Membangun Kebiasaan dengan ‘Atomic Habits’: Teori, Praktik, dan Fasilitas Pendukung

Disclaimer: Tulisan ini bukan iklan dan saya tidak dibayar sepeser pun untuk menulisnya. Merek dan judul yang saya sebut di sini saya beli dan gunakan sendiri.

1

Ada satu hal yang selalu saya kenang tentang almarhum ayah saya; kebiasaan membacanya. Almarhum ayah saya dulu tidak pernah menyuruh-nyuruh saya belajar dan membaca. Tidak. Yang beliau lakukan adalah memberikan kami contoh dan teladan yang nyata. Setiap hari ayah menghabiskan paling tidak 2 hingga 3 jam untuk membaca buku. Saya dan adik saya otomatis tertular kebiasaan baik ini. Dari kecil hingga sekarang kami berdua sudah membaca ratusan buku. Kebiasaan ini tidak datang dengan tiba-tiba dalam waktu semalam, melainkan melalui sebuah proses panjang dan pengulangan selama bertahun-tahun. Membangun kebiasaan baik, atau sebaliknya meninggalkan kebiasaan buruk, bukanlah hal yang mudah dilakukan. Saya juga belajar bahwa untuk menjadi pribadi yang lebih dan terus berkembang, saya perlu membangun lebih banyak lagi kebiasaan atau habit baik.

Untuk mempermudah proses menulis tesis saya dulu, saya berusaha membangun kebiasaan menulis setiap hari. Saya membiasakan diri untuk menulis apa saja terkait bidang studi saya setiap hari, 5 hari dalam seminggu. Di semester terakhir kuliah, saya mewajibkan diri saya untuk menulis konten tesis 2 halaman setiap harinya. Kalau saya absen menulis sehari, maka keesokan harinya saya harus menulis 4 halaman. Kalau absen sehari lagi, besoknya saya harus menulis 6 halaman. Begitu seterusnya. Sebaliknya, kalau dalam sebulan saya berhasil mencapai target menulis sebanyak 90% dari target awal maka saya akan membelikan diri saya hadiah kecil, misalnya tas atau sepatu. Ya, saya menerapkan sistem punishment and reward untuk membangun habit demi mendukung proses menulis tesis.

Baru-baru ini saya membaca sebuah buku yang sangat menarik mengenai cara efektif membangun kebiasaan baik dan meninggalkan kebiasaan buruk. Buku ini adalah jawaban dari keresahan hati saya yang beberapa tahun terakhir mulai jarang membaca buku. Judul bukunya adalah Atomic Habits oleh James Clear. Atomic Habits pada dasarnya adalah kebiasaan atau rutinitas kecil yang mudah dan sederhana untuk dilaksanakan namun sebenarnya adalah sumber daya yang luar biasa, sebuah komponen dari sistem pengembangan diri. Hal-hal atau perubahan kecil yang pada awalnya terlihat sepele akan berkembang menjadi hasil yang luar biasa jika kita cukup sabar untuk terus melakukannya.

Ada 4 cara yang bisa kita lakukan untuk membangun kebiasaan baik. Pertama, jadikan kebiasaan tersebut jelas atau nyata (make it obvious). Fokus dan tuliskan habit apa yang ingin dibangun dan kapan ingin melaksanakannya. Pastikan untuk memulai kebiasaan baru sebelum atau sesudah kebiasaan lain yang sudah menjadi rutin bagi kita. Misalnya “ingin membangun kebiasaan membaca setiap hari sebelum tidur” atau “ingin membangun kebiasaan membersihkan kamar segera setelah sarapan”. Hal ini disebut dengan ‘habits stacking’. Kenapa kita perlu menetapkan waktunya? Karena dengan menetapkan waktu yang jelas kita tahu persis kapan memulainya dan tidak punya alasan untuk menunda atau tidak melakukannya. Pastikan di waktu yang kita tentukan tidak ada kegiatan lain yang kira-kira dapat mengganggu atau menggagalkan rencana kita untuk membangun rutinitas baru.

Kedua, jadikan kebiasaan itu menarik bagi kita (make it attractive). Kita cenderung mengadopsi sebuah kebiasaan jika lingkungan sekitar kita menganggap kebiasaan tersebut baik dan menarik pula. Maka, kalau kita ingin membangun kebiasaan membaca maka bertemanlah dengan orang-orang yang suka membaca juga. Jika ingin rajin menabung, dekati orang-orang yang pandai mengelola finansialnya. Sebuah kebiasaan akan terlihat menarik jika dilakukan oleh orang-orang terdekat atau lingkungan sekitar.

Ketiga, jadikan kebiasaan itu mudah (make it easy). Mulailah dengan kebiasaan kecil yang sederhana dan mudah dilakukan. Jangan memulainya dengan sesuatu yang terlalu ambisius dan sulit dijalankan. Jika ingin membangun kebiasaan menulis, mulailah dengan menulis 2 kalimat setiap harinya. Jika ingin rajin membaca, mulailah dengan membaca 1 halaman setiap harinya. Menulis 1 halaman mungkin sulit, tapi menulis 2 kalimat itu mudah. Membaca 2 jam sehari itu sulit, namun membaca 1 halaman itu mudah. Berolahraga 30 menit setiap hari itu sulit, mulailah dengan memakai sepatu olahraga setiap pagi. Jika sudah terbiasa melakukannya, lanjutkan dengan berjalan kaki 10 menit per hari. Terus kembangkan durasi/volumenya jika sudah dirasa nyaman dengan yang mudah.

Keempat, jadikan kebiasaan itu memuaskan (make it satisfying). Sesuatu terasa memuaskan jika kita bisa segera merasakan atau melihat hasilnya. Karena saya ingin membangun kembali kebiasaan membaca saya memposting judul dan review buku yang sudah selesai saya baca di Instastory Instagram lalu daftar buku ini saya letakkan di highlight profil Instagram saya. Ada kepuasan sendiri memposting hasil bacaan dan dalam konteks ini pamer tidak selalu berarti negatif karena efeknya memberikan kepuasan pribadi dan mendorong saya untuk terus membaca.

Kalau ingin membangun kebiasaan menabung, buka rekening bank yang memiliki aplikasi di smartphone sehingga kita bisa melihat saldo tabungan kita kapan saja. Atau berikan diri kita hadiah jika berhasil mempertahankan suatu rutinitas baik selama sebulan penuh, seperti contoh saya di atas. Alternatifnya, kita bisa mendownload aplikasi pelacak kebiasaan (habit tracker) yang memberikan kepuasan tersendiri saat melihat perkembangan kebiasaan kita.

Saya memakai aplikasi Habitify. Dengan aplikasi ini kita bisa menentukan kebiasaan yang mau kita bangun dan kapan melakukannya. Kita juga bisa menyetel alarm sebagai pengingat. Aplikasi ini akan memberikan laporan persentase rutinitas yang kita pilih. Begini contohnya

Laporan dan angka-angka ini bisa menjadi penyemangat bagi kita untuk meneruskan kebiasaan. Jika kita ingin rajin berolahraga, kita juga bisa mendownload aplikasi pendukung yang bisa memantau perkembangan pencapaian kita, yang nantinya bisa kita posting di media sosial. Sekali lagi, poinnya adalah menjadikan kebiasaan itu memuaskan untuk dilakukan.

Nah, sekarang bagaimana dengan meninggalkan kebiasaan buruk? Lakukan kebalikan semua 4 cara di atas: jadikan agar kebiasaan itu tidak jelas (make it unobvious), jadikan kebiasaan itu tidak menarik (make it unattractive), jadikan kebiasan itu sulit (make it hard), jadikan kebiasaan itu tidak memuaskan (make it unsatisfying). Menghentikan kebiasaan main sosmed terlalu lama? Letakkan smartphone di ruangan yang berbeda. Persulit aksesnya. Menghentikan kebiasaan makan junkfood? Jangan dibeli dan isi kulkas hanya dengan makanan sehat. Ingin berhenti merokok? Jangan berteman atau jangan dekat-dekat dengan perokok.

Ya, sayangnya hidup tidak semudah teori. Pada kenyataannya, ada-ada saja hal yang bisa membuat kita tidak disiplin atau berhenti melakukan sebuah kebiasaan baik. Salah satu penghalangnya adalah rasa bosan. Saya punya pengalaman pribadi tentang ini.

Sudah 11 tahun saya bekerja sebagai seorang penerjemah, dan 6 tahun sebagai penerjemah lepas. Saya bekerja di rumah sendiri, tanpa kolega yang bisa saya ajak bergosip atau rekan kerja yang lucu dan bisa diajak curhat. Teman saya adalah laptop dan kesendirian. Kadang saya merasa bosan yang teramat sangat bisa membunuh saya pelan-pelan. Tapi toh, walaupun bosan 1/2 mati saya masih bisa mengendalikannya dan terus bekerja. Seiring bertambahnya waktu, klien saya semakin banyak, portofolio saya semakin baik, skill saya semakin terasah. Saya pun menyadari bahwa salah satu kunci sukses mempertahankan kebiasaan baik, yang nantinya akan membawa hasil yang baik pula, adalah kemampuan untuk mengalahkan rasa bosan dan ‘sakit’.

Manusia tidak terprogram untuk menderita. Sebaliknya, insting purba kita selalu menginginkan sesuatu yang mudah, cepat, nyaman, dan enak. Inilah kenapa kita menyukai fast food dan tergila-gila dengan Facebook. Sayangnya, sesuatu yang mudah, cepat, nyaman, dan enak tidak menempa kita menjadi pribadi yang tangguh dan tahan banting.

Nah, biar tahan banting, sok atuh lah, sekarang mari kita coba dulu membangun kebiasaan baik secara perlahan. Jangan fokus di takut gagalnya duluan, ya.

Mengutip teman baik saya si Bulan, “senyum dulu, ah”. 😁

Cheers,

Haura Emilia

Note: I don’t own the first image above. Contact me for removal.

Iklan

Memori Sekeranjang Apel

“Mbak, kok tumben belanjanya gak bareng suaminya?”

“Wah. Emang mbaknya tau suami saya yang mana?”

“Itu yang tadi beli buah banyak banget, kan?”

“………. Iya.. Mbaknya sudah hapal ya muka kami? Iya, gak bareng. Tadi saya pegang bayi di mobil, jadi belanjanya gantian.”

Percakapan saya dengan seorang kasir di Superindo sempat membuat saya tertegun sejenak. Komentar si Mbak Kasir tentang suami saya yang “membeli buah banyak banget” menghidupkan kembali sebuah kenangan lama.

Dua puluh lima tahun yang lalu, saat saya masih duduk di bangku SD, ibu mengajak saya ke rumah kenalannya di Jakarta. Kenalannya ini termasuk orang yang berada. Saya yang masih kecil saja bisa langsung tahu ketika mengunjungi rumahnya. Rumahnya terlihat begitu mewah dan megah di mata saya. Di dalam rumah itu, saya melihat sekeranjang buah apel merah tersusun manis di atas meja makan. Buah-buahan, apalagi apel merah impor, adalah barang langka untuk kami kala itu. Saya pun memandangi keranjang buah itu cukup lama saat ibu mengobrol dengan kenalannya.

Sampai di rumah, saya menghampiri ibu dan bertanya mengapa kami tidak makan buah setiap hari. Kenapa tidak ada sekeranjang buah-buahan di atas meja. Ibu saya menjawab, “Kita belum mampu makan buah setiap hari, Nak.” Saat itulah saya baru mengerti. Ayah saya yang seorang guru dan penghasilannya tidak seberapa jarang bisa memberikan ibu uang belanja lebih untuk membeli buah-buahan.

Sejak saat itu saya bercita-cita untuk menjadi orang yang sukses. Dalam kepala saya saat itu, orang sukses pasti kaya dan mampu membeli dan makan buah-buahan setiap hari. Saya juga ingin melihat sekeranjang buah di atas meja makan rumah saya sendiri nanti. Sesederhana itu definisi sukses saya.

Setelah dewasa, saya lupa sama sekali tentang obsesi masa kecil ini. Saya hanya ingat bahwa saya ingin sukses dan berhasil agar tidak perlu memikirkan uang setiap hari dan bisa mengerjakan apa yang saya suka. Tapi mungkin memang tidak ada kenangan yang benar-benar terlupakan. Yang ada hanyalah kenangan yang terkubur dan tanpa kita sadari bermanifestasi dalam tindakan kita. Tanpa saya sadari, setelah dewasa saya sering membeli buah-buahan dalam jumlah yang banyak, yang kadang tidak bisa juga saya habiskan sendiri. Saya sempat tidak yakin mengapa saya terobsesi dengan buah.

Sampai di rumah, setelah percakapan saya dengan Mbak Kasir Superindo, saya termenung memandangi buah-buahan dalam kardus yang akan saya masukkan ke dalam kulkas. Apel merah, semangka, melon, nanas, pisang, salak, alpukat. Semuanya stok untuk satu minggu. Air mata menggenang di pelupuk mata saya. Saya tidak sedih. Sebaliknya, saya merasakan kehangatan di dada saya.

Lalu saya teringat kenangan saat saya makan buah-buahan yang sangat segar di Belanda, mencoba durian super lezat di Bangkok, atau minum jus buah di sebuah cafe di Paris. Saya teringat ibu saya. Saya teringat almarhum ayah. Ayah dan ibu yang tidak pernah sedikit pun ragu bahwa suatu saat anak perempuannya bisa meraih semua cita-citanya. Yang selalu yakin saya, anak dari keluarga sangat sederhana, juga bisa ‘sukses’ dengan usaha saya sendiri. Saya teringat ibu yang sekarang selalu tersenyum melihat isi kulkas saya. Ada banyak bahan makanan. Ada cukup buah-buahan. Mungkin ibu berpikir, “She did it. Anakku baik-baik saja.” 🙂

Cheers,

Haura Emilia

Tips Berhemat dan Menabung untuk Mencapai Target Finansial

Halo semuanya,

Selamat tahun baru 2019!

Tidak terasa kita telah memasuki tahun 2019. Ada yang punya resolusi tertentu tahun ini? Saya sih ingin bisa saving lebih banyak. Hehe…

Bicara soal saving atau tabungan, sebelum punya anak, saya menabung untuk investasi jangka pendek dan menengah, dana darurat, liburan, membangun rumah sendiri dan membeli benda yang saya inginkan. Nah, setelah punya anak, saya mulai lebih serius memikirkan investasi jangka panjang untuk biaya pendidikan Reina.

Saya menghabiskan 19 tahun hidup saya untuk sekolah formal, 3 tahun les bahasa Inggris dan 2 tahun les bahasa Prancis. Ditambah lagi les dan training pendukung karir saya yang lain, maka sebenarnya saya menghabiskan sebagian besar waktu saya untuk belajar. Otomatis, pendidikan (selain tumbuh kembang dan kesehatan) Reina sekarang menjadi fokus utama financial goal saya.

Anda mungkin memiliki tujuan finansial yang berbeda dari saya. Ada yang menabung untuk membayar cicilan rumah, ada yang untuk membayar kredit kendaraan, ada yang ingin menabung untuk jaminan hari tua, dan lain-lain. Saya pribadi sudah melewati masa-masa menabung untuk memiliki rumah dan kendaraan sendiri. Saat ini neraca keuangan saya positif yang berarti saya bebas utang (tidak ada tagihan kartu kredit kecuali tagihan-tagihan kecil rutin tiap bulan dan tidak ada cicilan besar seperti KPA atau kredit kendaraan). Di sini saya akan berbagi sedikit tips tentang bagaimana saya (dan suami) melakukannya.

Berdasarkan pengalaman pribadi, untuk mencapai target finansial kita butuh lebih dari sekadar kerja keras dan menabung. Kita memerlukan strategi yang tepat untuk menabung dan mengelola keuangan. Pada prinsipnya, untuk mencapai tujuan finansial saya menerapkan (beberapa di antaranya) prinsip Warren Buffet, “save first, spend next”, “reduce and prioritize”, dan “invest to create a second source of income”.

Setiap bulan, saat menerima pembayaran invoice atas jasa kami (saya dan suami penerjemah dan juru bahasa profesional), saya dan suami langsung membagi uang menjadi dua: untuk tabungan plus investasi dan untuk pengeluaran rutin bulanan. Jadi, kami menabung dulu, baru memakai sisanya untuk kebutuhan sehari-hari. Ya, menabungnya di depan, bukan di belakang.

Sekali lagi, yang kami tabung bukanlah sisa uang bulanan. Kami telah menghitung biaya pengeluaran rutin kami, jadi kami bisa memperkirakan berapa yang harus kami save di depan. Ketika saving sudah aman, baru kami menghabiskan sisanya. Kecuali ada situasi darurat atau pada momen-momen istimewa, we stick to the plan. Disiplin sangat diperlukan agar tidak ngawur spending sana-sini yang sifatnya impulsif.

