Kilas Balik 2017: Belajar Menentukan Prioritas

“Desires dictate our priorities, priorities shape our choices, and choices determine our actions.”
― Dallin H. Oaks

Sore itu langit di luar berwarna ungu muram kemerahan. Saya dan Mamat duduk di sebuah kedai kopi kecil dengan buku catatan di hadapan. Kami mengobrol serius tapi santai sambil menikmati Thai tea. Kami membicarakan tentang apa saja yang sudah kami kerjakan dan capai sepanjang tahun 2017.

Hasil mengobrol santai ini membawa saya pada satu kesimpulan: kami, saya dan dia, sangat sibuk sepanjang tahun. Bukti nyata dari kesibukan ini bisa dilihat dari peningkatan volume pekerjaan tahunan (ya, kami selalu meninjau pembukuan akhir tahun dan merencanakan budget finansial serta agenda kerja untuk tahun yang akan datang). Saya tidak meragukan bahwa Mamat memang sangat sibuk dan produktif bekerja sepanjang tahun. Yang saya ragukan adalah diri saya sendiri. Benarkah saya hanya sibuk bekerja sepanjang tahun? Itukah alasan saya gagal melakukan banyak hal lain di luar pekerjaan? Jangan-jangan selama ini saya hanya sok sibuk dan kesibukan yang terlihat dari luar sebenarnya adalah hasil ilusi yang saya ciptakan di kepala saya sendiri dan kemudian termanifestasi dalam cara saya menghabiskan hari.

Setelah saya evaluasi, banyak momen di mana saya tidak sepenuhnya sibuk bekerja, terutama di bulan-bulan low season (biasanya kuartal pertama atau ketiga), di mana volume pekerjaan jauh lebih sedikit dibandingkan high season (biasanya kuartal kedua dan keempat). Herannya, waktu tetap terasa cepat sekali berlalu. Saya tetap merasa sibuk setiap hari dan tidak punya waktu untuk melakukan banyak hal lain di luar pekerjaan. Ke mana saja 24 jam itu berlalu? Ada apa ini? 😰

Rupanya, alih-alih menjadi manusia produktif, saya disibukkan dengan begitu banyak distraction atau gangguan-gangguan tidak penting dalam hidup. Kita hidup di zaman di mana ada begitu banyak gangguan yang dapat mengalihkan fokus dan prioritas sehari-hari. Kita mengecek handphone mungkin lebih dari 30 kali dalam sehari, menghabiskan waktu untuk chat tidak penting (baca: bergosip) di Whatsapp, menonton film seri di TV berbayar, memposting status atau resep makanan di media sosial, membuat playlist lagu di Spotify, menonton video daily vlog youtuber favorit di Youtube, membaca berita pendek dengan headline murahan di portal berita populer, dan menyukai video kucing lucu di 9gag. Kalau kita pekerja kantoran, alasan kita untuk ‘sibuk’ bertambah lagi; ngobrol ngalor ngidul dengan kolega, istirahat makan siang lebih dari sejam, merokok di luar selama jam kantor sampai karaokean setelah jam kerja. Kalau kita bekerja di rumah, distraction juga tidak kalah banyaknya: kita harus memasak, membersihkan rumah, tidur-tiduran di sofa sambil nonton TV…. We’re all probably guilty of this constant distraction.

Akibatnya apa? Untuk saya pribadi, semua rencana dan target saya di luar pekerjaan berantakan. Hancur lebur, luluh lantak. Maaf lebay.* Awal tahun 2017 lalu sebenarnya saya berencana untuk membuat blog baru yang fokus pada satu topik saja, bertekad untuk berolahraga lebih rutin, dan membaca lebih banyak buku. Pada kenyataannya saya gagal total. Blog baru itu masih berupa ide yang mengambang di dalam kepala, olahraga dilakukan seadanya seminggu sekali (kadang 2 minggu sekali 😢),  dan saya hanya berhasil membaca sebuah buku dalam sebulan (yang berarti hanya membaca total 12 buku dalam setahun, ini lebih sedikit dari jumlah bacaan tahun sebelumnya).

Lalu bohlam itu menyala dan eureka moment menyapa. Saya gagal menetapkan prioritas dan kurang fokus. Saya baru sampai pada tahap perencanaan mentah tanpa eksekusi yang jelas. Lalu saya nangis di pojokan sambil ngunyah french fries. GAK LAH. Hehe. Daripada menangis, saya mencoba mengingat-ingat kembali tentang materi prioritas yang pernah saya baca (dan sayangnya lupakan).

Orang hidup sebaiknya memiliki prioritas yang jelas, entah itu pekerjaan, karir, keluarga, hubungan interpersonal, travel, atau misi keagamaan tertentu. Semua sah-sah saja. Ini soal pilihan. Namun, pada kenyataannya beberapa orang merasa baik-baik saja hidup berjalan mengikuti angin yang berhembus dan naik turunnya harga cabe di pasar. Santai wae and go with the flow aja lah. Sayangnya, kalau kita tipe yang selalu ingin berkembang dan menjadi lebih baik dari yang kemarin, menentukan prioritas adalah sebuah keharusan.

