Perspektif Korban: Antara Kemarahan, Permainan Psikologis, dan Mental Sinetron

“Saya bangun di tanah saya kok, bukan di tanah dia! Salah saya apa?”

“Namanya orang bangun rumah ya berisik!!! Kalau gak mau berisik pindah sana ke hutan!”

Njenengan itu tidak pengertian dengan situasi saya!!!”

“Saya ndak ada biaya bangun rumah sekaligus. Makanya dicicil. Dia HARUS ngerti dong situasi saya!”

Darah saya sempat mendidih saat mendengar tetangga sebelah ngomel-ngomel saat didatangi Pak RT. Kebetulan kami bertetangga dengan seorang bapak tua yang sedang merenovasi rumahnya. Si Bapak ini berniat menambah jumlah kamar di rumahnya untuk dijadikan kos-kosan. Karena keterbatasan biaya, dia pun memutuskan untuk membangun sendiri, tanpa bantuan tukang. Masalahnya adalah, sudah dua tahun pekerjaan bangun membangun ini belum juga selesai. Karena kami bertetangga, otomatis saya dan Mamat harus setia mendengar ketak-ketok suara palu dan suara-suara keras khas orang membangun lainnya.

Awalnya kami tidak terlalu masalah. Tapi lama-lama kami bete juga. Si Bapak sering kali mulai membangun (dan menimbulkan keributan) mulai pukul 6 pagi. Sebagai seorang yang bekerja dari rumah setiap hari lama-lama kami terganggu. Kami pernah dengan halus meminta si Bapak untuk tidak mulai bekerja terlalu pagi karena suaranya mengganggu, eh dia malah marah-marah dan tidak terima. Persoalan ini berlangsung selama lebih dari setahun saya tinggal di rumah ini. Saat tidak kuat lagi, kami pun mengadu ke Pak RT. Ternyata si Bapak mengamuk saat Pak RT menegurnya dengan sopan dan menyampaikan keluhan kami. Menurut si Bapak, dia tidak punya cukup biaya untuk membangun rumahnya jadi dia akan terus membangun kapan pun ia ada tambahan uang dan dalam jangka waktu yang tidak dapat dia tentukan.

Menurut Pak RT, karena si Bapak itu ‘orang susah’ (secara ekonomi), maka kami, yang perekonomiannya dianggapnya lebih baik,  harus menjadi pihak yang mengalah. Kami harus bersabar dan tidak boleh mengeluh. Kami juga disarankan untuk membiasakan diri dengan suara-suara mengganggu sampai jangka waktu yang hanya Tuhan yang tahu. Satu-satunya solusi dari Pak RT adalah: kami harus bersabar. Di sini Pak RT dan si Bapak Tetangga mengeluarkan kartu permainan ‘Si Miskin’ dan ‘Si Kaya’. Si Miskin Benar Si Kaya Salah. Persis seperti saat motor menabrak mobil di jalan. Si Motor Pasti Benar Si Mobil Pasti Salah. Karena Saya Miskin Maka Saya Benar. Karena Saya Marah Maka Saya Benar. Pokoknya Saya Benar Kamu Salah. Saya Korban Kamu Pelaku. Saya yang Menderita. Kamu Berdiri di atas Penderitaan Saya. Lalu saya marah-marah, teriak-teriak dan menangis. Zihan Fahira kembali ke layar kaca. Dramatis. Sinetron abis.

Saya dan Mamat memang akhirnya memilih untuk mengalah dan tidak memperpanjang urusan dengan si Bapak ketimbang membuang-buang waktu dan energi berdebat dengan orang yang keras kepala dan sama sekali tidak mengerti soal public dan private space, kepentingan umum, dan soal tenggang rasa. Tapi peristiwa ini membuat saya jadi banyak berpikir soal emosi bernama marah. Ketika kita marah, kita cenderung lebih senang menggunakan perspektif si korban ketimbang mengelola kemarahan kita dengan cara yang tidak destruktif. Dalam teori psikologi barat ini disebut dengan playing victim.

Pada dasarnya semua manusia memiliki mekanisme pertahanan diri. Saat manusia merasa terganggu atau keselamatan dan kenyamanannya terancam, kita cenderung mengambil langkah untuk melindungi diri kita dari segala bentuk rasa sakit dan tidak nyaman ini. Salah satu mekanisme pertahanan diri adalah dalam bentuk rasa marah. Marah sebenarnya adalah bentuk emosi irasional yang tidak memerlukan justifikasi atau pun penjelasan. Yang perlu kita lakukan adalah mengenali dan menerima kemarahan itu dan menyalurkannya dengan cara yang positif. Sayangnya, kebanyakan dari kita terjebak dalam permainan persepektif korban atau playing victim.

Playing victim adalah situasi saat kita marah dan melihat diri kita sebagai ‘korban keadaan’. Saat memainkan peran korban ini kita cenderung merasa bahwa dunia dan orang sekitar kita sangat tidak adil. Kita merasa orang memperlakukan kita dengan sangat buruk. Kita merasa kita telah berbuat ABCD untuk orang lain namun tidak dihargai. Kita menjadi depresi. Kita berpikir bahwa dunia berutang kepada kita. Kita banyak menggunakan kata-kata seperti ‘seharusnya’, ‘tidak adil’, dan efeknya kita merasa sangat sakit dan terluka.

Dalam kasus si Bapak Tetangga di atas, alih-alih memikirkan kepentingan kami, sebagai tetangganya yang terganggu, si Bapak merasa dia lah korban dalam situasi ini. Dia merasa kepentingannya membangun rumah dan mencari nafkah dihalangi oleh sepasang suami istri yang mengeluhkan keributan yang dia timbulkan. Dia merasa bahwa dia adalah orang ‘miskin’ yang terzolimi dan kami adalah orang ‘kaya’ yang kejam dan tidak punya perasaan. Lalu, saya sendiri, apakah saya lebih baik dari si Bapak Tetangga? Dalam banyak kasus, saya rasa tidak juga.

Ketika marah, saya pun tanpa sadar sering memainkan peran ‘si korban’ ini. Contohnya, saya dulu marah waktu saya gagal mengerjakan ujian matematika. Saya menangis dan menyalahkan guru saya yang terang-terangan menyebut saya ‘bodoh’. Setelah lebih dewasa, saya juga menyalahkan sistem pendidikan dan kurikulum yang saya anggap konyol dan banyak cacatnya. Saya merasa marah dan sedih. Saya merasa menjadi ‘korban’. Saya frustasi, merasa bodoh, dan saya berusaha membuat orang lain mendukung saya dengan meminta simpati mereka. Terlepas dari verbal abuse yang dilakukan guru saya dulu dan fakta bahwa saya waktu itu masih berumur 14 tahun, saya sendiri gagal mengelola kemarahan dan rasa frustasi saya selama bertahun-tahun. Alih-alih mencari solusi bagaimana caranya supaya saya bisa mengerjakan soal matematika, saya memilih untuk menangis dan mengasihani diri saya sendiri. Saya memilih untuk menjadi korban.

Saya rasa saya tidak sendiri dalam hal ini. Banyak di antara kita yang memilih untuk playing victim daripada mengelola emosi kita dan mencari solusi atas masalah yang kita hadapi. Saat orang tua memarahi kita misalnya, kita lebih suka menangis mengasihani diri dan berpikir bahwa orang tua kita begitu kejam. Ketika gaji kita tidak dibayar-bayar oleh perusahaan, kita memilih untuk memaki-maki perusahaan serta memarahi orang yang menasihati kita untuk mencari pekerjaan lain daripada merencanakan Plan B atau Exit Plan. Kita memilih untuk menyebut pasangan kita tidak perhatian daripada memikirkan alasan kenapa dia tidak perhatian dan apa yang bisa kita lakukan untuk mengubahnya.

