Review Bookmate: Membaca Koleksi Buku Indonesia dan Inggris dengan Langganan Bulanan

Disclaimer: Review ini bukan iklan. Saya tidak dibayar Bookmate untuk menulisnya. Semua yang saya tulis di sini bersifat subjektif berdasarkan pengalaman pribadi. Harga berlangganan yang saya cantumkan juga bisa berubah kapan saja. Silakan download dan pelajari aplikasinya langsung jika berminat mencoba.

 

Bookmate

“Don’t give a book. Give a library.”

-Bookmate-

 

Pernah terpikir untuk mengakses buku-buku bahasa Inggris dan membacanya langsung di smartphone tanpa harus beli e-book reader (yang lumayan mahal) semacam Kindle? Kalau iya, berarti Anda perlu mencoba berlangganan Bookmate. Bookmate adalah Spotify-nya buku. Layaknya Spotify di mana kita bisa mendengarkan lagu apa saja, dengan Bookmate kita bisa membaca buku yang kita mau, dengan sedikit biaya langganan.

Perkenalan saya dengan Bookmate sebenarnya sudah cukup lama, yakni tahun 2014. Kala itu suami saya Mamat mendapatkan proyek terjemahan menerjemahkan user interface aplikasi ini. Nah, salah satu fasilitas yang dia dapatkan dari proyek ini adalah akses gratis full membership selama setahun. Saya jadi bisa ikut membaca buku-buku bahasa Inggris secara gratis di iPad. Lumayan. Sayangnya, kala itu saya sedang getol-getolnya bekerja, siang dan malam, sampai saya tidak punya banyak waktu untuk membaca buku. Apalagi, saya masih punya banyak ‘utang’ membaca buku-buku fisik yang sudah terlanjur saya beli sebelumnya. Akhirnya aplikasi Bookmate cuma saya ‘anggurin’. Mamat juga jarang mengakses Bookmate karena dia sendiri sudah lama menjadi pengguna setia Kindle.

Setelah keanggotaan gratis Bookmate habis dan proyek terjemahan selesai, kami sempat melupakan Bookmate. Saya memilih membeli buku fisik di Bookdepository (baca ulasannya di sini) dan Mamat tetap setia membaca e-book di Kindle. Nah, akhir tahun 2018 saya berkenalan dengan aplikasi Blinkist dan Instaread, di mana saya bisa membaca ringkasan buku di hape. Tapi karena ternyata saya kurang menikmatinya (baca pengalaman saya di sini), saya memutuskan untuk kembali membaca buku lagi saja, alih-alih hanya ringkasannya.

Awal tahun 2019, saya pun mengupdate akun Goodreads saya dan memutuskan untuk mengikuti reading challenge untuk ‘memaksa’ diri saya membaca lebih banyak buku dari tahun sebelumnya. Target saya adalah membaca paling tidak 15 buku baru tahun ini. Masalahnya, sampai saat tulisan ini dibuat, saya masih harus berbagi Kindle dengan Mamat. Ini berarti kami harus bergantian membaca buku. Saya juga sudah ‘kapok’ beli buku fisik banyak-banyak berhubung kami sudah tidak punya ruangan lagi untuk menyimpan koleksi buku fisik kami berdua yang jumlahnya mencapai ratusan judul. Solusinya, saya bisa membeli Kindle baru supaya tidak perlu gantian dengan Mamat, atau saya bisa berlangganan Bookmate lagi. Saya memilih yang terakhir.

Bookmate mengklaim memiliki katalog sekitar 850 ribu judul buku dalam 13 bahasa. Koleksinya terdiri dari berbagai macam genre seperti fiksi, biografi, bacaan best-seller dan populer, psikologi, bisnis, romance, self-help, buku anak-anak, dan seri klasik yang tersedia dalam bentuk e-book dan audio book. Pelanggan bisa membaca semua buku yang ada di katalog dengan berlangganan bulanan atau tahunan.

Pada saat tulisan ini dibuat, Bookmate memiliki 2 jenis langganan: ‘Langganan Premium’ (Rp49.000/bulan atau Rp499.000/tahun) dan ‘Langganan Buku’ (Rp99.000/bulan atau Rp1.199.000/tahun). Perbedaannya sendiri tidak terlalu jelas di mana, saya sudah berusaha googling tapi belum ‘nemu’ perbedaannya. Tapi saya menduga perbedaan mungkin ada di jumlah atau jenis buku yang dapat diakses. Saat ini saya terdaftar sebagai pelanggan premium.

Ada beberapa hal yang saya suka dari Bookmate. Pertama, biaya berlangganan Bookmate terhitung sangat murah, terutama jika dibandingkan membeli buku fisik bahasa Inggris dari luar negeri (misalnya di Amazon atau Bookdepository). Langganan Bookmate juga lebih murah dibandingkan membeli e-book di Kindle. Bahkan, langganan Bookmate masih lebih murah ketimbang membeli buku fisik bahasa Indonesia di toko buku lokal. Dengan Rp49 ribu per bulan kita bisa membaca hampir semua buku yang kita mau. Kalau Anda seorang avid reader atau kutu buku akut, langganan Bookmate laksana membeli paket hemat di restoran favorit.

Kedua, satu akun Bookmate dapat diakses di 3 gadget. Jadi, kita bisa mengakses buku di smartphone, di tablet, dan di PC. Lumayan banget jadi bisa sharing akun dengan orang lain dan membaca buku yang berbeda. Saya sendiri lebih suka membaca di iPad daripada di hape karena di hape ada terlalu banyak distraksi seperti aplikasi medsos, Whatsapp, atau panggilan masuk.

Ketiga, tidak seperti Kindle, ada lumayan banyak buku bahasa Indonesia di Bookmate. Saya sendiri jarang membaca buku populer dalam bahasa Indonesia. Tapi, ada beberapa buku Indonesia karangan penulis favorit saya yang saya ikuti dan baca.

Keempat, dengan adanya Bookmate, saya merasa lebih bebas memilih bacaan dan tidak takut mulai membaca buku baru. Dulu, saya kadang membeli buku yang ternyata tidak saya suka atau sulit saya nikmati. Mau tidak dilanjutkan rasanya sayang karena sudah keluar uang untuk membelinya. Nah, dengan berlangganan Bookmate hal ini tidak perlu terjadi. Kalau tidak suka dengan satu buku, kita tidak usah berpikir ulang untuk berhenti membacanya. Otomatis, kita hanya menyelesaikan buku yang benar-benar kita suka saja.

Kelima, Bookmate juga menyediakan audio book. Kemarin saya baru mencoba mendengarkan serial klasik anak-anak Little House on the Praire-nya Laura Ingalls Wilder. Waktu kecil saya sering membaca versi terjemahannya. Sekarang, saya bisa memutar versi audio book-nya untuk putri saya, Reina. 😊

Contoh audio book.

Keenam, di Bookmate kita bisa membaca buku secara offline setelah kita selesai menambahkan buku ke rak buku. Jadi, saat tidak ada koneksi internet, kita tetap bisa membaca bukunya. Tidak ada alasan lagi untuk tidak membaca. Hehe.

Ketujuh, saya suka dengan user interface dan layout buku Bookmate. Di Bookmate kita bisa menyorot (highlight) kalimat atau frase favorit dengan mudah. Kalau Anda pembaca Kindle, Anda pasti tahu sulitnya memberi highlight di buku karena Kindle cenderung lebih slow dalam bernavigasi dari satu fungsi atau laman ke yang lain. Kelebihan lainnya, jika Anda suka membaca buku yang ‘berwarna’, Anda akan menyukai Bookmate karena tampilannya bisa disetel dari mode membaca malam hari yang gelap ke mode siang hari yang cerah.

Mode baca malam.

Mode baca siang.

Terlepas dari semua kelebihannya, Bookmate punya beberapa kekurangan. Pertama, koleksi buku Bookmate tidak sebanyak Amazon Kindle. Saya sudah membuktikannya sendiri. Saya sempat mencari beberapa buku best-seller terbaru dan tidak dapat menemukannya di Bookmate.

Kedua, karena naturnya yang merupakan aplikasi di gadget, membaca di Bookmate bisa jadi tantangan tersendiri karena banyaknya distraksi dari aplikasi lain yang ada di gadget.