Prinsip kedua yang kami jalani adalah “reduce, substitute, and prioritize”. Untuk berhemat lebih banyak, saya sebisa mungkin menjalankan prinsip ‘reduce’ atau mengurangi. Mengurangi apa? Apa pun yang sifatnya tidak urgent. Caranya? Dengan mengadopsi pola hidup minimalisme.

Saya dan suami tidak pernah punya terlalu banyak barang (oke, selain buku ya karena jaman dulu belum ada Kindle dan e-book). Kalau Anda main ke rumah kami, Anda akan melihat dinding-dinding kosong, space kosong di pojok ruangan, absennya pajangan dan benda-benda yang bersifat dekoratif, dan Anda mungkin bertanya-tanya di mana letaknya jam dinding di rumah kami yang tidak begitu luas (iya, kami cuma punya 1 jam dinding di seluruh rumah, yang itu pun hadiah sebenarnya). 😆 Walaupun sebuah hiasan dinding terlihat sepele, kita tetap perlu mengeluarkan uang untuk membelinya, toh? Jadiii, kalau sesuatu dirasa tidak perlu-perlu amat ya monggo dikurangi.

Untuk keperluan lain terkait keperluan bayi, misalnya, kami memotong anggaran dengan cara menyewa, apalagi untuk barang-barang yang sifatnya hanya dipakai sebentar sekali seperti mainan mahal atau gendongan bayi original yang harganya jutaan. Prinsipnya, kalau pun mampu, kami memilih untuk tidak membelinya. Karena selain buang-buang uang, barang-barang ini nantinya cuma akan menuh-menuhin rumah dan jadi sampah saja. Bisa kayak gini kasus ekstrimnya:

Kalau sudah seperti gambar di atas, salah siapa ya, kan? 😱😱😱😱

Masih banyak yang bisa dikurangi demi berhemat. Berikut beberapa contohnya:

1. Untuk perempuan, kecuali profesi Anda makeup artist, kurangi belanja skin care dan makeup. Percayalah, kebanyakan orang tidak peduli warna lipstick Anda.

2. Kurangi belanja pakaian. Supaya lebih hemat, jadwalkan belanja pakaian setahun 2x misalnya, saat hari raya dan akhir tahun saat diskon dan sale bertebaran.

3. Kurangi beli/tukar gadget. Saya pribadi mengupgrade hape saya 4 tahun sekali! 😬 Buat saya yang penting fungsinya, bukan model apalagi trennya. Saya juga punya post tabungan sendiri untuk belanja gadget. Saya memilih tabungan yang bisa mendebet otomatis jumlah tertentu setiap harinya sehingga saya ‘dipaksa menabung’, seperti tabungan Jenius dari bank BTPN (bukan iklan). Contohnya, Jenius bisa menyimpan Rp20.000/hari dari rekening kita selama 2 tahun untuk nantinya digunakan membeli hape baru. Ini cuma contoh, jumlah debet dan durasinya Anda yang menentukan.

4. Kurangi makan/jajan di luar.

5. Kurangi nonton bioskop.

6. Kalau jarang di rumah atau gak hobi nonton, tidak perlu langganan TV kabel.

7. Cari olahraga yang gratisan seperti lari atau yoga yang dipandu trainer di Youtube untuk menghemat biaya membership gym mahal.

8. Berhenti merokok dan kurangi makan junkfood!

9. Masak sendiri.

10. Kurangi bergaul dengan orang-orang yang konsumtif dan impulsif.

Selain mengurangi yang tidak perlu, kita juga bisa berhemat dengan cara mengganti atau mencari barang substitusi ketika memerlukan sesuatu. Misalnya, alih-alih selalu beli minuman (tidak sehat) saat makan di luar, kita bisa bawa botol atau termos berisi minuman favorit sendiri. Katakanlah kita selalu makan dan minum di luar saat jam istirahat kantor. Kita menghabiskan paling tidak Rp3000 untuk sebotol air mineral. Rp3000 x 20 hari kerja itu Rp60.000 sebulan atau Rp720.000 per tahun. Belum lagi kalau kita sering minum kopi di cafe, pengeluaran minuman bisa jauh lebih besar lagi!

Saya dan suami mengganti ART dengan robot vacuum 😆. Memang harganya tidak murah, tapi setelah dihitung, beli robot jauh lebih murah daripada menggaji ART, yang selain digaji bulanan juga perlu diberi THR dan BPJS kesehatan.

Kami juga mengganti buku fisik dengan ebook, karena selain hemat tempat harganya juga lebih murah. Kadang bisa setengahnya.

Lalu, alih-alih membeli mobil yang mahal, bagus dan nyaman, kami memilih memakai mobil lama ibu saya yang sudah tidak dipakai lagi. Walaupun mobil baru yang bagus tentunya lebih keren dan nyaman, mobil dengan harga di atas 300 juta saja pajaknya sudah lumayan mahal, bukan? Punya mobil biasa-biasa saja (yang pasaran dan dipakai sejuta umat 😂) berarti menghemat pengeluaran pajak dan biaya onderdil dan servis.

Kalau bisa tidak punya mobil lebih bagus lagi! Kami pakai mobil karena punya bayi dan kami perlu carseat bayi. Saya tidak bilang punya mobil bagus itu salah, ya. Kalau mampu tentu tidak dilarang. Poinnya adalah menyesuaikan kemampuan dan gaya hidup. Kalau mampunya punya Avanza, gak usah maksa nyicil CRV. Kalau bisa beli (baca: nyicil) mobil bagus tapi tiap hari mikir beli bensinnya, mikir bayar tolnya, susah payah nabung buat bayar pajaknya, mikir panjang buat beli makanan sehat berkualitas, megap-megap bayar uang sekolah anak, berarti ada yang salah dengan gaya hidup dan manajemen keuangan Anda.

Ingatlah petuah Mbah Buffet berikut:

Strategi penghematan berikutnya adalah dengan menetapkan prioritas keuangan dan memilih investasi yang tepat untuk mencapainya. Semua orang harusnya memiliki prioritas dalam hidup. Kalau prioritasnya membangun rumah ya fokus menabung dan mencari investasi yang sifatnya jangka menengah dan hasilnya lumayan supaya bisa membantu mengumpulkan DP rumah, misalnya reksadana pasar uang. Kalau prioritasnya pendidikan anak dan anaknya masih bayi ya cari investasi jangka panjang yang return-nya lebih besar seperti saham atau reksadana saham. Kalau prioritasnya liburan dalam negeri bisa coba deposito 3-6 bulanan. Lumayan, modal dan bunganya bisa didepositokan lagi sampai akhir tahun dan dipakai untuk dana liburan. Cari bank yang bunga depositonya paling besar. (Soal reksadana untuk pemula, silakan baca lebih lengkap di postingan saya yang ini.)

Tips terakhir sebenarnya mirip dengan masalah menentukan prioritas di atas, yaitu berinvestasilah untuk menciptakan sumber penghasilan kedua. Kenapa? Karena….

Bahasa Indonesianya, kalau gak berinvestasi kita akan terpaksa terus bekerja keras bagai kuda hingga akhir hayat… 💩

Karena saya gak berniat kerja sampai mati, saya belajar berinvestasi. Hari gini, informasi sangat mudah didapatkan. Semua orang bisa belajar berinvestasi hanya dengan bermodalkan kuota internet. Jadi masalahnya hanya mau atau tidak.

Investasi bisa menjadi sumber pendapatan kedua, asalkan kita cermat saat memilihnya. Oleh karena itu, cari informasi sebanyak-banyaknya sebelum kita memutuskan untuk berinvestasi. Waspadalah pada investasi-investasi bodong yang menawarkan return yang tidak masuk akal. Prinsipnya, anything that sounds too good to be true is most probably a scam. Investasi juga bisa berfungsi sebagai bumper selain extra income, jika ada kondisi darurat.

Gimana? Siap untuk berhemat dan berinvestasi tahun ini? Senyum dulu, dong. 🙂

Cheers,

Haura Emilia

Note: I do not own the images above (except the last one). Contact me for removal.

Lika-Liku Orang Tua Baru Part 2: Cerita Asi dan Menyusui

Disclaimer: Saya bukan dokter anak dan tidak memiliki latar belakang pendidikan di dunia medis. Apa yang saya tulis di sini murni pengalaman saya pribadi. Selama hamil saya aktif membaca buku dan literatur online mengenai asi dan menyusui, jadi beberapa hal yang saya tulis di sini juga berpedoman pada sumber-sumber tersebut. Harap diingat bahwa setiap bayi itu berbeda dan setiap dokter anak punya penilaian, standar, gaya, dan metode yang berbeda juga. Banyak-banyaklah membaca sumber tepercaya selama menyusui dan konsultasikan dengan dokter laktasi atau spesialis anak untuk masalah seputar asi dan menyusui.