Salah satu orang terkaya di dunia, Warren Buffet, memperoleh kesuksesannya melalui kerja keras, prioritas dan fokus ‘level dewa’. Menurutnya, ada 5 langkah penting yang harus kita lakukan untuk mencapai kesuksesan.1Pertama, ketahui apa yang kita inginkan dalam hidup dan tulis, misalnya, 25 hal yang paling kita inginkan.2 Sebaiknya hal-hal ini adalah hal-hal yang sifatnya realistis, jadi ‘menang lotre’ atau ‘duet dengan Chris Brown’ tidak masuk hitungan. Kecuali Anda Agnes Monica, ya kan? Hehe. Buat sebagian orang, tahap ini mungkin terasa sulit karena tidak semua orang tahu apa yang mereka inginkan dalam hidup. Padahal, keinginan akan menentukan prioritas, prioritas akan menentukan pilihan, dan pilihan akan menentukan tindakan.

Kedua, dari 25 keinginan tadi, pilih 5 hal yang PALING penting dan kita inginkan.3 Intinya, kita perlu mengevaluasi dan menyortir dengan ketat mana yang akan kita prioritaskan dari banyaknya goal yang ingin dicapai. Langkah ini lagi-lagi bisa menjadi sulit karena kita bisa terjebak dalam paradoks pilihan di mana segalanya mungkin terasa urgent dan perlu dilakukan. Jadi, pikirkan dengan baik apa top 5 Anda.

Ketiga, tulis dengan jelas kapan kita akan mulai mengusahakan top 5 tadi dan pendekatan apa yang akan kita ambil untuk mencapainya.4  Hal ini penting, karena tanpa timeline dan rencana yang jelas, niat mulia ini akan menjadi sekadar wacana.

Keempat, marry your priorities.5 Maksudnya, bersungguh-sungguhlah menjalankan rencana dalam timeline yang telah ditentukan. Abaikan hal-hal lain yang sifatnya tidak mendukung rencana tersebut. Termasuk main Candy Crush dan bergosip dengan teman lama di grup Whatsapp selama jam kerja. Lupakan 20 dari 25 keinginan yang telah ditulis di awal dan masukkan 20 keinginan ini ke dalam daftar ‘hal-hal yang harus dihindari’ dalam (masukkan tanggal) tahun ke depan.

Kelima, sepenuhnya abaikan keinginan yang masuk dalam daftar ‘hal-hal yang harus dihindari’ dan fokuslah hanya pada 5 keinginan teratas yang menjadi prioritas.6 Ini mungkin tahap yang paling sulit, karena keinginan manusia tidak ada batasnya. Kita akan terus menginginkan sesuatu yang baru. Selain itu, tanpa keinginan dan tekad yang kuat kemungkinan kita akan merasa bosan sehingga mudah putus asa dan menyerah sebelum tujuan tercapai. Belum lagi godaan-godaan lain yang secara konstan datang silih berganti.

Kita perlu memahami bahwa tanpa tekad kuat dan fokus, prioritas atau goal mustahil diwujudkan. Saya sendiri sungguh sering gagal fokus. Misalnya, suatu hari saya hendak ke kamar untuk mengambil buku baru untuk dibaca, namun di tengah perjalanan handphone saya berbunyi. Saya mengambil handphone itu dan seketika lupa tujuan utama saya mengambil buku. Contoh lain, hari itu seharusnya saya mulai merencanakan blog baru saya, namun saya terserang rasa malas akut. Saya jadi tidak fokus. Alih-alih melakukan to-do-list menulis blog, saya nonton vlogmas (Christmas video blog) di Youtube. I’m not proud of it.

Sore itu, saya mengaduk-ngaduk sisa Thai tea di dalam gelas dan merenung. Saya memutuskan bahwa saya perlu menentukan ulang prioritas, mengalahkan gangguan-gangguan dari dalam dan luar, serta belajar untuk lebih fokus. I need to take things more seriously. Tiba-tiba langit di luar tidak lagi berwarna ungu muram. Saya pun meninggalkan kedai kopi dengan langkah yang lebih ringan. 🙂

Cheers,

Haura Emilia

NB: Happy new year 2018, everyone! ❤️

Referensi:

1-6Warren Buffett’s 5-Step Process for Prioritizing True Success (and Why Most People Never Do It). https://liveyourlegend.net/warren-buffetts-5-step-process-for-prioritizing-true-success-and-why-most-people-never-do-it/

Iklan

Memoar Pekerjaan Pertama: “Dari Nol, Ya…”

You don’t have to be great to start, but you have to start to be great.

-Zig Ziglar, motivational speaker-

Apa pekerjaan pertamamu? Pekerjaan pertama saya adalah mengajar les privat bahasa Inggris seorang bocah SD di rumahnya yang besar di bilangan Pondok Indah, Jakarta. Kala itu upah saya adalah Rp20.000/jam. Ini sudah termasuk ongkos saya ke sana dari kampus. Sekali datang saya mengajar selama 2 jam. Lumayan, Rp40.000 saya dapatkan sekali jalan. Jumlah ini cukup bagus mengingat saya hanya perlu naik Deborah sekali dari depan gang Kober di Jalan Margonda Raya Depok, yang lokasinya kebetulan dekat kampus saya.

Saya masih ingat betul ceritanya. Waktu itu saya cuma mahasiswa semester 5 yang ingin mencari pengalaman kerja dan tambahan uang jajan. Sekadar info, sebagai seorang mahasiswa saya mendapat jatah uang makan Rp50.000 seminggu dari orang tua. Ibu dan ayah saya bukan orang tajir melintir, jadi jumlah segitu sudah dirasa lumayan, apalagi kalau keadaan finansial lagi ‘seret’. Hehe. Sebenarnya uang segitu sudah cukup untuk makan, tapi saya pikir kalau saya bisa cari uang sendiri saya akan bisa menabung.

Di suatu siang yang cerah saat break kuliah, saya menemukan lowongan pekerjaan di majalah dinding kampus (jaman sekarang mading masih eksis gak, ya? 😆). Sebuah lembaga penyalur guru privat sedang mencari guru bahasa Inggris untuk mengajar klien mereka yang kebanyakan murid sekolah dasar. Lowongan itu nampak bersinar di mata saya. Seperti mendapatkan pencerahan, saya langsung memutuskan untuk melamar.

Singkat cerita, saya mendapatkan pekerjaan pertama saya. Dengan celana jeans dan baju kaus plus blazer pendek berwarna biru hadiah ulang tahun dari sahabat saya Tika, saya meninggalkan kampus untuk melakukan pekerjaan pertama saya. Sungguh semangat sekali saya hari itu. Ada perasaan gugup yang sulit saya ungkapkan. Kepala saya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak saya ketahui jawabannya.

“Apakah saya akan menjadi guru yang baik?”

“Apakah anak ini akan menyukai gaya mengajar saya?”

“Apakah saya akan bisa menjawab semua pertanyaannya?”

“Apakah suatu hari saya akan memenangkan nobel pendidikan?”. Yeah, right. 😂

Hari pertama saya berjalan lancar. Si anak, sebut saja namanya David, ternyata bocah yang pintar dan sudah lumayan lancar bicara dalam bahasa Inggris. Tidak heran, saya perhatikan di rumah adiknya yang kecil nonton Disney Channel dalam bahasa Inggris. Sepertinya dia dan adiknya memang sudah biasa mendengarkan bahasa Inggris sejak kecil.

Fast forward, setelah pekerjaan pertama itu berikutnya saya jadi sering mendapatkan pekerjaan mengajar kelas atau privat lainnya. Saya pernah mengajar siswa SMP di salah satu bimbingan belajar dekat rumah dan saya juga pernah mengajar privat teman seangkatan di UI yang beda jurusan. Setelah lulus saya juga sempat menjadi staf pengajar bahasa Inggris dan mengajar mahasiswa tahun pertama di beberapa universitas.

Upah mengajar terus terang tidak pernah besar. Di bimbingan belajar dekat rumah saya dibayar Rp17.000/jam, di salah satu lembaga bahasa Inggris saya dibayar Rp26.000/jam, saat mengajar privat teman kuliah saya dibayar Rp50.000/jam, di kampus, ini yang paling besar, saya dibayar Rp75.000/jam. Yang jelas, saya senang dan bangga sekali saat itu karena karena saya bisa mulai mandiri dan menabung. Saya juga bekerja keras agar bisa membeli laptop dan handphone sendiri. Tujuan saya satu, saya ingin sepenuhnya mandiri dan lepas dari tanggungan orang tua.

Ketika saya kenal dengan suami saya Mamat, kami saling bercerita tentang pekerjaan pertama kami. Ternyata pekerjaan pertama Mamat adalah menjaga warnet dengan upah Rp1000/jam. Dengan senyuman dia berkata bahwa dia bekerja semalaman selama 7 jam. Lumayan dapat 7 ribu, itu bisa untuk makan 2x di Jogja pada masa itu. 😄 Saya kaget, saya kira upah 20 ribu per jam saya waktu itu sudah kecil sekali. Eh, ternyata dia lebih nelangsa lagi. 😂 Pekerjaan kedua Mamat adalah menerjemahkan. Kala itu dia dibayar Rp2000/halaman! Pekerjaan ini dia lakukan dengan menulis manual menggunakan tangan berhubung dia tidak punya PC, apalagi laptop.

Ini semua terjadi lebih dari 10 tahun yang lalu. Kalau saya pikir-pikir lagi, ternyata banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil dari pekerjaan pertama kami.

Pertama, pekerjaan pertama mengajarkan kami untuk menghargai uang. Uang 7 ribu dan 20 ribu mungkin tidak ada artinya hari ini, namun dari sini lah kami belajar bahwa untuk mencari sesuap nasi kita perlu bekerja. Tujuh ribu rupiah adalah teman sejati yang menemani malam-malam panjang Mamat sebagai penjaga warnet. Begitu pula dengan saya. Uang 20 ribu menjadi saksi ‘perjuangan’ saya naik bus umum buluk tanpa AC bernama Deborah yang setia mengantar saya ke rumah murid pertama saya, David. Dengan menghasilkan uang sendiri, kami belajar bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini sehingga kami menghargai the value of money. Karena ternyata mencari uang itu tidak mudah, kami jadi lebih berhati-hati untuk menggunakannya.

Kedua, pekerjaan pertama kami mengajarkan bahwa dalam pekerjaan yang terlihat sepele sekali pun selalu ada kesempatan (opportunity) yang bisa diambil selama kita bisa melihatnya. Dalam kasus saya, mengajar ‘memaksa’ saya banyak belajar. Secara langsung saya juga jadi bisa mengamalkan ilmu yang saya dapatkan di bangku perkuliahan. Ini yang saya maksud dengan kesempatan. Mamat juga, bisa saja dia memilih untuk luntang-lantung menganggur sampai menemukan pekerjaan dengan upah lumayan. Pada akhirnya, dia melihat celah kesempatan dari pekerjaan bernilai seribu rupiah per jam. Jumlahnya memang tidak seberapa, namun Mamat sebenarnya mendapatkan banyak keuntungan dari menjaga warnet. Dia bisa mengerjakan tugas kuliah menggunakan komputer warnet dengan gratis dan dia jadi bisa belajar banyak tentang jaringan komputer dan internet.

