Tantangan Fokus dan Kesabaran di Era Gratifikasi Instan

Our entire consumer culture has elevated immediate gratification to life’s primary goal.

-Paul Roberts-

Siang itu saya terbengong-bengong melihat iklan Go-Jek yang dibintangi Dian Sastro. Dian mengunggah potongan iklan terbarunya itu di Instagram. Iklan tersebut menceritakan keseharian Dian, mulai dari aktivitas olahraga di pagi hari, membersihkan rumah, makan, sampai pergi shooting. Menariknya, semua kegiatan tersebut dilakukan dengan bantuan aplikasi Go-Jek. Mau makan? Tinggal pesan Go-Food. Mau bersih-bersih rumah? Ada Go-Clean. Mau belanja tapi malas keluar rumah? Tinggal pesan Go-Mart. Mau pergi shooting tapi macet? Beres, tinggal pesan Go-Jek. Ada dokumen penting yang ketinggalan di rumah? Jangan khawatir, kan ada Go-Send. Dian hanya butuh satu atau dua klik saja. Voila! Problem’s solved. Dalam hitungan detik. Secara instan. Fantastis.

“Aku males masak hari ini. Kita Go-Food aja, ya” adalah kalimat yang semakin sering kita dengar. Entah itu keluar dari mulut kita sendiri atau mulut pasangan. Mengapa tidak? Dalam beberapa menit saja makanan sudah siap terhidang di atas meja. Bandingkan dengan proses memasak (makanan Indonesia) yang memakan waktu paling tidak satu jam. Buat penggemar berat Go-Food, satu-satunya alasan mereka tidak menggunakan aplikasi ini setiap hari kemungkinan besar adalah keterbatasan dana. Jika uang bukan masalah, alasan lainnya kemungkinan adalah alasan kesehatan. Tanpa dua alasan tersebut, para fans berat Go-Food seperti saya mungkin tidak akan menginjakkan kaki di dapur lagi.

Segala sesuatu tidak pernah terjadi begitu cepat dan mudah seperti sekarang. Hampir semua persoalan hidup sehari-hari dapat kita selesaikan dengan bantuan aplikasi smartphone dan sedikit uang di rekening bank. Dengan kehadiran Uber dan Go-Car kita tidak perlu menyetir lagi untuk menembus kemacetan. Ribuan toko dan mall online siap memenuhi hasrat belanja kita 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Ketika berat badan terasa berlebih dan lemak di perut perlu dibasmi, ada ratusan jenis dan merek obat pelangsing yang menjanjikan hasil yang instan. “Turun 2 kilo dalam 7 hari” telah menjadi mantra sehat dan langsing kita yang mengidam-idamkan bentuk tubuh yang ideal. Kalau dulu kita harus tabah menunggu film seri atau sinetron favorit kita diputar seminggu sekali di TV, sekarang kita hanya perlu berlangganan NetFlix. Cukup ambil paket bulanan, film seri dan blockbuster favorit siap menemani kita siang dan malam. Binge watching Breaking Bad dan Grey’s Anatomy season 1 sampai 13 tidak pernah semudah sekarang. Cepatnya segala macam kemudahan telah menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari dan kita merasa hampa tanpanya.

Akui saja, sekarang kita hidup di jaman yang serba instan, di mana kesabaran jadi barang langka dan menunggu dianggap sebagai bencana. Menunggu telah menjadi kata kerja yang antre masuk museum. Yes, waiting has become the thing of the past. Praktis, mudah, dan cepat telah menjadi slogan kehidupan masa kini yang diamini setiap generasi millennial. Gaya hidup ini telah memuaskan hasrat dan kebutuhan dasar manusia untuk mendapatkan gratifikasi instan.

Definisi dan efek negatif gratifikasi instan

Menurut definisi, ‘gratifikasi instan’ (instant gratification) berarti sebuah kebiasaan untuk menghindari kesulitan jangka pendek yang berpotensi mengakibatkan kesulitan jangka panjang.1 Dengan kata lain, seseorang akan selalu menemukan alasan untuk tidak melakukan sesuatu karena prosesnya sulit walaupun dia mengetahui bahwa proses tersebut akan membantunya untuk mencapai tujuan atau cita-cita di masa depan. Ketika kita memilih untuk terus-terusan memesan makanan lewat Go-Food daripada memasak sendiri makanan yang lebih sehat atau memilih untuk menghabiskan lebih banyak waktu untuk menonton serial drama Korea daripada belajar atau membaca buku, sesungguhnya kita terbuai dalam perangkap gratifikasi instan.

Di masa lalu, generasi tua harus banyak bersabar untuk mendapatkan sesuatu. Hal sesederhana mengirim surat membutuhkan waktu yang lama untuk sampai. Untuk makan, mereka perlu bercocok tanam dan menunggu hasil panen sebelum akhirnya bahan makanan bisa diproses menuju meja makan. Teknologi mengubah semuanya. Teknologi berhasil menemukan solusi atas setiap penundaan yang menyakitkan ini. Tanpa penundaan, semua terasa lebih mudah dan nyaman. Gratifikasi instan pun menjadi salah satu kebutuhan hidup utama.

Ada beberapa alasan mengapa kita mencandu gratifikasi instan. Pertama, kita selalu berusaha menghindari penundaan. Menunggu bukanlah sesuatu yang menyenangkan. “Dari sudut pandang evolusi, manusia memiliki insting untuk mendapatkan hadiah langsung di tangan dan menolak insting tersebut tidaklah mudah. Evolusi telah memberikan manusia dan hewan lainnya keinginan yang kuat untuk mendapatkan sesuatu dengan cepat.”2

Kedua, kita menyukai segala sesuatu yang instan karena kita membenci ketidakpastian. Bayangkan jika harus menunggu berbulan-bulan hanya untuk mendapatkan surat balasan dari seorang teman yang tinggal di negeri seberang? Bagaimana nasib makanan yang kita pesan jika jasa delivery ‘sehari pasti sampai’ tidak pernah eksis? Kita tidak sanggup membayangkan apa yang terjadi dengan surat dan paket yang luntang-lantung tidak jelas keberadaannya di jalan.