Tidak. Kita tidak suka mengevaluasi dan meninjau keadaan. Semata karena dibutuhkan keberanian untuk mengakui kalau kita salah. Karena mencari solusi itu butuh waktu dan usaha yang tidak sedikit. Lebih mudah menyalahkan orang lain. Lebih mudah masuk ke kamar, menangis sepuasnya dan berpikir bahwa dunia ini tidak adil. Lebih mudah memaki-maki dan menyebut orang lain berengsek. Lebih mudah kabur dari rumah dan ‘meninggalkan’ masalah. Lebih mudah meng-unfriend sumber malapetaka kita di media sosial. Lebih mudah koar-koar di media sosial menyindir orang yang kita tidak suka daripada berkaca dan mengoreksi diri. Lebih mudah merasa lebih suci dan tertindas daripada berkontemplasi. Yes, we all do that, sometimes.

Sayangnya, kondisi sosial kita sering kali memupuk dan menyuburkan permainan psikologis ini. Coba kita tonton saluran TV lokal kita. Sinetron dan acara-acara sampah bertebaran. Isinya semua sama. Karakternya sama. Selalu hitam dan putih. Si miskin sering digambarkan sebagai pihak yang selalu baik dan benar. Si kaya adalah pihak yang kejam dan tak berperasaan. Si perempuan adalah pihak yang lemah, si laki-laki pihak yang dominan. Plot sinetron pun selalu sama, tokoh-tokohnya adalah manusia-manusia galau yang gemar bermain sebagai korban. Mereka menangisi nasibnya ditinggal calon pacar potensial, yang lain merasa ditindas seumur hidup hanya karena dia jelek atau jomblo. Air mata berurai di setiap episode. Doa-doa berkumandang. Kaum A sebagai mayoritas (anehnya) merasa ditindas kaum B si minoritas atau sebaliknya. Pokoknya dunia kejam. Mereka cuma bisa menangisi keadaan dan berdoa. Atau, kalau tokohnya ini punya otot, dia tinju orang yang ngasih dirinya masalah. Setelah itu dia kembali menyesali hidupnya. Jadi pecandu narkoba atau anak jalanan. Hidup luntang-lantung. Kebut-kebutan di jalan. Nabrak orang. Masuk penjara. Dramatis abis.

Media sosial juga tidak membantu. Timeline Facebook kita penuh dengan orang-orang yang mengeluhkan pekerjaannya, rumah tangganya, kondisi ekonominya, calon gubernurnya, dst. dst. Belum lagi Instagram. Semua orang memamerkan hidupnya. Ada yang terlihat begitu sukses dan menarik. Orang-orang ini membuat kita merasa dunia tidak adil. “Kenapa dia bisa kece dan kaya raya begitu, ya?”, “Kenapa Farah Quinn bisa makan banyak dan enak tapi tetap seksi?”, “Kenapa saya begini-begini saja?”, “Dunia memang tidak adil. Saya korban ketidakadilan ini.” Lalu alih-alih berolahraga dan menerapkan pola makan sehat supaya seperti Farah, dia memilih manyun dan minum capuccino cincau, 800 kalori per gelas. Lalu ngaca dan merasa gendut dan jelek. Lalu membenci Farah dan menangisi nasib. Sekali lagi, dramatis abis.

Dr. Robert Firestone pernah menulis tentang beberapa cara untuk berhenti menggunakan pola pikir korban. Yang pertama adalah dengan cara mengenali ‘inner voice’ yang berfokus pada ketidakadilan.* Kalimat-kalimat seperti “Ini gak adil”, “kenapa ini menimpa saya?”, “Salah saya apa?”, “Dia benci saya!”, “Dia sungguh jahat!”, “Saya gak terima diperlakukan begini!”, “Hati saya sakit” jika tidak dikenali bisa membawa kita pada situasi yang tidak menyenangkan dan membahagiakan. Suara-suara negatif ini hanya akan menyakiti kita dari dalam. Mengenali suara-suara ini membantu kita menghindari perspektif ‘korban’. Jadi, berhentilah jadi seorang masokis dan stop menyiksa diri dengan pikiran-pikiran negatif.

