Lika-Liku Orang Tua Baru Part 3: Baby Blues dan Postpartum Depression

Pagi itu perut saya terasa sakit, rupanya itu akibat panggilan alam yang sulit dihindari. The nature calls. Ingin rasanya segera berlari ke toilet dan menyelesaikan urusan ‘duniawi’ ini, tapi apa daya, si bayi sedang rewel menangis minta ditemani. Sore hari sebelumnya Reina baru diimunisasi DPT 1. Konon kalau kita menggunakan vaksin paten yang jauh lebih mahal dari keluaran Biofarma, peluang anak demam berkurang drastis. Tapi toh ternyata Reina tetap demam.

Kembali ke urusan toilet tadi, karena Reina menangis saya tidak bisa begitu saja meninggalkannya. Masalahnya lagi, baba Reina sedang tidak di rumah. Dia sedang ada keperluan di luar. Jadi saya terpaksa tinggal di rumah berdua saja dengan Reina. Sambil meringis saya pun berusaha menenangkan Reina. Sempat terpikir untuk meletakkan Reina di stroller dan membawanya ke kamar mandi bersama saya. Tapi akhirnya saya memilih untuk mengabaikan panggilan alam sampai suami saya pulang.

Di lain waktu, saat saya sedang menikmati makan siang, Reina tiba-tiba terbangun dari bobok siangnya. Entah mengapa dia tiba-tiba terbangun padahal belum sejam dia tidur. Buru-buru saya naik ke lantai atas menuju kamar, dengan piring masih di tangan. Setelah mencuci tangan saya menghampiri Reina. Saya periksa popok kainnya, ternyata tidak basah. Mungkin dia hanya bermimpi buruk atau tiba-tiba merasa lapar. Segera saya menyusuinya. Lalu saya dengar perut saya berbunyi. Saya teringat bahwa saya belum sempat menikmati makan siang saya. Maka dengan satu tangan saya makan. Tangan saya yang satunya memegangi Reina yang sedang menyusu.

Kalau Anda perempuan dan seorang ibu, cerita di atas mungkin terdengar familiar. Seorang ibu harus mengorbankan banyak hal saat membesarkan anak-anaknya. Hal-hal sederhana seperti pergi ke toilet dengan damai, menikmati makan siang, sarapan sambil membalas Whatsapp, pergi ke salon dan mall menjadi barang mewah bagi seorang ibu yang baru melahirkan atau sedang menyusui. Seorang ibu tidak bisa seenaknya pergi meninggalkan rumah untuk nonton film terbaru karena ada bayi yang bisa kapan saja minta disusui. Ibu juga tidak bisa berlama-lama menikmati segarnya shower sambil keramas karena tidak mungkin meninggalkan si bayi sendiri. Keadaan ini tidak mudah berhubung si ibu kurang tidur, kemungkinan besar juga kurang makan, masih merasakan sakit yang diakibatkan trauma setelah melahirkan dan lelah secara fisik maupun mental.

Kelelahan atau fatigue bisa menyebabkan seorang ibu mengalami baby blues, yang biasanya berlangsung selama 2 minggu setelah melahirkan. Gejalanya, si ibu jadi sensitif, mudah marah atau menangis, merasa sedih dan tidak berdaya. Dalam kasus yang lebih serius, baby blues bisa berkembang menjadi postpartum depression. This is where things get really serious.

Beberapa tahun yang lalu saya kehilangan seorang teman dengan cara yang tragis. Dia mengakhiri hidupnya beberapa bulan setelah anaknya lahir. Dia tidak pernah mendapatkan bantuan ahli, seperti psikiater atau psikolog, entah karena kami, lingkungannya, cenderung mengabaikan stres yang dialami seorang ibu yang baru melahirkan, atau mungkin karena kami tidak menyadari bahwa apa yang dia alami adalah sesuatu yang serius. Atau mungkin keduanya.

Kalau mau jujur, proses hamil, melahirkan, dan menyusui memang tidak mudah. Masalahnya, masyarakat kita banyak yang menyepelekan apa yang dialami dan dirasakan seorang ibu. Bahkan sering kali seorang ibu dianggap lemah atau cengeng jika banyak menangis atau mengeluh pasca melahirkan. Tapi tahukah Anda bahwa postpartum depression adalah penyakit nyata yang membutuhkan perawatan profesional? Efek gejala postpartum depression yang diabaikan bisa membahayakan ibu dan bayinya. Ibu bisa memiliki keinginan untuk menyakiti diri atau bayinya, dalam kasus yang parah malah bisa mengakhiri hidup sendiri, bayinya, atau keduanya.

Salah satu kasus postpartum depression yang paling terkenal adalah kasus Andrea Yates. Yates ada seorang ibu dari Texas, AS, yang mengaku membunuh ke-5 orang anaknya dengan cara menenggelamkan mereka semua pada tanggal 20 Juni 2001. Yates didiagnosis postpartum psychosis, bentuk parah dari postpartum depression. Memang mungkin hanya ada sedikit kasus seperti ini, namun ini membuktikan bahwa depresi pascamelahirkan adalah suatu yang nyata, dan penderitanya bukan sekadar lemah iman, lebay, atau cengeng.

Setelah melahirkan, saya merasakan sendiri lelahnya mengurus anak. Terlebih-lebih lagi saya tidak punya asisten rumah tangga, jauh dari orang tua, sehingga harus mengurus bayi, rumah, pekerjaan, dan kucing berdua saja dengan suami. Ada kalanya saya merasa sangat lelah dan bosan. Dua hal ini bisa memicu stres. Apalagi kalau si bayi sedang rewel atau demam (seperti saat pascaimunisasi DPT). Suami saya yang sudah begitu supportive pun kadang tidak bisa menghentikan air mata saya yang tumpah karena terlalu penat dan lelah mengurus semuanya. Jadi, saya bisa memahami betapa sulitnya menjadi ibu baru apalagi jika suami dan keluarga tidak sepenuhnya mendukung, atau malah menambahkan beban kepada si ibu.

Cara terbaik untuk membantu ibu terhindar dari baby blues berkepanjangan adalah dengan memberikan bantuan dan mendengarkan keluhan-keluhannya. Seorang ibu baru memerlukan support system yang kuat untuk menjalankan hari-harinya. Semua ibu menyayangi bayinya, tapi bahkan ibu yang paling bahagia pun bisa sakit, lelah, kesal, dan sesekali ingin berteriak karena frustrasi. Ibu tidak hanya memerlukan orang untuk membantunya mengurus bayi dan pekerjaan rumah tangga, tapi ibu juga memerlukan teman bicara dan berbagi. Di sinilah peran suami atau orang terdekat lain dibutuhkan.

Saya cukup beruntung. Walaupun tidak ada asisten rumah tangga, suami saya sangat membantu dan memahami situasi dan kondisi saya. Di malam hari, selepas magrib saat si bayi sudah tertidur, dia menyuruh saya pergi ke cafe dekat rumah untuk sekadar membuka laptop dan menulis blog sambil menikmati secangkir kopi dan sepotong cookie. Dia tahu bahwa seorang ibu yang dunianya adalah bayinya tetap membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri, melakukan hal yang tidak berhubungan dengan anaknya. Perlu dipahami bahwa memiliki “me time” tidak menjadikan seorang ibu egois. Toh, ibu tidak perlu waktu lama untuk sendiri, dia akan segera kembali ke anaknya, ke dunianya. 🙂

Ibu-ibu lain mungkin tidak seberuntung saya. Mungkin mereka tidak memiliki support system yang baik, mungkin mereka memiliki masalah ekonomi atau hal-hal lain yang membebani pikiran ketika mereka seharusnya hanya fokus merawat anak(-anak)nya saja. Jika Anda melihat seorang ibu dengan gejala baby blues berkepanjangan atau terlihat sedih dan depresi, tidak ada salahnya menanyakan kabarnya. Satu panggilan telepon atau sapaan di Whatsapp kadang bisa mencerahkan hari atau bahkan menyelamatkan hidup seorang ibu. Untuk para suami, berbaik hati dan dukunglah istrimu. Dia sudah mengorbankan diri dan hidupnya untuk melahirkan dan membesarkan anak-anakmu. Anak-anak tidak bisa besar hanya dengan uang. 🙂 Kalau pergi ke psikiater dirasa terlalu mahal, paling tidak dengarkan curhatannya, ya.

Saat tulisan ini dibuat saya sedang santai sendiri, sementara si bayi dimandikan bapaknya. Sehari sebelumnya dia membantu saya melipat semua pakaian kering. Sungguh, bantuan-bantuan kecil seperti ini terasa besar dan merupakan obat lelah yang ampuh. Sepertinya sudah saatnya saya melambaikan tangan dadah-dadah ke si baby blues. Senyum dulu, ah. 😊

Cheers,

Haura Emilia

Iklan