Putri saya lahir prematur di usia kandungan 36 minggu 3 hari karena air ketuban pecah dini. Reina lahir dengan berat badan 2,9 kg dan panjang 48 cm. Namun saya beruntung, karena asi saya langsung keluar di hari saya melahirkannya. Kolostrum* saya terhitung cukup banyak, saya dapat 1/2 botol 100 ml asi di hari pertama. Ini luar biasa mengingat saya hanya sempat IMD* selama beberapa menit (karena melahirkan lewat metode sesar atau c-section), dan bayi sebenarnya hanya butuh 5-7 ml atau 1 sendok makan asi setiap kali minum di hari pertama kelahirannya berhubung ukuran lambungnya hanya sebesar kelereng.

Sebelum pulang ke rumah, berat badan Reina turun menjadi 2,7 kg. Berat badan (bb) turun adalah hal yang biasa pada bayi baru lahir karena umumnya bayi baru belajar menyusui atau kadang karena air susu ibunya belum keluar atau masih sedikit sekali. Selain bb yang turun, kulit Reina juga terlihat sedikit kuning. Dokter spesialis anak (DSA) yang membantu saya lahiran menjelaskan bahwa kuning pada bayi yang baru lahir adalah biasa. Faktanya, ada beberapa jenis kuning (jaundice) pada bayi, kuning yang masuk kategori normal atau yang disebut dengan kuning fisiologis dan kuning yang masuk kategori penyakit atau kuning patologis. Menurut sang DSA, kuning yang dialami Reina adalah kuning fisiologis yang akan hilang dengan sendirinya dengan ASI sehingga tidak memerlukan perawatan apa-apa.

Penjelasan yang diberikan Dr. Lucy (DSA Reina) sesuai dengan apa yang saya baca di buku-buku tentang ASI, jadi saya tenang dan sama sekali tidak panik. Kami pun pulang ke rumah dengan hati riang. Di rumah, perjuangan sesungguhnya menyusui pun dimulai….

Seperti kebanyakan ibu-ibu baru lainnya, saya kesulitan menyusui Reina walaupun saya sudah lelah membaca dan nonton youtube mengenai cara latching (pelekatan) yang benar. Menyusui, my dear friend, tidak semudah yang saya dan Anda (yang belum punya anak) bayangkan. Menyusui bukan hanya sekadar bayi mangap hap dan menghisap puting ibu lalu minum susu sampai tertidur kekenyangan. Pelekatan yang benar dan ideal adalah ketika bayi memasukkan sebagian besar areola (area gelap di sekitar puting) ibu ke dalam mulutnya, bukan hanya putingnya saja. Dagu bayi sebaiknya menempel ke payudara ibu agar hidungnya tidak tertutup dan bisa bebas bernafas selama menyusu. Areola ibu harus masuk ke mulut bayi karena sebenarnya dari situlah air susu lebih banyak keluar, bukan dari puting.

Gambar di atas adalah contoh pelekatan yang benar. Gambar saya ambil dari Google.

Sayangnya, hal ini tidak mudah. Bayi rata-rata tidak langsung bisa melekat dengan benar. Bayi perlu waktu untuk belajar dan ibu juga perlu mengeksplorasi posisi yang tepat untuk membantu bayi melekat dengan sempurna. Akibat dari pelekatan yang tidak benar adalah puting lecet, bahkan bisa berdarah, dan tentunya rasa nyeri tidak terperi.

Awalnya saya konsultasi dengan konselor menyusui. Ketika diajari saya merasa oke. Tapi begitu bu konselor pulang, saya kesulitan lagi melekatkan Reina. Lalu saya berinisiatif mengambil kelas privat menyusui dengan konselor asi lainnya, kali ini orang Aimi (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia). Selama kelas berlangsung, Reina bisa membuka lebar mulutnya dan memasukkan sebagian besar areola. Sip, saya pikir masalah saya selesai. Tapi ternyata belum. Saya perhatikan Reina hanya sanggup membuka mulut lebar dalam hitungan detik saja. Setelah itu dia mengerucutkan lagi mulutnya dan kembali hanya menghisap puting saja. Ini membuat saya kesakitan and meringis-ringis.

Akhirnya saya berkonsultasi dengan DSA Reina, Dr. Lucy, yang juga dokter laktasi. Saya bercerita bahwa saya kesulitan menyusui Reina karena Reina kesulitan membuka mulut lebar. Dr. Lucy memeriksa gaya saya menyusui dan mengatakan bahwa posisi menyusui saya sudah benar. Beliau menyarankan agar saya terus menyusui Reina dan tidak terlalu terpaku pada pelekatan. Yang lebih penting adalah menghitung jumlah pipis Reina dalam sehari (minimal 6x) untuk memastikan bahwa dia mendapatkan asupan asi yang cukup. Jika jumlah pipis cukup dan kenaikan berat badannya sesuai standar saya hanya perlu menunggu sampai Reina bisa menyusu dengan baik dan puting saya tidak sakit lagi.

Ketika Reina umur sebulan, saya kembali kontrol ke Dr. Lucy. Menurut chart pertumbuhan bb bayi yang mengikuti standar WHO, sebulan setelah lahir seharusnya bb bayi bertambah 900 gr dari berat lahirnya, yang berarti seharusnya bb Reina 3,8 kg. Nyatanya, setelah ditimbang bb Reina hanya 3,25 kg! Ini berarti ada yang salah. 😿

Saya terdiam di depan ruang praktik dokter sebelum menemui Dr. Lucy. Selama beberapa menit saya merasa ingin menangis dan merasa bersalah terhadap Reina. Saya terus bertanya-tanya apa yang salah dengan cara saya. Saya merasa sudah melakukan yang terbaik. Saya sudah mempelajari teori asi dan menyusui dari literatur tepercaya. Saya sudah mengambil kelas privat menyusui dengan orang yang tepat. Bak mahasiswa yang mau ujian, saya bahkan punya jurnal yang isinya semua teori asi yang sudah saya pelajari, hapal, dan tulis ulang. Kenapa ibu-ibu lain yang mungkin tidak berusaha sekeras saya tidak mengalami masalah yang sama? Apa yang salah?

Yang lebih membuat sedih adalah fakta bahwa asi perah saya sangat banyak menumpuk di freezer. Dalam sebulan saya sudah berhasil menyimpan sekitar 100 kantong asi perah di dalam kulkas. Ini menyedihkan, asi ibunya banyak tapi anaknya kurus, tidak tercapai target penambahan berat badannya. 😓 Saya begitu disiplin memompa asi, sekitar 5-6x sehari ketika bayi tertidur. Asi yang tidak dikeluarkan dalam waktu lama bisa menyebabkan penyumbatan pada kelenjar susu dan bisa menyebabkan peradangan dan mastitis. Saya jadi semakin sedih dan menyalahkan diri sendiri.

Pikiran-pikiran negatif berkecamuk di kepala saya selama beberapa menit. Saya merasa sangat emosional dan ingin menangis. Tapi lalu logika mengambil alih. Otak kiri mengatakan bahwa saya terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa ada yang salah dengan cara saya. Otak kiri memerintahkan saya untuk tidak terbawa perasaan dan sebaiknya mulai mengumpulkan fakta dengan bertanya kepada dokter.

Ketika Dr. Lucy mengetahui bahwa bb Reina kurang 550 gr dari yang seharusnya, beliau mengambil Reina dan memeriksa mulut Reina. Dia memakai sarung tangan karet dan memasukkan jarinya ke mulut Reina. Ternyata Reina tongue-tie. Tonguetie atau ankyloglossia adalah kelainan kongenital di mana lidah tidak leluasa bergerak karena frenulum lidah yang terlalu pendek. Frenulum lidah adalah jaringan tipis di bawah lidah bagian tengah yang menghubungkan lidah dengan dasar mulut.* Begini contohnya (gambar saya ambil dari Google):

Rupanya inilah yang menyebabkan Reina kesulitan menyusu. Kondisi ini menyebabkan Reina tidak bisa menghisap asi dengan sempurna. Lalu, kebetulan Reina poop dan Dr. Lucy melihat poopnya. Warnanya hijau tua, alih-alih kuning (warna acuan). Ini berarti Reina lebih banyak mengonsumsi foremilk dibandingkan hindmilk (googling sendiri untuk tahu definisi dan perbedaannya, ya). Perpaduan tongue-tie dan terlalu banyak foremilk menyebabkan kenaikan bb tidak maksimal. Kesimpulannya, yang salah bukan cara menyusui saya. Untung tadi saya tidak baper lama-lama.

