Cleaning 101: Obsesi Bersih-Bersih dan Tips Membersihkan Rumah yang Efektif

Halo semuanya,

Buat yang sudah mengenal saya dengan baik mungkin tahu kalau saya sedikit ‘terobsesi’ dengan kebersihan dan aktivitas bersih-bersih. Nah, kali ini saya mau berbagi sedikit tentang obsesi bersih-bersih dan tips membersihkan rumah yang efektif. Pertama-tama, saya akan cerita sedikit tentang latar belakang obsesi ini. Kalau mau baca tipsnya langsung juga boleh, silakan langsung skip ke tips-tips di bawah.

Obsesi ini saya dapatkan dari ibu saya tercinta yang semangatnya selalu saya kagumi. Ibu saya, menurut ‘pantauan’ dan pengamatan saya, memiliki standar kebersihan yang di atas rata-rata kebanyakan orang yang saya kenal. Dari kecil saya sudah biasa melihat ibu saya bersih-bersih dan jarang sekali menemui rumah dalam keadaan kotor. Rumah orang tua saya selalu disapu dan dipel sehari dua kali, furnitur harus dibersihkan dari debu setiap kali acara beres-beres dimulai, kamar mandi harus dibersihkan paling tidak dua hari sekali, cucian piring haram hukumnya dibiarkan menumpuk, bak cuci piring harus disikat dan dikeringkan, dinding rumah juga harus dicat ulang 6 bulan sekali, atau paling tidak setahun sekali.

Masih belum cukup? Ibu saya mewajibkan kami menggosok lantai garasi dengan pembersih, menggunting rumput halaman seluas 200 meter persegi, dan ibu juga mencontohkan kami untuk mencuci pagar rumah! Sungguh saya belum pernah lihat orang lain mencuci dan menggosok pagar rumahnya serutin dan sesungguh-sungguh ibu saya. Saat menyapu lantai semua furnitur harus digeser agar tidak ada kotoran atau debu yang bersembunyi di balik barang atau di kolong kursi dan tempat tidur. Ibu saya tidak pernah hanya sekadar menyuruh anak-anaknya, melainkan memberikan contoh langsung. Ibu saya perempuan perkasa yang menggunting rumput, mencuci mobil, memasak, dan mengurus anak plus suaminya.

Dulu saya dan adik saya sering diam-diam (dan kadang-kadang terang-terangan) mengomel kalau ibu cerewet soal kebersihan karena kami berpendapat ibu terlalu berlebihan soal bersih-bersih ini. Menurut kami tidak ada gunanya mengelap kaca meja makan dan meja ruang tamu berulang-ulang karena toh nanti juga kotor lagi. Ibu saya sampai sengaja memilih kaca meja berwarna transparan, bukan yang agak buram, karena menurut ibu saya cap tangan kita akan ‘nyeplak’ dan ‘ceplakannya’ akan lebih terlihat kalau kacanya berwarna buram. Menurut kami ini hal yang berlebihan sekali dan kami berkali-kali bilang ke ibu kalau “tidak akan ada yang memperhatikan”. Tapi ibu saya bilang kalau dia bisa melihatnya dan tidak nyaman. Hehe… Ibu saya juga bilang kalau dia akan malu kalau ada tamu datang dan rumahnya kotor. Saya dan adik saya bilang kalau kami yakin tamu yang datang belum tentu rumahnya lebih bersih. Tapi ibu tetap ‘kekeuh’ dengan pendiriannya.

Saya tetap merasa ibu berlebihan soal bersih-bersih sampai hari itu tiba. Hari di mana saya harus keluar dari rumah dan ngekos sendiri saat kuliah. Masalah dimulai dari waktu pencarian kosan yang cocok. Saya resah dan agak-agak stres karena mencari kosan yang cocok sangat sulit. Bukan, bukan karena saya picky atau belagu mau tempat yang bagus, yang berlantai marmer dll. Sama sekali bukan, karena toh dari dulu kami tinggal di rumah yang sederhana saja. Tapi karena sulit mencari tempat yang menurut saya ‘cukup bersih’ untuk ditinggali. Setelah dapat tempat kos yang cocok, saya mau tidak mau jadi rajin bersih-bersih kamar. Bukan karena saya anaknya rajin dan baik hati, tapi karena saya ternyata sudah begitu terbiasa tinggal di tempat yang bersih. Saya jadi gak betah dan gak tahan kalau kamar saya kotor sedikit. Kebiasaan bersih-bersih terbawa sampai saat saya tinggal di Singapura seorang diri. Walaupun saya tinggal di flat dengan dua orang housemate, saya tetap sering membersihkan seluruh flat seorang diri.