Ketiga, pekerjaan pertama kami adalah pembuka, gerbang menuju posisi kami yang sekarang. Dalam waktu sepuluh tahun dan dengan kerja keras, kami berhasil menaikkan upah perjam kami berkali-kali lipat dibandingkan upah pertama kami dulu. Awal yang sederhana itu mengajarkan kami untuk meraih setiap kesempatan yang ada dengan pikiran terbuka dan sudut pandang yang positif.

Sekarang kami bisa bernapas lega karena telah berhasil settled down, menjadi tulang punggung bagi dua keluarga besar, memiliki atap tempat kami berteduh tanpa cicilan, sebuah kendaraan untuk membantu kami commute, dan berbagai investasi serta asuransi untuk masa depan dan hari tua.

Ketika saya melihat ke belakang, saya sungguh tidak memiliki penyesalan tentang jalan hidup yang saya pilih. Momen di mana saya menghabiskan waktu untuk belajar dan mengajar dengan setelan jeans dan baju kaus seadanya telah menjadi fondasi kokoh yang membentuk saya yang sekarang. Saya tidak malu mengakui saya cuma mahasiswa ‘gembel’ yang mengais rejeki 20 ribu per jam dengan naik bus tua yang terseok-seok berlari mengikuti irama metromini di jalanan ibu kota. Saya juga tidak malu menceritakan bahwa saya bukan AGJ alias Anak Gaul Jakarta karena memang saya tidak punya waktu dan modal untuk nongkrong di kafe-kafe dan pusat perbelanjaan. Saya juga tidak cukup cantik (menurut standar absurd media dan panitianya😆) dan tidak tertarik untuk ikutan kontes putri-putrian yang bisa menjadi modal saya ke ranah hiburan yang kemungkinan menawarkan bayaran yang jauh lebih besar dari mengajar.

Tapi saya akan selalu punya kisah untuk diceritakan. Kalau saya punya anak nanti saya akan mengajarkannya untuk meletakkan nasib di tangannya sendiri, seperti yang saya lakukan dulu. Saya akan mendukungnya untuk mencari pekerjaan pertamanya, no matter how small and humble it will be.

Terakhir, pekerjaan pertama mengajarkan saya bahwa kita tidak perlu menjadi hebat untuk memulai, namun kita semua perlu memulai untuk menjadi hebat. Kesuksesan tidak datang dengan sendirinya, kita lah yang harus menjemputnya. 🙂

 

Cheers,

Haura Emilia

Harga dari Kebebasan

Setengah bulan Desember sudah lewat dan akhir tahun menjelang, namun saya baru sempat menulis satu postingan blog.

Ada apa gerangan? Apa saya sakit? Apa saya sedang ada masalah? Tidak, saya hanya sedang banyak pekerjaan. Semua klien saya entah bagaimana seperti sepakat untuk menumpuk pekerjaan di akhir tahun. Jadi, saya tidak punya waktu sama sekali untuk menulis. Tulisan ini pun saya tulis dan posting di hape. Sebenarnya, saya sudah menulis beberapa draft pendek ide tulisan. Sayang, lagi-lagi keterbatasan waktu jadi alasan.

Sebagai seorang freelancer atau pekerja lepas, saya tidak pernah bisa benar-benar memprediksi volume pekerjaan saya setiap bulan. Ada bulan-bulan di mana saya punya banyak waktu untuk membaca buku, membersihkan rumah, dan memasak, ada pula hari-hari di mana saya bahkan tidak punya cukup waktu untuk tidur.

Dua bulan terakhir adalah puncak volume pekerjaan saya selama tahun 2017. Hampir setiap hari saya tidur malam atau bahkan pagi. Saya sadar betul ini tidak baik untuk kesehatan dalam jangka panjang. Namun, saya selalu punya excuse untuk tetap menjalaninya. Salah satu alasan saya tidak menolak pekerjaan yang mengurangi waktu tidur saya adalah karena pekerjaan banyak tidak datang setiap bulan. Bulan-bulan sibuk berarti pendapatan ekstra, yang bisa menutup lebih rendahnya pendapatan di bulan-bulan yang sepi. Alasan kedua mungkin karena saya diam-diam adalah seorang masochist, saya suka disiksa dan menyiksa diri sendiri. 😂

Jika seseorang mengikuti blog atau instagram saya, orang tersebut mungkin berpikir bahwa saya adalah orang yang sangat happy dan beruntung karena memiliki banyak kebebasan, salah satunya bebas bisa bekerja dari mana saja. Saya juga bebas bisa pergi travel ketika saya mau tanpa menunggu promo flight Air Asia. Saya juga bisa terus makan di restoran kalau saya mau (ini bukannya sombong, tapi karena saya tinggal di Solo, yang dengan modal 26 ribu bisa makan soto berdua. Hahaha).

Ya, saya memang memiliki banyak kebebasan, namun kebebasan itu datang dengan harga yang harus dibayar.

Harga pertama dari kebebasan adalah kesehatan fisik dan mental. Sejujurnya, saya bukan termasuk orang yang bisa dengan mudah menghadapi dan mengatasi stres. Saya cenderung masuk tipe yang mudah merasa depresi ketika melakukan suatu hal yang sama dalam jangka waktu yang lama. But, who doesn’t? Yang membedakan mungkin hanya derajatnya saja. Dalam kasus saya, jika saya bekerja dari pagi hingga malam (atau bahkan pagi lagi) selama lebih dari 5 hari, saya akan segera terserang stres. Tubuh saya menyikapi stres dengan pergolakan hormon yang membuat saya menjadi emosional dan ingin marah atau menangis tanpa alasan yang jelas selain karena lelah dan bosan. Selain itu, tubuh juga mengirim sinyal yang memaksa saya untuk berhenti bekerja dengan suatu fenomena khas orang Melayu bernama ”masuk angin”. Sebuah contoh fenomena yang tidak ada dalam kamus kedokteran.

Bekerja di rumah, di hadapan komputer setiap hari, tanpa ada interaksi nyata dengan manusia lain, bukanlah hal yang mudah. Paling tidak untuk saya. Di kantor, kita masih bertemu rekan kerja, di kantor kita masih bicara face to face dengan orang lain. Bekerja di rumah berarti interaksi terbatas di dunia maya. Awalnya mungkin terasa mudah, namun saya sudah melakukannya selama 4 tahun. Ada satu titik jenuh yang tidak akan pernah bisa saya jelaskan dengan tepat dan orang tidak akan pernah memahaminya kecuali mengalaminya sendiri. Ada masa-masa di mana saya merasa oke menatap dinding kosong di belakang meja kerja. Ada saat-saat saya hanya menatap kosong dinding tersebut dengan perasaan hampa. Lalu saya akan makan, bekerja, berjalan, dan tidur seperti robot yang sudah diatur jamnya. Bahkan Mamat yang saya tahu betul begitu tangguh menghadapi stres dan sangat positif plus produktif pun suatu hari berkata dengan ekspresi hampa, “aku bosan”. Jelas ini harga psikologis yang harus dibayar atas produktivitas tanpa henti yang dilakukan dalam kotak bernama rumah.

Kedua, harga lain yang harus dibayar adalah merenggangnya hubungan saya dengan orang terdekat, yakni suami saya. Tidak, kami tidak bertengkar. Namun kami jadi jarang bicara karena masing-masing sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Ini sungguh aneh, mengingat kami hanya tinggal berdua (berdelapan dengan kucing-kucing). Ada hari-hari di mana kami hanya bicara seadanya saat makan siang dan malam. Selebihnya, kami kembali ke ‘pertapaan’ masing-masing, yakni di depan laptop.

Ketiga, pekerjaan rumah dan hal remeh namun penting lainnya terpaksa dikorbankan. Sekadar informasi, saya tidak punya asisten rumah tangga (ART). Selama ini saya membanggakan diri sebagai ‘istri super’ yang bisa melakukan segalanya. Saya memasak, membersihkan rumah, mengurus laundry, bekerja, dan melakukan household chores lainnya sendiri tanpa ART. Mamat adalah laki-laki yang bisa melakukan semua hal ini dan mau membantu saya melakukannya. Namun, dia tidak ada waktu karena dia jauh lebih sibuk dari saya dalam urusan pekerjaan. Kami pun sepakat, saya akan lebih banyak mengurus rumah dan memasak. Nah, saat volume pekerjaan saya melesat, suatu pagi saya mendapati diri saya menangis di depan pintu kamar saat saya bangun tidur. Rumah tampak begitu kotor dan berantakan karena saya tidak punya waktu untuk menyentuhnya. FYI, saya dibesarkan oleh seorang ibu yang super perfectionist dalam urusan kebersihan dan kerapihan. Jadi saya biasa dengan kondisi bersih dan rapih. Ketika kondisi ini tidak tercapai saya rupanya tidak bisa menanggapinya dengan santai. Mood pagi saya yang biasanya enak berubah menjadi mood saya-mau-makan-orang.

Saya bukannya tidak tahu bahwa semua ini solusinya sangatlah sederhana dan rasa stres saya sebenarnya adalah konsekuensi dari pilihan saya sendiri. Solusi simple untuk kasus saya ada 2: mengurangi pekerjaan dengan konsekuensi pendapatan berkurang atau mempekerjakan ART agar saya bisa fokus bekerja. Gampang, kan? Hohoho… Tidak sesederhana itu karena saya orangnya ribet. 😂 Saya cenderung introvert dan malas berhubungan dengan banyak orang. Saya juga awkward dan pemalu ketika bertemu orang baru. Plus, drama ART ibu saya di masa lalu dan sifat perfectionist membuat saya malas mempekerjakan ART. Jadi, pilihan yang lebih tepat adalah mengurangi jam kerja (dengan menolak pekerjaan yang datang jika kapasitas saya sudah maksimal). Solusi lebih baik lagi mungkin dengan mempekerjakan beberapa tenaga penerjemah in-house yang bisa membantu saya dan Mamat. Dengan begitu, beban kerja bisa didistribusikan dengan lebih baik. Saya yang mudah stres ini bisa rileks sedikit dan ada sedikit waktu untuk membaca buku yang sudah lama pending dan meneruskan tulisan yang konsepnya memenuhi pikiran.