Dokter anak lain mungkin akan langsung menyarankan saya untuk memberi Reina formula agar bb nya cepat bertambah dan mengejar ketinggalan. Puji Tuhan, tidak dengan Dr. Lucy yang sangat pro asi. Dr. Lucy menyarankan saya menggunakan metode suplementasi. Suplementasi berarti memberikan asi perah (asip) ke bayi pada saat menyusui melalui selang. Metode ini ditujukan agar bayi mendapatkan dua sumber asi, dari payudara ibu dan dari asip yang diberikan lewat selang. Bayi dengan tongue-tie cenderung lebih sulit menghisap asi langsung, maka penambahan asip lewat selang akan memudahkan dan mempercepat dia mendapatkan air susu. Bagaimana caranya memberikan asip lewat selang sambil menyusui? Kira-kira begini contoh yang saya dapat dari foto Supplemental Nursing System Medela:

Gambar 👆: Bayi mendapatkan 2 sumber asi: payudara ibu dan asip yang diletakkan di dalam wadah dan diberikan lewat selang.

Gambar 👆: Alat suplementasi dari Medela.

Dr. Lucy tidak menyarankan memakai alat di atas karena sulit dicari dan harganya juga lumayan mahal (sekitar 600-800 ribuan, tergantung seller). Sebagai gantinya, beliau meresepkan selang intubasi dan syringe pump untuk tempat si asi perah, yang jauh lebih terjangkau.

Gambar 👆: syringe pump.

Tapi pada akhirnya saya tidak memakai si syringe pump karena sering macet. Sempat coba pakai botol susu biasa tapi kok ternyata ribet meganginnya. Akhirnya setelah trial and error berbagai wadah, saya menemukan wadah yang pas juga: Medela soft-cup feeder. Feeder ini warisan keponakan saya dulu yang menyusu asi perah berhubung ibunya pekerja kantoran. Asip saya masukkan ke dalam soft-cup feeder yang bagian atasnya sudah saya lepas, lalu saya masukkan selang. Percaya atau tidak, ini ide ayahnya Reina (makasih, Baba! Kamu memang ayah asi sejati! 😄). Hasilnya seperti ini:

Dokter menyuruh saya kembali konsultasi 2 minggu setelah mencoba metode ini. Ia berpesan bahwa berat Reina harus nambah paling tidak 450 gr dalam 2 minggu.

Awal-awal pemberian asip lewat selang ini lumayan drama, tidak mudah. Pertama, selang sering lepas kalau posisinya tidak pas. Selain itu, asip bisa tidak terhisap juga. Belum lagi kalau tidak hati-hati, Reina bisa tersedak selang. Tapi, dengan kesabaran dan ketelatenan akhirnya Reina bisa minum asip lewat selang dengan lancar. Setelah 2 minggu, saya kembali ke Dr. Lucy. Saat ditimbang ternyata bb Reina naik melesat 700 gr. 😄 Ini berarti metode suplementasi berhasil untuk Reina. Horeee! Senangnya melampaui selesai menulis tesis master dulu. 🤣

Reina menggunakan metode suplementasi ini sekitar sebulan. Di usia 2 bulan tiba-tiba saja dia bisa lancar menyusui. Mungkin benar kata sahabat saya Mey-Mey, kadang solusi suatu masalah cuma menunggu. Waktu yang akan menyelesaikan. Tsahh… 😆

Sekarang usia Reina sudah 3 bulan dan dari bulan ke-2 menuju bulan ke-3 bb Reina bertambah 1 kilo (yang berarti sehat dan normal). Sekarang bb Reina sudah 5 kiloan. Ini bb yang cukup apalagi jika mengingat Reina lahir prematur dan lahir dengan bb 2,9 kg, plus ada tongue-tie. Dengan panjang badan 60 cm, postur Reina terlihat langsing, yang tembem cuma pipinya (nasib punya keturunan mama yang chubby).

Banyak sekali hal yang saya pelajari tentang menyusui. Selama menyusui bayi mendapatkan banyak sekali stimulasi karena dengan menyusui bayi menggunakan jauh lebih banyak otot dan tenaga dibandingkan menyusu dari botol. Menyusui juga menguatkan ikatan atau bonding ibu dan bayi. Bayi belajar mengenali ibunya melalui bau, sentuhan, dan pendengarannya (karena penglihatan dan jarak pandang bayi masih terbatas). Sentuhan ibu juga menstimulasi otak bayi, membantu pertumbuhan dan perkembangannya. Dengan menyusu langsung, bayi juga jadi terpapar bakteri baik di tubuh ibu dan ini membantu menguatkan sistem imun tubuhnya. Jadi, seberat (dan se-boring) apa pun proses menyusui itu, manfaatnya jauh lebih besar. Selama tidak ada indikasi medis yang melarang bayi menyusu langsung pada ibunya, menyusu langsung ke payudara ibu (direct breastfeeding) adalah yang terbaik bagi bayi.

Kalau boleh jujur, menyusui adalah aktivitas yang menuntut komitmen tangguh dari seorang ibu dan memerlukan dukungan penuh dari ayahnya. Bayi baru lahir bisa menyusui 8-12x sehari dan kadang malah lebih. Ini bisa menjadi rutinitas yang sangat melelahkan dan membosankan. Bagi banyak ibu, menyusui juga membuat mereka sering lapar dan haus. Rasa lapar, haus, mengantuk, kelelahan serta nyeri is a recipe to disaster. 😂 Jadi harap maklum kalau ibu menyusui kadang jadi sensitif, baper, atau malah galak bukan main. Mereka cuma lelah dan butuh dukungan. Haha.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan ayah untuk mendukung ibu selama proses menyusui. Membantu meringankan beban kerja ibu, memberikan pijat oksitosin untuk melancarkan LDR (let down reflex atau proses keluarnya asi), membuat ibu senang dan tenang (dengan cara memberikan tas LV, banyak camilan enak dan pujian) adalah bentuk dukungan terbaik. Suami adalah support system terbaik yang bisa dimiliki seorang ibu menyusui. Lagipula, anaknya kan anak bersama, maka mengurusnya juga harus bersama-sama.

Saya benar-benar berharap bisa memberikan Reina asi hingga dia 2 tahun. Memang kadang ada saja ibu-ibu yang produksi asinya berhenti sebelum 2 tahun, alasannya bisa banyak, but until then, I’ll keep my fingers crossed. 🙂 Wish me luck! Untuk ibu-ibu pejuang asi lainnya, yang sekarang sedang berjuang menyusui buah hatinya, tetap semangat dan jangan putus asa. Jangan ragu untuk meminta saran ke dokter laktasi jika ada keraguan atau pertanyaan. Jangan biarkan masalah menyusui berlarut-larut tanpa dicari solusinya. At the end of the day, breastfeeding does and will get better! 💪

Gambar bonus, Reina si bayi asi. 👆

Cheers,

Haura Emilia

Catatan:

Kolostrum: cairan asi yang keluar pertama kali setelah bayi lahir, warnanya kekuningan dan kental.

IMD: Inisiasi Menyusui Dini. Pemberian asi segera setelah bayi lahir, biasanya 30 menit-1 jam setelah bayi lahir.

Lika-Liku Orang Tua Baru Part 1: Team Work Ayah dan Ibu

Catatan: Tulisan ini adalah bagian pertama dari seri “Lika-liku orang tua baru” yang menceritakan kehidupan saya setelah menjadi orang tua. Di bagian pertama ini saya akan menjawab pertanyaan keluarga dan teman yang sering bertanya bagaimana caranya kami bertahan mengurus bayi dan rumah tanpa ART sambil tetap bekerja mencari nafkah. Di postingan-postingan berikutnya saya akan menulis tentang ibu menyusui dan ayah asi, baby blues dan post partum depression, tumbuh kembang bayi, vaksinasi dan topik-topik terkait kehidupan orang tua baru lainnya. Saya menulis seri ini agar kelak putri kami bisa membaca memoir tentang bagaimana dia dibesarkan. 🙂

“However pragmatic you are, it is very demanding being a new parent.”