Ketiga, ukuran tampilan buku di Bookmate bisa menjadi masalah jika Anda merasa tampilan buku di hape terlalu kecil sementara tablet terlalu besar untuk digenggam. Di sisi ini Kindle jelas menang karena ukurannya yang pas, tidak terlalu kecil namun juga masih nyaman dipegang sebelah tangan. Solusinya? Membaca Bookmate di iPad mini atau tablet yang berukuran tidak terlalu besar.

Terakhir, perlu diingat bahwa ketika kita berhenti langganan, maka otomatis kita tidak bisa lagi membaca buku yang sudah kita download.

Secara umum, saya puas dengan aplikasi ini. Saya jadi bisa berhemat banyak. Tapi, untuk jangka panjang, saya rasanya tidak akan berhenti membaca e-book di Kindle. Kenapa? Karena sistem Kindle adalah ‘membeli putus’, di mana buku yang sudah kita beli akan selamanya bisa kita baca tanpa perlu berlangganan. Bukunya pun jadi bisa kita wariskan ke anak atau orang lain. 🙂

 

Bonus: Reina ‘membaca’ buku. 😂

Cheers,

Haura Emilia

 

Iklan

Evolusi Membaca Generasi Millenial: Clickbait hingga Blinkist and InstaRead

Catatan: Seperti kebanyakan tulisan-tulisan saya, intro atau pengantar tulisan ini lumayan panjang. Untuk yang malas atau tidak ada waktu untuk membaca cerita pengantarnya, silakan langsung skip ke paragraf yang kata pertamanya saya highlight dengan bold. 😊 Tapi, buat yang tertarik membaca dongeng saya, silakan mulai dari awal. Terima kasih sudah mampir.

Waktu saya kuliah dulu, membaca adalah salah satu tuntutan yang harus dipenuhi kalau mau lulus. Saya tidak bicara soal textbook yang bacanya bisa di-skimming atau hanya dibaca bagian-bagian pentingnya saja, saya bicara soal membaca novel atau karya fiksi/non-fiksi utuh, yang harus dibaca dari halaman awal hingga halaman akhir. Ya, kami, mahasiswa jurusan Sastra Inggris UI kala itu, ‘dipaksa’ membaca sekitar 7-8 novel/semester. Oh, itu untuk SATU mata kuliah, lho. Selain novel-novel itu, kami juga pastinya harus mempelajari buku teks dan membaca materi non-fiksi lainnya.

Kalau hanya novel 100-200 halaman sih tidak masalah. Yang jadi masalah adalah ketika novelnya setebal buku seri Harry Potter yang bisa mencapai 700-900an halaman per bukunya. Kegiatan ini bak tragedi bagi kami karena mau tidak mau kerjaan kami harus terus membaca secara konstan. Apalagi kalau ceritanya tentang tragedi, apa kami makin tidak depresi? 😂 Ya, buat yang kurang suka membaca, kuliah sastra adalah malapetaka. Wong yang suka membaca saja kadang tersengal-sengal, susah payah mengejar ketinggalan. Belum lagi buat yang Bahasa Inggrisnya belum terlalu lancar atau kalau bahasanya memakai bahasa ‘jadul’ macam jamannya Shakespeare. Ya. Sudah. Selamat. Menikmati. Katakan. Selamat. Tinggal. Pada. Bermalas-malasan. 😂

Saat itu saya tidak pernah memikirkan tentang efek atau manfaat dari ‘penyiksaan intelektual’ ini. Ternyata, manfaat drilling membaca ini saya rasakan saat mengambil gelas master di jurusan yang tidak ada hubungannya dengan sastra dan novel: ilmu hubungan internasional (HI). Pada dasarnya, studi HI mempelajari politik, ekonomi, relasi kuasa, dan interaksi negara di dunia internasional. Otomatis, ilmu politik adalah dasar penting untuk mempelajari HI. Jadi, HI tidak ada hubungannya dengan ilmu public relations apalagi hotel, ya (mentang-mentang HI juga kependekan dari Hotel Indonesia). 😂

Anyway, karena banyak mahasiswa yang lulus dari S1 non-HI, semester pertama kami semua, termasuk yang S1nya HI, harus mengambil mata kuliah teori hubungan internasional, yang isinya teori politik dan sejarah bangsa-bangsa di dunia dengan fokus timeline pasca perang dingin. Kenapa pasca perang dingin? Karena sejak saat itulah ilmu HI berkembang pesat. Nah, dosen kami kala itu memberikan kami setumpuk materi fotokopian yang harus dibaca, lalu ditulis ringkasan serta analisis plus diberikan pendapat kami tentang teks yang kami baca. Berapa banyak materinya? Empat teks yang masing-masing terdiri dari 100an halaman. Berarti totalnya 400an halaman. Masing-masing teks harus ditulis analisisnya sebanyak 8-12 halaman. Totalnya paling sedikit kami harus menulis 32 halaman dan paling banyak 48 halaman. Deadline-nya? Sebulan. Mantab.

Terus terang saya biasa-biasa saja dan tidak kaget, soalnya saya sudah biasa ‘disiksa’ membaca ribuan halaman selama perjuangan kuliah 4 tahun di sastra. Tapi rupanya tidak demikian dengan teman-teman yang lain. Rekan-rekan seangkatan saya kala itu berasal dari background pendidikan yang berbeda-beda. Ada yang S1nya psikologi, sosiologi, ada yang ekonomi, ada yang sastra Rusia, ada yang HI, ada yang jurnalistik dan bahkan ada yang lulusan teknik!

Nah, mulai lah kelihatan mana yang struggle dengan teks rumit berbahasa Inggris dan mana yang tidak. Perlu dicatat, rata-rata teman seangkatan saya ini lulusan universitas negeri ternama, bukan hanya UI. Banyak di antara mereka yang dulunya adalah mahasiswa-mahasiswa terbaik di kelasnya (saat S1). Jadi, mereka ini adalah orang-orang pintar. Saya sering terpana mendengar mereka bicara di kelas dan merasa tertinggal. Saya jadi merasa seperti remahan rengginang. 😂

Tapi rupanya, kemampuan akademis atau intelektual tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan membaca dan penguasaan bahasa. Sebagai alumni sastra, saya paham betul bahwa membaca adalah sebuah skill tersendiri yang bisa dipelajari dan perlu diasah, sama seperti skill lainnya, jika ingin mencapai level lanjutan. Di sini rupanya, (banyak, walau tidak semua) anak lulusan sastra menang.

Kebiasaan membaca yang dibangun dan diasah bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil. Saya membaca semua materi dan menyelesaikan semua tugas saya dalam waktu 3 minggu, seminggu sebelum deadline. Tiba-tiba saya jadi ingin memeluk dosen reading dan sastra saya dulu. Makasih ya, Pak/Bu. Ini saya jadi pinter membaca. Hihi.

Sejak lulus S2 di tahun 2011, saya mulai bekerja sebagai penerjemah purnawaktu di sebuah perusahaan Inggris di Singapura. Apa saja kerjaan saya? Baca, nerjemahin, baca, nerjemahin, issue invoice, baca, nerjemahin, manage proyek terjemahan, baca, nerjemahin. Repeat. Intinya, saya dibayar untuk membaca dan menerjemahkan. Saya menghasilkan uang, salah satunya dari membaca. 😋 Pekerjaan baca-membaca-menerjemahkan ini lalu terus berlanjut hingga sekarang, ketika saya sudah menjadi ‘mahmud abas’, alias mamah muda anak baru satu. 😂 Sebagai tukang baca profesional, saya ikut berevolusi seiring dengan perkembangan teknologi yang sepenuhnya mengubah tradisi membaca generasi millenial.

Kita telah memulai tradisi membaca jauh sejak peradaban awal homo sapiens yang secara berkala mengembangkan sistem komunikasi berupa huruf atau simbol lain yang dapat dirangkai menjadi kata dan tulisan pengantar makna. Manusia-manusia peradaban awal menciptakan sistem tulisan tertua pada akhir abad ke-3 SM. Sejarah mencatat bahwa karya-karya sastra pertama ditulis oleh pengarang bernama Ptahhotep (yang menulis dalam bahasa Mesir) dan Enheduanna (yang menulis dalam bahasa Sumeria).* Dulu, orang ‘menulis’ di atas batu, daun, atau dinding gua. Setelah sistem menulis modern yang kita pakai sekarang dan kertas ditemukan, manusia mulai menulis di atas kertas. Buku, dalam bentuk yang kita kenal pun lahir.

