Tentang menjadi penerjemah lepas

 

Sejak kembali ke Indonesia, saya memutuskan untuk bekerja sebagai seorang penerjemah lepas. Ini bukan keputusan yang mudah pada awalnya, karena saya sempat berpikir untuk kembali mengajar di kampus. Tetapi setelah memperhitungkan kelebihan dan kekurangannya, saya memutuskan untuk menjadi penerjemah lepas purnawaktu yang bekerja dari rumah.

Saya kebetulan memang sudah mulai menerjemahkan sejak tahun 2006, saat masih duduk di bangku kuliah. Saya juga sempat bekerja sebagai penerjemah in-house di salah satu agensi terjemahan di Singapura. Tetapi, menjadi penerjemah lepas purnawaktu adalah hal yang sangat berbeda. Ada berbagai persoalan klasik yang harus dipecahkan sebelum sepenuhnya terjun bebas menjadi penerjemah lepas.

Persoalan pertama adalah mencari klien atau mitra, orang yang membutuhkan jasa saya sebagai penerjemah. Apakah saya harus berdiri di pinggir jalan sambil membawa-bawa papan bertuliskan ‘saya penerjemah, hubungi saya’? Tentu tidak, bisa-bisa saya dikira mbak-mbak sales marketing door to door stres yang memutuskan untuk jadi penerjemah. Atau saya harus menghubungi teman-teman lama dan bertanya kepada mereka satu persatu untuk menawarkan jasa? Sungguh membuang waktu dan tenaga. Ada beberapa tips dan cara yang lebih efektif yang bisa saya berikan untuk mulai menjadi penerjemah lepas.

1. Bergabunglah dengan mailing list penerjemah lokal maupun internasional atau, jika tertarik, jadilah anggota HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia). Dengan menjadi bagian dari kelompok orang yang memiliki minat dan profesi yang sama, kita akan lebih up-to-date dengan informasi seputar dunia terjemahan, dan bukan tidak mungkin mendapatkan pekerjaan menerjemahkan. Situs HPI bisa diakses di sini: http://www.hpi.or.id/.

2. Manfaatkan media sosial. Media sosial di sini maksudnya bukan hanya Facebook dan Twitter, melainkan juga Linkedin. Anda bisa mengikuti agensi-agensi terjemahan internasional dan meminta koneksi atau pertemanan dengan orang-orang yang berprofesi sama. Tampilkan profil yang menarik dan tekankan pada pengalaman menerjemahkan Anda. Jika Anda adalah penerjemah pemula, Anda bisa juga mencantumkan informasi lain yang relevan dengan dunia penerjemahan, seperti latar belakang pendidikan, minat, sertifikasi, dst.

3. Bergabunglah dengan berbagai situs web komunitas penerjemah dan linguistik internasional yang biasanya membuka kesempatan bidding untuk pekerjaan terjemahan. Di situs-situs seperti ini Anda bisa mendaftar menjadi anggota premium (dengan membayar iuran tahunan/bulanan) atau menjadi anggota reguler (gratis tanpa biaya apa pun). Contoh situs-situs yang populer adalah Translatorscafe.com, ProZ, Elance.com, Odesk.com, Translatorpub.com, dsb. Menjadi anggota premium tentu memiliki keuntungan tersendiri, misalnya, Anda akan menjadi salah satu orang yang pertama mengetahui tentang sebuah tawaran pekerjaan sehingga Anda bisa melakukan proses bidding terlebih dahulu sebelum anggota reguler mengetahuinya. Dengan demikian, kesempatan Anda juga akan menjadi lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Biaya untuk menjadi anggota premium bervariasi biasanya sekitar 90 – 110 USD per tahun. Anda juga bisa memilih keanggotaan premium bulanan dengan biaya yang lebih murah, jika ingin mengetes pasar terlebih dahulu.

4. Buat kartu nama profesional yang menunjukkan profesi Anda sebagai penerjemah. Tampilan dan kesan pertama sangatlah penting dalam hal mencari klien yang potensial. Cantumkan alamat email, nomor telepon, atau bahkan situs web yang bisa dihubungi jika seseorang memerlukan jasa Anda sebagai penerjemah. Setiap bertemu dengan orang-orang yang tepat atau yang kira-kira berpotensi menjadi klien, jangan ragu untuk memberikan kartu nama Anda.

5. Susun CV yang menonjolkan profesi Anda sebagai penerjemah. CV yang disusun dengan baik dan pastinya tidak alay dan terlihat seperti anak baru lulus yang baru belajar membuat CV dapat menjadi faktor penarik utama bagi calon klien. Kenapa demikian? Jika Anda ingin mendapatkan pekerjaan menerjemahkan secara online dari seseorang atau agensi yang tidak Anda kenal atau mengenal Anda, seringkali CV adalah satu-satunya hal yang bisa dijadikan tolak ukur kualitas Anda sebagai seorang penerjemah. Jadi, semakin bagus dan efektif CV yang Anda buat, semakin besar pula kemungkinan Anda akan mendapatkan pekerjaan. Tetapi ingat, buatlah CV dengan jujur, jangan mempertaruhkan kredibilitas Anda dengan mencantumkan informasi yang tidak benar atau relevan di dalam CV.

Setelah masalah klien terpecahkan, maka Anda mungkin akan menghadapi persoalan yang berikutnya, yakni metode pembayaran. Jika Anda mendapatkan pekerjaan dari klien lokal, maka transfer bank sangat mudah untuk dilakukan.

Tetapi bagaimana jika Anda mendapatkan pekerjaan dari klien internasional? Transfer bank tetap bisa dilakukan, namun hal ini bisa menjadi sedikit rumit jika jumlah yang akan Anda terima ternyata lebih kecil dari potongan bank yang akan diambil langsung dari rekening Anda. Dalam proses remittance, seringkali pihak pengirim (dalam kasus ini klien yang membutuhkan jasa terjemahan) membebankan biaya pengiriman kepada Anda. Biayanya bervariasi di setiap bank lokal, yang jelas bisa mencapai sekitar 30-33 USD per pengiriman. Untuk menghindari biaya pemotongan seperti ini, Anda bisa mempertimbangkan untuk membuat akun Paypal dengan menggunakan kartu kredit. Keuntungannya adalah Anda bisa mengumpulkan terlebih dulu pembayaran yang Anda terima hingga jumlah yang Anda inginkan terpenuhi lalu kemudian mencairkannya dengan cara melakukan transfer terhadap dana yang ada ke nomor rekening bank yang Anda pilih.

Tantangan lain yang mungkin akan dihadapi penerjemah adalah mempelajari atau menggunakan alat atau software yang biasa digunakan untuk membantu menerjemahkan. Software yang saya maksud di sini bukanlah Google Translate atau mesin / situs penerjemah otomatis lainnya. Software terjemahan berfungsi membantu penerjemah untuk menjaga konsistensi terjemahan, memeriksa gramatika dan ejaan, menyimpan kata-kata yang telah diterjemahkan sebelumnya untuk digunakan di lain waktu di dokumen yang berbeda, dan masih banyak fungsi lainnya. Semua kegunaan software ini akan membantu penerjemah bekerja lebih cepat, efektif, dan efisien.

Mengapa software bisa menjadi tantangan tersendiri bagi seorang penerjemah? Karena tidak semua penerjemah terbiasa atau tahu cara menggunakannya. Ada beberapa software yang sangat popular digunakan, misalnya WordFast dan Trados. Untuk mempelajarinya, penerjemah bisa mengunduh versi trial terlebih dahulu dan mempelajari tutorialnya di Youtube atau blog tutorial yang bisa Anda google.

Berikut ini link tutorial yang bisa menjadi acuan awal untuk belajar menggunakan Trados:

Learn SDL Trados Studio 2011 in 10 minutes:

SDL Trados Studio 2014 in 10 minutes: Take a look inside:

Ada banyak blog dan informasi yang bisa Anda google mengenai software terjemahan. Anda bisa belajar banyak dari berbagai sumber. Jika sudah merasa yakin, Anda bisa membeli software aslinya. Mengingat bahwa harga software terjemahan yang asli ini bikin bangkrut tidak murah (berkisar antara 400-700an USD/software), sebaiknya pastikan terlebih dahulu bahwa Anda memang sudah memerlukan software yang dimaksud. Masih banyak klien yang tidak mengharuskan penggunaan software tertentu untuk mengerjakan proyek terjemahan. Beberapa klien hanya meminta proses pengerjaan terjemahan yang manual, dengan menggunakan Word, Excel, dan produk Office lainnya. Jangan ragu untuk bertanya kepada klien apakah Anda bisa mengerjakan proyek yang ditawarkan dengan cara manual.