-Robert Winston-

Indeed. Being a new parent is VERY demanding. Paling tidak itu yang saya rasakan sejak kelahiran putri pertama saya. Saya berusia 32 tahun ketika putri saya lahir. Saya menghabiskan paling tidak 10 tahun untuk berpikir dan mempertimbangkan sebelum memutuskan untuk memiliki anak. Benar, punya anak sebenarnya tidak pernah jadi prioritas dalam hidup saya. Saya tipe perempuan yang juga tidak begitu ‘kebelet’ menikah dan memilih untuk menjalankan hidup mengikuti arus saja. Jika bertemu orang yang tepat maka saya akan menikah dan punya anak. Jika tidak ya sudah, saya bisa melakukan hal lain, misalnya mengejar karir atau sekolah sampai mentok, bekerja sampai tua, dan keliling dunia.

Sepuluh tahun sejak lulus kuliah akhirnya saya punya anak. Waktu itu saya pikir 10 tahun adalah waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri untuk menjadi orang tua. Dan karena saya kala itu berusia 30 tahun dan suami saya 33 tahun, saya pikir kami (paling tidak saya, deh) sudah siap secara mental untuk memiliki anak. Saya sudah bisa membayangkan lelahnya mengurus bayi, hilangnya kesenangan-kesenangan kecil yang sebelum punya anak biasa dinikmati, dan berubahnya pola hidup sehari-hari, di mana siang menjadi malam dan malam menjadi siang. Saya sudah siap. At least I thought I was. Pada kenyataannya, tidak ada yang benar-benar bisa menyiapkan kita untuk menjadi orang tua baru. Menjadi orang tua baru hanya baru benar-benar bisa dipahami setelah menjalaninya sendiri. Menjadi orang tua baru bisa menjadi lebih sulit dari yang kita bayangkan.

Satu hal yang saya pelajari dari menjadi orang tua baru adalah pasangan memerlukan team work yang luar biasa kuat agar parenthood bisa berjalan, anak tumbuh sehat dan kedua orang tua tetap waras. Sebelum punya anak, saya dan suami hanya tinggal berdua dengan tiga ekor kucing kami. Kami tidak punya asisten rumah tangga dan jauh dari orang tua, jadi kami terbiasa melakukan semuanya sendiri. Suami saya pernah lumayan lama tinggal di luar negeri, saya pun pernah menjalaninya walau hanya dua tahun. Pengalaman ini membuat konsep ART dan babysitter menjadi asing bagi kami. Dalam konsep rumah tangga kami, segala sesuatu dilakukan berdua. Kalau benar-benar perlu bantuan orang lain baru nanti dicari solusinya. Kami biasa membagi rata pekerjaan rumah tangga. Misalnya, suami saya bertanggung jawab membersihkan lantai bawah, saya handle lantai atas.

Ketika putri kami lahir, otomatis tanggung jawab kami bertambah. Sekarang ada satu bayi yang harus diurus. Sebagian besar waktu saya habis dengan menyusui si newborn. Bayi baru lahir menyusui dengan pola on demand, kapan saja, di mana pun, sebanyak dan sesering yang dia inginkan. Awalnya saya merasa kewalahan, pekerjaan rumah bagian saya tidak terpegang karena saya fokus dengan si bayi. Sementara suami saya sudah kembali bekerja setelah cuti 2 minggu.

Meskipun saya dan suami bekerja dari rumah (tidak perlu ngantor), pekerjaan kami membutuhkan fokus dan konsentrasi penuh sehingga tidak bisa disambil. Kalau sedang bekerja ya bekerja saja. Suami saya harus disiplin dan pintar-pintar membagi waktu antara bekerja, membantu mengurus si bayi, dan memberi makan kucing. Berhubung porsi beres-beres rumah saya berkurang, tugas yang tadinya bagian saya mau tidak mau pindah ke dia.

Lantas bagaimana cara kami mengatur waktu, membagi-baginya untuk bekerja, membersihkan rumah, mengurus bayi, dan memberi makan kucing? Jawabannya tidak mudah, namun mungkin dilakukan dengan memutar otak sedikit. Di sini lah kerja sama tim menjadi sangat penting. Kata kuncinya adalah mengotomatisasi pekerjaan rumah, menyederhanakan pola hidup, bersikap fleksibel, mengatur waktu dan metode belanja, serta disiplin dengan jadwal bayi.

Pertama, kami memutuskan untuk mengotomatisasi sebanyak mungkin hal untuk mengurangi beban kerja rumah tangga. Baju kami cuci dengan mesin. Kami juga membeli robot vacuum yang bisa menyapu sekaligus mengepel ruangan. Tidak murah, namun tetap lebih hemat dari menggaji ART (yang toh juga sulit dicari) selama 8 bulan (menurut standar kota tempat saya tinggal, Solo). Robot ini hemat listrik, hanya perlu 70 watt untuk mengisi dayanya sampai penuh (bisa membersihkan seluruh rumah dan masih sisa powernya). Robot ini bisa diatur jam berapa mulai bersih-bersih dan bisa dikendalikan lewat aplikasi di smartphone. Kita juga bisa memeriksa status pekerjaan dan sisa daya baterai si robot lewat aplikasi tersebut. Berikut penampakan robotnya:

Kedua, kami menyederhanakan apa yang kami bisa, misalnya soal memasak dan makan. Karena nyaris tidak ada waktu memasak, kami terpaksa membeli makanan atau jika ada waktu sedikit untuk memasak saya akan memasak makanan yang sangat sederhana seperti ayam goreng dan sayuran rebus/kukus. Modal peralatan masak saya hanya air fyer, fuzzy rice cooker, dan panci kukus. Menggoreng tanpa minyak sangat mudah, praktis dan lebih sehat dengan menggunakan air fryer. Sederhananya, berbagai jenis protein yang sudah dibumbui sebelumnya hanya tinggal ‘dilempar’ ke dalam air fryer, dan segala jenis sayuran hanya perlu direbus atau dikukus. Kami makan tanpa mengeluh dan menikmati saja apa yang ada. Kalau bosan saya biasanya masak makanan yang tidak kalah mudahnya dibuat seperti sandwich atau pasta. Mau lebih gampang lagi? Tinggal beli di luar atau pesan GoFood. Hehe.

Penyederhanaan lainnya berupa pilihan pakaian yang bahannya tidak perlu disetrika. Kami mengusahakan hanya memakai pakaian-pakaian yang tidak mudah kusut sehingga kami tidak perlu menyetrika. Jasa laundry kiloan memang lebih praktis, tapi kami tidak mungkin memercayakan perawatan baju bayi di laundry kiloan. Lagi pula, menurut keterangan di label baju bayi, rata-rata pakaian sehari-hari bayi tidak perlu disetrika. Hanya perlu dicuci mesin (atau tangan) dengan detergen khusus dan dikeringkan.

Ketiga, kami sepakat untuk bersikap fleksibel terkait pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak. Siapa pun yang sempat akan mengerjakan pekerjaan rumah atau memegang bayi. Misalnya, kalau waktu saya yang agak luang, saya yang akan mencuci pakaian. Kalau suami sedang main dengan bayi dan si bayi poop maka dia yang akan mengganti popoknya. Di malam hari pun kami bergantian mengganti popoknya. Siapa saja yang sempat membersihkan kamar mandi atau mencuci piring akan melakukannya. Tidak perlu tunggu-tungguan atau berharap yang lain yang akan mengerjakan.

Gambar: Baba memandikan dan memakaikan baju Reina.

Keempat, kami mengatur waktu dan metode belanja dengan jadwal dan metode yang menurut kami paling efektif dan efisien. Kami berbelanja grocery seminggu sekali, biasanya di hari yang sama. Karena waktu di pagi hari sudah habis untuk sarapan, beres-beres rumah, menyusui dan memandikan bayi, belanja otomatis hanya bisa dilakukan setelah magrib, sesudah si bayi terlelap. Biasanya yang pergi belanja adalah saya, karena suami biasa bekerja sampai malam. Jadi, suami bekerja sambil menjaga anak di rumah, sementara saya pergi ke pasar swalayan untuk belanja. Berhubung bahan makanan yang kami perlukan sangat simple dan tidak membutuhkan banyak bumbu, saya tidak perlu belanja ke pasar tradisional (yang toh tidak buka di malam hari).

Untuk belanja keperluan bulanan bayi seperti pospak dan perlengkapan mandi, saya membelinya dengan cara online. Selain lebih murah, dengan belanja online saya tidak perlu ke luar rumah. Hemat tenaga, waktu, ongkos dan tentunya lebih ramah lingkungan (tidak perlu naik kendaraan berbahan bakar).

Kelima, kami berusaha selalu disiplin dengan jadwal bayi. Kami memandikan Reina di jam yang hampir sama setiap hari, pagi dan sore. Mulai pukul 18.30 kami meredupkan lampu kamar dan melakukan aktivitas dengan suara seminim mungkin untuk mengajarkan bayi perbedaan siang dan malam dan memudahkannya tidur. Oh iya, kami tidak punya TV di dalam kamar. TV hanya ada di ruang keluarga dan itu pun jarang kami nyalakan. Hasilnya, Reina selalu sudah terlelap sekitar pukul 19.00. Dia baru bangun lagi untuk menyusu sekitar pukul 23.30. Ya, Reina sudah bisa tidur pulas 4.5 – 6 jam tanpa bangun atau gelisah sejak umur 2 bulan. Kami berusaha disiplin dan mempertahankan rutinitas ini agar kami berdua juga bisa beristirahat di malam hari dan tetap waras setiap harinya. 😹

Membesarkan anak sambil tetap mencari nafkah tanpa bantuan orang tua, mertua, saudara dan ART memang tidak mudah, namun ini bukanlah hal yang tidak mungkin. (Tapi perlu diingat bahwa ini mungkin hanya berlaku jika anak Anda hanya atau baru satu orang. Kalau lebih tentu lain lagi ceritanya.) Dengan manajemen waktu yang efisien dan disiplin, kami berdua sejauh ini berhasil menjalaninya. Saya bahkan masih sempat riset soal tumbuh kembang bayi, menulis blog, dan mengupdate Instagram serta status Whatsapp, khas gaya ibu milenial 😂 (biasanya saat si bayi tidur).

Cheers,

Haura Emilia

Mencari Teman

Sore itu saya dan Mamat duduk-duduk di sebuah kedai gelato, di pinggir jalan kecil di daerah Manahan.

Sambil menyuap sesendok es krim yang mulai mencair, saya bertanya kepada Mamat.

“Alasan kamu dulu mau menikah apa?”

Mamat tertawa kecil.

“Ya, pengen nyari temen lah. Teman hidup.”

“Sama dong ya niat kita. Kayaknya lebih enak berdua daripada sendirian, walaupun gak ada yang salah juga sih kalau seseorang memilih untuk sendiri.”

Mamat mengangguk.

Ya. Mencari teman. Sesederhana itu alasan kami menikah. Tidak ada “grand plan” atau “rencana-rencana besar” seperti membentuk keluarga bahagia dengan jumlah anak sekian, yang nantinya bisa membantu perekonomian di hari tua, membuat keluarga besar senang dan bangga, mencari kisah cinta yang romantis, menaiki tangga sosial, apalagi hidup bahagia selama-lamanya a la Disney. Saya tidak bilang “grand plan” itu jelek, ya. Saya cuma bilang, itu tidak ada dalam agenda kami.

Teman yang kami maksud tentu bukan sekadar teman sekolah atau kuliah, bukan juga teman biasa yang hanya kita temui saat reuni atau libur lebaran. Teman yang kami cari adalah teman untuk berbagi suka dan duka, tempat untuk bersandar dan saling menguatkan, teman untuk berbagi kopi saat dunia terasa gelap dan seseorang lupa menyalakan lentera. Telinga yang mau mendengarkan bahkan saat dia sedang sibuk nonton tim favoritnya main di piala dunia.

Namun seperti semua teman yang pernah kita punya, teman hidup ini juga tidak sempurna. Dia mungkin saja tidak akan pernah mengerti kenapa saya bisa terserang depresi musiman. Saya mungkin saja tidak akan pernah paham kenapa dia sering mengigau dalam tidur, yang menurut dia adalah manifestasi atas kekhawatiran dan kecemasan-kecemasannya. Kami mungkin saja tidak akan pernah mencapai kata sepakat mengenai cara menjelaskan kepada anak kami di masa depan tentang apa yang terjadi setelah kematian. Tapi terlepas dari semua ketidaksempurnaan, paling tidak kami berharap untuk bisa mengandalkan satu sama lain untuk jadi teman terbaik dalam hidup.

Saya tidak tahu apakah kami berdua akan hidup bahagia sampai tua seperti ayah ibu saya. Atau malah jadi sepasang manusia yang berakhir membenci satu sama lain setelah begitu lama bersama (karena manusia berubah, hal-hal yang tidak diinginkan bisa terjadi). Yang jelas, saat ini kami masih menjadi sahabat terbaik bagi satu sama lain. Masih menjadi teman hidup yang saling mencintai pagi, siang, dan malam, bahkan di dalam marah dan kesedihan.

Satu cup gelato sudah kami habiskan berdua. Hujan turun rintik-rintik di luar jendela kaca. Dengan satu payung kami melangkah keluar dan jalan dalam diam. Saya tersenyum menatap bahunya. Ini saja sudah cukup.

 

 

Solo, 19 Juni 2018

Haura Emilia

 

 

 

Note: The image above doesn’t belong to me. Contact me for removal.

Cerita Perempuan: Obsesi Reproduksi

”It is not female biology that has betrayed the female…it is the stories and myths we have come to believe about ourselves.”

–Glenys Livingstone

“Kapan (punya anak)?”

“Kapan nyusul (punya anak)?”

Gak mau nambah satu (anak) lagi?”

Kok belum (hamil) juga?”

Udah ‘isi’ belum?”

“Makan kurma muda biar cepet (hamil).”

Sebagai seorang perempuan yang sudah menikah dan belum punya anak, saya mendengar pertanyaan-pertanyaan di atas paling tidak 50 kali dalam setahun. Bukan hanya dari keluarga terdekat, tapi juga dari orang-orang yang secara teori adalah ‘orang asing’ (baca: tidak punya hubungan kerabat) seperti tetangga, kenalan baru, temannya teman, sampai tukang sayur di pasar. Kalau mood saya lagi bagus, saya hanya akan tersenyum dan minta didoakan (jawaban standar yang rupanya akan membuat si penanya tampak senang). Kalau mood sedang tidak baik saya akan pasang muka datar dan diam. Parahnya, kadang orang-orang ini tidak puas hanya dengan bertanya. Mereka merasa harus memegang perut saya juga. Bayangkan sekarang ekspresi wajah saya waktu seorang ibu-ibu tak dikenal memegang perut saya dan bertanya udah isi atau belum? Eww… Awkward. Saya yakin muka saya merah padam, antara pengen kabur dan marah tapi gak enak. Tau kan kenapa? Saya harus jaga image. Hehe. Sebagai perempuan, saya diharapkan bermoral tinggi dan sopan.

Sebenarnya, ‘serangan privasi’ seperti ini bukan dialami oleh saya saja. Adik perempuan saya, seorang ibu beranak 1, mungkin juga sudah kenyang ditanya kapan punya anak kedua. Sahabat saya yang baik bernama Tika mungkin sudah gerah ditanya kenapa memutuskan punya anak 4. Rekan kerja saya yang sudah 7 tahun menikah mungkin juga sudah bosan ditanya kapan punya anak. Sebenarnya kita semua mungkin pernah menanyakan hal yang sama kepada perempuan lain. Namun, outputnya bisa jadi sangat berbeda jika yang menanyakan adalah orang terdekat seperti keluarga inti atau sahabat. Ketika orang asing atau tidak dekat yang bertanya, para perempuan seperti saya bisa jadi malah curiga bahwa si penanya sekadar kepo alih-alih benar-benar peduli.

Hamil. Kehamilan. Kelahiran bayi. Anak. Sebenarnya bukan hanya masyarakat kita yang terobsesi dengan rahim dan masalah reproduksi perempuan. Masyarakat di negara barat juga sama terobsesinya. Saat ini orang-orang di Hollywood sana sedang terobsesi dengan kehamilan Kylie Jenner. Sebelumnya, Beyonce mendapatkan lebih dari 10 juta likes untuk foto kehamilannya. Ya, peristiwa kehamilan Kylie Jenner menyita lebih banyak perhatian daripada kematian Osama bin Laden atau didirikannya Solar City dan SpaceX oleh Elon Musk. Media barat dan lokal heboh membahas semua detail kehamilan Jenner. Mulai dari kapan due date-nya, siapa bapak anaknya, penampilan fashionnya selama hamil, apa yang dia makan selama hamil, berapa kilogram kenaikan berat badannya, dst., dst.

Pertanyaannya sekarang adalah, mengapa kita begitu terobsesi dengan rahim dan kemampuan (atau ketidakmampuan) perempuan untuk bereproduksi?

Obsesi manusia terhadap rahim perempuan sudah dimulai sejak jaman Yunani kuno. Filsuf Yunani kala itu, seperti Plato dan Hipokrates, menganggap kehamilan dan ‘rahim yang bisa bergerak’ sebagai sebuah penyakit.1 Rahim perempuan diyakini sebagai kunci perbedaan mendasar antara laki-laki dan perempuan, baik secara fisik maupun mental. Bagi masyarakat Yunani kala itu, memiliki rahim dinilai sebagai sebuah kelemahan. Hal ini mempengaruhi pemikiran masyarakat ribuan tahun setelahnya yang melihat rahim sebagai sebuah penyakit fisik dan merupakan alasan di balik disfungsi psikologis perempuan.2Pada abad ke-16 hingga 20 di Eropa, perempuan hamil sering kali dikurung di dalam rumah.3 Ini karena masyarakat meyakini bahwa kehamilan adalah hal privat yang memalukan dan harus dijaga, tidak boleh diumbar ke publik. Tahun 1905, produsen pakaian Sears meluncurkan produk pakaian khusus kehamilan (maternity wear) yang serba longgar dan tertutup.4 Tujuannya adalah untuk menutupi perut perempuan hamil karena kehamilan masih dianggap hal yang tidak nyaman dan cenderung tabu untuk dipamerkan. Baru pada awal tahun 1970an masyarakat barat mulai nyaman dengan wacana kehamilan.5 Hal ini dipengaruhi salah satunya oleh gelombang feminisme ke-2. Tahun 1991, Demi Moore tampil di cover majalah Vogue dalam keadaan hamil, telanjang, dan terlihat menawan. Momen ini mengubah pandangan masyarakat barat (baca: AS) pada umumnya mengenai kehamilan. Kehamilan perempuan menjadi sesuatu yang dirayakan (sering kali secara berlebihan) dan mendadak seiring dengan popularitas cover tersebut muncul serangkaian standar ekspektasi moral dan fisik baru yang diatributkan kepada perempuan hamil.

Lalu masalahnya apa, Ra? Boten ngertos aku.

Pertama, obsesi masyarakat terhadap rahim dan alat reproduksi perempuan telah menjadi alat untuk mengobjektifikasi (baca: merendahkan status sebuah objek) perempuan. Masyarakat umum lebih suka membahas kehamilan perempuan dibandingkan karirnya. Orang kebanyakan juga lebih suka menanyakan jumlah anak seorang perempuan dibandingkan dengan latar belakang pendidikannya. Banyak dari mereka yang juga lebih suka membicarakan kemampuan perempuan untuk memproduksi anak dibandingkan kontribusinya terhadap keluarga dan masyarakat.

Adik perempuan saya adalah seorang perempuan karir yang juga pengusaha kecil-kecilan. Di tengah-tengah kesibukannya bekerja yang sangat menyita waktu, dia masih harus meluangkan waktu untuk menjadi seorang ibu. Betapa pun tingginya dia sekolah, hebatnya dia di kantor, dan pandainya dia berjualan, masyarakat sekitarnya tidak peduli dan tidak pernah bertanya bagaimana dia bisa membagi waktunya untuk anak dan keluarga. Kebanyakan juga tidak peduli dengan segala macam prestasi yang pernah diraih adik saya. Yang lebih dipedulikan dan ditanyakan orang-orang adalah kapan dia akan punya anak kedua.

Contoh lain, ketika saya berada di sebuah lingkungan yang baru dan orang tahu bahwa saya sudah menikah, pertanyaan pertama yang ditanyakan oleh ‘teman-teman’ baru ini adalah berapa orang putra yang saya miliki. Ketika tahu saya belum punya anak, pertanyaan berikutnya sudah ketebak. KAPAN saya punya anak. Seolah saya mahatahu kapan sperma dan sel telur bertemu. Seolah saya sudah pasti mau punya anak. Tidak ada yang menanyakan nama belakang saya (they were happy knowing my husband’s name only). Tidak ada yang bertanya profesi saya apa. Jadi tentu saja saya tidak mengharapkan mereka menanyakan latar pendidikan saya.

Seluruh eksistensi perempuan tereduksi menjadi mesin produksi anak semata. Ini yang saya maksud dengan objektifikasi perempuan. Ketika perempuan tidak mampu hamil (atau bahkan ketika sebenarnya si laki-laki yang infertil) maka pihak perempuan lebih cenderung disalahkan dan dianggap ‘menyedihkan’. Jika seorang perempuan terang-terangan mendeklarasikan bahwa dia tidak ingin memiliki anak, dia akan dicap ‘kepinteran’, ‘melawan kodrat’, atau bahkan ‘mengidap gangguan mental’.

Kedua, obsesi masyarakat ini bisa membawa ‘petaka’ bagi perempuan hamil. Perempuan hamil bersuami sering kali merasa gerah karena terpaksa mendengarkan celotehan dan komentar-komentar (yang kebanyakan mitos dan tidak rasional) yang keluar dari mulut perempuan lain yang sudah pernah hamil atau laki-laki (yang herannya walau tidak pernah hamil suka ikutan iseng berkomentar). Perutnya dipegang-pegang (bahkan oleh orang yang tidak dikenal!), dinasehati ini dan itu (kalau nasihatnya benar sih gakpapa, ya. Hehe.). Perempuan hamil tidak bersuami sudah tidak usah ditanya lagi nasibnya. Banyak teman perempuan saya yang merasa tertekan selama masa kehamilan mereka. Ini karena mereka merasa tidak mampu memenuhi ekspektasi masyarakat tentang kehamilan, yang akan membawa kita ke poin nomor 3.

Obsesi terhadap reproduksi dan kehamilan ini juga melahirkan banyak ekspektasi moral dan prilaku tidak masuk akal terhadap perempuan hamil. Kalau berat badan naik banyak dikomentari tidak bisa menjaga berat badan, kalau hanya naik sedikit dicap kekurusan. Kalau perempuan hamil terlihat kucel dan tidak ‘bersinar’ (glowing) dianggap jorok dan tidak cantik. Ketika hamil perempuan juga merasa ditekan untuk melahirkan secara normal karena kalau melahirkan secara sesar akan dianggap bukan perempuan sejati. Setelah melahirkan harus ASI, kalau memberikan anak susu formula akan dianggap ibu yang gagal dan tidak bertanggung jawab. Bla bla bla. The list goes on and it seems to never end.

Mungkin tidak adil bagi saya untuk ‘mengkritisi’ masyarakat tentang obsesi kita terhadap isu reproduksi perempuan. Saya menyadari penuh, bahwa tidak semua orang punya akses yang sama terhadap pendidikan. Tidak semua ibu-ibu punya waktu untuk baca buku dan nyampah di blog seperti yang saya lakukan sekarang. Tidak semua perempuan bisa duduk di bangku kuliah. Kebanyakan perempuan harus bekerja dan memberi makan anak-anak dan keluarga mereka. Banyak perempuan yang hanya bisa diam menerima ‘takdir dan kodrat’ yang diatributkan masyarakat kepada mereka.

Yang bisa saya lakukan adalah memahami sudut pandang ibu saya dan ibu-ibu yang lain yang mungkin saja benar-benar mendoakan saya untuk punya anak, karena bagi banyak orang (tidak semua) punya anak berarti sumber kebahagiaan dan status sosial. Saya, dan mungkin banyak perempuan lain seperti saya, harus belajar menerima dan bersabar. Jika memungkinkan, sedikit demi sedikit mengedukasi masyarakat untuk mengajukan lebih sedikit pertanyaan dan bersikap lebih adil terhadap perempuan. Ini jelas tidak mudah dan merupakan tanggung jawab yang sangat besar. Most of the time, though, I wish people would ask fewer questions and be more sensitive and less judgemental.

Cheers,

Haura

 

Referensi:

1&2Simon, Matt. “Fantastically wrong: The theory of wondering wombs that drove women to madness”. https://www.wired.com/2014/05/fantastically-wrong-wandering-womb/

3&5Bronstein, Phoebe. “Our modern obsession with pregnancy is just another attempt to control women’s bodies”. https://qz.com/759987/our-modern-obsession-with-pregnancy-is-just-another-attempt-to-control-womens-bodies/

4Stein, Sadie. “A brief history of the bump watch”. https://jezebel.com/5754158/a-brief-history-of-the-bump-watch

The image above was taken from here. I do not own it. Contact me for removal.