5 Aplikasi Sip untuk Membuat Kerja Semakin Efektif

Saya dan Mamat selalu mencari cara-cara baru untuk meningkatkan kinerja kami sebagai seorang penerjemah. Melalui proses trial and error, kami akhirnya menemukan beberapa aplikasi mantap yang mampu meningkatkan efektivitas kerja kami setiap harinya. Lima aplikasi berikut bisa digunakan oleh siapa saja, bukan hanya penerjemah. Asiknya, kelima aplikasi ini juga free alias gratis! Yuk, kita simak.

Aplikasi pertama yang ingin saya bahas adalah Waveapps. Waveapps sebenarnya adalah software akuntansi online yang bisa digunakan oleh bisnis kecil, yang memiliki pegawai antara 1-9 orang, ataupun individu yang ingin mencatat arus masuk dan keluar keuangannya. Layanan software ini termasuk mengimpor data bank, melacak invoice dan pengeluaran, menerbitkan dan mengirim PO (purchase order) dan SO (sales order), membuat bagan dan diagram keuangan secara otomatis, melakukan transaksi jurnal, serta melakukan atau menerima pembayaran via kartu kredit. Anda tidak memerlukan latar belakang akuntasi atau finance untuk menggunakan software ini. Yang Anda perlukan hanyalah kemampuan bahasa Inggris yang cukup memadai dan sedikit waktu untuk belajar menggunakannya.

Bagaimana Waveapps bisa memudahkan pekerjaan pengusaha kecil, freelancer, dan individu umum? Bagi seseorang yang tidak bekerja sebagai pegawai, saya selalu mendapatkan pekerjaan dari klien yang berbeda-beda. Setiap klien memiliki terms of payment yang berbeda pula. Setiap pekerjaan pun memiliki volume yang berbeda. Jika setiap harinya saya mengerjakan 1 saja pekerjaan dari 1 klien, maka dalam sebulan saya bisa mengerjakan 20 pekerjaan untuk klien yang berbeda-beda pula. Itu baru 20 pekerjaan. Bagaimana kalau 50? 100? Then how do I track my PO and invoices? Bayangkan kalau saya harus secara manual mencatat satu persatu nama klien, jumlah pekerjaan, deadline, tanggal invoice, deadline invoice di sebuah buku catatan atau spreadsheet Excel? Hmmmm… That’s a lot of work, isn’t it? Bukan tidak mungkin juga saya akan bingung sendiri dan lupa apakah saya sudah menerima PO untuk pekerjaan ini dan apakah saya sudah mengirim invoice untuk pekerjaan itu. Lebih parah lagi, kalau saya sampai lupa pekerjaan mana yang sudah dibayar dan mana yang belum. 🙂

Di sini Waveapps sangat membantu pekerjaan saya (dan juga Anda jika Anda menggunakannya). Di Waveapps kita bisa membuat database klien lengkap dengan kontaknya. Kita juga bisa membuat template invoice, PO, dan quotation kita sendiri sesuai kebutuhan. Waveapps juga secara otomatis menampilkan laporan bulanan keuangan kita dalam bentuk bagan atau pie chart sehingga kita bisa melihat pertumbuhan bisnis atau usaha kita tanpa perlu susah payah membuat kalkulasi, neraca, dan bagan manual di Excel. Waveapps juga memiliki reminder yang dapat mengingatkan kita pada tanggal due date pembayaran sebuah pekerjaan jika sudah dekat. Jadi, tidak ada lagi lupa atau bingung proyek mana yang sudah dibayar invoicenya. Kalau Anda bukan pengusaha atau freelancer, Waveapps bisa membantu Anda melacak pemasukan dan pengeluaran setiap bulan serta memberikan laporan keuangan tahunan.

Contoh daftar invoice di Waveapps:

contoh-daftar-invoice

Contoh invoice yang bisa di-custom sendiri:

contoh-invoice

Contoh chart income dan expense

income-chart

Contoh invoice yang overdue dan fitur reminder-nya:

reminder

Seluruh gambar di atas adalah ilustrasi yang diambil dari website Waveapps, kecuali gambar yang terakhir.

Bagian menarik lainnya adalah software ini juga tersedia dalam bentuk aplikasi smartphone. Anda hanya perlu login dengan nama akun Anda di ponsel, maka Anda akan bisa mengakses seluruh data keuangan yang sebelumnya sudah di-setup di Waveapps versi desktop.

 

Aplikasi kedua adalah Spark. Aplikasi ini adalah aplikasi platform email yang dinobatkan sebagai aplikasi terbaik tahun 2016 oleh Apple. Umumnya, pekerja dan freelancer memiliki lebih dari satu email. Misalnya, satu email khusus pekerjaan/dari kantor, satu email pribadi, satu email khusus untuk akses ke sosial media, dan seterusnya. Kita memang bisa setup semua email ini dalam satu smartphone, namun akan sangat merepotkan jika setiap saat harus membuka masing-masing email untuk mengecek update atau new incoming email. Dengan Spark, seluruh email Anda akan berada di satu platform dan Anda cukup melakukan satu kali update untuk memperbarui inbox semua email Anda. Lihat gambar di bawah untuk lebih jelasnya:

 

spark-2

Seperti yang bisa dilihat pada gambar, saya memasukkan 4 email saya ke dalam Spark. Setiap saya membuka aplikasi, maka ke-4 email saya secara otomatis terupdate dan semua email baru dari 4 alamat email yang berbeda masuk ke satu laman layar yang sama seperti berikut:

 

spark

This image was taken from: https://sparkmailapp.com/inbox

Email terbaru akan terletak di bagian atas. Kita juga bisa menempelkan pin untuk menandai email penting. Aplikasi ini secara tidak langsung juga ‘memaksa’ kita untuk segera menghapus email yang tidak perlu agar tidak menutupi tampilan email-email yang lain. Ingat, email yang tampil di layar utama adalah email terbaru. Aplikasi ini dapat mempersingkat waktu yang biasanya Anda habiskan untuk mengecek email karena sekarang mengecek inbox seluruh email bisa dilakukan dengan satu langkah saja. Sejauh ini tidak ada batasan berapa banyak email yang bisa Anda tambahkan.

