Review 5 Buku Favorit

“Books are the quietest and most constant of friends; they are the most accessible and wisest of counselors, and the most patient of teachers.”
Charles William Eliot

Tahun 2016 lalu, saya membaca sekitar 20 buku (di luar komik). Bukan angka yang fantastis, tapi lumayan daripada tidak sama sekali. Sebagian besar buku yang saya baca adalah buku berbahasa Inggris, sisanya buku berbahasa Indonesia. Dari buku-buku yang saya baca tersebut, ada lima buku favorit saya. Berikut ulasan singkat ke-5 buku tersebut.

Pertama, Nothing to Envy oleh Barbara Demick. Buku ini menceritakan tentang kehidupan sehari-hari warga negara Korea Utara dari sudut pandang enam orang warga Korut yang berhasil melarikan diri dari rezim sosialis Korut ke Korea Selatan. Buku ini dimulai dengan latar belakang sejarah pecahnya Korea menjadi Korea Selatan dan Korea Utara, Korea Selatan menjadi sebuah negara republik dan Korea Utara memilih rezim komunis. Rezim komunis Korut diceritakan sebagai pemerintahan korup yang anarkis dan menutup diri dari dunia luar, termasuk dari Korsel. Saat pertama kali berdiri pada tahun 1948, pemerintahan absolut Korut dipimpin oleh Kim Il Sung, sosok pemimpin besar yang wajib dipuja dan dijunjung tinggi oleh seluruh warga Korut. Bahkan, sebagian besar warga Korut melihat Kim Il Sung sebagai “tuhan yang mahakuasa” dan “sang pencipta”.

Di bawah rezim sosialis, pasar atau market serta sistem jual beli adalah sesuatu yang dilarang oleh negara. Pemerintah mendistribusikan jatah makanan, seperti beras, dan sedikit uang kepada warga negaranya setiap bulan. Namun, pada akhirnya negara tidak mampu menyediakan supply makanan yang cukup dan terjadilah bencana kelaparan pada tahun 1994 sampai 1998. Diperkirakan antara 300an ribu hingga 3,5 juta warga negara Korut meninggal dalam bencana tersebut.

Nilai-nilai barat seperti liberalisme dan ekonomi pasar adalah barang haram di Korut. Oleh karena itu, seluruh akses informasi seperti TV dan radio sepenuhnya dikuasai oleh negara untuk mencegah penetrasi budaya dan nilai-nilai asing. Seorang warga negara bahkan bisa dijatuhi hukuman mati jika diketahui menonton film Hollywood.

Rasanya sulit untuk tidak merasa emosional atau bahkan menangis saat membaca buku ini. Pembaca akan disuguhkan banyak kenangan pahit yang berusaha dilupakan oleh para defector (orang-orang yang melarikan diri meninggalkan negaranya karena konflik politik). Gaya bahasa khas jurnalistik Demick cukup detail membahas cerita masing-masing tokohnya yang sekarang tinggal di Korea Selatan. Salah satu kisah sedih yang diceritakan adalah cerita Dr. Kim. Dr. Kim adalah salah satu warga negara yang beruntung bisa menempuh pendidikan tinggi dan menjadi seorang dokter. Namun, pada akhirnya Dr. Kim menyerah tinggal di Korut karena ia melihat bagaimana Rumah Sakit tempat ia bekerja dipenuhi oleh orang-orang yang tidak bisa ia selamatkan dari wabah kelaparan.

Ada banyak kontroversi seputar kisah yang diceritakan oleh para defector Korut. Beberapa penyintas dikabarkan banyak mengubah cerita dan mendramatisasi pengalamannya karena semakin sedih ceritanya semakin laku cerita tersebut dijual ke media barat. Memastikan keaslian cerita para defector memang bukan hal yang mudah. Namun, rezim sosialis Korut memang nyata adanya. Dengan membaca buku ini, paling tidak kita akan mendapatkan gambaran tentang negara sosialis dan sistem diktator totalitarian Korea Utara.