Oke, kita sudah membahas tantangannya. Lalu apa saja kelebihan dan kekurangan menjalani profesi ini? Karena saya orang yang berusaha mati-matian walaupun kadang gagal untuk menjadi selalu positif, jadi mari kita lihat kelebihannya terlebih dahulu:

1. Anda bisa bekerja dari rumah sambil mengasihani mereka yang setiap hari terjebak kemacetan ibu kota untuk bekerja—oke ini jahat ditemani keluarga tercinta. Ini berarti Anda juga akan menghemat anggaran beli baju kerja (karena bisa bekerja dengan celana pendek atau bahkan tanpa celana) di depan komputer, di rumah sendiri. Anda juga tidak perlu bangun pagi-pagi buta untuk bersiap-siap ke kantor. Daaann, pekerjaan Anda pun ‘water proof’, alias bebas banjir… 😀

2. Buat ibu rumah tangga, Anda bisa tetap bekerja sambil tetap mengawasi anak-anak, pengasuh anak-anak, dan asisten rumah tangga di rumah.

3. Kalau bosan bekerja, Anda bisa istirahat sejenak dan nonton TV. Anda juga bisa tidur siang dulu jika mengantuk seperti pengalaman pribadi saya. Kalau Anda tidur siang di kantor bisa-bisa Anda dapat SP, apalagi kalau tidur siangnya setiap hari.

4. Gaji Anda mungkin tidak akan selalu datang dalam bentuk Rupiah, melainkan dalam bentuk mata uang lain (yah walaupun ujung-ujungnya akan dikonversi ke Rupiah juga). Anda kemungkinan akan senang kalau kurs Rupiah jeblok jika Anda menerima bayaran dalam bentuk Dolar atau mata uang lainnya. Di sisi lain Anda tetap harus pura-pura berusaha empati karena kalau Rupiah jeblok, itu berarti apa-apa menjadi mahal.

5. Anda bisa bebas cuti kapan pun Anda mau. Mau cuti 3 bulan dalam setahun padahal Anda tidak melahirkan? Bisa!

6. Anda bisa bekerja dari mana pun selama ada jaringan internet. Bekerja dari Bangkok? Bisa! Dari kasur di kamar sendiri? Bisa! Dari Bali? Kenapa tidak? 🙂

7. Anda tidak punya bos atau kolega menyebalkan yang harus Anda buat senang dan lihat mukanya setiap hari. Kalaupun klien Anda ternyata menyusahkan dan banyak maunya, paling tidak Anda tidak perlu melihat mukanya, dan bisa menolak dengan halus dan sopan melalui email. Hidup pun lebih indah tanpa adanya politik kantor. 😉

8. Anda bisa memilih pekerjaan yang kira-kira Anda suka saja. Topik ini sulit diterjemahkan? Skip. Klien ini bayarnya terlalu lama? Skip. Pekerjaan ini bayarannya tidak sesuai standar Anda? Skip. Anda memiliki kebebasan untuk menentukan Anda mau mengerjakan apa dan dengan siapa. Tapi jangan tolak semua tawaran, karena ini sama saja menutup sumber penghasilan.

9. Anda bisa belajar hal-hal baru setiap harinya. Terjemahan soal perbankan padahal Anda tidak pernah kuliah perbankan? Harus belajar dulu. Terjemahan dokumen IT padahal Anda agak ‘gaptek’? Harus belajar dulu. Terjemahan teks hukum padahal Anda lulusan sastra atau ekonomi? Harus belajar dulu. Dengan menjadi penerjemah, Anda akan belajar banyak sekali hal-hal baru setiap harinya. Kalau Anda tidak takut menjadi pintar, menjadi penerjemah bisa menjadi profesi yang sangat menyenangkan. 🙂

Nah, menyenangkan bukan menjadi penerjemah? Tunggu dulu, tidak ada pekerjaan yang sempurna. Menjadi penerjemah juga memiliki kekurangannya tersendiri. Segala sesuatu pasti ada ‘jebakan betmennya’. Apa saja?

