Bersahabat dengan Kegagalan

Siapa yang tidak pernah gagal? Saya pernah. Sering malah. Saya gagal masuk SMA impian saya, saya gagal di beberapa mata pelajaran favorit dan mendapatkan nilai yang buruk, saya pernah gagal mencapai target IPK saat kuliah dulu, saya pernah beberapa kali gagal mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan, saya gagal memperoleh beasiswa impian, dan berkali-kali saya kalah dalam ajang kompetisi atau perlombaan. Saya juga pernah gagal berangkat ke Moscow untuk menjadi interpreter Miss Universe Indonesia dan saya berkali-kali ditolak saat pertama kali mencoba peruntungan menjadi penerjemah freelance. Kalau boleh jujur, ‘gagal’ adalah salah satu nama tengah saya. Perkenalan saya dengan ‘kegagalan’ sendiri terjadi saat saya berusia 6 tahun.

Waktu saya duduk di kelas 1 SD, saya belajar main sepeda untuk yang pertama kalinya. Tidak terhitung berapa kali saya jatuh. Dengan lutut lecet dan tangan yang luka-luka, saya meringis dan setengah menangis saya berusaha bangkit lagi. Saya bertanya-tanya kenapa saya jatuh sementara teman-teman saya terlihat gagah mengendarai sepeda dengan lancar. Hari pertama belajar saya pulang menangis dan mengadu kepada ibu. Saya menumpahkan kekesalan saya ke ibu dengan mengatakan bahwa bersepeda adalah sesuatu yang mustahil saya lakukan. Saya sungguh merasa gagal. Ibu hanya tersenyum dan menyuruh saya untuk melanjutkan belajar ketika luka saya sudah tidak sakit lagi.

Hari kedua, setelah lupa dengan rasa sakit yang dirasakan, saya belajar dengan ditemani saudara yang lebih tua. Kali ini saya masih jatuh, tapi tidak sebanyak hari pertama. Saudara saya memegangi boncengan dan mendorong sepeda saya perlahan dari belakang. Lalu pelan-pelan dia melepaskan pegangannya. Saat menyadari bahwa dia sudah tidak memegangi sepeda saya, saya panik dan menoleh ke belakang. Bruk. Jatuhlah saya. Hari kedua saya belajar bahwa untuk bersepeda kita harus fokus melihat ke depan. Berbekal pelajaran di hari ke-2, saya lebih percaya diri belajar di hari ke-3. Singkat cerita, pada hari ke-4 saya sudah bisa mengendarai sepeda dengan lancar. 😊

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa jarang sekali ada orang yang langsung bisa melakukan sesuatu ketika pertama kali mencobanya. Saya belajar bahwa untuk melakukan sesuatu dengan baik kita perlu memulainya dengan begitu banyak kegagalan. Kegagalan itu yang akan mengajarkan kita hal-hal yang sebaiknya tidak kita lakukan untuk mencapai tujuan. Saya belajar bahwa gagal itu tidak selalu memalukan. Sayangnya, dalam praktiknya, kita sering melupakan hal ini. Menerima kegagalan bukanlah hal yang mudah.

Tidak ada seorang pun yang menyukai kegagalan. Kita semua ingin berhasil. Ingin sukses. Ingin menang. Jadi, alih-alih belajar dari kekalahan dan kegagalan, kita memilih untuk marah dan tidak jarang menyalahkan keadaan atau orang lain. Karena kekalahan itu pahit kita juga memilih untuk tenggelam dalam keputusasaan. Padahal, sedikit sekali dari kegagalan atau kekalahan kita yang sifatnya fatal.1  Oke, katakanlah nilai kita di rapor jelek? Lalu kenapa? Apa itu berarti masa depan kita otomatis suram? Tidak, kan? Atau, kita gagal mendapatkan pekerjaan di perusahaan impian. Apa itu berarti kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik? Belum tentu. Atau, investasi kita gagal. Selama investasi itu tidak melibatkan uang orang lain, hanya kita sendiri yang rugi, bukan? Kita selalu bisa mulai menabung dan berinvestasi kembali. Jadi sebenarnya kita selalu punya pilihan dalam menyikapi kegagalan.

Menurut kolumnis majalah The Economist dan Financial Times Tim Harford dalam bukunya Adapt: Why Success Always Starts with Failure, ada beberapa cara untuk beradaptasi dengan kegagalan. Berikut saya kutip dan terjemahkan langsung poin-poinnya (1-3) dari sini.

Pertama, cobalah berbagai macam hal baru dengan memegang prinsip dasar “gagal itu biasa”.2 Misalnya, saya yang buta soal tanaman ini bisa belajar bercocok tanam dengan menyadari bahwa tanaman saya bisa saja tidak tumbuh atau mati di tengah jalan. Yang tidak tahu soal fotografi bisa mengambil kursus fotografi dengan asumsi hasil karya pertamanya bisa jadi lebih mirip jepretan anak TK. Yang belum pernah berbisnis bisa belajar berdagang dengan mempersiapkan diri (dan dana darurat) jika ternyata dagangannya tidak laku. Dengan menyadari penuh bahwa kegagalan adalah proses belajar yang penting dan biasa, kita akan lebih siap menerima kekalahan.

Kedua, bereksperimenlah dengan sesuatu yang masih bisa kita tanggung risikonya.3 Katakanlah ada seseorang yang mencoba belajar berinvestasi di bursa saham. Di awal belajar, dia menginvestasikan seluruh tabungannya dengan menanamkan modal sebesar 100 juta rupiah. Sebulan kemudian, harga saham yang dia beli terjun bebas dari Rp1000/saham menjadi Rp450 saja! Padahal, saat itu dia butuh uang untuk membayar biaya rumah sakit anggota keluarganya. Apesnya, anggota keluarganya itu tidak punya asuransi. Terjun bebasnya harga saham yang dia beli menyebabkan dia kehilangan lebih dari setengah modal yang dia tanam. Namun, karena ia berada dalam kondisi terdesak, dia terpaksa menjual sahamnya. Unrealized loss (kerugian yang belum direalisasikan) pun segera berubah menjadi realized loss (kerugian yang direalisasikan). Apa yang bisa kita pelajari dari kasus ini? Kita perlu bereksperimen dengan sesuatu yang masih bisa kita tanggung risikonya. Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa si pemilik modal mengambil risiko besar dengan mempertaruhkan seluruh tabungannya. Dia tidak memikirkan bahwa dalam berinvestasi risiko gagal selalu ada. Seharusnya, dia menginvestasikan hanya sejumlah yang mampu ia tanggung jika hilang, bukan seluruh dana yang dia miliki. Jika risiko masih bisa kita tanggung, kegagalan tidak akan terasa pahit-pahit amat.

Ketiga, kenali momen saat kita gagal.4 Saat gagal, tidak jarang kita terjebak dalam fase penolakan alias ‘in denial’. Kita berusaha menghibur diri dan bahkan membohongi diri sendiri dengan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Bisa jadi kita juga menolak menerima bahwa kita salah dan sudah kalah. Skak mat. Kita gagal tapi tetap tidak mau mengakuinya.  Padahal dengan mengakui kegagalan kita bisa mulai melihat apa yang sebenarnya salah. Apa yang membuat rencana kita tidak berhasil. Dengan menerima kekalahan kita juga bisa mulai berpikir jernih mengenai langkah selanjutnya yang harus kita ambil. Apakah kita akan meneruskan perjalanan dengan sedikit ‘manuver’ atau berhenti di situ dan mulai dari awal. Tinggalkan emosi di belakang dan majulah ke depan dengan pelajaran baru di tangan.

Keempat, berpikir positif dan tidak pernah berhenti belajar. Saya ingat hari-hari di mana saya baru menjadi seorang freelancer. Saya mengirimkan ratusan email ke ratusan klien potensial. Setelah beberapa bulan menunggu, saya tidak mendengar kabar dari seorang pun. Ini berarti saya tidak punya pemasukan. Waktu, tenaga, dan usaha saya selama berbulan-bulan pun habis terbang dan menghilang. Saya punya dua pilihan. Saya bisa menangis dan putus asa, lalu mencari pekerjaan kantoran baru. Atau, saya bisa berpikir positif bahwa saya mungkin mencari pekerjaan di tempat yang salah. Agensi terjemahan yang saya dekati mungkin tidak punya proyek untuk pasangan bahasa Inggris dan Indonesia. Atau, kalau pun ternyata saya melamar di tempat yang benar, mungkin mereka sudah punya cukup penerjemah Indonesia yang lebih baik dari saya.

Jika hipotesis pertama yang benar, maka saya hanya perlu mengirimkan lamaran ke calon klien yang baru. Jika hipotesis kedua yang benar, maka saya perlu membangun resume saya agar lebih meyakinkan. Bagaimana caranya? Tentu dengan lebih banyak belajar dan menerima pekerjaan dari calon klien yang lebih dekat lokasinya dengan saya dan berpeluang lebih besar memberikan saya pekerjaan. Dengan berpikir positif, kegagalan terasa lebih mudah untuk dilalui.

Saya jadi ingat kata-kata almarhum ayah saya dulu, “Jangan takut gagal, Nak. Ketakutan tidak akan membawamu ke mana pun. Belajarlah dengan giat dan maju terus ke depan.”

 

Cheers,

Haura Emilia

 

 

Referensi:

1,2,3,4Rapp, Sarah. Why Success Always Starts with Failure. http://99u.com/articles/7072/why-success-always-starts-with-failure

 

 

 

 

Iklan