Hyperemesis Gravidarum: Pregnancy Gone Bad

Malam itu saya terbangun untuk yang ke sekian kalinya. Dada saya terasa terbakar, lidah terasa pahit dan saya bisa merasakan asam lambung naik ke tenggorokan. Rasa mual menjalar lebih cepat dari yang saya harapkan. Dengan mata mengantuk dan kepala sakit, saya menyeret kaki ke toilet. Dalam hitungan detik saya memuntahkan seluruh isi perut saya, yang tidak lebih dari cairan kuning ke dalam toilet bowl. Dada saya masih sakit dan tenggorokan saya terasa terbakar. Itu adalah muntah saya ke-8 kalinya hari itu. Saya duduk di hadapan toilet dengan wajah setengah masuk ke lubang, lalu saya menangis terisak. Saya merasa sangat lelah, lemas, marah, dan putus asa. Sebagian dari diri saya menyesali mengapa saya harus hamil dengan kondisi seperti ini. Sebagian diri yang lain menyesali kehamilan itu sendiri.

Di tengah banyak penyesalan tersebut, saya merasa takut setiap kali malam tiba. Saya takut menghadapi esok hari karena saya tahu hal yang sama akan terulang lagi. Besok saya akan muntah-muntah hebat lagi. Kala itu, saya sedang hamil 8 minggu.

Hampir semua perempuan yang saya kenal mengatakan bahwa hamil adalah masa-masa paling indah dalam hidup mereka dan bahwa memiliki anak adalah hal paling membahagiakan dalam hidup. Mereka bercerita dan menceramahi saya bahwa mual muntah adalah hal yang biasa selama hamil. Perempuan harus kuat, tidak boleh mengeluh, tidak boleh mengutuk, tidak boleh bermuram durja. Tidak sedikit pula yang coba menasihati saya untuk minum obat ini itu, jamu ABC, pergi ke dokter XYZ, dan membaca doa serta mantra. Mereka mungkin lupa atau tidak sadar bahwa pengalaman kehamilan seseorang berbeda-beda, tidak ada yang sama. Dan hanya karena kehamilan mereka terasa ringan dan nyaris tanpa masalah, bukan berarti hal yang sama dialami perempuan lainnya.

Ketika saya curhat ke dokter kandungan bahwa saya muntah paling sedikit 4x sehari dan maksimal 8x sehari, dengan rata-rata 6x sehari, tanggapan beliau adalah “Biasa, itu biasa. Tidak apa-apa.” Hell yeah, saya merasa kesal. Tentu saja tidak apa-apa buat Anda, Pak. Anda laki-laki. Sehebat apa pun ilmu Bapak, Bapak tidak akan pernah tahu rasanya hamil. Saya hanya mengharapkan sedikit rasa simpati (atau pura-pura simpati pun tidak apa). Itu akan sangat membantu berhubung semua obat mual yang Anda berikan tidak ada yang mempan.

Saya tidak pernah didiagnosis dengan Hyperemesis Gravidarum (HG). Tapi adik saya pernah. Apa itu HG? HG adalah kondisi yang dalam level lanjut bisa mengancam nyawa ibu hamil karena jumlah muntah yang berlebihan (ada sumber yang mengatakan lebih dari 6x sehari). Pada kasus adik saya yang 2x mengalami HG, adik saya muntah 15-20x dalam sehari sampai bulan ke-5 masa kehamilannya. Apa pun yang dia konsumsi, air mineral sekali pun, akan langsung dia muntahkan. Jarak terlama antara 1 muntah ke muntah lainnya kadang hanya 10 menit. Karena sangat sedikitnya makanan dan cairan yang masuk, pada kehamilan pertamanya, adik saya turun berat badan sebanyak 7 kilogram. Sekadar info, adik saya tingginya 168 cm dengan berat badan sebelum hamil hanya 51 kg, maka setelah turun berat badan, bobot adik saya hanya tinggal 44 kg. 168 cm, 44 kg, dan hamil. Silakan bayangkan sendiri kondisi adik saya.

Pada kehamilan kedua, adik saya tidak bisa lagi pergi ke kantor karena dia terlalu lemah dan sakit untuk berjalan. Dia sempat dirawat di RS dan satu-satunya yang membuat kondisinya lebih baik adalah infus. Tidak satu pun obat yang diberikan manjur. Dia tetap muntah-muntah hebat. Tubuhnya menjadi lemah karena rendahnya kadar glukosa dan kalium dalam tubuh. Hal ini diperparah dengan stres karena tidak bisa bekerja dan karena dia punya balita di rumah.

Sayangnya, rekan-rekan di kantor dan atasannya tidak banyak membantu. Kebanyakan hanya bertanya dengan nada tidak percaya, “Separah itu, ya?”. Yang lebih menyebalkan lagi, banyak juga rekan kerja perempuan yang berkomentar, “Dulu gue hamil gak begitu, tuh.” Seakan-akan mereka berbagi gen dan punya kondisi tubuh dan riwayat kesehatan yang sama persis.

Dia sering menelepon saya dan menangis selama masa-masa ini. Ketika saya hamil dan mengalami kondisi yang mirip (dengan tingkat keparahan yang lebih ringan), saya gantian menelepon dia dan menangis. Kami tahu rasanya. Kami tahu rasanya melihat perut yang rata (trimester pertama perut belum membesar), tidak terlihat hamil, tapi mengalami kondisi yang sangat berat. Kami tahu bagaimana rasanya memeriksa kalender setiap hari dan menghitung hari untuk mengetahui usia kandungan. Berharap badai akan segera berlalu. Kami tahu rasanya saat rasa lapar menyerang dan perut terasa diiris-iris, namun nafsu makan sama sekali nol, dan ketika memaksa makan, apa pun yang masuk akan langsung keluar. Kami paham rasanya marah dan bertanya-tanya apakah kehamilan kami layak dipertahankan. Is this worth it? Why should I go with it? Why am I doing this to myself?

Kondisi fisik dan situasi yang ada selama masa-masa sulit ini membuat penderita HG mudah terjebak dalam stres dan depresi berkepanjangan. Dalam kasus kami, saya dan adik saya sering sekali menangis keras atau pun diam-diam (ketika tenaga sudah tidak ada lagi).

Saya dan adik saya bukan perempuan lemah. Kami besar dalam kondisi yang tidak mudah, dalam lingkungan yang serba keras. Saya sendiri pernah sakit waktu saya tinggal sendiri di negeri orang dan harus dioperasi sendirian, tanpa ditemani keluarga. Apakah saya menangis kala itu? Ya, tapi tidak separah saat saya hamil.

Adik saya bukan perempuan cengeng. Dia tidak takut sama sekali saat giginya dicabut dengan metode bedah waktu SD. Dia tidak menangis meraung saat harus menjalani operasi payudara karena mastitis. Saya dan adik saya sangat tegar saat ayah kami dalam kondisi kritis dan dokter memprediksi usia beliau tidak akan lama lagi. Saya sangat tenang dan waras saat ayah saya meninggal. Saya tidak berteriak, saya tidak marah.

Tapi ketika saya hamil sampai usia kehamilan 20 minggu, semua hal-hal tidak menyenangkan dan sakit rasanya saya alami. Saya merasa begitu putus asa dan menderita. Yang lebih menyedihkan adalah saya dan juga adik saya harus berpura-pura kuat dan tegar, agar tidak dibilang cengeng. Terpaksa mengamini semua komentar orang yang dengan enteng bilang, “Dinikmati saja lah.” Memang, lidah tidak bertulang.

So, I’ll say it here. My pregnancy sucks. It was so bad that I wanted to kill myself sometimes. There you go. Judge me. Satu-satunya pengobat duka saya adalah bercerita ke adik saya, orang yang paham betul apa yang saya alami. Orang yang, walaupun tahu betul bahagianya menjadi ibu, dengan jujur mengatakan “Pregnancy sucks. That’s the truth. At least for us.” Orang yang tidak berpura-pura bilang “hamil itu nikmat”. Orang yang tidak menasihati untuk bersabar.

Saya menulis ini bukan untuk curhat, tapi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat umum tentang Hyperemesis Gravidarum. Jika Anda atau istri atau orang yang Anda kenal mengalaminya, ketahuilah bahwa mereka tidak butuh nasihat, tidak ingin disuruh bersabar, tidak mau diharapkan untuk berpura-pura kuat. Mereka hanya butuh didengarkan tanpa dihakimi. Mereka hanya butuh dipeluk dan digenggam tangannya. Tentu akan lebih baik jika ada orang yang bisa membantu mereka masak atau membelikan makanan, apa pun yang mereka mau. Mereka bukannya manja, bukan suka mengeluh, bukan sekadar ngidam. Hyperemesis Gravidarum is real and it’s a life-threatening condition. Belum ada obatnya (correct me if I am wrong). Penderitanya berada dalam masa di mana hidup terlalu berat untuk dijalani sendirian, tanpa orang-orang yang percaya, mau berusaha mengerti dan mendengarkan.

Cheers

Haura Emilia

Note:

I don’t own the images above. Contact me for removal.

Further reading:

http://parenting.firstcry.com/articles/hyperemesis-gravidarum-causes-symptoms-treatment/

Iklan

Perempuan Perkasa dan Lelaki Bertangan Besar

Belakangan ini peran saya sebagai perempuan bertambah satu: menjadi seorang ibu. Sebelum Reina lahir ke dunia, saya sebenarnya cukup menikmati peran saya sebagai seorang perempuan, seorang anak, seorang istri, seorang kakak, seorang profesional di dunia kerja, dan seorang warga negara.

Berbagai peran tersebut saya jalankan sebaik-baiknya dan cara saya memainkan peran tidak lepas dari didikan ibu saya.

Ibu adalah seorang perempuan perkasa. Ibu adalah dokter, chef, financial manager, dan guru bagi anak-anaknya. Ketika saya lapar, ibu adalah chef terbaik di dunia. Ketika saya sakit, ibu adalah dokter yang paling memahami saya. Pelukan dan cinta ibu adalah obat paling ampuh. Ketika saya harus pergi sekolah, ibu dengan sigap mengayuh sepeda mengantarkan saya ke sekolah. Sosok ibu yang mengayuh sepeda tampak seperti atlet olympiade di mata saya. Ibu juga financial manager andalan keluarga kami. Dengan penghasilan ayah sebagai guru yang tidak seberapa, entah bagaimana ibu bisa mengelola keuangan dan mengirim anak-anaknya hingga bangku S2.

Ketika kami akhirnya mampu membangun rumah kami sendiri, ibu menjelma jadi seorang arsitek andal, yang bisa mengubah sedikit pundi uang menjadi bangunan beratap yang kami sebut rumah. Ibu tahu persis setiap detail bangunan dan instalasi listrik. Ibu juga tahu proses pemasangan pompa air dan bisa mendeteksi jika ada kebocoran. Ketika atap rumah bocor, dengan cepat ibu bertindak dan memanggil tukang untuk memperbaikinya. Kalau saja ibu tidak takut memanjat, mungkin ibu akan memperbaikinya sendiri. Pendek kata, ibu adalah sosok wonder woman di mata kami anak-anaknya.

Sayangnya, seberapa hebatnya pun ibu, bagi banyak orang, ibu ‘hanyalah‘ perempuan, sekadar pelengkap yang bergantung kepada laki-laki, yakni ayah saya. Tidak sedikit yang berpikir bahwa ibu akan hancur tanpa ayah. Jarang ada yang melihat ‘mahkota’ di kepala ibu. Tidak banyak yang menyadari atau mau mengakui bahwa ibu adalah sesosok manusia tangguh dengan atau tanpa lelaki. Jarang ada yang mengakui semua kehebatan ibu tanpa memuji-muji ‘keberhasilan’ ayah dalam ‘mendidik’ sang istri. Semua kepandaian dan kecerdasan yang menjadi mahkota ibu, pupus dan saru, tertutup pesona dan dominasi laki-laki, karena ia adalah perempuan.

Banyak perempuan-perempuan hebat seperti ibu yang memilih untuk menyembunyikan atau bahkan melepas ‘mahkotanya’ (baca: harga diri, segala kepandaian dan kemampuannya), demi bisa diterima oleh atau berada di posisi yang lebih rendah dari laki-laki.

Sebut saja Luisa, rekan kerja saya waktu mengajar dulu, dia berhenti mengajar atas permintaan suaminya. Luisa sedih, karena menjadi dosen adalah impiannya. Sang suami menolak memiliki istri yang bekerja karena istri ‘seharusnya’ ada di rumah, mengurus kasur, sumur, dan dapur. Luisa pun dengan enggan merelakan mahkotanya dan berhenti mengajar. Mengabdikan diri memenuhi ego suami, walaupun sesungguhnya penghasilan Luisa lebih besar dari sang suami.

Ada juga Bu Setiawan, tetangga saya dulu, yang terkukung dalam tradisi patriarki, merendahkan diri di hadapan suami dengan memasrahkan segala keputusan rumah tangga di tangan suami tanpa pernah sekali pun mengeluarkan pendapatnya. Dia menerima dengan pasrah ketika suami memutuskan bahwa mereka tidak akan memakai kontrasepsi dan punya anak sebanyak-banyaknya. Padahal Bu Setiawan jauh lebih tahu betapa sulitnya mengurus anak banyak. Bu Setiawan adalah perempuan yang pandai mengurus anak, rumah tangga, dan berdagang. Tapi itu semua tidak ada artinya di mata sang suami. Bu Setiawan tetap ‘hanyalah’ seorang perempuan, yang posisinya selamanya di bawah kuasa laki-laki. Bu Setiawan harus menyembunyikan mahkotanya yang berkilauan agar sinarnya tidak mengaburkan sosok sang suami. Dia sembunyikan sedemikian rupa agar sang suami selalu terlihat sebagai sang pemeran utama di panggung kehidupan.