Kita juga harus belajar bahwa marah adalah sebuah bentuk emosi dan dengan demikian berbeda sifatnya dengan tindakan atau action. Kita boleh saja marah, namun menuangkannya dalam bentuk makian atau serangan fisik terhadap orang lain adalah hal yang sama sekali berbeda. Marah dan menumpahkannya di media sosial adalah dua hal yang berbeda. Marah adalah bentuk emosi alami dan wajar, sedangkan memaki orang adalah bentuk tindakan yang kita pilih karena kita tidak tau cara mengelola amarah kita. Kita sebenarnya frustasi dengan keadaan kita tapi karena kita tidak mampu menguasai diri, kita memilih untuk menumpahkannya ke orang lain. Dengan begitu kita merasa lebih baik dan lebih ‘suci’. Sekali lagi, kita memilih untuk jadi korban.

Kita harus belajar bertanggung jawab atas tindakan kita. Daripada marah atau kesal terhadap perusahaan karena kita tidak kunjung dipromosikan atau dapat bonus, sebaiknya kita mengevaluasi kinerja kerja kita selama ini. Apakah saya tidak dipromosikan karena saya gaptek atau tidak menguasai skill tertentu? Daripada menyalahkan orang lain atas ‘kemiskinan’ kita, lebih baik kita evaluasi diri dan cara kita mengelola keuangan. Daripada merasa inferior dengan ilmu kita yang sedikit, lebih baik gunakan waktu kita untuk belajar atau melakukan hal yang produktif lainnya.

Terakhir, kita perlu menyadari bahwa dunia tidak berutang apa-apa kepada kita. The world owes us nothing, not a good living, not nice people, not happiness, and definitely not an easy life. Nothing, dear! Kita harus berhenti memiliki ekspektasi yang tidak masuk akal, seperti bahwa dunia ini harus adil atau bahwa tidak boleh ada satu orang pun yang menyakiti hati kita nan rapuh. It’s not! Dengan demikian kita akan perlahan berhenti menyalahkan segala sesuatu di luar diri kita, berhenti membenci semua orang, berhenti menganggap semua orang buruk (kalau mereka bertindak tidak sesuai dengan keinginan kita), dan mulai mencari solusi atas setiap permasalahan yang ada.

Kembali ke soal si Bapak Tetangga yang tidak terlalu menyenangkan tadi, solusi kami kemungkinan adalah pindah rumah ke lingkungan yang menurut pengamatan kami tidak ‘terlalu bermasalah’. Toh, kami tidak kehilangan apa-apa dengan pindah, selain sedikit ketidaknyamanan urusan pindahan. Setidaknya kami mencari dan telah menemukan solusinya, tanpa harus adu jotos dengan si Bapak, tanpa perlu menghabiskan hari-hari kami dengan mengutuk si tetangga tidak toleran dan menjadi korban atas ‘tidak adilnya hidup’. 🙂

 

 

Cheers,

Haura Emilia

 

*Useful reading by Dr. Robert Firestone: https://www.psychologytoday.com/blog/the-human-experience/201304/how-stop-playing-the-victim-game

 

 

 

Iklan

Tentang liburan….

Sebagai seseorang yang berprofesi sebagai freelancer, volume pekerjaan saya sebenarnya cukup lumayan. Ini berarti saya bekerja Senin-Jumat atau setiap hari. Yang membedakan saya dengan pekerja kantoran adalah volume pekerjaan saya yang berbeda-beda setiap harinya. Kadang saya bekerja 8-14 jam sehari. Kadang saya hanya bekerja 1-2 jam sehari. Ada kalanya juga saya harus bekerja saat akhir pekan. Yang jelas, setiap hari saya ada pekerjaan. Mamat agak sedikit berbeda. Volume pekerjaan Mamat cenderung lebih banyak dari saya karena jumlah klien dia memang lebih banyak dari saya dan dia memang lebih rajin saja, sih. Hehe.

Seperti halnya pekerja yang lain, ada kalanya saya merasa sangat lelah, bosan, atau malah stres. Beberapa waktu yang lalu titik kebosanan saya bekerja (dan melihat Mamat bekerja) sampai pada puncaknya. Kenapa? Karena beberapa bulan sebelumnya Mamat bekerja lumayan gila-gilaan, 12-14 jam sehari, atau kadang lebih, Senin-Minggu, selama beberapa bulan (saya lupa pastinya berapa lama keadaan ini berlangsung). Saya pun mengajak Mamat liburan. Saya bilang, “Liburan yuuk?”. Setelah meyakinkan Mamat dan mengatur jadwal serta memberi tahu klien bahwa kami mau ‘cuti’, kami pun terbang ke Lombok. Kebetulan sekali, ada penerbangan langsung dari Solo ke Lombok. Senaaang! 😀

Kami menghabiskan 7 hari di Lombok. Ngapain aja 7 hari di sana? Niat kami liburan adalah ingin bersantai, maka kami tidak terlalu memikirkan itinerary-nya. Persiapan yang kami lakukan hanya pesan tiket pesawat, pesan akomodasi selama di Lombok dan Gili Air, dan packing 2 ransel kecil. Sudah itu saja. Empat hari pertama kami habiskan di daerah Senggigi. Aktivitas kami di Senggigi cuma sarapan, berenang, baca buku sambil leyeh-leyeh di pinggir kolam renang, dan sore harinya baru kami jalan-jalan ke pantai Senggigi dan area sekitar hotel.

Hari ketiga baru kami keluar hotel seharian. Kami menyewa motor dan menempuh jarak 130 km PP, menjelajahi pantai-pantai di selatan Lombok. Hari ke-4 dan ke-5 kami menyebrang ke Gili Air dan menginap 2 malam di sana. Di Gili Air pun aktivitas kami kurang lebih sama. Berenang di kolam renang, berendam di laut, jalan kaki keliling pulau, dan lari pagi. No parties and crazily-packed itinerary. Hari ke-6 kami kembali ke Lombok dan mengunjungi desa adat suku sasak, lalu check-in di hotel dekat bandara.

 

Yang menarik, selama di villa di Senggigi dan Gili Air, Mamat dan saya adalah satu-satunya tamu lokal. Yang lainnya adalah turis asing. Karena kebanyakan aktivitas kami adalah bersantai, saya jadi mengamati orang-orang asing ini. Kebanyakan (kalau tidak semua) dari mereka tinggal di Lombok atau Indonesia untuk waktu yang lumayan lama dibandingkan waktu liburan orang Indonesia yang saya kenal. Ada yang menghabiskan waktu 2 minggu sampai sebulan di Lombok. Malah ada yang sudah tinggal di Gili Air selama berbulan-bulan. Apa saja yang mereka kerjakan di Lombok? Berjemur. Yup, tanning di pinggir pantai atau kolam renang. Entah itu sambil baca buku atau benar-benar berbaring saja. Beberapa malah benar-benar tidur berjam-jam beralaskan kain bali di bawah teriknya sinar matahari.

tanning

Saya pun jadi senyum-senyum sendiri membandingkannya dengan gaya berlibur kebanyakan orang Indonesia yang saya kenal. Orang kita cenderung liburan dalam rentang waktu yang lebih singkat dan kalau sudah liburan biasanya jadwalnya sangat padat supaya bisa mengunjungi sebanyak mungkin tempat wisata dalam waktu yang sangat singkat itu.

Pagi-pagi sudah heboh bangun dan mandi, lalu pergi rame-rame dengan mobil/bis sewaan (kalau perginya rombongan). Persis kayak waktu liburan dengan teman-teman satu sekolah jaman SMP dan SMA dulu. Kalau ke pantai mereka biasanya cuma menghabiskan waktu 10-30 menit untuk foto-foto lalu pergi lagi ke tujuan berikutnya. Suatu hari saat saya sedang santai berbaring di sun lounger di pantai Selong Belanak, saya melihat beberapa orang ibu-ibu PKK atau arisan heboh datang dan foto-foto di pantai. Saya amati beberapa turis asing sempat memperhatikan mereka asik foto-foto. 10 menit kemudian ibu-ibu ini pergi. Yaah, gak mau leyeh-leyeh dulu, bu? Panas, mbak. Lalu lanjut pake topi, sunblock dan jaket.* Hihihi…

Lalu saya jadi berpikir. Orang-orang asing ini sesungguhnya sudah sejak lama menguasai seni berdiam diri, alias gak ngapa-ngapain. The art of doing nothing. Liburan (terutama ke pantai) bagi mereka adalah saatnya untuk istirahat dan rileks. Makanya, mereka bisa menghabiskan satu hari penuh ‘cuma’ tiduran di satu pantai dan main air. Di malam hari mereka juga biasa berendam di kolam renang. Benar-benar berendam saja, bukan berenang, sambil minum cocktail. Saya sendiri pun yang dasarnya suka bermalas-malasan sangat menikmati aktivitas yang sama, jadi cenderung punya gaya liburan yang sama.

Sebelumnya saya tidak pernah berpikir soal  the art of doing nothing ini. Saya hanya termasuk orang yang malas liburan serba terburu-buru dan memaksakan diri mendatangi semua objek wisata dalam waktu yang sangat singkat. Waktu saya dan Mamat berlibur ke luar negeri pun, kami sangat santai dan tidak punya itinerary yang jelas atau padat. Tapi setelah ke Lombok kemarin, saya jadi benar-benar mengamati dan menikmati the art of doing nothing.

Suatu malam di sebuah restoran tepi pantai, saya dan Mamat juga berdiskusi ringan soal kenapa orang Indonesia jarang liburan dan kalau liburan pun biasanya dalam waktu yang relatif singkat (2-4 hari). Sambil makan pizza dan fries, kami pun ngobrol-ngobrol soal alasannya.

Hal pertama yang terlintas adalah alasan finansial. Buat begitu banyak orang kita, liburan adalah barang mewah. Apalagi buat yang memiliki keluarga besar atau anak lebih dari 2 orang. Saya sendiri menyadari ini karena sewaktu saya kecil saya termasuk jarang berlibur. Saya baru bisa sering berlibur setelah saya mulai bekerja dan menabung. Hihi.

Kedua, masalah cuti. Kelas menengah kita mungkin saja punya cukup uang untuk berlibur, tapi mereka kepentok sama cuti. Cuti. Sebuah kata keramat bagi semua kaum buruh dan kelas menengah kita. Setahu saya, kebanyakan orang Indonesia punya jatah cuti yang singkat, sebanyak 12 hari kerja dalam setahun. Ini pun sering kali dipotong ‘cuti bersama’. Pekerja kelas menengah juga kadang dipaksa pemerintah cuti pada waktu yang bersamaan. Belum lagi beberapa perusahaan cukup kejam dan hanya memberikan cuti kepada pegawai yang sudah satu tahun bekerja. 😦 Jadi KAPAN DONG LIBURAN SELAIN LEBARAN DAN NATALNYA, PAK/BU???!!! 😦 Jadi dengan sisa cuti yang sangat sedikit ini lah kebanyakan masyarakat urban kita memanfaatkan waktunya untuk berlibur. Hasilnya? Liburan kilat.

Alasan ketiga mungkin karena berlibur atau travelling belum menjadi budaya sebagian besar orang kita. Saya kenal dengan pasangan suami isteri yang menasehati anaknya untuk tidak makan di luar atau liburan karena lebih baik uangnya ditabung walaupun mereka tahu anak mereka berpenghasilan 40 juta/bulan dan hanya punya satu orang anak balita. Liburan dan aktivitas bersenang-senang lainnya masih dianggap sebagai ‘kegiatan buang-buang uang’. Banyak yang belum menyadari manfaat berlibur dan travelling.

Saya pribadi bertekad untuk membawa anak(-anak) saya kelak untuk berlibur dan travelling ke tempat-tempat baru setiap tahunnya. Berlibur sebenarnya bukan melulu soal masalah uang, tapi juga masalah mental. Siap gak tabungan berkurang banyak? Siap capek? Siap tidak nyaman berpisah dari semua kemudahan yang kita dapatkan di rumah? Siap mengalami kejadian-kejadian tak terduga di tempat yang sama sekali asing? Siap nyasar? 🙂 Saya percaya kalau berlibur, apakah itu hanya sekadar bermalas-malasan atau sibuk pindah dari satu tempat ke tempat yang lain akan memberikan banyak manfaat dan menambah pengetahuan. Seperti kali ini, saya belajar tentang seni tidak melakukan apa pun dan memikirkan alasan kenapa orang Indonesia cenderung jarang liburan dan kalau liburan pun semuanya serba ekspres.

Jadi, kapan nih mau liburan (lagi)? 🙂

 

Cheers,

Haura Emilia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Let’s Cook! Resep Okonomiyaki

Halo semuanya!

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, saya suka mencoba berbagai macam jenis resep masakan. Resep masakan yang pernah saya coba cukup beragam, mulai dari masakan Indonesia (trio masakan Jawa-Menado-Padang), barat, Jepang, Korea, dan Thailand. Kalau lagi bosan dengan masakan Indonesia, saya googling resep-resep masakan luar yang biasa atau pernah saya coba di berbagai restoran di dalam dan luar negeri.

Tantangan dari memasak masakan asing adalah bumbu atau bahan yang kadang sulit kita temukan di pasar/supermarket terdekat. Strategi saya biasanya adalah mengganti bahan atau bumbu yang tidak ada atau sulit ditemukan ini dengan bahan yang paling mirip atau sejenis. Kalau tidak ada juga baru saya menyerah dan memilih untuk tidak menggunakan bahan tersebut. :p Hal ini tentu mengurangi nilai keaslian masakan, terutama dari sisi rasa. Tapi yah, ini tidak seharusnya menjadi penghalang kita untuk belajar dan mencoba sesuatu yang baru, bukan? 🙂

Salah satu masakan favorit saya adalah masakan Jepang, jadi saya senang mencoba resep masakan Jepang. Salah satunya adalah okonomiyaki. Okonomiyaki bisa disebut ‘pancake Jepang’. Asal katanya adalah ‘okonomi’ yang artinya ‘apa yang kamu suka’ dan ‘yaki’ yang artinya ‘panggang’. Jadi intinya ‘memanggang apa pun yang kamu suka’. lol. XD Biasanya okonomiyaki dibuat dari tepung, telur, kol, irisan bacon, dan bagian atasnya dioleskan saus yang terdiri dari mayonnaise, rumput laut kering, saus khusus okonomiyaki, katsuobushi (remahan daging ikan cakalang kering), dan irisan daun bawang.

Berikut ‘penampakan’ okonomiyaki pada umumnya:

193px-okonomiyaki_1

Photo by: Hajime NAKANO https://en.wikipedia.org/wiki/Okonomiyaki

Karena sulit menemukan saus okonomoyaki yang autentik, saya menggantinya dengan saus barbecue botolan yang mudah ditemukan di supermarket. Untuk katsuobushi bisa kita beli di toko online yang menjual bahan masakan Jepang, atau kalau tidak mau ribet bisa kita skip saja. 🙂 Lalu, karena saya tidak makan bacon atau daging hewan berkaki empat lainnya, saya ganti dagingnya dengan suwiran daging ayam yang sudah direbus dan atau daging cumi, udang atau scallop. Kalau Anda vegetarian, silakan skip isian dagingnya. Untuk sayurannya sebenarnya terserah kita, tapi yang biasanya ‘wajib’ digunakan adalah irisan kol.

Oke, langsung saja kita coba resep okonomiyaki yang sudah saya modifikasi ini, ya. 😀

Resep okonomiyaki untuk 2 porsi

Bahan dasar:

Telur 3 butir, kocok

Tepung terigu 3 sdm

Tepung maizena 1 sdm

Garam 1/4 sdt

Merica 1/4 sdt

Minyak zaitun 2 sdm

Isi:

Kol besar 1/4 buah

Wortel 1 buah

Ayam rebus yang sudah disuwir secukupnya/cumi matang/udang masak

Saus dan taburan:

Saus barbecue botolan 3sdm (saya pakai merek Del Monte)

Mayonnaise 3 sdm (Saya pakai merek Euro Gourmet, beli di Carrefour)

Rumput laut kering panggang secukupnya (dried seaweed, saya pakai merek Mamasuka)

Daun bawang 1/2 batang

katsuobushi (beli di toko online) – silakan di-skip kalau malas repot 🙂

Cara membuat:

Iris kol dan serut wortel, letakkan di mangkuk besar.

Masukkan tepung terigu dan tepung maizena.

Masukkan telur yang sudah dikocok.

Masukkan suwiran ayam/cumi/udang yang sudah terlebih dulu dikukus atau direbus.

Aduk semuanya, tambahkan garam dan merica.

Panaskan minyak zaitun (olive oil) di teflon dengan api kecil dan masukkan adonan ke dalamnya.

Pastikan api kecil. Tutup teflon. Setel alarm selama 5 menit.

Setelah 5 menit, balik adonan, tutup teflon dan masak lagi selama 3 menit.

Angkat okonomiyaki yang sudah masak. Tuangkan dan oles permukaan okonomiyaki dengan mayonnaise dan saus barbecue.

Taburi okonomiyaki dengan rumput laut kering, daun bawang, dan katsuobushi.

Jjaang, jadi deh! 🙂

okonomiyaki-h-2

Untuk memastikan okonomiyaki utuh saat dibalik, gunakan teflon yang tidak terlalu besar. Jika teflon besar, bagi adonan jadi dua lalu masak satu persatu. Yumyum! 🙂

Yang paling saya sukai dari okonomiyaki adalah tingkat kemudahan membuatnya dan kandungan nutrisinya yang cukup lengkap. Kita bisa mendapatkan protein, karbohidrat, vitamin dan mineral dari satu hidangan saja! Minyak yang digunakan pun sangat sedikit dan saya sarankan memakai olive oil karena hasilnya lebih enak dan tentunya lebih sehat. Kalau punya waktu lebih, kita juga bisa membuat saus barbecue dan mayonnaisenya sendiri. Lain kali saya akan tulis resep membuat saus barbecue dan mayonnaise.

Jadi tunggu apa lagi? Selamat mencoba! 🙂

 

Cheers,

Haura Emilia

 

 

Catatan: Mohon untuk tidak menyalin (copy paste) dan memublikasikan resep dan foto di atas tanpa seizin saya. Saya tidak bisa mengajarkan Anda untuk jadi manusia yang terhormat dan menghargai karya orang lain. Cuma diri Anda sendiri yang bisa melakukannya. Terima kasih sudah mampir. 🙂