Mencari Teman

Sore itu saya dan Mamat duduk-duduk di sebuah kedai gelato, di pinggir jalan kecil di daerah Manahan.

Sambil menyuap sesendok es krim yang mulai mencair, saya bertanya kepada Mamat.

“Alasan kamu dulu mau menikah apa?”

Mamat tertawa kecil.

“Ya, pengen nyari temen lah. Teman hidup.”

“Sama dong ya niat kita. Kayaknya lebih enak berdua daripada sendirian, walaupun gak ada yang salah juga sih kalau seseorang memilih untuk sendiri.”

Mamat mengangguk.

Ya. Mencari teman. Sesederhana itu alasan kami menikah. Tidak ada “grand plan” atau “rencana-rencana besar” seperti membentuk keluarga bahagia dengan jumlah anak sekian, yang nantinya bisa membantu perekonomian di hari tua, membuat keluarga besar senang dan bangga, mencari kisah cinta yang romantis, menaiki tangga sosial, apalagi hidup bahagia selama-lamanya a la Disney. Saya tidak bilang “grand plan” itu jelek, ya. Saya cuma bilang, itu tidak ada dalam agenda kami.

Teman yang kami maksud tentu bukan sekadar teman sekolah atau kuliah, bukan juga teman biasa yang hanya kita temui saat reuni atau libur lebaran. Teman yang kami cari adalah teman untuk berbagi suka dan duka, tempat untuk bersandar dan saling menguatkan, teman untuk berbagi kopi saat dunia terasa gelap dan seseorang lupa menyalakan lentera. Telinga yang mau mendengarkan bahkan saat dia sedang sibuk nonton tim favoritnya main di piala dunia.

Namun seperti semua teman yang pernah kita punya, teman hidup ini juga tidak sempurna. Dia mungkin saja tidak akan pernah mengerti kenapa saya bisa terserang depresi musiman. Saya mungkin saja tidak akan pernah paham kenapa dia sering mengigau dalam tidur, yang menurut dia adalah manifestasi atas kekhawatiran dan kecemasan-kecemasannya. Kami mungkin saja tidak akan pernah mencapai kata sepakat mengenai cara menjelaskan kepada anak kami di masa depan tentang apa yang terjadi setelah kematian. Tapi terlepas dari semua ketidaksempurnaan, paling tidak kami berharap untuk bisa mengandalkan satu sama lain untuk jadi teman terbaik dalam hidup.

Saya tidak tahu apakah kami berdua akan hidup bahagia sampai tua seperti ayah ibu saya. Atau malah jadi sepasang manusia yang berakhir membenci satu sama lain setelah begitu lama bersama (karena manusia berubah, hal-hal yang tidak diinginkan bisa terjadi). Yang jelas, saat ini kami masih menjadi sahabat terbaik bagi satu sama lain. Masih menjadi teman hidup yang saling mencintai pagi, siang, dan malam, bahkan di dalam marah dan kesedihan.

Satu cup gelato sudah kami habiskan berdua. Hujan turun rintik-rintik di luar jendela kaca. Dengan satu payung kami melangkah keluar dan jalan dalam diam. Saya tersenyum menatap bahunya. Ini saja sudah cukup.

 

 

Solo, 19 Juni 2018

Haura Emilia

 

 

 

Note: The image above doesn’t belong to me. Contact me for removal.

Iklan