Membangun Rumah Impian Sebelum Usia 30an

Salah satu orang yang menginspirasi saya, selain ibu, sejak jaman sekolah dulu adalah sahabat saya Nana*. Jauh sebelum saya berkenalan dengan Simone de Beauvoir*, Nana sudah mengenalkan saya pada konsep perempuan feminis tangguh yang memiliki kekuatan dan kapabilitas untuk menentukan nasib dan hidupnya sendiri.

Nana pernah bercerita bahwa sejak SD dia sudah bercita-cita memiliki rumahnya sendiri saat dia dewasa nanti. Bukan rumah warisan orang tua, bukan rumah pemberian suami, dan pastinya bukan rumah pemberian om-om yang menjadikannya istri kedua (please note that I have no grudge towards any istri kedua or om-om pemilik istri kedua). 😆 Jadi, dengan tekad yang bulat, Nana memutuskan untuk menabung sejak SD untuk membeli rumahnya sendiri.

Fast forward, di usia menjelang 20an akhir Nana berhasil membeli rumah pertamanya, sebuah apartemen di daerah Kemayoran. Plok plok plok. 👏👏👏 Nana berhasil melakukannya, tanpa bantuan orang tua dan laki-laki mana pun kecuali mungkin mas-mas bagian KPA di Bank (harap dicatat Nana masih single dan available 😄). Kala itu saya segera menyelamati Nana dan berharap saya segera menyusul ‘kesuksesan’ si uni-uni berhijab ini.

Singkat cerita, cita-cita Nana menginspirasi saya sejak jaman sekolah. Didukung dengan restu seorang ibu yang selalu mendorong saya untuk jadi perempuan mandiri, saya juga ingin punya rumah sendiri, rumah yang saya dapatkan dengan kerja keras dan keringat saya sendiri. Kalau bisa sebelum saya punya anak.

Lalu saya berpikir. Ok, cita-cita sudah ada. Sekarang, bagaimana caranya?

Seperti yang kita semua tahu, membeli rumah biasanya membutuhkan usaha, waktu, dan kerja keras yang tidak sedikit. Untuk kebanyakan rakyat biasa seperti saya, yang tidak ditinggalkan warisan apa-apa, dan tidak punya orang tua dengan kemampuan finansial untuk menghadiahi saya rumah ketika menikah, membeli rumah biasanya dilakukan ketika pasangan muda sudah menikah dan mulai memiliki karir yang lumayan serta tabungan untuk bayar DP. Tapi biasanya, ini bisa dilakukan setelah anak-anak (kalau punya anak) sudah mulai besar. Jarang ada pasangan muda dari kelas ekonomi menengah ke bawah yang bisa langsung membeli rumah segera setelah menikah.

Sebagai seorang lulusan S2 yang tidak punya banyak tabungan dan saat itu tidak terpikir untuk berdagang dan jadi pengusaha, kala itu saya berpikir bahwa untuk memenuhi cita-cita saya untuk menjadi perempuan mandiri dan membantu ekonomi keluarga adalah dengan bekerja di tempat yang bisa memberikan saya gaji yang lumayan besar. Di mana? Perusahaan swasta? Kedutaan? Saya memutar otak. Atau… Ya, saya bisa bekerja di luar negeri sebagai TKW tenaga kerja terlatih. Maka, di usia 26, saya memutuskan merantau dan bekerja di negeri orang. Keputusan saya bukannya tidak kontroversial untuk ukuran lingkungan keluarga saya, yang kebanyakan masih sangat tradisional. Beberapa mungkin berpikir saya sinting, karena bukannya menikah dan jadi istri yang baik, saya malah ‘ngabur’ dan jadi TKW. 😂

Saya pun akhirnya merantau selama 2 tahun. Dengan disiplin (dan tekad yang kuat untuk tidak melirik setiap melewati store Louis Vuitton dan Prada di Orchard road), saya berhasil menabung. Lumayan, bisa buat bayar DP apartemen atau rumah kecil di Jakarta. Begitu pikir saya.

Rupanya, Tuhan baik sekali kepada saya, si perantau miskin ini, karena selain tabungan Dia juga mempertemukan saya dengan orang yang menjadi suami saya sekarang. Di negeri orang, tempat kami sama-sama menjadi TKI. 😂 Syukurnya, dia orangnya juga pandai menabung dan tidak punya minat sama sekali terhadap designer stuff yang harganya sungguh merobek kantong. Dia tipe laki-laki yang walaupun bergaji dolar dan bertitle manager tetap beli baju di Matahari dan Pasar Klewer (no offence to Matahari dan Pasar Klewer lovers, saya juga salah satunya) atau paling banter di retailer luar yang harganya masih terjangkau semacam Uniqlo dan H&M.

Dengan kerja keras dan pengeluaran minimal , di usia 29 si laki-laki ini membeli rumah pertamanya di Solo. Tanpa KPR. Plok plok plok. 👏👏👏 Tambah satu lagi sumber inspirasi saya.

Ketika dia berumur 32 dan saya 29, kami menikah. Saya dan dia pun memutuskan untuk pindah ke Solo dan menempati rumah yang dia beli 3 tahun sebelumnya. Tabungan kami berdua sebagian besar habis untuk biaya menikah, honeymoon, dan mengisi rumah. Walaupun secara teknis saat itu saya punya rumah sendiri, saya tetap masih bercita-cita memiliki rumah yang saya dapatkan dari usaha saya sendiri, bukan rumah murni ‘nebeng’ suami. 😅 Sekarang hanya masalah waktu. Kapan ‘obsesi’ itu terwujud. Saya emang anaknya keras kepala kalau sudah ingin sesuatu. Haha. Saya ingin bilang ke ibu saya, “Bu, saya bisa, Bu. Hasil didikan ibu bisa menjadikan saya perempuan mandiri yang memiliki rumah sendiri.”

Semenjak kami pulang ke Indonesia, saya dan suami (yang saat itu masih berstatus pacar) bekerja sebagai penerjemah lepas. Sebuah pekerjaan yang dulu sama sekali tidak terpikir akan saya lakukan secara purnawaktu alias full time (silakan baca postingan-postingan lama saya tentang menjadi full time freelancer). Selama 2 tahun kami membangun portfolio dan menjaring klien dari berbagai belahan dunia. Sampai akhirnya kami punya pemasukan yang lumayan stabil. Pekerjaan ini kami lanjutkan setelah menikah.

Beberapa saat setelah kami menikah, bak jodoh takkan ke mana dan doa yang dijawab, kami berdua dipertemukan dengan seorang developer rumah di Solo yang menjual sebidang tanah dan rencana pembangunan rumah di daerah Manahan, Solo. Si developer berniat menjual tanah dan rumah (yang belum dibangun ini) dengan harga di bawah pasaran. Kenapa? Karena kala itu, tahun 2015, pasar properti sedang lesu-lesunya. Jual rumah sebiji saja terasa sangat sulit, terutama bagi developer kecil.

Setelah mengecek lokasi dan mati-matian negosiasi harga, kami berdua berhasil mendapatkan calon rumah kedua kami (secara teknis rumah kedua suami dan rumah pertama saya). Kali ini dengan sumbangsih dari saya, gabungan penghasilan kami berdua. Saya senang dan bangga sekali. Saya sampai ingin mencium tanah. Akhirnya, cita-cita masa remaja saya terwujud. Saya membeli rumah pertama saya, atas nama saya dan suami. Sebelum saya berusia 30. Mission accomplished. Dengan diiringi doa restu ibu bapak dan ninik mamak serta handai taulan, kami mendapatkan sebuah rumah baru dengan ukuran lebih besar sedikit dari rumah lama di lokasi yang sangat bagus di Kota Solo. Bagaimana dengan rumah lama? Rencananya akan dijual. Yang minat pindah ke Solo dan mencari rumah dengan budget 400-500 jutaan, monggo kontak saya. Nanti saya kasih bonus payung cantik dan sefie bareng. Ujung-ujungnya jualan.* Hihi.

Pesan dari cerita ini bukanlah mengajak teman-teman dan pembaca sekalian untuk menjadi TKI atau full time freelancer untuk bisa membeli rumah di usia relatif muda. Yang ingin saya sampaikan adalah, penting untuk memiliki cita-cita, visi yang jauh ke depan, rencana keuangan yang baik, dan eksekusi finansial yang tepat jika ingin memiliki rumah sendiri atau financial goal lainnya. Walaupun cita-cita remaja saya terdengar ambisius dan ‘ngawang’, toh pada akhirnya semua bermula dari titik itu. Dari harapan dan impian. Bayangkan kalau dulu saya nyerah duluan dan berhenti bermimpi.

Jalan saya dan suami mungkin ada di menjadi pekerja rantau dan kemudian pekerja lepas purnawaktu. Cara orang lain bisa jadi sama sekali berbeda. Apalagi dengan kemajuan teknologi seperti sekarang, mencari uang dan mendapatkan penghasilan yang layak bukan lagi monopoli profesi mapan tertentu seperti pengacara terkenal, CEO perusahaan multinasional atau selebriti. Beberapa orang menjadi sangat sukses dengan berjualan online, beberapa lainnya berhasil membangun start-up dan mempekerjakan banyak orang, sementara yang lain berhasil hijrah dan membangun karir di negeri seberang.

Yang jelas, jangan batasi kreativitas dan idemu. Sangat penting untuk “berpikir di luar kotak”. Misalnya, merasa kemampuan mentok di admin skills? Bukankah bekerja sebagai admin di perusahaan sekelas Apple sangat jauh penghasilannya dibanding dengan menjadi admin di perusahaan kecil atau malah warung tetangga? Padahal inti pekerjaannya sama, toh. Sama-sama mengurus tetek bengek administrasi. Apa yang membedakan? Soft skill, mindset, attitude dan kemampuan bahasa asing. Masih merasa kurang canggih? Ya, belajar dong. 🙂 Dan ingat, harga kopi di warkop dan Starbuck berbeda jauh, padahal sama-sama secangkir minuman hitam pahit penambah semangat. Sekarang kita yang menentukan, apa pun profesi dan skill yang dimiliki, mau jadi kopi di warkop atau di Starbuck. Dream, visualize, plan, and work smart. Rumah impian, atau apa pun itu, bisa terwujud.

Cheers,

Haura Emilia

Catatan:

*Nana: bukan nama sebenarnya. 😂

*Simone de Beauvoir: filsuf dan feminis Prancis

Iklan