Aplikasi ketiga adalah Evernote. Evernote adalah aplikasi serbaguna yang bisa digunakan untuk mencatat to-do list pekerjaan, berbagi catatan, foto, link, atau data apa saja dengan kolega atau siapa pun yang Anda inginkan, di mana saja dan kapan saja. Anda bisa membukanya di PC, laptop, tablet, atau smartphone. Untuk menyinkronkan data diperlukan koneksi internet. Evernote sangat berguna jika Anda mengerjakan sebuah proyek bersama dengan tim kerja. Saat Anda menemukan ide baru untuk proyek, ingin mencatat target kerja terbaru, atau ingin melaporkan progress pekerjaan, Anda cukup mencatatnya di Evernote dan bagikan dengan rekan kerja yang sudah ada dalam grup kecil yang Anda buat sebelumnya.

Bukan hanya untuk pekerjaan, Anda juga bisa menggunakan Evernote untuk keperluan sehari-hari. Misalnya, saya dan Mamat menggunakannya untuk mencatat daftar belanjaan sebelum kami pergi belanja mingguan. Katakanlah saya yang membuat catatan belanja, saya tinggal mengeklik share ke Mamat. Secara otomatis daftar ini akan muncul di Evernote ponsel Mamat. Dengan demikian, di pasar/supermarket kami bisa berpencar mengambil barang yang akan kami beli. Aktivitas belanja pun jadi jauh lebih cepat dan kami bisa segera pulang dan bekerja lagi. 🙂

Lalu apa bedanya Evernote dengan Whatsapp? Bukankah saya bisa saja mengirimi Mamat daftar belanja lewat WA? Pesan di WA sangat mudah hilang seiring berjalannya waktu karena tercampur dengan percakapan lainnya. Walaupun pesan sudah kita bintangi, kita tetap tidak bisa memantau aktivitas spesifik yang kita inginkan di WA. Dengan Evernote kita bisa membuat folder khusus untuk data apa pun yang kita inginkan, apakah itu daftar kerja harian atau belanja bulanan.

Contoh tampilan Evernote:

evernote

This image was taken from: https://blog.evernote.com/blog/2015/03/11/evernote-for-android-gets-a-material-design-update/

Aplikasi keempat adalah Opera VPN. Aplikasi ini fungsinya sederhana dan mudah: memblokir iklan dari semua semua website yang Anda buka dari smartphone. Tanpa iklan, aktivitas browsing jadi lebih mudah, cepat, dan menyenangkan. Aplikasi ini juga bisa mengubah lokasi virtual Anda dan mencegah website melacak Anda di web. Yang perlu Anda lakukan hanyalah mengunduh dan mengaktifkannya.

opera-vpn

This image was taken from: http://www.opera.com/apps/vpn

Aplikasi terakhir adalah trio Google Docs, Google Sheets, dan Google Slides. Kenapa saya gabungkan menjadi satu aplikasi? Karena pada dasarnya tiga aplikasi ini ditujukan untuk menggantikan fungsi Microsoft Office di ponsel Anda.

Dengan Google Docs, kita bisa membuat tulisan baru, mengakses dokumen dengan berbagai macam format, mengedit file secara individual atau pun bersamaan dengan teman, kapan saja dan di mana saja. Google Sheets memiliki fungsi yang mirip dengan Excel, bedanya Anda bisa mengaksesnya sendiri, membagikannya dengan teman, dan mengeditnya bersama teman pada saat yang bersamaan! Google Slides sendiri memiliki fungsi mirip dengan Power Point, yakni untuk membuat presentasi. Istimewanya, Slides bisa membuka dan mengedit file Power Point juga! Ketiga aplikasi ini sangat berguna jika Anda mendadak harus mengoreksi atau membuat sesuatu terkait pekerjaan dan Anda tidak membawa laptop. Semua pekerjaan yang dulu hanya bisa dilakukan di PC dan laptop, sekarang bisa dilakukan di smartphone. Hebatnya lagi, Anda bisa melakukan semua pekerjaan ini secara online maupun offline. Koneksi internet tidak mutlak untuk menggunakan ketiga aplikasi ini. Jika ingin membagikan sebuah file atau dokumen, Anda bisa melakukannya setelah ponsel terhubung ke internet.

Berikut video singkat tentang aplikasi Google Docs untuk Android:

 

Google Sheets untuk Android:

Google Slides untuk Android:

Teknologi bisa sangat memudahkan pekerjaan kita sekarang. Ada begitu banyak hal yang bisa kita lakukan dengan ponsel. Daripada menghabiskan memory hape dengan mengunduh aplikasi-aplikasi tidak berguna dan menghabiskan waktu berjam-jam dengan aplikasi tersebut, kenapa tidak memanfaatkan aplikasi untuk meningkatkan kinerja kita? 🙂

 

 

Salam produktif,

 

Haura Emilia

Iklan

Puisi untuk anak Indonesia


*Gambar diambil dari: https://m.youtube.com/watch?v=vKXxpt1d7j0

Suatu hari teman saya Bella bercerita bahwa anaknya akan mengikuti lomba baca puisi dalam bahasa Inggris dengan tema Indonesia. Dia meminta saya untuk ikut mencari ide puisi yang akan dibacakan. Puisi yang akan dibacakan boleh ditulis oleh siapa saja, asalkan sesuai tema. Mengambil puisi yang sudah ada di internet pun dibolehkan. Yang menjadi fokus memang pembacaan puisinya, bukan penulisan puisi itu sendiri.

Saya jadi terpikir untuk menulis puisi sendiri. Apalagi saya adalah “pujangga” amatiran lulusan sastra. Haha.. Saya lalu terpikir untuk menulis puisi yang bertemakan persatuan bangsa tanpa memandang ras, adat, suku dan agama. Puisi ini saya tujukan untuk seluruh anak Indonesia. Saya berharap kita, para orang dewasa, mampu membesarkan generasi penerus yang toleran, welas asih, dan ringan tangan membantu sesama.

Ide puisi saya dapatkan dari keprihatinan saya terhadap kondisi yang bisa kita temui setiap hari di media sosial. Orang sekarang bisa dengan mudah menyebarkan berita bohong dan ucapan penuh kebencian terhadap golongan orang tertentu, yang umumnya adalah minoritas di Indonesia. Nada-nada sumbang sering saya dengar dan baca. Caci maki jadi hal yang biasa. Tidakkah kita pernah berhenti sejenak untuk berpikir bahwa apa yang kita tulis dapat dibaca oleh anak-anak dan remaja? Pernahkah terlintas di kepala kita contoh buruk apa yang telah kita berikan kepada generasi selanjutnya?

Saya paham, sebagai manusia biasa, kita memang takut dengan perbedaan. We are afraid of what we don’t know. Contoh sederhana, banyak dari kita yang memilih membunuh atau menyakiti binatang tertentu hanya karena mereka “numpang lewat” di halaman rumah. Kita juga ketakutan setengah mati saat mendengar cerita-cerita hantu. Kita membabi buta menjudge tetangga sebelah yang terlihat agak “melambai” atau kita curigai sebagai “gay”. Kita juga mungkin saja takut pada sopir angkot yang berwajah seram, berwarna kulit legam, tinggi besar, dan bersuara lantang. Kita takut pada apa yang tidak kita kenal dan pahami dengan baik.

Tapi kita selalu punya pilihan. Kita bisa memilih untuk terus takut atau bahkan membenci hal-hal yang tidak kita kenali dengan baik atau berusaha mempelajari dan memahami perbedaan. Ini yang saya harapkan tercermin dalam puisi yang saya tulis. Saya berharap anak-anak Indonesia di masa depan tumbuh di lingkungan sosial yang lebih baik. Saya berharap mereka tumbuh menjadi orang-orang yang toleran dan saling mengasihi. Saya juga berharap kita bisa mengajari mereka cinta dan kasih sayang, tanpa memandang SARA.

Dengan cinta saya menulis puisi ini. Untuk seluruh anak Indonesia. Salam sayang.

Haura Emilia
*Catatan: Harap mencantumkan nama penulis sebelum menyalin dan membagikan puisi ini. Jadilah orang terhormat yang menghargai karya orang lain dan menghindari plagiarisme. Please give a full credit to the writer when you copy and paste this following poem.

*Update: Anak teman saya memenangkan juara pertama untuk pembacaan puisi berikut pada tanggal 23 Februari 2017. 🙂

 



Reflecting upon my blessings: A journey to 31

“Reflect upon your present blessings — of which every man has many — not on your past misfortunes, of which all men have some.”
Charles Dickens, A Christmas Carol and Other Christmas Writings

 

Today I turned 31. I cannot count how many blessings I’ve had in my life. Life has been good and kind. It’s not perfect, but it’s beautiful in its own way. There were days when I felt like I wouldn’t stop smiling. There were days when I felt down and depressed. But happiness is what I’ve been feeling the most these past two years. Reflecting upon my own blessings, I believe everything happened just at the right time and place.

One of those countless blessings is my marriage. I got married almost two years ago, when I was 29. As much as I am very happy with the person I chose to be with, I do not wish that I had been married earlier. While most of my friends have kids right now, and I am happy for them, I do not regret anything about my decision to get married much later than many of them. When I got married, I knew I was a mature adult who can make logical and responsible choices. I knew that I wouldn’t sweat too much of small stuff. I knew that I was ready to compromise with my partner.

He turned out to be a great life partner, too! He is my love, my joy, and happiness. He is my inspiration and the one I wish I would spend the rest of my life with. He has always been there with me through my ups and downs these past five years. He really helps me grow to be a better person and a stronger woman. For that and the other millions of reasons, I am feeling grateful to have him.

I am also lucky to have my family, my imperfect-dearest ones. My parents are not perfect, but I know they love me with all their heart and soul. They did the best they could do to raise me and my siblings. A little fight and disagreement did exist once in a while, like with any normal family. But, we love each other and we still and always have each other. That’s all that really matters. I also have a wonderful sister, the one who loves me the way I am. She is, without a doubt, my soul sister, my source of spirit and joy. My best female friend.

Another blessing that I’m thankful for is my education. I owe my parents for this one as I couldn’t do it without them. It’s true, I don’t work at one of the biggest American companies anymore. I don’t end up becoming a professor at a well-known university. I don’t have a manager title. I don’t own an Audi or Tesla (maybe not yet :p). But that is not how I define success. To me, success means to be able to have freedom to choose what I want to do with my life. It also means to have freedom to think. To have my own thoughts and opinion and not to live based on someone else’s thinking and will. Success also means that I can actually give impacts to people around me. And I wouldn’t have this privilage without my education.

