Tips Menulis Apik dan Efektif

“One day I will find the right words, and they will be simple.”

― Jack Kerouac, The Dharma Bums

writing

Gambar diambil dari: http://wrtzone.wayne.edu/

Sebagai seorang ‘kuli tinta’ atau ‘pekerja kata’, pekerjaan utama saya adalah menerjemahkan dan mengedit tulisan atau terjemahan orang. Pekerjaan ini sudah saya lakukan selama hampir sepuluh tahun. Namun, tiga tahun terakhir ini lebih banyak saya habiskan untuk mengedit tulisan. Pekerjaan terjemahan masih saya lakukan sesekali, namun bukan lagi pekerjaan utama saya. Pekerjaan editing ini saya lakukan secara full time dalam arti lima hari seminggu dan kurang lebih delapan jam sehari.

Selama mengedit saya menemukan banyak hal menarik yang dapat saya pelajari dari tulisan seseorang. Membaca dan mengedit tulisan atau terjemahan orang lain juga membuat saya sensitif dengan sebuah tulisan. Saya jadi tahu mana tulisan yang bagus dan mana tulisan yang tidak bagus. Saya juga jadi bisa menarik kesimpulan sederhana tentang cara berpikir seseorang yang bisa kita ‘baca’ dari tulisannya.

Seseorang dengan kemampuan menulis yang baik terus terang tidak terlalu menarik untuk dibahas. Sebaliknya, ada banyak yang bisa kita bahas dari tulisan-tulisan yang kurang bagus. 🙂 Ketika mendengar tentang tulisan yang kurang bagus, jangan membayangkan penulisnya sebagai orang yang berpendidikan rendah. Pada kenyataannya saya banyak menjumpai orang berpendidikan tinggi yang memerlukan pelatihan menulis yang baik dan benar. Intinya, apa pun latar pendidikan kita, kita selalu bisa belajar untuk meningkatkan kemampuan menulis.

Dalam pos blog kali ini, saya ingin membagikan sedikit tips tentang cara menulis yang apik dan efektif, berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya. Sebelumnya, saya tegaskan bahwa saya bukanlah penulis terbaik di dunia dan pengalaman saya belum ada apa-apanya dibandingkan dengan penulis andal yang sudah menghasilkan ratusan tulisan atau banyak buku. Meskipun begitu, saya harap tulisan ini bisa berguna bagi banyak penulis pemula atau orang-orang umum yang ingin meningkatkan kemampuan menulisnya.

Tips pertama menulis yang baik adalah menetapkan tujuan penulisan. Tentukan apakah kita menulis untuk mengemukakan pendapat dan berbagi informasi, menganalisis suatu keadaan, memberikan solusi atas permasalahan, menulis ajakan untuk bertindak (call-to-action) atau sekadar curhat. Hehe. Tujuan penulisan sangat penting karena ini akan menentukan nada tulisan (tone) dan gaya bahasa. Menulis sebuah makalah atau jurnal ilmiah tentu berbeda dengan menulis tips menanam cabai atau menulis konten iklan. Setelah menentukan tujuan, cari tahu hal-hal teknis terkait penulisan itu. Misalnya, jika ingin menulis jurnal atau makalah, pelajari aturan-aturan dasar seperti penulisan catatan kaki, cara mengutip, cara menulis bibliografi, spasi antar kalimat, dan petunjuk teknis lainnya.

Kedua, tentukan target pembaca. Jika kita ingin menulis konten blog atau website untuk anak muda, gunakan bahasa yang akrab dan mengikuti perkembangan jaman. Jika audiens tulisan kita adalah jurnal ilmiah yang ditujukan kepada para akademisi, pastikan tulisan bernada formal dan mengikuti kaidah bahasa dan ejaan yang baik dan benar. Jika menulis konten iklan, pastikan kita mengetahui target iklan yang kita tulis dan menyesuaikan bahasanya sesuai dengan usia target.

Ketiga, buat draft atau kerangka tulisan sebelum menulis apa pun (kecuali mungkin untuk menulis status FB :p). Fungsi draft adalah untuk brainstorming ide dan menyusun materi yang ingin ditulis. Draft juga berfungsi untuk menata cara berpikir dan menentukan batasan materi yang akan dibahas. Pada tahap ini kita bisa memutuskan apakah ingin menyusun paragraf kita dengan penalaran induktif atau deduktif.* Draft juga membantu tulisan kita tetap berada di dalam jalur yang jelas dan dalam batasan yang telah ditentukan sebelumnya. Batasan materi ini menentukan fokus tulisan, dan menjaganya agar tidak melebar ke mana-mana. Misalnya, jika kita hanya ingin menulis tentang kontroversi Uber versus taksi konvensional, jangan cerita soal sopir Uber ganteng yang kita temui waktu naik Uber di Blok M atau membandingkan Uber dengan delman, yang jelas-jelas tidak ada hubungannya. :p

Tips selanjutnya adalah biasakan menulis dengan kalimat yang sederhana, tanpa banyak anak kalimat.  Hindari menggunakan kalimat panjang dan berbelit-belit. Kalau memungkinkan, gunakan struktur SPOK (Subjek Predikat Objek Keterangan) sederhana. Kalimat yang baik adalah kalimat yang sederhana dan mudah dimengerti, bukan bahasa ‘dewa’ yang membuat pusing pembaca. Berikut saya berikan contoh kalimat tidak efektif dan hasil revisinya:

Kalimat asli:

“Pengetatan syarat masuk orang asing ke negara X sangat dimanfaatkan oleh jejaring migran tradisional yang selama ini telah eksis di negara X itu sendiri, jejaring tersebut juga berbasis etnisitas.”

Kalimat hasil revisi:

“Pengetatan syarat masuk orang asing ke negara X sering kali dimanfaatkan oleh jaringan migran tradisional berbasis etnisitas, yang selama ini eksis di negara X.”

Frase “jejaring migran tradisional” dan “jejaring tersebut juga berbasis etnisitas” sebenarnya dapat digabungkan agar kalimat jadi lebih efektif.

Berikut adalah contoh kalimat tidak efektif lainnya:

“Terkait dengan kebijakan transportasi di Indonesia, perlu diatur sebuah kebijakan yang mengatur tentang berbagai unsur yang terkait dengan hukum transportasi dalam berbagai kebijakan yang mengatur tentang sistem transportasi yang mengatur tentang teknologi transportasi yang digunakan yang meliputi pengaturan standar yang dijadikan acuan dalam menjalankan semua proses yang terkait dan….”

WHAAATTTT?????!!*%#@@?!

Iya, saya tahu. Saya juga pusing membacanya. Hehe. Kalimat di atas adalah contoh kalimat tidak efektif karena terlalu berbelit-belit dan tidak jelas gagasannya. Intinya, tetapkan gagasan yang ingin kita sampaikan dan tulis dengan kalimat yang singkat dan sederhana. Terutama kalau materi yang kita tulis tidak berhubungan dengan petunjuk teknis membangun roket yang akan mengantarkan umat manusia ke planet Mars. Posisikan diri kita di posisi pembaca. Bayangkan jika kita ada di posisi mereka, apakah kita akan memahami tulisan tersebut.

Tips kelima, gunakan kalimat aktif. Sebisa mungkin hindari penggunaan kalimat pasif. Kalimat yang ditulis dalam bentuk aktif lebih mudah dipahami dan mengalir dengan lebih lancar. Contohnya, kalimat “Pemerintah mengeluarkan kebijakan baru” lebih cepat dipahami daripada “Kebijakan baru dikeluarkan oleh pemerintah”. Contoh lainnya adalah, “Ancaman yang bersifat militer perlu diantisipasi oleh pemerintah dan seluruh masyarakat” sebaiknya ditulis dengan kalimat aktif seperti “Pemerintah dan masyarakat perlu mengantisipasi ancaman militer”.

Hal lain yang perlu dilakukan adalah menghindari penggunaan kata-kata yang sulit (big words) hanya supaya terlihat ‘pintar’ atau sophisticated. Penulis yang baik cenderung menghindari penggunaan kata-kata yang sulit jika ada alternatif kata yang lebih sederhana dan umum. Memang, dalam penulisan konten teknis kata-kata sulit sering kali susah dihindari. Namun, pastikan untuk menggunakan big words hanya ketika tidak ada pilihan yang lain. Contohnya, pilih frase “kemerosotan moral” dibandingkan “dekadensi moral” karena tidak semua orang tahu bahwa kata ‘dekadensi’ adalah serapan dari kata bahasa Inggris decadence. Kalau tidak yakin akan diksi (pilihan kata) tertentu, bukalah KBBI online untuk memastikan bahwa kita menggunakan kata yang tepat. Jangan sampai kita memilih istilah yang salah karena malas memeriksa definisi kata.

Tips selanjutnya untuk menulis apik dan efektif adalah memperhatikan tata bahasa dan tanda baca. Kalau menulis dalam bahasa Indonesia, perhatikan gramatika dasar seperti penggunaan imbuhan yang benar. Contohnya, pastikan paling tidak kita tahu bedanya ‘di’ sebagai preposisi (seperti dalam frase “di sana”) dan ‘di’ sebagai imbuhan pembentuk kata kerja pasif (seperti dalam kata ‘dimakan’, ‘dikerjakan’, ‘disertakan’). Begitu pun dalam bahasa Inggris, pastikan kita minimal tahu bedanya past tense dan present tense. Jangan lupa untuk menggunakan tanda baca yang tepat. Hindari menulis satu paragraf yang hanya terdiri dari satu kalimat panjang. Buat kalimat-kalimat singkat dan gunakan tanda baca dengan benar.

Terakhir, untuk menjadi penulis yang lebih baik kita perlu banyak latihan dan membaca. Semakin sering kita menulis, semakin kenal kita dengan gaya tulisan kita. Kita juga bisa mempelajari kekuatan dan kekurangan kita. Untuk menambah referensi tulisan sendiri kita perlu banyak membaca. Membaca menambah pengetahuan dan perbendaharaan kata. Semakin banyak kita membaca, semakin banyak ilmu yang kita dapatkan dan semakin banyak pula bahan tulisan kita. Banyak membaca juga membantu kita mempelajari berbagai gaya tulisan.**

Ada banyak jalan menuju Roma. Ada banyak cara untuk belajar menulis. Namun, rahasia menulis yang baik dan efektif adalah duduk, mulai menulis, dan pilihlah kata dan kalimat yang sederhana. It should be enough for a start.

“There is nothing to writing. All you do is sit down at a typewriter and bleed.”
― Ernest Hemingway

 
Cheers,
Haura Emilia

 

Catatan:

*Penalaran induktif (inductive reasoning) adalah sebuah proses berpikir di mana kita memulai tulisan dengan penjelasan, contoh atau kasus yang bersifat khusus dan berakhir dengan kesimpulan yang bersifat lebih umum, berdasarkan bukti-bukti yang dipaparkan sebelumnya. Kesimpulan pada penalaran induktif sifatnya tidak pasti, atau membuka kemungkinan akan adanya kesimpulan yang lain. Sebaliknya, penalaran deduktif (deductive reasoning) dimulai dengan penjelasan atau argumen yang bersifat umum dan kemudian diakhiri dengan sesuatu yang khusus. Kesimpulan pada penalaran deduktif bersifat pasti dan tidak menawarkan kemungkinan yang lain.

**Silakan baca lebih banyak tentang manfaat membaca di sini.

 

 

 

 

 

 

Iklan