Setelah menikah kebiasaan bersih-bersih sedikit demi sedikit berubah jadi obsesi. Hehe… Untungnya saya menikah dengan orang yang bisa bersih-bersih juga. Hal pertama yang biasanya kami lakukan di pagi hari adalah menyapu rumah (biasanya setelah olahraga pagi). Kami biasanya gantian menyapu. Rumah kami sapu hampir setiap ‘kotor’ dengan debu dan helaian rambut yang rontok. Ini berarti tidak ada batasan berapa kali rumah disapu dalam sehari. Bisa dua atau tiga kali sehari. Lalu setiap akhir pekan saya melakukan ‘bersih-bersih massal’.

Belajar dari bersih-bersih massal ini saya akan memberikan tips membersihkan rumah yang efektif. Perlu dicatat bahwa saya tidak punya asisten rumah tangga dan selalu mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri atau berdua dengan Mamat. Jadi tips ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi. Sebaiknya lakukan ‘bersih-bersih massal’ ini seminggu sekali, atau paling tidak dua minggu sekali.

Berikut adalah tips membersihkan rumah yang dijamin bersih dan efektif a la saya. XD

  1. Selalu kembalikan barang-barang yang berserakan ke tempatnya sebelum mulai membersihkan rumah. Ini untuk memudahkan aktivitas bebersih. Tidak mau kan tidak sengaja menginjak handuk bersih atau menjatuhkan ponsel Anda saat bersih-bersih? Jika ingin ganti sprei, sebaiknya lepaskan juga sprei dan lipat sebelum memulai bersih-bersih.  Bedroom2
  2. Cuci piring yang menumpuk kalau ada. Kenapa? Karena saat itu tangan Anda seharusnya dalam keadaan bersih belum menyentuh debu dan kotoran. Lalu keringkan piring dan susun di tempatnya. Ini juga untuk mempermudah aktivitas bersih-bersih.
  3. Jika sudah, lanjutkan dengan mengelap seluruh furnitur dan perabotan (meja tamu, kursi, meja makan, kitchen set, pajangan, bingkai foto, jam dinding, kompor, dll.). Gunakan kemoceng untuk benda-benda yang sebaiknya tidak kena air, seperti TV dan laptop. Untuk mengelap furnitur dan kitchen set sebaiknya gunakan kanebo yang sudah dibasahi dengan air atau campuran air dan cairan pembersih. Lalu lap semua furnitur dan jendela. Jika ada beberapa furnitur yang lebih kotor (misalnya bagian atas AC atau bagian dalam lemari kitchen set yang lebih jarang dibersihkan) sebaiknya gunakan kanebo yang berbeda dengan kanebo yang digunakan untuk mengelap meja, kursi dan kaca jendela yang biasanya tidak terlalu kotor. Kenapa? Hal ini untuk mengurangi kontaminasi kuman dan menjaga keawetan kanebo. Jangan lupa bersihkan kusen jendela dan pintu dengan kemoceng (jika tidak punya banyak waktu mengelapnya dengan kanebo basah).
  4. Jika Anda menggunakan karpet, ini adalah saatnya untuk mengeluarkan vacuum cleaner. Sedot debu karpet dan sofa secara teratur karena karpet dan sofa yang kotor bisa jadi sarang binatang kecil dan debu, yang bisa menyebabkan gatal-gatal dan ruam pada kulit. Hal ini penting terutama jika Anda punya bayi atau anak kecil.
  5. Setelah acara lap-lap dan sedot debu selesai biasanya seluruh debu dan kotoran akan ‘turun’ ke lantai. Jadi, langkah selanjutnya adalah menyapu rumah. Jangan menukar urutan kerjanya karena jika Anda menyapu dulu baru mengelap perabotan, kotoran akan turun lagi ke lantai. Lalu, usahakan untuk menggeser kursi, meja, kasur dan lemari (jika tidak mungkin dilakukan sendiri, minta bantuan orang) lalu sapu bagian-bagian yang tersembunyi seperti kolong dan bagian belakang furnitur. Kenapa? Karena biasanya kuman, debu, dan jaring laba-laba bersarang di tempat-tempat yang tersembunyi.
  6. Jika sudah selesai, jangan langsung geser furnitur ke tempatnya. Ambil ‘alat tempur’ pel Anda dan mulai lah mengepel rumah. Gunakan cairan pembersih standar. Kalau Anda ‘parno’ dengan kandungan bahan kimia berbahaya pada cairan pembersih lantai, Anda bisa menggunakan soda kue (baking soda) yang dicampur dengan air bersih untuk mengepel. Baking soda adalah cleaning agent yang aman dan cukup efektif untuk membersihkan perabotan dan kamar mandi. Info lebih lanjut bisa dilihat di sini: http://www.thenewhomemaker.com/cleanorg/soda.html
  7. Setelah lantai kering, geser kembali furnitur dan perabotan ke tempat sebelumnya. Jika masih ada kotoran atau debu yang tertinggal di lantai, sapu sedikit kotoran keluar.
  8. Pasang sprei baru atau ganti sarung bantal sofa, jika perlu dan ada. Letakkan karpet bersih dan buang sampah pada tempatnya.
  9. Tersenyum dan nikmatilah rumah yang sudah bersih. 🙂 Tanpa sadar Anda juga sudah membakar cukup banyak kalori.

