Tentang tarif penerjemah dan editor

Halo, semuanya!

Saya baru sadar bahwa saya belum pernah menulis soal tarif terjemahan dan editing di blog saya. Kebetulan tadi saya membaca tulisan mengenai tarif seorang editor*, saya pun terinspirasi ingin berbagi pengalaman saya soal tarif terjemahan dan penyuntingan atau editing.

Sebagian besar orang yang mengenal saya tentu sudah tahu bahwa saya adalah penerjemah dan sudah berkecimpung di bidang terjemahan sejak tahun 2007, atau sekitar 9 tahun. Memang pengalaman 9 tahun belum ada apa-apanya dibandingkan dengan rekan-rekan penerjemah senior, tetapi 9 tahun adalah waktu yang cukup untuk sedikit memahami dunia terjemahan dan lokalisasi.

Di Indonesia, profesi penerjemah belum menjadi profesi yang populer seperti profesi lain seperti dokter, pengacara, dosen, akuntan, atau insinyur. Pengetahuan masyarakat awam tentang dunia terjemahan masih sedikit sekali. Sering kali profesi penerjemah dipandang sebelah mata sehingga keterampilan penerjemah otomatis juga dianggap tidak begitu penting dan berguna. Bagi masyarakat umum, menerjemahkan adalah hal yang bisa dilakukan oleh siapa saja yang menguasai dua bahasa. Menerjemahkan pun dianggap sebagai sebuah perkara yang mudah dan tarifnya pun seharusnya murah.

Namun benarkah menerjemahkan adalah pekerjaan sederhana dan tarifnya pun harus murah? Sebelum saya membahas mengenai tarif, saya akan berbagi sedikit mengenai mitos bahwa ‘menerjemahkan itu adalah pekerjaan mudah’.

Pada dasarnya menerjemahkan berarti mengalihkan teks dalam bahasa sumber ke bahasa target. Sayangnya, pekerjaan penerjemah tidak sesederhana itu. Sebelum menerjemahkan, penerjemah harus benar-benar paham apa yang ia baca. Kemahiran membaca adalah salah satu skill utama yang harus dimiliki oleh seorang penerjemah. Setiap bacaan memiliki tingkat kesulitan sendiri-sendiri. Sebuah teks mengenai cara kerja perangkat lunak tentu tidak sama tingkat kesulitannya dengan artikel umum mengenai cara memilih buah dan sayur segar di pasar. Teks mengenai kredit macet tentu memiliki tingkat kesulitan yang berbeda dengan teks mengenai manual pengguna mesin pemotong rumput.

Seorang penerjemah mungkin menerjemahkan sebuah teks berisi materi yang sama sekali awam untuknya. Misalnya, latar belakang pendidikan seorang penerjemah adalah Studi Hubungan Internasional, maka kemungkinan besar dia hanya tahu sedikit sekali mengenai alat pemacu detak jantung. Contoh lainnya, seorang penerjemah berlatar belakang akuntasi mungkin sama sekali tidak memahami seluk beluk otomotif atau cara kerja mesin kendaraan bermotor. Namun, seorang penerjemah diharapkan dan dituntut untuk memahami hal-hal yang bukan bidangnya. Ketika dihadapkan dengan teks mengenai bidang yang sama sekali tidak dia pahami, penerjemah harus banyak melakukan riset terminologi dan kalau perlu bertanya langsung kepada orang yang dianggap lebih paham mengenai topik tersebut. Memahami isi teks baru tahap awal menerjemahkan, tetapi seperti yang Anda sudah bisa lihat, menerjemahkan tidak sesederhana kedengarannya.

Setelah memahami isi teks yang akan diterjemahkan, penerjemah harus menggunakan seluruh kemampuannya untuk mengalihkan teks sumber ke dalam bahasa target. Proses pengalihan juga tidak bisa dibilang sederhana. Penerjemah harus mampu memilih kata dan ungkapan yang tepat dalam bahasa target agar pembaca bahasa target memahami terjemahannya. Hal ini bukanlah hal yang mudah mengingat perbedaan tata bahasa yang bisa jadi sangat berbeda antara bahasa sumber dengan bahasa target. Perbedaan budaya, sosial dan ekonomi antara dua bahasa juga sangat berpengaruh. Ada hal-hal yang sangat lucu ketika ditulis dalam bahasa Inggris, misalnya, menjadi sangat hambar jika diterjemahkan “bulat-bulat” ke dalam bahasa Indonesia. Jadilah penerjemah harus mencari cara agar “rasa” humor tersebut bisa tetap dimengerti oleh penutur bahasa Indonesia.

Masalah berikutnya adalah mencari cara agar teks tetap dapat dipahami dalam bahasa target tanpa menghilangkan atau mengurangi pesan yang terdapat di dalam bahasa sumber. Bagaimana kita menerjemahkan sebuah ungkapan yang konteksnya tidak dipahami dalam budaya bahasa target? Haruskah penerjemah menghapus sebagian teks karena konteksnya dianggapnya tabu atau bahkan secara moral tidak dapat diterima bagi penutur bahasa target?

Pekerjaan menjadi lebih rumit jika bahasa target bukanlah bahasa ibu si penerjemah. Misalnya, seorang penerjemah Indonesia harus menerjemahkan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Bahkan ketika pengetahuan tata bahasa Inggrisnya sangat memadai, penerjemah tersebut harus berpikir ekstra dan melakukan riset lebih banyak sebelum memutuskan untuk menggunakan sebuah kata atau kalimat. Akankah penutur bahasa Inggris akan memahami apa yang saya tulis? Apakah pemilihan kata saya sudah benar? Apakah pembaca akan bingung dengan ekspresi yang saya gunakan?

Tantangan lain adalah jika teks bahasa sumber tergolong ‘amburadul’ dan memiliki banyak kesalahan tata bahasa. Penerjemah harus berpikir ekstra keras untuk memahami kalimat yang tidak jelas subjek, predikat, atau objeknya. Sering kali, logika penulisan juga tidak berhasil dipahami penerjemah. Kalau sudah begini, biasanya penerjemah perlu bertanya langsung ke penulisnya. Jika sudah berhasil memahaminya, penerjemah harus kembali memikirkan strategi yang tepat untuk menerjemahkan dokumen-dokumen dengan tingkat kesulitan tinggi seperti ini.

Seorang penerjemah juga harus sangat berhati-hati dalam melakukan pekerjaannya, terutama jika hasil terjemahannya adalah teks teknis yang akan dibaca oleh banyak orang. Seorang penerjemah buku panduan diet diabetes harus benar-benar paham tentang istilah yang dia gunakan. Dia harus memperhatikan setiap detail ukuran dan instruksi yang ada di dalam teks sumber. Dia harus paham, misalnya, bahwa kata “ounce” dalam bahasa Inggris tidak sama dengan “ons” yang dikenal dalam bahasa Indonesia. Jika dia menuliskan ukuran yang salah, akibatnya bisa fatal bagi pembaca. Seorang penerjemah perangkat lunak harus paham bahwa kata “delete”, “remove”, “delist” bisa memiliki arti yang berbeda walaupun dalam bahasa Indonesia kita hanya satu kata (“hapus”) untuk mendeskripsikannya.

Penerjemah profesional butuh waktu untuk melakukan pekerjaannya dengan baik. Selain untuk menjaga kualitas pekerjaannya, penerjemah juga perlu memikirkan efek yang akan didapatkan pembaca setelah membaca terjemahannya. Apakah mereka akan mengerti? Apakah ada celah bagi kesalahpahaman? Apa yang akan pembaca dapatkan dengan membaca hasil terjemahan saya?

Setelah memahami sedikit tentang rumitnya proses penerjemahan, masihkah kita menganggap bahwa menerjemahkan adalah pekerjaan mudah dan bisa dilakukan siapa saja? Pantaskah jika kita menawar mati-matian tarif seorang penerjemah?

Prinsip saya tentang tarif penerjemahan dan editing sederhana. “When you pay for peanuts, you get monkeys”. Terjemahan (terjun) bebasnya adalah “ada harga ada mutu”. Penerjemah yang baik memikirkan reputasi penulis teks sumber. Ia memikirkan dampak hasil terjemahannya. Ia memikirkan pembacanya. Penerjemah yang baik meluangkan waktunya untuk melakukan riset, untuk membaca, untuk berpikir, dan menerjemahkan. Setelah selesai menerjemahkan, penerjemah yang baik akan membaca ulang hasil terjemahannya untuk memeriksa tata bahasa, typo dan keberterimaan bahasa.

Jadi berapa tarif yang layak untuk seorang penerjemah profesional? Tarif terjemahan berbeda-beda tergantung pasangan bahasa dan jenis teks yang diterjemahkan. Saya hanya akan mengutip acuan tarif terjemahan dari situs web HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia) yang saya ambil dari tautan berikut:

http://www.hpi.or.id/acuan-tarif-penerjemahan

Tarif terjemahan Inggris-Indonesia bisa sangat beragam mulai dari Rp10.000 (untuk terjemahan buku) sampai Rp152.000 (untuk terjemahan non-buku). Perlu saya cantumkan di sini bahwa tarif ini mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan PMK No. 65/PMK.02 Tahun 2015 Tentang Perubahan Standar Biaya Masukan Tahun Anggaran 2016 yang mengatur Satuan Biaya Penerjemahan dan Pengetikan (halaman 61 butir 5).

Jadi, saran saya, jangan menawar Rp30.000/halaman jika Anda bukan penerbit buku (yang memang tawaran tarifnya rendah karena biasanya jasa terjemahan dihitung per buku dan bukan per halaman). Jangan bilang Rp90.000/halaman itu mahal. Jangan bilang “cuma edit grammar aja, kok. Jangan mahal-mahal, ya” kalau Anda butuh jasa editing. Jangan menyepelekan pekerjaan seorang penerjemah dan editor. Sebagai pelanggan jasa terjemahan Anda diharapkan untuk memahami bahwa penerjemah sama saja dengan profesional lainnya. Mereka punya keterampilan yang mereka gunakan untuk menyambung hidup. Keterampilan tersebut mereka dapatkan dengan proses belajar yang panjang dan dengan biaya yang mungkin tidak sedikit pula.

Kita tidak pernah/jarang menawar jasa dokter, akuntan, atau pengacara, bukan? Menawar tentu boleh, tetapi tentu dengan hati-hati dan tidak terlalu jauh dari harga yang ditawarkan. Semoga akan semakin banyak pengguna jasa terjemahan yang semakin menghargai jasa penerjemah. Semoga tidak ada lagi yang minta jasa editing 100 halaman untuk selesai dalam waktu 5 hari. Semoga tidak ada lagi yang bilang bahwa tarif Rp90.000/halaman itu mahal. Semoga semakin sedikit yang menganggap bahwa jasa editing itu sama dengan “edit grammar doang”. 😀

Semoga. 🙂

 

* Tautan artikel jasa editor yang saya maksud: http://manistebu.com/2016/02/seharga-ini-editor-harus-dibayar/

 

Cheers,

Haura Emilia

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s