1. Selamat tinggal kehidupan sosial. Karena Anda bekerja dari rumah, maka otomatis kehidupan sosial juga akan mati secara perlahan jika Anda tidak berusaha menghidupkannya. Anda bisa dilanda rasa bosan yang amat sangat dan mulai merindukan punya teman bekerja untuk diajak bergosip bercerita dan bersosialisasi. Bahkan bukan tidak mungkin Anda tidak menyadari bahwa tetangga Anda ternyata sudah membuka warung atau satu mall lagi sudah selesai dibangun karena Anda jarang sekali keluar rumah.

2. Anda akan lebih sulit mengajukan visa, melamar kartu kredit, mengajukan cicilan kendaraan motor atau rumah, karena Anda dianggap sebagai ‘pengangguran terselubung’ atau ‘kerjanya tidak jelas’. Tapi hal ini bukannya tidak mungkin, ya. Anda hanya perlu lebih memutar otak sedikit lebih keras dibandingkan mereka yang kerja kantoran.

3. Pengaturan waktu. Karena Anda mengatur jam kerja Anda sendiri, ini bisa menjadi tantangan bagi yang tidak disiplin. Misalnya, kalau Anda bangun terlalu siang, maka otomatis Anda harus bekerja sampai malam. Belum lagi jika klien Anda ada di belahan bumi atau benua yang berbeda. Anda harus paham dan ingat benar deadline kerja Anda. Jam berapakah dalam WIB atau WITA pukul 5 CET itu? Jerman itu GMT+ berapa? Rapat dengan klien pukul 7 UTC? Semuanya harus Anda catat dan ingat dengan baik agar tidak ada yang terlewat.

4. Penghasilan yang tidak tetap. Yup, benar sekali. Anda biasanya tidak akan memiliki jumlah gaji yang tetap karena semuanya tergantung order atau pekerjaan yang Anda ambil, terima atau dapatkan. Mungkin akan ada masa-masa di mana Anda bisa berlibur ke luar negeri setelah dua bulan bekerja, dan ada masa-masa di mana Anda harus mengais-ngais menguras tabungan, karena lagi sepi ‘orderan’.

5. Ketidakpastian. Buat yang memilih hidup tanpa drama, gaji tetap bulanan, dan karir yang ‘jelas’, saya tidak sarankan untuk jadi penerjemah lepas purnawaktu. Kenapa? Pekerjaan seperti ini memiliki risiko tersendiri. Jika tidak hati-hati atau nasib sedang tidak baik, bisa saja klien Anda menolak membayar atas alasan apa pun atau tiba-tiba memutuskan untuk memotong bayaran Anda untuk alasan yang mungkin menurut Anda tidak jelas. Anda tidak bisa menuntut kalau klien Anda ada di Eropa bukan? Mau sok sewa pengacara dan menuntut segala juga tidak mungkin, karena bayar pengacara lebih mahal dari jumlah uang yang Anda tuntut. Anda juga harus mempersiapkan mental untuk dicap ‘tidak punya masa depan’, ‘tidak punya pekerjaan tetap dan jelas’, dan anggapan-anggapan miring lainnya, yang belum tentu benar.

6. Tanpa asuransi atau jaminan hari tua (pensiunan). Keuntungan bekerja di sebuah perusahaan atau lembaga pemerintah adalah jaminan kesehatan dan hari tua. Kalau Anda bekerja untuk diri sendiri, maka Anda harus pintar-pintar mengatur finansial Anda. Anda harus membayar asuransi Anda sendiri dan menabung untuk hari tua.

Intinya, semua pekerjaan punya risiko dan keindahannya masing-masing. Kalau Anda senang mempelajari hal-hal baru, easy going, tidak takut tiba-tiba tidak punya pekerjaan, tidak mengejar karir, menyukai kebebasan dan berjiwa petualang, plus punya keahlian menerjemahkan, Anda bisa menjadikan terjemahan sebagai sumber utama penghasilan Anda. Jangan takut, saya kenal banyak penerjemah yang ‘kaya raya’, kok. Yang penting mau berusaha, belajar, bersabar, dan jangan pernah menyerah.

