Cerita Satu Tahun Bersama

Halo semuanya,

Tanggal 1 Maret kemarin saya dan Mamat resmi satu tahun menikah. Memang belum lama, tapi sudah cukup banyak yang saya rasakan. Semua perasaan itu bisa saya simpulkan dengan 2 kata: sangat bahagia. Banyak yang bilang bahwa perasaan bahagia di tahun pertama pernikahan itu biasa, bahwa itu semata karena baru menikah saja. Banyak juga yang bilang (dan menakut-nakuti) bahwa lama-kelamaan pasangan kita akan menunjukkan ‘gigi taringnya’, dan jika itu terjadi dan kita tidak menyukainya maka tidak ada yang bisa kita lakukan selain ‘pasrah menerima’ atau dalam kasus yang parah ‘memilih bubar’ sekalian.

Saya adalah tipe orang yang sedikit sulit membina hubungan sangat akrab dengan orang lain dan ekspektasi umum saya terhadap hubungan antar manusia dalam institusi bernama pernikahan cenderung realistis dan pragmatis. Tapi, entah bagaimana saya dan Mamat berhasil menjadi partner yang baik bagi satu sama lain. Kalau saya ingat-ingat lagi mungkin berikut ini alasannya:

  1. He is a feminist and I am glad he is

Mamat sama sekali tidak pernah memproklamirkan diri sebagai ‘male feminist’. Ini tidak perlu, karena sikap dia menjelaskan semuanya. Yang suka membaca tulisan-tulisan blog atau status-status FB saya pasti sudah tau kalau Mamat bisa melakukan semua ‘pekerjaan perempuan’ seperti memasak, bersih-bersih rumah, mencuci baju, belanja ke pasar, dan mengurus anak kecil. Keterampilan ini membuatnya sama sekali tidak perlu bergantung pada perempuan manapun untuk ‘mengurusnya’. Dia bercerita kepada saya bahwa kriteria utama dia dalam mencari istri bukanlah sosok perempuan yang bisa ‘mengurus’ dirinya dan memanjakan dirinya secara berlebihan dengan memasak makanan yang enak setiap hari atau sosok ‘ibu sempurna’ yang bisa jadi super mom yang bisa mengurus anak, suami, dan rumah tanpa cela. Dia mencari perempuan untuk menjadi teman hidup, yang bisa menjadi teman diskusi, berbagi kebahagiaan dan kesulitan bersama-sama. Dia mencari perempuan yang memahami sisi ‘quirky’-nya dan bisa tumbuh bersama dirinya.

Dia feminis karena dia menjadikan saya sosok yang sama pentingnya dalam rumah tangga. Dia menanyakan dan mendengarkan pendapat saya, dia tidak pernah secara semena-mena menyuruh saya ini itu hanya karena dia ‘suami’ dan saya ‘istri’. Dia juga mendukung setiap perkembangan dan kemajuan saya sebagai individu. Dia mendukung saya belajar hal-hal yang baru, dia berpendapat bahwa saya punya kesempatan yang sama dengan dirinya untuk bekerja dan belajar. Dia tidak melarang saya ini itu, tidak mengatur saya harus begini begitu. Dia membiarkan saya mengecat rumah, menyetir mobil, main game kalau saya bosan, dan saya yakin dia tidak akan keberatan dan meremehkan saya kalau saya tiba-tiba bilang ingin belajar panjat tebing, coding, Thai boxing atau mencangkul tanah untuk menanam cabe misalnya. Dia tahu bahwa saya bisa melakukan apa yang saya mau. Dia tidak merendahkan kemampuan saya hanya karena saya perempuan. Dan dia menghormati saya.

