Lika-Liku Orang Tua Baru Part 2: Cerita Asi dan Menyusui

Disclaimer: Saya bukan dokter anak dan tidak memiliki latar belakang pendidikan di dunia medis. Apa yang saya tulis di sini murni pengalaman saya pribadi. Selama hamil saya aktif membaca buku dan literatur online mengenai asi dan menyusui, jadi beberapa hal yang saya tulis di sini juga berpedoman pada sumber-sumber tersebut. Harap diingat bahwa setiap bayi itu berbeda dan setiap dokter anak punya penilaian, standar, gaya, dan metode yang berbeda juga. Banyak-banyaklah membaca sumber tepercaya selama menyusui dan konsultasikan dengan dokter laktasi atau spesialis anak untuk masalah seputar asi dan menyusui.

Putri saya lahir prematur di usia kandungan 36 minggu 3 hari karena air ketuban pecah dini. Reina lahir dengan berat badan 2,9 kg dan panjang 48 cm. Namun saya beruntung, karena asi saya langsung keluar di hari saya melahirkannya. Kolostrum* saya terhitung cukup banyak, saya dapat 1/2 botol 100 ml asi di hari pertama. Ini luar biasa mengingat saya hanya sempat IMD* selama beberapa menit (karena melahirkan lewat metode sesar atau c-section), dan bayi sebenarnya hanya butuh 5-7 ml atau 1 sendok makan asi setiap kali minum di hari pertama kelahirannya berhubung ukuran lambungnya hanya sebesar kelereng.

Sebelum pulang ke rumah, berat badan Reina turun menjadi 2,7 kg. Berat badan (bb) turun adalah hal yang biasa pada bayi baru lahir karena umumnya bayi baru belajar menyusui atau kadang karena air susu ibunya belum keluar atau masih sedikit sekali. Selain bb yang turun, kulit Reina juga terlihat sedikit kuning. Dokter spesialis anak (DSA) yang membantu saya lahiran menjelaskan bahwa kuning pada bayi yang baru lahir adalah biasa. Faktanya, ada beberapa jenis kuning (jaundice) pada bayi, kuning yang masuk kategori normal atau yang disebut dengan kuning fisiologis dan kuning yang masuk kategori penyakit atau kuning patologis. Menurut sang DSA, kuning yang dialami Reina adalah kuning fisiologis yang akan hilang dengan sendirinya dengan ASI sehingga tidak memerlukan perawatan apa-apa.

Penjelasan yang diberikan Dr. Lucy (DSA Reina) sesuai dengan apa yang saya baca di buku-buku tentang ASI, jadi saya tenang dan sama sekali tidak panik. Kami pun pulang ke rumah dengan hati riang. Di rumah, perjuangan sesungguhnya menyusui pun dimulai….

Seperti kebanyakan ibu-ibu baru lainnya, saya kesulitan menyusui Reina walaupun saya sudah lelah membaca dan nonton youtube mengenai cara latching (pelekatan) yang benar. Menyusui, my dear friend, tidak semudah yang saya dan Anda (yang belum punya anak) bayangkan. Menyusui bukan hanya sekadar bayi mangap hap dan menghisap puting ibu lalu minum susu sampai tertidur kekenyangan. Pelekatan yang benar dan ideal adalah ketika bayi memasukkan sebagian besar areola (area gelap di sekitar puting) ibu ke dalam mulutnya, bukan hanya putingnya saja. Dagu bayi sebaiknya menempel ke payudara ibu agar hidungnya tidak tertutup dan bisa bebas bernafas selama menyusu. Areola ibu harus masuk ke mulut bayi karena sebenarnya dari situlah air susu lebih banyak keluar, bukan dari puting.

Gambar di atas adalah contoh pelekatan yang benar. Gambar saya ambil dari Google.

Sayangnya, hal ini tidak mudah. Bayi rata-rata tidak langsung bisa melekat dengan benar. Bayi perlu waktu untuk belajar dan ibu juga perlu mengeksplorasi posisi yang tepat untuk membantu bayi melekat dengan sempurna. Akibat dari pelekatan yang tidak benar adalah puting lecet, bahkan bisa berdarah, dan tentunya rasa nyeri tidak terperi.

Awalnya saya konsultasi dengan konselor menyusui. Ketika diajari saya merasa oke. Tapi begitu bu konselor pulang, saya kesulitan lagi melekatkan Reina. Lalu saya berinisiatif mengambil kelas privat menyusui dengan konselor asi lainnya, kali ini orang Aimi (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia). Selama kelas berlangsung, Reina bisa membuka lebar mulutnya dan memasukkan sebagian besar areola. Sip, saya pikir masalah saya selesai. Tapi ternyata belum. Saya perhatikan Reina hanya sanggup membuka mulut lebar dalam hitungan detik saja. Setelah itu dia mengerucutkan lagi mulutnya dan kembali hanya menghisap puting saja. Ini membuat saya kesakitan and meringis-ringis.

Akhirnya saya berkonsultasi dengan DSA Reina, Dr. Lucy, yang juga dokter laktasi. Saya bercerita bahwa saya kesulitan menyusui Reina karena Reina kesulitan membuka mulut lebar. Dr. Lucy memeriksa gaya saya menyusui dan mengatakan bahwa posisi menyusui saya sudah benar. Beliau menyarankan agar saya terus menyusui Reina dan tidak terlalu terpaku pada pelekatan. Yang lebih penting adalah menghitung jumlah pipis Reina dalam sehari (minimal 6x) untuk memastikan bahwa dia mendapatkan asupan asi yang cukup. Jika jumlah pipis cukup dan kenaikan berat badannya sesuai standar saya hanya perlu menunggu sampai Reina bisa menyusu dengan baik dan puting saya tidak sakit lagi.

Ketika Reina umur sebulan, saya kembali kontrol ke Dr. Lucy. Menurut chart pertumbuhan bb bayi yang mengikuti standar WHO, sebulan setelah lahir seharusnya bb bayi bertambah 900 gr dari berat lahirnya, yang berarti seharusnya bb Reina 3,8 kg. Nyatanya, setelah ditimbang bb Reina hanya 3,25 kg! Ini berarti ada yang salah. 😿

Saya terdiam di depan ruang praktik dokter sebelum menemui Dr. Lucy. Selama beberapa menit saya merasa ingin menangis dan merasa bersalah terhadap Reina. Saya terus bertanya-tanya apa yang salah dengan cara saya. Saya merasa sudah melakukan yang terbaik. Saya sudah mempelajari teori asi dan menyusui dari literatur tepercaya. Saya sudah mengambil kelas privat menyusui dengan orang yang tepat. Bak mahasiswa yang mau ujian, saya bahkan punya jurnal yang isinya semua teori asi yang sudah saya pelajari, hapal, dan tulis ulang. Kenapa ibu-ibu lain yang mungkin tidak berusaha sekeras saya tidak mengalami masalah yang sama? Apa yang salah?

Yang lebih membuat sedih adalah fakta bahwa asi perah saya sangat banyak menumpuk di freezer. Dalam sebulan saya sudah berhasil menyimpan sekitar 100 kantong asi perah di dalam kulkas. Ini menyedihkan, asi ibunya banyak tapi anaknya kurus, tidak tercapai target penambahan berat badannya. 😓 Saya begitu disiplin memompa asi, sekitar 5-6x sehari ketika bayi tertidur. Asi yang tidak dikeluarkan dalam waktu lama bisa menyebabkan penyumbatan pada kelenjar susu dan bisa menyebabkan peradangan dan mastitis. Saya jadi semakin sedih dan menyalahkan diri sendiri.

Pikiran-pikiran negatif berkecamuk di kepala saya selama beberapa menit. Saya merasa sangat emosional dan ingin menangis. Tapi lalu logika mengambil alih. Otak kiri mengatakan bahwa saya terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa ada yang salah dengan cara saya. Otak kiri memerintahkan saya untuk tidak terbawa perasaan dan sebaiknya mulai mengumpulkan fakta dengan bertanya kepada dokter.

