Tentang menjadi penerjemah lepas

 

Sejak kembali ke Indonesia, saya memutuskan untuk bekerja sebagai seorang penerjemah lepas. Ini bukan keputusan yang mudah pada awalnya, karena saya sempat berpikir untuk kembali mengajar di kampus. Tetapi setelah memperhitungkan kelebihan dan kekurangannya, saya memutuskan untuk menjadi penerjemah lepas purnawaktu yang bekerja dari rumah.

Saya kebetulan memang sudah mulai menerjemahkan sejak tahun 2006, saat masih duduk di bangku kuliah. Saya juga sempat bekerja sebagai penerjemah in-house di salah satu agensi terjemahan di Singapura. Tetapi, menjadi penerjemah lepas purnawaktu adalah hal yang sangat berbeda. Ada berbagai persoalan klasik yang harus dipecahkan sebelum sepenuhnya terjun bebas menjadi penerjemah lepas.

Persoalan pertama adalah mencari klien atau mitra, orang yang membutuhkan jasa saya sebagai penerjemah. Apakah saya harus berdiri di pinggir jalan sambil membawa-bawa papan bertuliskan ‘saya penerjemah, hubungi saya’? Tentu tidak, bisa-bisa saya dikira mbak-mbak sales marketing door to door stres yang memutuskan untuk jadi penerjemah. Atau saya harus menghubungi teman-teman lama dan bertanya kepada mereka satu persatu untuk menawarkan jasa? Sungguh membuang waktu dan tenaga. Ada beberapa tips dan cara yang lebih efektif yang bisa saya berikan untuk mulai menjadi penerjemah lepas.

1. Bergabunglah dengan mailing list penerjemah lokal maupun internasional atau, jika tertarik, jadilah anggota HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia). Dengan menjadi bagian dari kelompok orang yang memiliki minat dan profesi yang sama, kita akan lebih up-to-date dengan informasi seputar dunia terjemahan, dan bukan tidak mungkin mendapatkan pekerjaan menerjemahkan. Situs HPI bisa diakses di sini: http://www.hpi.or.id/.

2. Manfaatkan media sosial. Media sosial di sini maksudnya bukan hanya Facebook dan Twitter, melainkan juga Linkedin. Anda bisa mengikuti agensi-agensi terjemahan internasional dan meminta koneksi atau pertemanan dengan orang-orang yang berprofesi sama. Tampilkan profil yang menarik dan tekankan pada pengalaman menerjemahkan Anda. Jika Anda adalah penerjemah pemula, Anda bisa juga mencantumkan informasi lain yang relevan dengan dunia penerjemahan, seperti latar belakang pendidikan, minat, sertifikasi, dst.

3. Bergabunglah dengan berbagai situs web komunitas penerjemah dan linguistik internasional yang biasanya membuka kesempatan bidding untuk pekerjaan terjemahan. Di situs-situs seperti ini Anda bisa mendaftar menjadi anggota premium (dengan membayar iuran tahunan/bulanan) atau menjadi anggota reguler (gratis tanpa biaya apa pun). Contoh situs-situs yang populer adalah Translatorscafe.com, ProZ, Elance.com, Odesk.com, Translatorpub.com, dsb. Menjadi anggota premium tentu memiliki keuntungan tersendiri, misalnya, Anda akan menjadi salah satu orang yang pertama mengetahui tentang sebuah tawaran pekerjaan sehingga Anda bisa melakukan proses bidding terlebih dahulu sebelum anggota reguler mengetahuinya. Dengan demikian, kesempatan Anda juga akan menjadi lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Biaya untuk menjadi anggota premium bervariasi biasanya sekitar 90 – 110 USD per tahun. Anda juga bisa memilih keanggotaan premium bulanan dengan biaya yang lebih murah, jika ingin mengetes pasar terlebih dahulu.

4. Buat kartu nama profesional yang menunjukkan profesi Anda sebagai penerjemah. Tampilan dan kesan pertama sangatlah penting dalam hal mencari klien yang potensial. Cantumkan alamat email, nomor telepon, atau bahkan situs web yang bisa dihubungi jika seseorang memerlukan jasa Anda sebagai penerjemah. Setiap bertemu dengan orang-orang yang tepat atau yang kira-kira berpotensi menjadi klien, jangan ragu untuk memberikan kartu nama Anda.