2. We give each other time to be and to be just alone with ourselves, sometimes

Ada kalanya laki-laki butuh waktu buat dirinya sendiri, tanpa ditemani siapa pun. Dulu saya kesal dan tidak habis pikir kalau pacar saya tiba-tiba ‘menghilang’ atau ‘tidak mau bicara’ dan kalau ditanya jawabannya cuma “gak papa’. Tapi sekarang saya mengerti, laki-laki kebanyakan memang begitu. Kalau mood Mamat tiba-tiba ingin sendirian, dia akan diam dan biasanya tenggelam dalam pekerjaannya. Kalau masa-masa ini datang saya akan cari kesibukan sendiri dan tidak mengganggunya. Biasanya saat-saat seperti ini hanya bertahan paling lama 12 jam. Setelah itu dia akan mulai ceria dan mengajak saya bercerita seperti biasa.

Saya tidak pernah usil mengecek hape Mamat dan dia juga tidak usil dengan hape saya. Kami tidak menganggap mengecek hape satu sama lain sebagai hal yang perlu. Kalau saya perlu pakai BB (dia pakai Blackberry) atau jika dia butuh iPhone, kami tinggal bilang dan meminjam hape yang lain. Mamat juga membiarkan saya pergi ke Jakarta sendirian untuk mengunjungi orang tua saya kalau dia sibuk dan tidak bisa ikut. Saya pun membiarkan dia pergi sendiri kalau sesekali dia ingin bermain PS sama teman-temannya. Saya gak usil pengen ikutan atau ngambek. Paling parah saya titip pesan sponsor seperti “jangan lewat tengah malam” atau “jangan lupa bawa kunci biar kamu bisa masuk tanpa bangunin aku, ya”.

Lucunya, kalau saya tanya “kalau aku gak izinin kamu pergi gimana?” dia akan bilang “ya aku tinggal bilang sama temenku aku gak bisa ikutan.” Begitu saja. Tanpa marah. Tanpa emosi. Tanpa teriak atau adu argumen gak penting. Asiknya, dia tidak keberatan misalnya saya bilang saya mau girls’ night out atau bahkan liburan beberapa hari hanya dengan adik saya atau teman-teman saya. Dia bahkan membiarkan saya membeli tiket dan menonton konser Girls’ Generation di Jakarta! Dia dan saya tahu kalau kami sama-sama bisa memercayai satu sama lain dan bahwa kami akan pulang ke satu sama lain.

3. We respect each other

We don’t shout and try to kill each other when we disagree. Biasanya kami sepakat untuk cari jalan tengah atau salah satu mengalah. Misalnya dia ingin makan pecel dan saya ingin makan makanan Korea maka kami sepakat untuk makan pecel dulu hari ini dan besoknya ke restoran Korea. Atau, untuk masalah yang lebih ‘berat’ seperti masalah apakah kami harus mengeluarkan uang kurban dengan cara membeli kambing atau menyumbangkan uangnya langsung, biasanya kami akan sepakat untuk memenuhi keinginan masing-masing secara bergantian. Dia juga tidak memaksa saya harus punya anak kapan atau mau punya anak berapa.

Prinsipnya sederhana, “why would you hurt each other if you love each other?”

Ini yang membuat kami merasa sangat nyaman dengan satu sama lain. Kami tidak memarahi atau membuat tidak nyaman satu sama lain.

 

4. No preaching but leading by giving examples

Mamat bukan tipe yang suka menceramahi orang, termasuk istrinya. Jika menurut dia dia bisa melakukan sesuatu dengan lebih baik dari saya, dia akan langsung memberi contoh saja. Tanpa banyak kata-kata. Kalau menurut saya cara dia mengiris bawang lebih keren, saya langsung ingin belajar. Dia juga tidak merasa ‘diinjak-injak’ atau ‘digurui’ kalau saya memberikan dia saran (walaupun dalam sebagian besar kasus dia melakukan apa-apa lebih ‘beres’ dari saya. Hahaha..).

 

5. We put each other first.

Yep. On top of everything. 

 

6. We enjoy each other’s presence, a lot.

Kami menghabiskan waktu 24 jam sehari, 7 hari seminggu karena sama-sama bekerja dari rumah. Bosan, gak? Nope. Sebaliknya, kami banyak tertawa. Bahkan sebagian besar isi percakapan kami selalu dipenuhi dengan tawa dan hal-hal yang sering kali tidak penting. Kalau saya mulai khawatir berlebihan tentang apa pun, dia akan bilang “Santai, yang. Enjoy aja. Everything’s gonna be alright“.

Kalau saya mulai ngomel-ngomel gak jelas dan kurang penting, dia lagi-lagi cuma senyum atau tertawa dan bilang “kamu kok bisa sih ngomong sepanjang itu dalam satu tarikan napas?”. Saya yang tadinya bete atau kesal jadi tertawa juga. Dia juga suka ‘menghina’ saya yang biasanya dilanjutkan dengan saling ‘hina’ satu sama lain. Peraturan main hina-hinaan ini cuma satu, gak boleh marah dan kita harus tetap sadar bahwa ini cuma bercanda and we don’t mean it.  We stay fresh by being silly.

7. Kami menerima satu sama lain apa adanya. Dia tidak perlu jadi Superman. Saya tidak perlu jadi Wonder woman.

8. Kami memilih untuk menjadi dewasa.

Menjadi dewasa adalah hal yang sangat penting dalam hubungan dua orang. Menjadi dewasa berarti memahami bahwa untuk dapat hidup bersama, dua orang akan selalu harus berkompromi. Menjadi dewasa berarti memahami bahwa pasangan kita juga manusia, bisa salah, bisa marah, dan bisa terluka. Mamat memilih jadi dewasa saat saya marah dan mengomel. Saya memilih jadi dewasa saat Mamat memilih untuk sendirian atau pergi main dengan teman-temannya.

9. We don’t fight over money. Ever.

Dari kami berdua, hanya satu orang yang memegang dan mengelola keuangan walaupun kami sama-sama punya penghasilan. Bagi kami tidak ada harta suami dan harta istri. Semua harta adalah harta bersama. Jika keluarga istri perlu bantuan maka suami dengan senang hati membantu, jika keluarga suami yang butuh bantuan maka istri dengan ikhlas membantu juga. Jika saya atau Mamat perlu membeli sesuatu, apa pun itu, kami biasanya akan diskusi dulu. Jika sama-sama setuju maka kami akan membeli atau mengeluarkan uang untuk keperluan tersebut. Tidak ada yang pelit atau sebaliknya suka menghamburkan uang. Bagi kami yang penting adalah perhitungan yang baik dan bagaimana uang keluar dan dimanfaatkan. Kami juga melakukan pembukuan dan manajemen serta evaluasi keuangan setiap bulannya. Kami punya software akunting pribadi yang bisa diakses oleh kedua belah pihak. Jadi kami selalu tahu dan bisa memantau keuangan dengan cermat.

 

Belajar dari banyak kasus rumah tangga orang lain yang kurang bahagia, bisa saya bilang saya bersyukur dengan rumah tangga dan hubungan saya. Ketika dua orang menikah tentu keduanya berpikir dan berharap bahwa mereka akan bahagia. Namun ada kalanya, kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Kita tidak pernah bisa benar-benar yakin apakah pasangan kita akan jadi psikopat atau sebaliknya, pasangan yang sangat baik hati dan menyenangkan. Kita hanya benar-benar bisa tahu setelah menjalaninya, setelah kita menghabiskan banyak waktu bersamanya. Dalam hal ini saya memilih percaya pada faktor keberuntungan. Kalau keberuntungan kita habis, maka kita harus belajar move on. Kalau ternyata keberuntungan kita berumur panjang, kita wajib mensyukurinya.

Saya dan Mamat tidak tahu bagaimana dan di mana kami di masa depan. Tapi kami tidak mau mengkhawatirkan masa depan yang belum pasti. Kami tidak berencana memaksakan harus apa 2 tahun lagi. Harus punya apa 5 tahun lagi. Harus tinggal di mana 10 tahun lagi. Yang kami lakukan sekarang adalah mencoba melakukan yang terbaik bagi satu sama lain dan menikmati kebersamaan dengan semua keterbatasan yang ada. Toh, bahagia itu sederhana. 🙂

 

Cheers,

Haura Emilia

20x25 aka 8x10.jpg

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan