Memori Sekeranjang Apel

“Mbak, kok tumben belanjanya gak bareng suaminya?”

“Wah. Emang mbaknya tau suami saya yang mana?”

“Itu yang tadi beli buah banyak banget, kan?”

“………. Iya.. Mbaknya sudah hapal ya muka kami? Iya, gak bareng. Tadi saya pegang bayi di mobil, jadi belanjanya gantian.”

Percakapan saya dengan seorang kasir di Superindo sempat membuat saya tertegun sejenak. Komentar si Mbak Kasir tentang suami saya yang “membeli buah banyak banget” menghidupkan kembali sebuah kenangan lama.

Dua puluh lima tahun yang lalu, saat saya masih duduk di bangku SD, ibu mengajak saya ke rumah kenalannya di Jakarta. Kenalannya ini termasuk orang yang berada. Saya yang masih kecil saja bisa langsung tahu ketika mengunjungi rumahnya. Rumahnya terlihat begitu mewah dan megah di mata saya. Di dalam rumah itu, saya melihat sekeranjang buah apel merah tersusun manis di atas meja makan. Buah-buahan, apalagi apel merah impor, adalah barang langka untuk kami kala itu. Saya pun memandangi keranjang buah itu cukup lama saat ibu mengobrol dengan kenalannya.

Sampai di rumah, saya menghampiri ibu dan bertanya mengapa kami tidak makan buah setiap hari. Kenapa tidak ada sekeranjang buah-buahan di atas meja. Ibu saya menjawab, “Kita belum mampu makan buah setiap hari, Nak.” Saat itulah saya baru mengerti. Ayah saya yang seorang guru dan penghasilannya tidak seberapa jarang bisa memberikan ibu uang belanja lebih untuk membeli buah-buahan.

Sejak saat itu saya bercita-cita untuk menjadi orang yang sukses. Dalam kepala saya saat itu, orang sukses pasti kaya dan mampu membeli dan makan buah-buahan setiap hari. Saya juga ingin melihat sekeranjang buah di atas meja makan rumah saya sendiri nanti. Sesederhana itu definisi sukses saya.

Setelah dewasa, saya lupa sama sekali tentang obsesi masa kecil ini. Saya hanya ingat bahwa saya ingin sukses dan berhasil agar tidak perlu memikirkan uang setiap hari dan bisa mengerjakan apa yang saya suka. Tapi mungkin memang tidak ada kenangan yang benar-benar terlupakan. Yang ada hanyalah kenangan yang terkubur dan tanpa kita sadari bermanifestasi dalam tindakan kita. Tanpa saya sadari, setelah dewasa saya sering membeli buah-buahan dalam jumlah yang banyak, yang kadang tidak bisa juga saya habiskan sendiri. Saya sempat tidak yakin mengapa saya terobsesi dengan buah.

Sampai di rumah, setelah percakapan saya dengan Mbak Kasir Superindo, saya termenung memandangi buah-buahan dalam kardus yang akan saya masukkan ke dalam kulkas. Apel merah, semangka, melon, nanas, pisang, salak, alpukat. Semuanya stok untuk satu minggu. Air mata menggenang di pelupuk mata saya. Saya tidak sedih. Sebaliknya, saya merasakan kehangatan di dada saya.

Lalu saya teringat kenangan saat saya makan buah-buahan yang sangat segar di Belanda, mencoba durian super lezat di Bangkok, atau minum jus buah di sebuah cafe di Paris. Saya teringat ibu saya. Saya teringat almarhum ayah. Ayah dan ibu yang tidak pernah sedikit pun ragu bahwa suatu saat anak perempuannya bisa meraih semua cita-citanya. Yang selalu yakin saya, anak dari keluarga sangat sederhana, juga bisa ‘sukses’ dengan usaha saya sendiri. Saya teringat ibu yang sekarang selalu tersenyum melihat isi kulkas saya. Ada banyak bahan makanan. Ada cukup buah-buahan. Mungkin ibu berpikir, “She did it. Anakku baik-baik saja.” 🙂

Cheers,

Haura Emilia

Iklan

Cat Pintu

“Kalau aku cat pintu depan dengan warna hijau telur asin kamu setuju, gak?”

“Boleh.”

