Balada Mencari SpOG di Kota Solo

“While it may seem like a trivial matter, the doctor-patient relationship is actually one of the most intimate and important relationships there is.”

-Jon Bonnet-

Disclaimer: Tulisan ini murni pendapat pribadi saya yang telah saya usahakan seobjektif mungkin. Ekspektasi dan penilaian saya bisa jadi sangat berbeda dengan pembaca sekalian. Satu lagi, jangan menggunakan tulisan saya sebagai referensi medis. Saya bukan dokter. Silakan kontak dokter masing-masing untuk menanyakan masalah medis Anda. Jadilah pembaca yang cerdas. 🙂

Bagi sebagian perempuan hamil yang tinggal di kota-kota di Indonesia, mencari dokter kandungan yang tepat mungkin bukan masalah serius yang harus mendapatkan perhatian ekstra. Malah ada juga yang memilih pergi ke bidan. Ini sah-sah saja. Namun, bagi sebagian lainnya, terutama calon ibu-ibu millenial dengan latar belakang tingkat pendidikan yang cukup tinggi, mencari dokter kandungan (SpOG) yang tepat adalah hal yang sangat penting. Paling tidak, buat saya ini masalah penting dan serius.

Bagaimana tidak? Dokter kandungan idealnya adalah ‘sahabat’ ibu hamil yang, kalau bisa, mendampinginya selama 9 bulan penuh hingga waktunya melahirkan. Untuk ‘bersahabat’ dengan seseorang dalam jangka waktu yang lumayan lama, sudah tentu kita memerlukan kecocokan. Dokter ini nantinya akan memeriksa kandungan kita setiap bulan, memberikan masukan dan saran medis, menentukan resep obat/vitamin yang akan kita minum, diharapkan akan menemukan ‘kelainan’ pada kandungan atau janin kita (jika ada masalah), hingga menegakkan diagnosis apakah kita bisa melahirkan secara spontan (vaginal birth) atau harus melalui operasi sesar (c-section).

Sebagai orang yang baru tinggal di kota Solo selama 2 tahunan dan belum memiliki teman, saya tidak punya ide sama sekali soal proses, tempat, dan dokter spesialis kebidanan di kota Solo. Insting pertama saya tentu bertanya kepada Mbah Google. Sayangnya, belum banyak informasi mengenai dokter kandungan dengan kriteria yang saya inginkan. Forum ibu hamil di Solo kebanyakan isinya obrolan para ibu tentang dokter kandungan yang pernah mereka temui atau membantu mereka melahirkan. Karena forum ini sifatnya tidak formal dan terdiri dari kumpulan ibu-ibu netizen dengan latar belakang sosial ekonomi serta latar belakang pendidikan yang sangat beragam, rata-rata pendapatnya sifatnya subjektif, konversasional, tidak lengkap, terkadang irasional, dan sering kali asumtif. 😄

Saya pribadi menginginkan dokter yang komunikatif, tidak pelit informasi, tidak malas menjelaskan, rasional, fokus pada bidangnya saja (dunia medis), dan kalau bisa antreannya tidak panjang. 😂 Nah, berhubung saya banyak maunya (lol), saya sempat shopping (baca: gonta-ganti) dokter kandungan sebanyak 5x! Dalam tulisan ini saya tidak akan membeberkan semua nama dokter tersebut, untuk menghindari tuduhan ‘pencemaran nama baik’ atau masalah lain di kemudian hari (walaupun saya sama sekali tidak ada maksud menjelekkan siapa pun, ya). Saya akan memberikan inisialnya saja. Buat yang penasaran nama asli dokternya bisa menghubungi saya via email atau direct message di sini.

Oke, mari kita mulai balada pencarian dokter SpOG di kota Solo.

