Paradoks Pilihan

“Learning to choose is hard. Learning to choose well is harder. And learning to choose well in a world of unlimited possibilities is harder still, perhaps too hard.”
― Barry SchwartzThe Paradox of Choice: Why More Is Less

Pada suatu hari di tahun 2017 saya termenung di depan rak toiletries di sebuah supermarket di dekat rumah. Rak itu berisi puluhan merek dan jenis sampo. Sampo anti-ketombe. Sampo untuk rambut berminyak. Sampo untuk rambut kering. Sampo untuk rambut rusak. Sampo untuk rambut rontok. Sampo merek A. Merek B. Merek C. Dan seterusnya. Dan seterusnya. Karena tidak yakin mau pakai sampo yang mana, saya pun pulang ke rumah.

Sampai di rumah saya langsung googling satu brand sampo ‘premium’ yang mengklaim produknya ampuh mengatasi masalah kulit kepala sensitif karena kandungannya yang hypoallergenic. Satu botolnya Rp350.000. Saya tidak yakin dengan klaim ini, bisa saja ini cuma taktik marketing untuk menjual produk mahal yang sebenarnya tidak jauh beda dengan merek umum yang dijual di pasaran. Tanpa sadar saya sudah menghabiskan waktu sejam untuk melakukan riset kecil-kecilan tentang si sampo mahal itu. Ulasannya rupanya beragam. Ada yang memuji-muji keampuhan si sampo mahal, namun tidak sedikit juga yang berpendapat bahwa produk itu overrated. Tanpa saya sadari saya sudah membuang waktu saya yang berharga untuk memilih produk yang akan hilang disapu air di kamar mandi. Pekerjaan sepele sesederhana memilih sampo bisa menghabiskan waktu yang begitu lama. Pekerjaan yang seharusnya hanya butuh beberapa detik sudah menyita perhatian saya.

Sebagian orang mungkin akan berpikir saya konyol dan berlebihan. Tapi benarkah hanya saya yang sering dibingungkan dengan banyaknya pilihan? Coba ingat-ingat lagi. Apa Anda pernah menghabiskan waktu beberapa menit hanya untuk memilih menu makanan yang ada di sebuah foodcourt di mall? Mie ayam atau bakso? Ayam goreng atau ayam bakar? Itu baru makanan. Bagaimana dengan pakaian? Pakai baju apa hari ini? Warna biru atau hijau? Pakai rok atau celana? Saat hendak membeli celana jeans, ada puluhan jenis celana jeans yang bisa dipilih. Low cut, skinny, slim fit, regular fit, atau bell bottom? Saat memilih sekolah untuk anak, banyak teman saya yang juga bingung setengah mati. Sekolah negeri, swasta, atau internasional? Atau malah home-schooling? Sekolah dengan kurikulum nasional atau bersertifikasi Cambridge? Sekolah dekat rumah dengan uang bulanan mahal atau sekolah jauh dari rumah dengan uang bulanan lebih murah? The list goes on and it seems to never end

Tanpa kita sadari kita dibanjiri dengan pilihan setiap hari. Otak kita dipaksa membuat keputusan setiap waktu. Mulai dari hal yang penting seperti memilih calon presiden, calon gubernur, dan ketua organisasi tertentu hingga yang tidak penting seperti warna baju dan merek smartphone. Ada ratusan merek minyak goreng di pasaran, ratusan jenis permen, dan puluhan rasa saus sambal di rak supermarket. Ada jutaan jenis barang elektronik di pasaran dan ribuan furnitur yang bisa kita pilih di Ikea. Ada ratusan jenis produk asuransi dan investasi yang bisa kita pilih.

Perjuangan kita tidak berhenti sampai di situ. Ketika kita sakit, kita lagi-lagi dihadapkan dengan banyak pilihan. Ada ratusan rumah sakit dan klinik gigi yang bisa kita datangi. Ketika sudah memutuskan harus ke RS atau klinik mana, dokter akan menawarkan pilihan kepada kita: operasi atau terapi, obat generik atau yang mahal, harus kemoterapi atau tidak, dst. Saya punya pengalaman yang bisa mengilustrasikan hal ini. Kebetulan saya punya gigi bungsu yang posisinya tidur. Untungnya, saya tidak merasa sakit sama sekali. Tapi karena khawatir, saya tanyakan kepada dokter saya apakah gigi itu harus dicabut. Dokter saya bilang itu terserah saya. Dia bilang memang sebaiknya diambil tapi kalau tidak pun itu terserah saya. Toh selama ini tidak pernah sakit. Dokter itu lalu memberi tahu saya risiko dan keuntungan dicabut dan tidak dicabut. Namun, pada akhirnya saya yang harus mengambil keputusan tersebut. Dokter memberikan otonomi sepenuhnya kepada saya selaku pasiennya. Ini seharusnya hal yang bagus, bukan? Tapi, bukan itu poinnya. Poinnya adalah, dalam keadaan sakit pun kita sering kali dipaksa untuk membuat pilihan yang sering kali tidak mudah.

Tapi hidup itu kan memang pilihan. Begitu kita diajarkan sejak kecil.

Kita memilih mau menjalani hidup yang seperti apa. Sekolah di mana. Bekerja di mana. Menjalankan profesi apa. Kalau sudah bekerja kita lagi-lagi harus memilih mau bekerja di perusahaan tersebut berapa lama. Mau pindah atau bertahan. Seorang profesional harus memilih untuk bekerja dengan klien seperti apa. Freelancer seperti saya pun tidak jarang bingung karena banyaknya pilihan. Mau mengerjakan pekerjaan yang mana dulu. Jika pekerjaan sudah beres tapi hari masih panjang, saya masih harus memutuskan mau melakukan apa lagi. Beres-beres rumah, main dengan kucing, mau baca buku, mau masak, mau tidur, baca buku, atau nonton drama.

Sejak kecil kita didogma bahwa pilihan membuat hidup kita seharusnya jadi lebih mudah. Psikolog Barry Schwartz beragumen bahwa ada sebuah ‘official dogma’ yang mengatakan bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan (welfare), manusia harus diberikan kebebasan (freedom). Untuk memaksimalkan kebebasan, maka manusia harus diberikan pilihan (choice). Semakin banyak pilihan yang kita miliki maka semakin banyak kebebasan yang kita dapatkan dan semakin sejahtera pula kita. Pilihan membuat manusia, manusia. Kita senang diberikan pilihan karena dengan memiliki pilihan kita merasa memegang kontrol atau kendali atas hidup. Kendali membuat kita merasa tenang dan aman. Perasaan tenang dan aman mengarah kepada kebahagiaan. Masalahnya, benarkah kita lebih bahagia dengan banyaknya pilihan?

