My thoughts on our education system — is it smartening us up or dumbing us down? — and on homeschooling as an alternative solution

Belakangan ini saya mengikuti webinar tentang Homeschooling yang diadakan oleh Rumah Inspirasi. Organizer webinar ini adalah pasangan suami istri praktisi homeschooling di Indonesia. Seperti kebanyakan peserta, saya memiliki ketertarikan khusus dengan homeschooling, walaupun saya sendiri belum memiliki anak. Ketertarikan saya bukannya tanpa alasan. Sudah lama saya mempertanyakan dan banyak mengevaluasi sistem pendidikan di Indonesia. Saya juga pernah menulis makalah bahasa Inggris soal ini.

Di blog ini, saya akan berbagi sedikit tentang pendapat saya mengenai sistem pendidikan di Indonesia dan mengapa saya melihat homeschooling bisa menjadi alternatif yang memiliki potensi yang cukup baik. Perlu diingat bahwa tulisan ini bersifat pribadi, subjektif, dan tidak ditujukan untuk dijadikan acuan dalam bentuk apa pun. Tulisan ini juga tidak secara khusus membahas filsafat, metolologi, epistemologi, dan ontologi sistem pendidikan dasar di Indonesia. Tulisan ini juga tidak dimaksudkan untuk menjelek-jelekkan dan menyamaratakan semua guru dan sekolah di Indonesia.

Saya akan memulai tulisan ini dengan menceritakan pengalaman saya selama sekolah. Saya menghabiskan lebih dari setengah hidup saya di bangku sekolah. Saya mulai masuk TK waktu umur saya 4 tahun dan saya terus sekolah nyaris tanpa henti sampai saya berusia 25 tahun (usia saya sekarang 29 tahun). Banyak yang bertanya-tanya kenapa ibu saya mengirimkan saya ke sekolah di usia yang sangat muda. Jawabannya sederhana, karena sepanjang ingatan saya, saya sudah meminta ibu untuk sekolah sejak saya tahu apa itu sekolah, yaitu waktu saya berusia 3 tahun. Di usia 3 tahun saya pernah mengikuti sekelompok anak SD sebelah rumah ke sekolah mereka tanpa sepengetahuan ibu saya. Ibu saya panik sekali karena saya tiba-tiba menghilang. Sekelompok anak tetangga tersebut kemudian mengantarkan saya pulang dan menceritakan ke ibu saya bahwa saya mengikuti mereka sampai sekolah. Ibu bertanya kenapa saya melakukan itu, dan saya bilang kalau saya ingin sekolah. Singkat cerita, ibu saya akhirnya memasukkan saya ke TK di dekat rumah saat saya berumur 4 tahun dan setahun kemudian, di usia 5 tahun, saya masuk SD.

Karena masuk SD di usia yang muda, saya lulus SMA di usia 17 tahun. Masuk universitas negeri pilihan saya di umur 17 dan lulus sarjana hanya beberapa bulan setelah saya ulang tahun ke-21. Saya kemudian mengejar gelar master di usia 23 dan lulus di usia 25. Di luar pendidikan formal tersebut saya juga sempat mengambil kursus bahasa Inggris selama 3 tahun dan kursus bahasa Prancis selama 2 tahun. Saya juga menghabiskan sekitar 5 tahun untuk mengajar di beberapa tempat. Intinya, saya menghabiskan banyak sekali waktu di kampus dan sekolah.