Bagaimana? Sudah siap menjadi penerjemah? 🙂

Cheers,

Haura Emilia

Iklan

29: Tentang Ibu dan Menjadi Seorang Perempuan

Waktu Taylor Swift merilis album “1989” dan lagu “22”, publik segera menyadari pentingnya dua kelompok angka tersebut bagi Swift. Kenapa 1989? Oh, itu tahun kelahirannya. Kenapa 22? Mungkin karena angka 22 adalah angka yang penting buat si penyanyi. Mungkin semua orang punya angka yang dianggap ‘keramat’, ‘spesial’, atau ‘istimewa’. Saya punya. Buat saya angka itu adalah 29.

Bulan Februari lalu, saya genap berusia 29 tahun. Beberapa hari kemudian, tanggal 1 Maret 2015, saya menjadi seorang istri. Saya mencoba mengingat hal-hal yang sudah saya lalui sampai umur 29, pelajaran apa yang saya dapatkan serta bagaimana semua rangkaian peristiwa yang terjadi menjadikan saya seorang individu yang sekarang, seorang perempuan. Semuanya berawal dari seorang perempuan yang saya panggil ‘ibu’.

Saya dibesarkan oleh seorang perempuan perfeksionis yang, meskipun ia sendiri tidak pernah menyadarinya, hampir memenuhi standar dan stereotip seorang ‘feminis’. Ibu saya adalah seorang perempuan penyayang yang punya keberanian untuk melawan arus, penampilan dan sikap yang tegas, dan pada saat yang bersamaan, perasaan dan hati yang sangat halus. Ibu saya tidak sempurna, tentu saja, tapi dia tahu bahwa ia tidak perlu menjadi ‘sempurna’ untuk menjadi seorang ibu dan perempuan.

Waktu saya sekolah, ibu sangat jarang menyuruh atau mengajak saya ke dapur. Katanya saya dan adik saya cuma akan membuat dapur jadi berantakan dan ‘mengganggu saja’. Saya dan adik tidak pernah keberatan, terus terang kami lebih suka bermain daripada membantu ibu di dapur. Ayah saya, seorang laki-laki baik hati yang walaupun sangat menghargai dan tidak pernah menyakiti perempuan secara verbal dan fisik, tetaplah berjiwa patriarkal. Ayah saya merasa resah karena melihat ibu tidak pernah mengajak atau menyuruh kami ke dapur. Menurut ayah sudah sewajarnya perempuan pergi ke dapur, agar bisa menjadi istri yang baik suatu hari nanti. “Memasak dan ke dapur itu gampang, tidak perlu sekolah tinggi. Biar saja mereka sekolah. Kalau mereka pintar dan suatu hari mereka menginginkannya, mereka akan ke dapur dan memasak makanan yang bahkan namanya tidak bisa kita sebut”. Begitu ibu akan membela saya dan adik saya. Ayah saya cuma diam. Tidak membantah. Mungkin baik ayah dan ibu saya saat itu masing-masing bertekad ingin membuktikan siapa yang benar suatu hari nanti.

Terlepas dari ketidaksepakatan mereka pada hari itu, ibu dan ayah saya setuju bahwa saya dan adik saya harus menimba ilmu setinggi-tingginya. Saya tidak tumbuh dalam keluarga yang serba kecukupan, jadi orang tua saya percaya bahwa pendidikan adalah jalan yang tepat untuk mengeluarkan seseorang dari kemiskinan dan kebodohan.

Waktu saya duduk di kelas 3 SD, ibu menasehati saya. “Kamu harus jadi perempuan yang pintar, kamu tidak akan tahu akan menikah dengan laki-laki seperti apa suatu hari nanti. Kalau kamu tidak bertemu dengan laki-laki yang memperlakukanmu dengan baik, kamu bisa bereskan pakaiannya, simpan dalam koper, dan letakkan kopernya di luar pagar. Suruh dia pergi meninggalkan rumahmu karena kamu tidak butuh orang yang tidak memperlakukanmu dengan baik dan hormat. Karena itu kamu harus pintar, jangan tergantung dengan laki-laki. Cintai dan hormati dirimu dengan menjadi perempuan yang cerdas dan baik.” Begitu nasihat ibu kepada saya dan adik saya.