Menurut Schwartz, ada beberapa efek negatif dari terlalu banyaknya pilihan. Pertama, alih-alih merasakan kebebasan kita merasa ‘lumpuh’ tidak berdaya karena kita menjadi bingung dan sulit memilih.1 Seperti saya yang menghabiskan banyak waktu hanya untuk memilih sampo atau merek celana jeans, pada akhirnya saya tidak jadi membeli sampo sama sekali dan menunda membeli celana jeans. Kalau untuk hal sepele mungkin ini tidak terlalu menjadi masalah. Namun, ketika sesuatu yang harus kita pilih adalah hal penting seperti asuransi kesehatan atau investasi hari tua, menundanya bisa berakhir dengan kita tidak jadi membelinya sama sekali dan akhirnya bingung ketika sakit dan tidak memiliki apa pun yang bisa diandalkan di hari tua.

Kedua, kalau pun kita berhasil keluar dari kebingungan dan menentukan pilihan, kita cenderung tidak puas dengan pilihan yang diambil dibandingkan ketika kita memiliki lebih sedikit pilihan.2 Contohnya, ada ratusan jenis makanan yang bisa kita pilih di sebuah mall, tapi ternyata pilihan kita jatuh di makanan yang tidak enak. Kita akan menyesal membayangkan bagaimana menu lain mungkin lebih enak. Atau ketika kita sudah memilih satu asuransi kesehatan, tiba-tiba kita melihat iklan asuransi lain dengan premi yang lebih rendah namun dengan manfaat yang lebih banyak. Kita pun menyesal sudah memilih asuransi yang sudah kita beli. Terlepas dari fakta bahwa tidak ada jaminan bahwa menu makanan lain lebih enak dan asuransi lain benar-benar lebih menguntungkan, kita tetap tidak puas dan menyalahkan diri sendiri atas pilihan yang kita buat. Sekarang bayangkan jika di mall tersebut hanya ada satu jenis makanan dan hanya ada satu jenis asuransi di Indonesia. Kalau makanan itu tidak enak dan asuransi tersebut tidak seindah yang kita bayangkan benefitnya, paling-paling kita tinggal menyalahkan koki yang memasak dan perusahaan asuransi tersebut. Kita lalu move on. Kita tidak perlu menyalahkan diri sendiri. The world sucks. But the good news is it’s not our fault.

Ketiga, banyaknya pilihan membuat ekspektasi kita terhadap sesuatu meningkat.3 Kalau ada 100 merek minyak kelapa sawit di pasaran, pasti ada satu merek yang ‘sempurna’: minyak yang paling higienis, murah, dan sehat. Ada ratusan online shop yang menjual sprei. Kita memilih satu sprei berdasarkan foto produk yang sangat bagus. Ketika sampai ternyata bahannya kasar dan warnanya tidak seperti di foto. Akhirnya kita akan kecewa ketika barang yang kita beli tidak sesuai dengan ekspektasi awal ini. Ujung-ujungnya? Kita merasa kecewa karena hal yang sangat sepele. Jika ini hanya terjadi satu atau dua kali dalam hidup mungkin kita tidak akan terlalu merasakan efeknya. Namun, ketika ekspektasi kita terus-menerus bertentangan dengan realita yang ada tanpa sadar kita menjadi depresi dan tidak bahagia. Pilihan yang tidak terbatas jumlahnya telah menjadi sebuah paradoks. Alih-alih merasa bahagia, kita disulitkan dengan banyaknya pilihan.

Ironisnya, di kala banyak kelas menengah atas dipusingkan dengan masalah dunia pertama seperti bingung memilih merek sereal sarapan dan mau liburan ke mana, sekelompok masyarakat lain terjebak dalam kemiskinan struktural di mana pilihan hidup hanya ada tiga: bekerja mati-matian dengan penghasilan pas-pasan, melakukan pekerjaan ilegal dengan penghasilan (dan risiko) lebih besar, atau berdiam diri dan mati kelaparan.

Pemerintah dan para pemegang keputusan yang mengendalikan nasib orang banyak bukannya tidak melakukan apa-apa untuk membantu mereka yang kekurangan pilihan. Masalahnya, pemerintah pun terjebak dalam paradoks pilihan. Setiap hari. Bagaimana mengurangi angka kemiskinan? Bantuan tunai langsung atau membuka lapangan pekerjaan dalam skala masif? Apa solusi kemacetan? Membatasi jumlah peredaran kendaraan, menambah ruas jalan, atau membangun sarana transportasi massal dulu? Bagaimana mengatasi masalah banjir? Memindahkan dan menggusur orang-orang yang tinggal di bantaran kali dulu atau membersihkan sungai dan sumber air yang berpotensi meluap kala hujan besar? Selalu ada begitu banyak pilihan. Keadaan akan semakin sulit ketika kebijakan yang dipilih hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi orang banyak.

Lantas apa solusinya? Bagaimana caranya agar kita keluar dari lingkaran setan bernama paradoks pilihan? Schwartz percaya salah satunya adalah dengan ‘redistribusi pendapatan’. Dengan redistribusi kekayaan, diharapkan akses pilihan tak terbatas bagi sekelompok orang dipindahkan ke sekelompok orang yang tidak punya atau hanya punya sedikit sekali pilihan. Dengan kata lain, pareto improvement. Sebuah tindakan yang menguntungkan seseorang tanpa merugikan orang lain. Dengan mengurangi pilihan sekelompok orang dan memindahkannya ke orang lain yang punya lebih sedikit pilihan. Everybody is then happy. Atau paling tidak begitu teorinya.

Solusi sederhana bagi orang biasa seperti saya dan Anda adalah dengan berhenti memercayai dogma yang mengatakan bahwa banyaknya pilihan selalu berarti kebebasan dan kebebasan pasti berujung pada kebahagiaan dan kesejahteraan. Solusi terakhir adalah dengan secara sengaja mengurangi pilihan yang kita punya dan fokus pada sejumlah kecil pilihan saja. Anda yang berhak menentukan jumlahnya. Misalnya, solusi saya ketika memilih asuransi adalah dengan fokus pada 5 asuransi yang namanya paling sering saya dengar (walaupun mungkin bagi orang lain metode pemilihan ini sangatlah dangkal). Saya fokus riset pada 5 asuransi tersebut dan melupakan ratusan asuransi lainnya yang kemungkinan besar tidak akan pernah bisa saya pelajari semuanya. Untuk urusan sampo, saya belajar untuk fokus pada fungsinya saja, apakah untuk sekadar membersihkan rambut atau untuk menghilangkan ketombe. Saya juga menyerah mencoba menjadi fashionable dengan selalu memikirkan baju apa yang akan saya pakai hari ini. Saya mencoba fokus pada apa yang tersedia di lemari. Ketika terlanjur memilih menu yang tidak enak di restoran saya berhenti mengeluh dan move on. Pada akhirnya saya menyadari bahwa otak saya sangat lelah dengan decision making setiap menit dan setiap harinya. Waktu juga jadi banyak terbuang untuk mengurusi hal remeh-temeh. Lebih baik menghabiskan satu jam untuk bekerja atau membaca dibandingkan meriset kandungan sampo merek A.

Choose what matters and only do what gives meaning to life. 🙂

Cheers,

Haura Emilia

Referensi:

1,2,3Dikutip dan diterjemahkan dari presentasi Barry Schwartz, Paradox of Choice. https://www.youtube.com/watch?v=VO6XEQIsCoM

 

Iklan

Candu Itu Bernama Smartphone

Catatan: Postingan ini ditulis berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi, serta terinspirasi dari artikel “Smartphone Addiction” yang ditulis oleh Melinda Smith, M.A., Lawrence Robinson, dan Jeanne Segal, Ph.D. Bagian-bagian artikel tersebut yang saya kutip dan terjemahkan saya berikan catatan kaki.

 

Image 1

 

Gak ada hape di atas meja setiap kita eat out, ya.”

Begitu usul saya ke Mamat beberapa waktu yang lalu. Sebenarnya, yang punya masalah dengan smartphone itu bukan Mamat, tapi demi mencari dukungan saya mengajak Mamat untuk tidak menyentuh hape saat kami makan di luar. Waktu tunggu makanan disajikan memang kadang tidak sebentar, sehingga saya mudah terpancing untuk memainkan hape. Sebenarnya saya merasa tidak nyaman melihat kebiasaan banyak orang sekarang yang sibuk sendiri main hape saat sedang berkumpul bersama keluarga atau teman. Namun, saya sendiri juga melakukannya dan sering kali hanya karena kebiasaan, bukan karena memang ada yang perlu saya cek. Saya rasa saya tidak sendirian. Ponsel pintar telah menjelma menjadi candu dan penyakit sosial selama kurang lebih 10 tahun terakhir.

Smartphone addiction dikenal juga sebagai “nomophobia”, yakni “perasaan takut tanpa kehadiran telepon selular”. 1 Kecanduan ponsel biasanya disebabkan oleh penggunaan internet dan aplikasi handphone yang berlebihan. Seperti layaknya masalah kecanduan lainnya, kecanduan ponsel juga menyebabkan banyak masalah bagi penderitanya. Pertama, penggunaan hape secara konstan dan dalam jangka waktu yang lama bisa membuat seseorang terisolasi dari lingkungan nyata. Ingat saat kita tidak benar-benar mendengarkan seorang teman bicara karena sibuk dengan hape? Kedua, alih-alih merasa tenang dan rileks, memainkan hape terlalu lama bisa membuat seseorang merasa semakin sedih dan depresi. Ketiga, kebiasaan ini mengalihkan perhatian dari pekerjaan lain. Coba kita perhatikan, berapa banyak pekerjaan kita di kantor atau rumah yang menjadi tertunda karena kita sibuk dengan handphone. Bahkan pekerjaan-pekerjaan kecil dan ‘sepele’ seperti mencuci keset dan lap dapur mungkin tidak kita kerjakan sama sekali. Lebih jauh lagi, keasikan kita menatap layar dan berinteraksi dengan follower, yang mungkin tidak benar-benar care dengan kita, telah mengurangi waktu tidur.

Kecanduan smartphone tanpa disadari juga mengurangi rentang fokus dan kesabaran penderitanya. Sejak mengenal smartphone saya menyadari bahwa rentang fokus saya menurun drastis. Dulu, menghabiskan waktu seharian untuk membaca buku bukan masalah besar untuk saya. Sejak kehadiran iPhone, sulit bagi saya untuk fokus pada satu kegiatan selama sejam. Memang otak manusia tidak dirancang untuk terus menerus fokus pada waktu yang lama. Otak perlu break paling tidak setiap 20 menit dari satu kegiatan yang memerlukan konsentrasi.2 Namun, saya menyadari bahwa menurunnya fokus ini lebih disebabkan oleh kebiasaan memainkan hape. Kenapa bisa begitu?

Di smartphone segala sesuatu terjadi begitu cepat dalam hitungan detik. Kita tidak perlu waktu lama menunggu balasan seseorang di Whatsapp. Notifikasi baru bisa datang setiap menit. Pertukaran informasi dengan orang lain terjadi secepat kilat. Situasi di media sosial pun memiliki ritme yang sama. Media sosial umumnya memberikan batasan jumlah karakter yang dapat diposting sehingga semua tulisan yang kita baca umumnya pendek; tulisan yang dihasilkan umumnya terdiri dari puluhan atau seratusan karakter. Berita-berita online didesain begitu pendek sehingga sangat mudah dan cepat dibaca. Akibatnya, secara tidak sadar kita memiliki ekspektasi yang sama ketika melakukan kegiatan lain yang tidak melibatkan smartphone. Kita berharap bisa menyelesaikan buku dengan cepat, ingin film yang kita tonton memiliki durasi yang lebih singkat, dan berpikir bahwa jarum jam bergerak dengan sangat lambat ketika kita harus fokus pada pekerjaan.

Pekerjaan dan jam tidur bukan satu-satunya hal yang dikorbankan, kecanduan smartphone juga bisa berpengaruh terhadap mood dan kepribadian kita. Seorang pencandu bisa merasa resah dan gelisah ketika tidak ada update apa pun di akun media sosialnya. Dia bisa merasa sedih dan kecewa ketika tidak ada seorang pun yang memberikan like pada postingannya. Dia merasa ‘hampa’ dan ‘ada yang kurang’ jika tidak memposting apa pun di media sosial dalam beberapa jam. Dia merasa takut ketinggalan berita terbaru. Dia cepat merasa kesal atau emosi ketika membaca berita dan opini yang tidak sesuai dengan pendapatnya. Mungkin dia juga secara rutin mengecek inbox emailnya setiap beberapa menit. Kecepatannya merespons pesan yang masuk tidak perlu dipertanyakan lagi. Kegelisahan, perilaku narsistik dan obsesif kompulsif menjadi agenda sehari-hari.

Mungkin banyak yang merasa familiar dengan kondisi yang saya gambarkan di atas. Bisa jadi Anda juga seorang pencandu. Berikut ini ada sebuah tes kecil yang bisa Anda kerjakan untuk mengetesnya. Tes ini saya terjemahkan (bebas) dari artikel ini.

  • Apakah Anda sering tanpa sadar menghabiskan waktu menggunakan handphone bahkan saat ada hal lain yang lebih baik untuk dikerjakan?
  • Apakah Anda merasa waktu berjalan dengan sangat cepat saat memainkan handphone?
  • Apakah Anda menghabiskan lebih banyak waktu dengan handphone dibandingkan orang di dunia nyata?
  • Apakah Anda berharap Anda menghabiskan lebih sedikit waktu dengan handphone?
  • Apakah Anda meletakkan handphone di samping Anda saat tidur?
  • Apakah Anda menggunakan handphone Anda sepanjang hari, bahkan ketika itu mengganggu aktivitas yang lain?
  • Apakah Anda menggunakan handphone saat mengemudikan kendaraan atau melakukan kegiatan lain yang memerlukan konsentrasi?
  • Apakah Anda sulit berpisah dengan handphone meskipun hanya sebentar saja?
  • Apakah Anda selalu membawa handphone saat Anda meninggalkan rumah dan merasa kesal jika tidak sengaja meninggalkannya di rumah?
  • Apakah handphone Anda ada di atas meja saat Anda makan?
  • Saat handphone Anda berbunyi, apakah Anda merasa harus segera memeriksa pesan masuk, tweet, email, update, dan lainnya?
  • Apakah Anda sering tanpa berpikir memeriksa handphone berkali-kali dalam sehari walaupun tidak ada hal yang baru atau penting untuk dilihat?

Jika Anda menjawab “Ya” lebih dari 4 kali, Anda perlu mengkaji berapa banyak waktu yang Anda habiskan dengan smartphone dan mempertimbangkan pola penggunaannya.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi kecanduan.

Pertama, seorang pencandu perlu menyadari bahwa dirinya menderita kecanduan dan ingin mencari solusi. Banyak pencandu yang saya kenal terlalu gengsi untuk mengakui kalau mereka kecanduan. Pengakuan adalah langkah awal yang penting karena tanpa menyadari masalah yang ada kita tidak akan mencari solusinya.

Kedua, kenali pemicunya.3 Kapan dan kenapa ingin memegang handphone? Apakah saat bosan? Atau karena sedih dan merasa depresi? Atau justru ketika sedang berbunga-bunga dan ingin membagikannya dengan seluruh dunia? Sering kali ada masalah psikologis yang lebih besar yang menyebabkan kecanduan dan perilaku obsesif kompulsif.4 Apakah kita punya masalah besar dalam hidup? Apakah kita menggunakan smartphone sebagai pelarian? Apakah kita merasa kesepian dan tidak memiliki teman untuk diajak berbagi di dunia nyata? Apakah kita merasa tidak mendapatkan perhatian dan pengakuan yang kita yakini pantas kita dapatkan? Tanyakan ke diri sendiri kenapa perlu menyentuh hape sekarang. Apakah benar-benar ada yang penting? Adakah yang harus dihubungi? Perlukah saya mengecek Instagram dan Facebook saya lagi?

Ketiga, mintalah bantuan orang terdekat untuk membantu dan memberikan dukungan. Sebaiknya kita mencari dukungan dari orang terdekat yang tidak kecanduan atau tingkat kecanduannya tidak separah kita. Dalam kasus saya pribadi, saya meminta bantuan suami untuk mengingatkan jika saya terlalu banyak menghabiskan waktu dengan hape. Mamat juga memberikan saya saran aktivitas lain atau buku menarik untuk dibaca.

Keempat, setel hape Anda sedemikian rupa, sebisa mungkin agar tidak mendukung aktivitas yang menjadi candu. Hapus aplikasi media sosial yang paling sering dicek. Ubah warna display hape menjadi hitam putih. Setel alarm yang mengingatkan Anda untuk tidur agar berhenti main handphone. Anda juga bisa mendownload aplikasi seperti Pops dan Forest yang membantu Anda mengurangi waktu penggunaan hape dan meningkatkan produktivitas kerja.

Kelima, Anda bisa mengatur kapan menggunakan handphone. Misalnya, antara jam 7 sampai 9 malam seusai kerja. Jauhkan smartphone saat bekerja dan tidur agar bisa mematuhi jadwal yang sudah ditetapkan.

Good luck! 😊

 

 

Catatan:

Image 1: The image doesn’t belong to me. It was taken from here. Contact me for removal.

Perilaku obsesif kompulsif  = kecenderungan untuk melakukan sesuatu secara berulang.

1,3,4https://www.helpguide.org/articles/addictions/smartphone-addiction.htm Melinda Smith, M.A., Lawrence Robinson, and Jeanne Segal, Ph.D.

2Lihat postingan saya sebelumnya tentang fokus dan produktivitas di sini.

Jerat Bias Kognitif: Subjektivitas dan Ilusi Kelinci di Bulan

“The confidence people have in their beliefs is not a measure of the quality of evidence but of the coherence of the story the mind has managed to construct.”

-Daniel Kahneman-

1

Image 1

Waktu saya kecil, saya suka memandangi bulan purnama. Kala itu saya bertanya-tanya pola apa yang saya lihat di permukaannya? Bentuknya sungguh aneh. Saya jadi penasaran. Perlu dicatat bahwa kala itu Google belum ada dan saya belum mulai belajar IPA.

Lalu produk impor dari Jepang bernama Sailormoon datang dan dalam sekejap mencuri perhatian anak-anak tahun 1990an. Dari Sailormoon saya belajar bahwa ‘Usagi Tsukino’ artinya adalah ‘kelinci bulan’. Saya pun jadi tahu soal legenda ‘kelinci yang tinggal di bulan’. Sejak mendengar dongeng itu, saya seperti mendapatkan eureka moment. “Oh, benar juga, ya! Pola yang ada di permukaan bulan itu memang tampak seperti kelinci!” Walaupun saya sudah terlalu besar untuk percaya bahwa ada kelinci tinggal di bulan, saya toh tetap ‘pede’ bahwa pola yang saya lihat memang gambar kelinci. Lalu saya manfaatkan keyakinan ini untuk membohongi anak-anak tetangga yang lebih kecil dengan mengatakan kepada mereka bahwa ada kelinci tinggal di bulan. Lucunya, saya kemudian membaca bahwa ada juga yang beranggapan bahwa pola di bulan lebih mirip dengan wajah seorang laki-laki. Saya jadi galau. Tapi mungkin karena saya ‘ngefans sama Sailormoon, saya cenderung setuju kalau sosok di bulan lebih terlihat seperti kelinci.

rabbit

Image 2

Tanpa kita sadari, kita hidup dan tumbuh besar di dunia yang memercayai pola dan cenderung melihat pola di mana-mana, kelinci atau bukan kelinci. Di salah satu surat kabar nasional di penghujung tahun ’90an saya pernah melihat berita tentang buah duku yang memiliki kaligrafi arab Allah di salah satu daging buahnya lengkap dengan foto buah yang dimaksud. Masyarakat gempar. Kebanyakan orang yang saya kenal percaya bahwa ini adalah bukti keberadaan dan kebesaran Tuhan. Tahun 2016, ada seorang pria di Inggris yang ‘melihat’ kaligrafi Allah juga di daging buah semangka yang dibelinya. Ia menganggap hal ini sebagai sebuah berkah dan Tribunnews juga merasa cerita ini layak diberitakan.1 Di Amerika, banyak juga cerita di mana orang ‘melihat’ wajah Yesus di potongan roti panggangnya dan menganggap hal tersebut sebagai rahmat Tuhan. Sampai-sampai, serial musikal populer Glee ikut mengangkat kisah ini ke dalam salah satu episodenya.

Benarkah ada tulisan Allah di daging buah dan wajah Yesus di roti panggang? Bagaimana dengan pola kelinci di bulan? Atau pernahkah kita meyakini bahwa awan-awan yang baru saja melintas di atas kepala kita terlihat seperti boneka beruang? Atau mungkin kita pernah mendengar ‘suara gaib’ di rekaman video rumah tua yang diyakini berhantu dan kita percaya bahwa suara tersebut memang suara hantu atau makhluk gaib?

Ketika dewasa saya akhirnya memahami bahwa ada sebuah fenomena psikologi bernama Pareidolia. Menurut Wikipedia, fenomena ini terjadi ketika pikiran (mind) merespons terhadap stimulus, yang biasanya berupa gambar atau suara, dan menerimanya sebagai sebuah pola yang akrab ketika sebenarnya pola tersebut tidak benar-benar ada. Kitalah yang menciptakan pola itu di kepala kita. Ternyata, otak manusia memang senang mengikuti pola dan cenderung ‘mencocok-cocokkan’ sesuatu dengan apa yang kita tahu. Fenomena ini menjelaskan kenapa kita ‘melihat’ kaligrafi Allah di buah duku dan semangka, wajah Yesus di roti panggang, pola boneka beruang di awan, dan mendengar suara ‘alam gaib’ di rekaman video rumah tua. Kita sesungguhnya mengalami salah satu jenis ‘bias kognitif’.

Apa bias ini hanya terjadi pada contoh-contoh sepele seperti di atas? Sayangnya tidak. Hal yang sama terjadi di segala aspek kehidupan kita. Semua orang melihat pola, semua orang menemukan pola yang sebenarnya tidak ada. Misalnya di pasar keuangan, di mana lautan data banjir setiap detiknya. “Seseorang dengan semangat mengatakan bahwa dia menemukan sebuah pola dalam lautan data tersebut. Dia percaya bahwa jika kita mengalikan perubahan persentase Dow Jones dengan perubahan persentase harga minyak, nilai emas akan naik dua hari setelahnya. Teorinya terbukti benar selama beberapa minggu, namun akhirnya terpatahkan setelah dia menspekulasikan dan kehilangan semua simpanannya. Ini karena dia telah melihat pola yang sebenarnya tidak ada.”2 Sama seperti saya yang dulu meyakini melihat pola kelinci di bulan.

Untuk pertama kalinya saya benar-benar menyadari bahwa manusia bukanlah makhluk yang rasional. Kita semua hanya ‘setengah rasional’. Mulai dari kita bangun di pagi hari hingga hari berakhir dan kita menutup mata, kita dibanjiri dengan informasi-informasi yang penuh bias kognitif. Bias kognitif sendiri dapat didefinisikan sebagai kecenderungan untuk memiliki sebuah pendapat atau pandangan yang sering kali mengabaikan bukti dan informasi lainnya. Seperti saya yang kekeuh percaya bahwa pola di bulan lebih mirip kelinci daripada wajah laki-laki, saya mengabaikan semua kemungkinan lain dan memilih memercayai apa yang ingin saya percayai.

Media sama sekali tidak membantu kita melihat dengan lebih ‘terang’ dan ‘jelas’. Ada ribuan artikel di ratusan portal berita online yang sangat bias dan ditulis untuk memenangkan pemilik kepentingan, entah itu CEO-nya sendiri, politisi, partai tertentu dan si kepala daerah A, si bos bank B, dan si ketua ormas C, tergantung siapa yang mau bayar lebih tinggi atau tergantung berita mana yang menghasilkan lebih banyak klik.

Bias kognitif yang sangat umum kita temukan dalam media adalah ‘bias konfirmasi’ atau confirmation bias. “Bias konfirmasi adalah suatu kecenderungan bagi orang-orang untuk mencari bukti-bukti yang mendukung pendapat atau kepercayaannya serta mengabaikan bukti-bukti yang menyatakan sebaliknya. Kesalahan pemikiran ini menyebabkan penarikan kesimpulan yang salah dan merintangi pembelajaran yang efektif.”3 Contohnya, seseorang yang tidak menyukai Jokowi akan terus mencari dan mengumpulkan fakta-fakta yang mendukung ketidaksukaannya dengan Sang Presiden serta mengabaikan fakta-fakta lain yang sifatnya menunjukkan sisi positif atau keberhasilan Jokowi. Di sisi lain, seorang penggemar fanatik Jokowi akan mati-matian menolak mengakui dan mencari tahu tentang kekurangan Jokowi. Mereka fokus pada prestasi-prestasi yang pernah diukur Jokowi saja.

Bias konfirmasi mengabaikan fakta dan data yang menentang hipotesis awal kita. Hasilnya, pendapat yang kita berikan menjadi sangat subjektif. Pertanyaannya sekarang adalah kenapa kita bisa menjadi sangat bias terhadap sesuatu? Mungkin salah satu jawabannya adalah mekanisme pertahanan diri. Insting dasar manusia adalah untuk bertahan hidup. Kita cenderung ingin melindungi diri kita dari hal-hal yang berbahaya dan memalukan. Kita mendambakan kondisi di mana kita berada di posisi yang benar, aman, dan nyaman. Oleh karena itu, kita memerlukan sebuah support system. Kita memerlukan audiens dan data untuk mendukung kita. Hasilnya, kita hanya memercayai apa yang mau kita percayai. Kita melihat hanya apa yang mau kita lihat. Kita mendengar hanya apa yang kita mau dengar.

Sekarang kita mengerti dua hal terkait bias kognitif: manusia sangat sensitif terhadap pola dan kita cenderung subjektif ketika mencari data. Lalu, bagaimana caranya menghindari bias kognitif? Jadilah sedikit lebih skeptis. “Jika Anda merasa telah menemukan sebuah pola, coba telaah apakah itu hanya murni kebetulan. Jika suatu data terdengar terlalu bagus untuk menjadi nyata, temukan seorang ahli matematika dan tes data tersebut secara statistik. Dan kalau potongan pancake Anda mulai terlihat seperti wajah Yesus, coba tanyakan diri sendiri: kalau dia benar-benar ingin menampakkan dirinya, kenapa dia tidak muncul saja di Times Square atau CNN?”4 Kedua, sebelum mengambil keputusan dan berpendapat mengenai sesuatu, ujilah hipotesis (baca: opini awal) kita dengan mempertimbangkan fakta-fakta yang bertentangan dengan hipotesis tersebut. Mengakui bahwa hipotesis kita salah memang berarti membunuh keyakinan kita sendiri. Hal ini memang sulit, namun perlu dilakukan untuk tetap subjektif dan rasional.

Ketika kecil saya percaya bahwa sosok yang terlihat di bulan terlihat seperti seekor kelinci. Setelah belajar IPA dan sedikit teori psikologi, saya menyadari bahwa sosok itu tidak lebih dari ilusi visual. Saya kemudian juga mengabaikan berita-berita pendek dan postingan di Facebook yang mengklaim bahwa gambar pola keranjang ayam mirip dengan gambar bintang di bendera Israel. Saya fokus pada berita-berita yang ditulis dengan serius dan background panjang atau buku-buku. Oh, dan ini yang paling menyedihkan: saya akhirnya menyadari bahwa tesis S2 saya dulu sarat dengan pareidolia dan sangat bias, seperti kelinci di bulan.

Untitled

Image 3

 

 

 

Referensi:

1Lihat berita aslinya di sini: http://pekanbaru.tribunnews.com/2016/06/16/temukan-tulisan-allah-di-semangka-pria-ini-merasa-mendapat-berkah

2Bias Konfirmasi. https://id.wikipedia.org/wiki/Bias_konfirmasi

3&4Dobeli, Rolf. The Art of Thinking Clearly. 2013. Pp 12 & 38.

Referensi Gambar:

1https://japanesehealthylife.wordpress.com/2013/09/11/a-rabbit-in-the-moon-tsukimi-traditional-viewing-the-harvest-moon/ 

2https://whassupinthemilkyway.blogspot.co.id/2008/03/man-in-moon.html

Note: These pictures are not mine. Please contact me for removal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Internet dan Akhir dari Privasi

“Big Brother is Watching You.”
― George Orwell1984

“Nothing was your own except the few cubic centimetres inside your skull. ”
― George Orwell1984

 

Dalam novel 1984, Orwell bercerita tentang rezim politik yang dikuasai oleh kelompok elit bernama ‘Inner Party’, yang membenci individualisme dan melarang ‘thoughtcrime’ (kejahatan pikiran). Rezim ini memiliki ‘thought police’ atau ‘polisi pikiran’ yang siap mengawasi pikiran setiap orang dan menghukum mereka yang memiliki pemikiran yang dianggap ilegal. Rezim dipimpin oleh seorang ‘persona’ yang disebut sebagai ‘Big Brother’, yang mengawasi setiap langkah dan pikiran warga.

Meskipun novel ini fiksi, saya curiga kita sekarang hidup di jaman Orwellian. Mungkin kita memang tidak hidup dalam kondisi distopia di mana ‘polisi pikiran’, yang mengawasi tindak tanduk kita setiap harinya, memiliki wujud yang nyata dan dapat kita sentuh. Tapi jangan salah, internet dan media sosial telah lama menjelma menjadi ‘polisi pikiran’ dan Google adalah ‘Big Brother’ yang mengawasi dan merekam segala aktivitas online kita.

Sejak internet menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, tidak seorang pun pemakainya yang lolos dari pengawasannya. Mari kita mulai dari media sosial. Media sosial telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat modern. Di Facebook, orang dengan sukarela memberikan informasi pribadinya. Bukan hanya nama dan tempat tanggal lahir, kita juga membagikan kewarganegaraan, tempat tinggal, pekerjaan, alamat email, nomor telepon, film favorit, genre musik kesukaan, negara atau tempat yang pernah kita kunjungi, makanan favorit, buku yang sudah dibaca, nama orang tua dan saudara kandung, status pernikahan, latar belakang pendidikan, dan seterusnya. “Oh, saya kan mengosongkan kolom About di Facebook”. Begitu mungkin pikir Anda. But really? Do you seriously think you’re safe? Facebook tidak memerlukan kita untuk mengisi kolom About, Facebook mengetahui segalanya tentang kita dari semua postingan status kita, tag nama kita yang ditempelkan oleh teman, iklan dan postingan yang kita Like, Fanpage yang kita ikuti, serta lokasi kita saat check-in di suatu tempat.

Bukan hanya informasi pribadi, kita juga memberikan Facebook akses ke tempat yang seharusnya menjadi ruang paling pribadi setiap individu: pikiran. Kita dengan ringan memberi tahu Facebook pandangan politik kita, opini kita terkait ekonomi dan agama, daftar orang-orang yang tidak kita sukai dan anggap mengganggu (ingat daftar orang-orang yang pernah kita blokir, unfollow, dan unfriend?), perspektif kita tentang topik yang sedang trending, komentar dan pendapat orang atau tokoh yang kita sukai dan sejalan dengan pandangan hidup kita (ingat semua Like yang pernah kita berikan di FB?), sampai pendapat subjektif kita tentang tetangga baru, mertua, bos, atau rekan kerja di kantor. Kita memberikan akses lebar ke ruang kecil di dalam kepala kepada Facebook dan publik. Ruang yang seharusnya menjadi satu-satunya tempat aman untuk beropini tanpa perlu menghadapi konsekuensinya.

“Michael Jackson adalah selebriti terakhir di muka bumi. Setelah adanya Facebook, semua orang adalah selebriti.”

Demikian kata dosen S2 saya di salah satu kelas Pengantar Teori Ekonomi Politik Internasional. Setelah adanya Facebook, semua orang bisa dengan bebas ‘memasarkan’ dan ‘memublikasikan’ hidup dan dirinya. Semua orang bebas menciptakan image yang ingin ditampilkan, menjadi selebriti dadakan yang punya penggemar dan tidak jarang haters. Sebagian menjadi populer dengan cara pamer prestasi, sebagian lagi dengan mengunggah foto diri dan keluarganya, sebagian lagi dengan menjadi ‘aktivis sosmed’ yang aktif koar-koar soal topik yang sedang hangat diperbincangkan, dan kelompok lainnya (ini yang paling menyedihkan) dengan menjadi aktris drama kehidupan, misalnya dengan mengumbar masalah rumah tangga, curhat colongan minta perhatian dan dukungan, marah-marah dan menjelekkan orang lain, atau malah rajin menebar fitnah dan berita bohong alias hoax.

Sayangnya semua ini bukannya tanpa risiko. “Facebook telah menunjukkan bahwa algoritmanya bisa menjudge kepribadian dan karakter seseorang lebih baik dari keluarga, orang tua, dan pasangannya sendiri. Studi ini dilakukan terhadap 86.220 sukarelawan yang memiliki akun FB dan telah mengisi kuesioner berisi ratusan pertanyaan terkait kepribadian. Algoritma Facebook memprediksi jawaban para sukarelawan dengan memonitor Like mereka. Semakin banyak Like, semakin akurat prediksinya. Prediksi algoritma ini lalu dibandingkan dengan jawaban rekan kerja, teman, anggota keluarga, dan pasangan para sukarelawan tersebut. Hebatnya, algoritma FB hanya memerlukan 10 Like dari sukarelawan untuk mengalahkan prediksi rekan kerjanya. Algoritma itu hanyak butuh 70 Like untuk mengalahkan prediksi teman, 150 Like untuk mengalahkan anggota keluarga, dan 300 Like untuk mengalahkan pasangan. Dengan kata lain, jika Anda sudah pernah memberikan 300 Like di akun Facebook Anda, algoritma Facebook bisa memprediksi opini dan keinginan Anda lebih baik dari suami atau istri Anda sendiri! Dalam beberapa kasus Facebook bahkan bisa memprediksi apa yang Anda inginkan atau ingin lakukan lebih baik daripada diri Anda sendiri.1

Hubungan cinta dan benci kita dengan Facebook tidak berakhir di masalah iklan menyebalkan yang terus menerus muncul di timeline. Semakin banyak orang yang ‘berteman’ dengan kita di Facebook, semakin sulit bagi kita untuk mengontrol privasi dan menjaga image pribadi. Akan ada saja orang-orang yang ingat dengan status yang kita posting setahun yang lalu bahkan ketika kita sendiri sudah lupa pernah menulisnya! Beberapa orang tidak akan lupa kata-kata menyebalkan yang kita pernah tulis. Sekarang ini, banyak calon klien atau employer (pemberi kerja) yang memeriksa akun Facebook seseorang sebelum memutuskan untuk mempekerjakan orang itu atau tidak. Oh, orang ini pernah menjelekkan perusahaan atau bos lamanya, coret dari daftar. Orang ini anti gay dan ekstrimis, coret. Orang ini durhaka pada orang tuanya, coret. Orang ini sering curhat malas dan sering ngantuk saat bekerja, coret. Orang ini menghabiskan terlalu banyak waktu di Facebook (berdasarkan intensitas update-annya), coret. Orang ini suka pamer soal kekayaan dan terang-terangan membuka rahasia perusahaan (misalnya jumlah gaji yang ia terima setiap bulan) dari company sebelumnya, coret. Ya, telah tiba masa di mana kita memang dijudge berdasarkan konten Facebook kita. Dan sayangnya, judgment itu sering kali benar, sekeras apa pun kita berusaha membela diri. Like dan status-status kita bisa menggambarkan siapa kita dengan lebih baik dari orang tua dan pasangan kita sendiri.

Facebook juga diketahui menjual data penggunanya kepada para pengiklan atau pebisnis besar dan kecil. Data yang secara gratis Anda berikan ke FB dimanfaatkan untuk mendata demografi. Berdasarkan informasi dari Anda, Facebook tahu kelompok umur mana di daerah A yang lebih mungkin membeli rumah di daerah B. Facebook juga akan mengetahui berapa banyak orang yang lahir dan meninggal di kota C berdasarkan status dan foto yang Anda posting. Facebook juga bisa memprediksi berapa banyak pengguna yang menggunakan smartphone dan laptop merek tertentu, suku mana yang lebih tertarik mengklik iklan makanan kucing, orang-orang dengan latar belakang sosial dan pendidikan mana yang lebih mungkin mendatangi pusat kebugaran tertentu. Semakin banyak informasi yang kita berikan, semakin mudah kita menjadi target iklan di FB.

Selain masalah privasi, masih ada masalah keamanan. Kita tidak akan pernah tahu kapan postingan kita di media sosial membawa petaka. Kim Kardhasian sekali waktu menjadi korban perampokan dan penodongan senjata api di sebuah apartemen di Paris setelah memposting foto perhiasannya di Instagram dan check-in lokasi tempat dia berada. Anda bukan Kim Kardhasian? Anda tidak akan pernah menduga sosok pedofil mana yang bersembunyi di antara ribuan teman FB Anda dan menculik anak Anda di sekolah karena dia tahu persis di mana anak Anda sekolah dan jam berapa dia pulang berdasarkan status Anda. Anda masih single? Pemuja rahasia berwujud stalker dan penjahat kelamin bisa saja menguntit Anda sepulang kantor. Anda ‘aktivis medsos’? Hati-hati dengan kata-kata, Anda bisa diciduk seperti Jonr* atas tuduhan ‘ungkapan kebencian’. Anda pedagang online? Kalau Anda ‘alay’ dan suka menjelekkan orang di medsos, bukan tidak mungkin orang menjadi ‘ilfil’ dan malas membeli dagangan Anda. Anda dokter? Kalau Anda menulis status-status yang tidak ilmiah, Anda bisa kehilangan calon pasien. Anda pemilik properti baru? Hati-hati, perampok hanya butuh foto rumah Anda untuk mengira-ngira di mana Anda tinggal.

Oke, Anda mungkin saja tidak aktif atau tidak punya akun di Facebook. Lantas bagaimana dengan media sosial lainnya? Instagram tidak lebih baik. Akun yang tidak dikunci dan memiliki banyak follower yang tidak Anda kenal secara pribadi bisa menyusahkan juga. Orang bisa dengan mudah men-screenshot foto-foto Anda dan mengeditnya. Anda mengundang masuk dan merangkul para orang-orang asing ini dengan suka cita. Selamat datang di hidup saya yang awesome. Ayo puji dan kagumi saya. Beri saya Like. Saya seorang ‘selebgram’. Tapi please, jangan edit foto-foto saya. Jangan sambungkan kepala saya dengan tubuh telanjang bintang porno. Jangan screenshot foto berisi status saya dan menggunakannya untuk menyindir atau menertawakan saya. Jangan save instagram story saya dan jangan viralkan ujaran kebencian saya di dunia maya. Cukup tahu saja kalau saya si pencinta warna biru yang sadar mode dan tidak suka makan bakpia. Begitu mungkin pikir beberapa orang. Sayangnya, warganet tidak selalu sepakat dengan Anda.

