Why I Write

writing

I write because to me writing is healing.

I write because writing is empowering.

I write because writing keeps me sane.

I write because I like to spend time to contemplate and elaborate my ideas in words.

I write because I know I do not know everything.

Writing makes me study and read things I didn’t know before.

I do not write to impress anyone.

I do not write to tell people that I am smart.

Nor do I write for everyone.

No. I do not write for everyone.

I do not write for people who dislike my writings or myself for unjustifiable personal reasons.

People are always free to leave my page.

Readers are free to agree or disagree with me.

People are free to leave a comment on my writings.

In the end, whatever you write defines who you are.

I write for those who understand or intend to understand my point.

I write for those who are open-minded and want to learn something new everyday.

So, mine might not be for you.

I write for those who enjoy my writings.

I write for those who find my ideas useful.

I write for good critics because I learn a lot from them.

I write to eternalize my thoughts in a time capsule called writings.

I write because it makes me think.

And I think therefore I am.

17 January 2017

Iklan

Cerita Perempuan: Obsesi Reproduksi

”It is not female biology that has betrayed the female…it is the stories and myths we have come to believe about ourselves.”

–Glenys Livingstone

“Kapan (punya anak)?”

“Kapan nyusul (punya anak)?”

Gak mau nambah satu (anak) lagi?”

Kok belum (hamil) juga?”

Udah ‘isi’ belum?”

“Makan kurma muda biar cepet (hamil).”

Sebagai seorang perempuan yang sudah menikah dan belum punya anak, saya mendengar pertanyaan-pertanyaan di atas paling tidak 50 kali dalam setahun. Bukan hanya dari keluarga terdekat, tapi juga dari orang-orang yang secara teori adalah ‘orang asing’ (baca: tidak punya hubungan kerabat) seperti tetangga, kenalan baru, temannya teman, sampai tukang sayur di pasar. Kalau mood saya lagi bagus, saya hanya akan tersenyum dan minta didoakan (jawaban standar yang rupanya akan membuat si penanya tampak senang). Kalau mood sedang tidak baik saya akan pasang muka datar dan diam. Parahnya, kadang orang-orang ini tidak puas hanya dengan bertanya. Mereka merasa harus memegang perut saya juga. Bayangkan sekarang ekspresi wajah saya waktu seorang ibu-ibu tak dikenal memegang perut saya dan bertanya udah isi atau belum? Eww… Awkward. Saya yakin muka saya merah padam, antara pengen kabur dan marah tapi gak enak. Tau kan kenapa? Saya harus jaga image. Hehe. Sebagai perempuan, saya diharapkan bermoral tinggi dan sopan.

Sebenarnya, ‘serangan privasi’ seperti ini bukan dialami oleh saya saja. Adik perempuan saya, seorang ibu beranak 1, mungkin juga sudah kenyang ditanya kapan punya anak kedua. Sahabat saya yang baik bernama Tika mungkin sudah gerah ditanya kenapa memutuskan punya anak 4. Rekan kerja saya yang sudah 7 tahun menikah mungkin juga sudah bosan ditanya kapan punya anak. Sebenarnya kita semua mungkin pernah menanyakan hal yang sama kepada perempuan lain. Namun, outputnya bisa jadi sangat berbeda jika yang menanyakan adalah orang terdekat seperti keluarga inti atau sahabat. Ketika orang asing atau tidak dekat yang bertanya, para perempuan seperti saya bisa jadi malah curiga bahwa si penanya sekadar kepo alih-alih benar-benar peduli.

Hamil. Kehamilan. Kelahiran bayi. Anak. Sebenarnya bukan hanya masyarakat kita yang terobsesi dengan rahim dan masalah reproduksi perempuan. Masyarakat di negara barat juga sama terobsesinya. Saat ini orang-orang di Hollywood sana sedang terobsesi dengan kehamilan Kylie Jenner. Sebelumnya, Beyonce mendapatkan lebih dari 10 juta likes untuk foto kehamilannya. Ya, peristiwa kehamilan Kylie Jenner menyita lebih banyak perhatian daripada kematian Osama bin Laden atau didirikannya Solar City dan SpaceX oleh Elon Musk. Media barat dan lokal heboh membahas semua detail kehamilan Jenner. Mulai dari kapan due date-nya, siapa bapak anaknya, penampilan fashionnya selama hamil, apa yang dia makan selama hamil, berapa kilogram kenaikan berat badannya, dst., dst.

Pertanyaannya sekarang adalah, mengapa kita begitu terobsesi dengan rahim dan kemampuan (atau ketidakmampuan) perempuan untuk bereproduksi?

Obsesi manusia terhadap rahim perempuan sudah dimulai sejak jaman Yunani kuno. Filsuf Yunani kala itu, seperti Plato dan Hipokrates, menganggap kehamilan dan ‘rahim yang bisa bergerak’ sebagai sebuah penyakit.1 Rahim perempuan diyakini sebagai kunci perbedaan mendasar antara laki-laki dan perempuan, baik secara fisik maupun mental. Bagi masyarakat Yunani kala itu, memiliki rahim dinilai sebagai sebuah kelemahan. Hal ini mempengaruhi pemikiran masyarakat ribuan tahun setelahnya yang melihat rahim sebagai sebuah penyakit fisik dan merupakan alasan di balik disfungsi psikologis perempuan.2Pada abad ke-16 hingga 20 di Eropa, perempuan hamil sering kali dikurung di dalam rumah.3 Ini karena masyarakat meyakini bahwa kehamilan adalah hal privat yang memalukan dan harus dijaga, tidak boleh diumbar ke publik. Tahun 1905, produsen pakaian Sears meluncurkan produk pakaian khusus kehamilan (maternity wear) yang serba longgar dan tertutup.4 Tujuannya adalah untuk menutupi perut perempuan hamil karena kehamilan masih dianggap hal yang tidak nyaman dan cenderung tabu untuk dipamerkan. Baru pada awal tahun 1970an masyarakat barat mulai nyaman dengan wacana kehamilan.5 Hal ini dipengaruhi salah satunya oleh gelombang feminisme ke-2. Tahun 1991, Demi Moore tampil di cover majalah Vogue dalam keadaan hamil, telanjang, dan terlihat menawan. Momen ini mengubah pandangan masyarakat barat (baca: AS) pada umumnya mengenai kehamilan. Kehamilan perempuan menjadi sesuatu yang dirayakan (sering kali secara berlebihan) dan mendadak seiring dengan popularitas cover tersebut muncul serangkaian standar ekspektasi moral dan fisik baru yang diatributkan kepada perempuan hamil.

Lalu masalahnya apa, Ra? Boten ngertos aku.

Pertama, obsesi masyarakat terhadap rahim dan alat reproduksi perempuan telah menjadi alat untuk mengobjektifikasi (baca: merendahkan status sebuah objek) perempuan. Masyarakat umum lebih suka membahas kehamilan perempuan dibandingkan karirnya. Orang kebanyakan juga lebih suka menanyakan jumlah anak seorang perempuan dibandingkan dengan latar belakang pendidikannya. Banyak dari mereka yang juga lebih suka membicarakan kemampuan perempuan untuk memproduksi anak dibandingkan kontribusinya terhadap keluarga dan masyarakat.

Adik perempuan saya adalah seorang perempuan karir yang juga pengusaha kecil-kecilan. Di tengah-tengah kesibukannya bekerja yang sangat menyita waktu, dia masih harus meluangkan waktu untuk menjadi seorang ibu. Betapa pun tingginya dia sekolah, hebatnya dia di kantor, dan pandainya dia berjualan, masyarakat sekitarnya tidak peduli dan tidak pernah bertanya bagaimana dia bisa membagi waktunya untuk anak dan keluarga. Kebanyakan juga tidak peduli dengan segala macam prestasi yang pernah diraih adik saya. Yang lebih dipedulikan dan ditanyakan orang-orang adalah kapan dia akan punya anak kedua.

Contoh lain, ketika saya berada di sebuah lingkungan yang baru dan orang tahu bahwa saya sudah menikah, pertanyaan pertama yang ditanyakan oleh ‘teman-teman’ baru ini adalah berapa orang putra yang saya miliki. Ketika tahu saya belum punya anak, pertanyaan berikutnya sudah ketebak. KAPAN saya punya anak. Seolah saya mahatahu kapan sperma dan sel telur bertemu. Seolah saya sudah pasti mau punya anak. Tidak ada yang menanyakan nama belakang saya (they were happy knowing my husband’s name only). Tidak ada yang bertanya profesi saya apa. Jadi tentu saja saya tidak mengharapkan mereka menanyakan latar pendidikan saya.

Seluruh eksistensi perempuan tereduksi menjadi mesin produksi anak semata. Ini yang saya maksud dengan objektifikasi perempuan. Ketika perempuan tidak mampu hamil (atau bahkan ketika sebenarnya si laki-laki yang infertil) maka pihak perempuan lebih cenderung disalahkan dan dianggap ‘menyedihkan’. Jika seorang perempuan terang-terangan mendeklarasikan bahwa dia tidak ingin memiliki anak, dia akan dicap ‘kepinteran’, ‘melawan kodrat’, atau bahkan ‘mengidap gangguan mental’.

Kedua, obsesi masyarakat ini bisa membawa ‘petaka’ bagi perempuan hamil. Perempuan hamil bersuami sering kali merasa gerah karena terpaksa mendengarkan celotehan dan komentar-komentar (yang kebanyakan mitos dan tidak rasional) yang keluar dari mulut perempuan lain yang sudah pernah hamil atau laki-laki (yang herannya walau tidak pernah hamil suka ikutan iseng berkomentar). Perutnya dipegang-pegang (bahkan oleh orang yang tidak dikenal!), dinasehati ini dan itu (kalau nasihatnya benar sih gakpapa, ya. Hehe.). Perempuan hamil tidak bersuami sudah tidak usah ditanya lagi nasibnya. Banyak teman perempuan saya yang merasa tertekan selama masa kehamilan mereka. Ini karena mereka merasa tidak mampu memenuhi ekspektasi masyarakat tentang kehamilan, yang akan membawa kita ke poin nomor 3.

Obsesi terhadap reproduksi dan kehamilan ini juga melahirkan banyak ekspektasi moral dan prilaku tidak masuk akal terhadap perempuan hamil. Kalau berat badan naik banyak dikomentari tidak bisa menjaga berat badan, kalau hanya naik sedikit dicap kekurusan. Kalau perempuan hamil terlihat kucel dan tidak ‘bersinar’ (glowing) dianggap jorok dan tidak cantik. Ketika hamil perempuan juga merasa ditekan untuk melahirkan secara normal karena kalau melahirkan secara sesar akan dianggap bukan perempuan sejati. Setelah melahirkan harus ASI, kalau memberikan anak susu formula akan dianggap ibu yang gagal dan tidak bertanggung jawab. Bla bla bla. The list goes on and it seems to never end.

Mungkin tidak adil bagi saya untuk ‘mengkritisi’ masyarakat tentang obsesi kita terhadap isu reproduksi perempuan. Saya menyadari penuh, bahwa tidak semua orang punya akses yang sama terhadap pendidikan. Tidak semua ibu-ibu punya waktu untuk baca buku dan nyampah di blog seperti yang saya lakukan sekarang. Tidak semua perempuan bisa duduk di bangku kuliah. Kebanyakan perempuan harus bekerja dan memberi makan anak-anak dan keluarga mereka. Banyak perempuan yang hanya bisa diam menerima ‘takdir dan kodrat’ yang diatributkan masyarakat kepada mereka.

Yang bisa saya lakukan adalah memahami sudut pandang ibu saya dan ibu-ibu yang lain yang mungkin saja benar-benar mendoakan saya untuk punya anak, karena bagi banyak orang (tidak semua) punya anak berarti sumber kebahagiaan dan status sosial. Saya, dan mungkin banyak perempuan lain seperti saya, harus belajar menerima dan bersabar. Jika memungkinkan, sedikit demi sedikit mengedukasi masyarakat untuk mengajukan lebih sedikit pertanyaan dan bersikap lebih adil terhadap perempuan. Ini jelas tidak mudah dan merupakan tanggung jawab yang sangat besar. Most of the time, though, I wish people would ask fewer questions and be more sensitive and less judgemental.

Cheers,

Haura

 

Referensi:

1&2Simon, Matt. “Fantastically wrong: The theory of wondering wombs that drove women to madness”. https://www.wired.com/2014/05/fantastically-wrong-wandering-womb/

3&5Bronstein, Phoebe. “Our modern obsession with pregnancy is just another attempt to control women’s bodies”. https://qz.com/759987/our-modern-obsession-with-pregnancy-is-just-another-attempt-to-control-womens-bodies/

4Stein, Sadie. “A brief history of the bump watch”. https://jezebel.com/5754158/a-brief-history-of-the-bump-watch

The image above was taken from here. I do not own it. Contact me for removal.