I will

She said I wasn’t beautiful enough.

She wished I had been more like her.

She said I should’ve brushed my hair.

She told me I didn’t look good enough.

That I wore my clothes wrongly.

That I picked the wrong color of shoes.

That I should’ve been more confident.

That I could’ve done better to look nicer.

That I could’ve been prettier.

She taught me how to take a pose.

She told me a better angle for my picture.

Never once she told me I was okay.

That I was fine and hell yeah I was good enough.

That it didn’t matter if I didn’t smile all the time.

That I was worth to be with even when my choice of clothes was lame.

So, one day I told her.

That I say if I am beautiful. I say if I am strong. I say if I am cool.

That I am more than just my looks.

That she will not determine my story.

That I will.

Haura Emilia Erwin (inspired by Amy Schumer)

Iklan

Another Night

When dreams are better than reality, you wish you never had to wake up.

In my dream I am free.

You think I’m broken?

Fix me.

Or let me sleep.

For another night.

My mind has so much to say.

But my words are againts the world.

You think I’m hopeless?

Fix me.

Or let me close my eyes.

For another night.

I’m here. But I’m not.

I’m happy. But I’m not.

What we see is not what we get.

You think I’m just sad?

Fix me.

Or let me sleep.

For another night.

Lika-Liku Orang Tua Baru Part 4: Tim Pejuang Mpasi

Disclaimer: Saya bukan dokter dan tidak punya latar belakang pendidikan medis. Semua yang saya tulis murni pendapat dan riset pribadi. Selalu konsultasikan dengan dokter spesialis anak terkait mpasi dan kelengkapannya atau ketika anak tidak mau makan dalam jangka waktu yang panjang. 🙂

Seperti layaknya ibu-ibu millenial lainnya, saya sudah ‘heboh’ cari tahu soal makanan pendamping asi (mpasi atau complimentary feeding dalam bahasa Inggris) sebelum Reina 6 bulan. Segala macam literatur saya baca, mulai dari yang sangat subjektif dan relatable seperti blog mama-mama jaman now, yang ringan tapi berbobot seperti buku popular panduan mpasi yang ditulis oleh ahli gizi dan dokter anak, sampai yang serius dan standar baku seperti panduan mpasi dari WHO.

Tidak cukup membaca berbagai literatur saja, saya juga sudah nonton semua seri Youtube seminar mpasi salah satu dokter anak yang paling terkenal di kalangan ibu-ibu gaul: Dr. Tiwi SpA. Saya juga sudah konsultasi langsung dengan dokternya Reina soal Mpasi. Saya sudah siap mpasi, nih. Begitu pikir saya. Dan… Ternyata saya SALAH BESAR. 😅

Layaknya semua ibu-ibu, saya mengharapkan skenario berikut ini saat bayinya mulai makan: anak lahap makan, buka mulut dikasih apa saja, makan dengan riang gembira, berat badan naik normal, anak sehat dan aktif. POLOS banget ya saya? 🤣 Ternyata hidup tidak semudah itu, Marimar. Sebagai stay-at-home mom yang masih bekerja juga, gak punya ART, tinggal bertiga saja sama suami dan anak, plus jauh dari orang tua dan mertua, saya tadinya berencana mengombinasikan makanan rumahan dan instan untuk Reina. Maksudnya sih supaya saya tetap waras, tidak masak setiap hari. Jadi niatnya selang seling antara homemade dan instan. Tapi apa daya, kenyataannya Reina mulai menolak makan instan di hari ke-12 mpasi dan mulai menolak bubur sama sekali di minggu ke-2 mpasi. Aduh, Reina GTM (gerakan tutup mulut alias gak mau makan). Begitulah dugaan awal saya.

Tidak ada yang lebih bikin ibu-ibu stres selain anak sakit dan gak mau makan. Saya pun mencoba memberikan Reina berbagai macam bubur instan dan home-made dengan berbagai macam rasa dan topping. Anaknya tetap mingkem rapet bagaikan dilem mulutnya. Semua teori mpasi dan cara memberi makan bayi tiba-tiba menguap dari kepala saya berhubung saya sudah stres duluan. 😅

Tapi dasar saya anak sekolahan (baca: terlalu lama di bangku sekolah – kira-kira 20 tahun🤣), saya mencoba tetap waras dan memakai logika saya. Kalau logika sudah maju, emosi dan perasaan harus mundur dulu. Saya mencoba menerapkan apa yang bertahun-tahun saya pelajari: berpikir ilmiah. Ya, saya memutuskan untuk memperlakukan problem saya (anak susah makan) sebagai sebuah ‘subjek penelitian’ untuk mencari tahu akar masalah dan solusinya. Saya mulai mengobservasi tingkah laku dan pola makan Reina setiap harinya. Saya membuat jurnal dan food diary untuk mengumpulkan data yang nantinya bisa saya ‘analisis’ dan buat ‘hipotesisnya’.

Begini typical jurnal dan diary-nya:

Jadi setiap selesai mengamati pola dan respons makan Reina, saya membuat sebuah hipotesis. Misalnya: Reina maunya makan yang dingin-dingin, mungkin lagi teething; Reina gak suka sendoknya, maunya disuapin tangan; Reina menolak makan bubur sepertinya minta naik tekstur; Reina gak mood makan di pagi hari karena baru minum asi, dst. Setelah membuat satu hipotesis, saya akan uji selama beberapa hari untuk melihat apakah hipotesis saya benar. Memang sih, beberapa hipotesis tidak bisa saya konfirmasi kebenarannya sampai sekarang 😂, tapi toh dari sini saya jadi banyak sekali belajar. Apa saja yang saya pelajari dan hasil dari ‘penelitian’ ini?

Pertama, saya jadi sadar bahwa makan adalah skill yang sangat kompleks bagi seorang bayi. Makan bukanlah sekadar proses mangap buka mulut dan mengunyah lalu telan. Literatur ternyata juga berkata demikian. Menurut Stevenson & Allaire (1991) yang saya kutip dari sini, perkembangan makan dan menelan anak itu merupakan interaksi dari banyak faktor! Diagramnya begini (diambil dari link yang sama):

Ada faktor keluarga/pengasuh, faktor si anak itu sendiri, dan faktor lain yang turunannya ada banyak lagi yang mempengaruhi perkembangan makan anak. Untuk menelan saja, salah satu komponen makan pada bayi, dibutuhkan 26 otot mulut, tenggorokan dan esofagus. Menelan juga melibatkan banyak saraf di tengkorak kepala, yang semuanya harus berkoordinasi dengan pernapasan. Itu baru satu faktor: faktor fisik si anak. Belum lagi faktor-faktor lainnya. Wow. See, makan itu JAUH lebih dari sekadar buka mulut dan telan. 😅 Jadi sesungguhnya tahap mpasi adalah tahap belajar yang ‘berat’ bagi bayi kita. Itulah kenapa stock sabar orang tua harus berjuta-juta. Anak-anak kita yang baik itu sebenarnya sedang berusaha keras berjuang, belajar makan. Peran kita sebagai orang tua harusnya adalah pengajar, pembimbing dan pendukung utama. 🙂

Kedua, berhubung Reina menolak makan makanan instan, saya jadi termotivasi membuat berbagai jenis makanan homemade untuk memberikan dia gizi yang seimbang. Hasilnya sejauh ini Reina sudah mencoba berbagai jenis makanan, dan bisa makan berbagai macam rasa, warna, aroma dan tekstur. Siapa yang menduga kalau bayi ternyata bisa suka sekali dengan kembang kol, yogurth plain (yang asam), keju edam (yang ada rasa pahit dan getirnya), dan pakchoy? Saya rasa itu karena saya memberikan Reina kesempatan untuk mencoba berbagai rasa, tanpa takut duluan dia bakalan menolak atau tidak suka.

Ketiga, saya jadi sudah mencoba berbagai metode pemberian mpasi seperti spoon-feeding, baby-led weaning (BLW-bayi makan sendiri) dan kombinasi keduanya, sambil mempelajari semua metode tersebut. Salah satu hasil observasi saya adalah Reina suka makan sendiri dan tampak menikmati prosesnya. Saya pun membeli buku tentang BLW dan mempelajari teknik, kekurangan, dan kelebihan metode ini. Hasilnya, Reina sudah terbiasa dengan finger food dan kemampuan motoriknya semakin terasah karena setiap hari saya memberikan dia kesempatan untuk memegang makanannya sendiri. Sekarang di usia 8 bulan, Reina bisa dengan asik mengambil makanannya di piring dan memasukannya ke dalam mulut.

Keempat, karena kegigihan mamanya memberikan berbagai macam jenis makanan dengan tekstur yang dinaikkan secara bertahap, sekarang Reina sudah bisa mengunyah nasi dan makanan rumahan (table food) yang bertekstur kasar.

Kelima, saya jadi banyak sekali belajar tentang bahan-bahan alami yang aman dimakan oleh bayi. Saya yang tadinya tidak paham bedanya steel-cut, wholegrain, quick-cooking, rolled, dan instant oats, sekarang jadi tahu. Yang tadinya tidak paham soal pasta sekarang jadi sudah belajar tentang pasta yang aman untuk bayi. Yang tadinya tidak tahu makanan apa yang mengandung paling banyak zat besi dan zinc yang diperlukan bayi, sekarang jadi tahu. Yang tadinya mengira olive oil adalah minyak terbaik untuk bayi, sekarang santai menggunakan minyak sawit biasa atau minyak nabati lainnya. Yang tadinya berpikir salmon ikan paling tinggi nutrisinya, sekarang beralih ke ikan kembung. The list goes on.

Terakhir, dan mungkin juga yang paling penting, dari perjalanan dan pengamatan saya selama mpasi Reina saya jadi belajar mengenal dan memahami putri saya. Saya jadi tahu kalau anak memang membutuhkan suasana makan yang menyenangkan agar mau makan. Bahwa gestur positif dan senyuman ibu bisa jadi penyemangat anak untuk makan. Tidak jarang saya bernyanyi sebelum membawa Reina ke ruang makan. Sebelum saya letakkan dia di high-chair-nya saya tatap matanya dan saya ajak dia bicara. Saya katakan padanya, “Reina, makan, yuk. Reina sudah lapar belum?”, atau “It’s breakfast time, Rei. Are you ready to eat?”, atau “Mama feels like having some banana today, would you like some?”, atau “Mama masak pasta nih hari ini, Reina mau coba, gak?”, atau “Kelinci makannya wortel, lho. Reina suka wortel, gak?” Semua saya katakan dengan nada yang ceria dan bersemangat. Biasanya Reina akan merespons saya dengan senyuman atau bahkan tawa. Saya tidak tahu seberapa banyak yang dia pahami, tapi komunikasi kami ini biasanya berhasil mengawali acara makan dia dengan mood yang baik.

Dengan segala usaha yang sudah saya coba, apakah Reina tidak pernah GTM lagi? Apakah selalu lancar makannya? Jawabannya tidak juga. Sesekali tetap ada hari di mana dia tidak mau makan sebanyak yang saya inginkan. Tapi saya berusaha keras untuk tidak terlalu kecewa.

Saya memilih untuk memberikan Reina waktu untuk belajar. Bukan hanya belajar makan, tapi juga belajar memahami dirinya, belajar mengenali rasa kenyang dan lapar, belajar memutuskan kapan dia mau makan banyak, kapan hanya sedikit, kapan sedang ingin makan buah kapan ingin makan nasi, belajar bahwa makan seharusnya adalah proses yang menyenangkan, bukan sebuah siksaan. Saya ingin memberikan dia kesempatan untuk belajar bahwa segala sesuatu memerlukan proses dan bahwa proses itu penting.

Mungkin saya berharap terlalu banyak, tapi saya juga berharap pada akhirnya ketika suatu hari dia bisa makan sendiri dengan lancar, dia akan tahu bahwa dia dibesarkan dengan penuh cinta. Bahwa mama adalah pendukung utamanya. 🙂

Cheers,

Haura Emilia

Catatan: Buat ibu-ibu dan orang tua pejuang mpasi lainnya, semoga kita semua tetap sabar dan telaten dalam berjuang mengasuh dan memberi makan anak. Tidak ada orang tua yang sempurna. It’s okay. After all, our children don’t need perfect parents, they need people who stay with them and help them grow. ☺️

Membangun Kebiasaan dengan ‘Atomic Habits’: Teori, Praktik, dan Fasilitas Pendukung

Disclaimer: Tulisan ini bukan iklan dan saya tidak dibayar sepeser pun untuk menulisnya. Merek dan judul yang saya sebut di sini saya beli dan gunakan sendiri.

1

Ada satu hal yang selalu saya kenang tentang almarhum ayah saya; kebiasaan membacanya. Almarhum ayah saya dulu tidak pernah menyuruh-nyuruh saya belajar dan membaca. Tidak. Yang beliau lakukan adalah memberikan kami contoh dan teladan yang nyata. Setiap hari ayah menghabiskan paling tidak 2 hingga 3 jam untuk membaca buku. Saya dan adik saya otomatis tertular kebiasaan baik ini. Dari kecil hingga sekarang kami berdua sudah membaca ratusan buku. Kebiasaan ini tidak datang dengan tiba-tiba dalam waktu semalam, melainkan melalui sebuah proses panjang dan pengulangan selama bertahun-tahun. Membangun kebiasaan baik, atau sebaliknya meninggalkan kebiasaan buruk, bukanlah hal yang mudah dilakukan. Saya juga belajar bahwa untuk menjadi pribadi yang lebih dan terus berkembang, saya perlu membangun lebih banyak lagi kebiasaan atau habit baik.

Untuk mempermudah proses menulis tesis saya dulu, saya berusaha membangun kebiasaan menulis setiap hari. Saya membiasakan diri untuk menulis apa saja terkait bidang studi saya setiap hari, 5 hari dalam seminggu. Di semester terakhir kuliah, saya mewajibkan diri saya untuk menulis konten tesis 2 halaman setiap harinya. Kalau saya absen menulis sehari, maka keesokan harinya saya harus menulis 4 halaman. Kalau absen sehari lagi, besoknya saya harus menulis 6 halaman. Begitu seterusnya. Sebaliknya, kalau dalam sebulan saya berhasil mencapai target menulis sebanyak 90% dari target awal maka saya akan membelikan diri saya hadiah kecil, misalnya tas atau sepatu. Ya, saya menerapkan sistem punishment and reward untuk membangun habit demi mendukung proses menulis tesis.

Baru-baru ini saya membaca sebuah buku yang sangat menarik mengenai cara efektif membangun kebiasaan baik dan meninggalkan kebiasaan buruk. Buku ini adalah jawaban dari keresahan hati saya yang beberapa tahun terakhir mulai jarang membaca buku. Judul bukunya adalah Atomic Habits oleh James Clear. Atomic Habits pada dasarnya adalah kebiasaan atau rutinitas kecil yang mudah dan sederhana untuk dilaksanakan namun sebenarnya adalah sumber daya yang luar biasa, sebuah komponen dari sistem pengembangan diri. Hal-hal atau perubahan kecil yang pada awalnya terlihat sepele akan berkembang menjadi hasil yang luar biasa jika kita cukup sabar untuk terus melakukannya.

Ada 4 cara yang bisa kita lakukan untuk membangun kebiasaan baik. Pertama, jadikan kebiasaan tersebut jelas atau nyata (make it obvious). Fokus dan tuliskan habit apa yang ingin dibangun dan kapan ingin melaksanakannya. Pastikan untuk memulai kebiasaan baru sebelum atau sesudah kebiasaan lain yang sudah menjadi rutin bagi kita. Misalnya “ingin membangun kebiasaan membaca setiap hari sebelum tidur” atau “ingin membangun kebiasaan membersihkan kamar segera setelah sarapan”. Hal ini disebut dengan ‘habits stacking’. Kenapa kita perlu menetapkan waktunya? Karena dengan menetapkan waktu yang jelas kita tahu persis kapan memulainya dan tidak punya alasan untuk menunda atau tidak melakukannya. Pastikan di waktu yang kita tentukan tidak ada kegiatan lain yang kira-kira dapat mengganggu atau menggagalkan rencana kita untuk membangun rutinitas baru.

Kedua, jadikan kebiasaan itu menarik bagi kita (make it attractive). Kita cenderung mengadopsi sebuah kebiasaan jika lingkungan sekitar kita menganggap kebiasaan tersebut baik dan menarik pula. Maka, kalau kita ingin membangun kebiasaan membaca maka bertemanlah dengan orang-orang yang suka membaca juga. Jika ingin rajin menabung, dekati orang-orang yang pandai mengelola finansialnya. Sebuah kebiasaan akan terlihat menarik jika dilakukan oleh orang-orang terdekat atau lingkungan sekitar.

Ketiga, jadikan kebiasaan itu mudah (make it easy). Mulailah dengan kebiasaan kecil yang sederhana dan mudah dilakukan. Jangan memulainya dengan sesuatu yang terlalu ambisius dan sulit dijalankan. Jika ingin membangun kebiasaan menulis, mulailah dengan menulis 2 kalimat setiap harinya. Jika ingin rajin membaca, mulailah dengan membaca 1 halaman setiap harinya. Menulis 1 halaman mungkin sulit, tapi menulis 2 kalimat itu mudah. Membaca 2 jam sehari itu sulit, namun membaca 1 halaman itu mudah. Berolahraga 30 menit setiap hari itu sulit, mulailah dengan memakai sepatu olahraga setiap pagi. Jika sudah terbiasa melakukannya, lanjutkan dengan berjalan kaki 10 menit per hari. Terus kembangkan durasi/volumenya jika sudah dirasa nyaman dengan yang mudah.

Keempat, jadikan kebiasaan itu memuaskan (make it satisfying). Sesuatu terasa memuaskan jika kita bisa segera merasakan atau melihat hasilnya. Karena saya ingin membangun kembali kebiasaan membaca saya memposting judul dan review buku yang sudah selesai saya baca di Instastory Instagram lalu daftar buku ini saya letakkan di highlight profil Instagram saya. Ada kepuasan sendiri memposting hasil bacaan dan dalam konteks ini pamer tidak selalu berarti negatif karena efeknya memberikan kepuasan pribadi dan mendorong saya untuk terus membaca.

Kalau ingin membangun kebiasaan menabung, buka rekening bank yang memiliki aplikasi di smartphone sehingga kita bisa melihat saldo tabungan kita kapan saja. Atau berikan diri kita hadiah jika berhasil mempertahankan suatu rutinitas baik selama sebulan penuh, seperti contoh saya di atas. Alternatifnya, kita bisa mendownload aplikasi pelacak kebiasaan (habit tracker) yang memberikan kepuasan tersendiri saat melihat perkembangan kebiasaan kita.

Saya memakai aplikasi Habitify. Dengan aplikasi ini kita bisa menentukan kebiasaan yang mau kita bangun dan kapan melakukannya. Kita juga bisa menyetel alarm sebagai pengingat. Aplikasi ini akan memberikan laporan persentase rutinitas yang kita pilih. Begini contohnya

Laporan dan angka-angka ini bisa menjadi penyemangat bagi kita untuk meneruskan kebiasaan. Jika kita ingin rajin berolahraga, kita juga bisa mendownload aplikasi pendukung yang bisa memantau perkembangan pencapaian kita, yang nantinya bisa kita posting di media sosial. Sekali lagi, poinnya adalah menjadikan kebiasaan itu memuaskan untuk dilakukan.

Nah, sekarang bagaimana dengan meninggalkan kebiasaan buruk? Lakukan kebalikan semua 4 cara di atas: jadikan agar kebiasaan itu tidak jelas (make it unobvious), jadikan kebiasaan itu tidak menarik (make it unattractive), jadikan kebiasan itu sulit (make it hard), jadikan kebiasaan itu tidak memuaskan (make it unsatisfying). Menghentikan kebiasaan main sosmed terlalu lama? Letakkan smartphone di ruangan yang berbeda. Persulit aksesnya. Menghentikan kebiasaan makan junkfood? Jangan dibeli dan isi kulkas hanya dengan makanan sehat. Ingin berhenti merokok? Jangan berteman atau jangan dekat-dekat dengan perokok.

Ya, sayangnya hidup tidak semudah teori. Pada kenyataannya, ada-ada saja hal yang bisa membuat kita tidak disiplin atau berhenti melakukan sebuah kebiasaan baik. Salah satu penghalangnya adalah rasa bosan. Saya punya pengalaman pribadi tentang ini.

Sudah 11 tahun saya bekerja sebagai seorang penerjemah, dan 6 tahun sebagai penerjemah lepas. Saya bekerja di rumah sendiri, tanpa kolega yang bisa saya ajak bergosip atau rekan kerja yang lucu dan bisa diajak curhat. Teman saya adalah laptop dan kesendirian. Kadang saya merasa bosan yang teramat sangat bisa membunuh saya pelan-pelan. Tapi toh, walaupun bosan 1/2 mati saya masih bisa mengendalikannya dan terus bekerja. Seiring bertambahnya waktu, klien saya semakin banyak, portofolio saya semakin baik, skill saya semakin terasah. Saya pun menyadari bahwa salah satu kunci sukses mempertahankan kebiasaan baik, yang nantinya akan membawa hasil yang baik pula, adalah kemampuan untuk mengalahkan rasa bosan dan ‘sakit’.

Manusia tidak terprogram untuk menderita. Sebaliknya, insting purba kita selalu menginginkan sesuatu yang mudah, cepat, nyaman, dan enak. Inilah kenapa kita menyukai fast food dan tergila-gila dengan Facebook. Sayangnya, sesuatu yang mudah, cepat, nyaman, dan enak tidak menempa kita menjadi pribadi yang tangguh dan tahan banting.

Nah, biar tahan banting, sok atuh lah, sekarang mari kita coba dulu membangun kebiasaan baik secara perlahan. Jangan fokus di takut gagalnya duluan, ya.

Mengutip teman baik saya si Bulan, “senyum dulu, ah”. 😁

Cheers,

Haura Emilia

Note: I don’t own the first image above. Contact me for removal.

Review Bookmate: Membaca Koleksi Buku Indonesia dan Inggris dengan Langganan Bulanan

Disclaimer: Review ini bukan iklan. Saya tidak dibayar Bookmate untuk menulisnya. Semua yang saya tulis di sini bersifat subjektif berdasarkan pengalaman pribadi. Harga berlangganan yang saya cantumkan juga bisa berubah kapan saja. Silakan download dan pelajari aplikasinya langsung jika berminat mencoba.

 

Bookmate

“Don’t give a book. Give a library.”

-Bookmate-

 

Pernah terpikir untuk mengakses buku-buku bahasa Inggris dan membacanya langsung di smartphone tanpa harus beli e-book reader (yang lumayan mahal) semacam Kindle? Kalau iya, berarti Anda perlu mencoba berlangganan Bookmate. Bookmate adalah Spotify-nya buku. Layaknya Spotify di mana kita bisa mendengarkan lagu apa saja, dengan Bookmate kita bisa membaca buku yang kita mau, dengan sedikit biaya langganan.

Perkenalan saya dengan Bookmate sebenarnya sudah cukup lama, yakni tahun 2014. Kala itu suami saya Mamat mendapatkan proyek terjemahan menerjemahkan user interface aplikasi ini. Nah, salah satu fasilitas yang dia dapatkan dari proyek ini adalah akses gratis full membership selama setahun. Saya jadi bisa ikut membaca buku-buku bahasa Inggris secara gratis di iPad. Lumayan. Sayangnya, kala itu saya sedang getol-getolnya bekerja, siang dan malam, sampai saya tidak punya banyak waktu untuk membaca buku. Apalagi, saya masih punya banyak ‘utang’ membaca buku-buku fisik yang sudah terlanjur saya beli sebelumnya. Akhirnya aplikasi Bookmate cuma saya ‘anggurin’. Mamat juga jarang mengakses Bookmate karena dia sendiri sudah lama menjadi pengguna setia Kindle.

Setelah keanggotaan gratis Bookmate habis dan proyek terjemahan selesai, kami sempat melupakan Bookmate. Saya memilih membeli buku fisik di Bookdepository (baca ulasannya di sini) dan Mamat tetap setia membaca e-book di Kindle. Nah, akhir tahun 2018 saya berkenalan dengan aplikasi Blinkist dan Instaread, di mana saya bisa membaca ringkasan buku di hape. Tapi karena ternyata saya kurang menikmatinya (baca pengalaman saya di sini), saya memutuskan untuk kembali membaca buku lagi saja, alih-alih hanya ringkasannya.

Awal tahun 2019, saya pun mengupdate akun Goodreads saya dan memutuskan untuk mengikuti reading challenge untuk ‘memaksa’ diri saya membaca lebih banyak buku dari tahun sebelumnya. Target saya adalah membaca paling tidak 15 buku baru tahun ini. Masalahnya, sampai saat tulisan ini dibuat, saya masih harus berbagi Kindle dengan Mamat. Ini berarti kami harus bergantian membaca buku. Saya juga sudah ‘kapok’ beli buku fisik banyak-banyak berhubung kami sudah tidak punya ruangan lagi untuk menyimpan koleksi buku fisik kami berdua yang jumlahnya mencapai ratusan judul. Solusinya, saya bisa membeli Kindle baru supaya tidak perlu gantian dengan Mamat, atau saya bisa berlangganan Bookmate lagi. Saya memilih yang terakhir.

Bookmate mengklaim memiliki katalog sekitar 850 ribu judul buku dalam 13 bahasa. Koleksinya terdiri dari berbagai macam genre seperti fiksi, biografi, bacaan best-seller dan populer, psikologi, bisnis, romance, self-help, buku anak-anak, dan seri klasik yang tersedia dalam bentuk e-book dan audio book. Pelanggan bisa membaca semua buku yang ada di katalog dengan berlangganan bulanan atau tahunan.

Pada saat tulisan ini dibuat, Bookmate memiliki 2 jenis langganan: ‘Langganan Premium’ (Rp49.000/bulan atau Rp499.000/tahun) dan ‘Langganan Buku’ (Rp99.000/bulan atau Rp1.199.000/tahun). Perbedaannya sendiri tidak terlalu jelas di mana, saya sudah berusaha googling tapi belum ‘nemu’ perbedaannya. Tapi saya menduga perbedaan mungkin ada di jumlah atau jenis buku yang dapat diakses. Saat ini saya terdaftar sebagai pelanggan premium.

Ada beberapa hal yang saya suka dari Bookmate. Pertama, biaya berlangganan Bookmate terhitung sangat murah, terutama jika dibandingkan membeli buku fisik bahasa Inggris dari luar negeri (misalnya di Amazon atau Bookdepository). Langganan Bookmate juga lebih murah dibandingkan membeli e-book di Kindle. Bahkan, langganan Bookmate masih lebih murah ketimbang membeli buku fisik bahasa Indonesia di toko buku lokal. Dengan Rp49 ribu per bulan kita bisa membaca hampir semua buku yang kita mau. Kalau Anda seorang avid reader atau kutu buku akut, langganan Bookmate laksana membeli paket hemat di restoran favorit.

Kedua, satu akun Bookmate dapat diakses di 3 gadget. Jadi, kita bisa mengakses buku di smartphone, di tablet, dan di PC. Lumayan banget jadi bisa sharing akun dengan orang lain dan membaca buku yang berbeda. Saya sendiri lebih suka membaca di iPad daripada di hape karena di hape ada terlalu banyak distraksi seperti aplikasi medsos, Whatsapp, atau panggilan masuk.

Ketiga, tidak seperti Kindle, ada lumayan banyak buku bahasa Indonesia di Bookmate. Saya sendiri jarang membaca buku populer dalam bahasa Indonesia. Tapi, ada beberapa buku Indonesia karangan penulis favorit saya yang saya ikuti dan baca.

Keempat, dengan adanya Bookmate, saya merasa lebih bebas memilih bacaan dan tidak takut mulai membaca buku baru. Dulu, saya kadang membeli buku yang ternyata tidak saya suka atau sulit saya nikmati. Mau tidak dilanjutkan rasanya sayang karena sudah keluar uang untuk membelinya. Nah, dengan berlangganan Bookmate hal ini tidak perlu terjadi. Kalau tidak suka dengan satu buku, kita tidak usah berpikir ulang untuk berhenti membacanya. Otomatis, kita hanya menyelesaikan buku yang benar-benar kita suka saja.

Kelima, Bookmate juga menyediakan audio book. Kemarin saya baru mencoba mendengarkan serial klasik anak-anak Little House on the Praire-nya Laura Ingalls Wilder. Waktu kecil saya sering membaca versi terjemahannya. Sekarang, saya bisa memutar versi audio book-nya untuk putri saya, Reina. 😊

Contoh audio book.

Keenam, di Bookmate kita bisa membaca buku secara offline setelah kita selesai menambahkan buku ke rak buku. Jadi, saat tidak ada koneksi internet, kita tetap bisa membaca bukunya. Tidak ada alasan lagi untuk tidak membaca. Hehe.

Ketujuh, saya suka dengan user interface dan layout buku Bookmate. Di Bookmate kita bisa menyorot (highlight) kalimat atau frase favorit dengan mudah. Kalau Anda pembaca Kindle, Anda pasti tahu sulitnya memberi highlight di buku karena Kindle cenderung lebih slow dalam bernavigasi dari satu fungsi atau laman ke yang lain. Kelebihan lainnya, jika Anda suka membaca buku yang ‘berwarna’, Anda akan menyukai Bookmate karena tampilannya bisa disetel dari mode membaca malam hari yang gelap ke mode siang hari yang cerah.

Mode baca malam.

Mode baca siang.

Terlepas dari semua kelebihannya, Bookmate punya beberapa kekurangan. Pertama, koleksi buku Bookmate tidak sebanyak Amazon Kindle. Saya sudah membuktikannya sendiri. Saya sempat mencari beberapa buku best-seller terbaru dan tidak dapat menemukannya di Bookmate.

Kedua, karena naturnya yang merupakan aplikasi di gadget, membaca di Bookmate bisa jadi tantangan tersendiri karena banyaknya distraksi dari aplikasi lain yang ada di gadget.

Ketiga, ukuran tampilan buku di Bookmate bisa menjadi masalah jika Anda merasa tampilan buku di hape terlalu kecil sementara tablet terlalu besar untuk digenggam. Di sisi ini Kindle jelas menang karena ukurannya yang pas, tidak terlalu kecil namun juga masih nyaman dipegang sebelah tangan. Solusinya? Membaca Bookmate di iPad mini atau tablet yang berukuran tidak terlalu besar.

Terakhir, perlu diingat bahwa ketika kita berhenti langganan, maka otomatis kita tidak bisa lagi membaca buku yang sudah kita download.

Secara umum, saya puas dengan aplikasi ini. Saya jadi bisa berhemat banyak. Tapi, untuk jangka panjang, saya rasanya tidak akan berhenti membaca e-book di Kindle. Kenapa? Karena sistem Kindle adalah ‘membeli putus’, di mana buku yang sudah kita beli akan selamanya bisa kita baca tanpa perlu berlangganan. Bukunya pun jadi bisa kita wariskan ke anak atau orang lain. 🙂

 

Bonus: Reina ‘membaca’ buku. 😂

Cheers,

Haura Emilia

 

Memori Sekeranjang Apel

“Mbak, kok tumben belanjanya gak bareng suaminya?”

“Wah. Emang mbaknya tau suami saya yang mana?”

“Itu yang tadi beli buah banyak banget, kan?”

“………. Iya.. Mbaknya sudah hapal ya muka kami? Iya, gak bareng. Tadi saya pegang bayi di mobil, jadi belanjanya gantian.”

Percakapan saya dengan seorang kasir di Superindo sempat membuat saya tertegun sejenak. Komentar si Mbak Kasir tentang suami saya yang “membeli buah banyak banget” menghidupkan kembali sebuah kenangan lama.

Dua puluh lima tahun yang lalu, saat saya masih duduk di bangku SD, ibu mengajak saya ke rumah kenalannya di Jakarta. Kenalannya ini termasuk orang yang berada. Saya yang masih kecil saja bisa langsung tahu ketika mengunjungi rumahnya. Rumahnya terlihat begitu mewah dan megah di mata saya. Di dalam rumah itu, saya melihat sekeranjang buah apel merah tersusun manis di atas meja makan. Buah-buahan, apalagi apel merah impor, adalah barang langka untuk kami kala itu. Saya pun memandangi keranjang buah itu cukup lama saat ibu mengobrol dengan kenalannya.

Sampai di rumah, saya menghampiri ibu dan bertanya mengapa kami tidak makan buah setiap hari. Kenapa tidak ada sekeranjang buah-buahan di atas meja. Ibu saya menjawab, “Kita belum mampu makan buah setiap hari, Nak.” Saat itulah saya baru mengerti. Ayah saya yang seorang guru dan penghasilannya tidak seberapa jarang bisa memberikan ibu uang belanja lebih untuk membeli buah-buahan.

Sejak saat itu saya bercita-cita untuk menjadi orang yang sukses. Dalam kepala saya saat itu, orang sukses pasti kaya dan mampu membeli dan makan buah-buahan setiap hari. Saya juga ingin melihat sekeranjang buah di atas meja makan rumah saya sendiri nanti. Sesederhana itu definisi sukses saya.

Setelah dewasa, saya lupa sama sekali tentang obsesi masa kecil ini. Saya hanya ingat bahwa saya ingin sukses dan berhasil agar tidak perlu memikirkan uang setiap hari dan bisa mengerjakan apa yang saya suka. Tapi mungkin memang tidak ada kenangan yang benar-benar terlupakan. Yang ada hanyalah kenangan yang terkubur dan tanpa kita sadari bermanifestasi dalam tindakan kita. Tanpa saya sadari, setelah dewasa saya sering membeli buah-buahan dalam jumlah yang banyak, yang kadang tidak bisa juga saya habiskan sendiri. Saya sempat tidak yakin mengapa saya terobsesi dengan buah.

Sampai di rumah, setelah percakapan saya dengan Mbak Kasir Superindo, saya termenung memandangi buah-buahan dalam kardus yang akan saya masukkan ke dalam kulkas. Apel merah, semangka, melon, nanas, pisang, salak, alpukat. Semuanya stok untuk satu minggu. Air mata menggenang di pelupuk mata saya. Saya tidak sedih. Sebaliknya, saya merasakan kehangatan di dada saya.

Lalu saya teringat kenangan saat saya makan buah-buahan yang sangat segar di Belanda, mencoba durian super lezat di Bangkok, atau minum jus buah di sebuah cafe di Paris. Saya teringat ibu saya. Saya teringat almarhum ayah. Ayah dan ibu yang tidak pernah sedikit pun ragu bahwa suatu saat anak perempuannya bisa meraih semua cita-citanya. Yang selalu yakin saya, anak dari keluarga sangat sederhana, juga bisa ‘sukses’ dengan usaha saya sendiri. Saya teringat ibu yang sekarang selalu tersenyum melihat isi kulkas saya. Ada banyak bahan makanan. Ada cukup buah-buahan. Mungkin ibu berpikir, “She did it. Anakku baik-baik saja.” 🙂

Cheers,

Haura Emilia

Cat Pintu

“Kalau aku cat pintu depan dengan warna hijau telur asin kamu setuju, gak?”

“Boleh.”

“Bener? Aku belum pernah ngecat sendiri, lho. Kalau gagal gimana? Takutnya hasilnya jelek.”

“Ya tinggal dibetulin. Kenapa takut? Namanya juga belajar.”

🙂

cat pintu

 

Disclaimer: I don’t own the image above. Contact me for removal.