 

Ruang tamu

Percayalah, tidak ada yang lebih nyaman dari perasaan masuk ke dalam selimut yang bersih atau duduk di ruangan yang baru dibersihkan. Rasanya seperti dibanjiri serotonin, si hormon bahagia. Hehe…

Tips di atas tidak termasuk tips membersihkan kamar mandi dan bagian luar rumah seperti halaman dan garasi. Saya akan menulis tips terpisah untuk kamar mandi dan bagian luar rumah.

Kembali ke soal obsesi bersih-bersih, dulu saya mungkin sering sedikit mengeluh jika dicereweti ibu soal bersih rumah-rumah dan malas-malasan jika disuruh potong rumput halaman. Tapi sekarang saya justru bersyukur. Berkat didikan ibu, saya jadi perempuan yang serba bisa. Tidak peduli setinggi apa pun saya sekolah, saya tetap bisa survive saat tidak ada ibu di dekat saya. Saya juga jadi sangat menghargai profesi yang sering dipandang sebelah mata seperti tukang pel dan cuci piring di restoran, tukang angkut sampah, dan tukang sapu jalanan. Saya jadi tahu, bahwa mereka telah bekerja keras untuk secara tidak langsung membuat hidup kita lebih sehat dan nyaman. Saya juga belajar kalau sumber banyak penyakit adalah ketidakpedulian kita terhadap kebersihan. Terima kasih ibu.

Jadi tunggu apa lagi? Yuk, kita bersih-bersih. 🙂

 

Cheers,

Haura Emilia

kamar kerja

 

Iklan

Current Obsession: Home Decoration!

Halo Semuanya,

Buat yang belum tau, saya resmi pindah ke Solo bulan April lalu. Rumah yang saya dan suami tempati sekarang adalah rumah yang suami saya bangun beberapa tahun lalu dan sempat dibiarkan kosong waktu kami masih sama-sama tinggal di Singapura. Karena terhitung rumah baru, jadi kondisinya pun masih baik walaupun masih kosong dan baru ada sedikit furnitur waktu kami pindah.

Desain rumah kami dirancang oleh suami sendiri, di mana hanya ada sedikit sekali sekat yaitu hanya dinding kedua kamar dan dinding kamar mandi yang memisahkan kamar dengan area lain di dalam rumah. Antara ruang tamu, ruang keluarga dan dapur nyaris tidak ada batas, sehingga rumah berukuran kurang lebih 60m2 ini terlihat lebih luas dari ukuran yang sebenarnya. Rumah yang nyaris kosong ini membuat kami sangat bersemangat untuk mengisinya.

‘Perburuan’ isi rumah dimulai dari barang-barang eletronik yang kami nilai sebagai ‘kebutuhan utama’ seperti kulkas, AC, dan mesin cuci. TV tidak masuk kebutuhan utama karena kami berdua bukan penggemar berat TV dan TV sendiri baru kami beli sebulan yang lalu. Selain barang elektronik, kami juga sibuk berburu furnitur seperti sofa, meja makan, kursi tamu, tempat tidur, dan lemari. Di sini obsesi baru kami akan home decor itu dimulai.

Saya pribadi sangat suka dengan gaya desain dan dekor a la Scandinavian, yang memiliki warna dasar putih dan kemudian dihias dan diramaikan dengan sedikit warna cerah untuk pemanisnya. Saya memang penggemar warna putih dan warna-warna yang netral, jadi style ini paling cocok dengan saya. Kebetulan, suami saya juga menyukai dekorasi rumah a la Ikea dan dulu waktu tinggal di Singapura dia suka membeli barang-barang di Ikea dan membawanya ke Solo. Jadilah kami berdua sibuk browsing sana sini dan bolak-balik buka Pinterest. Kami banyak sekali mendapatkan inspirasi home decor yang cantik dari Pinterest, misalnya yang seperti ini:

Living room 2

Living room

TV Set

Masalahnya…. Ternyata mencari furnitur a la Scandinavian tidak mudah di Solo, yang sangat jauh dari Ikea (terdekat di Tangerang dan Singapura..). Susahnya lagi, Ikea Indonesia tidak punya jasa pembelian online ke seluruh Indonesia… Jadi apa solusinya? Ternyata suami saya punya teman yang bekerja di Ikea Tangerang. Jadilah kami minta tolong dia belikan barang yang kami mau dan kirimkan ke rumah adik suami saya yang ada di Tangerang. Dari Tangerang barang titipan (berupa sofa berukuran 2.30 meter dengan berat 90 kg) baru dikirimkan ke Solo. Rempong, ya?

