Membangun Kebiasaan dengan ‘Atomic Habits’: Teori, Praktik, dan Fasilitas Pendukung

Disclaimer: Tulisan ini bukan iklan dan saya tidak dibayar sepeser pun untuk menulisnya. Merek dan judul yang saya sebut di sini saya beli dan gunakan sendiri.

1

Ada satu hal yang selalu saya kenang tentang almarhum ayah saya; kebiasaan membacanya. Almarhum ayah saya dulu tidak pernah menyuruh-nyuruh saya belajar dan membaca. Tidak. Yang beliau lakukan adalah memberikan kami contoh dan teladan yang nyata. Setiap hari ayah menghabiskan paling tidak 2 hingga 3 jam untuk membaca buku. Saya dan adik saya otomatis tertular kebiasaan baik ini. Dari kecil hingga sekarang kami berdua sudah membaca ratusan buku. Kebiasaan ini tidak datang dengan tiba-tiba dalam waktu semalam, melainkan melalui sebuah proses panjang dan pengulangan selama bertahun-tahun. Membangun kebiasaan baik, atau sebaliknya meninggalkan kebiasaan buruk, bukanlah hal yang mudah dilakukan. Saya juga belajar bahwa untuk menjadi pribadi yang lebih dan terus berkembang, saya perlu membangun lebih banyak lagi kebiasaan atau habit baik.

Untuk mempermudah proses menulis tesis saya dulu, saya berusaha membangun kebiasaan menulis setiap hari. Saya membiasakan diri untuk menulis apa saja terkait bidang studi saya setiap hari, 5 hari dalam seminggu. Di semester terakhir kuliah, saya mewajibkan diri saya untuk menulis konten tesis 2 halaman setiap harinya. Kalau saya absen menulis sehari, maka keesokan harinya saya harus menulis 4 halaman. Kalau absen sehari lagi, besoknya saya harus menulis 6 halaman. Begitu seterusnya. Sebaliknya, kalau dalam sebulan saya berhasil mencapai target menulis sebanyak 90% dari target awal maka saya akan membelikan diri saya hadiah kecil, misalnya tas atau sepatu. Ya, saya menerapkan sistem punishment and reward untuk membangun habit demi mendukung proses menulis tesis.

Baru-baru ini saya membaca sebuah buku yang sangat menarik mengenai cara efektif membangun kebiasaan baik dan meninggalkan kebiasaan buruk. Buku ini adalah jawaban dari keresahan hati saya yang beberapa tahun terakhir mulai jarang membaca buku. Judul bukunya adalah Atomic Habits oleh James Clear. Atomic Habits pada dasarnya adalah kebiasaan atau rutinitas kecil yang mudah dan sederhana untuk dilaksanakan namun sebenarnya adalah sumber daya yang luar biasa, sebuah komponen dari sistem pengembangan diri. Hal-hal atau perubahan kecil yang pada awalnya terlihat sepele akan berkembang menjadi hasil yang luar biasa jika kita cukup sabar untuk terus melakukannya.

Ada 4 cara yang bisa kita lakukan untuk membangun kebiasaan baik. Pertama, jadikan kebiasaan tersebut jelas atau nyata (make it obvious). Fokus dan tuliskan habit apa yang ingin dibangun dan kapan ingin melaksanakannya. Pastikan untuk memulai kebiasaan baru sebelum atau sesudah kebiasaan lain yang sudah menjadi rutin bagi kita. Misalnya “ingin membangun kebiasaan membaca setiap hari sebelum tidur” atau “ingin membangun kebiasaan membersihkan kamar segera setelah sarapan”. Hal ini disebut dengan ‘habits stacking’. Kenapa kita perlu menetapkan waktunya? Karena dengan menetapkan waktu yang jelas kita tahu persis kapan memulainya dan tidak punya alasan untuk menunda atau tidak melakukannya. Pastikan di waktu yang kita tentukan tidak ada kegiatan lain yang kira-kira dapat mengganggu atau menggagalkan rencana kita untuk membangun rutinitas baru.

Kedua, jadikan kebiasaan itu menarik bagi kita (make it attractive). Kita cenderung mengadopsi sebuah kebiasaan jika lingkungan sekitar kita menganggap kebiasaan tersebut baik dan menarik pula. Maka, kalau kita ingin membangun kebiasaan membaca maka bertemanlah dengan orang-orang yang suka membaca juga. Jika ingin rajin menabung, dekati orang-orang yang pandai mengelola finansialnya. Sebuah kebiasaan akan terlihat menarik jika dilakukan oleh orang-orang terdekat atau lingkungan sekitar.

Ketiga, jadikan kebiasaan itu mudah (make it easy). Mulailah dengan kebiasaan kecil yang sederhana dan mudah dilakukan. Jangan memulainya dengan sesuatu yang terlalu ambisius dan sulit dijalankan. Jika ingin membangun kebiasaan menulis, mulailah dengan menulis 2 kalimat setiap harinya. Jika ingin rajin membaca, mulailah dengan membaca 1 halaman setiap harinya. Menulis 1 halaman mungkin sulit, tapi menulis 2 kalimat itu mudah. Membaca 2 jam sehari itu sulit, namun membaca 1 halaman itu mudah. Berolahraga 30 menit setiap hari itu sulit, mulailah dengan memakai sepatu olahraga setiap pagi. Jika sudah terbiasa melakukannya, lanjutkan dengan berjalan kaki 10 menit per hari. Terus kembangkan durasi/volumenya jika sudah dirasa nyaman dengan yang mudah.

Keempat, jadikan kebiasaan itu memuaskan (make it satisfying). Sesuatu terasa memuaskan jika kita bisa segera merasakan atau melihat hasilnya. Karena saya ingin membangun kembali kebiasaan membaca saya memposting judul dan review buku yang sudah selesai saya baca di Instastory Instagram lalu daftar buku ini saya letakkan di highlight profil Instagram saya. Ada kepuasan sendiri memposting hasil bacaan dan dalam konteks ini pamer tidak selalu berarti negatif karena efeknya memberikan kepuasan pribadi dan mendorong saya untuk terus membaca.

Kalau ingin membangun kebiasaan menabung, buka rekening bank yang memiliki aplikasi di smartphone sehingga kita bisa melihat saldo tabungan kita kapan saja. Atau berikan diri kita hadiah jika berhasil mempertahankan suatu rutinitas baik selama sebulan penuh, seperti contoh saya di atas. Alternatifnya, kita bisa mendownload aplikasi pelacak kebiasaan (habit tracker) yang memberikan kepuasan tersendiri saat melihat perkembangan kebiasaan kita.

Saya memakai aplikasi Habitify. Dengan aplikasi ini kita bisa menentukan kebiasaan yang mau kita bangun dan kapan melakukannya. Kita juga bisa menyetel alarm sebagai pengingat. Aplikasi ini akan memberikan laporan persentase rutinitas yang kita pilih. Begini contohnya

Laporan dan angka-angka ini bisa menjadi penyemangat bagi kita untuk meneruskan kebiasaan. Jika kita ingin rajin berolahraga, kita juga bisa mendownload aplikasi pendukung yang bisa memantau perkembangan pencapaian kita, yang nantinya bisa kita posting di media sosial. Sekali lagi, poinnya adalah menjadikan kebiasaan itu memuaskan untuk dilakukan.

Nah, sekarang bagaimana dengan meninggalkan kebiasaan buruk? Lakukan kebalikan semua 4 cara di atas: jadikan agar kebiasaan itu tidak jelas (make it unobvious), jadikan kebiasaan itu tidak menarik (make it unattractive), jadikan kebiasan itu sulit (make it hard), jadikan kebiasaan itu tidak memuaskan (make it unsatisfying). Menghentikan kebiasaan main sosmed terlalu lama? Letakkan smartphone di ruangan yang berbeda. Persulit aksesnya. Menghentikan kebiasaan makan junkfood? Jangan dibeli dan isi kulkas hanya dengan makanan sehat. Ingin berhenti merokok? Jangan berteman atau jangan dekat-dekat dengan perokok.

Ya, sayangnya hidup tidak semudah teori. Pada kenyataannya, ada-ada saja hal yang bisa membuat kita tidak disiplin atau berhenti melakukan sebuah kebiasaan baik. Salah satu penghalangnya adalah rasa bosan. Saya punya pengalaman pribadi tentang ini.

Sudah 11 tahun saya bekerja sebagai seorang penerjemah, dan 6 tahun sebagai penerjemah lepas. Saya bekerja di rumah sendiri, tanpa kolega yang bisa saya ajak bergosip atau rekan kerja yang lucu dan bisa diajak curhat. Teman saya adalah laptop dan kesendirian. Kadang saya merasa bosan yang teramat sangat bisa membunuh saya pelan-pelan. Tapi toh, walaupun bosan 1/2 mati saya masih bisa mengendalikannya dan terus bekerja. Seiring bertambahnya waktu, klien saya semakin banyak, portofolio saya semakin baik, skill saya semakin terasah. Saya pun menyadari bahwa salah satu kunci sukses mempertahankan kebiasaan baik, yang nantinya akan membawa hasil yang baik pula, adalah kemampuan untuk mengalahkan rasa bosan dan ‘sakit’.

Manusia tidak terprogram untuk menderita. Sebaliknya, insting purba kita selalu menginginkan sesuatu yang mudah, cepat, nyaman, dan enak. Inilah kenapa kita menyukai fast food dan tergila-gila dengan Facebook. Sayangnya, sesuatu yang mudah, cepat, nyaman, dan enak tidak menempa kita menjadi pribadi yang tangguh dan tahan banting.

Nah, biar tahan banting, sok atuh lah, sekarang mari kita coba dulu membangun kebiasaan baik secara perlahan. Jangan fokus di takut gagalnya duluan, ya.

Mengutip teman baik saya si Bulan, “senyum dulu, ah”. 😁

Cheers,

Haura Emilia

Note: I don’t own the first image above. Contact me for removal.

Iklan

Tips Berhemat dan Menabung untuk Mencapai Target Finansial

Halo semuanya,

Selamat tahun baru 2019!

Tidak terasa kita telah memasuki tahun 2019. Ada yang punya resolusi tertentu tahun ini? Saya sih ingin bisa saving lebih banyak. Hehe…

Bicara soal saving atau tabungan, sebelum punya anak, saya menabung untuk investasi jangka pendek dan menengah, dana darurat, liburan, membangun rumah sendiri dan membeli benda yang saya inginkan. Nah, setelah punya anak, saya mulai lebih serius memikirkan investasi jangka panjang untuk biaya pendidikan Reina.

Saya menghabiskan 19 tahun hidup saya untuk sekolah formal, 3 tahun les bahasa Inggris dan 2 tahun les bahasa Prancis. Ditambah lagi les dan training pendukung karir saya yang lain, maka sebenarnya saya menghabiskan sebagian besar waktu saya untuk belajar. Otomatis, pendidikan (selain tumbuh kembang dan kesehatan) Reina sekarang menjadi fokus utama financial goal saya.

Anda mungkin memiliki tujuan finansial yang berbeda dari saya. Ada yang menabung untuk membayar cicilan rumah, ada yang untuk membayar kredit kendaraan, ada yang ingin menabung untuk jaminan hari tua, dan lain-lain. Saya pribadi sudah melewati masa-masa menabung untuk memiliki rumah dan kendaraan sendiri. Saat ini neraca keuangan saya positif yang berarti saya bebas utang (tidak ada tagihan kartu kredit kecuali tagihan-tagihan kecil rutin tiap bulan dan tidak ada cicilan besar seperti KPA atau kredit kendaraan). Di sini saya akan berbagi sedikit tips tentang bagaimana saya (dan suami) melakukannya.

Berdasarkan pengalaman pribadi, untuk mencapai target finansial kita butuh lebih dari sekadar kerja keras dan menabung. Kita memerlukan strategi yang tepat untuk menabung dan mengelola keuangan. Pada prinsipnya, untuk mencapai tujuan finansial saya menerapkan (beberapa di antaranya) prinsip Warren Buffet, “save first, spend next”, “reduce and prioritize”, dan “invest to create a second source of income”.

Setiap bulan, saat menerima pembayaran invoice atas jasa kami (saya dan suami penerjemah dan juru bahasa profesional), saya dan suami langsung membagi uang menjadi dua: untuk tabungan plus investasi dan untuk pengeluaran rutin bulanan. Jadi, kami menabung dulu, baru memakai sisanya untuk kebutuhan sehari-hari. Ya, menabungnya di depan, bukan di belakang.

Sekali lagi, yang kami tabung bukanlah sisa uang bulanan. Kami telah menghitung biaya pengeluaran rutin kami, jadi kami bisa memperkirakan berapa yang harus kami save di depan. Ketika saving sudah aman, baru kami menghabiskan sisanya. Kecuali ada situasi darurat atau pada momen-momen istimewa, we stick to the plan. Disiplin sangat diperlukan agar tidak ngawur spending sana-sini yang sifatnya impulsif.

Prinsip kedua yang kami jalani adalah “reduce, substitute, and prioritize”. Untuk berhemat lebih banyak, saya sebisa mungkin menjalankan prinsip ‘reduce’ atau mengurangi. Mengurangi apa? Apa pun yang sifatnya tidak urgent. Caranya? Dengan mengadopsi pola hidup minimalisme.

Saya dan suami tidak pernah punya terlalu banyak barang (oke, selain buku ya karena jaman dulu belum ada Kindle dan e-book). Kalau Anda main ke rumah kami, Anda akan melihat dinding-dinding kosong, space kosong di pojok ruangan, absennya pajangan dan benda-benda yang bersifat dekoratif, dan Anda mungkin bertanya-tanya di mana letaknya jam dinding di rumah kami yang tidak begitu luas (iya, kami cuma punya 1 jam dinding di seluruh rumah, yang itu pun hadiah sebenarnya). 😆 Walaupun sebuah hiasan dinding terlihat sepele, kita tetap perlu mengeluarkan uang untuk membelinya, toh? Jadiii, kalau sesuatu dirasa tidak perlu-perlu amat ya monggo dikurangi.

Untuk keperluan lain terkait keperluan bayi, misalnya, kami memotong anggaran dengan cara menyewa, apalagi untuk barang-barang yang sifatnya hanya dipakai sebentar sekali seperti mainan mahal atau gendongan bayi original yang harganya jutaan. Prinsipnya, kalau pun mampu, kami memilih untuk tidak membelinya. Karena selain buang-buang uang, barang-barang ini nantinya cuma akan menuh-menuhin rumah dan jadi sampah saja. Bisa kayak gini kasus ekstrimnya:

Kalau sudah seperti gambar di atas, salah siapa ya, kan? 😱😱😱😱

Masih banyak yang bisa dikurangi demi berhemat. Berikut beberapa contohnya:

1. Untuk perempuan, kecuali profesi Anda makeup artist, kurangi belanja skin care dan makeup. Percayalah, kebanyakan orang tidak peduli warna lipstick Anda.

2. Kurangi belanja pakaian. Supaya lebih hemat, jadwalkan belanja pakaian setahun 2x misalnya, saat hari raya dan akhir tahun saat diskon dan sale bertebaran.

3. Kurangi beli/tukar gadget. Saya pribadi mengupgrade hape saya 4 tahun sekali! 😬 Buat saya yang penting fungsinya, bukan model apalagi trennya. Saya juga punya post tabungan sendiri untuk belanja gadget. Saya memilih tabungan yang bisa mendebet otomatis jumlah tertentu setiap harinya sehingga saya ‘dipaksa menabung’, seperti tabungan Jenius dari bank BTPN (bukan iklan). Contohnya, Jenius bisa menyimpan Rp20.000/hari dari rekening kita selama 2 tahun untuk nantinya digunakan membeli hape baru. Ini cuma contoh, jumlah debet dan durasinya Anda yang menentukan.

4. Kurangi makan/jajan di luar.

5. Kurangi nonton bioskop.

6. Kalau jarang di rumah atau gak hobi nonton, tidak perlu langganan TV kabel.

7. Cari olahraga yang gratisan seperti lari atau yoga yang dipandu trainer di Youtube untuk menghemat biaya membership gym mahal.

8. Berhenti merokok dan kurangi makan junkfood!

9. Masak sendiri.

10. Kurangi bergaul dengan orang-orang yang konsumtif dan impulsif.

Selain mengurangi yang tidak perlu, kita juga bisa berhemat dengan cara mengganti atau mencari barang substitusi ketika memerlukan sesuatu. Misalnya, alih-alih selalu beli minuman (tidak sehat) saat makan di luar, kita bisa bawa botol atau termos berisi minuman favorit sendiri. Katakanlah kita selalu makan dan minum di luar saat jam istirahat kantor. Kita menghabiskan paling tidak Rp3000 untuk sebotol air mineral. Rp3000 x 20 hari kerja itu Rp60.000 sebulan atau Rp720.000 per tahun. Belum lagi kalau kita sering minum kopi di cafe, pengeluaran minuman bisa jauh lebih besar lagi!

Saya dan suami mengganti ART dengan robot vacuum 😆. Memang harganya tidak murah, tapi setelah dihitung, beli robot jauh lebih murah daripada menggaji ART, yang selain digaji bulanan juga perlu diberi THR dan BPJS kesehatan.

Kami juga mengganti buku fisik dengan ebook, karena selain hemat tempat harganya juga lebih murah. Kadang bisa setengahnya.

Lalu, alih-alih membeli mobil yang mahal, bagus dan nyaman, kami memilih memakai mobil lama ibu saya yang sudah tidak dipakai lagi. Walaupun mobil baru yang bagus tentunya lebih keren dan nyaman, mobil dengan harga di atas 300 juta saja pajaknya sudah lumayan mahal, bukan? Punya mobil biasa-biasa saja (yang pasaran dan dipakai sejuta umat 😂) berarti menghemat pengeluaran pajak dan biaya onderdil dan servis.

Kalau bisa tidak punya mobil lebih bagus lagi! Kami pakai mobil karena punya bayi dan kami perlu carseat bayi. Saya tidak bilang punya mobil bagus itu salah, ya. Kalau mampu tentu tidak dilarang. Poinnya adalah menyesuaikan kemampuan dan gaya hidup. Kalau mampunya punya Avanza, gak usah maksa nyicil CRV. Kalau bisa beli (baca: nyicil) mobil bagus tapi tiap hari mikir beli bensinnya, mikir bayar tolnya, susah payah nabung buat bayar pajaknya, mikir panjang buat beli makanan sehat berkualitas, megap-megap bayar uang sekolah anak, berarti ada yang salah dengan gaya hidup dan manajemen keuangan Anda.

Ingatlah petuah Mbah Buffet berikut:

Strategi penghematan berikutnya adalah dengan menetapkan prioritas keuangan dan memilih investasi yang tepat untuk mencapainya. Semua orang harusnya memiliki prioritas dalam hidup. Kalau prioritasnya membangun rumah ya fokus menabung dan mencari investasi yang sifatnya jangka menengah dan hasilnya lumayan supaya bisa membantu mengumpulkan DP rumah, misalnya reksadana pasar uang. Kalau prioritasnya pendidikan anak dan anaknya masih bayi ya cari investasi jangka panjang yang return-nya lebih besar seperti saham atau reksadana saham. Kalau prioritasnya liburan dalam negeri bisa coba deposito 3-6 bulanan. Lumayan, modal dan bunganya bisa didepositokan lagi sampai akhir tahun dan dipakai untuk dana liburan. Cari bank yang bunga depositonya paling besar. (Soal reksadana untuk pemula, silakan baca lebih lengkap di postingan saya yang ini.)

Tips terakhir sebenarnya mirip dengan masalah menentukan prioritas di atas, yaitu berinvestasilah untuk menciptakan sumber penghasilan kedua. Kenapa? Karena….

Bahasa Indonesianya, kalau gak berinvestasi kita akan terpaksa terus bekerja keras bagai kuda hingga akhir hayat… 💩

Karena saya gak berniat kerja sampai mati, saya belajar berinvestasi. Hari gini, informasi sangat mudah didapatkan. Semua orang bisa belajar berinvestasi hanya dengan bermodalkan kuota internet. Jadi masalahnya hanya mau atau tidak.

Investasi bisa menjadi sumber pendapatan kedua, asalkan kita cermat saat memilihnya. Oleh karena itu, cari informasi sebanyak-banyaknya sebelum kita memutuskan untuk berinvestasi. Waspadalah pada investasi-investasi bodong yang menawarkan return yang tidak masuk akal. Prinsipnya, anything that sounds too good to be true is most probably a scam. Investasi juga bisa berfungsi sebagai bumper selain extra income, jika ada kondisi darurat.

Gimana? Siap untuk berhemat dan berinvestasi tahun ini? Senyum dulu, dong. 🙂

Cheers,

Haura Emilia

Note: I do not own the images above (except the last one). Contact me for removal.

Lika-Liku Orang Tua Baru Part 2: Cerita Asi dan Menyusui

Disclaimer: Saya bukan dokter anak dan tidak memiliki latar belakang pendidikan di dunia medis. Apa yang saya tulis di sini murni pengalaman saya pribadi. Selama hamil saya aktif membaca buku dan literatur online mengenai asi dan menyusui, jadi beberapa hal yang saya tulis di sini juga berpedoman pada sumber-sumber tersebut. Harap diingat bahwa setiap bayi itu berbeda dan setiap dokter anak punya penilaian, standar, gaya, dan metode yang berbeda juga. Banyak-banyaklah membaca sumber tepercaya selama menyusui dan konsultasikan dengan dokter laktasi atau spesialis anak untuk masalah seputar asi dan menyusui.

Putri saya lahir prematur di usia kandungan 36 minggu 3 hari karena air ketuban pecah dini. Reina lahir dengan berat badan 2,9 kg dan panjang 48 cm. Namun saya beruntung, karena asi saya langsung keluar di hari saya melahirkannya. Kolostrum* saya terhitung cukup banyak, saya dapat 1/2 botol 100 ml asi di hari pertama. Ini luar biasa mengingat saya hanya sempat IMD* selama beberapa menit (karena melahirkan lewat metode sesar atau c-section), dan bayi sebenarnya hanya butuh 5-7 ml atau 1 sendok makan asi setiap kali minum di hari pertama kelahirannya berhubung ukuran lambungnya hanya sebesar kelereng.

Sebelum pulang ke rumah, berat badan Reina turun menjadi 2,7 kg. Berat badan (bb) turun adalah hal yang biasa pada bayi baru lahir karena umumnya bayi baru belajar menyusui atau kadang karena air susu ibunya belum keluar atau masih sedikit sekali. Selain bb yang turun, kulit Reina juga terlihat sedikit kuning. Dokter spesialis anak (DSA) yang membantu saya lahiran menjelaskan bahwa kuning pada bayi yang baru lahir adalah biasa. Faktanya, ada beberapa jenis kuning (jaundice) pada bayi, kuning yang masuk kategori normal atau yang disebut dengan kuning fisiologis dan kuning yang masuk kategori penyakit atau kuning patologis. Menurut sang DSA, kuning yang dialami Reina adalah kuning fisiologis yang akan hilang dengan sendirinya dengan ASI sehingga tidak memerlukan perawatan apa-apa.

Penjelasan yang diberikan Dr. Lucy (DSA Reina) sesuai dengan apa yang saya baca di buku-buku tentang ASI, jadi saya tenang dan sama sekali tidak panik. Kami pun pulang ke rumah dengan hati riang. Di rumah, perjuangan sesungguhnya menyusui pun dimulai….

Seperti kebanyakan ibu-ibu baru lainnya, saya kesulitan menyusui Reina walaupun saya sudah lelah membaca dan nonton youtube mengenai cara latching (pelekatan) yang benar. Menyusui, my dear friend, tidak semudah yang saya dan Anda (yang belum punya anak) bayangkan. Menyusui bukan hanya sekadar bayi mangap hap dan menghisap puting ibu lalu minum susu sampai tertidur kekenyangan. Pelekatan yang benar dan ideal adalah ketika bayi memasukkan sebagian besar areola (area gelap di sekitar puting) ibu ke dalam mulutnya, bukan hanya putingnya saja. Dagu bayi sebaiknya menempel ke payudara ibu agar hidungnya tidak tertutup dan bisa bebas bernafas selama menyusu. Areola ibu harus masuk ke mulut bayi karena sebenarnya dari situlah air susu lebih banyak keluar, bukan dari puting.

Gambar di atas adalah contoh pelekatan yang benar. Gambar saya ambil dari Google.

Sayangnya, hal ini tidak mudah. Bayi rata-rata tidak langsung bisa melekat dengan benar. Bayi perlu waktu untuk belajar dan ibu juga perlu mengeksplorasi posisi yang tepat untuk membantu bayi melekat dengan sempurna. Akibat dari pelekatan yang tidak benar adalah puting lecet, bahkan bisa berdarah, dan tentunya rasa nyeri tidak terperi.

Awalnya saya konsultasi dengan konselor menyusui. Ketika diajari saya merasa oke. Tapi begitu bu konselor pulang, saya kesulitan lagi melekatkan Reina. Lalu saya berinisiatif mengambil kelas privat menyusui dengan konselor asi lainnya, kali ini orang Aimi (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia). Selama kelas berlangsung, Reina bisa membuka lebar mulutnya dan memasukkan sebagian besar areola. Sip, saya pikir masalah saya selesai. Tapi ternyata belum. Saya perhatikan Reina hanya sanggup membuka mulut lebar dalam hitungan detik saja. Setelah itu dia mengerucutkan lagi mulutnya dan kembali hanya menghisap puting saja. Ini membuat saya kesakitan and meringis-ringis.

Akhirnya saya berkonsultasi dengan DSA Reina, Dr. Lucy, yang juga dokter laktasi. Saya bercerita bahwa saya kesulitan menyusui Reina karena Reina kesulitan membuka mulut lebar. Dr. Lucy memeriksa gaya saya menyusui dan mengatakan bahwa posisi menyusui saya sudah benar. Beliau menyarankan agar saya terus menyusui Reina dan tidak terlalu terpaku pada pelekatan. Yang lebih penting adalah menghitung jumlah pipis Reina dalam sehari (minimal 6x) untuk memastikan bahwa dia mendapatkan asupan asi yang cukup. Jika jumlah pipis cukup dan kenaikan berat badannya sesuai standar saya hanya perlu menunggu sampai Reina bisa menyusu dengan baik dan puting saya tidak sakit lagi.

Ketika Reina umur sebulan, saya kembali kontrol ke Dr. Lucy. Menurut chart pertumbuhan bb bayi yang mengikuti standar WHO, sebulan setelah lahir seharusnya bb bayi bertambah 900 gr dari berat lahirnya, yang berarti seharusnya bb Reina 3,8 kg. Nyatanya, setelah ditimbang bb Reina hanya 3,25 kg! Ini berarti ada yang salah. 😿

Saya terdiam di depan ruang praktik dokter sebelum menemui Dr. Lucy. Selama beberapa menit saya merasa ingin menangis dan merasa bersalah terhadap Reina. Saya terus bertanya-tanya apa yang salah dengan cara saya. Saya merasa sudah melakukan yang terbaik. Saya sudah mempelajari teori asi dan menyusui dari literatur tepercaya. Saya sudah mengambil kelas privat menyusui dengan orang yang tepat. Bak mahasiswa yang mau ujian, saya bahkan punya jurnal yang isinya semua teori asi yang sudah saya pelajari, hapal, dan tulis ulang. Kenapa ibu-ibu lain yang mungkin tidak berusaha sekeras saya tidak mengalami masalah yang sama? Apa yang salah?

Yang lebih membuat sedih adalah fakta bahwa asi perah saya sangat banyak menumpuk di freezer. Dalam sebulan saya sudah berhasil menyimpan sekitar 100 kantong asi perah di dalam kulkas. Ini menyedihkan, asi ibunya banyak tapi anaknya kurus, tidak tercapai target penambahan berat badannya. 😓 Saya begitu disiplin memompa asi, sekitar 5-6x sehari ketika bayi tertidur. Asi yang tidak dikeluarkan dalam waktu lama bisa menyebabkan penyumbatan pada kelenjar susu dan bisa menyebabkan peradangan dan mastitis. Saya jadi semakin sedih dan menyalahkan diri sendiri.

