan hati, semua buku dan literatur kehamilan yang saya baca (saya baca sekitar 4 buku kehamilan yang ditulis oleh SpOG) dan puluhan (kalau tidak ratusan) artikel medis di website luar negeri tepercaya, menyatakan bahwa berat badan yang naik drastis dan berlebihan TIDAK baik bagi kesehatan ibu dan janin. Kenaikan bb yang dianjurkan per bulan sebaiknya tidak lebih dari 2 kilogram, kecuali mungkin pada kasus tertentu di mana ibu hamil sangat kurus, kurang nutrisi, buruk gizi, atau kondisi lainnya. Bahkan untuk ibu dengan berat pra hamil di atas BMI normal (baca: obesitas) tidak disarankan naik bb di atas 7-9 kilo selama 9 bulan masa kehamilan.

Jadi, bagaimana mungkin Dokter DK menyuruh saya santai ketika bb saya naik bisa 4 kilo sebulan??? πŸ˜” Bayangkan kalau naik 4 kilo sebulan selama 9 bulan kehamilan, saya akan berubah jadi sebentuk globe atau gym ball yang harus menyeret badan untuk sekadar pergi ke toilet. No thanks, Baby. Setelah beberapa kali konsul masih mendapat respons yang sama, saya pun memantapkan hati pindah ke dokter lain.

Dokter kedua yang saya jumpai adalah seorang dokter kandungan muda dengan tubuh gempal dan senyum yang sangat ramah. Beliau praktek di salah satu RS swasta terkenal di bilangan Jebres solo. Dilihat dari mukanya, rasanya umur dokter ini tidak jauh dari saya. Sotoy*. Hihi. Sebut saja namanya Dokter SS. Saya langsung to the point bilang kalau bb saya naik drastis dan saya khawatir kena diabetes gestasional, apalagi mengingat almarhum ayah saya meninggal karena komplikasi diabetes melitus. Anak dengan orang tua penderita diabetes punya risiko terkena penyakit yang sama, jadi harus hati-hati. Ternyata eh ternyata respons beliau tidak jauh dengan Dokter DK, katanya saya tidak usah cemas dengan kenaikan bb saya dan kalau saya mau tes darah (cek glukosa untuk tau saya kena diabetes atau tidak), dia akan mereferensikan saya ke internis. Lah… Kok bukan beliau saja ya yang ngasih saya surat rujukan ke lab? Kenapa harus ke internis? Kenapa saya harus pasrah jadi gendut? Kenapa saya disuruh makan sesuka hati saya tanpa rem? Kenapa tidak ada penjelasan yang memuaskan dari beliau walaupun saya sudah tanya? Kenapa Primus kawin sama Jihan Fahira?? Kenapa Mahfud MD gagal jadi cawapres Jokowi? Sungguh saya tidak mengerti.

Karena tidak sreg, saya meminta rekomendasi dokter lain kepada teman saya yang perawat dan kenal banyak dokter kandungan. Jadilah saya menemui dokter ke-3. Dokter ini rupanya sub-spesialis fetomaternal yang juga merupakan dokter ‘selebriti’ yang saking terkenalnya punya banyak pasien, antreannya panjang, dan dia tipe yang dicintai media massa. Serius, waktu saya mengantre beliau selama 2 jam lebih, tiba-tiba saja datang rombongan media dengan kamera yang mau mewawancara si dokter tampan dan masih muda ini. Sebut saja namanya Dokter AB. Beliau praktek di RSUD dan salah satu RS swasta terkenal di Jebres, Solo.

Setelah mendengarkan concern dan memeriksa saya dengan USG, wajah dokter ini berubah jadi khawatir. Beliau bilang plasenta saya “sobek-sobek” sehingga aliran makanan tidak lancar ke janin saya dan sekarang janin saya bb nya di bawah standar. Saya dan suami syok. Bayangkan, ini anak pertama kami dan usia kami bukan lagi 20an, plus butuh promil lebih dari satu tahun untuk mendapatkan anak ini. Lalu tiba-tiba tanpa tedeng aling-aling si dokter ini bilang kalau plasenta (ari-ari) saya “sobek-sobek”. Orang tua baru mana yang tidak syok, bukan? Apa tidak bisa diganti dengan istilah lain yang lebih menenangkan? Beliau lalu menyuruh saya melakukan tes GTT (Glucose Tolerance Test) untuk mengetahui apakah saya kena diabetes, tes darah rutin, dan tes ANA (antibodi) untuk screening apakah saya punya penyakit autoimun seperti Lupus yang bisa menghambat aliran asupan makanan dan oksigen ke janin.

Dengan perasaan kalut saya ke Prodia untuk tes. Ketika hasilnya keluar beberapa hari kemudian, saya kembali ke RS yang sama untuk menemui Dokter AB. Apesnya, suster RS salah menberikan jadwal dokter AB ke saya, sehingga ketika saya datang si dokter AB sudah pulang. 😩 Sementara, di jadwal hari berikutnya si dokter akan cuti dan belum tahu kapan kembali. Saya panik dong, padahal hasil tes saya saja belum sempat dibaca.