Selama berabad-abad lamanya, Laki-laki adalah pemilik otoritas mutlak atas identitas, tubuh, dan moralitas perempuan. Perempuan menerima hal ini dengan atau tanpa menyadarinya. Dalam tradisi masyarakat kita, sangat sulit bagi laki-laki untuk menerima perempuan yang kapasitasnya setara atau bahkan di atas laki-laki.

Bahkan dengan kesadaran akan hal ini, saya sendiri pun terkadang lupa dan secara tidak sengaja memandang rendah kemampuan saya karena saya perempuan. Saya kesulitan membaca peta dan alih-alih belajar membacanya, saya berpikir “Hmm, ya sudah lah, perempuan memang payah urusan baca peta”. Atau ketika mobil mendadak mogok, saya merasa malas mencari tahu sebabnya. Alih-alih mempelajari buku petunjuk cara kerja mobil dan mekanisme mesinnya, saya memilih menyerahkannya kepada seorang laki-laki, entah itu kerabat laki-laki atau bapak saya.

Tanpa sadar saya sering mengamini nilai sosial yang mengatakan bahwa saya hanya ‘setengah’ dari laki-laki. ‘Mahkota’ yang selama ini saya bawa di atas kepala, sering kali saya turunkan. Saya merendahkan potensi diri dan mengangkat kapasitas laki-laki, untuk hal-hal yang seharusnya juga mampu saya lakukan.

Semua perlahan berubah ketika saya bertemu dengan laki-laki yang menjadi suami saya. Saat ini kami mengurus seorang putri kecil hanya berdua saja, tanpa bantuan ibu, mertua, asisten rumah tangga atau baby sitter. Selain mengurus bayi, kami juga merawat 3 ekor kucing dan melakukan pekerjaan rumah tangga. Suatu masa, ketika hari terasa sangat berat saya berkata kepada suami, “Terima kasih ya, Mas. I don’t know how I’ll do this without you”. Dia pun membalas, “Bisa, kamu pasti bisa. Kamu kan perempuan yang pintar dan kuat”. Sesaat saya termenung, berusaha mencerna kata-katanya. Lalu saya mengerti satu hal.

Tidak seperti kebanyakan laki-laki lain, dia menerima dan mengakui kemampuan dan potensi saya. Dia tidak melihat saya sebagai sosok yang lebih lemah dari dirinya, hanya karena saya perempuan dan dia laki-laki. Saya tidak perlu menurunkan atau menyembunyikan mahkota saya. Saya tidak perlu bersembunyi di belakang bahunya. Saya bisa menjadi diri sendiri dan terus mengembangkan potensi dan mengasah kemampuan.

Saya melihat ke sekeliling. Ada begitu banyak perempuan-perempuan hebat. Yang ‘terlalu’ cantik, ‘terlalu’ kuat, ‘terlalu’ hebat, yang merasa harus menyembunyikan sinarnya agar berada di bawah laki-laki, demi memenuhi ‘kodrat’ sebagai perempuan, demi diterima oleh keluarga dan masyarakat, demi hidup ‘tenang’ tanpa rasa takut menjadi sendiri hingga tua karena dijauhi laki-laki. Untuk perempuan-perempuan hebat ini, saya berharap mereka akan terus memakai mahkota mereka dan berjalan dengan tegap, tanpa rasa takut. Karena sesungguhnya yang mereka butuhkan bukanlah mahkota yang lebih kecil. Yang mereka butuhkan adalah lelaki dengan hati dan tangan yang lebih besar.

Cheers,

Haura Emilia

Catatan: Tulisan ini terinspirasi dari tulisan berikut:

Dear Woman,
Sometimes you’ll just be too much woman.
Too smart,
Too beautiful,
Too strong.
Too much of something that makes a man feel like less of a man,
Which will make you feel like you have to be less of a woman.
The biggest mistake you can make
Is removing jewels from your crown
To make it easier for a man to carry.
When this happens, I need you to understand
You do not need a smaller crown—
You need a man with bigger hands.

Michael Reid