Jadi apa poin tulisan yang amat sangat tidak penting ini? 😅 Poinnya itu tadi, kebebasan memiliki harga yang harus dibayar. Kalau ada yang berpikir saya sungguh enak bisa ke sana ke mari setiap bulan, sesungguhnya dia belum melihat mata merah saya di depan laptop setelah bekerja 14 jam dalam sehari. Kalau sampai ada yang khilaf iri tahu saya punya rumah baru, pasti belum lihat saya menangis menahan rasa sakit di punggung, pinggang, jari dan pergelangan tangan karena terlalu lama duduk menghadap komputer. Kalau ada yang berpikir hidup saya sempurna dan tidak punya masalah, well dia kan hanya lihat luarnya saja. Dia tidak tahu 100 cerita perjuangan, masalah pribadi, dan kesulitan yang saya hadapi, yang tentunya tidak pernah saya share di media sosial. (Tapi ini semua bisa jadi hanya ada di kepala saya, sih. Mungkin ini cuma khayalan saya saja. Mungkin tidak ada yang iri atau peduli dengan saya. Lihat, kan? Apa yang bisa dilakukan “terlalu banyak melihat layar komputer dan nonton drama Korea” terhadap kepalamu? 😂)

Anyway, let’s go back to the real deal. Nothing comes easy, people. Silakan tanya Jack Ma, berapa lama dia tidak tidur saat Alibaba masih mencari bentuk dan modal. Saya bukan dan tidak kenal Jack Ma. (Saya curiga pembantu Jack Ma malah lebih sejahtera dibanding saya.) 😁 Tapi saya paham satu hal. Sukses ada harganya dan saya sudah mulai mencicilnya. Kebebasan, entah itu pekerjaan atau finansial, harus dibayar mahal. Jangan memimpikan hidup sejahtera kalau malas bekerja.

Senyum dulu, dong. 😊

 

Cheers,

Haura Emilia

Catatan Akhir Tahun: Ulasan Buku Favorit Tahun 2017

Saya tumbuh besar menyaksikan ayah saya membaca buku paling tidak 2 jam sehari. Ayah saya punya banyak sekali koleksi buku di rumah, koleksi buku ayah saya mungkin mencapai ribuan mengingat beliau melakukan aktivitas ini setiap hari selama puluhan tahun semasa hidupnya. Ayah dan ibu saya dulu sering menghadiahkan saya banyak buku sepanjang masa kecil hingga remaja. Sebagai seorang bocah SD, saya sudah bisa membaca 10 novel Goosebumps dalam sehari. Begitu sukanya saya membaca, saya sampai menabung uang jajan saya untuk membeli buku favorit. Hari libur pun kebanyakan saya habiskan dengan membaca.

Belakangan, saya mencoba menghidupkan kembali kebiasaan membaca. Hal ini bukannya tanpa alasan. Sejak saya lulus pascasarjana tahun 2011 saya harus mengakui bahwa jumlah buku yang saya baca menurun drastis. Alasannya ada-ada saja, mulai dari sibuk bekerja sampai tersitanya waktu oleh media sosial.

Tahun ini sejujurnya saya membaca lebih sedikit buku dari tahun sebelumnya (20an buku sepanjang 2016). Tapi, saya cukup senang dengan daftar bacaan saya tahun ini.

Topik buku yang saya baca sebenarnya sangat bervariasi. Persamaannya adalah hampir semua buku yang saya baca adalah buku non-fiksi. Saya tidak punya genre favorit, namun saya memang lebih tertarik membaca buku biografi, self-help terkait produktivitas, dan buku-buku yang berhubungan dengan ilmu sosial, ekonomi dan filsafat. Berikut daftar beberapa buku yang saya baca sepanjang tahun 2017. Tidak semua buku saya tulis di sini karena beberapa masih pending membacanya. Anyway, silakan klik judul di bawah untuk melihat di mana saya membelinya.

  1. Homo Deus oleh Yuval Noah Harari
  2. 10% Happier: How I Tamed the Voice in My Head, Reduced Stress Without Losing My Edge, and Found Self-Help That Actually Works–A True Story Kindle Edition oleh Dan Harris
  3. Write. Publish. Repeat. (The No-Luck-Required Guide to Self-Publishing Success) Kindle Edition oleh Sean Platt and Johnny B. Truant
  4. Alibaba: The House That Jack Ma Built oleh Duncan Clark
  5. Nineteen Eighty-Four oleh George Orwell
  6. Evicted: Poverty and Profit in the American City oleh Matthew Desmond
  7. Thinking, Fast and Slow oleh Daniel Kahneman (sedang dibaca, belum selesai)
  8. Springboard  : Launching Your Personal Search for Success oleh G Richard Shell
  9. The Headspace Guide to… Mindfulness & Meditation oleh Andi Puddicombe
  10. Sirkus Pohon oleh Andrea Hirata
  11. Norwegian Wood oleh Haruki Murakami
  12. The Life-Changing Magic of Tidying oleh Marie Condo

Dari 12 buku di atas, saya paling suka yang nomor 1, 2, 3, 6, dan 7. Dalam postingan kali ini saya akan review sedikit 5 buku favorit saya.

Pertama, Homo Deus oleh Yuval Noah Harari. Saya sudah mengulas buku Harari Sapiens: A Brief History of Humankind di blog saya sebelumnya (klik di sini untuk membaca). Bagi yang sudah membacanya, mereka pasti tahu kalau belakangan Harari mendadak menjadi salah satu penulis favorit saya. Boleh dibilang Homo Deus adalah lanjutan dari Sapiens, walaupun keduanya bisa dibaca secara terpisah.