Jadi apakah saya puas dan bahagia dengan sistem bernama sekolah? Jawabannya adalah tidak. In fact, it turned out that I hated schools. Sebagai seorang murid sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, saya ingat bahwa saya memiliki banyak sekali pertanyaan. Misalnya, “kenapa saya harus sekolah?”, “kenapa kita harus punya agama?”, “jika teori evolusi benar-benar terbukti dan dinosaurus benar-benar ada, kapan nabi-nabi dalam ajaran agama itu hidup? Sebelum dinosaurus atau sesudahnya?”, “kalau manusia berevolusi dari kera, apakah Adam yang ditulis dalam kitab suci sebagai manusia pertama juga berevolusi dari kera?”, “kenapa anak sekolah harus pakai seragam?”, “kenapa ibu guru menyuruh murid membuang sampah pada tempatnya sementara ibu guru sendiri membuang sampah sembarangan?”, “kenapa kebanyakan bapak bekerja dan ibu mengurus rumah tangga?”, “kenapa harus ada PR?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak ada habis-habisnya. Sayangnya, sering kali guru-guru saya di sekolah tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Beberapa malah marah kepada saya dan bilang bahwa saya terlalu banyak berkhayal atau malah “kurang ajar”.

Semasa sekolah, saya juga kesulitan sekali dengan mata pelajaran matematika dan ilmu pengetahuan alam. Saya selalu stres karena nilai matematika dan IPA saya tidak pernah cukup bagus untuk standar orang tua saya (buat orang tua saya, nilai 7 itu nilai standar, bukan sesuatu yang bisa dibanggakan). Saya sering sekali menangis saat mengerjakan ujian dan mengerjakan PR. Karena saya dianggap “lemah” dalam sains dan matematika, ibu saya memanggil guru privat khusus untuk membantu saya. Saya pun belajar dengan giat termasuk hari sabtu malam minggu. Hasilnya memuaskan, nilai matematika dan IPA saya berhasil naik menjadi 8 atau 9 dan saya selalu masuk peringkat 3 besar (jika bukan juara kelas).

Tapi apakah saya pelajar yang bahagia? Sekali lagi, tidak. Saya tumbuh jadi remaja yang merasa sangat tertekan di sekolah terutama di semua mata pelajaran yang saya tidak suka. Selama bertahun-tahun saya merasa bahwa saya adalah anak yang bodoh dan lemah walaupun pada kenyataannya nilai rapor sata tidak pernah jelek (minimal 7, itu pun jarang). Saya baru merasakan nikmatnya sekolah ketika saya diterima kuliah di jurusan dan kampus negeri pilihan saya. Ketika saya boleh mempelajari apa yang saya suka saja.

Setelah saya mulai kuliah dan banyak membaca, saya mulai menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya dulu. Saya merasa seperti telah tidur begitu lama dan akhirnya bangun dari tidur yang begitu panjang. Saya mulai sadar bahwa ada yang “salah” dengan sistem sekolah dan pendidikan yang saya tempuh selama bertahun-tahun. Saya mulai melihat bahwa sistem pendidikan dasar yang ada telah gagal mengantarkan saya ke tujuan akhir pendidikan itu sendiri.

Sekarang mari kita lihat definisi pendidikan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “pendidikan” berarti “proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik”. Definisi ini luas sekali, tapi kita bisa melihat dengan jelas bahwa pada dasarnya tujuan akhir pendidikan adalah “mendewasakan manusia”. Jadi, apakah sistem pendidikan dasar kita berhasil mencapai tujuan akhirnya?

Dalam kehidupan sehari-hari banyak orang-orang terdidik di sekitar kita yang jelas-jelas gagal menjadi dewasa dalam kesehariannya. Ambil contoh yang mudah, berapa banyak mahasiswa yang Anda kenal dan suka membuang sampah di jalan? Berapa banyak kelas menengah yang (kelihatan) keren tapi menyebrang jalan seenak jidatnya? Berapa banyak orang-orang berpendidikan yang mengendarai motor dan mobil dengan ugal-ugalan? Berapa banyak orang “pintar” dan terdidik yang merokok seenaknya tanpa melihat tempat dan situasi? Berapa banyak dari kelompok masyarakat terdidik kita yang ogah mengantre? Kalau mau jujur, jawabannya: BANYAK. Apakah orang-orang “berpendidikan” ini bisa dibilang dewasa? Apakah dengan sengaja tidak memikirkan konsekuensi atas perbuatan dan tindakan kita bisa disebut dewasa? Jadi, apa orang-orang ini bisa dibilang terdidik? Secara teori di atas kertas (baca: ijazah) iya. Tapi jika mengacu pada definisi pendidikan itu sendiri, maka bisa dibilang kalau sistem pendidikan dasar yang ada telah gagal mendewasakan banyak orang-orang Indonesia.

