Harga dari Kebebasan

Setengah bulan Desember sudah lewat dan akhir tahun menjelang, namun saya baru sempat menulis satu postingan blog.

Ada apa gerangan? Apa saya sakit? Apa saya sedang ada masalah? Tidak, saya hanya sedang banyak pekerjaan. Semua klien saya entah bagaimana seperti sepakat untuk menumpuk pekerjaan di akhir tahun. Jadi, saya tidak punya waktu sama sekali untuk menulis. Tulisan ini pun saya tulis dan posting di hape. Sebenarnya, saya sudah menulis beberapa draft pendek ide tulisan. Sayang, lagi-lagi keterbatasan waktu jadi alasan.

Sebagai seorang freelancer atau pekerja lepas, saya tidak pernah bisa benar-benar memprediksi volume pekerjaan saya setiap bulan. Ada bulan-bulan di mana saya punya banyak waktu untuk membaca buku, membersihkan rumah, dan memasak, ada pula hari-hari di mana saya bahkan tidak punya cukup waktu untuk tidur.

Dua bulan terakhir adalah puncak volume pekerjaan saya selama tahun 2017. Hampir setiap hari saya tidur malam atau bahkan pagi. Saya sadar betul ini tidak baik untuk kesehatan dalam jangka panjang. Namun, saya selalu punya excuse untuk tetap menjalaninya. Salah satu alasan saya tidak menolak pekerjaan yang mengurangi waktu tidur saya adalah karena pekerjaan banyak tidak datang setiap bulan. Bulan-bulan sibuk berarti pendapatan ekstra, yang bisa menutup lebih rendahnya pendapatan di bulan-bulan yang sepi. Alasan kedua mungkin karena saya diam-diam adalah seorang masochist, saya suka disiksa dan menyiksa diri sendiri. πŸ˜‚

Jika seseorang mengikuti blog atau instagram saya, orang tersebut mungkin berpikir bahwa saya adalah orang yang sangat happy dan beruntung karena memiliki banyak kebebasan, salah satunya bebas bisa bekerja dari mana saja. Saya juga bebas bisa pergi travel ketika saya mau tanpa menunggu promo flight Air Asia. Saya juga bisa terus makan di restoran kalau saya mau (ini bukannya sombong, tapi karena saya tinggal di Solo, yang dengan modal 26 ribu bisa makan soto berdua. Hahaha).

Ya, saya memang memiliki banyak kebebasan, namun kebebasan itu datang dengan harga yang harus dibayar.

Harga pertama dari kebebasan adalah kesehatan fisik dan mental. Sejujurnya, saya bukan termasuk orang yang bisa dengan mudah menghadapi dan mengatasi stres. Saya cenderung masuk tipe yang mudah merasa depresi ketika melakukan suatu hal yang sama dalam jangka waktu yang lama. But, who doesn’t? Yang membedakan mungkin hanya derajatnya saja. Dalam kasus saya, jika saya bekerja dari pagi hingga malam (atau bahkan pagi lagi) selama lebih dari 5 hari, saya akan segera terserang stres. Tubuh saya menyikapi stres dengan pergolakan hormon yang membuat saya menjadi emosional dan ingin marah atau menangis tanpa alasan yang jelas selain karena lelah dan bosan. Selain itu, tubuh juga mengirim sinyal yang memaksa saya untuk berhenti bekerja dengan suatu fenomena khas orang Melayu bernama ”masuk angin”. Sebuah contoh fenomena yang tidak ada dalam kamus kedokteran.

Bekerja di rumah, di hadapan komputer setiap hari, tanpa ada interaksi nyata dengan manusia lain, bukanlah hal yang mudah. Paling tidak untuk saya. Di kantor, kita masih bertemu rekan kerja, di kantor kita masih bicara face to face dengan orang lain. Bekerja di rumah berarti interaksi terbatas di dunia maya. Awalnya mungkin terasa mudah, namun saya sudah melakukannya selama 4 tahun. Ada satu titik jenuh yang tidak akan pernah bisa saya jelaskan dengan tepat dan orang tidak akan pernah memahaminya kecuali mengalaminya sendiri. Ada masa-masa di mana saya merasa oke menatap dinding kosong di belakang meja kerja. Ada saat-saat saya hanya menatap kosong dinding tersebut dengan perasaan hampa. Lalu saya akan makan, bekerja, berjalan, dan tidur seperti robot yang sudah diatur jamnya. Bahkan Mamat yang saya tahu betul begitu tangguh menghadapi stres dan sangat positif plus produktif pun suatu hari berkata dengan ekspresi hampa, “aku bosan”. Jelas ini harga psikologis yang harus dibayar atas produktivitas tanpa henti yang dilakukan dalam kotak bernama rumah.

Kedua, harga lain yang harus dibayar adalah merenggangnya hubungan saya dengan orang terdekat, yakni suami saya. Tidak, kami tidak bertengkar. Namun kami jadi jarang bicara karena masing-masing sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Ini sungguh aneh, mengingat kami hanya tinggal berdua (berdelapan dengan kucing-kucing). Ada hari-hari di mana kami hanya bicara seadanya saat makan siang dan malam. Selebihnya, kami kembali ke ‘pertapaan’ masing-masing, yakni di depan laptop.

Ketiga, pekerjaan rumah dan hal remeh namun penting lainnya terpaksa dikorbankan. Sekadar informasi, saya tidak punya asisten rumah tangga (ART). Selama ini saya membanggakan diri sebagai ‘istri super’ yang bisa melakukan segalanya. Saya memasak, membersihkan rumah, mengurus laundry, bekerja, dan melakukan household chores lainnya sendiri tanpa ART. Mamat adalah laki-laki yang bisa melakukan semua hal ini dan mau membantu saya melakukannya. Namun, dia tidak ada waktu karena dia jauh lebih sibuk dari saya dalam urusan pekerjaan. Kami pun sepakat, saya akan lebih banyak mengurus rumah dan memasak. Nah, saat volume pekerjaan saya melesat, suatu pagi saya mendapati diri saya menangis di depan pintu kamar saat saya bangun tidur. Rumah tampak begitu kotor dan berantakan karena saya tidak punya waktu untuk menyentuhnya. FYI, saya dibesarkan oleh seorang ibu yang super perfectionist dalam urusan kebersihan dan kerapihan. Jadi saya biasa dengan kondisi bersih dan rapih. Ketika kondisi ini tidak tercapai saya rupanya tidak bisa menanggapinya dengan santai. Mood pagi saya yang biasanya enak berubah menjadi mood saya-mau-makan-orang.

Saya bukannya tidak tahu bahwa semua ini solusinya sangatlah sederhana dan rasa stres saya sebenarnya adalah konsekuensi dari pilihan saya sendiri. Solusi simple untuk kasus saya ada 2: mengurangi pekerjaan dengan konsekuensi pendapatan berkurang atau mempekerjakan ART agar saya bisa fokus bekerja. Gampang, kan? Hohoho… Tidak sesederhana itu karena saya orangnya ribet. πŸ˜‚ Saya cenderung introvert dan malas berhubungan dengan banyak orang. Saya juga awkward dan pemalu ketika bertemu orang baru. Plus, drama ART ibu saya di masa lalu dan sifat perfectionist membuat saya malas mempekerjakan ART. Jadi, pilihan yang lebih tepat adalah mengurangi jam kerja (dengan menolak pekerjaan yang datang jika kapasitas saya sudah maksimal). Solusi lebih baik lagi mungkin dengan mempekerjakan beberapa tenaga penerjemah in-house yang bisa membantu saya dan Mamat. Dengan begitu, beban kerja bisa didistribusikan dengan lebih baik. Saya yang mudah stres ini bisa rileks sedikit dan ada sedikit waktu untuk membaca buku yang sudah lama pending dan meneruskan tulisan yang konsepnya memenuhi pikiran.

Jadi apa poin tulisan yang amat sangat tidak penting ini? πŸ˜… Poinnya itu tadi, kebebasan memiliki harga yang harus dibayar. Kalau ada yang berpikir saya sungguh enak bisa ke sana ke mari setiap bulan, sesungguhnya dia belum melihat mata merah saya di depan laptop setelah bekerja 14 jam dalam sehari. Kalau sampai ada yang khilaf iri tahu saya punya rumah baru, pasti belum lihat saya menangis menahan rasa sakit di punggung, pinggang, jari dan pergelangan tangan karena terlalu lama duduk menghadap komputer. Kalau ada yang berpikir hidup saya sempurna dan tidak punya masalah, well dia kan hanya lihat luarnya saja. Dia tidak tahu 100 cerita perjuangan, masalah pribadi, dan kesulitan yang saya hadapi, yang tentunya tidak pernah saya share di media sosial. (Tapi ini semua bisa jadi hanya ada di kepala saya, sih. Mungkin ini cuma khayalan saya saja. Mungkin tidak ada yang iri atau peduli dengan saya. Lihat, kan? Apa yang bisa dilakukan “terlalu banyak melihat layar komputer dan nonton drama Korea” terhadap kepalamu? πŸ˜‚)

Anyway, let’s go back to the real deal. Nothing comes easy, people. Silakan tanya Jack Ma, berapa lama dia tidak tidur saat Alibaba masih mencari bentuk dan modal. Saya bukan dan tidak kenal Jack Ma. (Saya curiga pembantu Jack Ma malah lebih sejahtera dibanding saya.) 😁 Tapi saya paham satu hal. Sukses ada harganya dan saya sudah mulai mencicilnya. Kebebasan, entah itu pekerjaan atau finansial, harus dibayar mahal.Β Jangan memimpikan hidup sejahtera kalau malas bekerja.

Senyum dulu, dong. 😊

 

Cheers,

Haura Emilia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s