Homo Deus pada intinya adalah sebuah bentuk eksposisi tentang arah masa depan manusia. Buku ini menjabarkan sejauh mana pencapaian manusia sepanjang eksistensinya di muka bumi, mulai dari kera besar yang menjelajahi bumi hingga menjadi spesies makhluk hidup yang hendak mengeksplorasi planet Mars dan memiliki misi agresif untuk mengalahkan mortalitas dan hidup selamanya. Tesis Harari diawali dengan pemikiran bahwa manusia pada dasarnya adalah algoritme organik yang bergerak mengikuti sebuah sistem yang terus berulang. Kedua, Harari juga berpendapat bahwa manusia bisa mencapai banyak hal dan menjadi penguasa bumi karena manusia hidup dalam realitas yang sifatnya ‘intersubjektif’ (dipahami dan diterima secara massal) seperti negara, agama, uang, perusahaan, dan sistem hukum. Harari juga berpendapat bahwa kemajuan teknologi suatu hari akan mengancam kelangsungan eksistensi manusia biasa, yang di mana depan akan digantikan dengan ‘super human’ dengan kemampuan seperti dewa (homo deus), yang dapat melakukan perjalanan antarplanet dan sepenuhnya memusnahkan penyakit berbahaya hingga mencapai kehidupan abadi.

Sampai di sini mungkin Anda akan berpikir bahwa Harari terdengar gila. Tapi nyatanya tidak juga. Harari berhasil memaparkan argumennya dengan penyajian fakta yang sangat bisa diterima oleh akal sehat. Contohnya, kita sekarang mungkin berpikir bahwa keabadian hanya ada dalam dongeng. Tapi lihat fakta yang ada sekarang. Teknologi kedokteran telah berhasil memperpanjang usia manusia. Vaksin berhasil mengeliminasi jumlah bayi yang meninggal karena terserang penyakit dan transplantasi organ telah berhasil memperpanjang umur pasien yang sebelumnya tidak memiliki harapan. Teknologi kecantikan juga telah melahirkan banyak krim anti penuaan yang dikonsumsi jutaan perempuan dan laki-laki setiap tahunnya. Jika sekarang teknologi ditujukan untuk memperpanjang umur dan meningkatkan kualitas hidup manusia hingga 2-10 tahun, bukan tidak mungkin di masa depan teknologi bisa memperpanjang usia manusia hingga 50-100 tahun. Di masa depan, bukannya tidak mungkin ‘mengganti’ organ yang sudah ‘tua’ dengan yang baru dan menyuntikkan sebuah formula yang mendorong perbaikan sel-sel yang rusak. Ada banyak hal menarik lainnya yang bisa kita pelajari dari buku ini. So, grab the book and hold on tight because the ride will be crazy. 😊

Kedua, buku favorit saya lainnya tahun ini adalah 10% Happier oleh Dan Harris. Saya tertarik membaca buku ini karena sebagian judulnya berbunyi “how I tamed the voice in my head”. Saya termasuk orang yang tidak bisa berhenti berpikir dan hal ini tidak selalu menyenangkan. Ada kalanya saya berharap otak saya akan berhenti berpikir dan saya akan berhenti mendengarkan narasi yang diceritakan diri saya sendiri di dalam kepala. Narasi di dalam kepala kadang mengganggu tidur saya dan menyulitkan saya untuk fokus melakukan satu hal. Dan Harris menceritakan bagaimana ‘mindfulness’ membantunya untuk tenang dan menjinakkan suara-suara negatif di dalam kepalanya.

Istilah ‘mindfulness’ sebenarnya dipilih untuk menggantikan kata ‘meditasi’. Mindfulness dipilih karena kata ‘meditasi’ terlanjur dikonotasikan dengan agama dan kebanyakan orang yang mendengarnya akan mengasosiasikan kata ini dengan ‘biksu’, ‘buddha’, ‘hindu’, ‘bertapa’, atau bahkan ‘mencari pencerahan di puncak gunung atau di bawah pohon besar’. Padahal pada praktiknya, mindfulness tidak selalu diasosiasikan dengan tema religi. Semua orang bisa melakukannya. Mindfulness dimaksudkan untuk melatih mind (pikiran) agar aktif dan fokus terhadap kondisi yang ada sekarang. Saat kita bersikap mindful, kita dapat mengobservasi pikiran dan perasaan tanpa menilainya (judging) sebagai baik atau buruk. Dengan menjadi mindful, kita menghayati setiap momen yang berlangsung saat ini, tidak hidup di masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan.

Buku favorit ketiga tahun ini adalah Write. Publish. Repeat. oleh Sean Platt and Johnny B. Truant. Saya membaca buku ini karena memang berniat serius menulis. Buku ini membuka mata saya tentang dunia penerbitan dan produksi e-book. Saya belajar bahwa sejatinya penulis yang produktif tidak beda dengan seorang pengusaha, yakni sama-sama membuat dan menjual sebuah produk. Seperti halnya bisnis yang lain, menjual barang adalah salah satu cara untuk membuat uang bekerja untuk Anda. Jika Anda berdagang (buka warung atau berdagang asongan sayangnya tidak termasuk! Hehe.), maka ketika tidur pun Anda bisa mendapatkan passive income dari barang yang terjual. Seperti wirausaha lainnya, menjual buku membutuhkan kerja keras. Penulis harus bersaing dan dengan jutaan penulis lain untuk menjual bukunya. Asiknya, dunia penerbitan sudah banyak berubah seiring dengan perkembangan teknologi. Jika dulu buku perlu dicetak di lembaran kertas, sekarang orang bisa membaca buku elektronik di e-book reader seperti Kindle, di smartphone, di tablet, di laptop dan PC. Penulis juga bisa menerbitkan e-booknya secara mandiri, menjadi seorang penulis indie. Buku ini secara umum menjelaskan proses membangun bisnis sendiri dengan menjadi penulis e-book indie. Ada banyak tips berguna yang bisa kita pelajari di sini jika kita serius ingin menjadi penulis e-book yang produktif. So, I couldn’t be happier reading this gem. 😊