Setelah komplain ke pihak RS dan berunding dengan suami, kami memutuskan malam itu juga mendaftar ke dokter lain yang praktik di RS yang sama. Dokter yang ke-4 ini adalah SpOG biasa (bukan fetomaternal) yang sangat kebapakan. Sebut saja Dokter SB. Beliau sangat tenang dan santai. Beliau bilang hasil tes saya bagus, saya tidak kena diabetes dan tidak punya penyakit autoimun. Bb janin saya memang di bawah standar, namun masih bisa dinaikkan. Tapi, beliau tidak yakin apa yang dimaksud DR AB dengan plasenta “sobek-sobek”. Karena beliau bukan dokter fetomaternal, DR SB pun menyarankan saya untuk berkonsultasi ke dokter fetomaternal lain di RSUD Moewardi, Solo.

Jadilah saya ke Moewardi untuk konsultasi dengan fetomaternal lain. Kebetulan, saya bertemu dengan Dokter Wisnu Prabowo, SpoG, KFM. Dokter Wisnu adalah dokter senior (dilihat dari umur dan gelarnya). Pribadinya ramah, menenangkan, santai, sangat sopan, komunikatif, tidak pelit info, dan mau menerangkan panjang kali lebar. Beliau meyakinkan saya dan suami kalau saya baik-baik saja dan berat badan janin masih bisa ditambah. Beliau meresepkan protein dalam kapsul untuk membantu menaikkan bb bayi. Yang kerennya, beliau adalah dokter pertama yang menyarankan saya untuk mengawasi apa yang saya makan dan tidak naik bb lebih dari 2 kilo dalam sebulan. Gusti nu agung, akhirnya saya ketemu juga dokter yang cocok. 🀣 Yah, walaupun beliau dokter ke-5 sih… πŸ˜…

Sejak itu saya rutin ke Dokter Wisnu, janin saya berkembang baik dengan bb yang normal. Saya pun jadi bumil yang lebih rileks dan santai. Terima kasih, Dokter. πŸ™‚

Nah, berhubung saya gak mau lahiran di Moewardi, saya terpaksa pindah ke RS lain dan menemui dokter yang baru sebelum bersalin. Mudah-mudahan dokter baru ini cocok, ya. Tapi ya sudah mau lahiran juga, kan (waktu postingan ini ditulis usia kehamilan saya 36 minggu). πŸ˜… Semoga cocoklah, jadi balada pencarian dokter ini akan segera berakhir.

Selain ke-5 dokter yang sudah saya sebutkan di atas, saya juga pernah konsultasi sekali ke dokter lain. Dokter ini sukses bikin saya langsung ilfil karena beliau bertanya “Umur 32 kok baru hamil anak pertama?? Telat sekali.” Seakan-akan hamil di umur 32 itu semacam dosa besar. Ingin rasanya saya menjawab “Ya elah Dok, sekolah aja berapa lama coba? Begini-begini saya juga punya gelar master. Belum lagi bekerja. Gak semua orang punya privilage dapet orang tua kaya yang tidak butuh dukungan finansial dari anaknya. Saya dan suami itu bukan dari keluarga berada, Dok. Kami memilih menikah di usia ‘telat’ untuk ukuran orang Indonesia karena kami mau stabil dulu secara emosional, mental, dan finansial.” Tapiiii…. nanti kan kesannya saya baper kalau jawab begitu. Jadi demi kesopanan dan menjaga lisan agar tidak dianggap sombong, saya hanya tersenyum dan mengangguk, tak sepatah kata pun keluar dari mulut saya. Ya sudah, bye bye deh sama Pak Dokter yang ini. Saya gak balik lagi. πŸ˜†

Menurut saya dokter harusnya fokus pada menolong pasien saja dan fokus pada bidangnya (dunia medis), tidak usahlah mengurusi masalah moral pasien, keputusan dan jalan hidupnya, serta hal-hal yang tidak terkait masalah kesehatan dan well-being si pasien. Toh, para dokter juga tidak mau kan kalau ketemu pasien yang kepo dan kurang ajar nanya “Dokter kok gendut, sih? Katanya dokter.” atau “Dokter kok udah tua belum pensiun juga?” πŸ˜†

Terakhir, saya tegaskan bahwa saya sama sekali tidak punya hard feeling kepada dokter-dokter di atas. Saya tetap menghargai pendapat profesional mereka dan percaya mereka capable dalam bekerja. Ini cuma masalah kecocokan. Karena, sekali lagi, untuk mencari sahabat kita memerlukan kecocokan dan persamaan persepsi. πŸ™‚ Peace.

Cheers,

Haura Emilia

Note: The image above was taken from here. Contact me for removal.