Nasihat ini membuat saya tidak bisa berhenti bertanya. Kalau memang apa yang dikatakan ibu saya benar, maka seharusnya tidak ada batasan untuk seorang perempuan untuk menjadi atau melakukan apa yang dia inginkan. Saya tidak mengerti kenapa misalnya perempuan ‘tidak boleh memimpin’ atau kenapa ‘perempuan harus melahirkan anak’. Ibu saya mengandalkan dua kata andalan yang menjadi tanda final bahwa diskusi berakhir: agama dan kodrat. Saya mulai berpikir bahwa ibu saya mungkin sejatinya adalah ‘setengah feminis’, karena di satu sisi begitu menjunjung tinggi hak perempuan dan di lain pihak tidak mengetahui bahwa dia punya pilihan yang lain. Saya yang tidak pernah puas pun mulai mengerti bahwa bahkan ibu yang begitu saya kagumi juga memiliki batasnya sendiri.

Lucunya, ibu saya yang feminis itu ternyata adalah perempuan dengan pola pikir dan ambisi yang sederhana. Impian ibu saya adalah merawat keluarga dan menolong sebanyak mungkin orang dengan apa yang dia bisa. Sesederhana itu. Ibu bisa menjadi sangat keras dan otoriter kepada saya dan adik, dengan alasan agar kami menjadi orang yang ‘berguna’.  Kesederhanaan ibu ini tidak menular kepada saya. Sebaliknya, saya tumbuh menjadi anak dan remaja yang punya banyak sekali mimpi. Saya tahu saya akan melakukan sesuatu yang penting bagi orang banyak suatu hari nanti. Hanya saja, waktu itu saya belum tahu mau jadi apa.

Saya kemudian bermimpi ingin jadi pengacara, psikiater, komikus, diplomat, musisi, pengusaha atau menteri perempuan. Ya, saya memang anak yang punya banyak sekali mimpi. Saya tidak cepat puas dan sangat ambisius. Saya sama sekali tidak punya keinginan untuk menikah cepat (buat saya menikah cepat itu berarti sebelum umur 30 tahun) dan punya anak segera setelah menikah. Saya fokus pada mimpi dan ambisi. Saya ingin memiliki hidup yang lebih baik. Ingin orang lain menghormati saya sebagai seorang manusia, bukan karena ayah dan ibu saya yang dihormati begitu banyak orang. Sejenak saya lupa pada cita-cita awal saya: ingin melakukan sesuatu untuk orang banyak dan membuat perubahan.

Saya mulai menyusun target. Saya bercita-cita ingin menyelesaikan studi S3 sebelum umur 30, dan S2 sebelum atau ketika umur 25. Saya berhasil menyelesaikan studi S1 waktu umur 21 dan studi S2 pada umur 25. Saya belajar, kuliah sambil bekerja dan juga sempat menjadi staf pengajar Bahasa Inggris di almameter saya dan beberapa kampus lainnya. Apa saya puas? Belum. Saya tidak mau berhenti di situ, di satu kota, di satu tempat. Saya mulai mencari pekerjaan di luar negeri. Singapura, Australia, Amerika. Saya tanya ibu apa saya boleh tinggal dan bekerja di luar negeri. Ibu saya hanya tersenyum, ibu tahu saya tidak bisa dihentikan. Dan pekerjaan itu pun datang. Di Singapura. Saya berangkat.

Di Singapura, saya tinggal sendiri dan mulai memasak. Saya rutin mengirimkan foto hasil masakan saya ke ibu. Ibu dengan bangga memamerkannya kepada ayah saya. Ibu tahu dia sudah menang, dia tahu dia benar. Ayah saya hanya menganggukkan kepalanya. Ego saya menang. Ego ibu terpuaskan. Ayah harus merestui ide bahwa perempuan tidak selalu berakhir di dapur.

Lalu saya bertemu dengan seseorang di Singapura. Orang yang kesederhanaannya mengingatkan saya kembali kepada ibu dan ayah saya. Orang yang hidupnya didedikasikan untuk orang lain, untuk keluarganya. Saya jadi ingat cita-cita awal saya. Tiba-tiba saya jadi rindu pada ayah, ibu, dan keluarga saya. Setelah beberapa tahun berteman dan berhubungan baik, pada akhirnya saya memutuskan untuk menikah dengan si laki-laki sederhana setelah kami sama-sama kembali ke tanah air. Dia membantu saya mendefinisikan ulang makna ‘berhasil’ dan ‘sukses’ dan mengubah haluan hidup. Saya sadar saya tidak perlu pergi jauh untuk membuat perubahan.

