Manfaat Membaca: Nutrisi Hati dan Pikiran

Whenever you read a good book, somewhere in the world a door opens to allow in more light.

–Vera Nazarian

read-4

Suatu sore di penghujung tahun 2015, saya menatap rak buku di ruang kerja di rumah kami yang sederhana. Mata saya meneliti satu persatu judul buku yang ada di rak yang menempel di dinding. Waktu saya pindah ke Solo, saya memang tidak membawa koleksi buku saya. Hampir semua koleksi saya tinggalkan di rumah orang tua di Depok. Praktis, yang saya pandangi saat itu sebagian besar adalah koleksi buku Mamat. Hampir seluruh buku yang dia miliki belum pernah saya baca, walaupun saya tahu isi dari beberapa buku tersebut karena Mamat sering membicarakannya.

Saya termenung dan menyadari betapa saya sudah tidak lagi membaca sebanyak dan sesering yang saya lakukan dulu. Saya sempat tidak mengerti ke mana saja waktu berlalu, yang jelas sebagian besar waktu saya tersita untuk bekerja dan melakukan hal-hal lain selain membaca. Namun kemudian saya menyadari bahwa media sosial dan smartphone menyita banyak waktu saya sejak tahun 2011, sejak saya lulus s2. Walaupun sebagian besar aktivitas yang saya lakukan di smartphone adalah membaca, saya tiba-tiba merasa rindu memegang buku. Saya kangen membaca buku fisik dan membaca sesuatu yang bermutu, yang tidak ada hubungannya dengan gosip selebritis, berita politik murahan, dan status alay teman lama di Facebook. Maka detik itu saya pun memutuskan. Resolusi 2016 saya adalah membaca lebih banyak buku.  Saya memulai tahun 2016 dengan membaca trilogi 1Q84 Murakami, dan sejauh ini, saya sedang membaca buku ke-14 tahun ini, Sapiens: A Brief History of Humankind.

Ternyata, banyak kebaikan yang datang dari kembali aktifnya aktivitas membaca saya. Pertama, saya kembali menemukan rasa ‘itu’, rasa yang saya selalu dapatkan ketika sedang membaca buku yang bagus: rasa takjub dan terpesona yang menggelitik dan menstimulasi setiap sel-sel di otak saya. Saya hanyut dalam hal-hal baru yang tidak saya ketahui sebelumnya. Saya menjadi sangat excited membayangkan kondisi politik di Jepang pada tahun 1980an saat membaca 1Q84, saya tidak bisa berhenti terkagum-kagum mengenali sosok CEO Tesla dan SpaceX dalam biografi Elon Musk, saya terperangah tidak percaya saat membaca sudut pandang masyarakat Korea Selatan terhadap vegetarianisme dalam novel Vegetarian, saya merasa terpana saat menyadari bahwa manusia adalah satu-satunya hewan yang memahami konsep imagined realities seperti Tuhan, agama, organisasi, hukum, budaya, dan perusahaan seperti yang dijelaskan dalam buku Sapiens. Membaca jelas membuat saya yang hari ini lebih cerdas dari saya yang kemarin.

Kedua, aktivitas membaca ini semakin mendekatkan saya dengan orang terdekat saya, dalam hal ini Mamat. Dengan banyak membaca, kami jadi tidak pernah kehabisan topik untuk dibicarakan. Hari ini bisa saja Mamat mendongengkan saya kisah dan sejarah Genghis Khan yang termasyhur menguasai daratan Asia dan Eropa serta kenapa ia gagal menaklukan Jepang. Besoknya, gantian saya yang asik bercerita tentang bagaimana seorang atlet ultra marathon berhasil menerapkan diet vegan karena saya baru selesai membaca No Meat Athlete. Saat santai atau sebelum tidur kami juga sering bertukar pikiran tentang cahaya matahari sebagai sumber energi alternatif atau tentang bagaimana memasang solar panel di rumah impian kami di masa depan. Kami juga berbicara tentang masa depan umat manusia, para homo sapiens, di Mars dan perjalanan antarplanet. Kadang kami tidak berhenti berdiskusi seru dan menutup hari dengan lebih banyak pertanyaan untuk dicari tahu jawabannya dan lebih banyak topik untuk dibicarakan hari selanjutnya. Membaca mendekatkan kami.

Ketiga, membaca bagi saya bersifat menyembuhkan. Ketika saya sedih, bingung, marah atau merasa sangat emosional, I turn to Google to search for the right book or article to read. Pada suatu hari ada satu kejadian yang membuat saya kesal. Daripada melakukan sesuatu yang tidak sehat dan destruktif seperti marah-marah dan menyindir orang yang membuat saya kesal di Facebook,  saya mencari-cari artikel psikologi tentang anger management. Saya menghabiskan waktu berjam-jam melakukan riset kecil-kecilan tentang topik ini dan topik terkait lainnya seperti cara berperilaku proaktif dan mengurangi perilaku reaktif. Saat saya sedang merasa down, saya kembali mengambil buku. Saya mencari tahu tentang kenapa manusia kadang merasa depresi dan langkah apa yang bisa saya ambil untuk mengatasinya. Dengan demikian, membaca mengurangi stres.

Dengan banyak membaca saya jadi tahu betapa sederhana dan remehnya masalah saya dibandingkan ancaman nyata yang dihadapi umat manusia seperti pemanasan global. Saya jadi tahu bahwa saya bukan satu-satunya orang di dunia yang pernah merasa sangat sedih dan merana. Saya juga jadi semakin paham bahwa ada banyak persoalan yang jauh lebih penting untuk dipikirkan dan dikerjakan daripada memikirkan kenapa seseorang tidak menyukai saya atau, sebaliknya, berusaha mencari tahu kenapa seseorang melakukan hal-hal yang saya anggap konyol.

Membaca mengobati luka hati saya karena membaca membantu saya memahami sudut pandang orang lain dan membantu membangun karakter diri yang lebih positif. Saat seseorang marah terhadap saya atau mengkritik saya, saya akan merenung dan berpikir. Lalu saya mencari artikel psikologi tentang konfrontasi dan membina hubungan dengan orang lain. Saya jadi tahu bahwa ada begitu banyak hal-hal yang menjadi pemicu kemarahan seseorang dan salah satunya adalah ketidakmampuannya mengendalikan emosi, menerima emosinya dan mengelolanya dengan baik. Saya jadi tahu bahwa terkadang seseorang marah bukan karena faktor eksternal melainkan karena ia marah atas kekurangannya sendiri. Tetapi karena ia tidak mengetahuinya, atau tidak mau mengakuinya, ia menumpahkannya ke orang lain. Saya pikir ini teori yang bagus, karena saya sendiri juga pernah marah dan melampiaskannya ke orang. Tetapi, karena sekarang saya sudah paham, saya yang tadinya mau ikut marah jadi batal. Intinya, reading heals me and makes me a bigger person.

Membaca juga membantu saya memahami cara dunia bekerja. Dunia tidak bekerja berdasarkan keinginan dan idealisme saya. In fact, the world doesn’t give a sh*t about what I think it gives me or how it treats me. Bisa saja saya bekerja mati-matian untuk mendapatkan sesuatu, namun pada akhirnya saya gagal mendapatkannya. Atau, bisa saja saya berharap semua orang bisa patuh pada hukum dan bisa mengambil keputusan yang cerdas, tapi setelah membaca saya kemudian menyadari bahwa hal ini tidak mungkin karena saya tidak hidup di dalam utopia. Dunia tetap berjalan dengan ritme yang unik, sering kali tidak saya pahami, tidak peduli apakah hidup saya baik-baik saja atau tidak. At least, dengan membaca saya menjadi lebih paham akan banyak hal dan bisa menerima saat saya kehilangan gagasan tentang kenapa sesuatu terjadi.

Saya juga menyadari bahwa kebiasaan membaca mengurangi banyak ketakutan dalam hidup. Sebagai manusia, kita sering kali merasa takut dengan hal-hal yang kita tidak ketahui. Kita takut akan masa depan, kita khawatir dengan apa yang mungkin terjadi jika kita mengonsumsi makanan A atau minuman B, kita juga mungkin takut dengan keputusan yang kita ambil di masa lalu atau sekarang. Membaca berarti membuka pintu untuk cahaya memasuki hidup. Membaca baik-baik dan mempelajari manajemen investasi reksadana, misalnya, akan mengurangi kekhawatiran kita akan risiko unrealized loss atau kerugian yang belum direalisasikan. Membaca riset tentang pewarna dan pengawet makanan akan membuat kita lebih bijak dalam memilih apa yang masuk ke dalam tubuh kita dan mengurangi kekhawatiran tentang risiko penyakit seperti kanker. Mempelajari teori fisika dasar akan mengajarkan kita bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan saat mengganti tabung gas selama kita melakukannya dengan benar. Membaca membuat kita lebih bijak dan menghapus banyak kekhawatiran, termasuk ketakutan yang tidak rasional.

read-10

Hal yang tidak kalah penting dari membaca adalah aktivitas ini membuat cara berpikir saya menjadi lebih terstruktur dan dengan demikian saya mampu menyelesaikan masalah dengan efektif dan efisien. Dengan banyak belajar dan membaca, kita mampu menyederhanakan masalah. Membuat masalah yang besar menjadi kecil. Membuat hal yang rumit menjadi simple. Misalnya, orang yang tidak mau belajar dan membaca mungkin mengira masalahnya sebesar gajah di pelupuk mata, padahal bagi orang yang cerdas, masalah tersebut sesungguhnya sangat kecil dan mudah diselesaikan.

Pernah membaca buku pengantar filsafat, yang mungkin paling menarik dan terkenal di dunia, Sophie’s World? Pernah menyelami feminisme dalam The Second Sex yang ditulis Simone de Beauvoir? Mengerutkan kening saat memahami realitas kehidupan negara sosialis dan kediktatoran totaliter stalinis Korea Utara dalam buku Nothing to Envy? Membaca membantu kita memahami banyak konsep yang abstrak seperti kehidupan, emosi, agama, ideologi, politik, dan filsafat. Memahami konsep abstrak mengasah kemampuan berpikir kritis dan analitis. Jadi kalau kita (pernah) bertanya-tanya kenapa seseorang bisa jadi sangat relijius dan ekstrim, kenapa laki-laki sering merendahkan perempuan, kenapa orang yang tidak berpendidikan cenderung tidak mampu berpikir jauh ke depan, itu artinya kita perlu lebih banyak membaca. Dengan membaca, kita akan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita.

Membaca juga meningkatkan fokus dan konsentrasi.* Di dunia yang tidak pernah berhenti berbicara seperti sekarang, kita dikelilingi oleh mulut-mulut yang tidak berhenti berkata-kata, jari-jari yang sibuk menumpahkan kekesalan dalam 140 karakter, dan berita-berita hoax dan murahan yang membanjiri layar ponsel dan kaca. Membaca menjauhkan kita dari keriuhan dan membantu kita fokus pada satu hal, bahan bacaan di depan mata. Dengan banyak membaca waktu kita untuk memikirkan urusan remeh dan orang lain yang tidak menyenangkan akan jauh berkurang. Saat membaca konsentrasi kita penuh pada materi yang dibaca dan otak kita bekerja dengan lebih aktif. Bahkan ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa membaca juga memperlambat (atau bahkan mencegah) perkembangan penyakit mental seperti Alzheimer dan Dementia (pikun).**

read-9

Manfaat membaca selanjutnya adalah menambah perbendaharaan kata dan menjadikan kita penulis yang lebih baik. Pernah mencoba menulis blog lalu merasa kehabisan kata-kata? Pernah ingin menulis makalah namun kesulitan mengungkapkan ide yang ada di dalam kepala? Pernah merasa gagal menyampaikan maksud kita saat berkomunikasi dengan orang lain? Pernah menyadari bahwa kita bahkan tidak tahu bedanya imbuhan ‘di’ pada kata ‘dimakan’ dan ‘di’ sebagai preposisi dalam frasa “di sana”? Itu artinya kita kurang banyak membaca. Membaca menambah kosakata dan membantu kita mengomunikasikan ide dan gagasan dengan lebih baik.

Terakhir, membaca menyadarkan saya tentang betapa sedikitnya pengetahuan saya. Ada begitu banyak hal-hal di dunia yang tidak saya mengerti dan ketahui. Saya semakin menyadari bahwa semakin banyak kita mengetahui suatu topik, maka sebenarnya semakin sedikit pula pengetahuan kita tentang hal-hal yang lainnya. Membaca membuat kita jadi lebih bijaksana dan hati-hati dalam bertindak. Reading is truly a humbling experience.

Membaca memang bisa menjadi sangat sulit jika kita tidak biasa atau sudah lama tidak melakukannya. Namun, biasanya hal yang tersulit adalah memulai sesuatu yang baik. Jika kita sudah memiliki keberanian untuk memulainya, selanjutnya akan menjadi lebih mudah. It always takes some courage to start something. Yang terpenting adalah keinginan untuk maju dan terus belajar. Sesungguhnya orang yang paling tidak tertolong adalah mereka yang menyadari bahwa mereka banyak tidak tahu namun malas membaca. Jadi, ayo membaca lebih banyak buku dan menjadi orang yang lebih positif dan produktif, shall we? 🙂

 

Cheers,

Haura Emilia

 

Referensi bacaan:

*http://www.lifehack.org/articles/lifestyle/10-benefits-reading-why-you-should-read-everyday.html

**http://whytoread.com/why-to-read-10-reasons-why-reading-books-will-save-your-life/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

2 thoughts on “Manfaat Membaca: Nutrisi Hati dan Pikiran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s