“Bener? Aku belum pernah ngecat sendiri, lho. Kalau gagal gimana? Takutnya hasilnya jelek.”

“Ya tinggal dibetulin. Kenapa takut? Namanya juga belajar.”

🙂

cat pintu

 

Disclaimer: I don’t own the image above. Contact me for removal.

Evolusi Membaca Generasi Millenial: Clickbait hingga Blinkist and InstaRead

Catatan: Seperti kebanyakan tulisan-tulisan saya, intro atau pengantar tulisan ini lumayan panjang. Untuk yang malas atau tidak ada waktu untuk membaca cerita pengantarnya, silakan langsung skip ke paragraf yang kata pertamanya saya highlight dengan bold. 😊 Tapi, buat yang tertarik membaca dongeng saya, silakan mulai dari awal. Terima kasih sudah mampir.

Waktu saya kuliah dulu, membaca adalah salah satu tuntutan yang harus dipenuhi kalau mau lulus. Saya tidak bicara soal textbook yang bacanya bisa di-skimming atau hanya dibaca bagian-bagian pentingnya saja, saya bicara soal membaca novel atau karya fiksi/non-fiksi utuh, yang harus dibaca dari halaman awal hingga halaman akhir. Ya, kami, mahasiswa jurusan Sastra Inggris UI kala itu, ‘dipaksa’ membaca sekitar 7-8 novel/semester. Oh, itu untuk SATU mata kuliah, lho. Selain novel-novel itu, kami juga pastinya harus mempelajari buku teks dan membaca materi non-fiksi lainnya.

Kalau hanya novel 100-200 halaman sih tidak masalah. Yang jadi masalah adalah ketika novelnya setebal buku seri Harry Potter yang bisa mencapai 700-900an halaman per bukunya. Kegiatan ini bak tragedi bagi kami karena mau tidak mau kerjaan kami harus terus membaca secara konstan. Apalagi kalau ceritanya tentang tragedi, apa kami makin tidak depresi? 😂 Ya, buat yang kurang suka membaca, kuliah sastra adalah malapetaka. Wong yang suka membaca saja kadang tersengal-sengal, susah payah mengejar ketinggalan. Belum lagi buat yang Bahasa Inggrisnya belum terlalu lancar atau kalau bahasanya memakai bahasa ‘jadul’ macam jamannya Shakespeare. Ya. Sudah. Selamat. Menikmati. Katakan. Selamat. Tinggal. Pada. Bermalas-malasan. 😂

Saat itu saya tidak pernah memikirkan tentang efek atau manfaat dari ‘penyiksaan intelektual’ ini. Ternyata, manfaat drilling membaca ini saya rasakan saat mengambil gelas master di jurusan yang tidak ada hubungannya dengan sastra dan novel: ilmu hubungan internasional (HI). Pada dasarnya, studi HI mempelajari politik, ekonomi, relasi kuasa, dan interaksi negara di dunia internasional. Otomatis, ilmu politik adalah dasar penting untuk mempelajari HI. Jadi, HI tidak ada hubungannya dengan ilmu public relations apalagi hotel, ya (mentang-mentang HI juga kependekan dari Hotel Indonesia). 😂

Anyway, karena banyak mahasiswa yang lulus dari S1 non-HI, semester pertama kami semua, termasuk yang S1nya HI, harus mengambil mata kuliah teori hubungan internasional, yang isinya teori politik dan sejarah bangsa-bangsa di dunia dengan fokus timeline pasca perang dingin. Kenapa pasca perang dingin? Karena sejak saat itulah ilmu HI berkembang pesat. Nah, dosen kami kala itu memberikan kami setumpuk materi fotokopian yang harus dibaca, lalu ditulis ringkasan serta analisis plus diberikan pendapat kami tentang teks yang kami baca. Berapa banyak materinya? Empat teks yang masing-masing terdiri dari 100an halaman. Berarti totalnya 400an halaman. Masing-masing teks harus ditulis analisisnya sebanyak 8-12 halaman. Totalnya paling sedikit kami harus menulis 32 halaman dan paling banyak 48 halaman. Deadline-nya? Sebulan. Mantab.