5. Susun CV yang menonjolkan profesi Anda sebagai penerjemah. CV yang disusun dengan baik dan pastinya tidak alay dan terlihat seperti anak baru lulus yang baru belajar membuat CV dapat menjadi faktor penarik utama bagi calon klien. Kenapa demikian? Jika Anda ingin mendapatkan pekerjaan menerjemahkan secara online dari seseorang atau agensi yang tidak Anda kenal atau mengenal Anda, seringkali CV adalah satu-satunya hal yang bisa dijadikan tolak ukur kualitas Anda sebagai seorang penerjemah. Jadi, semakin bagus dan efektif CV yang Anda buat, semakin besar pula kemungkinan Anda akan mendapatkan pekerjaan. Tetapi ingat, buatlah CV dengan jujur, jangan mempertaruhkan kredibilitas Anda dengan mencantumkan informasi yang tidak benar atau relevan di dalam CV.

Setelah masalah klien terpecahkan, maka Anda mungkin akan menghadapi persoalan yang berikutnya, yakni metode pembayaran. Jika Anda mendapatkan pekerjaan dari klien lokal, maka transfer bank sangat mudah untuk dilakukan.

Tetapi bagaimana jika Anda mendapatkan pekerjaan dari klien internasional? Transfer bank tetap bisa dilakukan, namun hal ini bisa menjadi sedikit rumit jika jumlah yang akan Anda terima ternyata lebih kecil dari potongan bank yang akan diambil langsung dari rekening Anda. Dalam proses remittance, seringkali pihak pengirim (dalam kasus ini klien yang membutuhkan jasa terjemahan) membebankan biaya pengiriman kepada Anda. Biayanya bervariasi di setiap bank lokal, yang jelas bisa mencapai sekitar 30-33 USD per pengiriman. Untuk menghindari biaya pemotongan seperti ini, Anda bisa mempertimbangkan untuk membuat akun Paypal dengan menggunakan kartu kredit. Keuntungannya adalah Anda bisa mengumpulkan terlebih dulu pembayaran yang Anda terima hingga jumlah yang Anda inginkan terpenuhi lalu kemudian mencairkannya dengan cara melakukan transfer terhadap dana yang ada ke nomor rekening bank yang Anda pilih.

Tantangan lain yang mungkin akan dihadapi penerjemah adalah mempelajari atau menggunakan alat atau software yang biasa digunakan untuk membantu menerjemahkan. Software yang saya maksud di sini bukanlah Google Translate atau mesin / situs penerjemah otomatis lainnya. Software terjemahan berfungsi membantu penerjemah untuk menjaga konsistensi terjemahan, memeriksa gramatika dan ejaan, menyimpan kata-kata yang telah diterjemahkan sebelumnya untuk digunakan di lain waktu di dokumen yang berbeda, dan masih banyak fungsi lainnya. Semua kegunaan software ini akan membantu penerjemah bekerja lebih cepat, efektif, dan efisien.

Mengapa software bisa menjadi tantangan tersendiri bagi seorang penerjemah? Karena tidak semua penerjemah terbiasa atau tahu cara menggunakannya. Ada beberapa software yang sangat popular digunakan, misalnya WordFast dan Trados. Untuk mempelajarinya, penerjemah bisa mengunduh versi trial terlebih dahulu dan mempelajari tutorialnya di Youtube atau blog tutorial yang bisa Anda google.

Berikut ini link tutorial yang bisa menjadi acuan awal untuk belajar menggunakan Trados:

Learn SDL Trados Studio 2011 in 10 minutes:

SDL Trados Studio 2014 in 10 minutes: Take a look inside:

Ada banyak blog dan informasi yang bisa Anda google mengenai software terjemahan. Anda bisa belajar banyak dari berbagai sumber. Jika sudah merasa yakin, Anda bisa membeli software aslinya. Mengingat bahwa harga software terjemahan yang asli ini bikin bangkrut tidak murah (berkisar antara 400-700an USD/software), sebaiknya pastikan terlebih dahulu bahwa Anda memang sudah memerlukan software yang dimaksud. Masih banyak klien yang tidak mengharuskan penggunaan software tertentu untuk mengerjakan proyek terjemahan. Beberapa klien hanya meminta proses pengerjaan terjemahan yang manual, dengan menggunakan Word, Excel, dan produk Office lainnya. Jangan ragu untuk bertanya kepada klien apakah Anda bisa mengerjakan proyek yang ditawarkan dengan cara manual.

Oke, kita sudah membahas tantangannya. Lalu apa saja kelebihan dan kekurangan menjalani profesi ini? Karena saya orang yang berusaha mati-matian walaupun kadang gagal untuk menjadi selalu positif, jadi mari kita lihat kelebihannya terlebih dahulu:

1. Anda bisa bekerja dari rumah sambil mengasihani mereka yang setiap hari terjebak kemacetan ibu kota untuk bekerja—oke ini jahat ditemani keluarga tercinta. Ini berarti Anda juga akan menghemat anggaran beli baju kerja (karena bisa bekerja dengan celana pendek atau bahkan tanpa celana) di depan komputer, di rumah sendiri. Anda juga tidak perlu bangun pagi-pagi buta untuk bersiap-siap ke kantor. Daaann, pekerjaan Anda pun ‘water proof’, alias bebas banjir… 😀

2. Buat ibu rumah tangga, Anda bisa tetap bekerja sambil tetap mengawasi anak-anak, pengasuh anak-anak, dan asisten rumah tangga di rumah.

3. Kalau bosan bekerja, Anda bisa istirahat sejenak dan nonton TV. Anda juga bisa tidur siang dulu jika mengantuk seperti pengalaman pribadi saya. Kalau Anda tidur siang di kantor bisa-bisa Anda dapat SP, apalagi kalau tidur siangnya setiap hari.

4. Gaji Anda mungkin tidak akan selalu datang dalam bentuk Rupiah, melainkan dalam bentuk mata uang lain (yah walaupun ujung-ujungnya akan dikonversi ke Rupiah juga). Anda kemungkinan akan senang kalau kurs Rupiah jeblok jika Anda menerima bayaran dalam bentuk Dolar atau mata uang lainnya. Di sisi lain Anda tetap harus pura-pura berusaha empati karena kalau Rupiah jeblok, itu berarti apa-apa menjadi mahal.

5. Anda bisa bebas cuti kapan pun Anda mau. Mau cuti 3 bulan dalam setahun padahal Anda tidak melahirkan? Bisa!

6. Anda bisa bekerja dari mana pun selama ada jaringan internet. Bekerja dari Bangkok? Bisa! Dari kasur di kamar sendiri? Bisa! Dari Bali? Kenapa tidak? 🙂

7. Anda tidak punya bos atau kolega menyebalkan yang harus Anda buat senang dan lihat mukanya setiap hari. Kalaupun klien Anda ternyata menyusahkan dan banyak maunya, paling tidak Anda tidak perlu melihat mukanya, dan bisa menolak dengan halus dan sopan melalui email. Hidup pun lebih indah tanpa adanya politik kantor. 😉

8. Anda bisa memilih pekerjaan yang kira-kira Anda suka saja. Topik ini sulit diterjemahkan? Skip. Klien ini bayarnya terlalu lama? Skip. Pekerjaan ini bayarannya tidak sesuai standar Anda? Skip. Anda memiliki kebebasan untuk menentukan Anda mau mengerjakan apa dan dengan siapa. Tapi jangan tolak semua tawaran, karena ini sama saja menutup sumber penghasilan.

9. Anda bisa belajar hal-hal baru setiap harinya. Terjemahan soal perbankan padahal Anda tidak pernah kuliah perbankan? Harus belajar dulu. Terjemahan dokumen IT padahal Anda agak ‘gaptek’? Harus belajar dulu. Terjemahan teks hukum padahal Anda lulusan sastra atau ekonomi? Harus belajar dulu. Dengan menjadi penerjemah, Anda akan belajar banyak sekali hal-hal baru setiap harinya. Kalau Anda tidak takut menjadi pintar, menjadi penerjemah bisa menjadi profesi yang sangat menyenangkan. 🙂

Nah, menyenangkan bukan menjadi penerjemah? Tunggu dulu, tidak ada pekerjaan yang sempurna. Menjadi penerjemah juga memiliki kekurangannya tersendiri. Segala sesuatu pasti ada ‘jebakan betmennya’. Apa saja?

1. Selamat tinggal kehidupan sosial. Karena Anda bekerja dari rumah, maka otomatis kehidupan sosial juga akan mati secara perlahan jika Anda tidak berusaha menghidupkannya. Anda bisa dilanda rasa bosan yang amat sangat dan mulai merindukan punya teman bekerja untuk diajak bergosip bercerita dan bersosialisasi. Bahkan bukan tidak mungkin Anda tidak menyadari bahwa tetangga Anda ternyata sudah membuka warung atau satu mall lagi sudah selesai dibangun karena Anda jarang sekali keluar rumah.

2. Anda akan lebih sulit mengajukan visa, melamar kartu kredit, mengajukan cicilan kendaraan motor atau rumah, karena Anda dianggap sebagai ‘pengangguran terselubung’ atau ‘kerjanya tidak jelas’. Tapi hal ini bukannya tidak mungkin, ya. Anda hanya perlu lebih memutar otak sedikit lebih keras dibandingkan mereka yang kerja kantoran.

3. Pengaturan waktu. Karena Anda mengatur jam kerja Anda sendiri, ini bisa menjadi tantangan bagi yang tidak disiplin. Misalnya, kalau Anda bangun terlalu siang, maka otomatis Anda harus bekerja sampai malam. Belum lagi jika klien Anda ada di belahan bumi atau benua yang berbeda. Anda harus paham dan ingat benar deadline kerja Anda. Jam berapakah dalam WIB atau WITA pukul 5 CET itu? Jerman itu GMT+ berapa? Rapat dengan klien pukul 7 UTC? Semuanya harus Anda catat dan ingat dengan baik agar tidak ada yang terlewat.

4. Penghasilan yang tidak tetap. Yup, benar sekali. Anda biasanya tidak akan memiliki jumlah gaji yang tetap karena semuanya tergantung order atau pekerjaan yang Anda ambil, terima atau dapatkan. Mungkin akan ada masa-masa di mana Anda bisa berlibur ke luar negeri setelah dua bulan bekerja, dan ada masa-masa di mana Anda harus mengais-ngais menguras tabungan, karena lagi sepi ‘orderan’.

5. Ketidakpastian. Buat yang memilih hidup tanpa drama, gaji tetap bulanan, dan karir yang ‘jelas’, saya tidak sarankan untuk jadi penerjemah lepas purnawaktu. Kenapa? Pekerjaan seperti ini memiliki risiko tersendiri. Jika tidak hati-hati atau nasib sedang tidak baik, bisa saja klien Anda menolak membayar atas alasan apa pun atau tiba-tiba memutuskan untuk memotong bayaran Anda untuk alasan yang mungkin menurut Anda tidak jelas. Anda tidak bisa menuntut kalau klien Anda ada di Eropa bukan? Mau sok sewa pengacara dan menuntut segala juga tidak mungkin, karena bayar pengacara lebih mahal dari jumlah uang yang Anda tuntut. Anda juga harus mempersiapkan mental untuk dicap ‘tidak punya masa depan’, ‘tidak punya pekerjaan tetap dan jelas’, dan anggapan-anggapan miring lainnya, yang belum tentu benar.

6. Tanpa asuransi atau jaminan hari tua (pensiunan). Keuntungan bekerja di sebuah perusahaan atau lembaga pemerintah adalah jaminan kesehatan dan hari tua. Kalau Anda bekerja untuk diri sendiri, maka Anda harus pintar-pintar mengatur finansial Anda. Anda harus membayar asuransi Anda sendiri dan menabung untuk hari tua.

Intinya, semua pekerjaan punya risiko dan keindahannya masing-masing. Kalau Anda senang mempelajari hal-hal baru, easy going, tidak takut tiba-tiba tidak punya pekerjaan, tidak mengejar karir, menyukai kebebasan dan berjiwa petualang, plus punya keahlian menerjemahkan, Anda bisa menjadikan terjemahan sebagai sumber utama penghasilan Anda. Jangan takut, saya kenal banyak penerjemah yang ‘kaya raya’, kok. Yang penting mau berusaha, belajar, bersabar, dan jangan pernah menyerah.

Bagaimana? Sudah siap menjadi penerjemah? 🙂

Cheers,

Haura Emilia

Iklan

3 respons untuk ‘Tentang menjadi penerjemah lepas

  1. Biasanya kalo harus belajar untuk translate bidang lain itu belajar dr mana y? Misal org ekonomi, belajar ITnya dr mana? Atau browsing istilah2 awamnya dulu atau gimana?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s