Saya Kuliah Lagi!

Baru-baru ini saya memutuskan untuk mengambil gelar diploma lewat metode distance learning alias kuliah online program Early Years Montessori and Entrepreneurship. Buat yang mungkin belum familiar dengan Montessori, silakan baca lebih lanjut di sini karena saya tidak akan membahasnya.

Kembali ke cerita saya… Mungkin pembaca akan bertanya-tanya kenapa saya mau kuliah lagi? Memangnya gak cukup sudah punya gelar master? Dan di umur segini (34) pula? Sambil mengurus batita yang lagi aktif-aktifnya (23 bulan) tanpa bantuan orang tua, ART, babysitter, atau mertua?

Semua berawal dari adik saya yang mengirimkan screenshot iklan program ini, yang dia temukan di Instagram. Karena dia tahu saya tertarik dengan Montessori dan sejauh ini belajar mandiri tentang Montessori sambil mempraktikkannya ke Reina, dia langsung mengabari saya. Tentu saja saya langsung tertarik. Setelah memeriksa akun Instagram, website, dan membaca review tentang penyelenggaranya, saya mengontak mereka. Contact person menanggapi saya dengan ramah dan memberikan informasi lengkap tentang program yang mereka tawarkan.

Program diploma ini diadakan oleh Montessori Haus Indonesia (MHI), sebuah pusat pelatihan dan pendidikan Montessori dan pendidikan anak usia dini yang berkantor di Jakarta. MHI menawarkan berbagai kursus singkat hingga pelatihan untuk para profesional dan orang tua yang berminat mengenal dan mendalami Montessori. Saat ini MHI sedang dalam proses mendapatkan akreditasi dari lembaga Montessori di Amerika, namun sudah menjadi anggota International Montessori Council (IMC).

Program diploma akan berlangsung selama setahun penuh dan kelas dilakukan 2x seminggu via Zoom. Satu sesi memiliki durasi 3 jam. Para siswa diberikan modul dan akan ada quiz, assignment, dan ujian di akhir program. Para pengajarnya adalah para profesional yang memang mendalami Montessori, beberapa di antaranya adalah founder MHI dan psikolog terkenal. Terdengar benar-benar mirip kuliah pada umumnya, kan? 🙂

Kenapa saya mau kuliah lagi? Selain karena saya tertarik pada Montessori, saya juga ingin belajar lebih jauh tentang pendidikan anak usia dini. Saya yakin, ilmu yang akan saya dapatkan akan sangat berguna untuk mendukung tumbuh kembang Reina.

Selain itu, program yang saya ambil juga akan memberikan saya ilmu tentang perencanaan kurikulum Montessori, yang akan membantu jika suatu hari saya memutuskan untuk menyekolahkan Reina di rumah atau homeschooling. Jika pada akhirnya Reina pergi ke sekolah biasa pun, bagi saya pendidikan adalah investasi jangka panjang yang selalu bisa saya andalkan. Jadi, saya yakin saya tidak akan rugi apa pun mengambil program ini.

Okay, segitu dulu untuk postingan kali ini. Saya akan update perkembangannya secara rutin di sini. Wish me luck! 🙂

Cheers,

Haura Emilia

Melatih Batita Tidur Sendiri (Sleep Training Part 2)

Buat yang belum baca tulisan saya sebelumnya tentang pengalaman saya melatih anak tidur di kamarnya sendiri, silakan baca tulisannya di sini.

Mengapa dan bagaimana saya melatih anak tidur sendiri?

Sudah hampir sebulan sejak saya memutuskan untuk melatih putri saya (23 bulan) tidur di kamarnya sendiri. Dari awal saya sudah tahu bahwa prosesnya tidak akan mudah dan emosional, tapi karena saya sudah lelah terbangun terus berulang kali hampir setiap malam selama 22 bulan terakhir, saya pun bertekad akan melatih Reina tidur sendiri.

Sejak lahir Reina tidur di kamar saya dan suami. Awalnya, sampai dia berusia 7 bulan, dia tidur di kasur bayi, alih-alih di kasur yang sama dengan kami berdua. Tapi, memasuki usia 8 bulan, dia saya pindahkan ke kasur saya dan kami tidur berdua. Suami pindah ke kasur lain di kamar yang sama. Saya melakukan ini karena dia mulai terasa berat diangkat-angkat setiap ingin menyusu dan lebih mudah menyusuinya sambil tiduran di malam hari.

Kesalahan saya adalah saya terbiasa membiarkan Reina tertidur sambil menyusu. Ditambah lagi, setiap dia terbangun di malam hari saya akan langsung menyodorkan “nenen” tanpa menunggu sedikit pun. Padahal, sering kali bayi dan batita sebenarnya hanya ‘terbangun’ sebentar dan akan kembali tidur tanpa dibantu. (Oleh karena itu, sebaiknya ibu menunggu 5 menit sebelum menenangkan bayi untuk melihat apakah dia akan kembali tertidur sendiri sebelum dibantu.) Hasilnya, Reina mengasosiasikan tidur dengan menyusu dan tidak bisa tidur tanpanya.

Kebiasaan ini terus berlanjut hingga Reina berusia 22 bulan. Saya selalu terbangun pagi dengan kepala berat karena kurang tidur. Sehari semalam saya kadang hanya tidur 2-3 jam. Ini membuat saya cepat lelah dan cepat marah. Saya tahu kesalahan saya ini dari awal namun karena sebelumnya saya harus bekerja di malam hari setelah Reina tidur, saya harus menidurkan dia dengan cepat agar saya bisa bekerja. Menyusuinya adalah cara tercepat untuk menidurkannya. Jadilah saya melanjutkan kebiasaan “breastfed-to-sleep” ini setiap Reina mau tidur atau perlu tertidur kembali.

Akhirnya, setelah dia genap 22 bulan dan sudah hampir sepenuhnya saya sapih (cerita menyapih akan saya tulis di postingan terpisah) dan saya resign dari pekerjaan untuk fokus mengurus Reina, saya memutuskan untuk melatihnya tidur sendiri. Tidur sendiri artinya bukan hanya tidur di kamarnya sendirian, tapi juga melatihnya agar bisa tertidur kembali tanpa bantuan ketika terbangun di tengah malam.

Lalu, bagaimana saya melatih Reina tidur sendiri? Awalnya, saya mulai menemani Reina tidur di kamarnya setiap tidur siang dan malam untuk membiasakannya tidur di lingkungan yang baru. Saat itu saya merasa belum siap meninggalkannya tidur sendiri karena saya sejujurnya belum rela. 🙂 Saya jadi sadar bahwa ternyata untuk mulai melatih anak tidur sendiri, orang tuanya harus siap juga.

Ternyata setelah hampir sepenuhnya disapih pun Reina masih sering mencari ‘nenen’ ketika terbangun di malam hari. Jadilah, saya masih berkutat di masalah yang sama. Saya sudah mencoba cara halus dengan metode ‘controlled crying’ dan Ferber Method, yakni menunda memberikannya asi ketika dia memintanya di malam hari. Namun, dia mengamuk hebat setiap saya menolak. Dia bahkan menarik baju saya sambil menjerit-jerit. Dia tidak rela menunggu sedetik pun.

