Cerita Perempuan: Antara Fisik dan Kemampuan

Halo semuanya,

Kali ini saya mau bercerita tentang kejadian yang baru saya alami. Baru-baru ini seorang laki-laki yang saya tidak kenal mengirimkan saya pesan di profil LinkedIn saya. Kalau saya lihat dari profilnya, kelihatannya dia memiliki profesi yang sama dengan saya, yakni penerjemah dan interpreter. Kira-kira begini bunyi kedua pesannya:

“Halo, Haura. Salam kenal. Saya lihat profil dan resume Haura bagus sekali, ya. Sepertinya Haura punya pengalaman kerja, channel, dan link pekerjaan yang bagus dan keren. Kamu cantik sih, ya..”

“Iya, mungkin karena kamu cantik. Kamu beneran cantik.”

Saya otomatis mengerutkan kening membaca pesan itu. Otak saya kemudian berusaha mencerna pesan yang ingin disampaikan oleh si orang asing ini. Setelah membaca pesan itu dua kali, saya pun merasa sebal. Mari kita telaah kalimat si orang asing ini:

Statement 1: Profil dan resume Haura bagus.

Statement 2: Haura cantik sih, ya.

Kesimpulan: Profil dan resume seseorang bagus KARENA dia cantik atau tampan.

Logika yang luar biasa. Jaka Sembung bawa golok. Rasanya saya tidak tahu satu perusahaan besar pun yang menerima seseorang menjadi pegawainya karena ia cantik atau tampan semata. Bahkan model atau pemain sinetron pun harus memiliki bakat, tidak bisa modal tampang doang.

Lalu kenapa saya merasa kesal? Bukannya senang ya dipuji cantik?

Kalau Anda tidak mengenal saya dengan baik, mungkin Anda tidak tahu bahwa saya menghabiskan 19 tahun masa hidup saya dengan bersekolah dan 29 tahun untuk belajar. Jangka waktu yang cukup lama bagi sebagian besar orang Indonesia. Saya ingat sekali bahwa saya menghabiskan begitu banyak waktu dan malam dengan belajar dan berpikir. Saya menghabiskan hari dengan bergalau ria berusaha sebaik-baiknya menjadi diri saya dalam versi yang lebih baik. Saya banyak membaca dan belajar hal-hal baru setiap harinya. Tidak satu hari pun saya lewatkan dengan tidak bekerja keras.

Ada hari-hari di mana saya menangis karena merasa tertinggal dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Ada hari-hari di mana saya rasanya ingin menyerah saja dan mengambil jalan yang lebih mudah, misalnya memilih untuk bersenang-senang bersama teman-teman sepanjang hari, bolos sekolah, dan membuang-buang waktu di jalan seakan hari esok tidak akan pernah datang. Tapi kenyataannya saya memilih untuk duduk di rumah dan membaca dan lagi-lagi belajar. Juga ada hari-hari di mana saya rasanya ingin ambil jalan mudah dan jadi pegawai kantoran biasa, kelas menengah ngehe yang terima gaji setiap bulan dan memaki-maki buruh sebagai golongan orang tidak tahu diri karena terus menerus berdemo dan minta kenaikan upah sementara orang-orang lulusan universitas saja tidak jauh gajinya dengan mereka. Kenyataannya, lagi-lagi saya memilih untuk keluar dari zona nyaman. Saya keluar dari pekerjaan kantoran di sebuah negara maju dan bergaji dolar, dan memilih untuk mulai merintis usaha sendiri. Tujuannya bukan uang, tapi agar hidup saya lebih berguna bagi banyak orang.

Lalu kemudian, ada saja orang-orang seperti si mas-mas alay yang mengirimi saya pesan seperti yang sudah saya tulis di atas. Dia mungkin tidak mengenal saya, tetapi dia bisa membaca CV dan resume saya dengan jelas di Linkedin. Dari semua yang bisa dia baca, dia menarik kesimpulan bahwa semua yang sudah saya raih dan capai itu karena saya cantik. Karena fisik saya. Karena penampilan saya. Itu pun yang hanya dia lihat dari foto profil saya dan kemungkinan besar dia tertipu dengan foto saya. Selain itu jelas dia lebih tertarik mengomentari fisik saya daripada misalnya bertanya soal pekerjaan atau latar belakang pendidikan saya.

Orang asing ini bukan pertama kali yang menilai saya sebatas penampilan luar. Beberapa kali berkenalan dengan orang baru, mereka tampak tidak tertarik menanyakan hal lain atau mengenal saya sebagai pribadi di luar fisik saya. Orang-orang ini biasanya tidak tertarik menanyakan pekerjaan atau latar belakang pendidikan saya. Seakan nilai saya sebagai seorang manusia tereduksi menjadi sekedar seonggok daging yang mereka pikir ‘cantik dipandang’ atau ‘enak dimakan’. Ada saat di mana saya merasa sekeras apa pun saya berusaha, selama apa pun saya sekolah, ‘value’ saya sebagai manusia mentok di fisik.

Saya juga pernah bekerja di sebuah perusahaan, lalu seorang kolega diam-diam bergosip di belakang saya dan mengatakan kepada semua orang bahwa alasan di balik beban pekerjaan saya yang lebih ringan dan kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan kolega lain yang selevel dengan saya adalah karena saya mendekati manager saya supaya beban pekerjaan saya dikurangi dan nilai performa saya meningkat. Ini tentu gosip yang jahat dan tidak benar. Lagi-lagi saya sedih karena lagi-lagi apa yang saya lakukan dikaitkan dengan urusan fisik. Padahal, kalau saya lihat ke belakang, saya tidak pernah mendapatkan sebuah pekerjaan karena fisik saya. Rata-raya saya harus mengikuti banyak tes seperti orang kebanyakan.

Saya pribadi tidak pernah merasa mengaitkan kinerja dan kemampuan atau kecerdasan seseorang dengan fisiknya. Misalnya, mencap bahwa semua model itu bodoh karena mereka (rata-rata dianggap) cantik, atau semua profesor itu jelek karena mereka (rata-rata dianggap) pintar. Tapi rupanya tidak semua orang berpikir demikian. Jadi ungkapan klise “don’t judge a book by its cover” ternyata ada benarnya. Saya jadi berpikir, kalau saya saja yang (menurut saya) bertampang ‘standar’ perempuan Indonesia sudah mengalami hal-hal seperti ini, apalagi perempuan-perempuan yang jauh lebih pintar dan ‘cantik’ dari saya, ya? Ah, saya sungguh tidak tega membayangkan kalau mereka dianggap Barbie yang stereotipnya cantik tapi berotak kosong. Kejam sekali kalau mereka dianggap meraih kesuksesan karena fisik mereka semata.

Perempuan memang lebih rentan terkena stereotip fisik dan penampilan. Banyak yang menganggap bahwa jika seorang perempuan bisa sukses maka itu karena dia memanfaatkan fisiknya. Demikian rentannya, banyak perempuan yang dianiaya dan dilecehkan secara fisik, verbal, dan psikologis. Kita banyak mendengar cerita tentang seorang mahasiswi yang digosipkan ‘ada main’ dengan dosennya sehingga nilainya bagus, atau soal naik pangkatnya (atau gajinya) seorang karyawan perempuan karena ‘jadi simpanan’ bos-nya. Seakan-akan kalau perempuan itu sukses maka itu pasti ada kaitannya dengan penampilan fisiknya.

Jadi apa sebenarnya yang mau saya sampaikan? Gak ada sebenernya saya cuma curhat. Sederhana saja. Jangan mereduksi nilai seseorang dari penampilan fisiknya. Jadilah seseorang yang lebih cerdas. Daannn… buat para laki-laki yang ingin menggombali perempuan, sebaiknya lihat-lihat dulu, deh. Apa perempuan ini termasuk tipe yang bisa termakan rayuan atau lebih suka menganalisis kata-kata rayuan itu sendiri. :p Tiba-tiba saya jadi ingat ibu saya yang cantik dan hebat itu. Ibu saya pernah bilang, “Jadilah perempuan yang cerdas agar kelak orang menghargaimu atas isi kepalamu, bukan fisikmu”. Tapi ibu, mengingat dunia yang begini kejam, saya jadi ragu…. 🙂

Cheers,

Haura Emilia

Post-Wedding Life of A Stay-Home Couple

Halo semuanya,

Karena sok sibuk kesibukan pekerjaan dan drama lainnya, saya baru sempat menulis blog lagi sekarang. 🙂 Baru-baru ini saya melakukan praktik atau peristiwa budaya yang menurut sebagian besar orang di dunia ini adalah momen yang sangat penting dalam kehidupan seseorang. Momen ini biasa disebut “pernikahan”. Walaupun saya baru menikah 2,5 bulan yang lalu, sudah ada saja yang menanyakan “how’s life after you get married?” Pertanyaan yang lucu buat saya, karena 2,5 bulan itu waktu yang sangat singkat untuk membicarakan kehidupan rumah tangga. Tapi toh ada saja yang bisa ditulis soal kehidupan pascapernikahan ini. Kalau Anda iseng dan tidak punya pekerjaan yang lebih asik dari baca blog saya, silakan lanjutkan membaca.

Saya akan memulainya dari suami saya. Suami saya adalah orang yang sangat santai dalam banyak hal, sekaligus ambisius dalam hal lainnya. Mari kita bahas sisi santainya dulu. Suami saya sangat tidak cerewet dalam HAMPIR SEGALA HAL. Misalnya, dia mau makan apa saja kecuali batu bata goreng dan buah pisang. Tidak ada nasi? Ya makan roti. Tidak ada lauk? Ya makan pake kerupuk saja. Tidak ada ayam? Ya jadi vegetarian saja. Makanan tidak enak? Yang penting makan. Tidak ada makanan? Ya puasa dulu saja. Istri malas masak atau capek? Gantian suami yang masak. Istri lagi pengen masak? Ya suami bantuin masak. Tidak ada ulekan? Ya pakai gelas saja, digiles cabe bawangnya. Iya, dia orang yang begitu fleksibel. Serius.

Kedua, suami saya juga santai dalam menjalani hidup. Gak ada TV? Baca buku saja. Tidak punya teman main game? Cari kegiatan lain seperti olah raga. Jalanan macet? Sabar, masih untung bisa kemana-mana naik kendaraan sendiri. Nyasar di jalan? Ditertawakan saja, toh ini akan jadi pengalaman yang menarik untuk dikenang suatu hari nanti. Kebijakan pemerintah yang gak nyambung dan buat sengsara rakyat? Mari membenahi keadaan dengan mulai dari hal terkecil dan dari diri sendiri. Iya, dia memang begitu positif. Stress free. Saya sempat heran kenapa ada orang yang begitu santai dan jarang sekali ‘bete’. Saking positifnya, percakapan begini sangat umum terjadi antara saya dan suami:

Saya: Eh, aduh. Itu anjing liar nyolong ikan dari rumah tukang sayur! (Tetangga kami kebetulan tukang sayur keliling)

Dia: Bukan nyolong, kok. Itu palingan ikan yang udah gak laku, terus dikasih ke anjing sama abang sayurnya.

Saya: Jadi anjing pun kamu belain?

Di lain kesempatan:

Saya: Coba itu si Yudi (keponakan saya), masa STNK motornya ditinggal di bagasi motor di parkiran kantornya. Oon kan? Itu sama aja kayak ngasih motor ke maling motor.

Dia: (Dengan muka serius) Bukan oon, itu namanya dermawan.

Gubrak*

Atau percakapan ini:

Saya: Kalau punya anak, kamu mau ikutan ngurusin anak, kan?

Dia: Jangankan itu. Kalau aku punya tetek, bakal aku susuin bayinya sekalian.

LOL.

Nah, bagaimana dengan sisi ambisiusnya? Suami saya cinta sekali dengan pekerjaannya. Dia sangat suka dengan segala sesuatu yang berhubungan dan komputer, teknologi, finance, dan building a start-up. Di luar pekerjaan, dia menghabiskan banyak sekali waktu di depan laptopnya, entah itu untuk belajar coding secara otodidak atau melakukan berbagai macam riset, mulai dari cara bertani hidroponik sampai ke review teknologi mobil terbaru. Dia juga begitu bersemangat merintis bisnis dan motivasi utamanya bukan uang, melainkan untuk membantu memecahkan sebuah masalah dan dapat menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Jadi dia sangat fokus soal urusan pekerjaan.

Soal pekerjaan, dapat disimpulkan kami berdua sepasang suami istri yang sehari-harinya menghabiskan sebagian besar waktu di depan PC atau laptop, dan biasanya hanya bercengkrama saat masak makan siang atau malam dan sebelum tidur. Tapi jangan dibayangkan kami orang yang super sibuk dan tidak bisa santai sama sekali. Sebenarnya, kami cenderung santai dibandingkan dengan orang-orang yang bekerja kantoran. Misalnya, karena tidak perlu macet-macetan atau bahkan pergi ke kantor, kami baru bangun jam 7 pagi. Lalu kami beres-beres rumah, sarapan, mandi, dan mulai bekerja. Siang hari, kalau ngantuk, kami bisa tidur siang. Kalau bosan kerja di rumah kami akan pergi cari kafe dan bekerja dari sana. Kalau pekerjaan sedang tidak banyak, kami akan jalan-jalan keluar cari angin atau sekedar ngobrol membicarakan ide-ide baru, misalnya soal banting stir menjadi petani organik atau impor barang dari China untuk dijual di sini, atau membuat materi e-learning.

Soal pembagian kerja, kami juga asik-asik saja. Kalau pagi suami menyapu rumah, saya yang mengepel. Atau dia yang menyapu ngepel dan saya yang membuat sarapan dan memasak. Kalau saya masak makan siang, dia masak makan malam. Kalau saya mengeluh atau mengomel soal sesuatu yang sebenarnya tidak penting, dia akan mendengarkan dan biasanya cuma tertawa dan menyuruh saya untuk santai dan tarik napas dalam-dalam. Biasanya saya akhirnya akan tertawa juga. Positivity is contagious. 🙂

Di akhir pekan biasanya kami akan makan di luar, belanja mingguan atau membicarakan soal dekorasi rumah dan taman. Kami juga bertekad untuk jalan-jalan singkat setiap kami ada kesempatan. Entah itu ke kota-kota terdekat atau negara tetangga. Ini penting sekali, karena setiap orang butuh liburan agar tetap waras, apa pun pekerjaan dan profesinya. Alasan lainnya adalah karena kami belajar bahwa traveling adalah eye-opener yang membuka wawasan, hati, dan pikiran.

Sejauh ini, kami berdua adalah tim yang baik. Mungkin ini karena menikahnya belum lama (haha) kami sama-sama punya selera humor yang aneh. Kami juga tidak romantis jadi biasanya percakapan paling romantis terdengar seperti ini:

Saya: (Iseng setelah pekerjaan selesai) Menurut kamu aku cantik gak?

Dia: (Menatap laptop) Iya, cantik.

Saya: Masa?

Dia: (Masih menatap laptop) Emangnya aku dikasih pilihan jawaban yang lain?

Saya: (Tertawa) Ya ada, dong. Misalnya, cantik banget dan cantik sekali (ogah rugi).

Dia: (Tertawa sambil TETAP menatap laptop) Sungguh percakapan yang gak penting.

Di kesempatan lain:

Saya: Aku suka banget nama Tiffany. Kalau kita punya anak perempuan suatu hari namanya Tiffany, ya?

Dia: Kalau laki-laki?

Saya: Apa, ya?

Dia: Tiffatul. (Mengacu kepada mantan menkominfo Tiffatul Sembiring)

Kami berdua pun tertawa. Iya, seperti itulah gambaran kehidupan kami setelah menikah. Semoga selanjutnya kami bisa terus menjadi tim yang baik serta bisa tertawa dan walaupun dengan berat hati menangis bersama. 🙂

Cheers,

Haura Emilia