Dokter pertama yang saya temui adalah Dokter DK. Dokter ini termasuk jajaran dokter kandungan paling senior di Kota Solo. Beliau praktek di 2 RS swasta terkenal dan 1 apotek yang merangkap tempat praktek dokter di daerah Solo Baru. Cukup lama saya berkonsultasi dengan beliau, berhubung saya juga mengikuti program hamil dengan beliau sampai akhirnya berhasil 1 tahun 2 bulan kemudian. Perlu dicatat bahwa saya berumur 32 dan suami berumur 34 saat mengetahui bahwa saya hamil. Setelah hamil, saya terus berkonsultasi dengan beliau sampai umur kehamilan sekitar 3 bulan. Dokter DK orangnya sangatlah sabar, lemah lembut, baik hati, seperti kakek saya sendiri. Serius. Beliau juga sangat santai dan menenangkan ketika bicara dan menjelaskan. Bahasanya pun sangat santun. Tapi… beliau selalu memberikan obat dan vitamin yang harganya relatif mahal untuk ukuran kota Solo. Sekali konsultasi pasti lebih dari sejuta rupiah dengan tebusan resepnya. Ongkos konsultasi beliau (di apotek) sih tidak mahal, 150 ribu per kunjungan, sudah termasuk USG. Nah, sisanya yang mahal adalah obat plus vitaminnya yang seabreg-abreg.

Saya sebenarnya tidak keberatan dengan biayanya, karena saya besar di Jakarta dan pernah tinggal di Singapura yang biayanya dokter dan layanan kesehatannya berkali-kali lipat dari di Solo. Tapi…. akhirnya saya memutuskan untuk mencari dokter yang lain. Kenapa?

Jadi, di trimester awal kehamilan saya, saya termasuk yang kurang beruntung karena mengalami mual muntah parah 6x sehari, pusing, lemas, dan tidak bertenaga sama sekali (karena makanan sulit masuk), sehingga saya terpaksa bed rest. Pengalaman unik muntah-muntah ini mengajarkan saya bahwa untuk mengurangi muntah saya perlu makan sesering mungkin, kalau perlu sejam sekali dan harus makanan berat (baca: terutama karbohidrat dan protein). Metode ini berhasil untuk saya, lebih ampuh dari berbagai obat muntah yang diresepkan Dokter DK. Muntah-muntah saya berkurang jadi 3-4x sehari.

Masalahnya, metode ini bukannya tanpa efek samping. Karena banyaknya kalori yang masuk sementara saya bed rest alias tiduran doang selama 17 minggu pertama, berat badan saya melesat naik dengan mengerikan. Puncaknya, ada bulan di mana berat badan saya naik sebanyak 4 kilo!!! Saya sudah tentu stres. Bukan semata karena saya takut gendut, tapi karena saya tahu bahwa kenaikan berat badan yang drastis dan banyak berbahaya bagi kehamilan. Kenaikan bb yang tidak terkontrol berpotensi diabetes gestasional (diabetes selama masa kehamilan), bb janin yang terlalu besar sehingga mempersulit persalinan spontan (normal), serta masalah-masalah kesehatan lainnya pada ibu hamil (monggo digoogle sendiri ya, ibu-ibu).

Naah, saya kan curhat tuh sama Dokter DK soal bb saya yang melonjak drastis padahal baru trimester pertama. Apa jawabannya? “Oh, santai saja. Tidak ada batasan harus naik bb berapa selama kehamilan, 20 kilo atau 40 kilo boleh.” Saya bengong. Suami saya bengong. Abang mie ayam depan apotek bengong. Angin semilir berhembus. Lalu diganti jadi topan. Bumi luluh lantak. Dramatis abis. Hihi…*. Intinya, saya dan suami terkejut. Tanpa bermaksud sok tahu dan sok pintar, dengan segala kerendahan hati, semua buku dan literatur kehamilan yang saya baca (saya baca sekitar 4 buku kehamilan yang ditulis oleh SpOG) dan puluhan (kalau tidak ratusan) artikel medis di website luar negeri tepercaya, menyatakan bahwa berat badan yang naik drastis dan berlebihan TIDAK baik bagi kesehatan ibu dan janin. Kenaikan bb yang dianjurkan per bulan sebaiknya tidak lebih dari 2 kilogram, kecuali mungkin pada kasus tertentu di mana ibu hamil sangat kurus, kurang nutrisi, buruk gizi, atau kondisi lainnya. Bahkan untuk ibu dengan berat pra hamil di atas BMI normal (baca: obesitas) tidak disarankan naik bb di atas 7-9 kilo selama 9 bulan masa kehamilan.

Jadi, bagaimana mungkin Dokter DK menyuruh saya santai ketika bb saya naik bisa 4 kilo sebulan??? 😔 Bayangkan kalau naik 4 kilo sebulan selama 9 bulan kehamilan, saya akan berubah jadi sebentuk globe atau gym ball yang harus menyeret badan untuk sekadar pergi ke toilet. No thanks, Baby. Setelah beberapa kali konsul masih mendapat respons yang sama, saya pun memantapkan hati pindah ke dokter lain.