Dengan teknologi smartphone, siapa saja bisa menjadi trending topic di Google dan Twitter. Ingat video viral seorang pengemudi taksi Burung Biru yang marah-marah kepada seorang ekspatriat di jalanan dan berteriak-teriak “THIS IS INDONESIA. YOU WRONG. F**K YOU.”? Mungkin Pak Supir itu tidak mengira seseorang akan merekam aksinya dan mengunggahnya ke media sosial. Masih ingat screenshot status seorang perempuan muda yang menjadi viral karena dia menulis dia tidak suka memberikan tempat duduk kepada ibu-ibu hamil di kereta? Dua orang ini dihakimi massa sedemikian parahnya di media sosial, dibully habis-habisan. Cerita ini menunjukkan bagaimana warganet bisa dengan mudah merasa punya hak untuk menghakimi orang lain, mencaci-maki, dan merasa dirinya lebih baik dari seseorang yang mendapatkan 15-minutes fame seperti kasus di atas. Jangan harap warganet menghormati privasi Anda dan akan minta izin dulu sebelum mengunggah video Anda ke medsos atau men-screenshot dan memviralkan status FB dan Path Anda.

Google, sang nemesis Facebook (meminjam istilahnya Yuval Noah Harari dalam bukunya Homo Deus), tidak lebih baik dalam melindungi privasi dan keamanan pengguna internet. Sebagai mesin pencari raksasa dan nomor satu di dunia, Google mendeteksi dan merekam seluruh aktivitas online Anda. Google tahu ke mana Anda pergi pada tanggal A bulan B tahun C (ingat Google Maps?), apa yang Anda beli (dari cookie website online shop tempat Anda singgah), topik yang Anda gemari (dari Google Search), penyakit yang mungkin Anda derita (berdasarkan pencarian), jumlah email yang ada dalam kotak masuk Anda di akun Gmail,  restoran yang Anda kunjungi, buku yang Anda baca, lagu dan film yang Anda unduh, video yang Anda tonton di Youtube (ingat, Youtube punya Google), berapa jam yang Anda habiskan untuk online setiap harinya (berdasarkan akun Google Anda), dan bahkan berapa jam Anda tidur dalam sehari (berdasarkan jumlah jam absennya Anda dari Google setiap hari).

Berdasarkan informasi di atas, Google menampilkan iklan yang relevan kepada Anda. Anda yang tadinya mungkin tidak butuh sepatu baru, mendadak membeli sepatu setelah melihat iklan yang ditampilkan di browser Anda. Google tidak peduli kalau Anda diam-diam menyukai sepatu hak tinggi sementara Anda adalah laki-laki. Google tidak minta izin untuk mengambil informasi Anda dan menukarnya dengan iklan. Google is watching you and every step you make. Kehadiran dan eksistensi Google menjadi omnipresent, ada di mana-mana (di semua perangkat dan lingkungan maya) pada waktu yang bersamaan. Google menjelma menjadi Tuhan baru dengan data sebagai doktrin dan ajarannya.

Di era internet, bukan negara dan pemerintah lagi yang mengawasimu. Google does it, too. “Orang-orang Jerman bisa mengerti bahwa ada perbedaan besar antara negara yang mengawasi semua hal yang kita lakukan dan Google yang melakukan hal yang sama. Bedanya, di kebanyakan negara-negara Eropa, negara adalah sebuah badan yang dipilih oleh rakyat, sementara Google bukan. Tindakan yang dilakukan pemerintahan Jerman Timur dan Google tidak banyak bedanya.”2

Privasi dengan cepat menjadi barang langka. Saya pernah mencoba ‘melindungi’ privasi saya dengan menggoogle nama saya sendiri. Oops, CV saya muncul dengan terang benderang di salah satu situs freelance terkemuka di dunia! Setelah saya usut, ternyata saya lupa mengatur setelan profil saya di situs tersebut. Nama saya juga muncul di situs penyimpanan data skripsi dan tesis alumni, lengkap dengan judul dan potongan isi tesis saya. Parahnya, nama saya juga muncul di situs jual beli online, yang pernah saya kunjungi. Foto-foto yang pernah saya unggah di medsos pun muncul di tab penelusuran gambar di Google. Tidak bisa saya bayangkan jika saya menjadi korban cyber bullying dan nama saya terpatri selamanya di indeks pencarian Google.

Di masa depan, privasi mungkin akan sepenuhnya punah. Cucu-cucu Anda akan tahu kalau waktu Anda muda Anda membenci si A, B, dan C serta naksir si D. Cicit-cicit Anda akan tahu kalau Anda pernah menderita sakit panu saat berumur 35. Keturunan Anda yang lain mungkin akan malu atau membenci Anda atas apa yang pernah Anda tulis di Facebook 50 tahun yang lalu (ingat fitur memori Facebook?). Suatu hari nanti bukan tidak mungkin otak manusia akan bisa dihubungkan dengan internet, sehingga siapa pun bisa mengakses dan membaca pikiran orang lain. Bukan tidak mungkin mulut hanya akan memiliki dua fungsi, untuk makan dan bernapas, karena otak seluruh umat manusia terkoneksi dengan internet dan semua orang berkomunikasi lewat ‘telepati’. Tidak percaya? Para neuroscientist percaya bahwa brain-to-brain communication dimungkinkan di masa depan.3

Di jaman penjajahan dulu, orang-orang menukar rempah-rempah dengan sejumlah uang. “Di masa kejayaan imperialisme Eropa, para penjajah dan pedagang membeli seluruh pulau dan negara untuk ditukarkan dengan manik-manik. Di abad ke-21, data pribadi kita bisa jadi adalah sumber daya paling berharga yang bisa kita tawarkan, dan kita memberikannya ke raksasa teknologi untuk mendapatkan layanan email dan video kucing yang lucu.”4

 
Catatan:

1&4Yuval Noah Harari. Homo Deus. Hal. 396-397

2Alex Preston. The Death of Privacy. 3 August 2014. https://www.theguardian.com/world/2014/aug/03/internet-death-privacy-google-facebook-alex-preston

3Klik di sini untuk membaca lebih lanjut.