Ibu saya mungkin adalah orang yang paling bahagia ketika saya memutuskan untuk menikah. Mungkin ibu takut saya tidak akan pernah menikah. Ibu mungkin takut saya terlalu jauh melangkahi ‘kodrat’ sebagai perempuan. Ibu mungkin tercengang waktu saya bilang bahwa ‘menikah adalah pilihan’ atau bahwa ‘reproduksi adalah sepenuhnya hak perempuan’. Ibu mungkin cukup ‘feminis’ untuk standar orang-orang yang lahir sebelum masa orde baru. Tapi ibu mungkin ‘tidak cukup feminis’ untuk menyadari bahwa satu-satunya yang bukan pilihan adalah terlahir sebagai perempuan. Tapi saya tahu, ibu tidak peduli dengan konsep dan teori feminisme. Ibu hanya ingin anak-anaknya bahagia, bahkan jika ukuran ‘kebahagiaan’ itu berarti mengikuti standar dan nilai-nilai sosial dan agama yang berlaku di lingkungan tempat ia dibesarkan dan menjadi dewasa. Ibu juga tidak ambil pusing apakah pernikahan itu sekadar peristiwa budaya dan agama atau bukan. Intinya, ibu saya bahagia saya mau menikah. Saya bahagia karena ibu bahagia, karena saya bahagia.

Maka saya menikah. Atas dasar apa? Cinta? Legalistas hukum? Formalitas budaya? Semuanya dan karena kepercayaan. Saya percaya kami akan menjadi partner yang menguatkan satu sama lain, memiliki cita-cita yang sama, pandangan hidup yang sama, dan percaya bahwa kami akan jadi tim yang baik. Kami percaya bahwa kami bisa melewati hari-hari sulit bersama dan menjadi pendengar dan sahabat terbaik bagi satu dan lainnya. Sesederhana itu.

Jadi ada apa dengan angka 29? Karena pada umur 29 saya sudah melewati banyak kesulitan dalam hidup dan ternyata saya masih di sini, baik-baik saja. Ada luka yang belum sembuh atau mungkin tidak akan pernah sembuh. Tapi lalu kenapa? Saya tetap bisa menjadi perempuan yang utuh. Apa itu utuh? Utuh dalam definisi ‘merasa cukup’ walaupun masih memiliki tugas yang harus dilaksanakan dan mimpi yang ingin diwujudkan. Menjadi perempuan ‘seutuhnya’ bukan berarti ‘telah menikah dan memiliki anak’. Konsep utuh ini terlalu egois dan dipaksakan, mengingat ada banyak perempuan yang ingin menjadi seorang ibu tetapi tidak memiliki kesempatan atau ingin memiliki pasangan tetapi belum menemukan orang yang tepat. Tidak perlu menemukan orang yang tepat untuk menjadi ‘utuh’, tidak perlu memiliki anak untuk menjadi ‘utuh’. Saya perempuan dan saya terus berubah, berkembang dan menjadi dewasa. Romantisme ‘berpasangan’ dan ‘berkeluarga’ tidak selalu menjadi jawaban atas ‘keutuhan’ perempuan. Bahkan tidak di umur 29.

Saya berumur 29 sekarang. Memang pada akhirnya saya tidak berhasil meraih gelar doktor sebelum usia 30 (karena saya belum juga mengambil studi S3 sampai sekarang dan belum tahu apa saya akan melakukannya) atau menjadi psikiater atau pengacara atau diplomat seperti impian masa kecil saya. Tetapi saya merasa sudah mencapai banyak hal dan belajar berbagai hal yang sama berharganya dengan menjadi profesional yang dulu saya impikan.

Saya bisa melakukan apa yang saya suka dan mau. Saya sudah mendatangi banyak tempat dan kota. Saya sudah mencoba keluar dari zona nyaman saya dengan tinggal jauh dari keluarga dan teman. Saya sudah merasakan pahit dan manisnya hidup sendiri, saat teman-teman saya sudah berkeluarga dan memiliki keturunan. Saya sudah puas mendengarkan orang-orang berkicau di kuping saya tentang bagaimana seharusnya saya menjalani hidup sebagai perempuan. Senyum saya tidak akan berhenti dan saya masih akan belajar untuk menghormati perbedaan sudut pandang dan cara berpikir. Saya masih akan terus menerima jika idealisme saya mungkin tidak cocok dan tidak bisa diterima oleh semua orang. Saya akan terus belajar ‘legowo’ jika apa yang mungkin saya anggap ‘rasional’ dianggap ‘nyeleneh’, ‘ekstrim’, ‘aneh’, ‘sinting’, atau bahkan ‘sesat’.