Terus terang saya biasa-biasa saja dan tidak kaget, soalnya saya sudah biasa ‘disiksa’ membaca ribuan halaman selama perjuangan kuliah 4 tahun di sastra. Tapi rupanya tidak demikian dengan teman-teman yang lain. Rekan-rekan seangkatan saya kala itu berasal dari background pendidikan yang berbeda-beda. Ada yang S1nya psikologi, sosiologi, ada yang ekonomi, ada yang sastra Rusia, ada yang HI, ada yang jurnalistik dan bahkan ada yang lulusan teknik!

Nah, mulai lah kelihatan mana yang struggle dengan teks rumit berbahasa Inggris dan mana yang tidak. Perlu dicatat, rata-rata teman seangkatan saya ini lulusan universitas negeri ternama, bukan hanya UI. Banyak di antara mereka yang dulunya adalah mahasiswa-mahasiswa terbaik di kelasnya (saat S1). Jadi, mereka ini adalah orang-orang pintar. Saya sering terpana mendengar mereka bicara di kelas dan merasa tertinggal. Saya jadi merasa seperti remahan rengginang. 😂

Tapi rupanya, kemampuan akademis atau intelektual tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan membaca dan penguasaan bahasa. Sebagai alumni sastra, saya paham betul bahwa membaca adalah sebuah skill tersendiri yang bisa dipelajari dan perlu diasah, sama seperti skill lainnya, jika ingin mencapai level lanjutan. Di sini rupanya, (banyak, walau tidak semua) anak lulusan sastra menang.

Kebiasaan membaca yang dibangun dan diasah bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil. Saya membaca semua materi dan menyelesaikan semua tugas saya dalam waktu 3 minggu, seminggu sebelum deadline. Tiba-tiba saya jadi ingin memeluk dosen reading dan sastra saya dulu. Makasih ya, Pak/Bu. Ini saya jadi pinter membaca. Hihi.

Sejak lulus S2 di tahun 2011, saya mulai bekerja sebagai penerjemah purnawaktu di sebuah perusahaan Inggris di Singapura. Apa saja kerjaan saya? Baca, nerjemahin, baca, nerjemahin, issue invoice, baca, nerjemahin, manage proyek terjemahan, baca, nerjemahin. Repeat. Intinya, saya dibayar untuk membaca dan menerjemahkan. Saya menghasilkan uang, salah satunya dari membaca. 😋 Pekerjaan baca-membaca-menerjemahkan ini lalu terus berlanjut hingga sekarang, ketika saya sudah menjadi ‘mahmud abas’, alias mamah muda anak baru satu. 😂 Sebagai tukang baca profesional, saya ikut berevolusi seiring dengan perkembangan teknologi yang sepenuhnya mengubah tradisi membaca generasi millenial.

Kita telah memulai tradisi membaca jauh sejak peradaban awal homo sapiens yang secara berkala mengembangkan sistem komunikasi berupa huruf atau simbol lain yang dapat dirangkai menjadi kata dan tulisan pengantar makna. Manusia-manusia peradaban awal menciptakan sistem tulisan tertua pada akhir abad ke-3 SM. Sejarah mencatat bahwa karya-karya sastra pertama ditulis oleh pengarang bernama Ptahhotep (yang menulis dalam bahasa Mesir) dan Enheduanna (yang menulis dalam bahasa Sumeria).* Dulu, orang ‘menulis’ di atas batu, daun, atau dinding gua. Setelah sistem menulis modern yang kita pakai sekarang dan kertas ditemukan, manusia mulai menulis di atas kertas. Buku, dalam bentuk yang kita kenal pun lahir.

Waktu kecil, saya menghabiskan sebagian besar waktu saya dengan membaca. Saya tumbuh dikelilingi buku. Ayah saya, yang seorang guru, menghabiskan paling tidak 2 jam setiap harinya untuk membaca dan punya perpustakaan kecil sendiri yang koleksinya mencapai ribuan buku. Jadi membaca bukan aktivitas yang asing untuk saya dan adik. Jadi ketika dunia perkuliahan menuntut saya untuk banyak membaca, saya malah senang. Buku bagaikan kendaraan yang membawa saya ke berbagai tempat yang tidak pernah saya kunjungi, bertemu dengan orang-orang yang tidak akan pernah saya temui, dan merasakan pengalaman yang bahkan dalam mimpi pun tidak pernah saya alami.

Setelah kehadiran internet, saya merasakan bahwa buku bukan lagi sumber satu-satunya pengetahuan di bangku perkuliahan. Kala itu, tahun 2003, kami sudah mulai menggunakan internet untuk mencari materi perkuliahan walaupun belum semudah sekarang. Sejak saya lulus S1 tahun 2007 hingga sekarang saya amati tradisi membaca, terutama di kalangan generasi milenial, telah berubah drastis. Internet ikut bertanggung jawab penuh atas perubahan ini.

Media sosial, si anak bungsu internet, dan portal berita online, mengubah segalanya. Informasi datang dan berganti dengan begitu cepat dalam hitungan detik. Semua konten ditulis begitu singkat sehingga kita hanya butuh sepersekian detik untuk membaca judul berita, status seseorang, atau informasi mengenai cara bercocok tanam.

Gawatnya, tulisan dan potongan informasi yang sudah sangat singkat ini sering kali ditulis dengan asal-asalan bermodalkan clickbait. Tidak percaya? Coba saja lihat artikel berita L*ne Today atau D*tik.com. Headline, gaya menulis, ejaan, dan isi berita yang sering tidak nyambung dengan judul kadang membuat saya ingin menjitak editornya. Mbak/Mas Editor, dulu nilai bahasa Indonesianya di sekolah berapa, sih? 🤔 Itu berita lho, yang ditulis oleh seseorang (yang statusnya, sih) berpendidikan dan ada editornya. Bayangkan status orang biasa di media sosial? Gak usah muluk-muluk memikirkan ejaan dan tata bahasa, kadang bisa dimengerti saja maksudnya sudah bagus. Hehe. 😄

Tunggu, sampai di sini poin saya bukan bermaksud menjelekkan kemampuan menulis wartawan online dan pengguna media sosial pada umumnya. Informasi instan dan serba cepat serta clickbait ini telah memperpendek ‘rentang perhatian’ (attention span) kita. Kalau mau jujur sekarang kita telah berevolusi menjadi generasi tidak sabaran yang malas membaca sesuatu yang lebih panjang dari 140 karakter Twitter. Lupakan textbook sulit, karya sastra klasik, dan jurnal ilmiah, membaca isi berita online saja kadang kita malas dan sering kali langsung menyimpulkan berita hanya dari judulnya saja.

Sekarang, ayo kita main sebentar ke toko buku. Toko buku terkenal yang masih bertahan di masa ini sebagian besar isinya malah bukan buku melainkan alat musik, alat tulis, benda-benda yang sifatnya dekoratif, DVD, sampai kalkulator dan ring bola basket. 😂 Kenapa? Karena berjualan buku saja bisa membuat mereka gulung tikar berhubung sebagian besar penjualan berasal dari barang-barang non-buku. Informasi ini saya dapat dari seorang kenalan yang sudah lama bekerja di sebuah toko buku merek terkenal.

Penulis buku travel Trinity bahkan mengatakan bahwa dia akan ‘pensiun’ menulis buku karena omset penjualan buku tidak lagi cukup untuk memberinya modal untuk membuat tulisan baru, yakni jalan-jalan. Minat baca orang Indonesia yang dari dulu sudah rendah, kini semakin terjun bebas ke dalam jurang kemalasan.

Apa saya lolos dari fenomena ini? Tidak. Seperti segelintir generasi milenial yang masih peduli pada aktivitas membaca, saya sendiri juga susah payah memaksa diri saya membaca dan menyelesaikan sebuah buku. Di tahun 2016 saya masih membaca 20an buku dalam setahun, tahun 2017 turun menjadi 12 atau 13 buah judul, dan tahun 2018 saya hanya berhasil membaca 7 atau 8 buku saja, itu pun kebanyakan buku-buku tentang kehamilan dan parenting, berhubung saya sedang hamil.

Di akhir tahun 2018, saya memutuskan untuk mencoba mengikuti tren membaca jaman now, saya berlangganan aplikasi membaca Blinkist dan Instaread.

Blinkist:

Instaread:

Dua aplikasi ini menyajikan ringkasan (summary) dari ribuan judul buku yang umumnya non-fiksi. Kita bisa mencoba berlangganan gratis dulu selama 7 hari sebelum memutuskan akan mengambil langganan berbayar atau tidak. Blinkist mengenakan biaya langganan sekitar Rp116.583 per bulannya dan Instaread menarik tarif Rp99.000 per bulan.

Klaim kedua aplikasi ini sama: keduanya menjanjikan pelanggan akses ke overview ribuan buku sehingga kita bisa ‘membaca’ inti sari dari sebuah buku ratusan halaman dalam waktu 15-26 menit saja! Ibaratnya, kita bisa sombong mengaku sudah baca sebuah buku hanya dengan membaca inti sari setiap chapter-nya. 😂

Contoh konten ringkasan buku di Blinkist.

Dalam iklannya, Blinkist menjual aplikasinya dengan mengatakan bahwa CEO, founder, dan pemimpian perusahaan-perusahaan terkemuka di dunia, seperti Bill Gates dan Mark Zuckerberg, membaca 50-60 buku dalam setahun. Maka kita, rakyat biasa dan jelata (kalau dibandingkan mereka 😂), bisa menyamai level membaca mereka dengan berlangganan Blinkist. Yah, walaupun yang kita baca cuma ringkasan buku, sih. Cukup lah untuk sepik-sepik sok pintar ke orang lain.

Awalnya saya excited sekali mencoba langganan gratisan 7 hari kedua aplikasi ini. Dalam rentang waktu seminggu ini, saya, yang sebagian besar waktunya habis mengasuh bayi, berhasil membaca inti sari 16 buku di Blinkist.

And then something hit me hard. Bukannya merasakan ekstasi dan kepuasan yang biasa saya dapatkan setelah membaca buku yang saya sukai, saya menjadi depresi setelah masa berlangganan selesai. Iya, depresi. Bukan, bukan karena biaya berlangganannya mahal. 😅 Tapi karena saya menyadari bahwa seni dari membaca adalah menyelami setiap detail yang ada dalam sebuah tulisan. The devil is in the details. Meringkas berarti mempersingkat dan menghilangkan detail. Apa saja yang termasuk detail? Gaya bahasa penulis (diksi, tata bahasa, sudut pandang narator), rincian informasi (peristiwa atau kejadian, deskripsi orang, benda atau tempat, narasi), tone atau nada penulis (misalnya netral, optimis, pesimis, pragmatis, sinis, satir, komedi). Semua ini tidak bisa ditemukan dalam sebuah ringkasan.

Kedua, ringkasan buku yang disajikan sepenuhnya bergantung pada perspektif dan apa yang ditangkap penulis ringkasan yang bekerja untuk kedua aplikasi tersebut. Ketika saya dan Anda membaca sebuah buku yang sama, kemungkinan kita akan tiba pada kesimpulan yang berbeda. Latar belakang pendidikan, kapasitas intelektual dan pengalaman hidup akan membawa kita pada pemahaman yang berbeda-beda pula. Terlepas dari teori atau hipotesis yang dipaparkan penulis pada akhir bukunya, setiap pembaca mendapatkan pengalaman dan ‘mengecap rasa’ yang berbeda. Pengalaman ini tidak bisa kita dapatkan ketika membaca ringkasan karena apa yang kita dapatkan adalah kesimpulan penulis ringkasan.

Ketika saya membaca ringkasan buku Enlightenment Now oleh Steven Pinker di Blinkist, saya pikir saya akan tertarik untuk membeli bukunya dan membacanya di Kindle berhubung Bill Gates sangat memuji-muji buku ini. But thanks to Blinkist saya tidak jadi membelinya. Kenapa? Apa bukunya jelek? Bukan. Karena isi buku sudah dipersingkat sedemikian rupa seakan-akan tidak ada lagi yang tersisa untuk kita pelajari jika membaca buku utuhnya. Saya mencoba membuktikan teori ini dengan membaca ringkasan dari buku yang sudah saya baca sebelumnya, Sapiens oleh Yuval Noah Harari. Hasilnya? Sungguh semua kenikmatan yang saya rasakan saat membaca buku aslinya absen dalam ringkasan. Ringkasan terkesan sangat hambar, bagaikan masakan tanpa garam. Tidak ada excitement di dalamnya.

