Run, Run for Your Life: A Little Story About An Amateur Runner

Halo semuanya!

Tidak terasa sudah mau masuk 2016, ya. I wish you all a happy merry Christmas and a happy new year! 🙂

Okay, saya mau membuat pengakuan. Saya gagal memenuhi target saya untuk menulis blog paling tidak sebulan sekali. LOL. Belakangan, saya memang agak sibuk ah banyak alasan kau, ra, jadi saya agak sulit menemukan waktu untuk menulis.

Anyway, sekarang saya mau cerita sedikit tentang hobi terbaru saya: lari. What? Iya, lari. Saya yang benci dan malas lari ini belakangan memutuskan untuk melakukan sedikit perubahan dalam hidup. Tsaaahhh….

Jadi bagaimana ceritanya saya, yang olahraga favoritnya adalah marathon nonton Law and Order beres-beres rumah ini, bisa “mulai berlari”?

Semuanya dimulai pada akhir bulan Oktober lalu. Mamat bilang ke saya, “Kita ikut lomba lari 10 kilo, yuk?”

“Hah?”

“Iya, lomba lari.”

“10 km alias 10 kilometer?”

“Iya.”

“Seriusan?”

“Iyalah.”

Waktu saya dan Mamat tinggal di Singapura, kami memang suka lari bareng. Karena di Singapura kita akan dengan mudah bisa lari di mana saja (kecuali di tengah jalan raya, ya), saya pun semangat sekali untuk acara lari mingguan ini. Tapi, setelah pindah ke Solo, frekuensi lari kami jadi jarang, kadang seminggu sekali, kadang seminggu 2 kali, kadang 2 minggu sekali… Hehe… Nah, lalu ini tiba-tiba mau ikut lomba lari segala. Saya sebenarnya sempat ragu tidak akan sampe finish dan jadi bahan tertawaan ribuan peserta lain yang menyoraki saya sebagai sotoy karena sok-sok an ikut lomba lari jarak jauh. Tapi karena Mamat terlihat yakin (seyakin bahwa pancasila terdiri dari 5 butir), saya setuju untuk daftar lomba lari ini.

Saya yang pada dasarnya malas bangun pagi, jadi ‘terpaksa’ bangun pagi-pagi buta (jam 5) untuk mulai latihan. Monster pemalas di dalam diri saya seperti mengikat kaki saya di tempat tidur. Intinya, saya susah payah sekali bangun pagi. Tapi akhirnya setelah diguyur air dibujuk Mamat, saya bangun juga….

Di hari pertama ‘latihan’, kami memutuskan untuk lari di city walk Sriwedari, Solo. Karena sudah lama dan jarang lari, saya pastinya langsung mau mampus di meter ke 200, padahal target saya hari itu adalah 4,3 kilo. Akhirnya dengan kebanyakan jalan cepat saya berhasil juga menyelesaikan 4,36 kilo dalam waktu 40 menit. Ini hitungannya sangat lambat untuk orang yang sering lari. Tapi berhubung saya malas dan jarang lari, plus ini latihan hari pertama, ya sutra lah… Saya terima dengan lapang dada.

Kalau berdasarkan riset soal lari dan maraton, idealnya orang biasa (bukan atlet) butuh paling tidak latihan 6 minggu (5 hari seminggu) sebelum ikutan lomba lari 10k pertama mereka. Tapi berhubung, saya dan Mamat telat tau info dan daftar larinya, kami jadi cuma latihan selama 3 minggu. Latihan ini diselingi renang dan diawali dengan yoga, supaya tidak bosan dan untuk pemanasan.

Akhirnya, hari yang kami nantikan tiba, acara lomba lari dari candi ke candi yang diadakan di Kalasan, Jogja. Pagi itu para peserta dari seluruh Indonesia berkumpul di lokasi pukul 5 pagi (saat semua orang normal dan waras lainnya masih terlelap atau bermimpi). Ternyata ada lebih dari 2000 orang peserta (DUA RIBU, sodara-sodara) yang mengikuti acara fun run Javana Candi to Candi ini. Medali finisher diberikan kepada 300 orang pertama yang beruntung sampai finish tanpa cedera atau gagal nafas dan digotong masuk ambulan.