Dalam bahasa Inggris, pendidikan disebut “education”, yang dapat didefinisikan menjadi “the act or process of imparting or acquiring general knowledge,developing the powers of reasoning and judgment, and generally of preparing oneself or others intellectually for mature life.” Lagi-lagi ada kata “mature” atau “dewasa” di sini. Kebanyakan lulusan SMA yang saya kenal jelas-jelas gagal menjadi dewasa. Kenapa? Karena sistem pendidikan kita sekali lagi gagal menjadikan kelompok dewasa baru dan “terdidik” ini menjadi orang-orang yang santun dan “tahu aturan”.

Kalau janjian dengan orang Indonesia kebanyakan, “jam karet” adalah sesuatu yang dimaklumi. Membatalkan janji adalah hal yang biasa. Budaya mengucapkan terima kasih juga jarang dilakukan oleh anak-anak sekolah. Kepedulian terhadap lingkungan? Maaf-maaf saja, tapi rata-rata nol besar. Budaya berpikir kritis? Hampir tidak pernah terdengar kecuali di kalangan pendidikan tinggi.

Pertanyaannya sekarang adalah, kenapa hal ini bisa terjadi? Kenapa sistem pendidikan kita bisa dibilang gagal mendidik sebagian besar rakyat Indonesia? Saya sering kali merenung, dan sepertinya penyebabnya adalah beberapa hal berikut:

Sistem pendidikan yang berorientasi kepada “nilai” atau angka. Murid-murid kita secara otomatis akan mendapatkan “label” berdasarkan angka yang dia peroleh untuk mata pelajaran yang diajarkan. Jika nilai rata-rata rapor saya 9, maka saya akan dilabeli “cerdas”. Jika nilai rata-rata rapor saya 6, maka saya “kurang”. Jika nilai rata-rata rapor saya 5, maka saya “bodoh” dan harus tinggal kelas. Padahal, apa sih definisi “cerdas” dan “bodoh”? Tidak bisa mengerjakan ujian, maka disebut “bodoh”? Jika lemah di satu mata pelajaran maka dibilang “tertinggal”? Sementara kalau saya bisa mengerjakan ujian dengan baik, maka serta merta saya “cerdas”, gitu? Padahal, definisi dan jenis kecerdasan sendiri bermacam-macam.

Horward Gartner dari Harvard memperkenalkan teori “multiple intelligences”. Menurut teori ini, ada 8 macam kecerdasan, yakni; musical–rhythmic, visual–spatial, verbal–linguistic, logical–mathematical, bodily–kinesthetic, interpersonal, intrapersonal, and naturalistic. Setiap orang memiliki satu atau beberapa “kecerdasan”, dan jarang sekali ada orang yang cerdas pada semua bidang. Ada yang pintar dalam urusan angka dan hitungan, ada yang cerdas dalam bidang linguistik (bahasa), ada yang cerdas berolahraga dan olah tubuh, ada yang kecerdasan visualnya lebih baik dari yang lain, ada yang memiliki kemampuan luar biasa dalam berhubungan sosial dengan orang lain, dan lainnya. Jadi, melabeli dan mengukur-ukur kecerdasan anak dengan nilai di rapor adalah hal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Mengapa tidak dapat dipertanggung jawabkan? Itu karena….