Buku kedua adalah Sapiens: A Brief History of Humankind oleh Yuval Noah Harari. Buku ini mendiskusikan evolusi spesies manusia, mulai dari manusia purba hingga manusia modern homo sapiens abad ke-21 dari sudut pandang biologi evolusi. Harari membagi sejarah homo sapiens ke dalam 4 tahap utama: Cognitive Revolution, Agricultural Revolution, Unification of Humankind, dan Scientific Revolution. Harari menjelaskan bagaimana sapiens pada akhirnya menjadi spesies paling berkuasa di muka bumi dari yang dulunya sekadar kera yang tidak jauh berbeda dari hewan-hewan lainnya. Menurut Harari, sapiens memiliki kemampuan berkomunikasi yang tidak dimiliki hewan dan makhluk lainnya. Sapiens juga memiliki kemampuan untuk memahami konsep abstrak dan ‘realitas’ yang sebenarnya hanya ada di dalam pikiran manusia (imagined realities) seperti hukum, tuhan, agama, uang, negara, perusahaan, dan hak asasi manusia. Dua kemampuan ini lah yang menjadikan manusia makhluk sosial yang superior dibandingkan makhluk lainnya. Dengan kemampuan ini manusia membangun komunitas dan negara, menciptakan konsep uang dan agama, membuat sistem hukum untuk mengatur kehidupan bersama.

Buat saya, buku ini adalah buku yang sangat menarik. Di sini pembaca bisa belajar banyak mengenai sejarah evolusi manusia. Kita akan belajar tentang bagaimana sapiens meninggalkan tradisi berburu makanan dan sistem hidup nomaden serta memulai sistem pertanian dan hidup menetap. Lalu kita akan dibawa dengan kapsul waktu ke masa di mana manusia mulai hidup berkelompok, berkomunikasi melalui tulisan, membuat hukum negara, dan mulai melakukan ekspansi ke dunia luar. Berbagai macam ideologi baru pun lahir. Manusia mulai bereksperimen dengan sistem ekonomi dan tata negara yang baru. Sistem keuangan yang baru dan munculnya berbagai ideologi melahirkan peperangan dan bencana kemanusiaan seperti perang agama, perang antar suku dan ras, penjajahan, kelaparan, dan konflik sosial.

Pada bab scientific revolution, kita akan dibawa ke masa di mana manusia mulai penasaran dan ingin mencari tahu segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Era sains dan eksplorasi dimulai. Manusia mulai mempelajari alam sekitarnya dan mulai mengeksplorasi tempat-tempat yang baru menggunakan perahu dan kapal. Akhirnya tibalah kita di abad ke-21, di mana manusia mulai memikirkan perjalanan ke planet Mars, mencari sumber energi alternatif, merekayasa DNA, mempelajari kebahagiaan, dan mencari “obat” kematian. Dengan perkembangan teknologi dan sains, homo sapiens telah berevolusi dari kera yang tidak signifikan menjadi spesies penguasa bumi yang bermain-main menjadi Tuhan (play God).

Membaca buku ini membuka mata saya akan banyak hal, jauh lebih banyak dari yang pernah saya pelajari di buku sejarah dan biologi sekolah. Pertama, homo sapiens sesungguhnya telah melewati proses evolusi yang cenderung lebih cepat dibandingkan spesies mana pun. Dibandingkan dengan spesies manusia lain seperti homo erectus, umur sapiens di bumi jauh lebih singkat. Homo erectus ada di bumi sekitar 2 juta tahun sebelum punah, sementara homo sapiens baru berusia sekitar 200 ribu tahun di bumi. Dalam waktu yang begitu singkat, homo sapiens telah menjelma menjadi dewa dan tuhan penguasa bumi dan bermain-main dengan hidup spesies yang lain. Kedua, kemampuan sapiens untuk berinteraksi, berkomunikasi dan memahami konsep abstrak seperti imagined realities telah membawa kita ke sosok kita yang sekarang. Pertanyaannya adalah, sejauh mana homo sapiens akan terus berevolusi? Apakah suatu saat manusia akan benar-benar tersingkir dan digantikan dengan AI (Artificial Intelligence)? Akankah manusia berhasil meneruskan keberlangsungan spesiesnya dengan menempati planet baru dan melakukan perjalanan antarbintang? Buku ini memberikan kita banyak hal untuk dipikirkan.