Waktu kecil, saya menghabiskan sebagian besar waktu saya dengan membaca. Saya tumbuh dikelilingi buku. Ayah saya, yang seorang guru, menghabiskan paling tidak 2 jam setiap harinya untuk membaca dan punya perpustakaan kecil sendiri yang koleksinya mencapai ribuan buku. Jadi membaca bukan aktivitas yang asing untuk saya dan adik. Jadi ketika dunia perkuliahan menuntut saya untuk banyak membaca, saya malah senang. Buku bagaikan kendaraan yang membawa saya ke berbagai tempat yang tidak pernah saya kunjungi, bertemu dengan orang-orang yang tidak akan pernah saya temui, dan merasakan pengalaman yang bahkan dalam mimpi pun tidak pernah saya alami.

Setelah kehadiran internet, saya merasakan bahwa buku bukan lagi sumber satu-satunya pengetahuan di bangku perkuliahan. Kala itu, tahun 2003, kami sudah mulai menggunakan internet untuk mencari materi perkuliahan walaupun belum semudah sekarang. Sejak saya lulus S1 tahun 2007 hingga sekarang saya amati tradisi membaca, terutama di kalangan generasi milenial, telah berubah drastis. Internet ikut bertanggung jawab penuh atas perubahan ini.

Media sosial, si anak bungsu internet, dan portal berita online, mengubah segalanya. Informasi datang dan berganti dengan begitu cepat dalam hitungan detik. Semua konten ditulis begitu singkat sehingga kita hanya butuh sepersekian detik untuk membaca judul berita, status seseorang, atau informasi mengenai cara bercocok tanam.

Gawatnya, tulisan dan potongan informasi yang sudah sangat singkat ini sering kali ditulis dengan asal-asalan bermodalkan clickbait. Tidak percaya? Coba saja lihat artikel berita L*ne Today atau D*tik.com. Headline, gaya menulis, ejaan, dan isi berita yang sering tidak nyambung dengan judul kadang membuat saya ingin menjitak editornya. Mbak/Mas Editor, dulu nilai bahasa Indonesianya di sekolah berapa, sih? 🤔 Itu berita lho, yang ditulis oleh seseorang (yang statusnya, sih) berpendidikan dan ada editornya. Bayangkan status orang biasa di media sosial? Gak usah muluk-muluk memikirkan ejaan dan tata bahasa, kadang bisa dimengerti saja maksudnya sudah bagus. Hehe. 😄

Tunggu, sampai di sini poin saya bukan bermaksud menjelekkan kemampuan menulis wartawan online dan pengguna media sosial pada umumnya. Informasi instan dan serba cepat serta clickbait ini telah memperpendek ‘rentang perhatian’ (attention span) kita. Kalau mau jujur sekarang kita telah berevolusi menjadi generasi tidak sabaran yang malas membaca sesuatu yang lebih panjang dari 140 karakter Twitter. Lupakan textbook sulit, karya sastra klasik, dan jurnal ilmiah, membaca isi berita online saja kadang kita malas dan sering kali langsung menyimpulkan berita hanya dari judulnya saja.

Sekarang, ayo kita main sebentar ke toko buku. Toko buku terkenal yang masih bertahan di masa ini sebagian besar isinya malah bukan buku melainkan alat musik, alat tulis, benda-benda yang sifatnya dekoratif, DVD, sampai kalkulator dan ring bola basket. 😂 Kenapa? Karena berjualan buku saja bisa membuat mereka gulung tikar berhubung sebagian besar penjualan berasal dari barang-barang non-buku. Informasi ini saya dapat dari seorang kenalan yang sudah lama bekerja di sebuah toko buku merek terkenal.

Penulis buku travel Trinity bahkan mengatakan bahwa dia akan ‘pensiun’ menulis buku karena omset penjualan buku tidak lagi cukup untuk memberinya modal untuk membuat tulisan baru, yakni jalan-jalan. Minat baca orang Indonesia yang dari dulu sudah rendah, kini semakin terjun bebas ke dalam jurang kemalasan.

Apa saya lolos dari fenomena ini? Tidak. Seperti segelintir generasi milenial yang masih peduli pada aktivitas membaca, saya sendiri juga susah payah memaksa diri saya membaca dan menyelesaikan sebuah buku. Di tahun 2016 saya masih membaca 20an buku dalam setahun, tahun 2017 turun menjadi 12 atau 13 buah judul, dan tahun 2018 saya hanya berhasil membaca 7 atau 8 buku saja, itu pun kebanyakan buku-buku tentang kehamilan dan parenting, berhubung saya sedang hamil.

Di akhir tahun 2018, saya memutuskan untuk mencoba mengikuti tren membaca jaman now, saya berlangganan aplikasi membaca Blinkist dan Instaread.

Blinkist:

Instaread:

Dua aplikasi ini menyajikan ringkasan (summary) dari ribuan judul buku yang umumnya non-fiksi. Kita bisa mencoba berlangganan gratis dulu selama 7 hari sebelum memutuskan akan mengambil langganan berbayar atau tidak. Blinkist mengenakan biaya langganan sekitar Rp116.583 per bulannya dan Instaread menarik tarif Rp99.000 per bulan.

Klaim kedua aplikasi ini sama: keduanya menjanjikan pelanggan akses ke overview ribuan buku sehingga kita bisa ‘membaca’ inti sari dari sebuah buku ratusan halaman dalam waktu 15-26 menit saja! Ibaratnya, kita bisa sombong mengaku sudah baca sebuah buku hanya dengan membaca inti sari setiap chapter-nya. 😂

Contoh konten ringkasan buku di Blinkist.

Dalam iklannya, Blinkist menjual aplikasinya dengan mengatakan bahwa CEO, founder, dan pemimpian perusahaan-perusahaan terkemuka di dunia, seperti Bill Gates dan Mark Zuckerberg, membaca 50-60 buku dalam setahun. Maka kita, rakyat biasa dan jelata (kalau dibandingkan mereka 😂), bisa menyamai level membaca mereka dengan berlangganan Blinkist. Yah, walaupun yang kita baca cuma ringkasan buku, sih. Cukup lah untuk sepik-sepik sok pintar ke orang lain.

Awalnya saya excited sekali mencoba langganan gratisan 7 hari kedua aplikasi ini. Dalam rentang waktu seminggu ini, saya, yang sebagian besar waktunya habis mengasuh bayi, berhasil membaca inti sari 16 buku di Blinkist.

And then something hit me hard. Bukannya merasakan ekstasi dan kepuasan yang biasa saya dapatkan setelah membaca buku yang saya sukai, saya menjadi depresi setelah masa berlangganan selesai. Iya, depresi. Bukan, bukan karena biaya berlangganannya mahal. 😅 Tapi karena saya menyadari bahwa seni dari membaca adalah menyelami setiap detail yang ada dalam sebuah tulisan. The devil is in the details. Meringkas berarti mempersingkat dan menghilangkan detail. Apa saja yang termasuk detail? Gaya bahasa penulis (diksi, tata bahasa, sudut pandang narator), rincian informasi (peristiwa atau kejadian, deskripsi orang, benda atau tempat, narasi), tone atau nada penulis (misalnya netral, optimis, pesimis, pragmatis, sinis, satir, komedi). Semua ini tidak bisa ditemukan dalam sebuah ringkasan.

Kedua, ringkasan buku yang disajikan sepenuhnya bergantung pada perspektif dan apa yang ditangkap penulis ringkasan yang bekerja untuk kedua aplikasi tersebut. Ketika saya dan Anda membaca sebuah buku yang sama, kemungkinan kita akan tiba pada kesimpulan yang berbeda. Latar belakang pendidikan, kapasitas intelektual dan pengalaman hidup akan membawa kita pada pemahaman yang berbeda-beda pula. Terlepas dari teori atau hipotesis yang dipaparkan penulis pada akhir bukunya, setiap pembaca mendapatkan pengalaman dan ‘mengecap rasa’ yang berbeda. Pengalaman ini tidak bisa kita dapatkan ketika membaca ringkasan karena apa yang kita dapatkan adalah kesimpulan penulis ringkasan.

Ketika saya membaca ringkasan buku Enlightenment Now oleh Steven Pinker di Blinkist, saya pikir saya akan tertarik untuk membeli bukunya dan membacanya di Kindle berhubung Bill Gates sangat memuji-muji buku ini. But thanks to Blinkist saya tidak jadi membelinya. Kenapa? Apa bukunya jelek? Bukan. Karena isi buku sudah dipersingkat sedemikian rupa seakan-akan tidak ada lagi yang tersisa untuk kita pelajari jika membaca buku utuhnya. Saya mencoba membuktikan teori ini dengan membaca ringkasan dari buku yang sudah saya baca sebelumnya, Sapiens oleh Yuval Noah Harari. Hasilnya? Sungguh semua kenikmatan yang saya rasakan saat membaca buku aslinya absen dalam ringkasan. Ringkasan terkesan sangat hambar, bagaikan masakan tanpa garam. Tidak ada excitement di dalamnya.

Saya jadi berpikir. Sudah sebegini malasnya kah kita membaca sampai-sampai kita harus membayar demi membaca versi pendek buku yang ditulis orang lain? Bayangkan mudahnya jadi pelajar atau mahasiswa jaman sekarang. Kalau disuruh dosen untuk membaca sebuah buku dan menulis inti sarinya, mereka tinggal download Blinkist atau Instaread dan membaca (atau malah copas) ringkasannya.

Terlepas dari kekurangannya, aplikasi membaca seperti ini bukannya sama sekali useless. Aplikasi ini bisa berguna untuk mereka yang benar-benar tidak sempat membaca seluruh buku atau memiliki keterbatasan fisik, misalnya ibu rumah tangga yang waktunya sudah habis untuk mengurus anak dan rumah, atau untuk orang tua yang sudah terlalu lelah penglihatannya untuk membaca satu buku penuh. Bagaimana pun, membaca ringkasan buku masih lebih baik daripada tidak membaca sama sekali. Membaca ringkasan buku juga masih lebih baik daripada sekadar membaca headline clickbait.

Setelah frustasi dengan Blinkist dan Instaread, saya memutuskan untuk kembali ke metode konvensional, membaca satu buku utuh, dari halaman depan sampai belakang. Blinkist masih sesekali saya buka untuk membaca buku-buku random yang menjadi bagian dari fitur gratisan harian aplikasi ini. Entahlah, mungkin saya terlalu tua untuk masuk kategori millenial (saya lahir tahun 1986), atau karena pengalaman membaca saya yang memaksa diri saya untuk tidak berhenti di clickbait, betapa pun menggodanya headline berita online dan aplikasi membaca instan.

Cheers,

Haura Emilia

Catatan Akhir Tahun: Ulasan Buku Favorit Tahun 2017

Saya tumbuh besar menyaksikan ayah saya membaca buku paling tidak 2 jam sehari. Ayah saya punya banyak sekali koleksi buku di rumah, koleksi buku ayah saya mungkin mencapai ribuan mengingat beliau melakukan aktivitas ini setiap hari selama puluhan tahun semasa hidupnya. Ayah dan ibu saya dulu sering menghadiahkan saya banyak buku sepanjang masa kecil hingga remaja. Sebagai seorang bocah SD, saya sudah bisa membaca 10 novel Goosebumps dalam sehari. Begitu sukanya saya membaca, saya sampai menabung uang jajan saya untuk membeli buku favorit. Hari libur pun kebanyakan saya habiskan dengan membaca.

Belakangan, saya mencoba menghidupkan kembali kebiasaan membaca. Hal ini bukannya tanpa alasan. Sejak saya lulus pascasarjana tahun 2011 saya harus mengakui bahwa jumlah buku yang saya baca menurun drastis. Alasannya ada-ada saja, mulai dari sibuk bekerja sampai tersitanya waktu oleh media sosial.

Tahun ini sejujurnya saya membaca lebih sedikit buku dari tahun sebelumnya (20an buku sepanjang 2016). Tapi, saya cukup senang dengan daftar bacaan saya tahun ini.

Topik buku yang saya baca sebenarnya sangat bervariasi. Persamaannya adalah hampir semua buku yang saya baca adalah buku non-fiksi. Saya tidak punya genre favorit, namun saya memang lebih tertarik membaca buku biografi, self-help terkait produktivitas, dan buku-buku yang berhubungan dengan ilmu sosial, ekonomi dan filsafat. Berikut daftar beberapa buku yang saya baca sepanjang tahun 2017. Tidak semua buku saya tulis di sini karena beberapa masih pending membacanya. Anyway, silakan klik judul di bawah untuk melihat di mana saya membelinya.

  1. Homo Deus oleh Yuval Noah Harari
  2. 10% Happier: How I Tamed the Voice in My Head, Reduced Stress Without Losing My Edge, and Found Self-Help That Actually Works–A True Story Kindle Edition oleh Dan Harris
  3. Write. Publish. Repeat. (The No-Luck-Required Guide to Self-Publishing Success) Kindle Edition oleh Sean Platt and Johnny B. Truant
  4. Alibaba: The House That Jack Ma Built oleh Duncan Clark
  5. Nineteen Eighty-Four oleh George Orwell
  6. Evicted: Poverty and Profit in the American City oleh Matthew Desmond
  7. Thinking, Fast and Slow oleh Daniel Kahneman (sedang dibaca, belum selesai)
  8. Springboard  : Launching Your Personal Search for Success oleh G Richard Shell
  9. The Headspace Guide to… Mindfulness & Meditation oleh Andi Puddicombe
  10. Sirkus Pohon oleh Andrea Hirata
  11. Norwegian Wood oleh Haruki Murakami
  12. The Life-Changing Magic of Tidying oleh Marie Condo

Dari 12 buku di atas, saya paling suka yang nomor 1, 2, 3, 6, dan 7. Dalam postingan kali ini saya akan review sedikit 5 buku favorit saya.

Pertama, Homo Deus oleh Yuval Noah Harari. Saya sudah mengulas buku Harari Sapiens: A Brief History of Humankind di blog saya sebelumnya (klik di sini untuk membaca). Bagi yang sudah membacanya, mereka pasti tahu kalau belakangan Harari mendadak menjadi salah satu penulis favorit saya. Boleh dibilang Homo Deus adalah lanjutan dari Sapiens, walaupun keduanya bisa dibaca secara terpisah.

Homo Deus pada intinya adalah sebuah bentuk eksposisi tentang arah masa depan manusia. Buku ini menjabarkan sejauh mana pencapaian manusia sepanjang eksistensinya di muka bumi, mulai dari kera besar yang menjelajahi bumi hingga menjadi spesies makhluk hidup yang hendak mengeksplorasi planet Mars dan memiliki misi agresif untuk mengalahkan mortalitas dan hidup selamanya. Tesis Harari diawali dengan pemikiran bahwa manusia pada dasarnya adalah algoritme organik yang bergerak mengikuti sebuah sistem yang terus berulang. Kedua, Harari juga berpendapat bahwa manusia bisa mencapai banyak hal dan menjadi penguasa bumi karena manusia hidup dalam realitas yang sifatnya ‘intersubjektif’ (dipahami dan diterima secara massal) seperti negara, agama, uang, perusahaan, dan sistem hukum. Harari juga berpendapat bahwa kemajuan teknologi suatu hari akan mengancam kelangsungan eksistensi manusia biasa, yang di mana depan akan digantikan dengan ‘super human’ dengan kemampuan seperti dewa (homo deus), yang dapat melakukan perjalanan antarplanet dan sepenuhnya memusnahkan penyakit berbahaya hingga mencapai kehidupan abadi.

Sampai di sini mungkin Anda akan berpikir bahwa Harari terdengar gila. Tapi nyatanya tidak juga. Harari berhasil memaparkan argumennya dengan penyajian fakta yang sangat bisa diterima oleh akal sehat. Contohnya, kita sekarang mungkin berpikir bahwa keabadian hanya ada dalam dongeng. Tapi lihat fakta yang ada sekarang. Teknologi kedokteran telah berhasil memperpanjang usia manusia. Vaksin berhasil mengeliminasi jumlah bayi yang meninggal karena terserang penyakit dan transplantasi organ telah berhasil memperpanjang umur pasien yang sebelumnya tidak memiliki harapan. Teknologi kecantikan juga telah melahirkan banyak krim anti penuaan yang dikonsumsi jutaan perempuan dan laki-laki setiap tahunnya. Jika sekarang teknologi ditujukan untuk memperpanjang umur dan meningkatkan kualitas hidup manusia hingga 2-10 tahun, bukan tidak mungkin di masa depan teknologi bisa memperpanjang usia manusia hingga 50-100 tahun. Di masa depan, bukannya tidak mungkin ‘mengganti’ organ yang sudah ‘tua’ dengan yang baru dan menyuntikkan sebuah formula yang mendorong perbaikan sel-sel yang rusak. Ada banyak hal menarik lainnya yang bisa kita pelajari dari buku ini. So, grab the book and hold on tight because the ride will be crazy. 😊

Kedua, buku favorit saya lainnya tahun ini adalah 10% Happier oleh Dan Harris. Saya tertarik membaca buku ini karena sebagian judulnya berbunyi “how I tamed the voice in my head”. Saya termasuk orang yang tidak bisa berhenti berpikir dan hal ini tidak selalu menyenangkan. Ada kalanya saya berharap otak saya akan berhenti berpikir dan saya akan berhenti mendengarkan narasi yang diceritakan diri saya sendiri di dalam kepala. Narasi di dalam kepala kadang mengganggu tidur saya dan menyulitkan saya untuk fokus melakukan satu hal. Dan Harris menceritakan bagaimana ‘mindfulness’ membantunya untuk tenang dan menjinakkan suara-suara negatif di dalam kepalanya.

Istilah ‘mindfulness’ sebenarnya dipilih untuk menggantikan kata ‘meditasi’. Mindfulness dipilih karena kata ‘meditasi’ terlanjur dikonotasikan dengan agama dan kebanyakan orang yang mendengarnya akan mengasosiasikan kata ini dengan ‘biksu’, ‘buddha’, ‘hindu’, ‘bertapa’, atau bahkan ‘mencari pencerahan di puncak gunung atau di bawah pohon besar’. Padahal pada praktiknya, mindfulness tidak selalu diasosiasikan dengan tema religi. Semua orang bisa melakukannya. Mindfulness dimaksudkan untuk melatih mind (pikiran) agar aktif dan fokus terhadap kondisi yang ada sekarang. Saat kita bersikap mindful, kita dapat mengobservasi pikiran dan perasaan tanpa menilainya (judging) sebagai baik atau buruk. Dengan menjadi mindful, kita menghayati setiap momen yang berlangsung saat ini, tidak hidup di masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan.

Buku favorit ketiga tahun ini adalah Write. Publish. Repeat. oleh Sean Platt and Johnny B. Truant. Saya membaca buku ini karena memang berniat serius menulis. Buku ini membuka mata saya tentang dunia penerbitan dan produksi e-book. Saya belajar bahwa sejatinya penulis yang produktif tidak beda dengan seorang pengusaha, yakni sama-sama membuat dan menjual sebuah produk. Seperti halnya bisnis yang lain, menjual barang adalah salah satu cara untuk membuat uang bekerja untuk Anda. Jika Anda berdagang (buka warung atau berdagang asongan sayangnya tidak termasuk! Hehe.), maka ketika tidur pun Anda bisa mendapatkan passive income dari barang yang terjual. Seperti wirausaha lainnya, menjual buku membutuhkan kerja keras. Penulis harus bersaing dan dengan jutaan penulis lain untuk menjual bukunya. Asiknya, dunia penerbitan sudah banyak berubah seiring dengan perkembangan teknologi. Jika dulu buku perlu dicetak di lembaran kertas, sekarang orang bisa membaca buku elektronik di e-book reader seperti Kindle, di smartphone, di tablet, di laptop dan PC. Penulis juga bisa menerbitkan e-booknya secara mandiri, menjadi seorang penulis indie. Buku ini secara umum menjelaskan proses membangun bisnis sendiri dengan menjadi penulis e-book indie. Ada banyak tips berguna yang bisa kita pelajari di sini jika kita serius ingin menjadi penulis e-book yang produktif. So, I couldn’t be happier reading this gem. 😊

Buku keempat agak berbeda dari ketiga buku sebelumnya. Evicted: Poverty and Profit in the American City adalah sebuah narasi yang diangkat dari kisah nyata. Dalam buku ini, Matthew Desmond menceritakan kisah masyarakat miskin di Amerika yang tidak memiliki rumah. Evicted sendiri artinya ‘terusir’ atau ‘diusir’ dari rumah sewaan. Desmond sengaja tinggal di lingkungan miskin di Milwaukee di Amerika untuk menulis kisah orang-orang yang terpinggirkan, 8 keluarga yang tidak memiliki rumah sehingga harus terus berpindah-pindah. Orang-orang ini hidup dililit utang, tinggal dalam rumah sewaan bobrok yang ditempati banyak anggota keluarga, dan hidup dari tunjangan sosial satu dan lainnya. Mereka juga tidak memiliki pekerjaan tetap dan hidup di lingkungan dengan tingkat kriminalitas yang tinggi di mana prostitusi dan pengedaran obat-obatan terlarang telah menjadi pemandangan sehari-hari. Buku ini membuka mata saya mengenai kemiskinan di negara adidaya seperti Amerika Serikat. Amerika dalam Evicted jauh sekali dari glamornya Amerika yang digambarkan dalam film-film Hollywood. Saya jadi menyadari bahwa krisis tempat tinggal adalah masalah sosial yang bisa dialami di negara maju sekali pun.

Mau tidak mau saya jadi membandingkan kondisi ini dengan kondisi yang kita alami di negeri sendiri. Di Indonesia, orang kita terbiasa tinggal dengan keluarga besar. Kita tidak dipandang aneh jika sudah berumah tangga masih tinggal dengan orang tua. Menumpang di rumah saudara, tetangga, teman atau kenalan juga masih menjadi hal yang lumrah di sini. Adalah hal yang biasa juga bagi seseorang dari kampung misalnya untuk ‘ikut’ dengan seseorang yang tinggal di kota dan bekerja untuknya. Ini tidak sama dengan kondisi di Amerika, paling tidak seperti yang saya baca di buku ini, di sana masyarakatnya punya nilai yang berbeda dan tidak memiliki rumah berarti masalah besar. Bukan hanya karena tekanan sosial untuk memiliki rumah, namun kondisi iklim negara 4 musim juga menyulitkan mereka yang tunawisma. Siapkan tisu kalau ingin membaca buku ini.

Buku terakhir yang menjadi favorit saya tahun ini adalah Thinking, Fast and Slow oleh Daniel Kahneman. Daniel Kahneman adalah seorang profesor psikologi pemenang nobel ekonomi tahun 2002 (hebat, kan?) dan buku ini banyak dikutip dalam buku-buku bagus lain yang pernah saya baca. Pada dasarnya buku ini fokus pada irasionalitas manusia dan membahas mengenai 2 sistem berpikir manusia yang dia sebut dengan Sistem 1 dan Sistem 2. Sistem 1 adalah mode berpikir yang bersifat cepat, otomatis, intiutif, dan refleks. Sebaliknya, Sistem 2 adalah mode berpikir lambat yang naturnya menggunakan rasio, penuh pertimbangan, berdasarkan fakta, dan cenderung analitis.

Sistem 1 adalah ‘penguasa’ pikiran sebagian besar manusia. Contohnya, ketika kita melihat seseorang dengan ciri-ciri rapi, terlihat terpelajar, sedang berjalan di sebuah rumah sakit, kita mungkin akan berpikir jika orang tersebut adalah seorang dokter. Pada kenyataannya, orang tersebut kemungkinan bukan dokter. Jika melihat statistik, perbandingan jumlah pasien dan dokter di sebuah RS bisa jadi sangat jauh. Yang jelas ada lebih banyak pasien daripada dokter di sebuah rumah sakit. Dengan demikian, kemungkinan orang dengan ciri tersebut adalah pasien lebih besar dari kemungkinan orang tadi adalah dokter. Sistem 1 memutuskan bahwa orang dengan ciri tersebut adalah dokter. Sistem 2 meragukan prasangka awal ini dan mempertimbangkan kemungkinan orang tersebut bukan dokter. Sistem 1 cenderung menang karena pada dasarnya Sistem 2 membutuhkan lebih banyak usaha dan sifat alami manusia adalah memilih yang lebih mudah.

Saya belum selesai membaca buku yang terakhir ini, namun saya sudah sangat menyukainya. Buku ini membongkar kesalahan dan kecacatan berpikir kita sehari-hari. Kita mungkin berpikir manusia  adalah makhluk yang rasional. Nyatanya, kita adalah makhluk yang sangat tidak logis, di mana mood, emosi, dan penilaian singkat memengaruhi cara kita mengambil keputusan dan bersikap sehari-hari. Cara berpikir kita juga banyak dipengaruhi oleh bias kognitif (cognitive biases) dan kesesatan berpikir (logical fallacy) yang mencegah kita melihat masalah secara objektif. Are we really that desperate and hopeless? Saya belum selesai membaca, jadi belum bisa menjawabnya sekarang. Yang jelas, siapkan waktu membaca khusus untuk membaca buku ini karena buku ini bukan tipe buku ringan yang bisa dibaca sambil lalu.

Saya akan menutup tahun 2017 dengan berusaha menyelesaikan membaca buku-buku yang masih tertunda. Resolusi tahun 2018 saya adalah membaca lebih banyak buku.

Jadi, sudah berapa banyak buku yang kamu baca tahun ini? 😊

Cheers,

Haura Emilia

Belanja buku impor online di Bookdepository.com

Disclaimer: blog post ini bukan iklan, saya tidak dibayar dalam bentuk apa pun oleh Bookdepository untuk mengiklankan tokonya. Postingan ini ditulis dengan jujur berdasarkan pengalaman pribadi sejak mulai berbelanja di Bookdepository tahun 2011.

Nyari buku bahasa Inggris yang terjangkau susah, ya?”

“Beli buku impor yang murah di mana, sih?”

“Periplus? Kinokuniya? Books & Beyond?”

“Mahal!!!”

Ya, buku impor memang biasanya dijual dengan harga lumayan mahal di Indonesia. Kadang kalau kita mampu beli pun, tidak semua buku yang kita cari tersedia. Apalagi kalau kita tidak tinggal di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Mencari buku impor jadi tambah sulit. Beberapa toko buku impor di Indonesia memang menyediakan fitur belanja online di websitenya. Tapiii… Balik lagi ke masalah ketersediaan dan harga yang mahal. Hehe… Jadi di mana kita bisa belanja buku impor dengan harga miring?

Sebenarnya, kita bisa memesan buku secara online dari situs luar negeri seperti Ebay, Amazon.com, dan Gogoodbook.com. Tapi… Mahal juga karena ada tambahan biaya pengiriman atau shipping-nya. Biaya shipping yang mahal membuat total harga buku bisa jadi lebih mahal daripada membeli buku impor langsung di toko. Nah, kalau sudah begini apa solusinya? Saya sih beli di toko buku online langganan saya, Bookdepository.com.

Bookdepository adalah toko buku online yang berbasis di Gloucester, UK. Toko ini mengklaim memiliki lebih dari 17 juta judul buku dari berbagai macam genre dan kategori, dengan harga yang sangat kompetitif, serta menyediakan jasa free shipping alias gratis ongkir ke lebih dari 100 negara di seluruh dunia! Dan…. Pajak sudah termasuk dalam harga buku!! Hold your breath. Yup. GRATIS ongkos kirim. GAK ADA BEA MASUK LAGI PAS SAMPAI INDONESIA. Horeeee! (Tiup terompet) 😀 Saking senengnya, so far saya dan Mamat sudah membeli lebih dari 30 judul buku di Bookdepository. Nah, karena saya baik hati, saya akan bagi-bagi info tentang belanja buku di Bookdepository.com. 😀

Pertama, buka website Bookdepository.com, browsing, dan pilih jenis buku yang sesuai budget. Caranya? Kita bisa langsung browsing buku yang mau kita beli di kotak penelusuran atau “search box” di bagian atas website lalu klik Search. Kita bisa memasukkan judul buku atau nama pengarangnya saja. Misalnya, kita bisa ketik “Alice in Wonderland” atau “Lewis Caroll” di situ. Atau, kita juga bisa memasukkan kategori buku di situ, misalnya “children books”, “books on islam”, “recipe books”, dan lain sebagainya. Kita juga bisa memfilter pencarian kita menurut harga, ketersediaan, bahasa, dan formatnya di sebelah kiri halaman website.

2

Contoh mencari buku berdasarkan kategori. Gambar diambil dari http://www.bookdepository.com

Kalau buku yang kita cari tersedia, maka daftar buku akan muncul di laman berikutnya. Asiknya, biasanya tersedia lebih dari satu jenis buku untuk judul yang sama: soft cover, hard cover, paperback, e-book, dan audio book. Jadi, kita bisa memilih jenis yang sesuai dengan selera dan budget kita. Lihat contoh di bawah:

3.jpg

Silakan bandingkan harga di atas dengan harga di Amazon, misalnya. Di Amazon (berdasarkan harga hari ini, 8 Mei 2017), harga termurah buku Sapiens di atas adalah 21 USD, tapi itu BELUM termasuk ongkos kirimnya yang paling tidak 4 dolaran per buku. Atau, di opentrolley.co.id yang harga bukunya mencapai 584 ribu rupiah (tidak ada pilihan yang lebih murah). Sementara, di Bookdepository harga buku jenis paperback hanya 192 ribu rupiah (sekitar 14 USD menurut kurs hari ini, 8 Mei 2017). Harga itu sudah termasuk pajak, ongkir, dan bea masuk. Harga bisa lebih murah lagi kalau pas ada diskon atau dapet voucher. Hehe… Sip, kan? 🙂 Masih soal harga, kita bisa memilih mata uang, lho. Kita bisa mengaturnya di kolom mata uang di kanan atas website.

Kedua, setelah siap memesan, sebaiknya kita membuat akun di Bookdepository. Caranya mudah. Cukup klik sign in/join di pojok kanan atas website atau klik di sini. Untuk join, cukup isi nama, alamat email, dan password. Kenapa join? Dengan mendaftar sebagai anggota, kita bisa dengan mudah melacak order sebelumnya dan atau memeriksa status pengiriman di Order history. Jika buku sudah dikirimkan, maka statusnya adalah Dispatched. Lihat contoh di bawah:

1

Di Order history kita juga bisa melihat tanggal berapa tepatnya buku dikirimkan dari UK. Biasanya buku dikirimkan paling lambat 2×24 jam setelah kita pesan, walaupun buku mungkin juga baru dikirimkan seminggu setelah pemesanan. Selain untuk melacak pemesanan, dengan bergabung kita juga akan menerima email promosi yang kadang berisi kode voucher diskon! Beberapa kali saya menerima voucher diskon 10-30% untuk semua jenis buku! Ada kalanya Bookdepository juga menggelar sale untuk buku-buku tertentu. Tidak ada ruginya bergabung, toh email marketing/promosi ini juga tidak datang setiap hari, sehingga tidak sampai nyepam inbox kita.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara membayar buku yang mau kita pesan? Jika sudah join, kita akan melihat menu Payment options di kiri atas akun kita.

4

Di sini, kita bisa mengisi detail kartu kredit. Pilihan lainnya, kita juga bisa membayar menggunakan akun Paypal. Gak punya CC dan Paypal? Alternatifnya, silakan buat akun Paypal dengan mengosongkan detail kartu kredit (karena tidak punya), lalu minta teman atau saudara yang punya akun Paypal untuk transfer saldo ke Paypal Anda. 🙂 Soal Paypal, kapan-kapan saya ulas selengkapnya, yah.

Oke, sekarang kita sudah tau cara ordernya. Terus kapan bukunya sampai? Itu tergantung amal masing-masing. Ya, gak lah, Ra. Kalau ada kekurangan dari pemesanan buku di Bookdepository, maka itu adalah durasi pengirimannya. Berhubung ini free shipping alias gratis ongkir, maka waktu tunggu buku sampai di Indonesia (baca: di Jakarta dan Solo yang pernah saya coba) berkisar 3-5 Minggu. Kok lama banget? Saya cuma bisa jawab, namanya juga gratisan. Karena mereka menggunakan standard mail, alias jasa pos standar yang paling murah biayanya. Itu sih kata pak pos dari PT Pos Indonesia yang pernah nganter buku ke rumah ortu saya di Depok. But, it’s so worth the wait, if you ask me! Gakpapa deh lama dikit, yang penting sampai dan harganya lebih murah. Sejauh ini sih, buku-buku yang saya dan Mamat pesan belum pernah nyasar atau gak sampai.

Jadi gimana kalau sudah gak sabar pengen baca satu buku? Simple, silakan beli di Periplus. Antiklimaks. Haha. Saran saya, kalau Anda avid reader atau kutu buku banget, sebaiknya siapkan satu atau beberapa buku yang belum dibaca sebelum memesan buku berikutnya. Jadi, ketika bacaan selesai, buku yang baru sudah sampai. 🙂

Pengalaman pribadi saya belanja buku di Bookdepository.com belum pernah mengecewakan. Buku yang saya cari (apa pun genrenya) selalu ada. Pernah sih, saya cari satu buku tapi versi paperback-nya gak ada, but at least versi yang lain (hard cover) tersedia. Sekarang, mimpi saya untuk membaca buku-buku bagus berbahasa Inggris menjadi nyata. Dan sungguh, ini bukan iklan. 🙂

read-1

Cheers,

Haura Emilia

 

Review 5 Buku Favorit

“Books are the quietest and most constant of friends; they are the most accessible and wisest of counselors, and the most patient of teachers.”
Charles William Eliot

Tahun 2016 lalu, saya membaca sekitar 20 buku (di luar komik). Bukan angka yang fantastis, tapi lumayan daripada tidak sama sekali. Sebagian besar buku yang saya baca adalah buku berbahasa Inggris, sisanya buku berbahasa Indonesia. Dari buku-buku yang saya baca tersebut, ada lima buku favorit saya. Berikut ulasan singkat ke-5 buku tersebut.

Pertama, Nothing to Envy oleh Barbara Demick. Buku ini menceritakan tentang kehidupan sehari-hari warga negara Korea Utara dari sudut pandang enam orang warga Korut yang berhasil melarikan diri dari rezim sosialis Korut ke Korea Selatan. Buku ini dimulai dengan latar belakang sejarah pecahnya Korea menjadi Korea Selatan dan Korea Utara, Korea Selatan menjadi sebuah negara republik dan Korea Utara memilih rezim komunis. Rezim komunis Korut diceritakan sebagai pemerintahan korup yang anarkis dan menutup diri dari dunia luar, termasuk dari Korsel. Saat pertama kali berdiri pada tahun 1948, pemerintahan absolut Korut dipimpin oleh Kim Il Sung, sosok pemimpin besar yang wajib dipuja dan dijunjung tinggi oleh seluruh warga Korut. Bahkan, sebagian besar warga Korut melihat Kim Il Sung sebagai “tuhan yang mahakuasa” dan “sang pencipta”.

Di bawah rezim sosialis, pasar atau market serta sistem jual beli adalah sesuatu yang dilarang oleh negara. Pemerintah mendistribusikan jatah makanan, seperti beras, dan sedikit uang kepada warga negaranya setiap bulan. Namun, pada akhirnya negara tidak mampu menyediakan supply makanan yang cukup dan terjadilah bencana kelaparan pada tahun 1994 sampai 1998. Diperkirakan antara 300an ribu hingga 3,5 juta warga negara Korut meninggal dalam bencana tersebut.

Nilai-nilai barat seperti liberalisme dan ekonomi pasar adalah barang haram di Korut. Oleh karena itu, seluruh akses informasi seperti TV dan radio sepenuhnya dikuasai oleh negara untuk mencegah penetrasi budaya dan nilai-nilai asing. Seorang warga negara bahkan bisa dijatuhi hukuman mati jika diketahui menonton film Hollywood.

Rasanya sulit untuk tidak merasa emosional atau bahkan menangis saat membaca buku ini. Pembaca akan disuguhkan banyak kenangan pahit yang berusaha dilupakan oleh para defector (orang-orang yang melarikan diri meninggalkan negaranya karena konflik politik). Gaya bahasa khas jurnalistik Demick cukup detail membahas cerita masing-masing tokohnya yang sekarang tinggal di Korea Selatan. Salah satu kisah sedih yang diceritakan adalah cerita Dr. Kim. Dr. Kim adalah salah satu warga negara yang beruntung bisa menempuh pendidikan tinggi dan menjadi seorang dokter. Namun, pada akhirnya Dr. Kim menyerah tinggal di Korut karena ia melihat bagaimana Rumah Sakit tempat ia bekerja dipenuhi oleh orang-orang yang tidak bisa ia selamatkan dari wabah kelaparan.

Ada banyak kontroversi seputar kisah yang diceritakan oleh para defector Korut. Beberapa penyintas dikabarkan banyak mengubah cerita dan mendramatisasi pengalamannya karena semakin sedih ceritanya semakin laku cerita tersebut dijual ke media barat. Memastikan keaslian cerita para defector memang bukan hal yang mudah. Namun, rezim sosialis Korut memang nyata adanya. Dengan membaca buku ini, paling tidak kita akan mendapatkan gambaran tentang negara sosialis dan sistem diktator totalitarian Korea Utara.

Buku kedua adalah Sapiens: A Brief History of Humankind oleh Yuval Noah Harari. Buku ini mendiskusikan evolusi spesies manusia, mulai dari manusia purba hingga manusia modern homo sapiens abad ke-21 dari sudut pandang biologi evolusi. Harari membagi sejarah homo sapiens ke dalam 4 tahap utama: Cognitive Revolution, Agricultural Revolution, Unification of Humankind, dan Scientific Revolution. Harari menjelaskan bagaimana sapiens pada akhirnya menjadi spesies paling berkuasa di muka bumi dari yang dulunya sekadar kera yang tidak jauh berbeda dari hewan-hewan lainnya. Menurut Harari, sapiens memiliki kemampuan berkomunikasi yang tidak dimiliki hewan dan makhluk lainnya. Sapiens juga memiliki kemampuan untuk memahami konsep abstrak dan ‘realitas’ yang sebenarnya hanya ada di dalam pikiran manusia (imagined realities) seperti hukum, tuhan, agama, uang, negara, perusahaan, dan hak asasi manusia. Dua kemampuan ini lah yang menjadikan manusia makhluk sosial yang superior dibandingkan makhluk lainnya. Dengan kemampuan ini manusia membangun komunitas dan negara, menciptakan konsep uang dan agama, membuat sistem hukum untuk mengatur kehidupan bersama.

Buat saya, buku ini adalah buku yang sangat menarik. Di sini pembaca bisa belajar banyak mengenai sejarah evolusi manusia. Kita akan belajar tentang bagaimana sapiens meninggalkan tradisi berburu makanan dan sistem hidup nomaden serta memulai sistem pertanian dan hidup menetap. Lalu kita akan dibawa dengan kapsul waktu ke masa di mana manusia mulai hidup berkelompok, berkomunikasi melalui tulisan, membuat hukum negara, dan mulai melakukan ekspansi ke dunia luar. Berbagai macam ideologi baru pun lahir. Manusia mulai bereksperimen dengan sistem ekonomi dan tata negara yang baru. Sistem keuangan yang baru dan munculnya berbagai ideologi melahirkan peperangan dan bencana kemanusiaan seperti perang agama, perang antar suku dan ras, penjajahan, kelaparan, dan konflik sosial.

Pada bab scientific revolution, kita akan dibawa ke masa di mana manusia mulai penasaran dan ingin mencari tahu segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Era sains dan eksplorasi dimulai. Manusia mulai mempelajari alam sekitarnya dan mulai mengeksplorasi tempat-tempat yang baru menggunakan perahu dan kapal. Akhirnya tibalah kita di abad ke-21, di mana manusia mulai memikirkan perjalanan ke planet Mars, mencari sumber energi alternatif, merekayasa DNA, mempelajari kebahagiaan, dan mencari “obat” kematian. Dengan perkembangan teknologi dan sains, homo sapiens telah berevolusi dari kera yang tidak signifikan menjadi spesies penguasa bumi yang bermain-main menjadi Tuhan (play God).

Membaca buku ini membuka mata saya akan banyak hal, jauh lebih banyak dari yang pernah saya pelajari di buku sejarah dan biologi sekolah. Pertama, homo sapiens sesungguhnya telah melewati proses evolusi yang cenderung lebih cepat dibandingkan spesies mana pun. Dibandingkan dengan spesies manusia lain seperti homo erectus, umur sapiens di bumi jauh lebih singkat. Homo erectus ada di bumi sekitar 2 juta tahun sebelum punah, sementara homo sapiens baru berusia sekitar 200 ribu tahun di bumi. Dalam waktu yang begitu singkat, homo sapiens telah menjelma menjadi dewa dan tuhan penguasa bumi dan bermain-main dengan hidup spesies yang lain. Kedua, kemampuan sapiens untuk berinteraksi, berkomunikasi dan memahami konsep abstrak seperti imagined realities telah membawa kita ke sosok kita yang sekarang. Pertanyaannya adalah, sejauh mana homo sapiens akan terus berevolusi? Apakah suatu saat manusia akan benar-benar tersingkir dan digantikan dengan AI (Artificial Intelligence)? Akankah manusia berhasil meneruskan keberlangsungan spesiesnya dengan menempati planet baru dan melakukan perjalanan antarbintang? Buku ini memberikan kita banyak hal untuk dipikirkan.

