Plus Minus Tinggal di Solo

“Betah di sana, Ra?”

“Bukannya gak ada apa-apa ya di Solo?”

Tahun 2015 lalu saya pindah dari Depok dan menetap di kota Solo. Karena saya lahir dan tumbuh besar di Jakarta, beberapa teman merasa heran mengapa saya memutuskan untuk tinggal di kota kecil. Sebenarnya, tinggal di mana saja ada plus minusnya. Tapi karena saya merasa tinggal di Solo lebih banyak untungnya, saya memutuskan tinggal di sini. Berikut sisi positif tinggal di kota kecil seperti Solo.

Pertama, tinggal di kota kecil itu berarti melepaskan diri dari kemacetan kota besar seperti Jakarta. Semua orang Jakarta yang saya kenal paling tidak pernah sekali mengeluhkan kemacetan dan lamanya waktu tempuh dari rumah ke tempat tujuan, kantor atau mall misalnya. Solo bukannya bebas macet sama sekali, sih. Saat weekend biasanya memang padat. Tapi tetap saja tidak bisa dibandingkan dengan kejamnya kemacetan Jakarta.

Kedua, karena luas wilayah yang relatif kecil dan jarang macet otomatis ke mana-mana pun terasa dekat dan cepat. Contohnya, rumah saya berjarak sekitar 6 km dari pusat kota Solo, saya hanya butuh 15 menit berkendara ke sana. Ke Bank dekat, ke pasar dekat, ke bandara dekat, ke mall dekat, ke stasiun dekat… Pokoknya mantaplah.

Walaupun kota kecil, Solo memiliki fasilitas dan ruang publik khas kota besar yang lumayan lengkap. Mau ke mall? Ada 5 mall besar di Solo. Ke bank? Hampir semua bank besar punya kantor cabang di Solo. Ke rumah sakit? Solo memiliki beberapa RS khusus, beberapa di antaranya menjadi rujukan nasional, seperti RS Ortopedi Soeharso, RS Mata Solo, RS Indriati dengan Cancer Center-nya, dan masih banyak RS umum dan swasta lainnya. Asiknya, Solo juga memiliki klinik dan puskesmas hewan dengan fasilitas IGD 24 jam, rawat inap, dan kamar bedah. Solo juga punya beberapa stasiun kereta dan sebuah bandara internasional. Fasilitas sekolah pun lumayan lengkap, mulai dari sekolah negeri, swasta, dan sekolah internasional. Tempat hangout seperti restoran dan cafe serta fasilitas olahraga pun cukup banyak. Oh, satu lagi. Solo juga punya fasilitas transportasi umum bernama Batik Trans yang berhenti di banyak halte di jalan-jalan utama. Busnya bagus, jauh lebih bagus dari Metromini atau angkot kecil di Depok dan Bogor. Hehe.

Keempat, biaya hidup di Solo lebih murah dari kota besar seperti Jakarta. Ini wajar, mengingat UMR Solo (1.5 juta)  kurang dari setengahnya UMR Jakarta (3.3 juta). Harga bahan pokok dan biaya jasa otomatis mengikuti UMR. Contoh sederhananya, harga pasar buah-buahan lokal (bukan impor) di Solo lebih rendah daripada di Jakarta. Sebagai pelanggan setia Superindo, saya sudah membuktikannya sendiri. Harga buah A, misalnya, Rp1200/100 gr di Superindo Solo. Buah yang sama dihargai Rp2200/100 gr di Superindo Depok. Kalau dipikir-pikir, ini mungkin juga karena buah tersebut ditanam dan dipanen di sebuah kota di Jawa Tengah yang jaraknya lebih dekat ke Solo dibandingkan ke Jakarta. Jadi, faktor geografis juga mempengaruhi harga bahan pokok di Solo. Biaya jasa seperti jasa dokter, jasa arsitek, jasa bersih-bersih rumah, reparasi AC, dan laundry kiloan otomatis lebih murah juga. Misalnya, jasa dokter spesialis di salah satu RS swasta di Solo Rp75.000/kunjungan, jasa dokter hewan Rp30.000/pemeriksaan, dan jasa cuci setrika laundry kiloan Rp3000/kilo. Bandingkan dengan di Jakarta atau kota-kota besar lainnya…

Kelima, tanpa kemacetan dan biaya hidup yang relatif rendah, tingkat stres saya pun jadi berkurang. Hehe. Di Jakarta saya sering merasa ‘tua di jalan’ karena lamanya jarak tempuh ke suatu tempat. Saya yang pada dasarnya ‘house fairy‘ (baca: anak rumahan) ini pun semakin malas keluar rumah karena memikirkan macetnya jalanan dan besarnya ongkos transportasi ke mana-mana. Kalau terjebak kemacetan saya mudah merasa stres, entah karena lelah secara mental atau karena kebelet ke toilet misalnya. Haha.

Keenam, tinggal di Solo berarti bisa saving lebih banyak, salah satunya dari pos pengeluaran eating out alias makan di luar. Lagi-lagi saya harus membandingkan hal ini dengan di Jakarta. Kalau mau sering-sering keluar rumah kok rasanya apa-apa mahal di Jakarta. Menghabiskan Rp100.000-150.000 untuk seporsi makanan dan segelas minuman adalah hal biasa di Jakarta. Biar kita mampu sekali pun, kecuali uang sudah gak berseri di bank ya, pasti biaya sosialisasi seperti ini bisa menjadi beban jika tidak dikelola dengan baik. 😉 Di Solo, dengan modal Rp27.000 kita sudah bisa makan soto plus nasi 2 mangkok, 2 gelas es jeruk, lauk tahu dan tempe goreng, plus kerupuk. Kecuali makan di restoran di mall, ongkos makan di luar jauh lebih murah di Solo.

Ketujuh, jarang ada ‘drama’ tinggal di kota kecil seperti Solo. Tinggal di kota besar memang ada saja ‘dramanya’. Demo berserilah, aksi terorismelah (walaupun aksi teror bisa terjadi di mana saja, ya), KRL mogok di tengah jalan, banjir, antrean super panjang cuma untuk beli jus mangga atau tiket promo pesawat sampai kerusuhan di mall gara-gara ada satu outlet merek terkenal yang sedang sale*. Selama saya tinggal di Solo, saya belum pernah terjebak di jalan karena demo. Karena tidak ada KRL (kecuali kereta antar kota), otomatis saya tidak pernah stuck diam lama di dalam kereta, seperti yang dulu sering saya alami di Jakarta. Saat ada Travel Fair di mall, orang jarang antre. Kalau kedai ritel seperti KFC atau J.Co sedang ada promo, antrean tidak pernah panjang. Mungkin hal-hal ini terdengar sangat sepele dan sebagian besar orang tidak mengeluhkannya, tapi bagi saya kemudahan dan kelancaran hal-hal kecil begini membuat saya bisa lebih menikmati hidup dan merasa rileks.

Kedelapan, tinggal di Solo memudahkan saya untuk menjelajahi kota-kota lain di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pulau Jawa itu besar dan menyimpan banyak potensi wisata. Sebelum tinggal di Solo, ada banyak daerah wisata dan kota-kota Jawa Tengah yang belum pernah saya kunjungi. Mau ke Pantai? Di Gunung Kidul ada banyak pantai-pantai yang cantik. Mau panjat tebing? Di Jogja bisa. Mau naik gunung? Di Jawa Tengah saja ada begitu banyak gunung yang bisa kita daki. Wisata kota juga tidak kalah menarik. Kita bisa wisata kuliner di Jogja, Boyolali, Salatiga, Semarang, dan Pati. Modalnya pun hanya sedikit: waktu dan sedikit uang saku. 🙂

Rasanya tidak adil kalau hanya menulis sisi positif dari tinggal di Solo. Sekarang saya akan menulis kekurangan tinggal di kota kecil seperti Solo.

Pertama, sarana dan tempat sosialisasi di Solo tentu tidak bisa disamakan dengan di Jakarta yang semua ada. Kalau kita termasuk orang yang suka bersosialisasi di pusat perbelanjaan, klub, dan menyukai kehidupan malam, tinggal di Solo benar-benar bisa jadi membosankan dan membuat ‘mati gaya’. Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya kira-kira di mana tempat anak muda ‘dugem’ di Solo. Mungkin ini karena saya kurang gaul atau bisa jadi karena memang hanya ada sedikit sekali tempat dugem di Solo. Saya pernah makan di satu ‘tempat gaul’ bernama Social Kitchen di Solo, tapi tempat itu sudah tutup setelah di-sweeping masyarakat setempat karena menjual minuman keras. Tapi yah sepertinya hal ini tidak terlalu berpengaruh bagi kehidupan masyarakat Solo dan tidak terlalu terdengar juga pro kontranya.

Kedua, tinggal di Solo berarti butuh lebih banyak usaha untuk pergi ke luar negeri dan kota-kota lain di Indonesia. Penerbangan internasional di Solo hanya ada ke Singapura dan Malaysia. Itu pun tidak setiap hari. Kalau mau ke Thailand misalnya, saya harus ke Jogja atau Jakarta dulu dan terbang dari sana. Bepergian ke provinsi lain juga butuh lebih banyak waktu dan biaya. Kalau saya mau ke Jambi atau Padang, saya harus ke Jakarta dulu untuk transit.

Ketiga, Solo bukan kota yang tepat untuk mereka yang selalu ingin up-to-date dalam hal produk konsumen dan barang-barang ritel. Produk baru yang sedang tren atau baru masuk ke Indonesia (barang/chain retail) biasanya masuk ke kota-kota besar terlebih dulu. Orang Solo yang ingin mencoba makan di jaringan restoran yang baru masuk ke Indonesia mau tidak mau kita harus menunggu sampai mereka ke ibu kota dulu. Mau mencoba layanan internet terbaru yang sedang ngehip, eh ternyata belum ada jaringannya di Solo. Mau belanja di butik brand tertentu? Harus ke Jakarta dulu. Mau mencoba layanan spa terbaru? Siap-siap kecewa karena di Solo orang bahkan belum pernah mendengar namanya.

Keempat dan mungkin yang paling penting, lapangan pekerjaan di Solo tidak sebanyak di kota-kota besar. Orang Solo sendiri banyak yang pindah ke kota besar dan bahkan luar negeri demi mendapatkan pekerjaan. Orang Jakarta yang ingin pindah ke daerah tidak bisa seenaknya pindah kalau tidak ada pekerjaan baru yang jelas di kota kecil tujuan. Jadi, meskipun banyak orang kota besar yang bermimpi pindah ke kota kecil, hal tersebut bukan hal yang mudah dilakukan.

Kesimpulannya, buat saya pribadi tinggal di Solo sampai saat ini terasa menyenangkan, terlepas dari semua kekurangannya. Tapi… ini tidak berarti saya sudah pasti akan tinggal di sini selamanya. Kalau suatu hari Solo menjadi terlalu ramai dan tidak menyenangkan lagi, saya akan pindah ke tempat lain. Freelancer mah bebas. Hehe.

 

 

Cheers,

Haura Emilia

 

 

 

Catatan:

*Lihat video kerusuhan pas sale Nike di Grand Indonesia.

 

 

 

Iklan

Tahun Odyssey

Pada artikel The Times yang dipublikasikan bulan Oktober tahun 2007, David Brooks mendefinisikan ‘Odyssey Years’ sebagai “dekade mengembara yang biasanya terjadi antara masa remaja dan dewasa”.1 Sosiolog di negara-negara barat sepakat bahwa ‘Odyssey Years’ adalah salah satu tahap hidup masyarakat barat yang terjadi antara usia dua puluh dan tiga puluh lima tahun.2 Kata ‘Odyssey’ sendiri diambil dari salah satu puisi Yunani, yang diyakini ditulis di akhir abad ke-8 SM.3 Puisi ini mengisahkan seorang pahlawan Yunani bernama Odysseus, raja Ithaca, dan yang tidak kunjung pulang ke rumahnya 10 tahun setelah peperangan di Troy.4 Singkatnya, ‘Odyssey Years’ adalah masa ‘peralihan’ bagi seseorang yang telah lulus kuliah (atau sedang kuliah) sampai ke tahap sebelum ia memutuskan untuk settle down, alias menikah dan berkeluarga.

Dalam satu dekade (atau lebih) ini banyak hal yang mungkin terjadi, misalnya berganti-ganti profesi, jadi ‘kutu loncat’ dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya, hidup nomaden berpindah-pindah, melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang jauh, menganggur karena bingung mau kerja apa, mencoba bisnis satu dan yang lain, atau melakukan kegiatan apa pun yang sifatnya menunda untuk menikah dan berkeluarga.

Saya pernah mengalaminya. I had my own ‘Odyssey Years’. Kebetulan saya lulus S1 berdekatan dengan ulang tahun saya yang ke-21. Usia ini relatif muda dibandingkan dengan teman-teman seangkatan yang rata-rata setahun lebih tua. Ketika beberapa teman saya mulai memasuki tahap serius dalam kehidupan pribadi dan bahkan sudah ada yang menikah, saya bertekad untuk menunda menikah dan menikmati masa muda saya sebaik-baiknya. Dan ini ada alasannya.

Semasa sekolah (SMP-S1), saya adalah remaja kutu buku yang serius dan membosankan. Walaupun orang-orang terdekat menganggap saya goofy dan lucu, tapi di dalamnya saya adalah orang yang sangat serius dan selalu  memilih berpikir panjang sebelum mengambil keputusan. Waktu SMP, misalnya, saya sudah bertekad untuk memiliki rumah sendiri sebelum usia 30. Rumah yang saya beli dengan usaha sendiri, bukan warisan orang tua atau pemberian suami. Waktu SMA saya tidak pernah keluar malam Minggu untuk pacaran dan memilih untuk ikut les privat mata pelajaran fisika, seperti anjuran orang tua saya. Saya tidak pernah merokok, saya hampir tidak pernah pulang telat dengan alasan tidak jelas, saya tidak pernah clubbing, saya juga tidak pernah terpikir untuk mencoba drugs atau alkohol. Saya tidak melakukannya bukan karena saya menganggap diri sebagai orang yang lebih baik daripada orang-orang yang melakukannya.

Bukan karena saya orang yang baik. Saya hanya berusaha menghindari masalah dan hidup selurus mungkin. Sungguh malas rasanya kalau harus dimarahi orang tua ketika nilai rapor jelek, sungguh tidak ideal kalau di usia muda hamil dan punya anak, sungguh malas juga kalau jadi pencandu dan berakhir di penjara, dan hidup muda dengan kondisi fisik tidak sehat (karena narkotika, alkohol, atau rokok) sungguh bukan pilihan yang menarik buat saya. Saya juga ogah membayangkan di masa depan saya jadi beban orang tua dan pengangguran kalau malas sekolah. Jadi yah, buat beberapa orang, saya adalah anak yang ‘cupu’ dan ‘gak asik’.

Nah, karena pada akhirnya masa sekolah saya habiskan dengan belajar, saya bertekad untuk lebih menikmati hidup setelah lulus kuliah. Saya memutuskan untuk bekerja dan beberapa kali berganti profesi, pindah ke luar negeri, travel ke beberapa belas negara, dan sekolah lagi (S2). Sejak lulus tahun 2007, saya yang dulunya anak Depok, hidup berpindah-pindah. Tahun 2007-2009 saya mengajar di UI Depok dan PPB UI Salemba dan Depok. Dari Depok saya ‘hijrah’ ke Jakarta dan ngekos sambil meneruskan sekolah di UI Salemba. Saya tinggal di Jakarta selama 2 tahun. Tipikal hari-hari saya selama di sana adalah bangun pagi-pagi, pergi kursus bahasa Prancis di CCF (sekarang IFI) selama 4 jam, makan siang, pergi mengajar bahasa Inggris di kampus IISIP selama 2 jam, kembali ke kampus Salemba untuk kuliah sore sampai malam, pulang, tidur. Kapan dan di mana belajarnya? Sebelum tidur, bangun tidur, di kereta, di kamar kosan, di akhir pekan. Dua tahun itu adalah tahun yang sangat sibuk untuk saya.

Setelah lulus S2 tahun 2011, saya mendapatkan pekerjaan di Singapura, di sebuah perusahaan Inggris. Petualangan baru saya pun dimulai. Saya bekerja dan tinggal di sana sampai tahun 2013. Tahun 2013, kantor menawarkan saya untuk mengisi posisi sementara ‘trainer’ di Bali. Hmmm… Bali? Dasar saya orangnya bosanan, saya pun mengiyakan dan pindah ke Bali. Posisi ini hanya dibutuhkan selama 6 bulan. Setelah 6 bulan berlalu, saya memutuskan untuk tidak meneruskan posisi kontrak dan resign. Lalu mau ke mana lagi saya selanjutnya?

Saya kembali ke rumah orang tua di Depok dengan status pengangguran. Saya lalu mencoba peruntungan dengan menjadi penerjemah freelance. Ternyata itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat dalam hidup. Sejak akhir 2013 hingga awal 2015 saya tinggal di Depok dan bekerja sebagai penerjemah lepas purnawaktu. Tahun 2015 saya (akhirnya) menikah dan memutuskan untuk pindah ke Solo. Delapan tahun sejak lulus S1 akhirnya saya memutuskan untuk settle down. That was the end of my ‘Odyssey Years’….

Apa yang saya pelajari dari ‘Tahun Odyssey’ saya sendiri? Pertama, saya jadi bisa memahami adanya pergeseran nilai sosial dalam masyarakat modern. Dulu, jaman bapak dan ibu saya, pernikahan sudah hampir mutlak menjadi pilihan hidup setelah lulus sekolah/kuliah. Bahkan banyak pula yang melewati masa remaja dan langsung memasuki dunia nyata dengan bekerja dan menikah. Generasi sekarang punya lebih banyak pilihan. Sejak kemunculan internet, telah lahir banyak pekerjaan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Dulu ayah saya mungkin hanya bisa bermimpi jadi seorang guru, bukan Social Media Manager. Tante saya hanya fokus ingin jadi PNS, karena pekerjaan lepas tidaklah eksis. Ibu saya hanya ingin jadi ibu rumah tangga, bukan Personal Shopper atau Homecook yang juga Youtuber. Dulu, Pakde saya tidak berani membayangkan dunia di luar Pulau Jawa dan Sumatra karena budget airline belum ada. Eyang saya juga tidak pernah terpikir untuk kerja di perusahaan asing di luar negeri karena menjadi tukang kue atau petani di desa jauh lebih masuk akal.

Teknologi dan kapitalisme melahirkan begitu banyak kesempatan dan peluang baru. Manusia menjadi semakin banyak tahu apa yang ada di belahan dunia lain. Ada begitu banyak tempat untuk didatangi, makanan baru untuk dicicipi, tren fashion terbaru untuk dicoba, skill baru untuk dipelajari, dan profesi baru untuk dilakoni. Generasi sekarang menjadi lebih greedy akan hal-hal baru. Mengapa harus segera menikah kalau bisa keliling dunia lebih dulu? Mengapa harus menimang dan mengurus bayi kalau bisa mengadopsi anjing dan bersenang-senang dengan pasangan dulu? Oh, jangan sebut-sebut soal ‘biological clock’ di depan perempuan modern jaman sekarang. Hanya karena punya uterus, bukan berarti harus digunakan, bukan?

Humanisme dan kapitalisme yang dibalut teknologi semakin fokus menjadikan manusia ‘pusat alam semesta’. Kebahagiaan dan ketenangan batin adalah hal utama yang harus diperhatikan. Tidak apa tidak menikah, asal hidup nyaman dan bahagia. Tidak apa menunda bekerja, asal bisa memiliki pengalaman lain yang sama berharganya dengan bekerja, misalnya travel keliling dunia (kalau mampu, tentu saja). Tidak apa tidak memiliki karir dan jadi freelancer, daripada pusing kerja kantoran dan dimarahi bos. Semuanya tentang bagaimana kita bisa jujur dan nyaman dalam merasakan dan mengalami sesuatu. Kita memiliki lebih banyak kebebasan. Everything is okay as long as we’re happy and we don’t hurt others. Tidak percaya? Coba lihat Instagram si A, dia single dan happy, kok. Coba intip Facebook si B, dia kerja freelance tapi bisa bangun rumah. Coba baca cuitan si C di Twitter, dia baru menikah umur 35 dan punya anak umur 37 dan tampak bahagia.

Kedua, ‘Tahun Odyssey’ mengajarkan saya untuk tidak terlalu keras terhadap diri saya sendiri. Waktu adik saya menikah tahun 2013 (saat saya masih bekerja di Singapura), saya sempat merasa tertekan karena keluarga dan masyarakat menilai hal tersebut sebagai tindakan yang paling wajar dan masuk akal bagi perempuan berumur 20an. Sehingga mereka mengharapkan saya untuk melakukan hal yang sama. Pada kenyataannya, saya sedang dalam masa-masa sulit dan pencarian ‘jati diri’ tentang apa yang saya benar-benar inginkan dalam hidup. Saya tidak pernah suka mengikuti pola dan cetakan. Saya ingin jadi diri saya sendiri. Tahun Odyssey memberikan saya waktu yang cukup panjang untuk berpikir, berkembang, tumbuh, dan menjadi dewasa. Dulu saya punya banyak target yang bahkan agak terlalu sulit untuk dicapai bahkan untuk diri saya sendiri. Waktu yang saya berikan untuk diri sendiri pada akhirnya mengajarkan saya bahwa ada banyak hal yang tidak dapat kita kontrol dalam hidup dan untuk merasa tenang serta bahagia kita perlu menyesuaikan ekspektasi dengan keadaan. Dengan kata lain, kita tidak perlu terlalu keras terhadap diri sendiri. Tidak bisa saya bayangkan jika saya harus melewati semua proses pendewasaan ini dengan bayi di pangkuan atau suami yang minta makan dan perhatian.

Ketiga, 8 tahun adalah waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri memasuki ‘adulthood’ dan mulai berinvestasi. Mungkin banyak yang berpikir bahwa saya cuma ‘malas’ memikul tanggung jawab menjadi seorang ibu dan istri sehingga baru menikah di usia 29. Bukan tidak mungkin juga ada yang berpikir bahwa saya adalah orang yang egois dan terlalu asik dengan diri sendiri. Namun benarkah demikian? Selama 8 tahun, walaupun tidak punya karir yang jelas dan jadi kutu loncat, saya bekerja dengan giat paling tidak untuk standar diri sendiri. Saya punya waktu untuk belajar berinvestasi. Dengan bekal ini, saya siap secara mental dan finansial untuk mulai berkeluarga tanpa perlu berharap menemukan jodoh ‘pangeran tampan’ yang berasal dari keluarga konglomerat dan terhormat.

‘Odyssey Years’ bisa menjadi tahun-tahun yang berat dan sulit, bahkan ketika kita secara sadar memilih untuk melaluinya. Memilih untuk menunda berkeluarga bukannya tidak memiliki konsekuensi sama sekali. Poin terpenting adalah menikmati setiap ‘momen pengembaraan’ yang ada di depan mata. Ketika masa-masa sulit datang ya dijalani dan ditertawakan saja. Konon katanya, orang-orang yang paling bahagia adalah mereka yang bisa menertawakan kesulitan mereka. Be strong, be happy, it’s a tough and wild world out there! 😊

 

Cheers,

 

Haura Emilia

 

 

 

Referensi:
1Brooks, David. “The Odyssey Years”. http://www.nytimes.com/2007/10/09/opinion/09brooks.html
2Shell, G. Richard. Springboard. Hal. 2.
3&4 Odysseus. https://en.wikipedia.org/wiki/Odysseus