Tepat pukul 6 pagi, acara lari pun dimulai. Dengan semangat juang 45 saya berlari bersama 2000an peserta lainnya. Tentu dengan mengingatkan diri saya agar tidak terlalu semangat dan akhirnya kehabisan napas di kilometer ke 2. Jadi saya pun berlari dengan kecepatan kura-kura (dibandingkan dengan para pelari Kenya). 2.5 kilo pertama tidak terlalu sulit, karena saya berusaha keras keep up dengan mas-mas sebelah yang berbodi tambun tapi berlari lumayan cepat. Bukankah akan sangat memalukan kalau saya yang berberat badan cuma 3/4nya mas-mas ini ketinggalan dari si mas-mas yang awesome ini? Tapi karena saya orangnya sangat kompetitif (baca: gak mau kalah), saya berhasil mendahului si mas-mas awesome. Saya pun sampai dengan riang gembira di water station pertama (2.5k).

Di WS pertama ini, saya bukan hanya minum beberapa gelas, tapi saya juga mengguyur sebotol air ke kepala saya, tindakan yang saya sesali kemudian. Memang sih, mengguyur kepala dalam lomba lari jarak jauh itu disarankan karena panas tubuh kita bisa cool down sedikit, tapi saya salah langkah. Saya pakai tabir surya sebelum lari, nah si sunblock ini somehow bercampur dengan air yang saya guyur ke kepala dan menghasilkan air luar biasa pahit dan… masuk ke mata dan mulut saya… Oh well, well done, Haura….  Mata saya pun jadi agak perih dan saya jadi agak kurang konsen.

Selanjutnya, setelah 2.5k pertama saya menyeret tubuh saya ke WS berikutnya (5k), di sinilah neraka itu terjadi. Saya mulai lelah dan mulai merasa 2.5k menuju 5k itu seperti jarak Jakarta-Solo. Gak sampe-sampe… Matahari mulai naik dan membakar, tapi belum juga ada tanda-tanda WS 5k itu. Saya terus berlari tanpa mempedulikan keadaan sekitar, berapa sisa orang yang berlari dengan kecepatan yang sama, saya bahkan sampai tidak sadar bahwa Mamat sudah agak jauh di depan. Sialnya, botol air minum dibawa sama dia. Tenggorokan saya sudah kering setengah mati. Mau memanggil dia juga sulit karena mulut dan hidung saya sibuk mengatur udara yang keluar masuk paru-paru.

Akhirnya saya sampai juga di WS 5k, dan saya tersenyum senang sambil berlari lebih cepat menyusul Mamat dan bilang “tinggal 5 kilo lagi”. Dia cuma senyum dan mengangguk. Setelah perhentian minum 2 detik di water station 5k itu, saya merasa jauh lebih bersemangat. Saya mulai berlari lebih kencang dan kali ini meninggalkan Mamat di belakang. Saya melewati sekelompok anak muda berbaju kaus “Indonesian runners” yang asik selfie di tepi sawah, sungai, dan candi. Pemandangannya memang cantik sekali, karena kita berlari literally dari candi ke candi. Candi-candi tua yang cantik dengan latar langit biru membuat saya agak lupa kalau paru-paru saya ‘ngambek’ karena dipaksa bekerja keras. Saya juga pengen sih selfie, tapi saya takut lupa waktu dan akhirnya ketika saya selesai matahari udah keburu terbenam.

Kilometer 7,5k saya lewati dengan mudah. Saya terus berlari sambil tersenyum super lebar karena ingat bahwa ‘penderitaan’ ini tinggal 2,5k lagi. :v Di kilometer 9, seorang panitia berteriak ceria memberikan semangat untuk semua pelari yang hampir mencapai finish ini. Saya menengok ke belakang dan melihat Mamat yang juga sedang berusaha berkonsentrasi dengan larinya.

Akhirnya, saya melihat tanda “Finish: 500m”. Belum pernah saya sebegitu inginnya melihat tulisan “FINISH” seumur hidup saya. Perasaan ini lebih luar biasa dari pada waktu saya mendapat telepon dari rektorat UI yang mengabarkan bahwa saya lulus sebagai lulusan terbaik magister FISIP. Waktu itu saya cuma bengong. Berpikir kalau nilai-nilai cuma angka dan berpikir angka-angka itu tidak bisa menggantikan malam-malam dan hari-hari panjang yang saya lewati untuk belajar dan menulis tesis. Nah, perasaan ingin melihat garis finish itu lebih membahagiakan saya. Lebih mengharu biru. Seorang biasa yang gak keren dan atletis seperti saya akan segera sampai finish. Ini pasti cuma mimpi. Saya pasti lagi tidur. Buru-buru saya lihat jam di ponsel saya. Wow, jam 7 pagi lebih sedikit. Tadi saya mulai lari pukul 6, berarti ini bukan mimpi, soalnya dalam mimpi biasanya saya gak pernah lihat jam.