Buku ketiga adalah The Act of Thinking Clearly oleh Rolf Dobelli. Buku ini membongkar kesalahan-kesalahan dalam berpikir dan berlogika, yang jika kita mengetahuinya akan membantu kita mengambil keputusan yang lebih baik dalam hidup. Salah satu dari banyak kesalahan berpikir yang dibahas di buku ini adalah cognitive bias. Istilah ini mengacu pada kecenderungan berpikir dengan cara tertentu yang dapat menyebabkan pelanggaran sistematis terhadap rasionalitas.

Salah satu contoh cognitive bias adalah bandwagon effect. Bandwagon effect adalah kecenderungan manusia untuk melakukan atau mempercayai sesuatu karena banyak orang lain juga melakukan atau mempercayainya. Contohnya, kita cenderung ikut menggunakan produk tertentu hanya karena banyak orang menggunakannya dan percaya bahwa produk tersebut bagus.

Contoh cognitive bias lainnya adalah confirmation bias, yakni kecenderungan untuk mencari, menginterpretasi, mempercayai, dan mengingat informasi yang sesuai dengan asumsi dan hipotesis awal yang telah ada. Misalnya, seseorang percaya bahwa jika seorang siswa masuk universitas negeri terbaik di negerinya maka dia akan mendapatkan pekerjaan di perusahaan terkenal. Untuk ‘membuktikan’ keyakinannya, dia akan mencari data-data yang mendukung seperti statistik lulusan universitas tersebut yang bekerja di perusahaan terkenal. Jika ternyata hasil statistik tidak sesuai dengan keyakinan awalnya maka ia akan mencari data baru yang mendukung keyakinannya tersebut. Dia akan mengabaikan data atau statistik yang bertentangan dengan kepercayaannya, misalnya statistik dan data yang mengatakan bahwa sebagian lulusan universitas kenamaan itu ternyata menjadi pengangguran.

Buku ini mengupas detail berbagai kesalahan berpikir yang biasa kita lakukan sehari-hari. Saya sering tersenyum geli sendiri menyadari cacatnya logika saya terutama dalam mengambil sebuah keputusan. Buku ini membantu saya menyadari bahwa apa yang saya kira rasional belum tentu benar-benar logis dan objektif. Di sisi lain, buku ini semakin mengeluarkan sisi skeptis saya. Saya jadi semakin sulit percaya dan diyakinkan oleh sesuatu atau seseorang. 😁 Saya jadi semakin sering meragukan dan mempertanyakan segala sesuatu. Tapi saya rasa hal ini tidak selalu buruk. Skeptisisme membuat saya selalu waspada. 🙂

Buku keempat yang menjadi bacaan favorit saya tahun lalu adalah Biography of Elon Musk oleh Ashlee Vance. Kalau Anda pernah mendengar Tesla, SpaceX, atau SolarCity, maka kemungkinan Anda akrab dengan nama Elon Musk. Ya, Elon Musk adalah CEO dari ke-3 perusahaan AS tersebut. Elon Musk adalah sosok Silicon Valley yang lain dari yang lain. Di saat semua ‘anggota’ elite Silicon Valley terobsesi dengan bisnis berbasis internet (seperti Google dan Facebook), Elon Musk membangun roketnya sendiri. Dia juga bertekad membangun spacecraft yang akan membawa umat manusia ke planet Mars karena keberlangsungan homo sapiens di bumi diragukan dalam beberapa ratus tahun ke depan.

Elon juga punya banyak proyek ‘gila’ lainnya seperti membangun reusable rockets yang bisa dipakai dan dikirim balik ke bumi dengan selamat. Hebatnya, Musk mendesain sendiri roketnya. Dia juga sukses membangun Tesla, produsen mobil elektrik yang beroperasi dengan baterai tanpa memerlukan bahan bakar! Musk juga merupakan pendukung utama energi matahari. Dia menyadari betul bahwa sinar matahari saja sudah lebih dari cukup untuk memasok seluruh kebutuhan energi yang ada di muka bumi. Musk ingin melepaskan ketergantungan kita semua akan minyak bumi. Musk ingin menyelamatkan bumi dari bencana lingkungan dan iklim karena penggunaan minyak bumi dan lepasnya karbon ke udara. Musk ingin membawa kita ke perjalanan antarplanet. Musk ingin memastikan spesies manusia bisa terus bertahan dan tidak punah.

Musk membuat saya banyak berpikir tentang kontribusi saya terhadap orang lain dan dunia. Jika Musk memikirkan umat manusia dan planet bumi, paling tidak saya ingin berguna bagi orang-orang terdekat saya. Membaca kegigihan dan kerja keras Musk membuat saya ingin selalu belajar dan melakukan sesuatu yang produktif dalam hidup. Saya merasa malu jika hidup saya hanya saya habiskan untuk berpangku tangan, menyesali nasib, dan melakukan hal-hal yang tidak bermakna.

Buku terakhir yang juga menjadi favorit saya sepanjang 2016 adalah 1Q84 oleh Haruki Murakami. Selain non-fiksi, saya juga suka membaca buku-buku fiksi. Maklum, saya memang anak sastra. 🙂 Nah, 1Q84 adalah satu-satunya buku fiksi yang masuk dalam 5 daftar buku favorit saya tahun lalu. Sebenarnya buku ini adalah trilogi. Judul novel ini mengacu pada novel George Orwell 1984. Buku ini masuk kategori novel distopia. Distopia, yang merupakan kebalikan dari kata utopia, adalah genre novel yang mengeksplorasi struktur sosial dan politik yang bertentangan dengan nilai-nilai atau etos yang dipercaya oleh penulis novel. Misalnya, jika penulis mempercayai kondisi politik yang stabil dan damai, maka kekacauan politik adalah sebuah bentuk distopia.

Novel ini bercerita tentang seorang perempuan muda bernama Aomame yang berprofesi sampingan sebagai pembunuh bayaran. Layaknya Robin Hood, dia hanya menghabisi orang-orang yang cacat moral dan telah menyakiti banyak orang. Di dunia Aomame ada dua buah bulan menggantung di langit. Aomame meyakini bahwa ia terjebak di dunia berbulan dua dan berusaha mencari cara keluar dari sana. Selain itu, Aomame juga mencari cinta pertamanya, seorang pemuda bernama Tengo. Di sisi lain, Tengo juga berusaha menemukan Aomame. Tengo sendiri adalah seorang guru les matematika sederhana yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai editor novel. Tengo mengedit sebuah novel dengan jalan cerita misterius yang ditulis oleh seorang gadis yang misterius juga. Gadis itu ternyata adalah anak dari seorang pemimpin sekte keagamaan Sakigake yang dicurigai telah melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur. Takdir kemudian menarik Aomame ke dunia Tengo. Aomame ditugaskan untuk menghabisi si pemimpin sekte keagamaan tersebut. Apakah Tengo pada akhirnya akan bertemu dengan Aomame? Apakah Aomame jadi membunuh si pemimpin agama? Berhasilkah Aomame keluar dari dunia yang berbulan dua? Hmmm… Silakan baca sendiri, ya. 🙂

1Q84 adalah novel yang sarat metafora dan analogi. Novel setebal 1000an halaman ini berisi unsur-unsur supernatural dan mengangkat tema-tema yang tabu seperti pembunuhan, seks dengan anak di bawah umur, dan sosok pemimpin keagamaan yang opresif dan sangat berkuasa. Tema kesepian juga sangat terasa di novel ini. Seperti dalam novel Murakami sebelumnya, Norwegian Wood, rasa kesepian teramat sangat yang dialami para karakter utama di 1Q84 dideskripsikan dengan begitu nyata. Mau tidak mau, novel ini membuat saya sedikit merasa depresi selama membacanya. Permainan psikologis yang dimainkan Murakami mampu membuat pembacanya merasa senang, sedih, terharu, cemas, takut, bingung, dan bahagia pada satu sesi baca yang sama. Namun, cara Murakami menyusun plot dan mengekspresikan kata-katanya menjadikan novel ini salah satu karya sastra yang sangat layak dibaca.

Saya bertekad untuk membaca lebih banyak buku tahun ini. Semoga saja saya gak kebanyakan kerja, main hape, dan nonton drama Korea, ya. 😆

Cheers,

Haura Emilia