Akhirnya, setelah 2 minggu hal ini berlangsung dan metode tadi tidak juga menghentikannya bangun berulang kali dan meminta asi, saya memutuskan untuk mencoba metode cry-it-out. Ini adalah metode meninggalkan anak di kamarnya sendiri dan membiarkannya menangis hingga lelah dan tertidur. Ini sebenarnya metode yang cukup banyak pro dan kontranya.

Beberapa kelompok pemikiran menolak mentah-mentah metode ini karena dianggap menyiksa si anak. Beberapa ahli juga tidak menyetujui metode ini karena menganggap tidak natural bagi bayi untuk tertidur sendiri.

Beberapa ahli lainnya, sebaliknya, menganggap cara ini efektif jika segala cara lain sudah dicoba dan gagal. Kelompok ini juga percaya bahwa tidak ada bukti ilmiah yang membuktikan efek samping jangka panjang metode cry-it-out pada anak ketika mereka dewasa kelak. Jadi, saya yang sudah putus asa memutuskan untuk mencobanya.

Di minggu ke-3 Reina tidur di kamarnya, saya memutuskan untuk menerapkan cry-it-out. Setelah rutinitas sebelum tidurnya selesai (makan malam-ganti piyama-sikat gigi-baca buku), saya mencium dan memeluk Reina lalu mengatakan “Selamat malam Reina. Bobok sendiri, ya”. Setelah itu, dalam keadaan dia belum tertidur, saya keluar kamar dan menutup pintu kamarnya.

Di malam pertama minggu ke-3 ini, Reina menangis menjerit-jerit sekitar 30 menit sebelum akhirnya tidur. Malam itu dia terbangun sebanyak 4x dan menangis selama kurang lebih semenit sebelum akhirnya kembali tertidur sendiri.

Hari berikutnya dia hanya menangis kurang dari 2 menit sebelum akhirnya tertidur. Dia pun hanya benar-benar terbangun sekali pukul 5 pagi. Sambil menangis dia minta diantarkan ke toilet. Buat yang belum tahu, Reina sudah mulai potty training sejak usia 17 bulan dan saat ini (23 bulan), dia sudah bisa kering di siang hari namun masih memakai pospak di malam hari.

Malam ketiga, dia hanya menangis tidak sampai semenit setelah saya meninggalkannya sendiri di kamar. Dan pada jam yang sama, pukul 5 pagi, dia kembali terbangun minta pipis. Saya antarkan dia pipis di toilet, lalu saya bawa kembali ke kamarnya. Saya peluk dan tenangkan dia lalu saya tinggalkan lagi. Dia menangis selama beberapa menit sebelum akhirnya kembali tertidur dan bangun pukul 6.30 pagi.

Malam keempat, Reina masih menangis beberapa menit setelah saya meninggalkannya di kamar. Namun, dia hanya bangun sekali dan merengek beberapa detik pukul 11 malam sebelum akhirnya kembali tertidur sendiri. Setelah itu, dia tidur sampai pagi dan baru bangun pukul 6.10. Untuk pertama kalinya, Reina tidur 10 jam full tanpa terbangun berulang kali. Dia bangun dalam mood yang baik dan memanggil “Mama”. Malam-malam berikutnya, Reina juga sudah bisa tidur panjang sendiri di kamarnya.

Akhirnya, saya pun bisa mendapatkan tidur yang cukup dan nyenyak setelah bertahan dengan tidur 2-4 jam sehari selama berbulan-bulan. Reina pun mendapatkan tidur yang panjang dan nyenyak, yang sesuai dengan yang dibutuhkan anak seusianya. Anak usia 1-3 tahun membutuhkan 12-14 jam tidur (siang+malam) dalam sehari. Sebelum sleep training Reina rata-rata hanya tidur 10 jam atau kurang dalam sehari. Ini karena dia terus terbangun dan butuh waktu lama untuk tertidur kembali.

Perlukah Sleep Training?

Membiasakan anak tidur sendiri sejak bayi atau batita bukan hal yang asing di Eropa atau Amerika, namun di Indonesia adalah hal yang lumrah bagi anak untuk terus tidur bersama orang tuanya hingga mereka SD. Jadi kapan sebenarnya waktu yang tempat untuk melatih anak tidur sendiri? Ada banyak pendapat mengenai hal ini.

AAP (American Academy of Pediatrics) menyarankan anak mulai tidur di kamarnya sendiri sejak usia setahun. Sebelum usia setahun anak disarankan tidur di kamar yang sama dengan orang tuanya, namun di tempat tidur yang terpisah (room sharing). Sumber lain ada yang mengatakan sebaiknya sleep training dimulai di usia 4 bulan, yang berarti anak mulai tidur di kamar yang terpisah dari orang tuanya sejak usia 4 bulan. Sejauh ini saya belum menemukan rekomendasi IDAI tentang kapan sebaiknya anak mulai dilatih tidur sendiri.

Mengapa anak perlu dilatih tidur sendiri? Tidur adalah sebuah aktivitas yang krusial bagi tumbuh kembang anak. Pada saat tidur nyenyak malam hari itulah hormon pertumbuhan keluar, sel-sel beregenerasi, dan ini penting bagi perkembangan otaknya.

Sleep training akan membantu anak untuk tidur lebih nyenyak dan lama. Saya akan kutip dari Klikdokter tentang ini.

“Kekurangan lainnya dari bed sharing atau room sharing terlalu lama (dengan anak) akan terlihat saat anak sudah lebih besar. Biasanya anak akan lebih sulit mempertahankan tidur malam yang panjang, mudah cemas, dan kurang mandiri. Sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal Pediatrics menemukan fakta bahwa anak yang tidur bersama dengan orang tuanya hingga usia 9 bulan akan memiliki waktu tidur yang lebih sedikit saat mereka lebih besar nanti, dibandingkan anak yang sudah tidur sendiri di usia 9 bulan.”

Kegunaan lain melatih anak tidur sejak dini, selain anak bisa tidur lebih nyenyak dan lama, adalah orang tua tidak perlu pusing lagi melatih anak tidur di kamarnya sendiri ketika mereka sudah memasuki usia sekolah. Berdasarkan cerita teman-teman terdekat saya yang masih tidur dengan anaknya yang sudah SD, mereka kesulitan membuat anak tidur tidur di kamarnya sendiri. Semakin besar anak dia akan semakin merasa attached dengan orang tuanya, jadi menolak atau sulit untuk tidur sendiri.

Mengapa Sleep Training tidak dilakukan semua keluarga?

Sleep training memang bukan untuk semua keluarga. Ada yang anak dan ibunya sama-sama hard sleeper, alias mudah tidur dan sekali tidur nyenyak tidak mudah terbangun. Jika memang kondisinya begini, silakan skip sleep training.

Pada kasus lainnya, di mana orang tua tidak tinggal di rumah sendiri atau ketika jumlah kamar di rumah tidak sesuai dengan jumlah anak, sleep training juga sulit dilakukan. Kakek nenek si anak mungkin tidak setuju jika ibu dan ayah membiarkan bayinya menangis berjam-jam sebelum akhirnya tertidur sendiri. Jadi, faktor sosioekonomi dan budaya seperti ini adalah faktor penting lainnya yang membuat sleep training kurang populer di Indonesia.

Apa yang diperlukan agar sleep training sukses?

Mengingat ada berbagai macam metode sleep training, penting bagi orang tua untuk mencari info sebanyak-banyaknya dulu tentang topik ini agar bisa memutuskan metode yang ingin dijalankan.

Jika orang tua memang berniat melatih anak tidur sendiri, pastikan untuk mencobanya secara konsisten minimal selama 3 hari berturut-turut untuk melihat apakah metode yang dipilih berhasil ataukah harus berhenti dan mencoba metode lainnya. Pastikan juga keamanan kamar anak dan pasanglah cc tv yang kameranya bisa dipantau lewat aplikasi di smartphone agar orang tua bisa memantau anak dengan lebih tenang.

Cheers,

Haura Emilia

Sumber: https://www.whattoexpect.com/first-year/sleep/sleep-training-baby/

Diary Reina: Rutinitas Harian untuk Batita

Setelah banyak membaca, saya jadi tahu pentingnya rutinitas untuk batita. Batita seperti Reina (22 bulan) membutuhkan rutinitas dan jadwal yang jelas untuk membantunya melewati hari-hari dengan lebih tenang dan kooperatif.

Kenapa batita butuh rutinitas dengan jadwal yang jelas? Anak-anak di bawah 3 tahun itu kan sedang dalam masa pertumbuhan yang pesat, nah ada banyak sekali yang terjadi dalam hidup mereka dan selalu ada saja hal baru yang mereka pelajari. Perkembangan bahasa, sosial, motorik, dan kognitif berkembang dengan cepat setiap harinya. Hal ini bisa membuat mereka bingung dan kewalahan.

Anak-anak butuh konsistensi dalam menjalani hari-harinya, rangkaian kegiatan dan pengulangan yang terjadi secara berurutan agar mereka bisa mengeksplorasi dunianya tanpa rasa khawatir.

Saya pun membiasakan Reina menjalani hari-harinya dengan rutinitas dan jadwal yang teratur. Bangun pagi, bermain, makan, mandi, nonton TV, tidur siang dan tidur malam, semuanya punya jadwal yang jelas dan sama setiap harinya.

Banyak manfaat yang saya rasakan setelah menerapkan jadwal harian dengan disiplin.

Pertama, Reina jadi lebih anteng dan tenang. Dia anteng dan tenang karena tahu persis apa yang akan dia hadapi selanjutnya. Misalnya, ketika dia bangun tidur siang (Reina biasanya tidur siang pukul 11-13.30), dia tahu dia akan segera diberikan makan siang. Jadi dia tidak rewel. Dia (akhirnya!) dengan sukarela mengajak mandi pagi karena dia tahu setelah mandi dia akan diajak bermain. Malam hari pun dia dengan suka cita diajak masuk kamar (jam 20.00) untuk memulai ritual sebelum tidur, yaitu menyikat gigi, membaca (dibacakan) buku, dan tidur.

Rutinitas mengurangi power struggle antara saya dan dia. Saya tidak lagi pusing membujuk dia mandi (dia tadinya tipe yang susah diajak mandi, tapi kalau sudah mandi juga susah diajak udahan. Wkwk). Ini karena dia sudah hapal, habis kegiatan A, dia akan melakukan aktivitas B. Jadi dia tidak khawatir dan bisa tenang karena tahu apa yang mau dia lakukan akan tiba juga waktunya. Rutinitas ini otomatis juga membuat dia merasa lebih percaya diri karena merasa memiliki kontrol atas hidupnya.

Reina jadi jarang rewel. Namanya anak-anak pasti tetap ada nangis, rewel, dan tantrumnya. Tapi setelah menerapkan rutinitas terjadwal, frekuensi ngambek dan rewel Reina jadi jauh berkurang. Saya pun lebih enak dan santai mengurusnya.

Saya jadi lebih waras menjalani hari-hari. Karena tahu persis jam berapa Reina tidur dan jam berapa dia makan, saya bisa lebih mengatur hari saya. Di jam tidur siang yang selalu sama ini saya bisa memeriksa hape, memasak, membaca buku, menulis, atau melakukan pekerjaan rumah lain. Jadi bukan hanya Reina yang jadi disiplin, hidup saya pun jadi lebih teratur. 🙂

Rutinitas bukan berarti saklek sepanjang waktu dan selamanya ya, Ibu-Ibu. Di hari Sabtu, misalnya, ada jadwal berbelanja grocery mingguan di supermarket. Nah, otomatis, ada sedikit perubahan pada jadwal Reina (Reina menunggu di mobil sama Baba sambil menonton DVD selama saya belanja). Tapi itu pun acara berbelanja saya usahakan dilakukan di jam yang sama setiap minggunya, setelah Reina bangun tidur siang dan makan.

Sebelum perubahan jadwal seperti acara berbelanja atau ke rumah si mbah, misalnya, saya selalu memberikan Reina “heads up” dulu. Misalnya, “Reina, setelah makan siang nanti baba dan Reina antar mama belanja grocery, ya. Reina tunggu di mobil sebentar sambil liat DVD sampai mama selesai. Abis belanja Reina bantu mama masukkan makanan ke kulkas. Okay?” Yang biasanya selalu dia jawab “Okay”. 😀

Bosen gak sih begitu-begitu saja kegiatannya setiap hari? Emang gak bete ya di rumah terus? Gak pengen jalan-jalan mamanya, misalnya? Jawaban singkatnya Enggak. Jawaban panjangnya…. Enggak karena….

Saya dan Mamat (babanya Reina) sudah biasa di rumah saja. Sudah sejak tahun 2013 kami kerja mandiri di rumah (jauh sebelum Reina lahir dan jauh sebelum istilah WFH (Work from Home) menjadi tren). Kami biasa menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar komputer untuk menyelesaikan pekerjaan. Pekerja mandiri seperti kami harus disiplin agar target pekerjaan dan deadline bisa terpenuhi setiap harinya. Jadi intinya, we’re okay with staying at home.

Kedua, kami sadar bahwa hari di mana kami pergi ke luar rumah (sebelum masa pandemi), entah itu sekadar jalan-jalan ke mall atau pergi keluar kota atau luar negeri, adalah hari di mana Reina jadi lebih rewel dan mudah tantrum. Selain karena dia lelah dan merasa aneh di tempat asing, jadwal harian dia menjadi terganggu atau malah berantakan. Jadi, kami berdua memilih mengalah dan memutuskan untuk menghabiskan sebagian besar waktu kami di rumah. 🙂

Ketiga, pada dasarnya saya dan Mamat memang sama-sama anak rumahan. Kami biasa mencari kebahagiaan dengan cara sederhana di rumah saja seperti main game (Mamat), baca buku, dengar musik, atau nonton TV (ini jarang sih, tapi sesekali kami lakukan juga pas Reina tidur).

Rutinitas berhasil kami terapkan juga karena kebetulan kami tinggal bertiga saja dan kami berdua cukup kompak. Kami berusaha hidup seefektif dan seefisien mungkin dan menghandle segala sesuatunya sendiri. Jadi menerapkan idealisme, rutinitas dan jadwal ke anak bukan hal yang sulit.

Bagaimana, Ibu-Ibu? Tertarik menerapkan rutinitas terjadwal juga ke anaknya? 🙂

Cheers,

Haura Emilia

Melatih Batita Tidur Sendiri (Sleep Training Part 1)

Putri saya (22 bulan) sudah hampir lepas menyusu sepenuhnya. Dia sudah tidak perlu menyusu lagi untuk mengantarnya ke alam mimpi. Jadi akhirnya kami memutuskan untuk mulai melatihnya tidur sendiri di kamarnya. Sesekali dia memang dia masih terbangun di tengah malam dan mencari nenen, tapi toh kamar kami bersebelahan dan saya tipe light sleeper, saya bisa dengan mudah memantau atau mendatanginya jika memang benar-benar diperlukan.

Terus terang saya sempat ragu apakah aman untuk membiarkannya tidur sendiri di malam hari. Tapi setelah menimbang kelebihan dan kekurangannya, saya dan Mamat menguatkan keputusan untuk melatih Reina tidur sendiri. Berikut alasan kami memilih untuk mulai melatih Reina tidur sendiri.

Tidur lebih nyenyak. Saya adalah tipe light sleeper, yang sering terbangun di malam hari, sekadar untuk berganti posisi tidur, minum air putih, atau ke toilet. Reina kadang terbangun karena aktivitas malam saya ini. Belum lagi Mamat yang kadang harus bekerja sampai malam dan sering bekerja di kamar. Cahaya laptop bisa mengganggu tidur Reina walaupun lampu kamar sudah dimatikan. Saya perhatikan selama tidur siang sendiri, Reina bisa tidur dengan lebih nyenyak tanpa saya yang setiap sebentar bergerak (sekecil apa pun gerakannya) di sampingnya.

Belajar Mandiri. Night waking atau terbangun di malam hari adalah hal yang sangat umum terjadi pada batita. Selama masa menyusui Reina biasa kembali tertidur dengan cara menyusu dengan mama yang tidur di sebelahnya. Ini membuat dia sulit tertidur kembali tanpa bantuan saya.

Menurut ahli parenting Martha Kempner dari situs What to Expect, batita perlu belajar menenangkan dirinya sendiri ketika terbangun di malam hari. Tidur kembali sendiri adalah sebuah skill yang perlu dan bisa dilatih. Jika dia bisa menenangkan dirinya sendiri, dia bisa kembali tidur dengan lebih cepat dan orang tua pun bisa mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik.

Melatih kepercayaan diri. Saya percaya dengan tidur sendiri Reina akan belajar mengatasi rasa takutnya. Mengatasi rasa takut akan menumbuhkan rasa percaya diri, percaya bahwa dia bisa menghandle situasi dan masalah-masalahnya sendiri, seperti takut gelap atau mencoba tertidur kembali setelah bermimpi buruk.

Memberikan privacy kepada orang tuanya. Menurut cerita ibu saya, saya dan adik sudah tidur di kamar kami sendiri sejak saya berusia 2 tahun dan adik setahun. Hasilnya, dari kecil kami terbiasa tidur tanpa ditemani ibu dan ibu serta ayah pun memiliki privacy mereka sebagai suami istri. Saya ingin mengajarkan hal yang sama ke Reina, dan dengan lepasnya dia dari ritual nenen membuat kami yakin dia siap belajar tidur sendiri.

Apa saja yang saya siapkan untuk melatihnya tidur sendiri?

Memberikan pengertian tentang tidur sendiri. Setiap malam sebelum tidur, saya menemaninya dengan membacakan buku favoritnya dan mengajaknya bicara. Saya katakan kepadanya bahwa dia sudah mulai besar dan anak besar tidur sendiri di kasur dan kamarnya. Saya juga memberikannya pengertian bahwa mama dan baba ada di kamar sebelah dan dia aman. Mama akan datang kalau dia tiba-tiba terbangun karena bermimpi atau ingin pipis ke toilet (Reina sudah mulai toilet training sejak usia 17 bulan).

Memberikan teman tidur. Saya memberikan Reina satu boneka kecil favoritnya untuk dipeluk. Di atas setahun, bayi tidak lagi berisiko terkena SIDS (Sudden Infant Deaths Syndrome), jadi aman memberikannya selimut, bantal, dan sebuah boneka kecil untuk menemaninya tidur.

Lingkungan tidur yang aman dan child proof. Awalnya kami memakai tempat tidur berukuran queen untuk tempat tidur Reina dan berniat memasang pagar di pinggiran tempat tidur agar dia tidak terjatuh. Tapi akhirnya, kami memutuskan untuk menurunkan kasurnya ke lantai saja agar dia lebih aman. Kami juga memastikan kasur Reina jauh dari colokan listrik atau benda lain yang riskan jatuh menimpanya.

Memasang kamera di kamarnya. Kami memasang kamera kecil di atas kasurnya yang bisa dipantau melalui smartphone. Kamera ini penting untuk memantau keselamatannya tanpa perlu masuk ke kamarnya langsung, yang berpotensi membangunkannya.

Ruangan cukup gelap namun tidak terlalu gelap. Penting bagi batita untuk tidur di ruangan yang cukup gelap agar bisa tertidur nyenyak. Dari atas kaca jendela di atas pintu kamarnya cahaya kuning redup dari lampu di lorong depan kamar memberikan sedikit penerangan ke kamarnya.

Melatih anak tidur sendiri atau tidak adalah keputusan personal setiap orang tua ya, Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak. Bagaimana pun sleeping arrangement yang dijalankan, pasti ada pro dan kontranya. Yang terbaik untuk satu keluarga, belum tentu applicable dan baik untuk keluarga lainnya. Apa pun pilihannya, semoga orang tua dan anak bisa sama-sama mendapatkan tidur nyenyak dan berkualitas. 🙂

Cheers,

Haura Emilia

Catatan: Untuk membaca part 2, klik di sini.

Begin Again

“Friday will be my last day, Dar. I’m leaving…”

I told my good friend and colleague for the last 6 years Dharma on Hangouts.

“Hah? What?”

I began to cry. He said he was sad I was leaving especially since we’ve been good friends since I joined the work force, where he was the lead and my senior.

“Gue sedih. Tapi kalau itu udah keputusan lo gw ngerti. Nyari orang dengan skill kayak lo dan F*** (kolega kami yang sedang cuti panjang) itu susah, Ra…”

“I know.”

Then I cried again.

Letting Go

I recently decided to say goodbye to my client of 6 years. This Ireland-based localization company outsourced me to an end-client to work on what probably one of the biggest localization projects in the world to date. The end-client was that giant tech company whose service you basically use every day to search everything on the internet. That was something, especially for me, someone who started humble and completely ignorant about the existence of the localization industry, 9 years ago.

I remember what the recruitment test looked like. What kind of quality was expected in order to pass the test. This giant tech is well-known for its rigorous employment test and high standard when it comes to picking up who work for them. They only want the best. How I ended up being a part of their translation review team, being trusted to convey their message and represent their voice to their customers was, I believe, a mixture of luck, perfect timing and a skill that I happened to have (to give them all the answers they wanted to hear and read).

I remember how it took me a month to complete the online training and a full year before I was fully onboard and started to become an independent reviewer-editor without Dharma shadowing and reviewing my projects. I won’t forget all the nights I spent working when there was backlog of work, especially during the busy seasons.

I remember how we, the translation reviewers team, were regularly assessed and evaluated by independent outside reviewers to make sure that our work consistently meet the client’s standard and expectation. I will remember the fact that our team worked together closely every day for years without ever meeting each other face to face. That I never knew the faces of the project managers and the colleagues I chatted with at least once a week because we lived in different parts of the world.

This is the kind of work that shapes you as a translator, helps you grow as a professional, and teaches you lessons you probably won’t learn anywhere else. To me this work has become something I identify myself with. Something that forever changes my views on localization and translation industry. This work has become a part of me and something that I am and will always be proud of.

But then I got to the point where I had to choose between my commitment to raise my daughter and my work. Since Reina was born, I struggled to maintain work-life balance, the same quality of work, as well as my sanity. At times, I barely had any sleep in 3 days. It made me sick. The work that I cared about so much had begun to consume me and taken a toll on my health.

Slowly it stopped sparking joy. It started to become a burden I felt like I needed to get rid of. I stopped enjoying every new element of surprise because every new surprise and new things meant more time away from my daughter. New apps, new procedures, new SOP, new tools, new rounds of quality assessment would require more training and it would mean less sleep and less time to spend with my baby. I was sick and tired. I became emotional and found myself feeling exasperated all the time.

So I decided to leave. To let go. And I cried and sobbed writing my resignation email.

It hurt so bad and pressing the send button couldn’t have been harder. I was broken. It felt like leaving a loved one behind. It felt like saying goodbye to a part of yourself, the one, like I said earlier, that you were so proud of, the one you identified yourself with. But I knew I had to do it since it no longer served me. That what was left was my ego to cling on to something I had been familiar with.

Saying goodbye has forced me to learn to adapt to a new life once again, to a new routine. A part of me feels relieved, but another part is wretched. I never knew you could feel this way toward your work. Perhaps this is what happens after you’re committed to what you do for a long time.

Michelle Obama once wrote this sentence in her book Becoming after she left the white house: “And when it ends, when you walk out the door that last time from the world’s most famous address, you’re left in many ways to find yourself again.” This echoes in my ears again and again. I left the world’s most famous search engine client. Now I’m left in many ways to find myself again.

Begin Again

Mamat convinced me that I could always find something else to do. I could go back to school one day when Reina is old enough or I could always go back to translation when I’m ready and if I want to. But mostly, he believed I should, in fact, write the book I have always wanted to write. He said he always enjoyed my writing. Or I could do something totally new and different. It won’t matter what, he believed that I’d be fine. But the voice that’s louder than his was the one in my head. It promised me that this is the right time to begin again.

The future

As much as it’ll be tempting to tell Reina one day that women would have to choose between career and motherhood, I think I’ll prefer to tell her that it is possible to not choose. If she ever finds herself happy with her career and doesn’t want her own family, then she has my blessings. If she wants to work and leave her kids at day care, she’ll be fine, too. Even if she eventually finds herself at the crossroad, I hope she’ll remember that once a door closes, another opens. She can learn to move on, believe in herself and work hard to start over. Like her mother once did.

6 June 2020

Haura Emilia

Reseh…

Dear Reina, you matter. A lot.

img_3020

Beberapa bulan terakhir ini Reina (21 bulan) sedang berada dalam masa-masa yang sering disebut sebagai “terrible twos”. Menurut definisi, istilah informal ini berarti “a period in a child’s early social development (typically around the age of two years) that is associated with defiant or unruly behavior“. Artinya, ini adalah masa di mana anak batita ada dalam fase “membangkang, “tidak patuh” dan “kekeh tidak mau diatur”. Pada masa-masa sulit ini, anak mudah tantrum dan frustasi sehingga jeritan dan tangisan adalah hal yang sangat biasa terjadi, dan bisa terjadi berkali-kali dalam sehari. Fase ini adalah tahapan normal yang dilalui oleh banyak anak dan seiring bertambahnya usia perilaku mereka akan membaik sendiri.

Nah, pada Reina ciri-ciri perilaku yang sangat kelihatan itu ada di kesukaan dia melempar sesuatu ketika dia tidak sabar, marah, atau bosan. Kedua, dia juga jadi cepat marah untuk hal-hal kecil dan bisa langsung tantrum ketika keinginannya tidak dipenuhi. Misalnya, ketika dia ingin menggendong kucing sementara kucingnya tidak mau digendong, dia bisa menangis menjerit-jerit. Ketiga, Reina belakangan juga sering menolak pakai baju dan celana dan memilih berbugil ria di dalam rumah… Biasanya dia memilih memakai baju yang itu-itu saja, dan ketika baju favoritnya basah kena ompol atau kotor, dia memilih telanjang atau memakai baju saya.

Hobi melemparnya juga cukup intense belakangan. Dia sering melempar hape saya atau Babanya. Melempar remote TV sampai baterenya keluar. Melempar piring dan gelas (piring dan gelas plastik, sih), melempar mainan dan boneka dari lantai 2.

Suatu pagi kesabaran saya benar-benar diuji. Dia mengambil bingkai foto di dinding (rupanya dia sudah bisa menjangkaunya kalau naik ke atas sofa) dan melemparnya ke lantai karena tampaknya dia sedang bosan! Retak dan pecah lah itu bingkai. Merasa frustasi sambil cemberut saya membentaknya, “Reina jangan reseh dong! Jangan lempar-lempar! Rusak kan bingkainya!”

Sebenarnya, saya tidak benar-benar marah kepada Reina. Tapi pagi itu saya sangat lelah karena kurang tidur dan terbangun dalam keadaan rumah super berantakan dan piring belum dicuci. Saya melampiaskan marah saya ke Reina. A classic case of displacement. Dalam ilmu psikologi ada yang disebut dengan “displacement of object”. Displacement adalah bentuk mekanisme pertahanan diri yang tidak disadari dengan cara memindahkan kemarahan ke objek lain, alih-alih ke objek penyebab asli kemarahan. Seorang suami yang mengalami masalah di kantor dan dimarahi bosnya bisa pulang ke rumah marah-marah ke istri dan anaknya. Ini yang saya lakukan ke Reina.

Reina terdiam. Lalu dari mulut kecilnya keluar kata-kata, “Reina… reseh…” 😭Suaranya pelan dan mukanya sedih. Saya seperti tersengat listrik. Rasa menyesal perlahan menjalar. Saya, ibunya, baru saja membuat dia percaya bahwa dia adalah anak yang “reseh” ketika dia sebenarnya hanya melakukan apa yang banyak anak-anak seumurnya lakukan. 🥺

Sungguh sejenak tadi, ketika marah, saya lupa bahwa apa yang kita katakan kepada anak itu bisa mereka telan bulat-bulat. Jika kita menyebut anak bodoh, mereka percaya kalau mereka bodoh. Kalau kita menyebut mereka nakal, mereka akan percaya bahwa mereka nakal. Kalau kita terlalu sering mengkritik penampilannya, mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak percaya diri dan percaya bahwa mereka jelek. Jika kita terus menerus memberikan kritik atas tindakan kurang terpuji atau tidak sesuai ekspektasi dan jarang memuji hal-hal baik yang mereka lakukan, mereka akan merasa bahwa mereka tidak pernah cukup baik, tidak pernah cukup bagus, dan akan terus merasa kurang. 🥺

Saya juga lupa bahwa dia tidak pantas menerima kemarahan saya, ketika saya sebenarnya marah pada hal lain yang seharusnya bisa saya hadapi dengan kepala dingin. Ketika saya seharusnya membantu dia melewati badai emosi dan kebosanan, saya malah memarahinya dan menyebutnya “reseh”. 😞

Padahal, saya ingin Reina tumbuh percaya bahwa dia anak yang baik, bahwa dia berharga, bahwa dia cukup baik untuk diterima dan dicintai apa adanya. That she matters and important. Saya ingin dia tumbuh dan menyadari bahwa dia punya hati dan wajah yang sama cantiknya. Bahwa dia bisa berbuat salah sebesar apa pun tapi kami orang tuanya tidak akan melabelinya jahat, nakal, dan “durhaka”. I want her to grow up free from negative labeling because it will hurt her self esteem and personal growth. Ini semua akan sulit diwujudkan jika dari sekarang saja saya sudah menyebutnya “reseh”.

Terisak saya menceritakan ini ke Mamat. Dia memberikan tatapan simpati dan dengan lembut berkata, “Sabar ya, Ma…” Saya pandang matanya dan saya menyadari sesuatu yang sering kali tidak saya syukuri. Betapa dia adalah sosok yang begitu tenang, santai, dan tidak mudah marah. Dia juga selalu terlihat nyaman dengan dirinya dan pilihan-pilihan yang dia ambil dalam hidup. Jarang sekali saya melihat dia ragu dan tidak pernah sekali pun dia memberikan label negatif kepada dirinya atau orang lain. That’s exactly how I hope Reina will grow up to be.

Saya menggendong Reina. Saya tatap matanya dan meminta maaf, “Maaf mama marah ya, Rei. Reina gak nakal, Nak. Reina anak baik. Mama yang kurang sabar. Yuk , kita bereskan bingkainya. Pegang hati-hati, ya. Tidak dilempar, Nak.” Reina menatap saya dengan mata bulatnya dan suara kecil keluar dari mulutnya, “Hati-hati, Reina. Jangan lempar.” Betapa pemilihan kata yang berbeda bisa memberikan perbedaan yang sangat besar.

Saya sangat jauh dari sempurna dan masih harus terus belajar menjadi orang tua. Saya harap Reina tahu bahwa saya berusaha untuk menjadi lebih baik setiap harinya. Dan saya berharap saya akan bisa membesarkannya dengan cinta.

 

 

29 Mei 2020

Haura Emilia

 

 

Menjadi Ibu dan Realita Motherhood

img_7193

Saya tersenyum melihat foto-foto teman saya bersama anak-anaknya di Instagram. Ada yang menampilkan foto liburan, ada yang bercerita tentang hari pertama anaknya di sekolah, ada yang sedang membantu anaknya mengerjakan PR, ada yang masak bersama anaknya, ada juga yang sekadar berselfie ria.

Dulu waktu saya masih sering menonton TV lokal, duluu sekali, iklan-iklan di TV banyak yang mengusung tema motherhood untuk menjual produk-produknya. Mulai dari produk susu anak, produk minuman dan makanan ringan, hingga produk pencuci rambut alias shampo.

Motherhood dalam iklan dan media ditampilkan dengan begitu indah, ceria, dan mudah. Ibu-ibunya begitu cantik dan terlihat wangi serta bersih, memakai baju yang bagus, rambutnya seperti baru keluar dari salon. Anak-anaknya begitu lucu, sehat dan menggemaskan, ayahnya (kalau ditampilkan) begitu tampan dan mereka semua tinggal di rumah yang bagus dan besar.

Iklan-iklan di majalah dan billboard dan gambar-gambar di kemasan produk juga sama. Media dan iklan mengemas motherhood dengan cantik, seakan menekankan bahwa menjadi ibu adalah pekerjaan paling menyenangkan, tanpa beban, dan perlu dinantikan oleh semua perempuan. Iklan-iklan ini cukup ampuh membuat banyak perempuan-perempuan single menangis, terutama mereka yang secara kejam dicap “kedaluwarsa” oleh masyarakat, mereka yang dianggap sudah terlalu tua untuk menikah dan punya anak.

Pertanyaannya adalah, benarkah motherhood seperti yang ditampilkan di media sosial? Benarkah menjadi ibu itu semudah dan seindah iklan susu formula? Saya akan sedikit berbagi realita tentang menjadi ibu di sini. Semua yang saya tulis bersifat subjektif, tapi saya yakin banyak bagian-bagian yang akan diamini ibu-ibu lainnya.

Let me start by saying that motherhood isn’t a walk in the park. Menjadi ibu itu tidak mudah.

Ketika saya memutuskan untuk mengurus sendiri dan menyusui Reina, saya belum benar-benar memahami konsekuensinya. Saya ke kamar mandi, dia ikut. Saya turun ke lantai bawah dia menangis minta ikut. Saya naik ke atas dia marah karena dia masih mau main di bawah. Saat saya makan dia minta dipangku dan makan di pangkuan saya. Saya mandikan dia sambil duduk dia minta nenen. Saya pegang hape dia datang menghampiri, mengambil hape saya dan membuangnya ke lantai. Dia minta diperhatikan.

Saya menyalakan TV, niatnya ingin istirahat nonton sebentar, dia minta ganti channel untuk melihat singa dan cheetah di Natgeo Wild. Saya letakkan dia di carseat, dia kadang menjerit-jerit tidak mau duduk di carseat dan memilih duduk bersama mamanya. Di saat sakit dia hanya mau sama mamanya. Yang lain gak laku. Terserah mama sudah tidur atau belum, mengalami kelelahan berat atau tidak, sudah makan atau belum, harus memenuhi panggilan alam ke toilet atau tidak…. Pokoknya dia maunya diutamakan dan bersama mama. Like all the time. And don’t even get me started with potty training

Terlepas dari apa pun yang kita lihat di media, di balik indahnya foto-foto di Instagram, menjadi ibu berarti menelan banyak rasa pahit dan luka.

Menjadi ibu berarti memilih untuk memberikan segenap jiwa dan raganya. Bekerja di luar atau menjadi stay-at-home mom, keduanya sama-sama memerlukan pengorbanan yang besar.

Bagi working mom, sering kali karir harus dikorbankan. Ketika anak sakit, ibulah yang diharapkan cuti, bukan ayah. Ketika ada kesempatan training atau tugas di luar kota atau luar negeri, anak jadi bahan pertimbangan. Sering kali ibu memilih tidak jadi pergi. Kalau pergi pun, siapa yang bisa fokus bekerja kalau harus meninggalkan anak berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu di rumah? Mungkin sekali dua kali ada yang bisa fokus. Tapi kalau terus menerus harus meninggalkan anak saya rasa kebanyakan ibu akan lebih memilih resign dan mencari pekerjaan baru yang tidak mengharuskannya sering-sering meninggalkan anak.

Bagi stay-at-home mom, di rumah bukan berarti bisa santai nonton TV seharian. Jadi ibu rumah tangga itu berat. Bukan hanya anak yang minta diurus, pekerjaan rumah juga menanti untuk dipegang. Kalau pun ada bala bantuan seperti babysitter atau ART, biasanya anak tetap akan memilih “mengganggu” ibunya, entah sekadar mengajak main atau minta nenen. Ibu rumah tangga memulai aktivitas jam 6 atau paling lama 7 pagi. Kadang malah lebih pagi lagi. Ibu rumah tangga baru selesai beraktivitas setelah anak tidur malam, misalnya pukul 9. Ini berarti seorang IRT sama seperti bekerja 2 shift setiap harinya!

Seorang ibu yang beralih dari working mom menjadi IRT sudah tidak perlu ditanya pengorbanannya. Bukan hanya karir dan pendidikan tinggi yang direlakan, peralihan ini juga bisa membuat seorang ibu merasakan kehilangan “jati diri”. Yang biasa memegang jabatan atau menjalankan profesi tertentu, tiba-tiba harus kehilangan semua title, power, dan tanggung jawab yang biasa diemban.

Tugas dan peran ibu yang begitu berat sering kali datang dengan beban mental. Kesepian, kebosanan, dan perasaan terisolasi akrab dirasakan banyak ibu. Situasi bisa menjadi lebih kompleks ketika seorang ibu menderita gangguan kejiwaan seperti depresi, depresi manik, stres, atau gangguan lainnya.

Pada rentang usia di mana teman-teman sang ibu juga sedang memiliki anak kecil, dunia seorang ibu bisa menjadi begitu sempit, terutama pada ibu rumah tangga. Ketika butuh teman untuk bicara (selain suami), sering kali ibu tidak bisa menemukan orang yang tepat, mengingat teman-teman lainnya kemungkinan juga sedang sibuk dengan anak dan keluarga masing-masing. Berada di rumah sepanjang hari juga bisa membuat seorang ibu merasa teralienasi. Pada ibu bekerja, proses alienasi juga tetap bisa terjadi, terutama ketika dia tidak memiliki teman curhat di kantor.

Menjadi ibu berarti mendulang cinta, menelan luka.

Di satu sisi, seorang ibu terus menerus tanpa henti memberikan cinta kepada anak dan keluarganya. Di sisi lain, ada banyak kesedihan, air mata, dan luka yang tidak dapat diungkapkan.

Semua ibu menyerahkan segenap jiwa dan raganya untuk membesarkan anak-anaknya dan ini bukan pekerjaan yang mudah. Menjadi ibu tidak semudah iklan susu formula dan tidak selalu seindah foto-foto manis di Instagram.

Mengingat beratnya tugas seorang ibu, saya percaya, no woman should be forced into motherhood. Pilihan menjadi ibu dan keputusan lain terkait reproduksi perempuan, seperti berapa orang anak yang ingin dimiliki, seharusnya menjadi hak penuh seorang perempuan.

 

#motherhoodchallenge

 

Haura Emilia

23 April 2020

Treat Me With Respect, Mama…

“Reina, cepat keluarin itu kertasnya dari mulut!” Begitu perintah saya dengan tegas dan suara lantang saat melihat Reina memasukkan bola kertas ke dalam mulutnya. Kening saya berkerut dan nada suara saya tidak sabar.

Tapi alih-alih mengeluarkan si bola kertas, Reina, waktu itu berusia 16 bulan, malah menjerit bilang “Enggak!!” dan kabur.

Tidak lama kemudian Mamat, babanya Reina, datang. Baba mengulurkan tangannya ke putri kecil kami dan dengan tenang dan lembut berkata,

“Reina, Baba boleh gak minta yang ada di mulut Reina? Please?”

Detik itu juga Reina membuka mulutnya dan mengeluarkan si bola kertas. Saya terdiam. Ini bukan yang pertama kalinya terjadi. Saat di mana Reina menolak perintah saya dan mengikuti permintaan babanya.

Di lain waktu, Reina berhasil mengambil gunting di atas meja makan. Saya panik dan hendak menariknya dengan paksa dari tangan dia. Lagi-lagi dia menjerit dan kabur. Lalu, Baba kembali membantu, “Reina, Baba pinjam guntingnya boleh?” Dia menatap Baba dan mengulurkan tangan memberikan gunting. “Terima kasih, Nak.” Reina pun membeo, “Maaci.”

Saya belajar sesuatu tentang putri saya hari itu.

Reina secara tidak langsung menuntut saya untuk memperlakukannya dengan hormat. Dia dengan tegas menolak diperintah dengan semena-mena dan suara keras. Dia hanya mau diperlakukan dengan lembut.

Air mata saya menetes ketika menyadari hal ini. Betapa sering kita orang tua memperlakukan anak dengan tidak hormat. Hanya karena mereka begitu kecil. Hanya karena mereka lemah. Hanya karena mereka target yang mudah. Hanya karena mereka tidak berdaya. Hanya karena kitalah orang tuanya.

Kita kadang berteriak, membentak, atau memaksa anak (meski pun tanpa suara keras) untuk melakukan sesuatu yang dia tidak mau seperti menghabiskan makanan di piringnya. Padahal, kalau kita mau belajar untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya, kita bisa melihat apakah mereka menyukai sesuatu atau tidak, apakah mereka lelah, sudah kenyang, atau mengantuk. Kita akan melihat bagaimana dunia adalah tempat yang baru dan serba membingungkan bagi dia.

Saya pun memeluk putri saya erat-erat dan meminta maaf. “Maafkan Mama ya, Nak. Terima kasih telah mengajarkanku untuk memperlakukanmu sebagai manusia. Terima kasih telah mengajarkanku untuk melihat dunia dari sudut pandangmu. Terima kasih telah mengingatkanku bahwa hanya karena kamu anak dan aku orang tua, bukan berarti aku selalu benar.”

26 Feb 2020,

Haura Emilia

Ibu yang Sakit


Mungkin banyak yang tidak tahu kalau saya mengidap beberapa penyakit.

Saya menderita penyakit kecemasan yang tidak masuk akal. Salah satu objek kecemasan saya adalah putri saya. Saya sering cemas dia akan jatuh saat turun tangga, saya cemas kalau melihat bentol di kelopak matanya (walaupun itu mungkin cuma bintitan), saya suka membayangkan dia kena penyakit parah lalu saya mati karena tidak mampu menahan kesedihan, dan saya pernah sangat cemas karena dia hanya makan 3 sendok kecil nasi. 

Saya juga sering kesulitan menahan emosi saya. Korbannya adalah putri dan suami saya. Saya suka marah-marah sendiri ketika dia tidak mau diceboki saat poop di malam hari, sementara mata saya tinggal 5 watt. Saya juga sering merasa jengkel ketika dia melempar barang-barang kecil saya dari lantai 2. Saya sering menangis ketika sudah terlalu lelah mengasuh dia seorang diri. Lalu saya akan memanggil namanya keras-keras, menyuruhnya untuk tenang sedikit dan memintanya untuk sedikit lebih kooperatif walaupun usianya baru 16 bulan.

Saya juga mengalami depresi dan mania musiman. Ada kalanya cuaca di luar sangat memengaruhi mood saya. Kalau di luar mendung, saya jadi ikutan merasa down. Kalau di luar cerah, saya kadang mengalami fase mania dan merasa yakin 100% saya bisa jadi ibu yang baik. Ada kalanya saya menangis sesunggukan karena hal yang sepele. Ada kalanya saya tertawa keras sekali untuk suatu hal yang sebenarnya tidak terlalu lucu.

Saya takut dan merasa bersalah kepada putri dan suami saya. Saya (lagi-lagi) cemas apakah dia bisa tumbuh besar menjadi manusia yang bahagia tanpa luka batin mendalam karena dibesarkan oleh seorang ibu yang “sakit”? 

Jadi saya menghabiskan sisa waktu luang yang saya punya untuk berusaha “sembuh”. Saya membaca dan menulis. Saya berusaha berbicara dengan ibu-ibu lainnya. Berkeluh kesah dan mendengarkan keluh kesah. Saya curhat kepada suami. Saya menarik nafas dalam-dalam. Saya juga berencana mencari bantuan profesional.

Tapi mungkin sekarang yang paling perlu saya lakukan adalah berusaha memaafkan dan mencintai diri saya sendiri. Menerima dan merangkul semua “penyakit” dan berusaha bersikap legowo. Saya yakin saya tidak sendiri. Mungkin ada banyak ibu-ibu lain di luar sana yang juga “sakit”. 

I’m not okay, but I will (try to) be.

Haura Emilia

(Di awal tahun 2020)

Ruang

“Mbak, aku ngikutin instastory-mu. Reina makan sendiri dari mulai mpasi, ya? Kamu tuh cuek ya, Mbak. Gak peduli makanan tumpah-tumpah dan rumah jadi kotor.”

Saya cuma tersenyum mendengar komentar tetangga lama saya, yang kebetulan tidak sengaja saya temui sore itu.

Ya. Saya membiarkan Reina makan sendiri walaupun rumah saya selalu jadi kotor dan berantakan setelahnya.

Saya juga membiarkan Reina melempar mainannya dari lantai dua, meski pun setelah itu dia jadi frustasi sendiri karena kehilangan mainan itu.

Saya membiarkan Reina ‘mencicipi’ tisu basah dan kerikil di halaman.

Saya membiarkan Reina menyesap sejumput kopi babanya dan melihat wajahnya meringis setelah pahitnya kopi mendarat di langit-langit mulutnya.

Saya juga tidak memukul dan menyalahkan lantai ketika Reina terjatuh dan menangis kesakitan. Saya cuma bilang, “Iya, sakit, ya. Reina jatuh dan sakit. Lain kali hati-hati, ya.”

Saya membiarkan Reina memasang kepingan puzzle yang salah.

Saya juga membiarkan Reina membawa boneka favoritnya ke dalam bak mandi, meski setelah itu dia menjadi kesal karena si boneka basah.

Saya hanya ingin memberikan Reina ruang. Ruang untuk melakukan kesalahan.

Sebagai orang dewasa, kita sering salah. In fact, we are wrong all the time. Kita salah memilih jurusan waktu kuliah. Memilih pekerjaan yang salah. Menikahi orang yang tidak tepat. Memilih menu yang salah di restoran. Salah memprediksi cuaca. Salah memilih tempat tinggal. Salah mengeja kata. Salah menjawab soal ujian. Salah memilih teman… Dan ada sejuta kesalahan lain yang telah dan akan terus kita lakukan sepanjang hidup.

Yang membedakan adalah cara kita masing-masing dalam menyikapi kesalahan dan menghadapi konsekuensi dari kesalahan yang kita buat. Beberapa dari kita setengah mati menghindari kesalahan karena takut akan konsekuensinya. Ini adalah upaya yang sia-sia, karena tidak peduli sehati-hati apa pun kita, kita akan tetap membuat kesalahan dalam hidup. Akibatnya kita menjadi kecewa.

Beberapa dari kita menyikapi kesalahan dengan menghukum diri sendiri secara berkepanjangan. Menyalahkan diri karena berbuat salah lalu terjebak dalam penyesalan dan depresi mendalam.

Yang lain mencoba lari dari konsekuensi kesalahannya. Lalu mencoba menutupi kesalahan satu dengan kesalahan lainnya sehingga alih-alih masalah terpecahkan dan masalah pertama hilang, kita malah menambah kesalahan baru.

Saya melakukan banyak kesalahan dalam hidup. Tapi kesalahan terbesar saya adalah mencoba untuk tidak berbuat salah. Akibatnya saya tumbuh jadi anak yang takut sepanjang waktu. Takut salah karena saya takut akan konsekuensinya: dimarahi orang tua.

Setelah beranjak dewasa, saya takut menjalani hidup. Saya takut salah mengambil langkah dan akhirnya menderita. Ironisnya, pada akhirnya ketakutan berbuat salah ini yang menjadi sumber penderitaan saya. Saya juga jadi sulit memaafkan diri saya sendiri dan orang lain. Saya sulit menerima ketika sesuatu tidak berjalan seperti keinginan saya.

Lalu saya sadar. Saya dulu tidak pernah diberikan ruang untuk berbuat salah. Saya selalu dituntut untuk menjadi sesempurna mungkin. Kesalahan kecil bisa berakibat fatal, berujung pada rasa sakit, fisik dan mental. Saya jadi takut berbuat salah.

Jadi saya memutuskan untuk memberikan putri saya ruang. Ruang untuk berbuat salah. Ruang untuk belajar sesuatu dari kesalahannya. Ruang untuk memahami makna konsekuensi. Ruang untuk mengerti hukum kausalitas, sebab akibat. Ruang untuk berbuat salah namun bisa bangkit lagi.

Saya ingin memberikannya ruang untuk merasa dicintai bahkan ketika dia berbuat kesalahan yang besar. Ruang yang memberikannya rasa aman ketika dia melakukan sesuatu yang sangat bodoh sekali pun. Ruang hangat tempat dia bisa mengevaluasi kesalahannya dengan tenang tanpa merasa dihakimi dan ditinggalkan. Ruang untuk belajar dari kesalahannya sesulit apa pun itu. Ruang untuk bereksperimen dan menemukan hal-hal baru. Ruang tempat melihat dan menerima rasa sakit sebagai bagian wajar dari kehidupan. Ruang tempat dia mendengar “We all make mistakes. What you did may not be right, but we can learn to accept it, perhaps fix it, and move on”.

Di dunia yang bisa menjadi begitu dingin dan kelam, saya ingin memberikannya ruang untuk menjadi manusia. Manusia yang penuh kesalahan namun tetap layak menerima maaf dan mampu memaafkan.

Sabtu, 14 Desember 2019.

Haura Emilia