I am blessed because I am generally healthy and I am trying to be even healthier. I can’t say how much I am grateful for this. I’ve seen people my age suffer from chronic diseases. I’ve also met people who are constantly in pain that they could barely do anything. I’ve shed tears for those who are waiting for miracles to come and save their lives. So, I am thankful to be here, with all my imperfection. With my eczema, with my bad digestion (sometimes), with my anemia (usually once a month), and with my “seasonal” depression.

I am thankful for my real friends. They are the ones who have known me for very long time. They know all my flaws, yet they don’t bad mouth me behind my back. Instead, they still love me and never stop sending me love and well wishes. There are also some other people who have helped me so much in this life. There were few others who became my source of strength and inspiration. There were few who loved me unconditionally. So, I’d like to thank each and every one of you. Thank you. I love you.

I still have many other things to be thankful for in my life. But above all, I am thankful for this life. One day if my time came and I would have to be born once again under the same sun, I would love to live again and meet the same beautiful people once again. So, thank you for this life and thank you for being my stars!

 

sunflower-girl

 

Love. Always.

Haura Emilia

 

 

 

 

 

 

Balada Jam Karet

Disclaimer: Tidak semua orang Indonesia itu jam karet. Bacalah tulisan ini sampai habis sebelum marah karena merasa tersindir. 😄

untitled

Image was taken from: https://www.dreamstime.com/stock-illustration-businessman-who-missed-his-flight-running-behind-plane-time-management-concept-image76032255

 

Ada satu kebiasaan buruk sebagian besar orang Indonesia yang saya kenal: yup, ‘ngaret’ alias ‘jam karet’ atawa hobi datang terlambat saat janjian. Saya pribadi tidak luput dari ‘dosa’ yang satu ini, walaupun saya yakin ngaret bukan nama tengah saya, yang berarti saya pada dasarnya tidak suka ngaret. Sebaliknya, saya termasuk yang sering dijamkaretin.

Ada banyak alasan kenapa orang kita ‘hobi’ ngaret. Mulai dari alasan paling klasik seperti ‘macet’, alasan yang paling sering dibuat-buat seperti ‘salah ingat waktu janjian’, ‘ada urusan mendadak’, sampai alasan ‘ngeles’ yang bertujuan menyelamatkan muka kita sendiri seperti ‘nyokap gue mendadak minta tolong’ atau ‘anak gue mendadak ngamuk dan minta mainan jadinya gw telat’. Oke deh, Kakak. Sip. Saya sih percaya saja. 😜

Sebagai orang yang lahir dan besar di Jakarta dan sekitarnya, saya tahu benar bahwa kadang kala kita tidak benar-benar bisa tepat waktu dan akhirnya ‘terpaksa’ ngaret. Jalanan Jakarta sering kali tidak bisa ditebak. Ada-ada saja kejadiannya. Kecelakaan lalu lintaslah (tabrakan atau truk terbalik), demo buruh atau ormas agamalah, pengebomanlah (this rarely happened thankgod, but it did happen anyway!), acara wisuda bikin macetlah, hujan, banjir, ada tamu kenegaraan datang ke Jakarta sehingga jalanan ditutup, ada perbaikan jalan dadakan, galian kabel, dan seterusnya dan seterusnya. Hal-hal yang saya sebutkan ini memang sering kali terjadi di luar kuasa kita sebagai manusia biasa. Tapi ini kan tidak terjadi setiap hari dan setiap kita janjian dengan seseorang. Dengan kata lain, kita ‘boleh’ ngaret sekali-sekali jika memang ada kondisi yang sangat memaksa dan tidak bisa kita kendalikan, berhubung kita bukan Dewa.

Saya kira tadinya yang punya kebiasaan ngaret hanya orang Jakarta dan kota-kota besat lainnya berhubung kondisi jalanan sukar diprediksi. TAPI setelah saya tinggal di luar Jakarta (Bali dan Solo) dan beberapa kali mengunjungi berbagai kota di provinsi lain di Indonesia, ternyata ‘tradisi ngaret’ bukanlah unik milik orang Jakarta dan kota besar lainnya. Bahkan di tempat di mana kata ‘macet menggila’ tidak dikenal, orang kita tetap hobi ngaret. Alasan pastinya saya tidak tahu tapi saya mencoba mengira-ngira. Perkiraan saya tentu saja bisa salah, tapi yah tidak ada salahnya saya mencoba ‘menganalisis’ kenapa orang kita suka ngaret. Lumayan untuk dijadikan bahan renungan untuk belajar memahami situasi dan kondisi.

Pertama, sebagian besar orang Indonesia menganut budaya santai. Santai dalam arti ‘tidak terburu-buru’. Kenapa harus buru-buru? Masih ada kereta dan angkot selanjutnya. Kenapa harus jalan cepat-cepat? Kan capek dan terlalu panas di luar sana. Kenapa buru-buru? Toh matahari selalu bersinar dan tidak ada salju, tidak perlu jalan cepat karena cuaca jarang ekstrim. Kenapa harus bergegas? Toh toko-toko, restoran, dan mall buka sampai malam. Kenapa harus cepat-cepat? Toh paling yang lain juga akan datang terlambat. Nah. Tidak ada alasan untuk tidak santai, bukan? Mari kita jalan lambat-lambat, mari kita tinggalkan rumah mepet-mepet waktu janjian. Naik motor cepat, kok. Pesen gojek cuma butuh menunggu 5 menit.