Dengan bantuan ipod dan angin (yang mendorong badan saya), saya berhasil mencapai garis finish, 40 detik sebelum Mamat, dengan catatan waktu 1.2 jam untuk lari jarak 10 km. Sekedar info, juara pertamanya sampai finish di menit 39…. Jadi ibaratnya, dia sudah sampai finish, bikin kopi, mandi dulu, baru saya sampai…. Tapi saya tidak peduli, saya mencapai finish diiringi dengan sorak sorai panitia yang bertepuk tangan dan mengalungi saya medali. Saya merasa keren. Lempar poni.*

Saya pun menengok ke belakang dan menyemangati Mamat yang hampir sampai finish. Begitu dia sampai dan mendapatkan medalinya, kami buru-buru tos dan bilang “we did it, ntar kita ikutan lagi ya”. Hihi.. Gak kapok. Lalu kami ikutan acara foto-foto dan mendengarkan pengumuman pemenang (3 besar) dan bertekad lain kali kami akan ikut lomba lagi dan lari lebih cepat.

Rupanya, tidak perlu waktu lama untuk lari lagi. Beberapa hari setelah ‘penyiksaan’ di Jogja itu, Mamat diberi tahu bapak-bapak sakti di gym (umur di atas 50 bisa lari 30 menit non-stop) bahwa ada lomba lari 10k di Solo, lebih tepatnya lomba lari mengitari bandara Adhi Sumarmo. Mamat buru-buru mengajak saya dan saya menyate Mamat mengiyakan. Kami latihan 3 minggu lagi dan akhirnya ikutan lomba lagi.

Lomba kedua ini agak berbeda. Walaupun saya berhasil mencapai garis finish 5 menit lebih cepat dari lomba sebelumnya, lomba ini lebih sulit dan membosankan. Jalanan di sekeliling bandara cenderung gersang, panassss, dan mendaki di beberapa titik. Saya sampai pada momen ingin marah karena kaki saya tidak mau kompak bergerak secepat perintah otak saya. Kaki saya sakit karena saya memaksa diri untuk tetap berlari. Paru-paru saya marah kepada saya. Sendi-sendi saya nyeri. Tapi saya tidak peduli, saya cuma terus berlari, berjalan beberapa detik, dan berlari lagi…

Lari jarak jauh adalah olahraga ketahanan, endurance bahasa Inggrisnya. Bukan hanya ketahanan fisik namun juga mental. Semua pelari jarak jauh akan sampai pada titik lelah dan super bosan di mana mereka bertanya-tanya kenapa mereka mau ‘menyiksa’ tubuh dan pikiran mereka sedemikian rupa. Padahal lari 15 menit setiap hari sudah cukup untuk menghindarkan atau mengurangi risiko berbagai macam penyakit seperti kanker dan diabetes. Jadi kenapa coba harus lari jarak jauh?? Kenapa harus lari berjam-jam? Kenapa mau-maunya menderita karena perut mual, panas-panasan, keringetan, kehabisan napas, terbakar matahari, dan nyeri-nyeri sendi?? Kenapa tidak pilih olahraga yang lebih menyenangkan seperti sepak bola, basket, atau tenis? Kenapa harus lari, sendirian pula? NGAPAIN COBA??! Apa semua pelari jarak jauh kurang kerjaan???

Saya baru sebentar sekali berlari rutin, baru 3 bulan. Sebelumnya saya berlari paling-paling seminggu sekali, kalau ingat, tidak sibuk, dan tidak malas. Jadi saya butuh waktu untuk mendapatkan jawabannya. Sampai akhirnya saya menemukan dan membaca komik “The Terrible and Wonderful Reasons Why I Run Long Distances”. Saya akan mengutip bagian favorit saya di sini:

“The world around me is so very, very loud. It begs me to slow down, to sit down, to lie down (“hello TV”, “hello Facebook”, “here eat this steak”). And the buzzing roar of the world is nothing compared to the noise inside my head. I am an introspective person, and sometimes I think too much, about my job and about my life (“worry about your future”, “you’re not good enough for this!”). I feed an army of pointless, bantering demons. But when I run, the world grows quiet. Demons are forgotten, Krakens are slain, and Blerches are silenced.”

Saya pun jadi mengerti kenapa saya (dan banyak orang lainnya) berlari. 🙂 Running forces me to move, to contemplate, to challenge myself, to push my limit, and to learn about consistency and determination. 🙂

Jadi, apakah kamu sudah siap untuk berlari? 🙂

 

Cheers,

Haura Emilia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan