Lika-Liku Orang Tua Baru Part 4: Tim Pejuang Mpasi

Disclaimer: Saya bukan dokter dan tidak punya latar belakang pendidikan medis. Semua yang saya tulis murni pendapat dan riset pribadi. Selalu konsultasikan dengan dokter spesialis anak terkait mpasi dan kelengkapannya atau ketika anak tidak mau makan dalam jangka waktu yang panjang. πŸ™‚

Seperti layaknya ibu-ibu millenial lainnya, saya sudah ‘heboh’ cari tahu soal makanan pendamping asi (mpasi atau complimentary feeding dalam bahasa Inggris) sebelum Reina 6 bulan. Segala macam literatur saya baca, mulai dari yang sangat subjektif dan relatable seperti blog mama-mama jaman now, yang ringan tapi berbobot seperti buku popular panduan mpasi yang ditulis oleh ahli gizi dan dokter anak, sampai yang serius dan standar baku seperti panduan mpasi dari WHO.

Tidak cukup membaca berbagai literatur saja, saya juga sudah nonton semua seri Youtube seminar mpasi salah satu dokter anak yang paling terkenal di kalangan ibu-ibu gaul: Dr. Tiwi SpA. Saya juga sudah konsultasi langsung dengan dokternya Reina soal Mpasi. Saya sudah siap mpasi, nih. Begitu pikir saya. Dan… Ternyata saya SALAH BESAR. πŸ˜…

Layaknya semua ibu-ibu, saya mengharapkan skenario berikut ini saat bayinya mulai makan: anak lahap makan, buka mulut dikasih apa saja, makan dengan riang gembira, berat badan naik normal, anak sehat dan aktif. POLOS banget ya saya? 🀣 Ternyata hidup tidak semudah itu, Marimar. Sebagai stay-at-home mom yang masih bekerja juga, gak punya ART, tinggal bertiga saja sama suami dan anak, plus jauh dari orang tua dan mertua, saya tadinya berencana mengombinasikan makanan rumahan dan instan untuk Reina. Maksudnya sih supaya saya tetap waras, tidak masak setiap hari. Jadi niatnya selang seling antara homemade dan instan. Tapi apa daya, kenyataannya Reina mulai menolak makan instan di hari ke-12 mpasi dan mulai menolak bubur sama sekali di minggu ke-2 mpasi. Aduh, Reina GTM (gerakan tutup mulut alias gak mau makan). Begitulah dugaan awal saya.

Tidak ada yang lebih bikin ibu-ibu stres selain anak sakit dan gak mau makan. Saya pun mencoba memberikan Reina berbagai macam bubur instan dan home-made dengan berbagai macam rasa dan topping. Anaknya tetap mingkem rapet bagaikan dilem mulutnya. Semua teori mpasi dan cara memberi makan bayi tiba-tiba menguap dari kepala saya berhubung saya sudah stres duluan. πŸ˜…

Tapi dasar saya anak sekolahan (baca: terlalu lama di bangku sekolah – kira-kira 20 tahun🀣), saya mencoba tetap waras dan memakai logika saya. Kalau logika sudah maju, emosi dan perasaan harus mundur dulu. Saya mencoba menerapkan apa yang bertahun-tahun saya pelajari: berpikir ilmiah. Ya, saya memutuskan untuk memperlakukan problem saya (anak susah makan) sebagai sebuah ‘subjek penelitian’ untuk mencari tahu akar masalah dan solusinya. Saya mulai mengobservasi tingkah laku dan pola makan Reina setiap harinya. Saya membuat jurnal dan food diary untuk mengumpulkan data yang nantinya bisa saya ‘analisis’ dan buat ‘hipotesisnya’.

Begini typical jurnal dan diary-nya:

Jadi setiap selesai mengamati pola dan respons makan Reina, saya membuat sebuah hipotesis. Misalnya: Reina maunya makan yang dingin-dingin, mungkin lagi teething; Reina gak suka sendoknya, maunya disuapin tangan; Reina menolak makan bubur sepertinya minta naik tekstur; Reina gak mood makan di pagi hari karena baru minum asi, dst. Setelah membuat satu hipotesis, saya akan uji selama beberapa hari untuk melihat apakah hipotesis saya benar. Memang sih, beberapa hipotesis tidak bisa saya konfirmasi kebenarannya sampai sekarang πŸ˜‚, tapi toh dari sini saya jadi banyak sekali belajar. Apa saja yang saya pelajari dan hasil dari ‘penelitian’ ini?

Pertama, saya jadi sadar bahwa makan adalah skill yang sangat kompleks bagi seorang bayi. Makan bukanlah sekadar proses mangap buka mulut dan mengunyah lalu telan. Literatur ternyata juga berkata demikian. Menurut Stevenson & Allaire (1991) yang saya kutip dari sini, perkembangan makan dan menelan anak itu merupakan interaksi dari banyak faktor! Diagramnya begini (diambil dari link yang sama):

Ada faktor keluarga/pengasuh, faktor si anak itu sendiri, dan faktor lain yang turunannya ada banyak lagi yang mempengaruhi perkembangan makan anak. Untuk menelan saja, salah satu komponen makan pada bayi, dibutuhkan 26 otot mulut, tenggorokan dan esofagus. Menelan juga melibatkan banyak saraf di tengkorak kepala, yang semuanya harus berkoordinasi dengan pernapasan. Itu baru satu faktor: faktor fisik si anak. Belum lagi faktor-faktor lainnya. Wow. See, makan itu JAUH lebih dari sekadar buka mulut dan telan. πŸ˜… Jadi sesungguhnya tahap mpasi adalah tahap belajar yang ‘berat’ bagi bayi kita. Itulah kenapa stock sabar orang tua harus berjuta-juta. Anak-anak kita yang baik itu sebenarnya sedang berusaha keras berjuang, belajar makan. Peran kita sebagai orang tua harusnya adalah pengajar, pembimbing dan pendukung utama. πŸ™‚

Kedua, berhubung Reina menolak makan makanan instan, saya jadi termotivasi membuat berbagai jenis makanan homemade untuk memberikan dia gizi yang seimbang. Hasilnya sejauh ini Reina sudah mencoba berbagai jenis makanan, dan bisa makan berbagai macam rasa, warna, aroma dan tekstur. Siapa yang menduga kalau bayi ternyata bisa suka sekali dengan kembang kol, yogurth plain (yang asam), keju edam (yang ada rasa pahit dan getirnya), dan pakchoy? Saya rasa itu karena saya memberikan Reina kesempatan untuk mencoba berbagai rasa, tanpa takut duluan dia bakalan menolak atau tidak suka.

Ketiga, saya jadi sudah mencoba berbagai metode pemberian mpasi seperti spoon-feeding, baby-led weaning (BLW-bayi makan sendiri) dan kombinasi keduanya, sambil mempelajari semua metode tersebut. Salah satu hasil observasi saya adalah Reina suka makan sendiri dan tampak menikmati prosesnya. Saya pun membeli buku tentang BLW dan mempelajari teknik, kekurangan, dan kelebihan metode ini. Hasilnya, Reina sudah terbiasa dengan finger food dan kemampuan motoriknya semakin terasah karena setiap hari saya memberikan dia kesempatan untuk memegang makanannya sendiri. Sekarang di usia 8 bulan, Reina bisa dengan asik mengambil makanannya di piring dan memasukannya ke dalam mulut.

Keempat, karena kegigihan mamanya memberikan berbagai macam jenis makanan dengan tekstur yang dinaikkan secara bertahap, sekarang Reina sudah bisa mengunyah nasi dan makanan rumahan (table food) yang bertekstur kasar.

Kelima, saya jadi banyak sekali belajar tentang bahan-bahan alami yang aman dimakan oleh bayi. Saya yang tadinya tidak paham bedanya steel-cut, wholegrain, quick-cooking, rolled, dan instant oats, sekarang jadi tahu. Yang tadinya tidak paham soal pasta sekarang jadi sudah belajar tentang pasta yang aman untuk bayi. Yang tadinya tidak tahu makanan apa yang mengandung paling banyak zat besi dan zinc yang diperlukan bayi, sekarang jadi tahu. Yang tadinya mengira olive oil adalah minyak terbaik untuk bayi, sekarang santai menggunakan minyak sawit biasa atau minyak nabati lainnya. Yang tadinya berpikir salmon ikan paling tinggi nutrisinya, sekarang beralih ke ikan kembung. The list goes on.

Terakhir, dan mungkin juga yang paling penting, dari perjalanan dan pengamatan saya selama mpasi Reina saya jadi belajar mengenal dan memahami putri saya. Saya jadi tahu kalau anak memang membutuhkan suasana makan yang menyenangkan agar mau makan. Bahwa gestur positif dan senyuman ibu bisa jadi penyemangat anak untuk makan. Tidak jarang saya bernyanyi sebelum membawa Reina ke ruang makan. Sebelum saya letakkan dia di high-chair-nya saya tatap matanya dan saya ajak dia bicara. Saya katakan padanya, “Reina, makan, yuk. Reina sudah lapar belum?”, atau “It’s breakfast time, Rei. Are you ready to eat?”, atau “Mama feels like having some banana today, would you like some?”, atau “Mama masak pasta nih hari ini, Reina mau coba, gak?”, atau “Kelinci makannya wortel, lho. Reina suka wortel, gak?” Semua saya katakan dengan nada yang ceria dan bersemangat. Biasanya Reina akan merespons saya dengan senyuman atau bahkan tawa. Saya tidak tahu seberapa banyak yang dia pahami, tapi komunikasi kami ini biasanya berhasil mengawali acara makan dia dengan mood yang baik.

Dengan segala usaha yang sudah saya coba, apakah Reina tidak pernah GTM lagi? Apakah selalu lancar makannya? Jawabannya tidak juga. Sesekali tetap ada hari di mana dia tidak mau makan sebanyak yang saya inginkan. Tapi saya berusaha keras untuk tidak terlalu kecewa.

Saya memilih untuk memberikan Reina waktu untuk belajar. Bukan hanya belajar makan, tapi juga belajar memahami dirinya, belajar mengenali rasa kenyang dan lapar, belajar memutuskan kapan dia mau makan banyak, kapan hanya sedikit, kapan sedang ingin makan buah kapan ingin makan nasi, belajar bahwa makan seharusnya adalah proses yang menyenangkan, bukan sebuah siksaan. Saya ingin memberikan dia kesempatan untuk belajar bahwa segala sesuatu memerlukan proses dan bahwa proses itu penting.

Mungkin saya berharap terlalu banyak, tapi saya juga berharap pada akhirnya ketika suatu hari dia bisa makan sendiri dengan lancar, dia akan tahu bahwa dia dibesarkan dengan penuh cinta. Bahwa mama adalah pendukung utamanya. πŸ™‚

Cheers,

Haura Emilia

Catatan: Buat ibu-ibu dan orang tua pejuang mpasi lainnya, semoga kita semua tetap sabar dan telaten dalam berjuang mengasuh dan memberi makan anak. Tidak ada orang tua yang sempurna. It’s okay. After all, our children don’t need perfect parents, they need people who stay with them and help them grow. ☺️

Iklan