Buku ketiga adalah The Act of Thinking Clearly oleh Rolf Dobelli. Buku ini membongkar kesalahan-kesalahan dalam berpikir dan berlogika, yang jika kita mengetahuinya akan membantu kita mengambil keputusan yang lebih baik dalam hidup. Salah satu dari banyak kesalahan berpikir yang dibahas di buku ini adalah cognitive bias. Istilah ini mengacu pada kecenderungan berpikir dengan cara tertentu yang dapat menyebabkan pelanggaran sistematis terhadap rasionalitas.

Salah satu contoh cognitive bias adalah bandwagon effect. Bandwagon effect adalah kecenderungan manusia untuk melakukan atau mempercayai sesuatu karena banyak orang lain juga melakukan atau mempercayainya. Contohnya, kita cenderung ikut menggunakan produk tertentu hanya karena banyak orang menggunakannya dan percaya bahwa produk tersebut bagus.

Contoh cognitive bias lainnya adalah confirmation bias, yakni kecenderungan untuk mencari, menginterpretasi, mempercayai, dan mengingat informasi yang sesuai dengan asumsi dan hipotesis awal yang telah ada. Misalnya, seseorang percaya bahwa jika seorang siswa masuk universitas negeri terbaik di negerinya maka dia akan mendapatkan pekerjaan di perusahaan terkenal. Untuk ‘membuktikan’ keyakinannya, dia akan mencari data-data yang mendukung seperti statistik lulusan universitas tersebut yang bekerja di perusahaan terkenal. Jika ternyata hasil statistik tidak sesuai dengan keyakinan awalnya maka ia akan mencari data baru yang mendukung keyakinannya tersebut. Dia akan mengabaikan data atau statistik yang bertentangan dengan kepercayaannya, misalnya statistik dan data yang mengatakan bahwa sebagian lulusan universitas kenamaan itu ternyata menjadi pengangguran.

Buku ini mengupas detail berbagai kesalahan berpikir yang biasa kita lakukan sehari-hari. Saya sering tersenyum geli sendiri menyadari cacatnya logika saya terutama dalam mengambil sebuah keputusan. Buku ini membantu saya menyadari bahwa apa yang saya kira rasional belum tentu benar-benar logis dan objektif. Di sisi lain, buku ini semakin mengeluarkan sisi skeptis saya. Saya jadi semakin sulit percaya dan diyakinkan oleh sesuatu atau seseorang. 😁 Saya jadi semakin sering meragukan dan mempertanyakan segala sesuatu. Tapi saya rasa hal ini tidak selalu buruk. Skeptisisme membuat saya selalu waspada. 🙂

Buku keempat yang menjadi bacaan favorit saya tahun lalu adalah Biography of Elon Musk oleh Ashlee Vance. Kalau Anda pernah mendengar Tesla, SpaceX, atau SolarCity, maka kemungkinan Anda akrab dengan nama Elon Musk. Ya, Elon Musk adalah CEO dari ke-3 perusahaan AS tersebut. Elon Musk adalah sosok Silicon Valley yang lain dari yang lain. Di saat semua ‘anggota’ elite Silicon Valley terobsesi dengan bisnis berbasis internet (seperti Google dan Facebook), Elon Musk membangun roketnya sendiri. Dia juga bertekad membangun spacecraft yang akan membawa umat manusia ke planet Mars karena keberlangsungan homo sapiens di bumi diragukan dalam beberapa ratus tahun ke depan.

Elon juga punya banyak proyek ‘gila’ lainnya seperti membangun reusable rockets yang bisa dipakai dan dikirim balik ke bumi dengan selamat. Hebatnya, Musk mendesain sendiri roketnya. Dia juga sukses membangun Tesla, produsen mobil elektrik yang beroperasi dengan baterai tanpa memerlukan bahan bakar! Musk juga merupakan pendukung utama energi matahari. Dia menyadari betul bahwa sinar matahari saja sudah lebih dari cukup untuk memasok seluruh kebutuhan energi yang ada di muka bumi. Musk ingin melepaskan ketergantungan kita semua akan minyak bumi. Musk ingin menyelamatkan bumi dari bencana lingkungan dan iklim karena penggunaan minyak bumi dan lepasnya karbon ke udara. Musk ingin membawa kita ke perjalanan antarplanet. Musk ingin memastikan spesies manusia bisa terus bertahan dan tidak punah.