Ketiga, kondisi psikologis seperti emosi dan sifat impulsif juga mendorong gaya hidup instan. Sekarang bayangkan Anda sedang asik menonton acara TV favorit. Saat break iklan, iklan restoran pizza yang baru buka tiba-tiba muncul. Berbagai menu lezat seperti pizza, pasta, dan lasagna menari-nari di depan mata. Seketika Anda merasa lapar, atau paling tidak Anda pikir Anda lapar. Nomor cantik yang mudah dihapal muncul berulang-ulang. Ya, tidak cukup sekali! Nomor kontak delivery pizza ini muncul paling tidak 3 kali dalam satu kali tayangan iklan. Liur Anda terbit. Saat itu juga Anda berpikir, “Kayaknya enak nih makan pizza SEKARANG”. Buru-buru Anda mengambil hape, membuka aplikasi dan memesan si pizza yang menari di pikiran. Ketika Anda menginginkan sesuatu Anda menginginkannya sekarang. Dan teknologi adalah pendukung utama Anda.

Terlepas dari semua kemudahan, kepraktisan, dan kecepatan ini, gratifikasi instan datang dengan harga yang harus kita bayar.

Harga pertama yang harus kita bayar adalah kepribadian kita. Kita telah bertransformasi menjadi generasi yang serba ingin cepat, antimenunggu, dan ingin melewatkan segala proses karena proses cenderung lambat dan menyulitkan. Dengan kata lain, kita menjadi pribadi yang tidak sabaran dan cepat marah. Saat internet melambat sedikit, kita akan mengumpat. Jika delivery belanjaan kita telat sehari kita akan resah dan panik. Ketika lampu mati selama beberapa jam dan kita tidak dapat mengisi daya handphone kita menjadi kesal dan marah karena bingung mau ngapain lagi.

Kita yang biasa dimanjakan dengan pertukaran informasi yang begitu cepat juga bisa mengalami fenomena yang dikenal dengan ‘Fear of Missing Out’ (FOMO). Kita tidak suka menunggu lama sedikit untuk mendapatkan update berita terbaru karena kita takut tertinggal berita dan tren terkini.

Kebiasaan mengharapkan sesuatu yang serba cepat dan instan ini juga meningkatkan ekspektasi kita terhadap sesuatu dan ketika kita tidak mendapatkannya kita akan kecewa. Misalnya, seseorang mengharapkan promosi ketika baru bekerja di sebuah perusahaan selama setahun atau dua tahun. Ketika ada yang salah sedikit atau ada sesuatu yang terasa tidak enak, orang ini langsung terpikir ingin keluar dan mencari pekerjaan baru. Ketidaksabaran dalam menghadapi masalah ini selanjutnya juga bisa menghambat kemampuan untuk menyelesaikan masalah. Ketidaksabaran dan keinginan untuk mendapatkan kemudahan secara instan menghentikan orang tersebut untuk mengevaluasi diri dan mencari solusi atas masalahnya di kantor.

Gratifikasi instan juga menekankan fokus pada output atau hasil, alih-alih pada proses. Dalam beberapa tahun terakhir ada semakin banyak lembaga pendidikan dan kursus yang menjanjikan masa sekolah dan pelatihan yang lebih singkat. Ingat iklan-iklan “Bisa bahasa Inggris dalam sebulan” atau “Kursus rakit komputer sehari” atau “Gelar S2 dalam setahun” yang banyak bertebaran di pintu angkot dan media cetak? Beberapa orang yang kebelet ingin naik jabatan mendaftar kuliah magister dan doktoral di universitas abal-abal yang menawarkan ijazah palsu. Media juga pernah memberitakan sebuah acara wisuda yang mahasiswanya tidak pernah mengikuti aktivitas perkuliahan. Di luar dunia pendidikan, banyak perempuan yang berbondong-bondong mengonsumsi pil diet yang tidak jelas efek samping jangka panjangnya demi tubuh langsing, alih-alih berolahraga dan makan makanan sehat dengan rutin. Semua terjadi karena kita mendambakan hasil yang instan.

Terakhir, ketagihan gratifikasi instan juga membuat kita membuang banyak waktu untuk hal-hal yang tidak produktif dan cenderung merugikan seperti menonton TV, berbelanja, main hape, main game, dan makan bahkan ketika kita tidak lapar.

Solusi

Dalam usaha menolak terperangkap dalam jebakan gratifikasi instan, saya berusaha mencari solusinya. Saya kemudian menyadari bahwa solusi utama untuk keluar dari perangkap ini adalah dengan membuat long-term goal. Tujuan atau cita-cita jangka panjang memaksa saya fokus pada proses yang diperlukan untuk mencapainya. Menonton TV memang lebih menyenangkan dibandingkan bekerja, memelototi timeline Facebook memang lebih mudah dari menulis blog, namun itu berarti saya menghabiskan waktu saya untuk kesenangan jangka pendek yang hanya akan mengalihkan fokus saya dari goal jangka panjang.

Kedua, saya belajar bahwa kita harus siap merangkul kesulitan dan penderitaan demi keuntungan di masa depan. Misalnya, saya selama ini malas sekali mengikuti ujian sertifikasi penerjemah padahal sertifikasi tersebut bisa membantu saya berkembang sebagai seorang penerjemah. Alasannya banyak: mengambil ujian sertifikasi berarti harus menghadapi kenyataan bahwa lokasi ujiannya jauh dari kota tempat saya tinggal, biaya ujiannya lumayan besar, ongkos transportasi dan akomodasi yang harus dikeluarkan cukup banyak, plus cuti harus diambil untuk mempersiapkan diri dan bepergian (yang otomatis berakibat pada penurunan penghasilan bagi pekerja freelance seperti saya). Tapi tanpa usaha tidak akan ada hasil. Tanpa keringat tidak ada kata sukses. No pain no gain.

Ketiga, kita perlu berhenti menjustifikasi hal-hal negatif demi mendapatkan kesenangan instan. Alasan-alasan seperti “Belanja impulsif? Ah, kan mau lebaran”; “Makan tanpa kontrol? Gampang, tinggal puasa dan minum teh hijau”; “Mau cepat lulus kuliah? Tinggal bayar orang untuk mengerjakan skripsi” adalah bentuk justifikasi diri yang harus dihindari. Kita juga perlu memahami bahwa kepuasan yang didapat secara instan sifatnya hanya sementara dan umumnya tidak memberikan keuntungan apa-apa di masa depan.

Terakhir, menciptakan lingkungan yang kondusif akan sangat membantu. Misalnya, bertemanlah dengan orang-orang yang positif dan giat bekerja, rajin berolahraga, gemar memasak makanan sehat, dan bukan Go-Food die-hard fans. 😊

Cheers,

Haura Emilia

Referensi:

1Adam Sicinski. Do You Struggle with Instant Gratification? You Must Try These 5 steps. http://blog.iqmatrix.com/instant-gratification

2Shahram Heshmat, Ph.D. 10 Reasons We Rush for Immediate Gratification. https://www.psychologytoday.com/blog/science-choice/201606/10-reasons-we-rush-immediate-gratification

 

Iklan

Cinta dalam Segelas Teh Madu

Saya selalu berharap menemukan seseorang yang akan mencintai saya seperti ayah mencintai ibu. Ketika muda dulu, ayah saya yang berusia 23 tahun lebih tua dari ibu pergi ke dapur untuk membantu ibu mengulek bumbu dan cabe. Ayah saya, yang dibesarkan dalam tatanan masyarakat yang sangat patriarkal membantu ibu saya mencuci pakaian. Ayah saya yang baik tidak pernah marah dan mengucapkan kata-kata kasar ke ibu. Ayah hanya tersenyum mendengarkan cerita dan keluhan ibu sehari-harinya. Ayah membangunkan rumah sederhana untuk ibu karena ia tahu ibu hanya ingin meninggalkan sebuah rumah untuk anak-anak perempuannya suatu hari nanti.

Ayah mungkin saja keras terhadap anak-anaknya, tapi tidak pernah sekali pun saya mendengar ayah berteriak kepada ibu. Ia adalah orang sederhana yang sangat mudah dibuat bahagia. Segelas kopi buatan ibu setiap pagi sudah cukup untuk mencerahkan hari ayah. Ayah adalah orang yang pendiam, hobinya membaca buku setiap hari. Ayah juga jarang sekali minta dibelikan ini dan itu. Tidak meminta diajak jalan ke sana dan ke mari. Kesederhanaan ini sungguh meringankan kehidupan pernikahan ayah dan ibu di tengah-tengah kesulitan ekonomi yang mereka hadapi.

Ayah tidak pernah memiliki banyak harta. Semua yang dia punya, sebuah rumah dia buatkan atas nama ibu. Sebuah mobil dia buatkan atas nama saya. Waktu saya kecil, kami berpindah-pindah rumah sebanyak 9 kali karena kami terus pindah kontrakan. Ibu tetap di sisi ayah. Ibu tidak pernah mengeluh dan menuntut ini itu. Ayah pun tidak meminta ibu bersabar karena ia tahu ibu sudah sabar dan kuat. Ayah saya yang baik dan ibu saya yang baik adalah satu-satunya potret kehidupan pernikahan yang saya tahu dan saya harapkan akan saya miliki. Mereka mengajarkan saya bahwa harta itu penting untuk bertahan hidup namun itu bukan segalanya dan bukan sumber kebahagiaan. Cintalah sumber kebahagiaan mereka.

Ketika saya beranjak besar saya menyadari bahwa banyak orang-orang di sekitar saya yang pernikahannya bermasalah. Ada seorang dewasa yang mengatakan kepada saya bahwa pernikahan adalah neraka. Beberapa keluarga terdekat bercerai dari pasangan masing-masing. Di sekolah saya mengenal teman-teman yang orang tuanya bercerai atau bertengkar setiap hari. Ada pula yang dibesarkan dengan orang tua tunggal. Ini semua membuka mata saya bahwa pernikahan ayah dan ibu saya bak utopia meski tidak sempurna seperti pernikahan Pangeran dan Cinderella. Saya menjadi sedikit khawatir, apakah saya akan pernah menemukan seseorang yang akan mencintai saya seperti ayah mencintai ibu dan ibu mencintai ayah.

Saat dewasa dan hidup sendiri jauh dari orang tua, saya sempat merasa putus asa dan skeptis terhadap hubungan antarmanusia. Saya banyak belajar bahwa hubungan antara dua manusia tidak pernah mudah. Hubungan dua manusia yang saling mencintai sekali pun bisa menjadi sangat rumit dan kompleks karena kita tidak hidup di dunia yang ideal. Karena kita tidak sempurna. Secocok apa pun kita dengan seseorang, tidak ada dua manusia yang benar-benar sama. Beberapa kali mencoba berhubungan dengan seseorang tidak berakhir menyenangkan untuk saya dan mereka. Saya pun mulai merendahkan ekspektasi saya terhadap pernikahan. Saya berpikir tidak apa-apa jika saya harus hidup sendiri, tidak menikah, daripada hidup dengan orang yang membuat saya tidak bahagia.

Lalu, tanpa disangka saya bertemu orang yang pada akhirnya akan menjadi suami saya. Hubungan kami tidak dimulai dengan dongeng cinta pada pandangan pertama. Saya tidak punya perasaan atau prasangka apa-apa terhadap dirinya. Dia pun begitu, tidak melihat saya sebagai perempuan yang istimewa. Buat saya dia terlihat biasa aja. Buat dia saya biasa-biasa saja. Sampai akhirnya kami mulai membuka diri untuk satu sama lain. Kami mulai bercerita dan bertukar pikiran. Saya menyelami pemikirannya. Dia mencoba memahami sudut pandang saya. Di sini ketertarikan dimulai. Bukan dari fisik, bukan dari mata. Semua bermula dari telinga yang mendengarkan. Bermula dari hati yang mau menerima perbedaan. Bermula dari rasa hormat dua orang yang besar di dua keluarga dan latar belakang yang sama sekali berbeda.