Pikiran-pikiran negatif berkecamuk di kepala saya selama beberapa menit. Saya merasa sangat emosional dan ingin menangis. Tapi lalu logika mengambil alih. Otak kiri mengatakan bahwa saya terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa ada yang salah dengan cara saya. Otak kiri memerintahkan saya untuk tidak terbawa perasaan dan sebaiknya mulai mengumpulkan fakta dengan bertanya kepada dokter.

Ketika Dr. Lucy mengetahui bahwa bb Reina kurang 550 gr dari yang seharusnya, beliau mengambil Reina dan memeriksa mulut Reina. Dia memakai sarung tangan karet dan memasukkan jarinya ke mulut Reina. Ternyata Reina tongue-tie. Tonguetie atau ankyloglossia adalah kelainan kongenital di mana lidah tidak leluasa bergerak karena frenulum lidah yang terlalu pendek. Frenulum lidah adalah jaringan tipis di bawah lidah bagian tengah yang menghubungkan lidah dengan dasar mulut.* Begini contohnya (gambar saya ambil dari Google):

Rupanya inilah yang menyebabkan Reina kesulitan menyusu. Kondisi ini menyebabkan Reina tidak bisa menghisap asi dengan sempurna. Lalu, kebetulan Reina poop dan Dr. Lucy melihat poopnya. Warnanya hijau tua, alih-alih kuning (warna acuan). Ini berarti Reina lebih banyak mengonsumsi foremilk dibandingkan hindmilk (googling sendiri untuk tahu definisi dan perbedaannya, ya). Perpaduan tongue-tie dan terlalu banyak foremilk menyebabkan kenaikan bb tidak maksimal. Kesimpulannya, yang salah bukan cara menyusui saya. Untung tadi saya tidak baper lama-lama.

Dokter anak lain mungkin akan langsung menyarankan saya untuk memberi Reina formula agar bb nya cepat bertambah dan mengejar ketinggalan. Puji Tuhan, tidak dengan Dr. Lucy yang sangat pro asi. Dr. Lucy menyarankan saya menggunakan metode suplementasi. Suplementasi berarti memberikan asi perah (asip) ke bayi pada saat menyusui melalui selang. Metode ini ditujukan agar bayi mendapatkan dua sumber asi, dari payudara ibu dan dari asip yang diberikan lewat selang. Bayi dengan tongue-tie cenderung lebih sulit menghisap asi langsung, maka penambahan asip lewat selang akan memudahkan dan mempercepat dia mendapatkan air susu. Bagaimana caranya memberikan asip lewat selang sambil menyusui? Kira-kira begini contoh yang saya dapat dari foto Supplemental Nursing System Medela:

Gambar 👆: Bayi mendapatkan 2 sumber asi: payudara ibu dan asip yang diletakkan di dalam wadah dan diberikan lewat selang.

Gambar 👆: Alat suplementasi dari Medela.

Dr. Lucy tidak menyarankan memakai alat di atas karena sulit dicari dan harganya juga lumayan mahal (sekitar 600-800 ribuan, tergantung seller). Sebagai gantinya, beliau meresepkan selang intubasi dan syringe pump untuk tempat si asi perah, yang jauh lebih terjangkau.

Gambar 👆: syringe pump.

Tapi pada akhirnya saya tidak memakai si syringe pump karena sering macet. Sempat coba pakai botol susu biasa tapi kok ternyata ribet meganginnya. Akhirnya setelah trial and error berbagai wadah, saya menemukan wadah yang pas juga: Medela soft-cup feeder. Feeder ini warisan keponakan saya dulu yang menyusu asi perah berhubung ibunya pekerja kantoran. Asip saya masukkan ke dalam soft-cup feeder yang bagian atasnya sudah saya lepas, lalu saya masukkan selang. Percaya atau tidak, ini ide ayahnya Reina (makasih, Baba! Kamu memang ayah asi sejati! 😄). Hasilnya seperti ini:

Dokter menyuruh saya kembali konsultasi 2 minggu setelah mencoba metode ini. Ia berpesan bahwa berat Reina harus nambah paling tidak 450 gr dalam 2 minggu.

Awal-awal pemberian asip lewat selang ini lumayan drama, tidak mudah. Pertama, selang sering lepas kalau posisinya tidak pas. Selain itu, asip bisa tidak terhisap juga. Belum lagi kalau tidak hati-hati, Reina bisa tersedak selang. Tapi, dengan kesabaran dan ketelatenan akhirnya Reina bisa minum asip lewat selang dengan lancar. Setelah 2 minggu, saya kembali ke Dr. Lucy. Saat ditimbang ternyata bb Reina naik melesat 700 gr. 😄 Ini berarti metode suplementasi berhasil untuk Reina. Horeee! Senangnya melampaui selesai menulis tesis master dulu. 🤣

Reina menggunakan metode suplementasi ini sekitar sebulan. Di usia 2 bulan tiba-tiba saja dia bisa lancar menyusui. Mungkin benar kata sahabat saya Mey-Mey, kadang solusi suatu masalah cuma menunggu. Waktu yang akan menyelesaikan. Tsahh… 😆

Sekarang usia Reina sudah 3 bulan dan dari bulan ke-2 menuju bulan ke-3 bb Reina bertambah 1 kilo (yang berarti sehat dan normal). Sekarang bb Reina sudah 5 kiloan. Ini bb yang cukup apalagi jika mengingat Reina lahir prematur dan lahir dengan bb 2,9 kg, plus ada tongue-tie. Dengan panjang badan 60 cm, postur Reina terlihat langsing, yang tembem cuma pipinya (nasib punya keturunan mama yang chubby).

Banyak sekali hal yang saya pelajari tentang menyusui. Selama menyusui bayi mendapatkan banyak sekali stimulasi karena dengan menyusui bayi menggunakan jauh lebih banyak otot dan tenaga dibandingkan menyusu dari botol. Menyusui juga menguatkan ikatan atau bonding ibu dan bayi. Bayi belajar mengenali ibunya melalui bau, sentuhan, dan pendengarannya (karena penglihatan dan jarak pandang bayi masih terbatas). Sentuhan ibu juga menstimulasi otak bayi, membantu pertumbuhan dan perkembangannya. Dengan menyusu langsung, bayi juga jadi terpapar bakteri baik di tubuh ibu dan ini membantu menguatkan sistem imun tubuhnya. Jadi, seberat (dan se-boring) apa pun proses menyusui itu, manfaatnya jauh lebih besar. Selama tidak ada indikasi medis yang melarang bayi menyusu langsung pada ibunya, menyusu langsung ke payudara ibu (direct breastfeeding) adalah yang terbaik bagi bayi.

Kalau boleh jujur, menyusui adalah aktivitas yang menuntut komitmen tangguh dari seorang ibu dan memerlukan dukungan penuh dari ayahnya. Bayi baru lahir bisa menyusui 8-12x sehari dan kadang malah lebih. Ini bisa menjadi rutinitas yang sangat melelahkan dan membosankan. Bagi banyak ibu, menyusui juga membuat mereka sering lapar dan haus. Rasa lapar, haus, mengantuk, kelelahan serta nyeri is a recipe to disaster. 😂 Jadi harap maklum kalau ibu menyusui kadang jadi sensitif, baper, atau malah galak bukan main. Mereka cuma lelah dan butuh dukungan. Haha.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan ayah untuk mendukung ibu selama proses menyusui. Membantu meringankan beban kerja ibu, memberikan pijat oksitosin untuk melancarkan LDR (let down reflex atau proses keluarnya asi), membuat ibu senang dan tenang (dengan cara memberikan tas LV, banyak camilan enak dan pujian) adalah bentuk dukungan terbaik. Suami adalah support system terbaik yang bisa dimiliki seorang ibu menyusui. Lagipula, anaknya kan anak bersama, maka mengurusnya juga harus bersama-sama.

Saya benar-benar berharap bisa memberikan Reina asi hingga dia 2 tahun. Memang kadang ada saja ibu-ibu yang produksi asinya berhenti sebelum 2 tahun, alasannya bisa banyak, but until then, I’ll keep my fingers crossed. 🙂 Wish me luck! Untuk ibu-ibu pejuang asi lainnya, yang sekarang sedang berjuang menyusui buah hatinya, tetap semangat dan jangan putus asa. Jangan ragu untuk meminta saran ke dokter laktasi jika ada keraguan atau pertanyaan. Jangan biarkan masalah menyusui berlarut-larut tanpa dicari solusinya. At the end of the day, breastfeeding does and will get better! 💪

Gambar bonus, Reina si bayi asi. 👆

Cheers,

Haura Emilia

Catatan:

Kolostrum: cairan asi yang keluar pertama kali setelah bayi lahir, warnanya kekuningan dan kental.

IMD: Inisiasi Menyusui Dini. Pemberian asi segera setelah bayi lahir, biasanya 30 menit-1 jam setelah bayi lahir.

Membangun Rumah Impian Sebelum Usia 30an

Salah satu orang yang menginspirasi saya, selain ibu, sejak jaman sekolah dulu adalah sahabat saya Nana*. Jauh sebelum saya berkenalan dengan Simone de Beauvoir*, Nana sudah mengenalkan saya pada konsep perempuan feminis tangguh yang memiliki kekuatan dan kapabilitas untuk menentukan nasib dan hidupnya sendiri.

Nana pernah bercerita bahwa sejak SD dia sudah bercita-cita memiliki rumahnya sendiri saat dia dewasa nanti. Bukan rumah warisan orang tua, bukan rumah pemberian suami, dan pastinya bukan rumah pemberian om-om yang menjadikannya istri kedua (please note that I have no grudge towards any istri kedua or om-om pemilik istri kedua). 😆 Jadi, dengan tekad yang bulat, Nana memutuskan untuk menabung sejak SD untuk membeli rumahnya sendiri.

Fast forward, di usia menjelang 20an akhir Nana berhasil membeli rumah pertamanya, sebuah apartemen di daerah Kemayoran. Plok plok plok. 👏👏👏 Nana berhasil melakukannya, tanpa bantuan orang tua dan laki-laki mana pun kecuali mungkin mas-mas bagian KPA di Bank (harap dicatat Nana masih single dan available 😄). Kala itu saya segera menyelamati Nana dan berharap saya segera menyusul ‘kesuksesan’ si uni-uni berhijab ini.

Singkat cerita, cita-cita Nana menginspirasi saya sejak jaman sekolah. Didukung dengan restu seorang ibu yang selalu mendorong saya untuk jadi perempuan mandiri, saya juga ingin punya rumah sendiri, rumah yang saya dapatkan dengan kerja keras dan keringat saya sendiri. Kalau bisa sebelum saya punya anak.

Lalu saya berpikir. Ok, cita-cita sudah ada. Sekarang, bagaimana caranya?

Seperti yang kita semua tahu, membeli rumah biasanya membutuhkan usaha, waktu, dan kerja keras yang tidak sedikit. Untuk kebanyakan rakyat biasa seperti saya, yang tidak ditinggalkan warisan apa-apa, dan tidak punya orang tua dengan kemampuan finansial untuk menghadiahi saya rumah ketika menikah, membeli rumah biasanya dilakukan ketika pasangan muda sudah menikah dan mulai memiliki karir yang lumayan serta tabungan untuk bayar DP. Tapi biasanya, ini bisa dilakukan setelah anak-anak (kalau punya anak) sudah mulai besar. Jarang ada pasangan muda dari kelas ekonomi menengah ke bawah yang bisa langsung membeli rumah segera setelah menikah.

Sebagai seorang lulusan S2 yang tidak punya banyak tabungan dan saat itu tidak terpikir untuk berdagang dan jadi pengusaha, kala itu saya berpikir bahwa untuk memenuhi cita-cita saya untuk menjadi perempuan mandiri dan membantu ekonomi keluarga adalah dengan bekerja di tempat yang bisa memberikan saya gaji yang lumayan besar. Di mana? Perusahaan swasta? Kedutaan? Saya memutar otak. Atau… Ya, saya bisa bekerja di luar negeri sebagai TKW tenaga kerja terlatih. Maka, di usia 26, saya memutuskan merantau dan bekerja di negeri orang. Keputusan saya bukannya tidak kontroversial untuk ukuran lingkungan keluarga saya, yang kebanyakan masih sangat tradisional. Beberapa mungkin berpikir saya sinting, karena bukannya menikah dan jadi istri yang baik, saya malah ‘ngabur’ dan jadi TKW. 😂

Saya pun akhirnya merantau selama 2 tahun. Dengan disiplin (dan tekad yang kuat untuk tidak melirik setiap melewati store Louis Vuitton dan Prada di Orchard road), saya berhasil menabung. Lumayan, bisa buat bayar DP apartemen atau rumah kecil di Jakarta. Begitu pikir saya.

Rupanya, Tuhan baik sekali kepada saya, si perantau miskin ini, karena selain tabungan Dia juga mempertemukan saya dengan orang yang menjadi suami saya sekarang. Di negeri orang, tempat kami sama-sama menjadi TKI. 😂 Syukurnya, dia orangnya juga pandai menabung dan tidak punya minat sama sekali terhadap designer stuff yang harganya sungguh merobek kantong. Dia tipe laki-laki yang walaupun bergaji dolar dan bertitle manager tetap beli baju di Matahari dan Pasar Klewer (no offence to Matahari dan Pasar Klewer lovers, saya juga salah satunya) atau paling banter di retailer luar yang harganya masih terjangkau semacam Uniqlo dan H&M.

Dengan kerja keras dan pengeluaran minimal , di usia 29 si laki-laki ini membeli rumah pertamanya di Solo. Tanpa KPR. Plok plok plok. 👏👏👏 Tambah satu lagi sumber inspirasi saya.

Ketika dia berumur 32 dan saya 29, kami menikah. Saya dan dia pun memutuskan untuk pindah ke Solo dan menempati rumah yang dia beli 3 tahun sebelumnya. Tabungan kami berdua sebagian besar habis untuk biaya menikah, honeymoon, dan mengisi rumah. Walaupun secara teknis saat itu saya punya rumah sendiri, saya tetap masih bercita-cita memiliki rumah yang saya dapatkan dari usaha saya sendiri, bukan rumah murni ‘nebeng’ suami. 😅 Sekarang hanya masalah waktu. Kapan ‘obsesi’ itu terwujud. Saya emang anaknya keras kepala kalau sudah ingin sesuatu. Haha. Saya ingin bilang ke ibu saya, “Bu, saya bisa, Bu. Hasil didikan ibu bisa menjadikan saya perempuan mandiri yang memiliki rumah sendiri.”

Semenjak kami pulang ke Indonesia, saya dan suami (yang saat itu masih berstatus pacar) bekerja sebagai penerjemah lepas. Sebuah pekerjaan yang dulu sama sekali tidak terpikir akan saya lakukan secara purnawaktu alias full time (silakan baca postingan-postingan lama saya tentang menjadi full time freelancer). Selama 2 tahun kami membangun portfolio dan menjaring klien dari berbagai belahan dunia. Sampai akhirnya kami punya pemasukan yang lumayan stabil. Pekerjaan ini kami lanjutkan setelah menikah.

Beberapa saat setelah kami menikah, bak jodoh takkan ke mana dan doa yang dijawab, kami berdua dipertemukan dengan seorang developer rumah di Solo yang menjual sebidang tanah dan rencana pembangunan rumah di daerah Manahan, Solo. Si developer berniat menjual tanah dan rumah (yang belum dibangun ini) dengan harga di bawah pasaran. Kenapa? Karena kala itu, tahun 2015, pasar properti sedang lesu-lesunya. Jual rumah sebiji saja terasa sangat sulit, terutama bagi developer kecil.

Setelah mengecek lokasi dan mati-matian negosiasi harga, kami berdua berhasil mendapatkan calon rumah kedua kami (secara teknis rumah kedua suami dan rumah pertama saya). Kali ini dengan sumbangsih dari saya, gabungan penghasilan kami berdua. Saya senang dan bangga sekali. Saya sampai ingin mencium tanah. Akhirnya, cita-cita masa remaja saya terwujud. Saya membeli rumah pertama saya, atas nama saya dan suami. Sebelum saya berusia 30. Mission accomplished. Dengan diiringi doa restu ibu bapak dan ninik mamak serta handai taulan, kami mendapatkan sebuah rumah baru dengan ukuran lebih besar sedikit dari rumah lama di lokasi yang sangat bagus di Kota Solo. Bagaimana dengan rumah lama? Rencananya akan dijual. Yang minat pindah ke Solo dan mencari rumah dengan budget 400-500 jutaan, monggo kontak saya. Nanti saya kasih bonus payung cantik dan sefie bareng. Ujung-ujungnya jualan.* Hihi.

Pesan dari cerita ini bukanlah mengajak teman-teman dan pembaca sekalian untuk menjadi TKI atau full time freelancer untuk bisa membeli rumah di usia relatif muda. Yang ingin saya sampaikan adalah, penting untuk memiliki cita-cita, visi yang jauh ke depan, rencana keuangan yang baik, dan eksekusi finansial yang tepat jika ingin memiliki rumah sendiri atau financial goal lainnya. Walaupun cita-cita remaja saya terdengar ambisius dan ‘ngawang’, toh pada akhirnya semua bermula dari titik itu. Dari harapan dan impian. Bayangkan kalau dulu saya nyerah duluan dan berhenti bermimpi.

Jalan saya dan suami mungkin ada di menjadi pekerja rantau dan kemudian pekerja lepas purnawaktu. Cara orang lain bisa jadi sama sekali berbeda. Apalagi dengan kemajuan teknologi seperti sekarang, mencari uang dan mendapatkan penghasilan yang layak bukan lagi monopoli profesi mapan tertentu seperti pengacara terkenal, CEO perusahaan multinasional atau selebriti. Beberapa orang menjadi sangat sukses dengan berjualan online, beberapa lainnya berhasil membangun start-up dan mempekerjakan banyak orang, sementara yang lain berhasil hijrah dan membangun karir di negeri seberang.

Yang jelas, jangan batasi kreativitas dan idemu. Sangat penting untuk “berpikir di luar kotak”. Misalnya, merasa kemampuan mentok di admin skills? Bukankah bekerja sebagai admin di perusahaan sekelas Apple sangat jauh penghasilannya dibanding dengan menjadi admin di perusahaan kecil atau malah warung tetangga? Padahal inti pekerjaannya sama, toh. Sama-sama mengurus tetek bengek administrasi. Apa yang membedakan? Soft skill, mindset, attitude dan kemampuan bahasa asing. Masih merasa kurang canggih? Ya, belajar dong. 🙂 Dan ingat, harga kopi di warkop dan Starbuck berbeda jauh, padahal sama-sama secangkir minuman hitam pahit penambah semangat. Sekarang kita yang menentukan, apa pun profesi dan skill yang dimiliki, mau jadi kopi di warkop atau di Starbuck. Dream, visualize, plan, and work smart. Rumah impian, atau apa pun itu, bisa terwujud.

Cheers,

Haura Emilia

Catatan:

*Nana: bukan nama sebenarnya. 😂

*Simone de Beauvoir: filsuf dan feminis Prancis

Kilas Balik 2017: Belajar Menentukan Prioritas

“Desires dictate our priorities, priorities shape our choices, and choices determine our actions.”
― Dallin H. Oaks

Sore itu langit di luar berwarna ungu muram kemerahan. Saya dan Mamat duduk di sebuah kedai kopi kecil dengan buku catatan di hadapan. Kami mengobrol serius tapi santai sambil menikmati Thai tea. Kami membicarakan tentang apa saja yang sudah kami kerjakan dan capai sepanjang tahun 2017.

Hasil mengobrol santai ini membawa saya pada satu kesimpulan: kami, saya dan dia, sangat sibuk sepanjang tahun. Bukti nyata dari kesibukan ini bisa dilihat dari peningkatan volume pekerjaan tahunan (ya, kami selalu meninjau pembukuan akhir tahun dan merencanakan budget finansial serta agenda kerja untuk tahun yang akan datang). Saya tidak meragukan bahwa Mamat memang sangat sibuk dan produktif bekerja sepanjang tahun. Yang saya ragukan adalah diri saya sendiri. Benarkah saya hanya sibuk bekerja sepanjang tahun? Itukah alasan saya gagal melakukan banyak hal lain di luar pekerjaan? Jangan-jangan selama ini saya hanya sok sibuk dan kesibukan yang terlihat dari luar sebenarnya adalah hasil ilusi yang saya ciptakan di kepala saya sendiri dan kemudian termanifestasi dalam cara saya menghabiskan hari.

Setelah saya evaluasi, banyak momen di mana saya tidak sepenuhnya sibuk bekerja, terutama di bulan-bulan low season (biasanya kuartal pertama atau ketiga), di mana volume pekerjaan jauh lebih sedikit dibandingkan high season (biasanya kuartal kedua dan keempat). Herannya, waktu tetap terasa cepat sekali berlalu. Saya tetap merasa sibuk setiap hari dan tidak punya waktu untuk melakukan banyak hal lain di luar pekerjaan. Ke mana saja 24 jam itu berlalu? Ada apa ini? 😰

Rupanya, alih-alih menjadi manusia produktif, saya disibukkan dengan begitu banyak distraction atau gangguan-gangguan tidak penting dalam hidup. Kita hidup di zaman di mana ada begitu banyak gangguan yang dapat mengalihkan fokus dan prioritas sehari-hari. Kita mengecek handphone mungkin lebih dari 30 kali dalam sehari, menghabiskan waktu untuk chat tidak penting (baca: bergosip) di Whatsapp, menonton film seri di TV berbayar, memposting status atau resep makanan di media sosial, membuat playlist lagu di Spotify, menonton video daily vlog youtuber favorit di Youtube, membaca berita pendek dengan headline murahan di portal berita populer, dan menyukai video kucing lucu di 9gag. Kalau kita pekerja kantoran, alasan kita untuk ‘sibuk’ bertambah lagi; ngobrol ngalor ngidul dengan kolega, istirahat makan siang lebih dari sejam, merokok di luar selama jam kantor sampai karaokean setelah jam kerja. Kalau kita bekerja di rumah, distraction juga tidak kalah banyaknya: kita harus memasak, membersihkan rumah, tidur-tiduran di sofa sambil nonton TV…. We’re all probably guilty of this constant distraction.

Akibatnya apa? Untuk saya pribadi, semua rencana dan target saya di luar pekerjaan berantakan. Hancur lebur, luluh lantak. Maaf lebay.* Awal tahun 2017 lalu sebenarnya saya berencana untuk membuat blog baru yang fokus pada satu topik saja, bertekad untuk berolahraga lebih rutin, dan membaca lebih banyak buku. Pada kenyataannya saya gagal total. Blog baru itu masih berupa ide yang mengambang di dalam kepala, olahraga dilakukan seadanya seminggu sekali (kadang 2 minggu sekali 😢),  dan saya hanya berhasil membaca sebuah buku dalam sebulan (yang berarti hanya membaca total 12 buku dalam setahun, ini lebih sedikit dari jumlah bacaan tahun sebelumnya).

Lalu bohlam itu menyala dan eureka moment menyapa. Saya gagal menetapkan prioritas dan kurang fokus. Saya baru sampai pada tahap perencanaan mentah tanpa eksekusi yang jelas. Lalu saya nangis di pojokan sambil ngunyah french fries. GAK LAH. Hehe. Daripada menangis, saya mencoba mengingat-ingat kembali tentang materi prioritas yang pernah saya baca (dan sayangnya lupakan).

Orang hidup sebaiknya memiliki prioritas yang jelas, entah itu pekerjaan, karir, keluarga, hubungan interpersonal, travel, atau misi keagamaan tertentu. Semua sah-sah saja. Ini soal pilihan. Namun, pada kenyataannya beberapa orang merasa baik-baik saja hidup berjalan mengikuti angin yang berhembus dan naik turunnya harga cabe di pasar. Santai wae and go with the flow aja lah. Sayangnya, kalau kita tipe yang selalu ingin berkembang dan menjadi lebih baik dari yang kemarin, menentukan prioritas adalah sebuah keharusan.

Salah satu orang terkaya di dunia, Warren Buffet, memperoleh kesuksesannya melalui kerja keras, prioritas dan fokus ‘level dewa’. Menurutnya, ada 5 langkah penting yang harus kita lakukan untuk mencapai kesuksesan.1Pertama, ketahui apa yang kita inginkan dalam hidup dan tulis, misalnya, 25 hal yang paling kita inginkan.2 Sebaiknya hal-hal ini adalah hal-hal yang sifatnya realistis, jadi ‘menang lotre’ atau ‘duet dengan Chris Brown’ tidak masuk hitungan. Kecuali Anda Agnes Monica, ya kan? Hehe. Buat sebagian orang, tahap ini mungkin terasa sulit karena tidak semua orang tahu apa yang mereka inginkan dalam hidup. Padahal, keinginan akan menentukan prioritas, prioritas akan menentukan pilihan, dan pilihan akan menentukan tindakan.

Kedua, dari 25 keinginan tadi, pilih 5 hal yang PALING penting dan kita inginkan.3 Intinya, kita perlu mengevaluasi dan menyortir dengan ketat mana yang akan kita prioritaskan dari banyaknya goal yang ingin dicapai. Langkah ini lagi-lagi bisa menjadi sulit karena kita bisa terjebak dalam paradoks pilihan di mana segalanya mungkin terasa urgent dan perlu dilakukan. Jadi, pikirkan dengan baik apa top 5 Anda.

Ketiga, tulis dengan jelas kapan kita akan mulai mengusahakan top 5 tadi dan pendekatan apa yang akan kita ambil untuk mencapainya.4  Hal ini penting, karena tanpa timeline dan rencana yang jelas, niat mulia ini akan menjadi sekadar wacana.

Keempat, marry your priorities.5 Maksudnya, bersungguh-sungguhlah menjalankan rencana dalam timeline yang telah ditentukan. Abaikan hal-hal lain yang sifatnya tidak mendukung rencana tersebut. Termasuk main Candy Crush dan bergosip dengan teman lama di grup Whatsapp selama jam kerja. Lupakan 20 dari 25 keinginan yang telah ditulis di awal dan masukkan 20 keinginan ini ke dalam daftar ‘hal-hal yang harus dihindari’ dalam (masukkan tanggal) tahun ke depan.

Kelima, sepenuhnya abaikan keinginan yang masuk dalam daftar ‘hal-hal yang harus dihindari’ dan fokuslah hanya pada 5 keinginan teratas yang menjadi prioritas.6 Ini mungkin tahap yang paling sulit, karena keinginan manusia tidak ada batasnya. Kita akan terus menginginkan sesuatu yang baru. Selain itu, tanpa keinginan dan tekad yang kuat kemungkinan kita akan merasa bosan sehingga mudah putus asa dan menyerah sebelum tujuan tercapai. Belum lagi godaan-godaan lain yang secara konstan datang silih berganti.

Kita perlu memahami bahwa tanpa tekad kuat dan fokus, prioritas atau goal mustahil diwujudkan. Saya sendiri sungguh sering gagal fokus. Misalnya, suatu hari saya hendak ke kamar untuk mengambil buku baru untuk dibaca, namun di tengah perjalanan handphone saya berbunyi. Saya mengambil handphone itu dan seketika lupa tujuan utama saya mengambil buku. Contoh lain, hari itu seharusnya saya mulai merencanakan blog baru saya, namun saya terserang rasa malas akut. Saya jadi tidak fokus. Alih-alih melakukan to-do-list menulis blog, saya nonton vlogmas (Christmas video blog) di Youtube. I’m not proud of it.

Sore itu, saya mengaduk-ngaduk sisa Thai tea di dalam gelas dan merenung. Saya memutuskan bahwa saya perlu menentukan ulang prioritas, mengalahkan gangguan-gangguan dari dalam dan luar, serta belajar untuk lebih fokus. I need to take things more seriously. Tiba-tiba langit di luar tidak lagi berwarna ungu muram. Saya pun meninggalkan kedai kopi dengan langkah yang lebih ringan. 🙂

Cheers,

Haura Emilia

NB: Happy new year 2018, everyone! ❤️

Referensi:

1-6Warren Buffett’s 5-Step Process for Prioritizing True Success (and Why Most People Never Do It). https://liveyourlegend.net/warren-buffetts-5-step-process-for-prioritizing-true-success-and-why-most-people-never-do-it/

Multitasking: Mitos dan Realita

Untitled

Mitos Multitasking

Waktu saya duduk di bangku sekolah dasar, ada seorang tetangga yang saya kagumi. Saya memanggilnya ‘Tante Martha’*. Tante Martha adalah sosok yang keren di mata saya kala itu karena saya perhatikan beliau sering melakukan satu hal yang tidak pernah dilakukan ibu saya: dia sangat sigap dan bisa melakukan beberapa hal dalam waktu yang bersamaan. Saat saya main ke rumahnya, saya perhatikan beliau bisa memasak sambil menjahit baju. Di lain waktu, saya lihat beliau sedang mengepel sambil memandikan anak-anaknya, yang lebih kecil dari saya. Waktu saya menceritakan hal ini ke ibu saya, beliau hanya berkomentar, “Ibu gak bisa begitu. Ibu susah fokus kalau melakukan banyak hal sekaligus”. Momen tersebut adalah perkenalan saya dengan konsep multitasking.