Musk membuat saya banyak berpikir tentang kontribusi saya terhadap orang lain dan dunia. Jika Musk memikirkan umat manusia dan planet bumi, paling tidak saya ingin berguna bagi orang-orang terdekat saya. Membaca kegigihan dan kerja keras Musk membuat saya ingin selalu belajar dan melakukan sesuatu yang produktif dalam hidup. Saya merasa malu jika hidup saya hanya saya habiskan untuk berpangku tangan, menyesali nasib, dan melakukan hal-hal yang tidak bermakna.

Buku terakhir yang juga menjadi favorit saya sepanjang 2016 adalah 1Q84 oleh Haruki Murakami. Selain non-fiksi, saya juga suka membaca buku-buku fiksi. Maklum, saya memang anak sastra. 🙂 Nah, 1Q84 adalah satu-satunya buku fiksi yang masuk dalam 5 daftar buku favorit saya tahun lalu. Sebenarnya buku ini adalah trilogi. Judul novel ini mengacu pada novel George Orwell 1984. Buku ini masuk kategori novel distopia. Distopia, yang merupakan kebalikan dari kata utopia, adalah genre novel yang mengeksplorasi struktur sosial dan politik yang bertentangan dengan nilai-nilai atau etos yang dipercaya oleh penulis novel. Misalnya, jika penulis mempercayai kondisi politik yang stabil dan damai, maka kekacauan politik adalah sebuah bentuk distopia.

Novel ini bercerita tentang seorang perempuan muda bernama Aomame yang berprofesi sampingan sebagai pembunuh bayaran. Layaknya Robin Hood, dia hanya menghabisi orang-orang yang cacat moral dan telah menyakiti banyak orang. Di dunia Aomame ada dua buah bulan menggantung di langit. Aomame meyakini bahwa ia terjebak di dunia berbulan dua dan berusaha mencari cara keluar dari sana. Selain itu, Aomame juga mencari cinta pertamanya, seorang pemuda bernama Tengo. Di sisi lain, Tengo juga berusaha menemukan Aomame. Tengo sendiri adalah seorang guru les matematika sederhana yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai editor novel. Tengo mengedit sebuah novel dengan jalan cerita misterius yang ditulis oleh seorang gadis yang misterius juga. Gadis itu ternyata adalah anak dari seorang pemimpin sekte keagamaan Sakigake yang dicurigai telah melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur. Takdir kemudian menarik Aomame ke dunia Tengo. Aomame ditugaskan untuk menghabisi si pemimpin sekte keagamaan tersebut. Apakah Tengo pada akhirnya akan bertemu dengan Aomame? Apakah Aomame jadi membunuh si pemimpin agama? Berhasilkah Aomame keluar dari dunia yang berbulan dua? Hmmm… Silakan baca sendiri, ya. 🙂

1Q84 adalah novel yang sarat metafora dan analogi. Novel setebal 1000an halaman ini berisi unsur-unsur supernatural dan mengangkat tema-tema yang tabu seperti pembunuhan, seks dengan anak di bawah umur, dan sosok pemimpin keagamaan yang opresif dan sangat berkuasa. Tema kesepian juga sangat terasa di novel ini. Seperti dalam novel Murakami sebelumnya, Norwegian Wood, rasa kesepian teramat sangat yang dialami para karakter utama di 1Q84 dideskripsikan dengan begitu nyata. Mau tidak mau, novel ini membuat saya sedikit merasa depresi selama membacanya. Permainan psikologis yang dimainkan Murakami mampu membuat pembacanya merasa senang, sedih, terharu, cemas, takut, bingung, dan bahagia pada satu sesi baca yang sama. Namun, cara Murakami menyusun plot dan mengekspresikan kata-katanya menjadikan novel ini salah satu karya sastra yang sangat layak dibaca.

Saya bertekad untuk membaca lebih banyak buku tahun ini. Semoga saja saya gak kebanyakan kerja, main hape, dan nonton drama Korea, ya. 😆

Cheers,

Haura Emilia

 

Iklan

E-learning: Ketika pendidikan tidak berhenti di bangku sekolah

 

There is no end to education. It is not that you read a book, pass an examination, and finish with education. The whole of life, from the moment you are born to the moment you die, is a process of learning. Jiddu Krishnamurti

(https://www.brainyquote.com/quotes/quotes/j/jiddukrish395484.html?src=t_learning)

Ketika sedang tidak sibuk dengan pekerjaan, biasanya saya dan Mamat menghabiskan waktu dengan jalan-jalan, membaca buku, menulis, dan belajar. Yup, belajar. Maksudnya bukan kuliah, tapi belajar mandiri dengan e-learning. Sebenarnya, kami berdua ingin kuliah lagi. Tetapi mengingat kami sama-sama memiliki tanggungan yang jumlahnya tidak sedikit dan waktu yang terbatas karena banyaknya pekerjaan, kami terpaksa menunda dulu keputusan untuk melanjutkan kuliah. Meskipun begitu, hal ini bukan alasan untuk berhenti belajar. Kami sadar bahwa jaman sekarang kita tidak perlu berhenti belajar hanya karena sudah tidak sekolah atau kuliah lagi. Ada begitu banyak platform belajar online yang bisa dimanfaatkan untuk mengisi waktu, mempertajam skill, dan menambah ilmu. Modal utama untuk mengakses e-learning pun sederhana; koneksi internet dan kemampuan bahasa Inggris yang cukup memadai.

Menurut definisi, e-learning atau electronic learning adalah metode belajar menggunakan komputer atau perangkat lainnya, yang biasanya membutuhkan koneksi internet. Jika mengamati tren teknologi, e-learning adalah metode belajar masa depan. Bukan tidak mungkin suatu hari nanti metode belajar sepenuhnya beralih ke e-learning. Di masa sekarang saja e-learning sudah menunjukkan banyak keunggulan dibandingkan metode belajar konvensional.

Pertama, e-learning bisa jadi gratis atau dapat diakses dengan biaya yang relatif murah dibandingkan dengan kelas atau kursus biasa yang mewajibkan tatap muka langsung. Kedua, e-learning bisa dilakukan di berbagai macam platform dan perangkat seperti PC, laptop, smartphone, dan tablet. Ketiga, kita bisa mempelajari hampir segalanya dengan metode e-learning. Keempat, tidak ada batasan umur untuk belajar sesuatu. Saya bisa saja misalnya, mempelajari matematika dasar untuk siswa SD. Anda bisa mempelajari skill email marketing berapa pun umur dan apa pun profesi Anda. Seorang siswa SD berumur 9 tahun bisa belajar dasar-dasar filsafat dan coding. Kelebihan lainnya adalah, Anda bisa menentukan waktu belajar Anda sendiri, kapan saja dan di mana saja.

Saya dan Mamat punya beberapa platform e-learning favorit yang biasa kami manfaatkan. Berikut 5 website e-learning yang saya sarankan.

Pertama, kalau Anda tertarik untuk mengambil kuliah non-degree secara gratis, silakan mencoba Coursera. Coursera menawarkan akses ke perkuliahan secara online yang bisa Anda akses tanpa biaya. Hal ini dimungkinkan karena Coursera bekerja sama dengan berbagai universitas di beberapa negara. Setiap materi perkuliahan dirancang oleh universitas yang berbeda-beda. Misalnya, mata kuliah ‘machine learning’ diselenggarakan oleh Stanford University sementara kelas ‘data science’ diadakan oleh Johns Hopkins University. Yang perlu Anda lakukan adalah sign up ke Coursera, memilih subjek (mata kuliah), dan enroll ke kelas yang Anda pilih. Untuk memilih mata kuliah, perhatikan apakah Anda memerlukan latar belakang pendidikan atau pengalaman tertentu. Catat juga tanggal mulai perkuliahan yang berbeda-beda untuk setiap subjek serta durasi perkuliahan. Sebagai pengingat jadwal kuliah, biasanya Coursera akan mengirimkan reminder ke email Anda.