Saya besar di lingkungan keluarga yang sangat kental dengan budaya Sumatra yang cenderung ‘keras’ dan serba berterus terang. Saya juga lahir dan tumbuh besar di Jakarta. Dia besar dalam keluarga Jawa yang penuh dengan tipikal dan stereotip orang Jawa yang ‘halus’, lebih sabar, dan ‘tidak enakan’. Dia tidak pernah bersuara tinggi dan besar. God knows how loud I can be sometimes.

He knew I was a troubled person since the very beginning. Dia tahu saya orang yang skeptis, pesimis dalam banyak hal tentang kehidupan, dan cenderung sinis. Namun, dia melihat banyak kebaikan dalam diri saya yang bahkan tidak saya sadari sebelumnya. Dia menerima saya sebagai satu ‘paket’ utuh. Dia meyakinkan saya bahwa saya adalah orang yang normal dan baik. Menurut dia pesimisme saya terhadap banyak hal adalah salah satu risiko dari menjadi sedikit orang yang menghabiskan masa kecil dengan membaca terlalu banyak buku. Dia bilang sesekali menjadi pesimis tidak apa-apa karena memang kita tidak sempurna, dunia tidak sempurna. Namun, itu bukan alasan untuk bersedih dan tidak berbahagia.

Ya, dia adalah salah satu orang paling positif dan bahagia yang pernah saya kenal. Dia selalu tersenyum ceria seperti matahari di musim kemarau. Di luar bisa saja hujan atau badai, tapi baginya itu bukan alasan untuk menjadi bad mood dan muram. Seperti ayah saya, dia juga menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membaca dan bekerja. Dia akan membuat satu goal dan fokus untuk mencapai goal tersebut. Jika goal itu sudah tercapai dia akan move on dan membuat goal yang baru. Jadi walaupun hidup menempatkannya di posisi yang sulit dia tidak pernah punya banyak waktu untuk bersedih dan berduka. Dia juga tidak banyak omong petantang petenteng walaupun prestasinya cukup banyak untuk orang seusianya. Dia sebisa mungkin menghindari gosip dan drama. Dia menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak konstruktif.

Dia bukan orang yang besar di keluarga yang bergelimang harta. Bapaknya adalah seorang guru sederhana dan seorang pekerja keras. Bapaknya adalah orang yang baik. Begitu dia bercerita. Namun malang tidak dapat ditolak, bapaknya yang baik pergi begitu cepat saat dia baru mulai kuliah. Sejak saat itu dia selalu bertekad untuk mengurus dirinya dan keluarganya sebaik-baiknya. Dia kemudian bercerita dengan wajah ceria bagaimana dulu dia bekerja sambilan menjaga warnet dengan upah seribu rupiah per jam sambil kuliah. Dia juga harus bertahan dengan uang makan 5000 rupiah sehari. Dia tidak punya kemampuan untuk sekadar jalan-jalan nonton di 21 atau makan-makan di kafe seperti layaknya mahasiswa kebanyakan. Saya tanya apakah dia pernah menyesali keadaannya dulu. Dia hanya tertawa dan bilang bahwa dia tidak menyesali apa pun dan bahwa saat-saat itu adalah masa-masa indah yang begitu berharga dan mengajarkan dia untuk bertahan hidup di dunia yang keras. Hidupnya keras namun entah bagaimana kesulitan hidup gagal membuat hatinya jadi keras juga.

Dia kemudian meyakinkan saya untuk menikahinya. Orang yang sederhana dan baik hati ini mengajak saya untuk memulai kehidupan baru bersama-sama. Dia mengajak saya membuat lebih banyak kenangan indah yang akan saya bawa hingga kami meninggalkan dunia suatu hari nanti. Saya pun mengiyakannya. Bayangan pernikahan a la ayah dan ibu saya tiba-tiba muncul kembali di kepala saya. Saya merasa mungkin ini adalah kesempatan saya untuk memiliki apa yang ibu dan ayah saya miliki.

Dia tidak pernah mendalami feminisme dan tidak pernah memikirkan tentang tatanan masyarakat kita yang sangat patriarkis. Dia hanya berpendapat bahwa semua orang berhak untuk mendapatkan keadilan. Bahwa setiap orang berhak mendapatkan hormat. Semua orang punya hak untuk mencintai dan dicintai. Laki-laki dan perempuan. Jadi itulah yang dia lakukan terhadap saya.

Dia selalu mengawali hari pagi-pagi sekali. Dia akan bangun, membaca buku, berolahraga ringan jika sempat, menyapu lantai, mandi pagi, membuat segelas kopi atau teh, lalu mulai bekerja. Dia tidak pernah meminta saya membuatkannya kopi karena dia menikmati proses membuat kopi dan ingin melakukannya sendiri. Mungkin dia menganggap ini hal sepele, namun bagi saya ini adalah bentuk kebahagiaan sederhana. Dengan memiliki kesukaan dan hobinya sendiri saya yakin bahwa dia akan baik-baik saja bahkan jika saya sedang tidak bersamanya.

Kadang saya bangun pagi dengan perasaan kurang enak karena ada satu atau dua masalah yang saya pikirkan atau belum saya temui solusinya. Dia akan menawari saya segelas teh hangat dengan madu. Dia lalu akan mendengarkan celotehan pagi saya. Bahkan saat mood saya jelek dia hanya akan tersenyum dan meyakinkan saya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sulit rasanya untuk lama-lama bete jika dikelilingi dengan energi yang begitu positif.

Jangan salah, kami bukannya tidak pernah berselisih sama sekali. Kami tidak sempurna. Tapi ketika salah satu berusaha menyampaikan poinnya, yang lain akan berusaha sekuat tenaga untuk mendengarkan tanpa terbawa emosi. Sering kali yang perlu kita lakukan hanyalah mendengarkan sudut pandang orang lain dan menunggu hingga emosinya mereda. Dia tahu saya akan baik lagi. Saya tahu dia akan normal lagi. Kami menyadari bahwa pernikahan adalah kerja keras di mana dua orang harus berkompromi. We know we should try whatever works to make one another happy.