Ketika Dr. Lucy mengetahui bahwa bb Reina kurang 550 gr dari yang seharusnya, beliau mengambil Reina dan memeriksa mulut Reina. Dia memakai sarung tangan karet dan memasukkan jarinya ke mulut Reina. Ternyata Reina tongue-tie. Tonguetie atau ankyloglossia adalah kelainan kongenital di mana lidah tidak leluasa bergerak karena frenulum lidah yang terlalu pendek. Frenulum lidah adalah jaringan tipis di bawah lidah bagian tengah yang menghubungkan lidah dengan dasar mulut.* Begini contohnya (gambar saya ambil dari Google):

Rupanya inilah yang menyebabkan Reina kesulitan menyusu. Kondisi ini menyebabkan Reina tidak bisa menghisap asi dengan sempurna. Lalu, kebetulan Reina poop dan Dr. Lucy melihat poopnya. Warnanya hijau tua, alih-alih kuning (warna acuan). Ini berarti Reina lebih banyak mengonsumsi foremilk dibandingkan hindmilk (googling sendiri untuk tahu definisi dan perbedaannya, ya). Perpaduan tongue-tie dan terlalu banyak foremilk menyebabkan kenaikan bb tidak maksimal. Kesimpulannya, yang salah bukan cara menyusui saya. Untung tadi saya tidak baper lama-lama.

Dokter anak lain mungkin akan langsung menyarankan saya untuk memberi Reina formula agar bb nya cepat bertambah dan mengejar ketinggalan. Puji Tuhan, tidak dengan Dr. Lucy yang sangat pro asi. Dr. Lucy menyarankan saya menggunakan metode suplementasi. Suplementasi berarti memberikan asi perah (asip) ke bayi pada saat menyusui melalui selang. Metode ini ditujukan agar bayi mendapatkan dua sumber asi, dari payudara ibu dan dari asip yang diberikan lewat selang. Bayi dengan tongue-tie cenderung lebih sulit menghisap asi langsung, maka penambahan asip lewat selang akan memudahkan dan mempercepat dia mendapatkan air susu. Bagaimana caranya memberikan asip lewat selang sambil menyusui? Kira-kira begini contoh yang saya dapat dari foto Supplemental Nursing System Medela:

Gambar 👆: Bayi mendapatkan 2 sumber asi: payudara ibu dan asip yang diletakkan di dalam wadah dan diberikan lewat selang.

Gambar 👆: Alat suplementasi dari Medela.

Dr. Lucy tidak menyarankan memakai alat di atas karena sulit dicari dan harganya juga lumayan mahal (sekitar 600-800 ribuan, tergantung seller). Sebagai gantinya, beliau meresepkan selang intubasi dan syringe pump untuk tempat si asi perah, yang jauh lebih terjangkau.

Gambar 👆: syringe pump.

Tapi pada akhirnya saya tidak memakai si syringe pump karena sering macet. Sempat coba pakai botol susu biasa tapi kok ternyata ribet meganginnya. Akhirnya setelah trial and error berbagai wadah, saya menemukan wadah yang pas juga: Medela soft-cup feeder. Feeder ini warisan keponakan saya dulu yang menyusu asi perah berhubung ibunya pekerja kantoran. Asip saya masukkan ke dalam soft-cup feeder yang bagian atasnya sudah saya lepas, lalu saya masukkan selang. Percaya atau tidak, ini ide ayahnya Reina (makasih, Baba! Kamu memang ayah asi sejati! 😄). Hasilnya seperti ini:

Dokter menyuruh saya kembali konsultasi 2 minggu setelah mencoba metode ini. Ia berpesan bahwa berat Reina harus nambah paling tidak 450 gr dalam 2 minggu.

Awal-awal pemberian asip lewat selang ini lumayan drama, tidak mudah. Pertama, selang sering lepas kalau posisinya tidak pas. Selain itu, asip bisa tidak terhisap juga. Belum lagi kalau tidak hati-hati, Reina bisa tersedak selang. Tapi, dengan kesabaran dan ketelatenan akhirnya Reina bisa minum asip lewat selang dengan lancar. Setelah 2 minggu, saya kembali ke Dr. Lucy. Saat ditimbang ternyata bb Reina naik melesat 700 gr. 😄 Ini berarti metode suplementasi berhasil untuk Reina. Horeee! Senangnya melampaui selesai menulis tesis master dulu. 🤣

Reina menggunakan metode suplementasi ini sekitar sebulan. Di usia 2 bulan tiba-tiba saja dia bisa lancar menyusui. Mungkin benar kata sahabat saya Mey-Mey, kadang solusi suatu masalah cuma menunggu. Waktu yang akan menyelesaikan. Tsahh… 😆

Sekarang usia Reina sudah 3 bulan dan dari bulan ke-2 menuju bulan ke-3 bb Reina bertambah 1 kilo (yang berarti sehat dan normal). Sekarang bb Reina sudah 5 kiloan. Ini bb yang cukup apalagi jika mengingat Reina lahir prematur dan lahir dengan bb 2,9 kg, plus ada tongue-tie. Dengan panjang badan 60 cm, postur Reina terlihat langsing, yang tembem cuma pipinya (nasib punya keturunan mama yang chubby).

Banyak sekali hal yang saya pelajari tentang menyusui. Selama menyusui bayi mendapatkan banyak sekali stimulasi karena dengan menyusui bayi menggunakan jauh lebih banyak otot dan tenaga dibandingkan menyusu dari botol. Menyusui juga menguatkan ikatan atau bonding ibu dan bayi. Bayi belajar mengenali ibunya melalui bau, sentuhan, dan pendengarannya (karena penglihatan dan jarak pandang bayi masih terbatas). Sentuhan ibu juga menstimulasi otak bayi, membantu pertumbuhan dan perkembangannya. Dengan menyusu langsung, bayi juga jadi terpapar bakteri baik di tubuh ibu dan ini membantu menguatkan sistem imun tubuhnya. Jadi, seberat (dan se-boring) apa pun proses menyusui itu, manfaatnya jauh lebih besar. Selama tidak ada indikasi medis yang melarang bayi menyusu langsung pada ibunya, menyusu langsung ke payudara ibu (direct breastfeeding) adalah yang terbaik bagi bayi.

Kalau boleh jujur, menyusui adalah aktivitas yang menuntut komitmen tangguh dari seorang ibu dan memerlukan dukungan penuh dari ayahnya. Bayi baru lahir bisa menyusui 8-12x sehari dan kadang malah lebih. Ini bisa menjadi rutinitas yang sangat melelahkan dan membosankan. Bagi banyak ibu, menyusui juga membuat mereka sering lapar dan haus. Rasa lapar, haus, mengantuk, kelelahan serta nyeri is a recipe to disaster. 😂 Jadi harap maklum kalau ibu menyusui kadang jadi sensitif, baper, atau malah galak bukan main. Mereka cuma lelah dan butuh dukungan. Haha.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan ayah untuk mendukung ibu selama proses menyusui. Membantu meringankan beban kerja ibu, memberikan pijat oksitosin untuk melancarkan LDR (let down reflex atau proses keluarnya asi), membuat ibu senang dan tenang (dengan cara memberikan tas LV, banyak camilan enak dan pujian) adalah bentuk dukungan terbaik. Suami adalah support system terbaik yang bisa dimiliki seorang ibu menyusui. Lagipula, anaknya kan anak bersama, maka mengurusnya juga harus bersama-sama.

Saya benar-benar berharap bisa memberikan Reina asi hingga dia 2 tahun. Memang kadang ada saja ibu-ibu yang produksi asinya berhenti sebelum 2 tahun, alasannya bisa banyak, but until then, I’ll keep my fingers crossed. 🙂 Wish me luck! Untuk ibu-ibu pejuang asi lainnya, yang sekarang sedang berjuang menyusui buah hatinya, tetap semangat dan jangan putus asa. Jangan ragu untuk meminta saran ke dokter laktasi jika ada keraguan atau pertanyaan. Jangan biarkan masalah menyusui berlarut-larut tanpa dicari solusinya. At the end of the day, breastfeeding does and will get better! 💪

Gambar bonus, Reina si bayi asi. 👆

Cheers,

Haura Emilia

Catatan:

Kolostrum: cairan asi yang keluar pertama kali setelah bayi lahir, warnanya kekuningan dan kental.

IMD: Inisiasi Menyusui Dini. Pemberian asi segera setelah bayi lahir, biasanya 30 menit-1 jam setelah bayi lahir.

Iklan

Lika-Liku Orang Tua Baru Part 1: Team Work Ayah dan Ibu

Catatan: Tulisan ini adalah bagian pertama dari seri “Lika-liku orang tua baru” yang menceritakan kehidupan saya setelah menjadi orang tua. Di bagian pertama ini saya akan menjawab pertanyaan keluarga dan teman yang sering bertanya bagaimana caranya kami bertahan mengurus bayi dan rumah tanpa ART sambil tetap bekerja mencari nafkah. Di postingan-postingan berikutnya saya akan menulis tentang ibu menyusui dan ayah asi, baby blues dan post partum depression, tumbuh kembang bayi, vaksinasi dan topik-topik terkait kehidupan orang tua baru lainnya. Saya menulis seri ini agar kelak putri kami bisa membaca memoir tentang bagaimana dia dibesarkan. 🙂

“However pragmatic you are, it is very demanding being a new parent.”

-Robert Winston-

Indeed. Being a new parent is VERY demanding. Paling tidak itu yang saya rasakan sejak kelahiran putri pertama saya. Saya berusia 32 tahun ketika putri saya lahir. Saya menghabiskan paling tidak 10 tahun untuk berpikir dan mempertimbangkan sebelum memutuskan untuk memiliki anak. Benar, punya anak sebenarnya tidak pernah jadi prioritas dalam hidup saya. Saya tipe perempuan yang juga tidak begitu ‘kebelet’ menikah dan memilih untuk menjalankan hidup mengikuti arus saja. Jika bertemu orang yang tepat maka saya akan menikah dan punya anak. Jika tidak ya sudah, saya bisa melakukan hal lain, misalnya mengejar karir atau sekolah sampai mentok, bekerja sampai tua, dan keliling dunia.

Sepuluh tahun sejak lulus kuliah akhirnya saya punya anak. Waktu itu saya pikir 10 tahun adalah waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri untuk menjadi orang tua. Dan karena saya kala itu berusia 30 tahun dan suami saya 33 tahun, saya pikir kami (paling tidak saya, deh) sudah siap secara mental untuk memiliki anak. Saya sudah bisa membayangkan lelahnya mengurus bayi, hilangnya kesenangan-kesenangan kecil yang sebelum punya anak biasa dinikmati, dan berubahnya pola hidup sehari-hari, di mana siang menjadi malam dan malam menjadi siang. Saya sudah siap. At least I thought I was. Pada kenyataannya, tidak ada yang benar-benar bisa menyiapkan kita untuk menjadi orang tua baru. Menjadi orang tua baru hanya baru benar-benar bisa dipahami setelah menjalaninya sendiri. Menjadi orang tua baru bisa menjadi lebih sulit dari yang kita bayangkan.

Satu hal yang saya pelajari dari menjadi orang tua baru adalah pasangan memerlukan team work yang luar biasa kuat agar parenthood bisa berjalan, anak tumbuh sehat dan kedua orang tua tetap waras. Sebelum punya anak, saya dan suami hanya tinggal berdua dengan tiga ekor kucing kami. Kami tidak punya asisten rumah tangga dan jauh dari orang tua, jadi kami terbiasa melakukan semuanya sendiri. Suami saya pernah lumayan lama tinggal di luar negeri, saya pun pernah menjalaninya walau hanya dua tahun. Pengalaman ini membuat konsep ART dan babysitter menjadi asing bagi kami. Dalam konsep rumah tangga kami, segala sesuatu dilakukan berdua. Kalau benar-benar perlu bantuan orang lain baru nanti dicari solusinya. Kami biasa membagi rata pekerjaan rumah tangga. Misalnya, suami saya bertanggung jawab membersihkan lantai bawah, saya handle lantai atas.

Ketika putri kami lahir, otomatis tanggung jawab kami bertambah. Sekarang ada satu bayi yang harus diurus. Sebagian besar waktu saya habis dengan menyusui si newborn. Bayi baru lahir menyusui dengan pola on demand, kapan saja, di mana pun, sebanyak dan sesering yang dia inginkan. Awalnya saya merasa kewalahan, pekerjaan rumah bagian saya tidak terpegang karena saya fokus dengan si bayi. Sementara suami saya sudah kembali bekerja setelah cuti 2 minggu.

Meskipun saya dan suami bekerja dari rumah (tidak perlu ngantor), pekerjaan kami membutuhkan fokus dan konsentrasi penuh sehingga tidak bisa disambil. Kalau sedang bekerja ya bekerja saja. Suami saya harus disiplin dan pintar-pintar membagi waktu antara bekerja, membantu mengurus si bayi, dan memberi makan kucing. Berhubung porsi beres-beres rumah saya berkurang, tugas yang tadinya bagian saya mau tidak mau pindah ke dia.

Lantas bagaimana cara kami mengatur waktu, membagi-baginya untuk bekerja, membersihkan rumah, mengurus bayi, dan memberi makan kucing? Jawabannya tidak mudah, namun mungkin dilakukan dengan memutar otak sedikit. Di sini lah kerja sama tim menjadi sangat penting. Kata kuncinya adalah mengotomatisasi pekerjaan rumah, menyederhanakan pola hidup, bersikap fleksibel, mengatur waktu dan metode belanja, serta disiplin dengan jadwal bayi.

Pertama, kami memutuskan untuk mengotomatisasi sebanyak mungkin hal untuk mengurangi beban kerja rumah tangga. Baju kami cuci dengan mesin. Kami juga membeli robot vacuum yang bisa menyapu sekaligus mengepel ruangan. Tidak murah, namun tetap lebih hemat dari menggaji ART (yang toh juga sulit dicari) selama 8 bulan (menurut standar kota tempat saya tinggal, Solo). Robot ini hemat listrik, hanya perlu 70 watt untuk mengisi dayanya sampai penuh (bisa membersihkan seluruh rumah dan masih sisa powernya). Robot ini bisa diatur jam berapa mulai bersih-bersih dan bisa dikendalikan lewat aplikasi di smartphone. Kita juga bisa memeriksa status pekerjaan dan sisa daya baterai si robot lewat aplikasi tersebut. Berikut penampakan robotnya:

Kedua, kami menyederhanakan apa yang kami bisa, misalnya soal memasak dan makan. Karena nyaris tidak ada waktu memasak, kami terpaksa membeli makanan atau jika ada waktu sedikit untuk memasak saya akan memasak makanan yang sangat sederhana seperti ayam goreng dan sayuran rebus/kukus. Modal peralatan masak saya hanya air fyer, fuzzy rice cooker, dan panci kukus. Menggoreng tanpa minyak sangat mudah, praktis dan lebih sehat dengan menggunakan air fryer. Sederhananya, berbagai jenis protein yang sudah dibumbui sebelumnya hanya tinggal ‘dilempar’ ke dalam air fryer, dan segala jenis sayuran hanya perlu direbus atau dikukus. Kami makan tanpa mengeluh dan menikmati saja apa yang ada. Kalau bosan saya biasanya masak makanan yang tidak kalah mudahnya dibuat seperti sandwich atau pasta. Mau lebih gampang lagi? Tinggal beli di luar atau pesan GoFood. Hehe.

Penyederhanaan lainnya berupa pilihan pakaian yang bahannya tidak perlu disetrika. Kami mengusahakan hanya memakai pakaian-pakaian yang tidak mudah kusut sehingga kami tidak perlu menyetrika. Jasa laundry kiloan memang lebih praktis, tapi kami tidak mungkin memercayakan perawatan baju bayi di laundry kiloan. Lagi pula, menurut keterangan di label baju bayi, rata-rata pakaian sehari-hari bayi tidak perlu disetrika. Hanya perlu dicuci mesin (atau tangan) dengan detergen khusus dan dikeringkan.

Ketiga, kami sepakat untuk bersikap fleksibel terkait pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak. Siapa pun yang sempat akan mengerjakan pekerjaan rumah atau memegang bayi. Misalnya, kalau waktu saya yang agak luang, saya yang akan mencuci pakaian. Kalau suami sedang main dengan bayi dan si bayi poop maka dia yang akan mengganti popoknya. Di malam hari pun kami bergantian mengganti popoknya. Siapa saja yang sempat membersihkan kamar mandi atau mencuci piring akan melakukannya. Tidak perlu tunggu-tungguan atau berharap yang lain yang akan mengerjakan.

Gambar: Baba memandikan dan memakaikan baju Reina.

Keempat, kami mengatur waktu dan metode belanja dengan jadwal dan metode yang menurut kami paling efektif dan efisien. Kami berbelanja grocery seminggu sekali, biasanya di hari yang sama. Karena waktu di pagi hari sudah habis untuk sarapan, beres-beres rumah, menyusui dan memandikan bayi, belanja otomatis hanya bisa dilakukan setelah magrib, sesudah si bayi terlelap. Biasanya yang pergi belanja adalah saya, karena suami biasa bekerja sampai malam. Jadi, suami bekerja sambil menjaga anak di rumah, sementara saya pergi ke pasar swalayan untuk belanja. Berhubung bahan makanan yang kami perlukan sangat simple dan tidak membutuhkan banyak bumbu, saya tidak perlu belanja ke pasar tradisional (yang toh tidak buka di malam hari).

Untuk belanja keperluan bulanan bayi seperti pospak dan perlengkapan mandi, saya membelinya dengan cara online. Selain lebih murah, dengan belanja online saya tidak perlu ke luar rumah. Hemat tenaga, waktu, ongkos dan tentunya lebih ramah lingkungan (tidak perlu naik kendaraan berbahan bakar).

Kelima, kami berusaha selalu disiplin dengan jadwal bayi. Kami memandikan Reina di jam yang hampir sama setiap hari, pagi dan sore. Mulai pukul 18.30 kami meredupkan lampu kamar dan melakukan aktivitas dengan suara seminim mungkin untuk mengajarkan bayi perbedaan siang dan malam dan memudahkannya tidur. Oh iya, kami tidak punya TV di dalam kamar. TV hanya ada di ruang keluarga dan itu pun jarang kami nyalakan. Hasilnya, Reina selalu sudah terlelap sekitar pukul 19.00. Dia baru bangun lagi untuk menyusu sekitar pukul 23.30. Ya, Reina sudah bisa tidur pulas 4.5 – 6 jam tanpa bangun atau gelisah sejak umur 2 bulan. Kami berusaha disiplin dan mempertahankan rutinitas ini agar kami berdua juga bisa beristirahat di malam hari dan tetap waras setiap harinya. 😹

Membesarkan anak sambil tetap mencari nafkah tanpa bantuan orang tua, mertua, saudara dan ART memang tidak mudah, namun ini bukanlah hal yang tidak mungkin. (Tapi perlu diingat bahwa ini mungkin hanya berlaku jika anak Anda hanya atau baru satu orang. Kalau lebih tentu lain lagi ceritanya.) Dengan manajemen waktu yang efisien dan disiplin, kami berdua sejauh ini berhasil menjalaninya. Saya bahkan masih sempat riset soal tumbuh kembang bayi, menulis blog, dan mengupdate Instagram serta status Whatsapp, khas gaya ibu milenial 😂 (biasanya saat si bayi tidur).

Cheers,

Haura Emilia