Mendefinisikan ulang sukses

“There are no ‘secrets’ to success. Just clarity of purpose, hard work, focus, and persistence.” 

-Charles A. Lindbergh-

The picture was taken from: https://lifeatunitedworld.wordpress.com/2014/05/02/best-mba-placement-records-in-india/

 

Tujuh tahun yang lalu saya bercakap-cakap dengan seorang junior. Begini kira-kira isi percakapannya:

 

Saya: Jadi kamu ambil kedokteran?

Dia: Iya, mbak. Abis mau kuliah apa lagi? Daripada kuliah jurusan sosial, gak jelas ntar ke depannya. Mau jadi apa?

Saya: Kamu sebenernya pengen jadi dokter atau gak, sih?

Dia: Enggak sih sebenernya, mbak. Tapi karena saya mau sukses ya saya pilih kedokteran.

Saya: Supaya sukses jadi dokter, ya?

Dia: Iya, mbak.

Saya: (Terdiam) Lalu pulang dan membakar ijazah sastra sendiri

 

Percakapan di atas membuat saya berpikir tentang hubungan antara jurusan dan kesuksesan seseorang di dunia kerja serta definisi ‘sukses’ itu sendiri. Harus saya akui, sastra dan bahasa memang biasanya masuk ke dalam daftar jurusan dengan employment rate terendah. Bahkan The Sunday Times UK  pada tahun 2015 menobatkan ‘creative writing’ sebagai jurusan ‘terburuk’ nomor dua untuk mendapatkan pekerjaan. Jurusan ‘berbau’ bahasa ini ada di dalam daftar yang sama dengan ilmu-ilmu sosial lainnya seperti sosiologi, antropologi, dan jurusan seni seperti drama.

Waktu saya masih kuliah dulu, saya sering dengar orang diam-diam atau pun terang-terangan bertanya, “mau jadi apa kuliah sastra?”, seperti junior saya di atas. Bahkan, sesama mahasiswa sastra kami sudah biasa menggoda satu sama lain sebagai “calon-calon lulusan yang tidak punya masa depan alias ‘madesu’ (masa depan suram)”. Hehe. Jadi bagaimana dong kalau sudah terlanjur lulus dengan gelar S.S atau S. Hum (Sarjana Humor) seperti saya? How will I ever make a pretty good living with a literature degree? Benarkah lulusan sastra dan ilmu sosial lainnya tidak bisa ‘sukses’? Dan… Apa sih sebenarnya definisi ‘sukses’ itu?

Seperti banyak sarjana sastra lainnya, tentu saya pernah ada di masa-masa ‘galau’ mau kerja apa dan di mana. Seperti anak baru lulus lainnya, saya juga pernah berambisi ingin ‘sukses’, tapi somehow bingung apa dan bagaimana sebenarnya menjadi ‘orang sukses’ itu sendiri. Namun, perlahan saya mulai menata cara berpikir saya dan belajar untuk mendefinisikan ulang sukses dan cara mencapainya.

Untuk ‘menggapai kesuksesan’ yang pertama harus kita lakukan adalah mendefinisikan sukses itu sendiri. ‘Sukses’ adalah sebuah konsep abstrak yang definisinya terkait erat dengan lingkungan keluarga dan sosial, geografis, media, dan budaya. Buat orang Indonesia beberapa definisi ‘sukses’ paling umum adalah ‘menjadi PNS atau pegawai BUMN’, ‘menjadi selebriti dalam bidang masing-masing’, ‘memiliki rumah tangga harmonis dan keturunan yang baik’, ‘bekerja di perusahaan swasta yang bagus’, ‘bergaji besar’, ‘menjadi pengusaha’, dan seterusnya. Menurut pengamatan pribadi saya, ‘sukses’ di Indonesia erat kaitannya dengan 3F: fame, fortune, and family. Kalau bisa memiliki minimal dua F ini, maka seseorang bisa dianggap sukses. Nah, bagaimana dengan nasib lulusan sastra yang sering jomblo dan ‘diramalkan’ jauh dari ‘fame’ and ‘fortune’ ini?

Kalau indikator ‘sukses’ hanya 3F ini, habislah saya dan Anda (Ya, Anda yang lulusan sastra dan sedang baca tulisan ini. Hehe). Kalau ‘mendirikan start up lokal besar seperti Go-jek’, ‘menjadi Menteri Luar Negeri’, atau ‘menjadi wanita karir sekaligus supermom‘ adalah indikator sukses, tentu saat ini kebanyakan dari kita tidak masuk kategori ‘sukses’. Maka pada akhirnya kita harus mendefinisikan sukses bagi diri kita sendiri. Kita juga yang menentukan indikator sukses. Misalnya, ‘lebih banyak senyum daripada cemberut setiap harinya’, ‘memiliki pekerjaan mandiri’, ‘penghasilan yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari’, ‘memiliki investasi’, ‘memiliki tempat tinggal pribadi’, ‘memiliki kebebasan dan kesempatan untuk menjadi kreatif dan berinovasi’, ‘bisa tidur nyenyak setiap malam tanpa pusing memikirkan utang’, ‘dikelilingi orang-orang yang dicintai’, dan seterusnya. You name it.

Setelah menentukan definisi sukses, pertanyaan berikutnya adalah, “bagaimana cara mencapai kesuksesan itu sendiri?” Menurut salah satu ‘Success Guru’ G. Richard Shell, ada dua aspek diri yang berperan besar dalam mencapai ‘kesuksesan’. Pertama adalah kepercayaan diri bahwa diri kita dapat melakukan sesuatu dengan baik. Kedua adalah kemauan untuk belajar demi mengasah apa yang kita anggap bisa kita lakukan dengan baik. Saya memegang teguh prinsip ini. Pada tahap awal masa pencarian karir, saya memulai kerja dari apa yang saya tahu (skill) dan bisa lakukan dengan baik. Bagaimana cara mengetahui skill sendiri? Dengan membuat analisis sederhana tentang kekuatan dan kekurangan diri dan dengan menelusuri minat dan hobi.

Pada kasus saya, skill paling applicable dan lumayan yang saya miliki saat baru lulus adalah menulis, menerjemahkan dan berbicara dalam bahasa Inggris. Sayangnya, sekadar tahu dan punya satu atau dua skill saja tidak cukup. Kita perlu menyadari bahwa mungkin ada ribuan orang lain yang bisa melakukan apa yang kita lakukan atau bahkan bisa melakukannya dengan lebih baik. Jadi, kita harus terus belajar dan mengasah kemampuan. Asiknya, kita hidup dalam era digital, di mana segala sesuatu bisa kita pelajari secara gratis dan online. Skill yang ‘sederhana’ dan ‘sangat umum’ di jaman sekarang pun (seperti mengetik dengan 10 jari) bisa kita pelajari di internet. Asal kita mau belajar, akan selalu ada ruang untuk meningkatkan kemampuan.

Kedua, untuk menjadi sukses (bahkan sukses dalam definisi kita sendiri), kita perlu menjadi kreatif, fleksibel, dan ‘berpikir di luar kotak’, alias ‘thinking outside the box’. Sederhananya, kita harus mampu melihat peluang kerja yang terbuka bagi orang dengan skill yang kita miliki. Jangan membatasi diri terhadap satu jenis pekerjaan tertentu. Misalnya, jangan melihat profesi pegawai kantoran atau PNS sebagai satu-satunya jalan untuk bertahan hidup. Ada terlalu banyak variabel yang dapat menggagalkan kita dari rencana awal. Kalau kita hanya mau membuka satu pintu, maka pintu menuju peluang-peluang lain (yang mungkin jauh lebih baik dari rencana awal kita) akan selamanya tertutup. Kalau terus menerus gagal tes CPNS atau tidak kunjung mendapat panggilan wawancara kerja di bank asing misalnya, kenapa tidak coba alternatif lain? Kenapa tidak mencoba ranah yang benar-benar berbeda (namun masih relevan dengan skill) seperti mengajar, melamar ke media, atau sekalian menjadi freelancer? Be creative, be flexible, you’ll never know. Life might offer you something better than your expectations! 🙂

Ketiga dan terakhir, fokus dan gigihlah dalam mencapai goal/tujuan akhir. Untuk membantu diri saya fokus pada tujuan utama (baca: sukses), saya menulis goal tersebut berikut langkah-langkah kecil untuk mencapainya. Misalnya, salah satu goal saya adalah mencapai kebebasan finansial saat saya tua nanti, maka salah satu langkah yang perlu saya ambil adalah mulai berinvestasi sejak muda. Langkah berikutnya adalah membuat daftar potensi pemasukan alternatif di luar pekerjaan utama (menerjemahkan). Membuat step-by-step atau action plan akan memberikan gambaran yang jelas tentang apa yang perlu dan sudah kita lakukan untuk mencapai tujuan akhir. Dengan membuat rencana yang jelas dan terarah, kita juga bisa lebih mengantisipasi keadaan sulit dan tidak terduga yang datang tiba-tiba di tengah usaha kita.

Sekarang, ambil selembar kertas dan tulis definisi sukses Anda sendiri dan buat action plan-nya.

Sudah punya? Bagus. Sulit? Belum terpikir? Hmmmm…. Perjalanan menuju sukses memang tidak pernah mudah. 🙂

Kembali ke cerita saya di awal tulisan ini, saya sudah lama tidak bertemu junior saya itu. Saya dengar dia sekarang sudah jadi dokter merangkap ibu rumah tangga. Saya tidak tahu apakah dia sudah menganggap dirinya sukses atau belum. Saya juga tidak tahu apa dia masih berpikir bahwa semua orang yang kuliah selain kedokteran tidak bisa ‘sukses’. I guess it doesn’t matter to me anymore. 🙂 Saya bersyukur dengan jalan hidup yang saya ambil. Saya juga tidak menyesali kuliah jurusan sastra. Saya sudah membuktikan kepada diri saya sendiri bahwa saya baik-baik saja dengan ijazah yang saya punya. Namun, yang terpenting, saya sudah belajar bahwa sebenarnya tidak ada resep rahasia untuk menjadi sukses. Sukses hanya masalah definisi, tujuan akhirnya (paling tidak untuk saya) adalah untuk menemukan kebebasan dan kedamaian, hidup berkecukupan (tidak perlu berlebihan), serta bisa berguna untuk keluarga dan orang lain. 🙂

 

Cheers,

Haura Emilia

 

Iklan

Belanja buku impor online di Bookdepository.com

Disclaimer: blog post ini bukan iklan, saya tidak dibayar dalam bentuk apa pun oleh Bookdepository untuk mengiklankan tokonya. Postingan ini ditulis dengan jujur berdasarkan pengalaman pribadi sejak mulai berbelanja di Bookdepository tahun 2011.

Nyari buku bahasa Inggris yang terjangkau susah, ya?”

“Beli buku impor yang murah di mana, sih?”

“Periplus? Kinokuniya? Books & Beyond?”

“Mahal!!!”

Ya, buku impor memang biasanya dijual dengan harga lumayan mahal di Indonesia. Kadang kalau kita mampu beli pun, tidak semua buku yang kita cari tersedia. Apalagi kalau kita tidak tinggal di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Mencari buku impor jadi tambah sulit. Beberapa toko buku impor di Indonesia memang menyediakan fitur belanja online di websitenya. Tapiii… Balik lagi ke masalah ketersediaan dan harga yang mahal. Hehe… Jadi di mana kita bisa belanja buku impor dengan harga miring?

Sebenarnya, kita bisa memesan buku secara online dari situs luar negeri seperti Ebay, Amazon.com, dan Gogoodbook.com. Tapi… Mahal juga karena ada tambahan biaya pengiriman atau shipping-nya. Biaya shipping yang mahal membuat total harga buku bisa jadi lebih mahal daripada membeli buku impor langsung di toko. Nah, kalau sudah begini apa solusinya? Saya sih beli di toko buku online langganan saya, Bookdepository.com.

Bookdepository adalah toko buku online yang berbasis di Gloucester, UK. Toko ini mengklaim memiliki lebih dari 17 juta judul buku dari berbagai macam genre dan kategori, dengan harga yang sangat kompetitif, serta menyediakan jasa free shipping alias gratis ongkir ke lebih dari 100 negara di seluruh dunia! Dan…. Pajak sudah termasuk dalam harga buku!! Hold your breath. Yup. GRATIS ongkos kirim. GAK ADA BEA MASUK LAGI PAS SAMPAI INDONESIA. Horeeee! (Tiup terompet) 😀 Saking senengnya, so far saya dan Mamat sudah membeli lebih dari 30 judul buku di Bookdepository. Nah, karena saya baik hati, saya akan bagi-bagi info tentang belanja buku di Bookdepository.com. 😀

Pertama, buka website Bookdepository.com, browsing, dan pilih jenis buku yang sesuai budget. Caranya? Kita bisa langsung browsing buku yang mau kita beli di kotak penelusuran atau “search box” di bagian atas website lalu klik Search. Kita bisa memasukkan judul buku atau nama pengarangnya saja. Misalnya, kita bisa ketik “Alice in Wonderland” atau “Lewis Caroll” di situ. Atau, kita juga bisa memasukkan kategori buku di situ, misalnya “children books”, “books on islam”, “recipe books”, dan lain sebagainya. Kita juga bisa memfilter pencarian kita menurut harga, ketersediaan, bahasa, dan formatnya di sebelah kiri halaman website.

2

Contoh mencari buku berdasarkan kategori. Gambar diambil dari http://www.bookdepository.com

Kalau buku yang kita cari tersedia, maka daftar buku akan muncul di laman berikutnya. Asiknya, biasanya tersedia lebih dari satu jenis buku untuk judul yang sama: soft cover, hard cover, paperback, e-book, dan audio book. Jadi, kita bisa memilih jenis yang sesuai dengan selera dan budget kita. Lihat contoh di bawah:

3.jpg

Silakan bandingkan harga di atas dengan harga di Amazon, misalnya. Di Amazon (berdasarkan harga hari ini, 8 Mei 2017), harga termurah buku Sapiens di atas adalah 21 USD, tapi itu BELUM termasuk ongkos kirimnya yang paling tidak 4 dolaran per buku. Atau, di opentrolley.co.id yang harga bukunya mencapai 584 ribu rupiah (tidak ada pilihan yang lebih murah). Sementara, di Bookdepository harga buku jenis paperback hanya 192 ribu rupiah (sekitar 14 USD menurut kurs hari ini, 8 Mei 2017). Harga itu sudah termasuk pajak, ongkir, dan bea masuk. Harga bisa lebih murah lagi kalau pas ada diskon atau dapet voucher. Hehe… Sip, kan? 🙂 Masih soal harga, kita bisa memilih mata uang, lho. Kita bisa mengaturnya di kolom mata uang di kanan atas website.

Kedua, setelah siap memesan, sebaiknya kita membuat akun di Bookdepository. Caranya mudah. Cukup klik sign in/join di pojok kanan atas website atau klik di sini. Untuk join, cukup isi nama, alamat email, dan password. Kenapa join? Dengan mendaftar sebagai anggota, kita bisa dengan mudah melacak order sebelumnya dan atau memeriksa status pengiriman di Order history. Jika buku sudah dikirimkan, maka statusnya adalah Dispatched. Lihat contoh di bawah:

1

Di Order history kita juga bisa melihat tanggal berapa tepatnya buku dikirimkan dari UK. Biasanya buku dikirimkan paling lambat 2×24 jam setelah kita pesan, walaupun buku mungkin juga baru dikirimkan seminggu setelah pemesanan. Selain untuk melacak pemesanan, dengan bergabung kita juga akan menerima email promosi yang kadang berisi kode voucher diskon! Beberapa kali saya menerima voucher diskon 10-30% untuk semua jenis buku! Ada kalanya Bookdepository juga menggelar sale untuk buku-buku tertentu. Tidak ada ruginya bergabung, toh email marketing/promosi ini juga tidak datang setiap hari, sehingga tidak sampai nyepam inbox kita.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara membayar buku yang mau kita pesan? Jika sudah join, kita akan melihat menu Payment options di kiri atas akun kita.