Dia menyeduhkan saya teh madu di pagi hari. Saya menyiapkan makan siang untuknya setiap hari. Dia menyapu rumah dan membersihkan kotoran kucing di pagi hari. Saya mengepel lantai dan membereskan pakaian kotornya. Di saat saya sakit dia mengurus saya dengan baik. Membersihkan rumah dan membuatkan makan siang. Di saat dia sakit saya melakukan hal yang sama. Kalau saya terlalu lelah untuk memasak apa pun selain telur mata sapi dan dia juga tidak sempat melakukannya, dia akan tersenyum dan bilang, “Terima kasih, Sayang”. Tidak pernah ia berteriak dan menyuruh saya melakukan ini itu. Dia tidak butuh mempelajari feminisme untuk menghormati dan memperlakukan saya dengan lembut. Dia tidak perlu ceramah pernikahan untuk tahu bagaimana menjadi pasangan hidup yang baik. Dia tidak perlu label. He does whatever works to make us happy. I try to do the same. Sesederhana itu.

Saat segelas teh madu yang dia buat di pagi hari terhidang di atas meja, saya selalu ingin menangis. Saya teringat ayah saya yang baik dan ibu saya yang begitu setia. Secangkir kopi buatan ibu sama dengan segelas teh madu buatannya. Segelas minuman yang syarat kasih sayang, kesabaran, kesetiaan, dan rasa hormat. Sesungguhnya bukan kopi atau teh yang kami nikmati. Yang kami nikmati adalah segelas cinta.

Cheers,

Haura Emilia

November 2017

Catatan:

Tulisan ini dibuat untuk mengenang ayah saya yang sudah terlebih dulu meninggalkan kami dan untuk suami tersayang yang berulang tahun ke-34 tanggal 19 November 2017. Selamat ulang tahun, Mas. Semoga umurmu panjang dan selalu diberikan kesehatan. Terima kasih untuk semua cinta dan pengorbanannya. Semoga cinta dan kasih selalu menerangi jalan kita. Sekarang dan selamanya. ❤️🎂🎁

Credit:

The image above belongs to Allgrey Studio. Please do not repost. Thank you Mas Dian for letting me use your beautiful picture. ❤️

Growth: Malapetaka Pembangunan dan Pertumbuhan

“Modernity is based on the firm belief that economic growth is not only possible, but absolutely essential.”

Yuval Noah Harari

Suatu hari saya dan Mamat berdiskusi ringan tentang investasi. Pembicaraan kami dimulai dari sekadar ngalor-ngidul kosong hingga yang serius seperti filosofi di balik investasi. Diskusi ini kemudian berlanjut dengan ide membeli sebuah apartemen untuk dilisting di AirBnB. Seperti layaknya jenis investasi yang lain, kami menyadari bahwa investasi di bidang properti memiliki risikonya sendiri.

“Tapi kalau malas memikirkan cicilan dan risikonya, ya sebaiknya gak usah saja. Toh kita selalu punya pilihan untuk berinvestasi atau tidak. Dananya didiamkan saja di bank”, begitu kata Mamat saat itu.

Saya tersentak. Pernyataan tersebut membuat saya berpikir. Sebuah pertanyaan muncul di benak saya. Mengapa kita berinvestasi? Mengapa kita tidak puas hanya dengan apa yang sudah kita miliki? Katakanlah Anda punya dana menganggur di tabungan sebesar 500 juta rupiah. Anda sudah memiliki sebuah rumah, sebuah mobil, tabungan pendidikan untuk anak-anak, asuransi kesehatan, dan kebutuhan sehari-hari bukan lagi sebuah masalah yang Anda pikirkan siang dan malam. Apa yang akan Anda lakukan dengan uang tunai tersebut? Apakah Anda akan mendepositokannya? Atau Anda akan menggunakannya untuk modal usaha? Atau, kalau Anda penggemar logam mulia, Anda akan belikan emas? Apa pun pilihan Anda, rasanya kecil kemungkinan Anda akan mendiamkan uang tersebut menganggur di bank atau menyimpannya di bawah kasur. Kemungkinan besar Anda akan menginvestasikannya, dengan cara apa pun yang Anda suka. Kembali ke pertanyaan saya tadi, jadi kenapa kita berinvestasi? Mengapa kita selalu menginginkan sesuatu yang lebih dalam hidup? Lebih banyak. Lebih besar. Lebih enak. Lebih nyaman. Lebih stabil. Harta, karir, kepribadian, spritualitas. Kita selalu ingin berkembang. Kita selalu mendambakan pertumbuhan. We all want more pies in life.

Saya dan Anda tidak sendirian. Dari sudut pandang makro, negara juga melakukan hal yang sama: wacana pembangunan dan pertumbuhan selalu jadi agenda utama dalam pemerintahan. Ide pertumbuhan income, saving, investasi, dan pembangunan tanpa henti telah menghantui kehidupan pascarevolusi industri. Salah satu konsekuensi revolusi industri adalah kapitalisme dan doktrin utamanya adalah pertumbuhan (growth). Pertumbuhan telah lama menjadi jualan utama politisi untuk memenangkan pemilihan. Ekonomi, infrastruktur, sumber daya manusia, pendidikan. Semua didorong untuk terus tumbuh dan berkembang.  Bahkan negara maju seperti Singapura belum berhenti membangun. Singapura berencana untuk terus membangun sarana transportasinya hingga seluruh pelosok negara dapat dijangkau MRT dan bus. Singapura bukan satu-satunya negara maju yang kecanduan pertumbuhan. Jepang, misalnya, berusaha mati-matian untuk menambah populasi penduduknya. Kenapa? Agar jumlah generasi produktif (baca: kelas pekerja) bertambah. Mengapa harus lebih produktif? Agar Jepang bisa membangun lebih banyak, agar ekonomi terus berkembang, dan agar bisa menghasilkan lebih banyak inovasi. Di Indonesia sendiri Presiden Jokowi dan Kabinet Kerjanya tidak bosan-bosan berbicara tentang pembangunan. Bahwa kita semua harus bekerja lebih keras untuk menumbuhkan perekonomian negara. In short, we’re all addicted to growth.

Logikanya, jika kita memproduksi lebih banyak maka kita bisa mengonsumsi lebih banyak, menaikkan standar kehidupan dan dengan demikian bisa menikmati hidup yang lebih bahagia.1 Kedua, selama manusia terus bereproduksi, pertumbuhan ekonomi diperlukan untuk paling tidak mempertahankan status quo.2 Indonesia, misalnya, memiliki sekitar 261 juta orang penduduk pada tahun 2016 dengan GDP 932,3 milyar dolar.3 Pada tahun 2018 diperkirakan akan ada sekitar 266 juta orang Indonesia.4 Dengan kata lain, akan ada sekitar 5 juta ‘manusia baru’ dalam rentang waktu 2 tahun. Jika GDP tidak meningkat, maka negara tidak akan bisa menyejahterakan 5 juta orang tambahan ini. Jika pie ekonomi tidak membesar maka pie kelompok kaya harus dibagi ke kelompok yang lebih miskin. Kebanyakan dari kita tidak akan menyukai ide ini. Maka kita tidak memiliki pilihan. Ekonomi harus tetap tumbuh dan berkembang untuk memberi makan mulut-mulut yang lapar. Growth is therefore a must.

Kepercayaan terhadap pertumbuhan ekonomi telah menjelma jadi agama baru. Semua orang menjadi sangat bernafsu dan terobsesi dengan pertumbuhan dan pembangunan. Para marketer dijanjikan bonus jika bisa menjual lebih banyak produk. Pegawai pemerintah di beberapa negara seperti Singapura bisa dinaikan gajinya kalau berhasil menaikkan GDP negara. Para investor terus mendorong bisnis untuk terus berkembang dan meningkatkan profit. Kelas menengah atas berlomba-lomba membeli lebih banyak barang dan properti. Perusahaan investasi baru terus bermunculan bak jamur di musim hujan. Investasi jenis baru terus lahir, mulai dari bitcoin dan digital currency lain semacam Ethereum dan Litecoin. Rakyat biasa tidak mau kalah: kita membeli lebih banyak makanan dari yang bisa kita habiskan, lebih banyak mobil dari yang bisa kita kendarai, lebih banyak rumah dari yang bisa kita tinggali. Beberapa kelompok masyarakat juga pergi kerja ke luar negeri demi mendapatkan income yang lebih besar.

Lalu di mana masalahnya? Pembangunan dan pertumbuhan ekonomi dapat menyejahterakan banyak orang. Perkembangan teknologi dan pertumbuhan ekonomi dalam seratus tahun terakhir telah memperpanjang umur manusia, menyembuhkan berbagai penyakit, memperpendek jarak antarbenua, dan mengakhiri wabah epidemik dan bencana kelaparan. Bukan kah ini hal yang positif? Pada kenyataannya, pertumbuhan sejatinya adalah pisau bermata dua. Pertumbuhan juga bisa berubah menjadi malapetaka.

Pertama, pembangunan dan pertumbuhan yang tidak terkendali dan terus menerus membawa banyak masalah sosial: besarnya gap ekonomi dan sosial, masalah lingkungan (ecological apocalypse), eksploitasi manusia dan pekerja anak. Ketika pembangunan masif dilakukan tanpa mempertimbangkan efeknya terhadap lingkungan, sesungguhnya generasi masa depan akan membayarnya dengan kualitas udara yang buruk akibat meningkatnya kadar CO2 atau tenggelam dalam lautan sampah elektronik dan plastik yang sulit didaur ulang. Ketika para raksasa fast-fashion berlomba-lomba meningkatkan laba penjualannya mereka terus berekspansi ke tempat-tempat di mana mereka bisa memproduksi fashion item dengan biaya serendah mungkin walaupun konsekuensinya mereka harus mempekerjakan buruh kerja berpenghasilan rendah. Ketika perusahaan kelapa sawit membuka lahan baru dengan agresif, banyak petani kecil yang kehilangan pekerjaannya dan mengorbankan anak-anak usia sekolah bekerja kasar di ladang untuk membantu perekonomian keluarga. Saat hutan-hutan dibakar dan kayu-kayu ditebang secara massal dan liar, kita sesungguhnya memusnahkan pabrik O2 dan habitat hewan liar.

Kedua, dalam skala yang lebih kecil pertumbuhan atau growth bisa mengubah hubungan interpersonal manusia. Di negara maju dan berkembang, ada banyak pasangan suami istri yang pergi bekerja demi mendapatkan income yang lebih besar. Jika mereka  memiliki anak, mereka akan membayar seseorang untuk mengasuh anaknya atau menitipkan anaknya di childcare. Hal ini merupakan praktik yang biasa. Namun, ini tidak pernah terjadi di masa lalu. Sebelum revolusi industri, kebanyakan orang hidup dari bertani atau kalau pun mereka berdagang atau memproduksi sesuatu, kebanyakan melakukannya di rumah. Orang-orang dulu (dan banyak orang sekarang yang masih tinggal di desa) tidak pergi ke kantor setiap hari dan meninggalkan keluarganya di rumah. Mereka juga tidak menitipkan anak-anaknya ke orang tua atau tetangga. Dorongan untuk terus tumbuh dan berkembang telah mengubah hubungan antarmanusia. Ketika kita menyadari dan menyesalinya, doktrin pertumbuhan tanpa henti menjelma menjadi sebuah mimpi buruk.

Lucunya, ketika kita berpikir bahwa kita pasti akan lebih bahagia dengan memiliki lebih banyak hal dan pencapaian, doktrin pertumbuhan sering kali meninggalkan kita dengan perasaan hampa dan ketidakpuasan. Tidak peduli sebanyak apa pun yang sudah kita punya dan capai kita tidak akan pernah merasa puas. Kita tidak akan pernah jadi cukup bagus dalam hal apa pun. Kita selalu merasa kekurangan. Kapitalisme terus menyuapi kita dengan ide-ide untuk memiliki hal-hal yang tidak kita punya. Pada satu titik, kita menjadi frustasi karena merasa tidak mampu berlari mengikuti cepatnya pertumbuhan dan pembangunan. Perkembangan orang lain membuat kita merasa ketinggalan. Sejak kapan si A punya 2 buah rumah? Mengapa si B mampu jalan-jalan keliling dunia? Mengapa Manila sudah lama punya MRT dan Jakarta masih belum punya juga? Sekali lagi, keadaan tidaklah selalu seperti ini. Masyarakat dulu harus puas dengan penghasilan yang mereka dapat dari bertani dan berdagang. Mereka tidak terpikir untuk menanamkan sejumlah uang di pasar saham dengan harapan suatu hari investasi mereka bisa menjamin masa depan yang tidak seorang pun bisa lihat dan prediksi.

Tidak ada seorang pun yang akan membantah bahwa pertumbuhan dan pembangunan memiliki banyak sisi positif dan suatu saat akan membawa manusia ke planet Mars dan memusnahkan penyakit kanker untuk selamanya. Perkembangan teknologi suatu saat mungkin bisa membuat manusia hidup selamanya sehingga kita hanya perlu mengkhawatirkan kecelakaan lalu lintas sebagai penyebab utama kematian. Namun, kita juga tidak bisa menutup mata terhadap berbagai malapetaka yang lahir dari perubahan dan perkembangan yang konstan. Di dunia yang tidak pernah berhenti tumbuh ini, mungkin yang kita perlukan adalah kemampuan untuk melihat kapan harus merangkul pertumbuhan dan mengantisipasi konsekuensinya.

 

Referensi:

1&2Yuval Noah Harari. Homo Deus, p. 240

3Data World Bank.

4Indonesia Population. http://www.worldometers.info/world-population/indonesia-population/

Note:

I don’t own the image above. It was taken from here. Contact me for removal.

 

Multitasking: Mitos dan Realita

Untitled

Mitos Multitasking

Waktu saya duduk di bangku sekolah dasar, ada seorang tetangga yang saya kagumi. Saya memanggilnya ‘Tante Martha’*. Tante Martha adalah sosok yang keren di mata saya kala itu karena saya perhatikan beliau sering melakukan satu hal yang tidak pernah dilakukan ibu saya: dia sangat sigap dan bisa melakukan beberapa hal dalam waktu yang bersamaan. Saat saya main ke rumahnya, saya perhatikan beliau bisa memasak sambil menjahit baju. Di lain waktu, saya lihat beliau sedang mengepel sambil memandikan anak-anaknya, yang lebih kecil dari saya. Waktu saya menceritakan hal ini ke ibu saya, beliau hanya berkomentar, “Ibu gak bisa begitu. Ibu susah fokus kalau melakukan banyak hal sekaligus”. Momen tersebut adalah perkenalan saya dengan konsep multitasking.

Kata multitasking sendiri baru mulai diperkenalkan pada tahun 1960an saat IBM melaporkan kemampuan kerja komputer buatannya.1 Istilah ini kemudian mulai digunakan secara lebih luas sebagai sebuah kondisi di mana seseorang melakukan lebih dari satu hal pada saat yang bersamaan. Orang-orang seperti Tante Martha membuat saya percaya bahwa multitasking adalah hal yang sangat mungkin dilakukan dan tidak semua orang mampu melakukannya. Lebih jauh lagi, saya juga percaya dengan pendapat yang mengatakan bahwa perempuan bisa melakukan multitasking dengan lebih baik dari laki-laki.

Saya pun menganggap diri saya cukup baik dalam hal ini. Selama kuliah saya adalah tipe mahasiswa yang suka mencatat sambil mendengarkan kuliah dari dosen. Karena catatan saya cukup lengkap, banyak teman-teman yang meminjamnya di musim ujian. Beberapa teman saya beragumen mereka tidak punya catatan sama sekali karena tidak bisa fokus menulis saat mendengarkan. Seorang teman baik saya bernama Awi mengatakan bahwa saya punya kemampuan multitasking yang bagus. Saya jadi tersanjung, karena saya pikir multitasking benar-benar sebuah skill bagus yang tidak semua orang miliki.

Semuanya berubah ketika saya memasuki dunia kerja. Dunia kerja mendekonstruksi keyakinan saya terhadap wacana multitasking. Di kantor saya dulu, rata-rata pegawai biasa seperti saya saja menerima paling tidak 300 email setiap harinya. Hampir semua pegawai mengecek email mereka setiap 5 menit. Ya, hampir semua orang mengecek inbox lalu membalas email di tengah-tengah proyek atau pekerjaan admin yang lain. Saya perhatikan beberapa orang kolega terlihat sangat sibuk melakukan banyak pekerjaan sekaligus. Ada yang menulis email sambil menjawab telepon, ada yang membuat PO (purchase order) sambil menulis laporan, dan bahkan ada yang terang-terangan main game Facebook di tengah-tengah pekerjaan. Saya amati PC saya sendiri dan kolega lainnya. Ada banyak sekali tab yang kami buka. Rupanya kami semua melakukan multitasking. Setiap hari. Saya sempat tertegun selama beberapa detik di hari pertama saya bekerja. Ternyata multitasking adalah hal yang biasa dalam dunia kerja dan saya tidak keren-keren amat.

 

Realita Multitasking

Suatu hari Mamat dengan enteng berkata, “Multitasking itu cuma mitos!”

Jeng jeng.

Saya terpana.

Saya tergelitik.

“Masa, sih?”, tanya saya.

“Coba deh kamu pikir-pikir lagi. Coba tes, apa kamu benar-benar bisa melakukan 2 hal pada waktu yang bersamaan?”

Saya terdiam. Lalu saya berpikir sejenak. Mungkin dia ada benarnya. Lalu saya googling sebentar soal multitasking.

Ada sebuah percobaan sederhana yang bisa mengetes apakah kita bisa melakukan 2 hal sekaligus. Ambil 2 buah pensil dan selembar kertas. Tulis huruf A dengan tangan kanan dan tarik garis lurus vertikal (atau horizontal) dengan tangan kiri.2 Bisa? Kalau pun kita bisa melakukannya, kemungkinan besar hasilnya tidak sempurna. Garis yang kita tarik kemungkinan akan miring dan huruf A yang kita tulis tidak rapi. “Ah, tapi itu kan karena kebanyakan orang memang tidak bisa menulis dengan tangan kiri, Ra. Coba contoh yang lain, dong. Saya bisa-bisa saja tuh nulis email sambil dengar musik.” Mungkin ada yang beragumen begitu.

Oke, kalau begitu mari kita ambil contoh ‘bekerja sambil mendengarkan musik’. Ketika kita menulis email sambil mendengarkan musik misalnya, kemungkinan besar kita hanya menjadikan musik sebagai background. Kita hanya mendengarkannya sambil lalu dan fokus utama kita ada di menulis email. Sekarang coba kita alihkan fokus ke lagu yang sedang didengarkan, dengarkan kata-katanya dan kalau perlu ikut nyanyi juga. Kebanyakan orang akan gagal fokus menulis email tersebut.

Lalu, seperti apa realita multitasking?

Pertama, multitasking sebenarnya tidak ada, yang ada hanyalah switch-tasking. Kita bisa berpindah dari 1 pekerjaan ke pekerjaan lainnya dengan cepat. Bekerja sambil menulis email. Masak sambil menjahit. Makan sambil menonton TV. Dan seterusnya. Dalam kasus ‘mendengarkan perkuliahan sambil mencatat’ pun sebenarnya tidak benar-benar terjadi dalam waktu yang bersamaan. Saya dulu harus mendengarkan poin yang dibuat dosen dulu sebelum mulai mencatat. Sama juga seperti cara juru bahasa atau interpreter simultan (simultaneous interpreter) bekerja. Kata simultaneous dalam bahasa Inggris berarti ‘terjadi pada saat yang bersamaan’, namun pada kenyataannya seorang juru bahasa tetap harus menunggu pembicara menyelesaikan paling tidak satu kalimat dulu sebelum mulai menerjemahkannya secara lisan.

Kedua, multitasking sering kali menghambat produktivitas. Menurut sebuah studi yang dipublikasikan oleh International Journal of Information Management tahun 2003,  para pekerja biasanya mengecek emailnya 5 menit sekali dan rata-rata membutuhkan waktu paling tidak 64 detik untuk kembali (fokus) ke pekerjaan sebelumnya.3 Jadi, jika kita memeriksa inbox 5 menit sekali dan bekerja selama 8 jam sehari bisa dihitung berapa banyak waktu yang terbuang untuk mengecek email saja. Apalagi kalau yang dicek media sosial yang kontennya kemungkinan lebih ‘seru’ dari email. Konten yang lucu akan membuat kita tertawa, yang menyebalkan bisa bikin BT atau bahkan menyulut emosi. Mood kerja kita bisa jadi rusak seharian. Pekerjaan pun tidak kunjung selesai.

Ketiga, multitasking mengurangi fokus dan menurunkan kualitas pekerjaan. Kalau kita memasak sambil menjahit, bukan tidak mungkin rasa makanan akan kurang enak karena kita tidak fokus dan lupa menambahkan garam atau bumbu lainnya. Kalau kita ikut bernyanyi sambil menulis email bukan tidak mungkin akan banyak typo atau bahkan lirik lagu ikut tertulis di dalam email. Hehe.

Keempat, multitasking membuat otak cepat lelah karena terus-menerus terganggu (distracted). Tidak seperti komputer dan smartphone, otak kita tidak dirancang untuk melakukan banyak hal sekaligus, apalagi melakukan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

Kelima, multitasking membuat kita tidak bisa benar-benar menghayati dan menikmati satu aktivitas. Saat kita makan sambil menonton TV, kita tidak benar-benar merasakan dan menikmati rasa makanan yang kita suapkan ke dalam mulut. Kita tidak terlalu mengamati teksturnya. Kita juga bisa sepenuhnya mengabaikan proses makanan tersebut sampai ke atas meja. Saat kita membaca timeline Facebook di tengah-tengah menulis laporan akhir bulan, kemungkinan kita juga tidak akan terlalu menghayati prosesnya.

 

Pelajaran dari multitasking

Melakukan aktivitas atau pekerjaan secara bertahap, satu per satu, pada dasarnya tetap lebih baik dan bisa menghasilkan pekerjaan yang lebih berkualitas. Kita perlu mengubah mindset bahwa sibuk melakukan banyak hal pada satu waktu bukanlah sebuah prestasi. Yang lebih penting adalah menetapkan prioritas. Jangan tergoda menetapkan semua hal sebagai prioritas. Jika semua hal adalah prioritas maka tidak ada lagi yang menjadi prioritas karena semua hal menjadi sama derajat kepentingannya. Saya pribadi belum benar-benar bisa menghindari multitasking, tapi mencatat dan menetapkan prioritas kerja setiap harinya membantu saya untuk bekerja dengan lebih efektif dan menyelesaikan lebih banyak hal. Terakhir, saya juga mengingatkan diri sendiri setiap harinya bahwa tanpa multitasking pekerjaan kita akan selesai dengan lebih cepat, dengan hasil yang lebih baik, dan dengan energi yang lebih sedikit. 😊

 

Salam produktif,

Haura Emilia

 

 

Catatan:

*Bukan nama sebenarnya

**I don’t own the image above. I took it from here. Please contact me for removal.

Referensi:

1,3The Myth of Multitasking: Why Fewer Priorities Leads to Better Work by James Clear. https://jamesclear.com/multitasking myth

2The Myth of Multitasking by Nancy K. Kapier PH.D. https://www.psychologytoday.com/blog/creativity-without-borders/201405/the-myth-multitasking