Tantangan Fokus dan Kesabaran di Era Gratifikasi Instan

Our entire consumer culture has elevated immediate gratification to life’s primary goal.

-Paul Roberts-

Siang itu saya terbengong-bengong melihat iklan Go-Jek yang dibintangi Dian Sastro. Dian mengunggah potongan iklan terbarunya itu di Instagram. Iklan tersebut menceritakan keseharian Dian, mulai dari aktivitas olahraga di pagi hari, membersihkan rumah, makan, sampai pergi shooting. Menariknya, semua kegiatan tersebut dilakukan dengan bantuan aplikasi Go-Jek. Mau makan? Tinggal pesan Go-Food. Mau bersih-bersih rumah? Ada Go-Clean. Mau belanja tapi malas keluar rumah? Tinggal pesan Go-Mart. Mau pergi shooting tapi macet? Beres, tinggal pesan Go-Jek. Ada dokumen penting yang ketinggalan di rumah? Jangan khawatir, kan ada Go-Send. Dian hanya butuh satu atau dua klik saja. Voila! Problem’s solved. Dalam hitungan detik. Secara instan. Fantastis.

“Aku males masak hari ini. Kita Go-Food aja, ya” adalah kalimat yang semakin sering kita dengar. Entah itu keluar dari mulut kita sendiri atau mulut pasangan. Mengapa tidak? Dalam beberapa menit saja makanan sudah siap terhidang di atas meja. Bandingkan dengan proses memasak (makanan Indonesia) yang memakan waktu paling tidak satu jam. Buat penggemar berat Go-Food, satu-satunya alasan mereka tidak menggunakan aplikasi ini setiap hari kemungkinan besar adalah keterbatasan dana. Jika uang bukan masalah, alasan lainnya kemungkinan adalah alasan kesehatan. Tanpa dua alasan tersebut, para fans berat Go-Food seperti saya mungkin tidak akan menginjakkan kaki di dapur lagi.

Segala sesuatu tidak pernah terjadi begitu cepat dan mudah seperti sekarang. Hampir semua persoalan hidup sehari-hari dapat kita selesaikan dengan bantuan aplikasi smartphone dan sedikit uang di rekening bank. Dengan kehadiran Uber dan Go-Car kita tidak perlu menyetir lagi untuk menembus kemacetan. Ribuan toko dan mall online siap memenuhi hasrat belanja kita 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Ketika berat badan terasa berlebih dan lemak di perut perlu dibasmi, ada ratusan jenis dan merek obat pelangsing yang menjanjikan hasil yang instan. “Turun 2 kilo dalam 7 hari” telah menjadi mantra sehat dan langsing kita yang mengidam-idamkan bentuk tubuh yang ideal. Kalau dulu kita harus tabah menunggu film seri atau sinetron favorit kita diputar seminggu sekali di TV, sekarang kita hanya perlu berlangganan NetFlix. Cukup ambil paket bulanan, film seri dan blockbuster favorit siap menemani kita siang dan malam. Binge watching Breaking Bad dan Grey’s Anatomy season 1 sampai 13 tidak pernah semudah sekarang. Cepatnya segala macam kemudahan telah menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari dan kita merasa hampa tanpanya.

Akui saja, sekarang kita hidup di jaman yang serba instan, di mana kesabaran jadi barang langka dan menunggu dianggap sebagai bencana. Menunggu telah menjadi kata kerja yang antre masuk museum. Yes, waiting has become the thing of the past. Praktis, mudah, dan cepat telah menjadi slogan kehidupan masa kini yang diamini setiap generasi millennial. Gaya hidup ini telah memuaskan hasrat dan kebutuhan dasar manusia untuk mendapatkan gratifikasi instan.

Definisi dan efek negatif gratifikasi instan

Menurut definisi, ‘gratifikasi instan’ (instant gratification) berarti sebuah kebiasaan untuk menghindari kesulitan jangka pendek yang berpotensi mengakibatkan kesulitan jangka panjang.1 Dengan kata lain, seseorang akan selalu menemukan alasan untuk tidak melakukan sesuatu karena prosesnya sulit walaupun dia mengetahui bahwa proses tersebut akan membantunya untuk mencapai tujuan atau cita-cita di masa depan. Ketika kita memilih untuk terus-terusan memesan makanan lewat Go-Food daripada memasak sendiri makanan yang lebih sehat atau memilih untuk menghabiskan lebih banyak waktu untuk menonton serial drama Korea daripada belajar atau membaca buku, sesungguhnya kita terbuai dalam perangkap gratifikasi instan.