4

Di sini, kita bisa mengisi detail kartu kredit. Pilihan lainnya, kita juga bisa membayar menggunakan akun Paypal. Gak punya CC dan Paypal? Alternatifnya, silakan buat akun Paypal dengan mengosongkan detail kartu kredit (karena tidak punya), lalu minta teman atau saudara yang punya akun Paypal untuk transfer saldo ke Paypal Anda. 🙂 Soal Paypal, kapan-kapan saya ulas selengkapnya, yah.

Oke, sekarang kita sudah tau cara ordernya. Terus kapan bukunya sampai? Itu tergantung amal masing-masing. Ya, gak lah, Ra. Kalau ada kekurangan dari pemesanan buku di Bookdepository, maka itu adalah durasi pengirimannya. Berhubung ini free shipping alias gratis ongkir, maka waktu tunggu buku sampai di Indonesia (baca: di Jakarta dan Solo yang pernah saya coba) berkisar 3-5 Minggu. Kok lama banget? Saya cuma bisa jawab, namanya juga gratisan. Karena mereka menggunakan standard mail, alias jasa pos standar yang paling murah biayanya. Itu sih kata pak pos dari PT Pos Indonesia yang pernah nganter buku ke rumah ortu saya di Depok. But, it’s so worth the wait, if you ask me! Gakpapa deh lama dikit, yang penting sampai dan harganya lebih murah. Sejauh ini sih, buku-buku yang saya dan Mamat pesan belum pernah nyasar atau gak sampai.

Jadi gimana kalau sudah gak sabar pengen baca satu buku? Simple, silakan beli di Periplus. Antiklimaks. Haha. Saran saya, kalau Anda avid reader atau kutu buku banget, sebaiknya siapkan satu atau beberapa buku yang belum dibaca sebelum memesan buku berikutnya. Jadi, ketika bacaan selesai, buku yang baru sudah sampai. 🙂

Pengalaman pribadi saya belanja buku di Bookdepository.com belum pernah mengecewakan. Buku yang saya cari (apa pun genrenya) selalu ada. Pernah sih, saya cari satu buku tapi versi paperback-nya gak ada, but at least versi yang lain (hard cover) tersedia. Sekarang, mimpi saya untuk membaca buku-buku bagus berbahasa Inggris menjadi nyata. Dan sungguh, ini bukan iklan. 🙂

read-1

Cheers,

Haura Emilia

 

Bergerak maju dan melanjutkan hidup

I’m always moving forward.

Debbie Allen

Mamat di Gili Air

Setiap orang pernah berada di titik terendah dalam hidupnya. Patah hati, kehilangan orang yang dicintai, kegagalan, masalah keuangan, masalah kesehatan, kehilangan pekerjaan, dikhianati orang yang dipercaya, dan mimpi yang tidak tercapai adalah beberapa alasan yang dapat membuat kita terpuruk dalam hidup. Ya, semua orang pernah mengalaminya.

Ada masanya kita merasa bingung dan depresi karena masalah dan musibah datang bertubi-tubi. Ada kalanya air mata tidak berhenti mengalir seberapa kuat dan tegar pun kita berusaha menghadapi kenyataan. Ada waktunya kita merasa tidak mampu bertahan dan hanya ingin menyerah. Kita merasa bingung harus bersikap bagaimana. Kita bertanya-tanya apakah kita harus diam atau kah bergerak mencari solusi dan melanjutkan hidup.

Saya pernah ada di semua posisi tersebut. Pada momen-momen tertentu dalam hidup, saya merasa hidup dan dunia sangat tidak adil dan kejam. Saya telah kehilangan banyak orang yang saya cintai, di usia relatif muda saya menemui kenyataan bahwa idealisme dan pandangan hidup saya tidak sesuai dengan keadaan sosial di sekitar saya, saya sering merasa teralienasi dari lingkaran sosial, saya telah mengubur banyak mimpi, saya menahan lidah demi hidup dan keamanan diri, dan kadang saya harus menutup mata terhadap beberapa hal untuk melindungi diri saya dari lebih banyak rasa sakit dan kekecewaan.