Saya jadi berpikir. Sudah sebegini malasnya kah kita membaca sampai-sampai kita harus membayar demi membaca versi pendek buku yang ditulis orang lain? Bayangkan mudahnya jadi pelajar atau mahasiswa jaman sekarang. Kalau disuruh dosen untuk membaca sebuah buku dan menulis inti sarinya, mereka tinggal download Blinkist atau Instaread dan membaca (atau malah copas) ringkasannya.

Terlepas dari kekurangannya, aplikasi membaca seperti ini bukannya sama sekali useless. Aplikasi ini bisa berguna untuk mereka yang benar-benar tidak sempat membaca seluruh buku atau memiliki keterbatasan fisik, misalnya ibu rumah tangga yang waktunya sudah habis untuk mengurus anak dan rumah, atau untuk orang tua yang sudah terlalu lelah penglihatannya untuk membaca satu buku penuh. Bagaimana pun, membaca ringkasan buku masih lebih baik daripada tidak membaca sama sekali. Membaca ringkasan buku juga masih lebih baik daripada sekadar membaca headline clickbait.

Setelah frustasi dengan Blinkist dan Instaread, saya memutuskan untuk kembali ke metode konvensional, membaca satu buku utuh, dari halaman depan sampai belakang. Blinkist masih sesekali saya buka untuk membaca buku-buku random yang menjadi bagian dari fitur gratisan harian aplikasi ini. Entahlah, mungkin saya terlalu tua untuk masuk kategori millenial (saya lahir tahun 1986), atau karena pengalaman membaca saya yang memaksa diri saya untuk tidak berhenti di clickbait, betapa pun menggodanya headline berita online dan aplikasi membaca instan.

Cheers,

Haura Emilia

Tips Berhemat dan Menabung untuk Mencapai Target Finansial

Halo semuanya,

Selamat tahun baru 2019!

Tidak terasa kita telah memasuki tahun 2019. Ada yang punya resolusi tertentu tahun ini? Saya sih ingin bisa saving lebih banyak. Hehe…

Bicara soal saving atau tabungan, sebelum punya anak, saya menabung untuk investasi jangka pendek dan menengah, dana darurat, liburan, membangun rumah sendiri dan membeli benda yang saya inginkan. Nah, setelah punya anak, saya mulai lebih serius memikirkan investasi jangka panjang untuk biaya pendidikan Reina.

Saya menghabiskan 19 tahun hidup saya untuk sekolah formal, 3 tahun les bahasa Inggris dan 2 tahun les bahasa Prancis. Ditambah lagi les dan training pendukung karir saya yang lain, maka sebenarnya saya menghabiskan sebagian besar waktu saya untuk belajar. Otomatis, pendidikan (selain tumbuh kembang dan kesehatan) Reina sekarang menjadi fokus utama financial goal saya.

Anda mungkin memiliki tujuan finansial yang berbeda dari saya. Ada yang menabung untuk membayar cicilan rumah, ada yang untuk membayar kredit kendaraan, ada yang ingin menabung untuk jaminan hari tua, dan lain-lain. Saya pribadi sudah melewati masa-masa menabung untuk memiliki rumah dan kendaraan sendiri. Saat ini neraca keuangan saya positif yang berarti saya bebas utang (tidak ada tagihan kartu kredit kecuali tagihan-tagihan kecil rutin tiap bulan dan tidak ada cicilan besar seperti KPA atau kredit kendaraan). Di sini saya akan berbagi sedikit tips tentang bagaimana saya (dan suami) melakukannya.

Berdasarkan pengalaman pribadi, untuk mencapai target finansial kita butuh lebih dari sekadar kerja keras dan menabung. Kita memerlukan strategi yang tepat untuk menabung dan mengelola keuangan. Pada prinsipnya, untuk mencapai tujuan finansial saya menerapkan (beberapa di antaranya) prinsip Warren Buffet, “save first, spend next”, “reduce and prioritize”, dan “invest to create a second source of income”.

Setiap bulan, saat menerima pembayaran invoice atas jasa kami (saya dan suami penerjemah dan juru bahasa profesional), saya dan suami langsung membagi uang menjadi dua: untuk tabungan plus investasi dan untuk pengeluaran rutin bulanan. Jadi, kami menabung dulu, baru memakai sisanya untuk kebutuhan sehari-hari. Ya, menabungnya di depan, bukan di belakang.

Sekali lagi, yang kami tabung bukanlah sisa uang bulanan. Kami telah menghitung biaya pengeluaran rutin kami, jadi kami bisa memperkirakan berapa yang harus kami save di depan. Ketika saving sudah aman, baru kami menghabiskan sisanya. Kecuali ada situasi darurat atau pada momen-momen istimewa, we stick to the plan. Disiplin sangat diperlukan agar tidak ngawur spending sana-sini yang sifatnya impulsif.

Prinsip kedua yang kami jalani adalah “reduce, substitute, and prioritize”. Untuk berhemat lebih banyak, saya sebisa mungkin menjalankan prinsip ‘reduce’ atau mengurangi. Mengurangi apa? Apa pun yang sifatnya tidak urgent. Caranya? Dengan mengadopsi pola hidup minimalisme.

Saya dan suami tidak pernah punya terlalu banyak barang (oke, selain buku ya karena jaman dulu belum ada Kindle dan e-book). Kalau Anda main ke rumah kami, Anda akan melihat dinding-dinding kosong, space kosong di pojok ruangan, absennya pajangan dan benda-benda yang bersifat dekoratif, dan Anda mungkin bertanya-tanya di mana letaknya jam dinding di rumah kami yang tidak begitu luas (iya, kami cuma punya 1 jam dinding di seluruh rumah, yang itu pun hadiah sebenarnya). 😆 Walaupun sebuah hiasan dinding terlihat sepele, kita tetap perlu mengeluarkan uang untuk membelinya, toh? Jadiii, kalau sesuatu dirasa tidak perlu-perlu amat ya monggo dikurangi.

Untuk keperluan lain terkait keperluan bayi, misalnya, kami memotong anggaran dengan cara menyewa, apalagi untuk barang-barang yang sifatnya hanya dipakai sebentar sekali seperti mainan mahal atau gendongan bayi original yang harganya jutaan. Prinsipnya, kalau pun mampu, kami memilih untuk tidak membelinya. Karena selain buang-buang uang, barang-barang ini nantinya cuma akan menuh-menuhin rumah dan jadi sampah saja. Bisa kayak gini kasus ekstrimnya:

Kalau sudah seperti gambar di atas, salah siapa ya, kan? 😱😱😱😱

Masih banyak yang bisa dikurangi demi berhemat. Berikut beberapa contohnya:

1. Untuk perempuan, kecuali profesi Anda makeup artist, kurangi belanja skin care dan makeup. Percayalah, kebanyakan orang tidak peduli warna lipstick Anda.

2. Kurangi belanja pakaian. Supaya lebih hemat, jadwalkan belanja pakaian setahun 2x misalnya, saat hari raya dan akhir tahun saat diskon dan sale bertebaran.

3. Kurangi beli/tukar gadget. Saya pribadi mengupgrade hape saya 4 tahun sekali! 😬 Buat saya yang penting fungsinya, bukan model apalagi trennya. Saya juga punya post tabungan sendiri untuk belanja gadget. Saya memilih tabungan yang bisa mendebet otomatis jumlah tertentu setiap harinya sehingga saya ‘dipaksa menabung’, seperti tabungan Jenius dari bank BTPN (bukan iklan). Contohnya, Jenius bisa menyimpan Rp20.000/hari dari rekening kita selama 2 tahun untuk nantinya digunakan membeli hape baru. Ini cuma contoh, jumlah debet dan durasinya Anda yang menentukan.

4. Kurangi makan/jajan di luar.

5. Kurangi nonton bioskop.

6. Kalau jarang di rumah atau gak hobi nonton, tidak perlu langganan TV kabel.

7. Cari olahraga yang gratisan seperti lari atau yoga yang dipandu trainer di Youtube untuk menghemat biaya membership gym mahal.

8. Berhenti merokok dan kurangi makan junkfood!

9. Masak sendiri.

10. Kurangi bergaul dengan orang-orang yang konsumtif dan impulsif.

Selain mengurangi yang tidak perlu, kita juga bisa berhemat dengan cara mengganti atau mencari barang substitusi ketika memerlukan sesuatu. Misalnya, alih-alih selalu beli minuman (tidak sehat) saat makan di luar, kita bisa bawa botol atau termos berisi minuman favorit sendiri. Katakanlah kita selalu makan dan minum di luar saat jam istirahat kantor. Kita menghabiskan paling tidak Rp3000 untuk sebotol air mineral. Rp3000 x 20 hari kerja itu Rp60.000 sebulan atau Rp720.000 per tahun. Belum lagi kalau kita sering minum kopi di cafe, pengeluaran minuman bisa jauh lebih besar lagi!

Saya dan suami mengganti ART dengan robot vacuum 😆. Memang harganya tidak murah, tapi setelah dihitung, beli robot jauh lebih murah daripada menggaji ART, yang selain digaji bulanan juga perlu diberi THR dan BPJS kesehatan.

Kami juga mengganti buku fisik dengan ebook, karena selain hemat tempat harganya juga lebih murah. Kadang bisa setengahnya.

Lalu, alih-alih membeli mobil yang mahal, bagus dan nyaman, kami memilih memakai mobil lama ibu saya yang sudah tidak dipakai lagi. Walaupun mobil baru yang bagus tentunya lebih keren dan nyaman, mobil dengan harga di atas 300 juta saja pajaknya sudah lumayan mahal, bukan? Punya mobil biasa-biasa saja (yang pasaran dan dipakai sejuta umat 😂) berarti menghemat pengeluaran pajak dan biaya onderdil dan servis.

Kalau bisa tidak punya mobil lebih bagus lagi! Kami pakai mobil karena punya bayi dan kami perlu carseat bayi. Saya tidak bilang punya mobil bagus itu salah, ya. Kalau mampu tentu tidak dilarang. Poinnya adalah menyesuaikan kemampuan dan gaya hidup. Kalau mampunya punya Avanza, gak usah maksa nyicil CRV. Kalau bisa beli (baca: nyicil) mobil bagus tapi tiap hari mikir beli bensinnya, mikir bayar tolnya, susah payah nabung buat bayar pajaknya, mikir panjang buat beli makanan sehat berkualitas, megap-megap bayar uang sekolah anak, berarti ada yang salah dengan gaya hidup dan manajemen keuangan Anda.

Ingatlah petuah Mbah Buffet berikut:

Strategi penghematan berikutnya adalah dengan menetapkan prioritas keuangan dan memilih investasi yang tepat untuk mencapainya. Semua orang harusnya memiliki prioritas dalam hidup. Kalau prioritasnya membangun rumah ya fokus menabung dan mencari investasi yang sifatnya jangka menengah dan hasilnya lumayan supaya bisa membantu mengumpulkan DP rumah, misalnya reksadana pasar uang. Kalau prioritasnya pendidikan anak dan anaknya masih bayi ya cari investasi jangka panjang yang return-nya lebih besar seperti saham atau reksadana saham. Kalau prioritasnya liburan dalam negeri bisa coba deposito 3-6 bulanan. Lumayan, modal dan bunganya bisa didepositokan lagi sampai akhir tahun dan dipakai untuk dana liburan. Cari bank yang bunga depositonya paling besar. (Soal reksadana untuk pemula, silakan baca lebih lengkap di postingan saya yang ini.)

Tips terakhir sebenarnya mirip dengan masalah menentukan prioritas di atas, yaitu berinvestasilah untuk menciptakan sumber penghasilan kedua. Kenapa? Karena….

Bahasa Indonesianya, kalau gak berinvestasi kita akan terpaksa terus bekerja keras bagai kuda hingga akhir hayat… 💩

Karena saya gak berniat kerja sampai mati, saya belajar berinvestasi. Hari gini, informasi sangat mudah didapatkan. Semua orang bisa belajar berinvestasi hanya dengan bermodalkan kuota internet. Jadi masalahnya hanya mau atau tidak.

Investasi bisa menjadi sumber pendapatan kedua, asalkan kita cermat saat memilihnya. Oleh karena itu, cari informasi sebanyak-banyaknya sebelum kita memutuskan untuk berinvestasi. Waspadalah pada investasi-investasi bodong yang menawarkan return yang tidak masuk akal. Prinsipnya, anything that sounds too good to be true is most probably a scam. Investasi juga bisa berfungsi sebagai bumper selain extra income, jika ada kondisi darurat.

Gimana? Siap untuk berhemat dan berinvestasi tahun ini? Senyum dulu, dong. 🙂

Cheers,

Haura Emilia

Note: I do not own the images above (except the last one). Contact me for removal.