Masalah sofa selesai. Sekarang bagaimana dengan furnitur lainnya? Akhirnya kami berkeliling Solo dengan semangat juang 45. Kami juga jadi ‘hapal’ (lebay) isi Ace Hardware dan Informa. Pilihan kami jatuh pada Piguno, furnitur jati buatan asli dalam negeri sendiri. Piguno ini adalah merek furnitur jati yang desainnya sederhana dan rata-rata berukuran kecil karena memang ditujukan untuk rumah-rumah berukuran kecil dan apartemen. Kalau mau jujur, gaya Scandinavian dan jati tidaklah matching. Tapi kami maksa, karena udah terlanjur suka dan putus asa mencari barang yang kami mau. Hehe… Maka, kursi ruang tamu, meja makan, tempat tidur, dan lemari pun akhirnya kami beli di Piguno.

Tantangan berikutnya adalah ruang kerja. Yap, ruang kerja. Ruang atau kamar kerja adalah ruang yang sangat penting bagi orang-orang seperti kami yang bekerjanya dari rumah. Jadi kami harus serius mendesainnya, agar benar-benar nyaman untuk kami gunakan. Kebetulan, si Piguno ternyata punya jasa interior design yang bisa membuatkan furnitur berdasarkan desain dan konsep yang kami inginkan. Yaah, tau gitu dari awal semua furniturnya pesan aja… Haha… Kami pun janjian dengan si mbak desainer yang ternyata umurnya lebih muda 4 tahun dari saya hiks sangatlah keren dan bisa memahami maunya kami yang kebanyakan mau ini. Dalam waktu singkat, jadilah desain ruang kerja yang kami mau. Ini desain 3Dnya:

ruangkerja 1ruang kerja 2

Dan ini hasil akhirnya:

kamar kerja

Kamar kerja 2

Bagaimana dengan ruangan yang lain? Ini dekorasi rumah kami sementara.

Kamar tidur:

Untuk kamar, saya juga memilih warna putih dan warna-warna netral. Bedsheet dan quilt cover saya pilih yang warna putih dan untuk gorden saya pilih yang jenis blackout dengan warna krem dengan nuansa hijau sangat muda (bingung shade-nya sebenarnya apa. :p). Dinding kamar sendiri juga berwarna krem dengan gradasi warna yang lebih tua dari gorden yang memberikan efek hangat, nyaman, dan membuat ngantuk. :p Ada juga beberapa dekor kecil seperti lampu meja berwarna oranye.

Bedroom

Bedroom2

Ruang nonton TV:

Ruang TV

Sofa

Ruang tamu:

Ruang tamu

Dan ini beberapa detailnya:

Rumah Solo

Ini detail meja makannya:

2015-07-31 (5)

Beginilah tampilan rumah kami sementara. Kemungkinan besar akan mengalami perubahan lagi karena saat ini saya dan suami masih terus mencari barang-barang untuk melengkapi dekorasi rumah seperti karpet, bingkai foto, vas bunga, hiasan dinding seperti lukisan, dan kami juga ada rencana untuk buat taman belakang, laundry room, dan membuat dinding bata putih a la Scandinavian untuk ruang TV. Dinding bata yang saya maksud adalah yang seperti ini:

white brick wall

Yap, begitulah kegiatan kami yang kurang kerjaan ini sekarang. Salah satu topik debat favorit kami adalah motif dan warna sarung bantal sofa, warna dan motif bedsheet dan gorden, bentuk dan desain bingkai foto, dan warna cat dinding. Saya sempat berpikir jangan-jangan saya seharusnya dulu kuliah interior design untuk meyalurkan bakat dan minat. Tapi suami saya bilang kenapa saya tidak mulai belajar saja. Siapa tau ada yang mau jadi korban klien saya suatu hari nanti. Well, let’s see. Doakan semoga saya tetap sehat jadi bisa terus belajar, bekerja, mendekor, dan mengisi rumah. 😉

Cheers,

Haura Emilia