Tapi saya cukup beruntung. Pada akhirnya saya selalu berhasil kembali ke diri saya yang biasa, yang bisa tersenyum dan beraktivitas dengan normal. Setelah memungut kepingan-kepingan hati yang tercecer, saya mencoba berkontemplasi dan memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup. Saya mencoba menelaah perasaan, emosi, dan logika saya. Saya menyadari bahwa saya selalu punya dua pilihan. Saya bisa duduk dan menangis, terpaku pada rasa sakit yang saya rasakan, atau saya bisa berdiri dan bangkit dari kesedihan dan mengapresiasi harta saya yang paling berharga, hidup itu sendiri.

Saat saya terlalu lelah, sedih, dan malas untuk bergerak maju dan move on, saya berusaha menyuntikkan banyak pikiran positif ke dalam diri saya. Saya ‘melecut’ diri saya untuk bangkit dan berdiri lagi. Seperti layaknya momen inersia atau kelembaman dalam ilmu fisika, benda yang tidak bergerak (kecepatan = nol), akan tetap dalam keadaan diam sampai ada gaya yang menyebabkannya bergerak.* Saya memahami bahwa saya akan tetap ada pada kondisi dan keadaan yang sama jika tidak ada dorongan dari luar untuk bangkit dan bergerak.

Dorongan dari luar bisa berasal dari kegiatan yang bersifat produktif dan orang-orang yang positif. Melakukan kegiatan yang produktif seperti belajar, membaca, menulis, bepergian dengan tujuan baik, menolong orang lain, dan bekerja memberikan saya alasan untuk terus melanjutkan hidup. Mengelilingi diri dengan orang-orang yang positif dan memulai hubungan dengan orang-orang baru yang baik memberikan saya kekuatan untuk bergerak maju dan kembali berbahagia. Namun, kadang dengan dorongan positif dari luar pun, proses bergerak maju tetap tidak selalu mudah. Selalu ada hal-hal yang bisa membuat kita merasa down dan tidak bahagia.

Bicara tentang kebahagiaan, menurut satu penelitian, kadar kebahagiaan seseorang sesungguhnya terletak pada DNA-nya. Kebahagiaan sesungguhnya tidak lebih dari reaksi kimia dalam tubuh. Beberapa orang memiliki ‘kadar kebahagiaan’ yang bisa diumpamakan berkisar antara angka 7-9 (dengan 10 sebagai angka kebahagiaan tertinggi dan angka 1 sebagai kadar kebahagiaan terendah) dan beberapa orang lain memiliki level kebahagiaan 2-4 atau 5-7. Orang-orang dengan angka yang tinggi cenderung lebih mudah merasa bahagia dan orang-orang dengan angka rendah cenderung lebih mudah merasa sedih dan depresi. Kalau boleh jujur, ‘kadar kebahagiaan’ dalam DNA saya mungkin berkisar antara 5-7. Bukan angka yang terlalu tinggi, tetapi haruskah saya menyerah dan menjadi orang yang muram seumur hidup?

Jika mengabaikan agama dan konsep reinkarnasi, manusia hanya memiliki satu kesempatan untuk hidup. Saya hanya hidup sekali. Jika saya tidak bisa menguasai perasaan dan emosi saya, selamanya saya akan menjadi budaknya, tenggelam dalam kesedihan dan keputusasaan. Beberapa luka memang sulit atau bahkan tidak mungkin disembuhkan. Tapi saya bisa belajar untuk hidup dan berdamai dengan luka tersebut. Saya bisa mencoba merangkul kesedihan dan penderitaan. Saya bisa berusaha memaafkan diri saya dan orang-orang yang menyakiti saya. Saya bisa belajar untuk menerima dan memaafkan kenyataan. Saya bisa belajar untuk terus bergerak maju dan melanjutkan hidup.

 

Cheers,

Haura Emilia

 

Catatan:

*https://id.wikipedia.org/wiki/Inersia