Di masa lalu, generasi tua harus banyak bersabar untuk mendapatkan sesuatu. Hal sesederhana mengirim surat membutuhkan waktu yang lama untuk sampai. Untuk makan, mereka perlu bercocok tanam dan menunggu hasil panen sebelum akhirnya bahan makanan bisa diproses menuju meja makan. Teknologi mengubah semuanya. Teknologi berhasil menemukan solusi atas setiap penundaan yang menyakitkan ini. Tanpa penundaan, semua terasa lebih mudah dan nyaman. Gratifikasi instan pun menjadi salah satu kebutuhan hidup utama.

Ada beberapa alasan mengapa kita mencandu gratifikasi instan. Pertama, kita selalu berusaha menghindari penundaan. Menunggu bukanlah sesuatu yang menyenangkan. “Dari sudut pandang evolusi, manusia memiliki insting untuk mendapatkan hadiah langsung di tangan dan menolak insting tersebut tidaklah mudah. Evolusi telah memberikan manusia dan hewan lainnya keinginan yang kuat untuk mendapatkan sesuatu dengan cepat.”2

Kedua, kita menyukai segala sesuatu yang instan karena kita membenci ketidakpastian. Bayangkan jika harus menunggu berbulan-bulan hanya untuk mendapatkan surat balasan dari seorang teman yang tinggal di negeri seberang? Bagaimana nasib makanan yang kita pesan jika jasa delivery ‘sehari pasti sampai’ tidak pernah eksis? Kita tidak sanggup membayangkan apa yang terjadi dengan surat dan paket yang luntang-lantung tidak jelas keberadaannya di jalan.

Ketiga, kondisi psikologis seperti emosi dan sifat impulsif juga mendorong gaya hidup instan. Sekarang bayangkan Anda sedang asik menonton acara TV favorit. Saat break iklan, iklan restoran pizza yang baru buka tiba-tiba muncul. Berbagai menu lezat seperti pizza, pasta, dan lasagna menari-nari di depan mata. Seketika Anda merasa lapar, atau paling tidak Anda pikir Anda lapar. Nomor cantik yang mudah dihapal muncul berulang-ulang. Ya, tidak cukup sekali! Nomor kontak delivery pizza ini muncul paling tidak 3 kali dalam satu kali tayangan iklan. Liur Anda terbit. Saat itu juga Anda berpikir, “Kayaknya enak nih makan pizza SEKARANG”. Buru-buru Anda mengambil hape, membuka aplikasi dan memesan si pizza yang menari di pikiran. Ketika Anda menginginkan sesuatu Anda menginginkannya sekarang. Dan teknologi adalah pendukung utama Anda.

Terlepas dari semua kemudahan, kepraktisan, dan kecepatan ini, gratifikasi instan datang dengan harga yang harus kita bayar.

Harga pertama yang harus kita bayar adalah kepribadian kita. Kita telah bertransformasi menjadi generasi yang serba ingin cepat, antimenunggu, dan ingin melewatkan segala proses karena proses cenderung lambat dan menyulitkan. Dengan kata lain, kita menjadi pribadi yang tidak sabaran dan cepat marah. Saat internet melambat sedikit, kita akan mengumpat. Jika delivery belanjaan kita telat sehari kita akan resah dan panik. Ketika lampu mati selama beberapa jam dan kita tidak dapat mengisi daya handphone kita menjadi kesal dan marah karena bingung mau ngapain lagi.

Kita yang biasa dimanjakan dengan pertukaran informasi yang begitu cepat juga bisa mengalami fenomena yang dikenal dengan ‘Fear of Missing Out’ (FOMO). Kita tidak suka menunggu lama sedikit untuk mendapatkan update berita terbaru karena kita takut tertinggal berita dan tren terkini.

Kebiasaan mengharapkan sesuatu yang serba cepat dan instan ini juga meningkatkan ekspektasi kita terhadap sesuatu dan ketika kita tidak mendapatkannya kita akan kecewa. Misalnya, seseorang mengharapkan promosi ketika baru bekerja di sebuah perusahaan selama setahun atau dua tahun. Ketika ada yang salah sedikit atau ada sesuatu yang terasa tidak enak, orang ini langsung terpikir ingin keluar dan mencari pekerjaan baru. Ketidaksabaran dalam menghadapi masalah ini selanjutnya juga bisa menghambat kemampuan untuk menyelesaikan masalah. Ketidaksabaran dan keinginan untuk mendapatkan kemudahan secara instan menghentikan orang tersebut untuk mengevaluasi diri dan mencari solusi atas masalahnya di kantor.

Gratifikasi instan juga menekankan fokus pada output atau hasil, alih-alih pada proses. Dalam beberapa tahun terakhir ada semakin banyak lembaga pendidikan dan kursus yang menjanjikan masa sekolah dan pelatihan yang lebih singkat. Ingat iklan-iklan “Bisa bahasa Inggris dalam sebulan” atau “Kursus rakit komputer sehari” atau “Gelar S2 dalam setahun” yang banyak bertebaran di pintu angkot dan media cetak? Beberapa orang yang kebelet ingin naik jabatan mendaftar kuliah magister dan doktoral di universitas abal-abal yang menawarkan ijazah palsu. Media juga pernah memberitakan sebuah acara wisuda yang mahasiswanya tidak pernah mengikuti aktivitas perkuliahan. Di luar dunia pendidikan, banyak perempuan yang berbondong-bondong mengonsumsi pil diet yang tidak jelas efek samping jangka panjangnya demi tubuh langsing, alih-alih berolahraga dan makan makanan sehat dengan rutin. Semua terjadi karena kita mendambakan hasil yang instan.

Terakhir, ketagihan gratifikasi instan juga membuat kita membuang banyak waktu untuk hal-hal yang tidak produktif dan cenderung merugikan seperti menonton TV, berbelanja, main hape, main game, dan makan bahkan ketika kita tidak lapar.

Solusi

Dalam usaha menolak terperangkap dalam jebakan gratifikasi instan, saya berusaha mencari solusinya. Saya kemudian menyadari bahwa solusi utama untuk keluar dari perangkap ini adalah dengan membuat long-term goal. Tujuan atau cita-cita jangka panjang memaksa saya fokus pada proses yang diperlukan untuk mencapainya. Menonton TV memang lebih menyenangkan dibandingkan bekerja, memelototi timeline Facebook memang lebih mudah dari menulis blog, namun itu berarti saya menghabiskan waktu saya untuk kesenangan jangka pendek yang hanya akan mengalihkan fokus saya dari goal jangka panjang.

Kedua, saya belajar bahwa kita harus siap merangkul kesulitan dan penderitaan demi keuntungan di masa depan. Misalnya, saya selama ini malas sekali mengikuti ujian sertifikasi penerjemah padahal sertifikasi tersebut bisa membantu saya berkembang sebagai seorang penerjemah. Alasannya banyak: mengambil ujian sertifikasi berarti harus menghadapi kenyataan bahwa lokasi ujiannya jauh dari kota tempat saya tinggal, biaya ujiannya lumayan besar, ongkos transportasi dan akomodasi yang harus dikeluarkan cukup banyak, plus cuti harus diambil untuk mempersiapkan diri dan bepergian (yang otomatis berakibat pada penurunan penghasilan bagi pekerja freelance seperti saya). Tapi tanpa usaha tidak akan ada hasil. Tanpa keringat tidak ada kata sukses. No pain no gain.

Ketiga, kita perlu berhenti menjustifikasi hal-hal negatif demi mendapatkan kesenangan instan. Alasan-alasan seperti “Belanja impulsif? Ah, kan mau lebaran”; “Makan tanpa kontrol? Gampang, tinggal puasa dan minum teh hijau”; “Mau cepat lulus kuliah? Tinggal bayar orang untuk mengerjakan skripsi” adalah bentuk justifikasi diri yang harus dihindari. Kita juga perlu memahami bahwa kepuasan yang didapat secara instan sifatnya hanya sementara dan umumnya tidak memberikan keuntungan apa-apa di masa depan.

Terakhir, menciptakan lingkungan yang kondusif akan sangat membantu. Misalnya, bertemanlah dengan orang-orang yang positif dan giat bekerja, rajin berolahraga, gemar memasak makanan sehat, dan bukan Go-Food die-hard fans. 😊

Cheers,

Haura Emilia

Referensi:

1Adam Sicinski. Do You Struggle with Instant Gratification? You Must Try These 5 steps. http://blog.iqmatrix.com/instant-gratification

2Shahram Heshmat, Ph.D. 10 Reasons We Rush for Immediate Gratification. https://www.psychologytoday.com/blog/science-choice/201606/10-reasons-we-rush-immediate-gratification

 

2 respons untuk ‘Tantangan Fokus dan Kesabaran di Era Gratifikasi Instan

  1. setuju dengan artikel yang kamu buat, masyarakat sekarang memang banyak yang maunya instan, mudah, cepat, ya walaupun memang tidak semua orang seperti itu. menurutku juga sih perkembangan zaman juga yang mendorong perubahan kehidupan masyarakat sekarang. pengen langsung dapat hasil, tanpa melalui proses, dan kalau seperti ini terus daya kreatifitas akan menurun khususnya buat anak muda. terimakasih buat artikelnya menambah informasi dan membuka pikiran.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s