Dokter kedua yang saya jumpai adalah seorang dokter kandungan muda dengan tubuh gempal dan senyum yang sangat ramah. Beliau praktek di salah satu RS swasta terkenal di bilangan Jebres solo. Dilihat dari mukanya, rasanya umur dokter ini tidak jauh dari saya. Sotoy*. Hihi. Sebut saja namanya Dokter SS. Saya langsung to the point bilang kalau bb saya naik drastis dan saya khawatir kena diabetes gestasional, apalagi mengingat almarhum ayah saya meninggal karena komplikasi diabetes melitus. Anak dengan orang tua penderita diabetes punya risiko terkena penyakit yang sama, jadi harus hati-hati. Ternyata eh ternyata respons beliau tidak jauh dengan Dokter DK, katanya saya tidak usah cemas dengan kenaikan bb saya dan kalau saya mau tes darah (cek glukosa untuk tau saya kena diabetes atau tidak), dia akan mereferensikan saya ke internis. Lah… Kok bukan beliau saja ya yang ngasih saya surat rujukan ke lab? Kenapa harus ke internis? Kenapa saya harus pasrah jadi gendut? Kenapa saya disuruh makan sesuka hati saya tanpa rem? Kenapa tidak ada penjelasan yang memuaskan dari beliau walaupun saya sudah tanya? Kenapa Primus kawin sama Jihan Fahira?? Kenapa Mahfud MD gagal jadi cawapres Jokowi? Sungguh saya tidak mengerti.

Karena tidak sreg, saya meminta rekomendasi dokter lain kepada teman saya yang perawat dan kenal banyak dokter kandungan. Jadilah saya menemui dokter ke-3. Dokter ini rupanya sub-spesialis fetomaternal yang juga merupakan dokter ‘selebriti’ yang saking terkenalnya punya banyak pasien, antreannya panjang, dan dia tipe yang dicintai media massa. Serius, waktu saya mengantre beliau selama 2 jam lebih, tiba-tiba saja datang rombongan media dengan kamera yang mau mewawancara si dokter tampan dan masih muda ini. Sebut saja namanya Dokter AB. Beliau praktek di RSUD dan salah satu RS swasta terkenal di Jebres, Solo.

Setelah mendengarkan concern dan memeriksa saya dengan USG, wajah dokter ini berubah jadi khawatir. Beliau bilang plasenta saya “sobek-sobek” sehingga aliran makanan tidak lancar ke janin saya dan sekarang janin saya bb nya di bawah standar. Saya dan suami syok. Bayangkan, ini anak pertama kami dan usia kami bukan lagi 20an, plus butuh promil lebih dari satu tahun untuk mendapatkan anak ini. Lalu tiba-tiba tanpa tedeng aling-aling si dokter ini bilang kalau plasenta (ari-ari) saya “sobek-sobek”. Orang tua baru mana yang tidak syok, bukan? Apa tidak bisa diganti dengan istilah lain yang lebih menenangkan? Beliau lalu menyuruh saya melakukan tes GTT (Glucose Tolerance Test) untuk mengetahui apakah saya kena diabetes, tes darah rutin, dan tes ANA (antibodi) untuk screening apakah saya punya penyakit autoimun seperti Lupus yang bisa menghambat aliran asupan makanan dan oksigen ke janin.

Dengan perasaan kalut saya ke Prodia untuk tes. Ketika hasilnya keluar beberapa hari kemudian, saya kembali ke RS yang sama untuk menemui Dokter AB. Apesnya, suster RS salah menberikan jadwal dokter AB ke saya, sehingga ketika saya datang si dokter AB sudah pulang. 😩 Sementara, di jadwal hari berikutnya si dokter akan cuti dan belum tahu kapan kembali. Saya panik dong, padahal hasil tes saya saja belum sempat dibaca.

Setelah komplain ke pihak RS dan berunding dengan suami, kami memutuskan malam itu juga mendaftar ke dokter lain yang praktik di RS yang sama. Dokter yang ke-4 ini adalah SpOG biasa (bukan fetomaternal) yang sangat kebapakan. Sebut saja Dokter SB. Beliau sangat tenang dan santai. Beliau bilang hasil tes saya bagus, saya tidak kena diabetes dan tidak punya penyakit autoimun. Bb janin saya memang di bawah standar, namun masih bisa dinaikkan. Tapi, beliau tidak yakin apa yang dimaksud DR AB dengan plasenta “sobek-sobek”. Karena beliau bukan dokter fetomaternal, DR SB pun menyarankan saya untuk berkonsultasi ke dokter fetomaternal lain di RSUD Moewardi, Solo.

Jadilah saya ke Moewardi untuk konsultasi dengan fetomaternal lain. Kebetulan, saya bertemu dengan Dokter Wisnu Prabowo, SpoG, KFM. Dokter Wisnu adalah dokter senior (dilihat dari umur dan gelarnya). Pribadinya ramah, menenangkan, santai, sangat sopan, komunikatif, tidak pelit info, dan mau menerangkan panjang kali lebar. Beliau meyakinkan saya dan suami kalau saya baik-baik saja dan berat badan janin masih bisa ditambah. Beliau meresepkan protein dalam kapsul untuk membantu menaikkan bb bayi. Yang kerennya, beliau adalah dokter pertama yang menyarankan saya untuk mengawasi apa yang saya makan dan tidak naik bb lebih dari 2 kilo dalam sebulan. Gusti nu agung, akhirnya saya ketemu juga dokter yang cocok. 🤣 Yah, walaupun beliau dokter ke-5 sih… 😅

Sejak itu saya rutin ke Dokter Wisnu, janin saya berkembang baik dengan bb yang normal. Saya pun jadi bumil yang lebih rileks dan santai. Terima kasih, Dokter. 🙂

Nah, berhubung saya gak mau lahiran di Moewardi, saya terpaksa pindah ke RS lain dan menemui dokter yang baru sebelum bersalin. Mudah-mudahan dokter baru ini cocok, ya. Tapi ya sudah mau lahiran juga, kan (waktu postingan ini ditulis usia kehamilan saya 36 minggu). 😅 Semoga cocoklah, jadi balada pencarian dokter ini akan segera berakhir.

Selain ke-5 dokter yang sudah saya sebutkan di atas, saya juga pernah konsultasi sekali ke dokter lain. Dokter ini sukses bikin saya langsung ilfil karena beliau bertanya “Umur 32 kok baru hamil anak pertama?? Telat sekali.” Seakan-akan hamil di umur 32 itu semacam dosa besar. Ingin rasanya saya menjawab “Ya elah Dok, sekolah aja berapa lama coba? Begini-begini saya juga punya gelar master. Belum lagi bekerja. Gak semua orang punya privilage dapet orang tua kaya yang tidak butuh dukungan finansial dari anaknya. Saya dan suami itu bukan dari keluarga berada, Dok. Kami memilih menikah di usia ‘telat’ untuk ukuran orang Indonesia karena kami mau stabil dulu secara emosional, mental, dan finansial.” Tapiiii…. nanti kan kesannya saya baper kalau jawab begitu. Jadi demi kesopanan dan menjaga lisan agar tidak dianggap sombong, saya hanya tersenyum dan mengangguk, tak sepatah kata pun keluar dari mulut saya. Ya sudah, bye bye deh sama Pak Dokter yang ini. Saya gak balik lagi. 😆

Menurut saya dokter harusnya fokus pada menolong pasien saja dan fokus pada bidangnya (dunia medis), tidak usahlah mengurusi masalah moral pasien, keputusan dan jalan hidupnya, serta hal-hal yang tidak terkait masalah kesehatan dan well-being si pasien. Toh, para dokter juga tidak mau kan kalau ketemu pasien yang kepo dan kurang ajar nanya “Dokter kok gendut, sih? Katanya dokter.” atau “Dokter kok udah tua belum pensiun juga?” 😆

Terakhir, saya tegaskan bahwa saya sama sekali tidak punya hard feeling kepada dokter-dokter di atas. Saya tetap menghargai pendapat profesional mereka dan percaya mereka capable dalam bekerja. Ini cuma masalah kecocokan. Karena, sekali lagi, untuk mencari sahabat kita memerlukan kecocokan dan persamaan persepsi. 🙂 Peace.

Cheers,

Haura Emilia

Note: The image above was taken from here. Contact me for removal.

Iklan