Sistem pendidikan yang berorientasi pada hasil (outcome/output) dan bukan pada proses. Karena sistem sekolah menitikberatkan pada nilai dan angka, maka angka menjadi tujuan akhir dari pendidikan itu sendiri. Padahal belajar adalah sebuah proses. Yang terpenting adalah jalan yang kita telusuri untuk mencapai sebuah hasil. Jika dibalik, hasil yang menjadi titik beratnya, maka murid (dan bahkan juga guru) bisa “menghalalkan” segala cara untuk mendapatkan angka dan nilai yang “dibutuhkan”. Harus nilai 9 untuk dibilang cerdas? Nyontek saja. Mau lulus UN? Pakai joki bisa, atau malah sekolah yang memberikan bocoran jawaban ujian agar tingkat kelulusan sekolahnya 100% (lagi-lagi angka). Mau nilai PR bagus? Contek saja teman sekelas yang pintar.

Alasan ketiga, sistem pendidikan kita melupakan edukasi etika dan moral dan lebih suka mengurusi (lagi-lagi) hal yang kurang substansial seperti nilai matematika atau fisika di rapor. Kalau berbicara etika dan moral, mungkin banyak dari kita yang akan langsung mengaitkannya dengan agama. Padahal, hubungan antara agama dan moralitas tidak selalu linier. Ada banyak murid-murid sekolah di negara maju yang tidak relijius sama sekali (dan tidak mengajarkan pelajaran agama di sekolah), yang “etika” dan “moralitas”-nya lebih baik dari murid-murid yang sekolah di sekolah-sekolah yang mengajarkan mata pelajaran agama.

Etika dan moral yang saya maksud di sini adalah hal-hal substansial yang kita perlukan untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain dan lingkungan kita. Misalnya, kita perlu diajari untuk menghormati orang lain yang berbeda pendapat atau berbeda agama, suku, dan ras. Kita perlu diajari untuk menepati janji kita. Kita perlu belajar untuk mencintai alam dan lingkungan. Kita perlu diajari untuk berterima kasih kepada orang lain. Kita juga perlu belajar untuk menyebrang jalan pada tempatnya. Kita perlu diarahkan untuk mengenali bakat dan potensi kita. Belajar untuk menerima kekurangan kita. Belajar untuk bersosialisasi dengan orang dari berbagai macam budaya dan latar belakang. Belajar untuk mencintai diri sendiri, lingkungan, dan hewan. Belajar berpikir kritis. Belajar untuk menjadi dewasa. Dan hal-hal seperti ini.

Beberapa poin yang saya sebutkan memang diajarkan di sekolah, misalnya “membuang sampah pada tempatnya” dan “bhinneka tunggal ika”. Tapi pada kenyataannya, pelajaran-pelajaran ini mentok di teori alias omdo (omong doang) dan miskin praktik. Banyak guru-guru (dengan tidak bermaksud mengatakan semua guru) yang pada kenyataannya gagal memberikan contoh yang baik kepada muridnya. Asal tahu saja, saya pernah diajar oleh guru-guru yang hobi datang terlambat dan membuang sampah sembarangan, di depan murid-muridnya.

Alasan berikutnya adalah sistem pendidikan kita yang bersifat “paketan”. “Paket” di sini maksudnya semua anak diwajibkan mengambil dan kemudian diharapkan untuk menguasai SEMUA mata pelajaran yang ada. Jadi, walaupun misalnya saya berbakat menggambar atau pintar olahraga, saya tetap harus bisa menguasai pelajaran biologi dan kimia. Dan kalau nilai kesenian saya 9 sementara nilai fisika saya 5 dan nilai matematika saya 6, maka semua nilai saya akan dirata-ratakan. Kalau total nilai ini tidak memenuhi standar kelulusan, maka saya tidak akan naik kelas atau lulus UN (hanya karena di beberapa pelajaran nilai saya “rendah”).

Dengan sistem belajar paket seperti ini, siswa bisa menjadi tertekan karena merasa “bodoh”. Einstein pernah bilang,

“Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.”

Sistem pendidikan kita memaksa “ikan” untuk belajar terbang, “burung” belajar berenang, dan “lebah” belajar merayap. Dan jika mereka gagal, maka mereka akan dicap “bodoh” dan tidak bisa “naik kelas”.

Dulu saya juga selalu menyalahkan diri saya yang tidak “pintar” matematika karena nilai matematika saya paling bagus 8 (kebanyakan 6 atau 7). Saya merasa sudah belajar mati-matian setiap hari dan hasilnya ya sedang-sedang (lagi-lagi menurut standar orang tua dan diri saya sendiri kala itu) saja. Padahal teman sebangku saya jarang sekali belajar dan mengerjakan PR tapi toh nilai matematikanya selalu lebih bagus dibanding saya yang sudah mati-matian belajar siang dan malam.

Sekarang begini, sekarang saya bekerja sebagai penerjemah dan sebelumnya pernah juga menjadi dosen di perguruan tinggi negeri. Saya juga pernah tinggal di luar negeri dan bekerja di perusahaan-perusahaan besar. Apa ini berarti nilai dan pelajaran matematika di sekolah dulu yang membuat saya bisa menjalankan profesi saya yang sekarang? FYI, satu-satunya yang saya ingat dari pelajaran matematika selama 12 tahun sekolah (SD-SMA) adalah perkalian 1 sampai 12. Apa saya masih ingat rumus menghitung diameter lingkaran? Apa saya memerlukan phytagoras untuk mencari uang? Apa saya diwajibkan untuk tahu berapa nilai lengkap phi saat wawancara pekerjaan? Jawabannya adalah tidak. Jadi kenapa saya dulu harus dipaksa belajar siang dan malam untuk menghapal rumus hiperbola? Kenapa saya harus dimarahi guru di depan kelas dan dibilang bodoh waktu nilai ujian harian matematika saya 5? Jawabannya sederhana. Karena satu-satunya yang harus saya kejar selama masa sekolah adalah nilai. Angka. That was all that mattered.

Saya ingat sekali, dulu guru SD saya pernah mengeluh kepada ibu saya (waktu ambil rapor) karena katanya saya sulit konsentrasi pada jangka waktu yang lama dan suka sekali mengobrol di dalam kelas. Guru saya ini tipe yang memukul jari dan tangan murid-muridnya dengan penggaris kayu besar kalau ada yang tidak tertib di dalam kelas atau datang terlambat. Saya juga pernah diajar oleh guru yang akan mencubit lengan muridnya hingga berbekas biru (memar) jika gagal menyelesaikan soal matematika di papan tulis. Saya jadi stres sampai keluar keringat dingin di dalam kelas. Malam sebelum pelajaran guru ini, saya belajar mati-matian supaya saya bisa mengerjakan soal macam apa pun karena bisa saja besok saya yang dipanggil untuk mengerjakan soal.

Hal ini membawa kita ke masalah berikutnya, sistem pendidikan kita masih bersifat satu arah dan guru adalah sumber utama ilmu pengetahuan. Murid-murid biasanya (paling tidak jaman saya sekolah dulu, sih) hanya mendengarkan, mencatat, dan mengerjakan soal. Begitu seterusnya. Murid jarang berpendapat apalagi mengkritik gurunya. Kalau sampai ada yang bertanya “macam-macam”  atau berpendapat yang “aneh-aneh”, murid bisa dikeluarkan atau dibilang “kurang ajar”. Terus orangtuanya dipanggil dan dibilang “kurang memperhatikan pendidikan” anak di rumah. Padahal, belajar itu seharusnya tidak hanya satu arah dan semua orang bisa belajar dari mana saja dan dari siapa saja. Guru-guru bukan dan tidak perlu menjadi “dewa”. Guru bisa salah dan tidak perlu memiliki jawaban atas semua pertanyaan, and that’s okay. 🙂

Masalah lain dengan sistem pendidikan kita adalah terlalu banyak mata pelajaran dan beban PR plus ujian. Coba lihat anak-anak SD kita, mereka punya banyak sekali mata pelajaran dan ini menghasilkan jumlah PR dan ujian yang banyak pula. Bukunya banyak dan tasnya berat sekali. Saya ingat tas punggung saya dulu rasanya bagaikan diisi batu bata dan kali saking beratnya. Padahal masa anak-anak seharusnya jadi masa yang paling indah dan menyenangkan. Banyak waktu bermain dan mengeksplorasi dunia. Masa yang hanya akan mereka alami sekali seumur hidup. Jadi apa perlunya membebani mereka dengan pelajaran A-Z dan menjejali mereka dengan PR-PR yang tak terhitung banyaknya? Kapan mainnya? Tidur siangnya? Bercanda dengan ayah bundanya? Kenapa membebani mereka dengan soal-soal yang tidak akan mereka perlukan di kehidupan mereka saat mereka dewasa nanti?

Sistem pendidikan dan kurikulum kita juga sangat bias gender. Masak dari saya kecil sampai keponakan saya masuk SD teks di buku bahasa Indonesianya masih “ayah membaca koran dan ibu menanak nasi” atau “ayah Budi berangkat kerja dan ibu memasak di dapur”? Memangnya semua perempuan harus menjadi ibu rumah tangga? Menjadi ibu RT adalah pekerjaan yang sangat mulia, tapi tidak berarti semua perempuan harus jadi ibu rumah tangga. Perempuan bisa jadi presiden, astronot, dokter atau insinyur. Perempuan juga boleh memilih untuk tidak menikah dan punya anak, and that’s okay. Pendidikan peran gender perlu diterapkan sejak kecil karena pendidikan yang tepat akan membuka jalan dan kesempatan untuk anak-anak perempuan untuk berkarir serta mengajarkan anak-anak laki-laki bahwa laki-laki dan perempuan adalah setara dalam hubungan dan konteks sosial. Dengan begitu, kedua gender (laki-laki dan perempuan) bisa belajar menghormati satu sama lain. Pendidikan gender juga bisa mengurangi angka pernikahan dini dan kekerasan dalam rumah tangga, di mana perempuan biasanya yang menjadi korban.

Kekurangan sistem pendidikan kita yang lain adalah kurangnya dukungan negara dalam menyejahterakan para guru. Guru adalah sosok yang mulia di mata saya (terlepas dari semua yang saya tulis di atas). Tidak akan ada presiden dan dokter bedah hebat tanpa adanya guru. Profesor sains terhebat pun dulunya membutuhkan seorang guru. Guru seharusnya adalah tombak pendidikan di sebuah negara. Di balik warga negara yang hebat ada sosok guru-guru yang cerdas dan berdedikasi tinggi. Kenyataannya, kebanyakan guru (sekolah negeri terutama) berpenghasilan pas-pasan. Keadaan diperparah juga dengan fakta bahwa status dari banyak guru adalah honorer, lepas, atau bahkan “tidak jelas” walaupun sebagian dari mereka telah mengabdi sekian lama. Bagaimana gurunya mau memikirkan metode belajar terbaru yang lebih asik atau bahkan belajar lagi sebelum mengajar jika kesejahteraan mereka sendiri tidak dijamin negara? Akibatnya, mau tidak mau banyak guru yang pergi mengajar dengan persiapan seadanya, tanpa riset atau ide-ide baru. Kita tentu tidak dapat menyalahkan guru sepenuhnya, karena hidup mereka sendiri juga tidak mudah. Mereka sendiri hidup dalam dan diatur oleh sistem yang membuat mereka tidak leluasa untuk mengembangkan diri dan anak didik mereka.

Kesimpulannya, apakah sistem pendidikan kita benar-benar “mencerdaskan”? Ataukah malah membuat kita menjadi “bodoh”?

Lalu, apa solusi dari permasalahan dan kelemahan sistem pendidikan kita? Solusinya ada beberapa. Pertama, orang tua bisa memindahkan anaknya ke sekolah yang menurut mereka lebih baik. Karena ada beberapa sekolah yang sistem dan kurikulumnya tidak standar seperti sekolah alam atau sekolah “internasional”. Atau alternatif lainnya adalah metode homeschooling. Hal ini yang akan saya paparkan dalam tulisan ini.

Apa itu homeschooling (hs)? Terjemahan literal homeschooling adalah “sekolah rumah”. Namun metode ini bukan berarti memindahkan sekolah ke rumah. Homeschooling pada dasarnya adalah metode belajar yang bertempat di rumah (atau di mana saja di luar bangunan sekolah dan lembaga pendidikan lainnya) dengan orang tua atau keluarga sebagai pendidik utama si anak.

Pada metode hs, orang tua bisa menentukan sistem belajar apa yang ingin mereka terapkan. Hs tidak mewajibkan orang tua untuk mengambil atau mengikuti kurikulum tertentu. Visi, misi, dan tujuan belajar pun disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan, dan style masing-masing keluarga. Ada keluarga yang mementingkan pola dan metode pendidikan berpikir  kritis kepada anak-anaknya. Anak-anak ini dibebaskan untuk mempelajari apa yang mereka suka dan mau dan tidak diwajibkan untuk mempelajari apa yang mereka tidak suka  kecuali “pendidikan dasar” seperti membaca, menulis, dan berhitung. Keluarga ini mengutamakan rasio, logika dan berpikir kritis. Ada keluarga yang ingin anaknya fokus pada minat dan bakat anaknya saja, misalnya seni dan olahraga. Ada keluarga yang ingin anaknya mendalami ilmu agama, jadi ilmu agama jadi fokus pendidikan. Semuanya sah-sah saja dalam homeschooling.

Sumber pelajaran juga tidak melulu melalui buku, tetapi bisa lewat TV, internet, radio, museum, atau bahkan travelling. Anak tidak diwajibkan untuk belajar melalui buku teks dan tidak dipaksa untuk menguasai semua mata pelajaran. Jadi, seorang anak berusia 10 tahun bisa saja kemampuan matematikanya setara dengan anak SMP tetapi kemampuan bahasanya sama dengan anak kelas 3 SD. Hal ini karena pada hs, orang tua bisa bebas fokus pada kelebihan dan bakat anak dan tidak menjadikan kekurangan anak sebagai beban.

Lalu bagaimana dengan ijazah? Kalau tidak sekolah tidak punya ijazah, dong? Tidak bisa melamar pekerjaan, dong? Kalau mau meneruskan ke perguruan tinggi bagaimana? Anak-anak “lulusan” hs bisa diarahkan menjadi pekerja atau ahli profesional di sebuah bidang sehingga dia bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi dirinya sendiri atau bahkan bagi orang lain. Misalnya dengan menjadi pengusaha, pemain saham, penerjemah, fotografer, artis, ahli desain 3D, dsb. Atau, jika ingin tetap meneruskan ke perguruan tinggi, anak-anak hs dapat mengikuti ujian kejar paket A, B, dan C yang setara dengan ijazah SD, SMP, dan SMA.

Ujian? Berarti harus belajar pelajaran-pelajaran yang diajarkan di sekolah, dong? Ujian paket A, B, dan C umumnya memiliki jumlah mata pelajaran yang lebih sedikit dibandingkan dengan ujian sekolah umum. Jadi, orang tua dapat membantu anak-anaknya belajar mata pelajaran yang akan diujikan saja, atau jika tidak mampu atau memungkinkan, orang tua dapat mengirimkan anak ke lembaga bimbingan belajar hanya untuk mempelajari mata pelajaran yang akan diujikan di ujian paket A, B, dan C. Ijazah paket A, B, dan C ini diperlukan hanya jika si anak ingin melanjutkan sekolah di Indonesia. Jika anak ingin belajar di universitas luar negeri, maka ijazah paket ini tidak diperlukan. Anak hanya perlu mengikuti ujian masuk universitas tersebut.

Sejauh ini hs terdengar menjanjikan? Well, hs juga memiliki tantangannya sendiri. Pertama, metode ini mewajibkan paling tidak peran penuh salah satu orang tua dalam mendidik anak. Secara otomatis ini berarti orang tua yang berada di rumah. Hs membutuhkan orang tua yang sabar, konsisten, inovatif, kreatif dan yang pasti mau terus belajar. Orang tua adalah penanggung jawab penuh pendidikan si anak, jadi mereka harus tahu dan sadar betul atas pilihan ini.

Kedua, jika di tengah jalan terjadi sesuatu seperti orang tua berubah pikiran ingin menyekolahkan anaknya, atau bahkan jika orang tua meninggal, maka orang tua harus siap dengan rencana cadangan plan B dan plan C. Anak hs bisa masuk ke sekolah umum dengan syarat harus mengikuti tes masuk terlebih dahulu. Jika anak berusia 12 tahun namun kemampuannya setara dengan anak kelas 3 SD maka orang tua harus ikhlas memasukkan anaknya ke kelas 3 SD. Tapi anehnya, jika anak umur 12 memiliki kemampuan akademis setara dengan anak usia 17 tahun, dia tidak bisa langsung duduk di bangku SMA karena dia harus tetap punya ijazah paket A dan B dulu sebelum masuk SMA (capek deh).

Kurangnya informasi mengenai hs dan peraturan soal hs yang kurang dan selalu berbeda-beda (tergantung menteri pendidikannya) adalah tantangan lain dari metode hs. Orang tua harus selalu update mengenai peraturan terkait status, waktu, metode dan tempat ujian kesetaraan untuk anak-anak hs. Orang tua hs juga mungkin harus menjelaskan soal hs ke staf pendidikan di daerahnya yang tidak paham (atau malah belum pernah dengar) tentang hs.

Tantangan lain adalah menjelaskan pilihan hs kepada keluarga besar. Maklum, karena hs belum menjadi pilihan yang populer, banyak orang yang belum mengerti manfaatnya. Orang tua harus siap menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait hs dari keluarga besar (termasuk tatapan sinis dan omongan miring yang mungkin saja terdengar).

Sekarang mari kita lihat sekali lagi kenapa hs bisa menjadi sebuah alternatif pendidikan anak. Pertama, anak bisa belajar apa yang mereka suka dan tidak perlu mengambil sistem paket. Jadi anak bisa fokus pada kelebihannya, bukan kekurangannya. Anak juga bisa bebas menjadi dirinya sendiri tanpa harus dilabeli hal-hal negatif seperti “bodoh”, “terbelakang”, “lambat”, “nakal”, “kurang ajar” atau “pembangkang”. Kedua, metode hs menghilangkan risiko bullying di sekolah baik oleh guru atau pun teman-teman sebaya. Ketiga, orang tua bisa mengatur sendiri berapa budget yang mereka punya untuk biaya pendidikan anak. Tidak perlu khawatir tidak punya uang untuk membayar SPP atau uang pangkal. Keempat, materi belajar juga disesuaikan dengan pilihan dan kemampuan orang tua, orang tua tidak perlu membeli buku-buku pelajaran sekolah yang belum tentu cocok dengan minat anak dan tujuan hs keluarga itu sendiri. Kelima, orang tua bebas menentukan nilai atau value apa yang ingin mereka tekankan pada pendidikan anak-anak mereka.  Terakhir, anak akan menghabiskan sebagian besar waktunya bersama orang tua dan ini adalah hal yang tidak ternilai harganya. 🙂

“There were no sex classes. No friendship classes. No classes on how to navigate a bureaucracy, build an organization, raise money, create a database, buy a house, love a child, spot a scam, talk someone out of suicide, or figure out what was important to me. Not knowing how to do these things is what messes people up in life, not whether they know algebra or can analyze literature.”
William Upski Wimsatt

 

Cheers,

Haura Emilia

 

Iklan