Buku keempat agak berbeda dari ketiga buku sebelumnya. Evicted: Poverty and Profit in the American City adalah sebuah narasi yang diangkat dari kisah nyata. Dalam buku ini, Matthew Desmond menceritakan kisah masyarakat miskin di Amerika yang tidak memiliki rumah. Evicted sendiri artinya ‘terusir’ atau ‘diusir’ dari rumah sewaan. Desmond sengaja tinggal di lingkungan miskin di Milwaukee di Amerika untuk menulis kisah orang-orang yang terpinggirkan, 8 keluarga yang tidak memiliki rumah sehingga harus terus berpindah-pindah. Orang-orang ini hidup dililit utang, tinggal dalam rumah sewaan bobrok yang ditempati banyak anggota keluarga, dan hidup dari tunjangan sosial satu dan lainnya. Mereka juga tidak memiliki pekerjaan tetap dan hidup di lingkungan dengan tingkat kriminalitas yang tinggi di mana prostitusi dan pengedaran obat-obatan terlarang telah menjadi pemandangan sehari-hari. Buku ini membuka mata saya mengenai kemiskinan di negara adidaya seperti Amerika Serikat. Amerika dalam Evicted jauh sekali dari glamornya Amerika yang digambarkan dalam film-film Hollywood. Saya jadi menyadari bahwa krisis tempat tinggal adalah masalah sosial yang bisa dialami di negara maju sekali pun.

Mau tidak mau saya jadi membandingkan kondisi ini dengan kondisi yang kita alami di negeri sendiri. Di Indonesia, orang kita terbiasa tinggal dengan keluarga besar. Kita tidak dipandang aneh jika sudah berumah tangga masih tinggal dengan orang tua. Menumpang di rumah saudara, tetangga, teman atau kenalan juga masih menjadi hal yang lumrah di sini. Adalah hal yang biasa juga bagi seseorang dari kampung misalnya untuk ‘ikut’ dengan seseorang yang tinggal di kota dan bekerja untuknya. Ini tidak sama dengan kondisi di Amerika, paling tidak seperti yang saya baca di buku ini, di sana masyarakatnya punya nilai yang berbeda dan tidak memiliki rumah berarti masalah besar. Bukan hanya karena tekanan sosial untuk memiliki rumah, namun kondisi iklim negara 4 musim juga menyulitkan mereka yang tunawisma. Siapkan tisu kalau ingin membaca buku ini.

Buku terakhir yang menjadi favorit saya tahun ini adalah Thinking, Fast and Slow oleh Daniel Kahneman. Daniel Kahneman adalah seorang profesor psikologi pemenang nobel ekonomi tahun 2002 (hebat, kan?) dan buku ini banyak dikutip dalam buku-buku bagus lain yang pernah saya baca. Pada dasarnya buku ini fokus pada irasionalitas manusia dan membahas mengenai 2 sistem berpikir manusia yang dia sebut dengan Sistem 1 dan Sistem 2. Sistem 1 adalah mode berpikir yang bersifat cepat, otomatis, intiutif, dan refleks. Sebaliknya, Sistem 2 adalah mode berpikir lambat yang naturnya menggunakan rasio, penuh pertimbangan, berdasarkan fakta, dan cenderung analitis.

Sistem 1 adalah ‘penguasa’ pikiran sebagian besar manusia. Contohnya, ketika kita melihat seseorang dengan ciri-ciri rapi, terlihat terpelajar, sedang berjalan di sebuah rumah sakit, kita mungkin akan berpikir jika orang tersebut adalah seorang dokter. Pada kenyataannya, orang tersebut kemungkinan bukan dokter. Jika melihat statistik, perbandingan jumlah pasien dan dokter di sebuah RS bisa jadi sangat jauh. Yang jelas ada lebih banyak pasien daripada dokter di sebuah rumah sakit. Dengan demikian, kemungkinan orang dengan ciri tersebut adalah pasien lebih besar dari kemungkinan orang tadi adalah dokter. Sistem 1 memutuskan bahwa orang dengan ciri tersebut adalah dokter. Sistem 2 meragukan prasangka awal ini dan mempertimbangkan kemungkinan orang tersebut bukan dokter. Sistem 1 cenderung menang karena pada dasarnya Sistem 2 membutuhkan lebih banyak usaha dan sifat alami manusia adalah memilih yang lebih mudah.

Saya belum selesai membaca buku yang terakhir ini, namun saya sudah sangat menyukainya. Buku ini membongkar kesalahan dan kecacatan berpikir kita sehari-hari. Kita mungkin berpikir manusia  adalah makhluk yang rasional. Nyatanya, kita adalah makhluk yang sangat tidak logis, di mana mood, emosi, dan penilaian singkat memengaruhi cara kita mengambil keputusan dan bersikap sehari-hari. Cara berpikir kita juga banyak dipengaruhi oleh bias kognitif (cognitive biases) dan kesesatan berpikir (logical fallacy) yang mencegah kita melihat masalah secara objektif. Are we really that desperate and hopeless? Saya belum selesai membaca, jadi belum bisa menjawabnya sekarang. Yang jelas, siapkan waktu membaca khusus untuk membaca buku ini karena buku ini bukan tipe buku ringan yang bisa dibaca sambil lalu.

Saya akan menutup tahun 2017 dengan berusaha menyelesaikan membaca buku-buku yang masih tertunda. Resolusi tahun 2018 saya adalah membaca lebih banyak buku.

Jadi, sudah berapa banyak buku yang kamu baca tahun ini? 😊

Cheers,

Haura Emilia