Budaya santai ini ternyata punya sisi negatifnya sendiri. Kita menjadi orang-orang yang lambat dan gemar terlambat. Sisi positif budaya santai tentu saja ada:  kita menjadi orang-orang mudah memaklumi dan memahami keterlambatan dan kengaretan orang lain. Kenapa? Karena kita santai, karena kita ramah, karena kita suka basa-basi, karena kita tidak suka marah-marah untuk hal ‘sepele’ semacam ‘ngaret’. Kenapa harus kesal dan marah, sih? Situ lagi dapet? Santei aja kali. Orang-orang yang tidak suka ngaret pastilah orang-orang super serius dan tidak bisa menoleransi keadaan orang lain. Orang-orang yang tidak menyukai budaya ngaret pasti sudah kena cuci otak ‘budaya luar negeri’ dan merasa dirinya paling benar hanya karena dia tidak suka ngaret dan orang-orang yang hobi ngaret. Mungkin kita pernah berpikir demikian kalau kita termasuk yang hobi ngaret dan sering sebel disindir-sindir. 😝

Kedua, orang kita hobi ngaret mungkin karena tepat waktu bukanlah bagian dari pendidikan karakter dasar yang diajarkan di rumah dan sekolah sejak kita kecil. Kalau orang tua saya suka ngaret, guru sekolah saya sering masuk kelas terlambat, dan orang dewasa di sekitar saya selalu telat, kenapa saya tidak boleh jadi jam karet juga? Kenapa juga saya harus tepat waktu? Toh jadwal kereta sering terlambat, jadwal onboarding pesawat sering delay, bahkan jadwal rapat dan acara meeting/konferensi resmi tingkat nasional pun sering molor.

Karakter suka menyalahkan keadaan dan malas berpikir ini membuat banyak orang Indonesia terjebak dalam budaya ngaret. Kita pasrah dengan keadaan, pasrah berada di tengah-tengah orang yang suka telat dan malah mengamininya dan jadi follower setia. Kita sering bercanda dan cengengesan bilang, “aahh ini kan sudah tradisi” ketika kita telat atau bertemu dengan orang dan situasi yang serba telat juga.

Ketiga, banyak dari kita yang tidak menghargai arti pentingnya waktu bagi orang lain dan mengabaikan kemungkinan bahwa tidak semua orang punya waktu yang sama banyaknya dengan kita. Kalau si “tukang ngaret A”, misalnya, janjian ketemuan di mall X sama si “tepat waktu B”, si A berasumsi bahwa si B punya waktu dan kesabaran yang sama banyaknya dengan dia. Ketika mereka janjian untuk bertemu di mall X pada jam 11, si B datang pukul 10.55 dan si A muncul SATU JAM 10 MENIT kemudian. Lebih parahnya, si A datang tetap sambil senyam-senyum berwajah tanpa dosa dan dengan ceria bertanya ke si B, “sudah lama?” Si A ini mungkin tidak tahu (atau tidak mau tahu) kalau si B sudah ada janji lain pukul 11.30. Si A juga gak mikirin fakta kalau si B sudah jamuran garing nunggu si A. Si A tidak peduli kalau sebenarnya si B bisa menghabiskan waktunya untuk  melakukan hal produktif lain selain menunggu si A. Si A juga mungkin tidak sadar kalau si B sudah menghabiskan ekstra uang sakunya untuk beli minum lebih dulu hanya supaya bisa duduk di bangku cafe tempat dia janjian dengan si A.

Tentu saja, si B harus memaafkan si A kalau memang ada alasan valid dan dapat diterima akal sehat soal kenapa si A terlambat. Misalnya, motor si A disenggol orang di jalan dan dia harus membereskan urusan ini dulu. Atau, tiba-tiba ada demo atau kecelakan di jalan yang membuatnya terlambat. Tapi bagaimana kalau si A terlambat hanya karena dia hobi ngaret? Hanya karena si A telat bangun atau simply lelet. Si B tentu saja tidak akan pernah bisa benar-benar tahu kenapa si A terlambat. Si A bisa mengarang sejuta alasan. Still, the damage is done.

Saya yakin masih ada alasan-alasan lain, alasan budaya atau psikologis, yang membuat banyak orang kita hobi ngaret. Tapi untuk sementara saya akan berhenti di tiga alasan yang saya anggap ‘klasik’ ini.

Jadi bagaimana kalau kita sudah terlanjur jadi ‘jam karet’? Bagaimana agar tidak ngaret?

Pertama, berangkatlah lebih awal. Jangan sepelekan kondisi jalanan. Terutama kalau kita tinggal di kota besar dan mau menghadiri acara-acara penting seperti rapat, wawancara, konferensi, atau naik transportasi berjadwal seperti kereta dan pesawat. Jangan tidur malam sebelum acara penting ini. Bangun lebih awal dan berangkat lebih cepat.

Kedua, rencanakan bagaimana kita akan pergi ke tempat tujuan sebelum berangkat. Mau nyetir sendiri? Bawa motor? Naik angkot? Naik kereta? Pastikan kita tahu rute, jalan, dan nomor angkotnya. Buka Google Maps dulu sebelum pergi kalau kita tidak yakin mau lewat mana dan naik apa. Pikirkan juga apakah kita perlu mampir dulu ke suatu tempat sebelum menuju tempat tujuan. Hitung perkiraan waktu yang dibutuhkan. Perencanaan yang baik akan meminimalkan potensi ngaret dan memperbesar peluang kita datang tepat waktu.

Pikirkan dengan siapa kita akan pergi dan siapkan plan B jika terjadi sesuatu yang disebabkan oleh kerempongan bepergian rame-rame atau dengan keluarga. Mau pergi membawa anak? Tentu saja boleh, tapi rencanakan dengan baik. Adik saya misalnya, membawakan anaknya mainan favoritnya supaya si anak kalem dan tenang di pesawat. Walaupun ini bukan jaminan si anak tenang, tapi paling tidak perencanaan yang baik akan membantu kita mengantisipasi keadaan. Ingin mengajak keluarga besar bertemu sahabat lama kita? Oke saja asalkan beri tahu teman kita agar dia bisa mengantisipasi keadaan. Bukan hal yang sulit memberi tahu teman kita sekadar informasi sederhana seperti, “Oi bro, gue bawa bokap nyokap, berhubung mereka agak lelet siap-siapnya, maklumin kalau gue telat 15-20 menit ya”. Dengan begitu teman kita bisa mengantisipasi perkiraan waktu kita datang dan tidak menunggu kita dengan clueless dan kesal.

Kalau semuanya sudah direncanakan dengan baik sebelumnya, tapi ternyata kita tetap telat dan ngaret terlepas dari apa pun alasannya, apa yang harus kita lakukan?? Kalau kita sudah terlanjur ngaret atas alasan sepele, bagaimana sebaiknya kita bersikap??

Ketika kita di jalan dan menyadari bahwa kita akan telat, beri tahu teman kita lewat telepon, Whatsapp, atau sms. Berikan alasan singkat dan perkiraan waktu sampai. Jangan diam saja dan berasumsi teman kita juga akan telat atau mendadak hilang ingatan dan tidak bisa baca jam. 😔 Please, don’t be that person.

Tapi seandainya kita tidak mungkin memberi tahu teman bahwa kita akan telat (misalnya karena kita nyetir atau hape ketinggalan), maka hal pertama yang harus kita lakukan saat kita tiba adalah MINTA MAAF. Minta maaf memang tidak serta merta menghapus ‘dosa’ kita dan tidak memperbaiki keadaan yang sudah rusak karena keterlambatan kita, tetapi meminta maaf akan memperpanjang hubungan baik di depan. Dengan meminta maaf berarti kita menunjukkan niat baik, penyesalan, dan niat untuk memperbaiki keadaan di masa yang akan  datang. Permintaan maaf yang tulus akan membuat kita lebih dihargai orang lain. Jangan datang dengan tampang cengengesan dan tanpa dosa apalagi pura-pura tidak tahu akan keterlambatan kita. Remember, manners maketh men. Everyone makes a mistake once in a while, but at least make it up with a sincere apology in a good manner.

Kedua, kalau memang kita sudah terlanjur telat karena alasan sepele (seperti telat bangun atau terlalu lelet bersiap-siap) please jangan karang alasan yang tidak masuk akal atau membuat alasan yang berkesan menimpakan kesalahan kita ke orang lain (misalnya, “anak gue nangis” ketika anak kita tidak menangis atau “suami gue tiba-tiba kebelet poop di jalan jadi harus cari toilet umum” ketika sang suami sebenarnya baik-baik saja). Kalau memang alasan terlambat kita sangat sepele dan murni kesalahan kita, tidak usah berikan excuse, cukup minta maaf dan berjanji agar ke depan lebih tepat waktu. Own and admit our mistakes. That’s what makes us a bigger person.

Semoga akan tiba waktunya bagi sebagian orang Indonesia untuk bangun dari tidur dan mulai menyadari betapa berharganya waktu dan mau belajar untuk menghargai waktu. Bukan semata untuk kepentingan pribadinya, melainkan juga untuk kepentingan orang lain.

Yuk, belajar tepat waktu dan tinggalkan budaya jam karet! 🙂🙂🙂

Cheers,

Haura Emilia

Balada Jam Karet

Disclaimer: Tidak semua orang Indonesia itu jam karet. Bacalah tulisan ini sampai habis sebelum marah karena merasa tersindir. 😄

Ada satu kebiasaan buruk sebagian besar orang Indonesia yang saya kenal: yup, ‘ngaret’ alias ‘jam karet’ atawa hobi datang terlambat saat janjian. Saya pribadi tidak luput dari ‘dosa’ yang satu ini, walaupun saya yakin ngaret bukan nama tengah saya, yang berarti saya pada dasarnya tidak suka ngaret.

Ada banyak alasan kenapa orang kita ‘hobi’ ngaret. Mulai dari alasan paling klasik seperti ‘macet’, alasan yang paling sering dibuat-buat seperti ‘salah ingat waktu janjian’, ‘ada urusan mendadak’, sampai alasan yang sifatnya menyalahkan orang lain untuk menyelamatkan muka kita sendiri seperti ‘nyokap gw mendadak minta tolong’ atau ‘anak gw mendadak ngamuk dan minta mainan jadinya gw telat’. Oke deh sip.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Jakarta dan sekitarnya, saya tahu benar bahwa kadang kala kita tidak benar-benar bisa tepat waktu dan akhirnya ‘terpaksa’ ngaret. Jalanan Jakarta sering kali tidak bisa ditebak. Ada-ada saja kejadiannya. Kecelakaan lalu lintas lah (tabrakan atau truk terbalik), demo buruh atau ormas agama lah, pengeboman lah (this rarely happened thankgod, but it did happen anyway!), acara wisuda bikin macet lah, hujan, banjir, ada tamu kenegaraan datang ke Jakarta sehingga jalanan ditutup lah, ada perbaikan jalan dadakan lah, galian kabel, dan seterusnya dan seterusnya. Hal-hal yang saya sebutkan ini memang sering kali terjadi di luar kuasa kita sebagai manusia biasa. Tapi ini kan tidak terjadi setiap hari dan setiap kita janjian dengan seseorang. Dengan kata lain, kita ‘boleh’ ngaret sekali-sekali jika memang ada kondisi yang sangat memaksa dan tidak bisa kita kendalikan, berhubung kita bukan Dewa. 