Kata multitasking sendiri baru mulai diperkenalkan pada tahun 1960an saat IBM melaporkan kemampuan kerja komputer buatannya.1 Istilah ini kemudian mulai digunakan secara lebih luas sebagai sebuah kondisi di mana seseorang melakukan lebih dari satu hal pada saat yang bersamaan. Orang-orang seperti Tante Martha membuat saya percaya bahwa multitasking adalah hal yang sangat mungkin dilakukan dan tidak semua orang mampu melakukannya. Lebih jauh lagi, saya juga percaya dengan pendapat yang mengatakan bahwa perempuan bisa melakukan multitasking dengan lebih baik dari laki-laki.

Saya pun menganggap diri saya cukup baik dalam hal ini. Selama kuliah saya adalah tipe mahasiswa yang suka mencatat sambil mendengarkan kuliah dari dosen. Karena catatan saya cukup lengkap, banyak teman-teman yang meminjamnya di musim ujian. Beberapa teman saya beragumen mereka tidak punya catatan sama sekali karena tidak bisa fokus menulis saat mendengarkan. Seorang teman baik saya bernama Awi mengatakan bahwa saya punya kemampuan multitasking yang bagus. Saya jadi tersanjung, karena saya pikir multitasking benar-benar sebuah skill bagus yang tidak semua orang miliki.

Semuanya berubah ketika saya memasuki dunia kerja. Dunia kerja mendekonstruksi keyakinan saya terhadap wacana multitasking. Di kantor saya dulu, rata-rata pegawai biasa seperti saya saja menerima paling tidak 300 email setiap harinya. Hampir semua pegawai mengecek email mereka setiap 5 menit. Ya, hampir semua orang mengecek inbox lalu membalas email di tengah-tengah proyek atau pekerjaan admin yang lain. Saya perhatikan beberapa orang kolega terlihat sangat sibuk melakukan banyak pekerjaan sekaligus. Ada yang menulis email sambil menjawab telepon, ada yang membuat PO (purchase order) sambil menulis laporan, dan bahkan ada yang terang-terangan main game Facebook di tengah-tengah pekerjaan. Saya amati PC saya sendiri dan kolega lainnya. Ada banyak sekali tab yang kami buka. Rupanya kami semua melakukan multitasking. Setiap hari. Saya sempat tertegun selama beberapa detik di hari pertama saya bekerja. Ternyata multitasking adalah hal yang biasa dalam dunia kerja dan saya tidak keren-keren amat.

 

Realita Multitasking

Suatu hari Mamat dengan enteng berkata, “Multitasking itu cuma mitos!”

Jeng jeng.

Saya terpana.

Saya tergelitik.

“Masa, sih?”, tanya saya.

“Coba deh kamu pikir-pikir lagi. Coba tes, apa kamu benar-benar bisa melakukan 2 hal pada waktu yang bersamaan?”

Saya terdiam. Lalu saya berpikir sejenak. Mungkin dia ada benarnya. Lalu saya googling sebentar soal multitasking.

Ada sebuah percobaan sederhana yang bisa mengetes apakah kita bisa melakukan 2 hal sekaligus. Ambil 2 buah pensil dan selembar kertas. Tulis huruf A dengan tangan kanan dan tarik garis lurus vertikal (atau horizontal) dengan tangan kiri.2 Bisa? Kalau pun kita bisa melakukannya, kemungkinan besar hasilnya tidak sempurna. Garis yang kita tarik kemungkinan akan miring dan huruf A yang kita tulis tidak rapi. “Ah, tapi itu kan karena kebanyakan orang memang tidak bisa menulis dengan tangan kiri, Ra. Coba contoh yang lain, dong. Saya bisa-bisa saja tuh nulis email sambil dengar musik.” Mungkin ada yang beragumen begitu.

Oke, kalau begitu mari kita ambil contoh ‘bekerja sambil mendengarkan musik’. Ketika kita menulis email sambil mendengarkan musik misalnya, kemungkinan besar kita hanya menjadikan musik sebagai background. Kita hanya mendengarkannya sambil lalu dan fokus utama kita ada di menulis email. Sekarang coba kita alihkan fokus ke lagu yang sedang didengarkan, dengarkan kata-katanya dan kalau perlu ikut nyanyi juga. Kebanyakan orang akan gagal fokus menulis email tersebut.

Lalu, seperti apa realita multitasking?

Pertama, multitasking sebenarnya tidak ada, yang ada hanyalah switch-tasking. Kita bisa berpindah dari 1 pekerjaan ke pekerjaan lainnya dengan cepat. Bekerja sambil menulis email. Masak sambil menjahit. Makan sambil menonton TV. Dan seterusnya. Dalam kasus ‘mendengarkan perkuliahan sambil mencatat’ pun sebenarnya tidak benar-benar terjadi dalam waktu yang bersamaan. Saya dulu harus mendengarkan poin yang dibuat dosen dulu sebelum mulai mencatat. Sama juga seperti cara juru bahasa atau interpreter simultan (simultaneous interpreter) bekerja. Kata simultaneous dalam bahasa Inggris berarti ‘terjadi pada saat yang bersamaan’, namun pada kenyataannya seorang juru bahasa tetap harus menunggu pembicara menyelesaikan paling tidak satu kalimat dulu sebelum mulai menerjemahkannya secara lisan.

Kedua, multitasking sering kali menghambat produktivitas. Menurut sebuah studi yang dipublikasikan oleh International Journal of Information Management tahun 2003,  para pekerja biasanya mengecek emailnya 5 menit sekali dan rata-rata membutuhkan waktu paling tidak 64 detik untuk kembali (fokus) ke pekerjaan sebelumnya.3 Jadi, jika kita memeriksa inbox 5 menit sekali dan bekerja selama 8 jam sehari bisa dihitung berapa banyak waktu yang terbuang untuk mengecek email saja. Apalagi kalau yang dicek media sosial yang kontennya kemungkinan lebih ‘seru’ dari email. Konten yang lucu akan membuat kita tertawa, yang menyebalkan bisa bikin BT atau bahkan menyulut emosi. Mood kerja kita bisa jadi rusak seharian. Pekerjaan pun tidak kunjung selesai.

Ketiga, multitasking mengurangi fokus dan menurunkan kualitas pekerjaan. Kalau kita memasak sambil menjahit, bukan tidak mungkin rasa makanan akan kurang enak karena kita tidak fokus dan lupa menambahkan garam atau bumbu lainnya. Kalau kita ikut bernyanyi sambil menulis email bukan tidak mungkin akan banyak typo atau bahkan lirik lagu ikut tertulis di dalam email. Hehe.

Keempat, multitasking membuat otak cepat lelah karena terus-menerus terganggu (distracted). Tidak seperti komputer dan smartphone, otak kita tidak dirancang untuk melakukan banyak hal sekaligus, apalagi melakukan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

Kelima, multitasking membuat kita tidak bisa benar-benar menghayati dan menikmati satu aktivitas. Saat kita makan sambil menonton TV, kita tidak benar-benar merasakan dan menikmati rasa makanan yang kita suapkan ke dalam mulut. Kita tidak terlalu mengamati teksturnya. Kita juga bisa sepenuhnya mengabaikan proses makanan tersebut sampai ke atas meja. Saat kita membaca timeline Facebook di tengah-tengah menulis laporan akhir bulan, kemungkinan kita juga tidak akan terlalu menghayati prosesnya.

 

Pelajaran dari multitasking

Melakukan aktivitas atau pekerjaan secara bertahap, satu per satu, pada dasarnya tetap lebih baik dan bisa menghasilkan pekerjaan yang lebih berkualitas. Kita perlu mengubah mindset bahwa sibuk melakukan banyak hal pada satu waktu bukanlah sebuah prestasi. Yang lebih penting adalah menetapkan prioritas. Jangan tergoda menetapkan semua hal sebagai prioritas. Jika semua hal adalah prioritas maka tidak ada lagi yang menjadi prioritas karena semua hal menjadi sama derajat kepentingannya. Saya pribadi belum benar-benar bisa menghindari multitasking, tapi mencatat dan menetapkan prioritas kerja setiap harinya membantu saya untuk bekerja dengan lebih efektif dan menyelesaikan lebih banyak hal. Terakhir, saya juga mengingatkan diri sendiri setiap harinya bahwa tanpa multitasking pekerjaan kita akan selesai dengan lebih cepat, dengan hasil yang lebih baik, dan dengan energi yang lebih sedikit. 😊

 

Salam produktif,

Haura Emilia

 

 

Catatan:

*Bukan nama sebenarnya

**I don’t own the image above. I took it from here. Please contact me for removal.

Referensi:

1,3The Myth of Multitasking: Why Fewer Priorities Leads to Better Work by James Clear. https://jamesclear.com/multitasking myth

2The Myth of Multitasking by Nancy K. Kapier PH.D. https://www.psychologytoday.com/blog/creativity-without-borders/201405/the-myth-multitasking 

 

Bersahabat dengan Kegagalan

Siapa yang tidak pernah gagal? Saya pernah. Sering malah. Saya gagal masuk SMA impian saya, saya gagal di beberapa mata pelajaran favorit dan mendapatkan nilai yang buruk, saya pernah gagal mencapai target IPK saat kuliah dulu, saya pernah beberapa kali gagal mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan, saya gagal memperoleh beasiswa impian, dan berkali-kali saya kalah dalam ajang kompetisi atau perlombaan. Saya juga pernah gagal berangkat ke Moscow untuk menjadi interpreter Miss Universe Indonesia dan saya berkali-kali ditolak saat pertama kali mencoba peruntungan menjadi penerjemah freelance. Kalau boleh jujur, ‘gagal’ adalah salah satu nama tengah saya. Perkenalan saya dengan ‘kegagalan’ sendiri terjadi saat saya berusia 6 tahun.