Contoh pengantar mata kuliah di Coursera (gambar diambil dari website Coursera):

coursera

 

Anda bisa mengikuti (baca: menonton) kelas secara live, ketika perkuliahan nyata benar-benar terjadi di sebuah universitas di suatu negara, atau Anda bisa mengaksesnya nanti ketika ada waktu. Di beberapa kelas, pengajar bisa memberikan Anda tugas yang perlu Anda kerjakan dan kumpulkan melalui email. Pada beberapa mata kuliah, Anda bisa memilih untuk mengikuti kelas secara aktif atau Anda juga bisa memilih untuk menjadi penonton saja dan tidak ikut mengerjakan tugas. Namun, ada juga beberapa kelas yang mewajibkan peserta untuk mengerjakan tugas agar bisa lulus. Coursera juga memiliki forum untuk para siswa yang terdaftar di sebuah kelas. Di forum ini Anda bisa menjumpai peserta lain dari berbagai negara dan berdiskusi tentang materi perkuliahan yang sedang berlangsung.

Jenis mata kuliah yang ditawarkan sangatlah beragam, mulai dari bioteknologi, fisika kuantum, bahasa pemrograman Python, sampai hukum perpajakan di sebuah negara di Eropa, misalnya. Di sebuah kelas mengenai hukum dan HAM di UE yang pernah saya ikuti, perkuliahan diselenggarakan di sebuah universitas di Belanda. Jumlah mahasiswa online yang mengikuti sebuah mata kuliah juga sangat beragam, mulai dari puluhan hingga ratusan orang. Perlu diingat, bahwa belajar di Coursera pada umumnya tidak memberikan Anda gelar tertentu, namun Anda tetap bisa mendapatkan sertifikat setelah perkuliahan berakhir.

Kedua, platform e-learning gratis yang akan saya rekomendasikan adalah Skillshare. Saya mengetahui website ini dari Mamat, yang rajin mengikuti perkembangan berbagai macam kursus singkat secara online. Skillshare memiliki lebih dari 15.000 kursus online yang bisa Anda akses secara gratis maupun berbayar. Yang menarik dari Skillshare adalah ada begitu banyak kursus pendek menarik yang tidak menyita waktu Anda. Saya pernah mengikuti kursus singkat tentang doodling* dan food photography dengan iphone! 😀

Kursus-kursus pendek di Skillshare biasanya dibagi ke dalam video-video pendek berdurasi antara 5-10 menit sehingga Anda tidak akan bosan. 🙂 Ada juga kursus-kursus dengan durasi lebih panjang dan materi yang lebih ‘berat’ seperti ’email marketing’, ‘cara sukses menjadi freelancer’, dan ‘cara mendesain logo’. Di Skillshare Anda bisa belajar apa saja, termasuk cara menggunakan pisau untuk memasak dan belajar membangun website Anda sendiri. 🙂 Oh iya, di Skillshare Anda juga bisa bergabung menjadi pengajar dan mengunggah video materi pelajaran Anda sendiri.

Contoh kursus-kursus menarik di Skillshare (diambil dari website Skillshare):

Skillshare

 

Situs e-learning berikutnya adalah Khan Academy. Khan Academy adalah organisasi nirlaba yang memiliki misi untuk menyediakan pendidikan bertaraf internasional kepada semua orang, di mana saja. Fokus Khan Academy ada di pendidikan ‘wajib’ seperti pendidikan dasar (SD-SMA) dan pendidikan tinggi (tingkat perkuliahan). Di Khan Academy Anda bisa mempelajari matematika, kimia, fisika, biologi, ekonomi, komputer dan mata pelajaran lainnya berdasarkan grade (tingkat kelas) atau subjeknya. Di Khan Academy Anda juga bisa mengambil kursus persiapan untuk masuk ke perguruan tinggi seperti SAT dan GMAT.

Saat ini saya sedang mengambil kelas dasar-dasar mikroekonomi. Kalau saya perhatikan, salah satu perbedaan dasar Khan Academy dengan Coursera adalah metode penyampaiannya. Di Coursera Anda bisa mengikuti kelas sesungguhnya yang terjadi di dunia nyata secara live (link ke kelas tersebut dikirimkan ke email Anda). Di Khan Academy, sebagian besar kelas tidak live dan Anda menonton dan mendengarkan materi yang disampaikan lewat presentasi berupa slide. Menurut pengalaman saya, Anda tidak akan melihat sosok pengajar seperti di Coursera, Anda hanya akan melihat slide materi dan suara pengajarnya. Kelebihannya, di Khan Academy, Anda bisa menemukan transkrip materi yang dipresentasikan. Jadi, kalau kemampuan mendengar dalam bahasa Inggris Anda tidak terlalu baik, Anda bisa mendengarkan presentasi sambil membaca transkripnya.

Contoh materi dan transkrip pelajaran di Khan Academy versi aplikasi iPhone:

 

Keempat, jika Anda punya dana lebih untuk membeli materi kursus tertentu, Udemy adalah situs yang tepat. Udemy fokus pada mempelajari atau meningkatkan applied dan practical skill tertentu, bukan mempelajari mata pelajaran dasar/kuliah yang lebih fokus pada teori. Ada lebih dari 40.000 kursus yang ditawarkan di Udemy. Misalnya, Anda bisa membeli materi kursus Javascript, investment banking, kursus bahasa tertentu, dasar-dasar web design, ethical hacking, dan kursus digital marketing.

Soal harga, Udemy sering kali memberikan diskon besar-besaran, misalnya sebuah kursus seharga 200 USD bisa didiskon menjadi 10 USD saja! Di Udemy Anda bisa melihat popularitas sebuah materi kursus berdasarkan jumlah unduhannya. Beberapa kursus sudah diunduh ratusan ribu kali dan kursus lain beberapa ratus kali saja. Rating kursus (bintang 1 sampai 5) juga bisa membantu Anda memutuskan kursus mana yang akan Anda pilih, karena beberapa kursus berisi materi yang mirip.

Contoh kursus yang bisa dibeli di Udemy (gambar diambil dari website Udemy):

Udemy

 

Kelima, kalau Anda tertarik belajar coding dan membangun website Anda sendiri secara gratis, Anda bisa mengikuti FreeCodeCamp. Freecodecamp adalah open source community atau komunitas belajar online yang fokus pada pelatihan coding atau pengkodean. Freecodecamp didirikan oleh Quincy Larson, seorang software developer yang memiliki misi untuk mengajarkan coding kepada seorang pemula hingga menjadi web developer yang mahir.

Ribuan ‘lulusan’ komunitas ini telah sukses mendapatkan pekerjaan sebagai website developer. Dibutuhkan jam belajar sekitar 1200 jam untuk mempelajari dasar-dasar coding dan sekitar 2080 jam untuk menyelesaikan seluruh kurikulumnya. Sifat kursus ini adalah self-paced, yang berarti setiap orang belajar sesuai dengan kecepatannya masing-masing. Kalau Anda rajin dan tekun, Anda mungkin bisa menyelesaikan materinya dalam 1-2 tahun dan mulai bekerja sebagai web developer. Seluruh kursus di Freecodecamp 100% gratis dan Anda bisa segera mulai belajar setelah mendaftar.

Contoh testimoni lulusan Freecodecamp (gambar diambil dari website Freecodecamp):

Freecodecamp

Setelah mencoba berbagai macam platform dan situs e-learning, saya bisa menyimpulkan bahwa metode belajar ini, terlepas dari berbagai keunggulannya, juga memiliki tantangannya sendiri. Belajar dengan metode e-learning membutuhkan dedikasi, kegigihan, dan manajemen waktu yang baik. Absennya pengajar dan kelas yang riil sering kali membuat kita malas atau malah lupa sama sekali menghadiri kelas dan mempelajari materinya. E-learning sering kali juga tidak memberikan kita ijazah atau sertifikasi apa-apa. Yang perlu diingat saat melakukan e-learning adalah bahwa kita melakukannya untuk memperoleh ilmu dan mengasah skill, bukan demi nilai atau selembar ijazah. It doesn’t hurt to be smarter and have an improved skill, does it? 🙂

Mari terus belajar dan memiliki hidup yang lebih produktif dan bermakna. 🙂

 

 

 Cheers,

Haura Emilia

*doodling: menggambar sederhana atau corat-coret untuk menghias buku catatan, misalnya.