Saya kira tadinya yang punya kebiasaan ngaret hanya orang Jakarta dan kota-kota besat lainnya berhubung kondisi jalanan sukar diprediksi. TAPI setelah saya tinggal di luar Jakarta (Bali dan Solo) dan beberapa kali mengunjungi berbagai kota di provinsi lain di Indonesia, ternyata ‘tradisi ngaret’ bukanlah unik milik orang Jakarta dan kota besar lainnya. Bahkan di tempat di mana kata ‘macet menggila’ tidak dikenal, orang kita tetap hobi ngaret. Alasan pastinya saya tidak tahu tapi saya mencoba mengira-ngira. Perkiraan saya tentu saja bisa salah, tapi yah tidak ada salahnya saya mencoba ‘menganalisis’ kenapa orang kita suka ngaret. Lumayan untuk dijadikan bahan renungan untuk belajar memahami situasi dan kondisi.

Pertama, sebagian besar orang Indonesia menganut budaya santai. Santai dalam arti ‘tidak terburu-buru’. Kenapa harus buru-buru? Masih ada kereta dan angkot selanjutnya. Kenapa harus jalan cepat-cepat? Kan capek dan terlalu panas di luar sana. Kenapa buru-buru? Toh matahari selalu bersinar dan tidak ada salju, jadi tidak usah buru-buru karena cuaca tidak ekstrim. Kenapa harus bergegas? Toh toko-toko, restoran, dan mall buka sampai malam. Kenapa harus cepat-cepat? Toh paling yang lain juga akan datang terlambat. Nah. Tidak alasan untuk tidak santai, bukan? Mari kita jalan lambat-lambat, mari kita tinggalkan rumah mepet-mepet waktu janjian. Naik motor cepat, kok. Pesen gojek cuma butuh menunggu 5 menit. 

Budaya santai ini ternyata punya sisi negatifnya sendiri. Kita menjadi orang-orang yang lambat dan gemar terlambat. Sisi positif budaya santai tentu saja ada:  kita menjadi orang-orang mudah memaklumi dan memahami keterlambatan dan kengaretan orang lain. Kenapa? Karena kita santai, karena kita ramah, karena kita suka basa-basi, karena kita tidak suka marah-marah untuk hal ‘sepele’ semacam ‘ngaret’. Kenapa harus kesal dan marah, sih? Situ lagi dapet? Santei aja kali. Orang-orang yang tidak suka ngaret pastilah orang-orang super serius dan tidak bisa menoleransi keadaan orang lain. Orang-orang yang tidak menyukai budaya ngaret pasti sudah kena cuci otak ‘budaya luar negeri’ dan merasa dirinya paling benar hanya karena dia tidak suka ngaret dan orang-orang yang hobi ngaret. Mungkin kita pernah berpikir demikian kalau kita termasuk yang hobi ngaret dan sering sebel disindir-sindir. 😝

Kedua, orang kita hobi ngaret mungkin karena tepat waktu bukanlah bagian dari pendidikan karakter dasar yang diajarkan di rumah dan sekolah sejak kita kecil. Kalau orang tua saya suka ngaret, guru sekolah saya sering masuk kelas terlambat, dan orang dewasa di sekitar saya selalu telat, kenapa saya tidak boleh jadi jam karet juga? Kenapa juga saya harus tepat waktu? Toh jadwal kereta sering terlambat, jadwal onboarding pesawat sering delay, bahkan jadwal rapat dan acara meeting/konferensi resmi tingkat nasional pun sering molor

Karakter suka menyalahkan keadaan dan malas berpikir ini membuat banyak orang Indonesia terjebak dalam budaya ngaret. Kita pasrah dengan keadaan, pasrah berada di tengah-tengah orang yang suka telat dan malah mengamininya dan jadi follower setia. Kita sering bercanda dan cengengesan bilang, “aahh ini kan sudah tradisi” ketika kita telat atau bertemu dengan orang dan situasi yang serba telat juga. 

Ketiga, banyak dari kita yang tidak menghargai arti pentingnya waktu bagi orang lain dan mengabaikan kemungkinan bahwa tidak semua orang punya waktu yang sama banyaknya dengan kita. Kalau si “tukang ngaret A”, misalnya, janjian ketemuan di mall X sama si “tepat waktu B”, si A berasumsi bahwa si B punya waktu dan kesabaran yang sama banyaknya dengan dia. Ketika mereka janjian untuk bertemu di mall X pada jam 11, si B datang pukul 10.55 dan si A muncul SATU JAM 10 MENIT kemudian. Lebih parahnya, si A datang tetap sambil senyam-senyum berwajah tanpa dosa dan dengan ceria bertanya ke si B, “sudah lama?” Si A ini mungkin tidak tahu (atau tidak mau tahu) kalau si B sudah ada janji lain pukul 11.30. Si A juga gak mikirin fakta kalau si B sudah jamuran garing nunggu si A. Si A tidak peduli kalau sebenarnya si B bisa menghabiskan waktunya untuk  melakukan hal produktif lain selain menunggu si A. Si A juga mungkin tidak sadar kalau si B sudah menghabiskan ekstra uang sakunya untuk beli minum lebih dulu hanya supaya bisa duduk di bangku cafe tempat dia janjian dengan si A.