Waktu saya duduk di kelas 1 SD, saya belajar main sepeda untuk yang pertama kalinya. Tidak terhitung berapa kali saya jatuh. Dengan lutut lecet dan tangan yang luka-luka, saya meringis dan setengah menangis saya berusaha bangkit lagi. Saya bertanya-tanya kenapa saya jatuh sementara teman-teman saya terlihat gagah mengendarai sepeda dengan lancar. Hari pertama belajar saya pulang menangis dan mengadu kepada ibu. Saya menumpahkan kekesalan saya ke ibu dengan mengatakan bahwa bersepeda adalah sesuatu yang mustahil saya lakukan. Saya sungguh merasa gagal. Ibu hanya tersenyum dan menyuruh saya untuk melanjutkan belajar ketika luka saya sudah tidak sakit lagi.

Hari kedua, setelah lupa dengan rasa sakit yang dirasakan, saya belajar dengan ditemani saudara yang lebih tua. Kali ini saya masih jatuh, tapi tidak sebanyak hari pertama. Saudara saya memegangi boncengan dan mendorong sepeda saya perlahan dari belakang. Lalu pelan-pelan dia melepaskan pegangannya. Saat menyadari bahwa dia sudah tidak memegangi sepeda saya, saya panik dan menoleh ke belakang. Bruk. Jatuhlah saya. Hari kedua saya belajar bahwa untuk bersepeda kita harus fokus melihat ke depan. Berbekal pelajaran di hari ke-2, saya lebih percaya diri belajar di hari ke-3. Singkat cerita, pada hari ke-4 saya sudah bisa mengendarai sepeda dengan lancar. 😊

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa jarang sekali ada orang yang langsung bisa melakukan sesuatu ketika pertama kali mencobanya. Saya belajar bahwa untuk melakukan sesuatu dengan baik kita perlu memulainya dengan begitu banyak kegagalan. Kegagalan itu yang akan mengajarkan kita hal-hal yang sebaiknya tidak kita lakukan untuk mencapai tujuan. Saya belajar bahwa gagal itu tidak selalu memalukan. Sayangnya, dalam praktiknya, kita sering melupakan hal ini. Menerima kegagalan bukanlah hal yang mudah.

Tidak ada seorang pun yang menyukai kegagalan. Kita semua ingin berhasil. Ingin sukses. Ingin menang. Jadi, alih-alih belajar dari kekalahan dan kegagalan, kita memilih untuk marah dan tidak jarang menyalahkan keadaan atau orang lain. Karena kekalahan itu pahit kita juga memilih untuk tenggelam dalam keputusasaan. Padahal, sedikit sekali dari kegagalan atau kekalahan kita yang sifatnya fatal.1  Oke, katakanlah nilai kita di rapor jelek? Lalu kenapa? Apa itu berarti masa depan kita otomatis suram? Tidak, kan? Atau, kita gagal mendapatkan pekerjaan di perusahaan impian. Apa itu berarti kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik? Belum tentu. Atau, investasi kita gagal. Selama investasi itu tidak melibatkan uang orang lain, hanya kita sendiri yang rugi, bukan? Kita selalu bisa mulai menabung dan berinvestasi kembali. Jadi sebenarnya kita selalu punya pilihan dalam menyikapi kegagalan.

Menurut kolumnis majalah The Economist dan Financial Times Tim Harford dalam bukunya Adapt: Why Success Always Starts with Failure, ada beberapa cara untuk beradaptasi dengan kegagalan. Berikut saya kutip dan terjemahkan langsung poin-poinnya (1-3) dari sini.

Pertama, cobalah berbagai macam hal baru dengan memegang prinsip dasar “gagal itu biasa”.2 Misalnya, saya yang buta soal tanaman ini bisa belajar bercocok tanam dengan menyadari bahwa tanaman saya bisa saja tidak tumbuh atau mati di tengah jalan. Yang tidak tahu soal fotografi bisa mengambil kursus fotografi dengan asumsi hasil karya pertamanya bisa jadi lebih mirip jepretan anak TK. Yang belum pernah berbisnis bisa belajar berdagang dengan mempersiapkan diri (dan dana darurat) jika ternyata dagangannya tidak laku. Dengan menyadari penuh bahwa kegagalan adalah proses belajar yang penting dan biasa, kita akan lebih siap menerima kekalahan.

Kedua, bereksperimenlah dengan sesuatu yang masih bisa kita tanggung risikonya.3 Katakanlah ada seseorang yang mencoba belajar berinvestasi di bursa saham. Di awal belajar, dia menginvestasikan seluruh tabungannya dengan menanamkan modal sebesar 100 juta rupiah. Sebulan kemudian, harga saham yang dia beli terjun bebas dari Rp1000/saham menjadi Rp450 saja! Padahal, saat itu dia butuh uang untuk membayar biaya rumah sakit anggota keluarganya. Apesnya, anggota keluarganya itu tidak punya asuransi. Terjun bebasnya harga saham yang dia beli menyebabkan dia kehilangan lebih dari setengah modal yang dia tanam. Namun, karena ia berada dalam kondisi terdesak, dia terpaksa menjual sahamnya. Unrealized loss (kerugian yang belum direalisasikan) pun segera berubah menjadi realized loss (kerugian yang direalisasikan). Apa yang bisa kita pelajari dari kasus ini? Kita perlu bereksperimen dengan sesuatu yang masih bisa kita tanggung risikonya. Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa si pemilik modal mengambil risiko besar dengan mempertaruhkan seluruh tabungannya. Dia tidak memikirkan bahwa dalam berinvestasi risiko gagal selalu ada. Seharusnya, dia menginvestasikan hanya sejumlah yang mampu ia tanggung jika hilang, bukan seluruh dana yang dia miliki. Jika risiko masih bisa kita tanggung, kegagalan tidak akan terasa pahit-pahit amat.

Ketiga, kenali momen saat kita gagal.4 Saat gagal, tidak jarang kita terjebak dalam fase penolakan alias ‘in denial’. Kita berusaha menghibur diri dan bahkan membohongi diri sendiri dengan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Bisa jadi kita juga menolak menerima bahwa kita salah dan sudah kalah. Skak mat. Kita gagal tapi tetap tidak mau mengakuinya.  Padahal dengan mengakui kegagalan kita bisa mulai melihat apa yang sebenarnya salah. Apa yang membuat rencana kita tidak berhasil. Dengan menerima kekalahan kita juga bisa mulai berpikir jernih mengenai langkah selanjutnya yang harus kita ambil. Apakah kita akan meneruskan perjalanan dengan sedikit ‘manuver’ atau berhenti di situ dan mulai dari awal. Tinggalkan emosi di belakang dan majulah ke depan dengan pelajaran baru di tangan.

Keempat, berpikir positif dan tidak pernah berhenti belajar. Saya ingat hari-hari di mana saya baru menjadi seorang freelancer. Saya mengirimkan ratusan email ke ratusan klien potensial. Setelah beberapa bulan menunggu, saya tidak mendengar kabar dari seorang pun. Ini berarti saya tidak punya pemasukan. Waktu, tenaga, dan usaha saya selama berbulan-bulan pun habis terbang dan menghilang. Saya punya dua pilihan. Saya bisa menangis dan putus asa, lalu mencari pekerjaan kantoran baru. Atau, saya bisa berpikir positif bahwa saya mungkin mencari pekerjaan di tempat yang salah. Agensi terjemahan yang saya dekati mungkin tidak punya proyek untuk pasangan bahasa Inggris dan Indonesia. Atau, kalau pun ternyata saya melamar di tempat yang benar, mungkin mereka sudah punya cukup penerjemah Indonesia yang lebih baik dari saya.

Jika hipotesis pertama yang benar, maka saya hanya perlu mengirimkan lamaran ke calon klien yang baru. Jika hipotesis kedua yang benar, maka saya perlu membangun resume saya agar lebih meyakinkan. Bagaimana caranya? Tentu dengan lebih banyak belajar dan menerima pekerjaan dari calon klien yang lebih dekat lokasinya dengan saya dan berpeluang lebih besar memberikan saya pekerjaan. Dengan berpikir positif, kegagalan terasa lebih mudah untuk dilalui.

Saya jadi ingat kata-kata almarhum ayah saya dulu, “Jangan takut gagal, Nak. Ketakutan tidak akan membawamu ke mana pun. Belajarlah dengan giat dan maju terus ke depan.”

 

Cheers,

Haura Emilia

 

 

Referensi:

1,2,3,4Rapp, Sarah. Why Success Always Starts with Failure. http://99u.com/articles/7072/why-success-always-starts-with-failure