Tentu saja, si B harus memaafkan si A kalau memang ada alasan valid dan dapat diterima akal sehat soal kenapa si A terlambat. Misalnya, motor si A disenggol orang di jalan dan dia harus membereskan urusan ini dulu. Atau, tiba-tiba ada demo atau kecelakan di jalan yang membuatnya terlambat. Tapi bagaimana kalau si A terlambat hanya karena dia hobi ngaret? Hanya karena si A telat bangun atau simply lelet. Si B tentu saja tidak akan pernah bisa benar-benar tahu kenapa si A terlambat. Si A bisa mengarang sejuta alasan. Still, the damage is done

Saya yakin masih ada alasan-alasan lain, alasan budaya atau psikologis, yang membuat banyak orang kita hobi ngaret. Tapi untuk sementara saya akan berhenti di tiga alasan yang saya anggap ‘klasik’ ini.

Jadi bagaimana kalau kita sudah terlanjur jadi ‘jam karet’? Bagaimana agar tidak ngaret?

Pertama, berangkatlah lebih awal. Jangan sepelekan kondisi jalanan. Terutama kalau kita tinggal di kota besar dan mau menghadiri acara-acara penting seperti rapat, wawancara, konferensi, atau naik transportasi berjadwal seperti kereta dan pesawat. Jangan tidur malam sebelum acara penting ini. Bangun lebih awal dan berangkat lebih cepat. 

Kedua, rencanakan bagaimana kita akan pergi ke tempat tujuan sebelum berangkat. Mau nyetir sendiri? Bawa motor? Naik angkot? Naik kereta? Pastikan kita tahu rute, jalan, dan nomor angkotnya. Buka Google Maps dulu sebelum pergi kalau kita tidak yakin mau lewat mana dan naik apa. Pikirkan juga apakah kita perlu mampir dulu ke suatu tempat sebelum menuju tempat tujuan. Hitung perkiraan waktu yang dibutuhkan. Perencanaan yang baik akan meminimalkan potensi ngaret dan memperbesar peluang kita datang tepat waktu.

Pikirkan dengan siapa kita akan pergi dan siapkan plan B jika terjadi sesuatu yang disebabkan oleh kerempongan bepergian rame-rame atau dengan keluarga. Mau pergi membawa anak? Tentu saja boleh, tapi rencanakan dengan baik. Adik saya misalnya, membawakan anaknya mainan favoritnya supaya si anak kalem dan tenang di pesawat. Walaupun ini bukan jaminan si anak tenang, tapi paling tidak perencanaan yang baik akan membantu kita mengantisipasi keadaan. Ingin mengajak keluarga besar bertemu sahabat lama kita? Oke saja asalkan beri tahu teman kita agar dia bisa mengantisipasi keadaan. Bukan hal yang sulit memberi tahu teman kita sekadar informasi sederhana seperti, “Oi bro, gue bawa bokap nyokap, berhubung mereka agak lelet siap-siapnya, maklumin kalau gue telat 15-20 menit ya”. Dengan begitu teman kita bisa mengantisipasi perkiraan waktu kita datang dan tidak menunggu kita dengan clueless dan kesal.

Kalau semuanya sudah direncanakan dengan baik sebelumnya, tapi ternyata kita tetap telat dan ngaret terlepas dari apa pun alasannya, apa yang harus kita lakukan?? Kalau kita sudah terlanjur ngaret atas alasan sepele, bagaimana sebaiknya kita bersikap??

Ketika kita di jalan dan menyadari bahwa kita akan telat, beri tahu teman kita lewat telepon, Whatsapp, atau sms. Berikan alasan singkat dan perkiraan waktu sampai. Jangan diam saja dan berasumsi teman kita juga akan telat atau mendadak hilang ingatan dan tidak bisa baca jam. 😔

Tapi seandainya kita tidak mungkin memberi tahu teman bahwa kita akan telat (misalnya karena kita nyetir atau hape ketinggalan), maka hal pertama yang harus kita lakukan saat kita tiba adalah MINTA MAAF. Minta maaf memang tidak serta merta menghapus ‘dosa’ kita dan tidak memperbaiki keadaan yang sudah rusak karena keterlambatan kita, tetapi meminta maaf akan memperpanjang hubungan baik di depan. Dengan meminta maaf berarti kita menunjukkan niat baik, penyesalan, dan niat untuk memperbaiki keadaan di masa yang akan  datang. Permintaan maaf yang tulus akan membuat kita lebih dihargai orang lain. Jangan datang dengan tampang cengengesan dan tanpa dosa apalagi pura-pura tidak tahu akan keterlambatan kita. Remember, manners maketh men. Everyone makes a mistake once in a while, but at least make it up with a sincere apology in a good manner.

Kedua, kalau memang kita sudah terlanjur telat karena alasan sepele (seperti telat bangun atau terlalu lelet bersiap-siap) please jangan karang alasan yang tidak masuk akal atau membuat alasan yang berkesan menimpakan kesalahan kita ke orang lain (misalnya, “anak gue nangis” ketika anak kita tidak menangis atau “suami gue tiba-tiba kebelet poop di jalan jadi harus cari toilet umum” ketika sang suami sebenarnya baik-baik saja). Kalau memang alasan terlambat kita sangat sepele dan murni kesalahan kita, tidak usah berikan excuse, cukup minta maaf dan berjanji agar ke depan lebih tepat waktu. Embrace and admit our mistakes. That’s what makes us a bigger person.

Semoga akan tiba waktunya bagi sebagian orang Indonesia untuk bangun dari tidur dan mulai menyadari betapa berharganya waktu dan mau belajar untuk menghargai waktu. Bukan semata untuk kepentingan pribadinya, melainkan juga untuk kepentingan orang lain.

Yuk, belajar tepat waktu dan tinggalkan budaya jam karet! 🙂🙂🙂
Cheers,

Haura Emilia