Saya masih akan terus melakukan perjalanan ke berbagai tempat. Masih terus belajar hal-hal baru setiap harinya. Akan terus belajar untuk jadi sabar dan tegar. Sambil terus merasa bahagia menjadi dewasa karena saya tahu saya seorang perempuan yang memiliki pilihan. 🙂

Cheers,

Haura Emilia

‘Apply’ Visa ke Eropa dengan mudah dan cepat (bahkan untuk freelancer)

Halo semuanya,

Kali ini saya ingin berbagi pengalaman pribadi mengenai cara melamar visa ke negara-negara Uni Eropa dengan visa Schengen. Sebelum melamar visa Schengen, saya pribadi banyak membaca blog-blog orang tentang tata caranya, namun saya rasa belum ada yang secara lengkap menjelaskan langkah demi langkahnya. Oleh karena itu, saya akan mencoba mengisi kekurangan yang ada dengan menuliskan sendiri pengalaman pribadi saya. Sebagai seorang freelancer atau pekerja lepas, tentu saya memiliki kekhawatiran sendiri bahwa visa saya akan ditolak karena freelancer umumnya dianggap ‘tidak memiliki pekerjaan dan atau penghasilan tetap’ walaupun dalam banyak kasus, seorang pekerja lepas bisa jadi sama sibuk atau bahkan lebih sibuk dari pekerja kantoran. 🙂 Lalu bagaimana cara mengatasinya? Please keep on reading. 🙂

Jika kita ingin berlibur atau pergi ke negara-negara yang ada di Uni Eropa, kita akan memerlukan visa Schengen. Kita bisa melamar sendiri visa (tanpa bantuan agen perjalanan) di salah satu kedutaan negara yang masuk negara anggota Schengen. Jadi, kita tidak perlu melamar visa ke semua negara UE yang ingin kita kunjungi. Cukup salah satunya saja. Negara apa saja yang masuk ke dalam kategori Schengen? Berikut informasi yang saya dapatkan dari situs web Kedutaan Besar Belanda di Jakarta:

  • Belgia
  • Denmark
  • Jerman
  • Finlandia
  • Perancis
  • Yunani
  • Italia
  • Luxemburg
  • Austria
  • Portugal
  • Belanda
  • Norwegia
  • Spanyol
  • Swedia
  • Islandia
  • Malta
  • Estonia
  • Hongaria
  • Latvia
  • Lithuania
  • Polandia
  • Slovenia
  • Slowakia
  • Ceko
  • Swiss
  • Liechtenstein

Pertanyaan berikutnya adalah, siapa saja yang memerlukan visa Schengen? Jawabannya adalah mereka yang ingin mengunjungi negara-negara di atas dalam jangka waktu singkat (maksimal 90 hari) untuk tujuan wisata, kunjungan keluarga, dan tujuan lainnya.

Sebaiknya, kita melamar visa di kedutaan negara yang akan pertama kali kita kunjungi atau yang akan paling lama kita kunjungi. Jika Anda ingin masuk dari Prancis maka silakan melamar visa di Kedutaan Besar Prancis.

Berdasarkan informasi yang saya kumpulkan, saya menyimpulkan bahwa Belanda adalah negara dengan kedutaan besar yang terkenal cepat dan efisien dalam proses lamaran dan pemberian visa Schengen. Dengan kesimpulan tersebut, saya pun memutuskan untuk melamar visa melalui Kedubes Belanda.

Saya sempat membandingkan dokumen yang diperlukan untuk melamar visa di kedutaan Spanyol dan Belanda, ternyata kedutaan Belanda mewajibkan lebih sedikit dokumen dibandingkan dengan Kedutaan Spanyol. Kedutaan Spanyol juga menuliskan bahwa visa diproses paling cepat dalam waktu 5 hari kerja, sedangkan kedutaan Belanda hanya menuliskan bahwa idealnya visa dapat dilamar 2 minggu sebelum tanggal keberangkatan kita.

A. Dokumen/syarat yang diperlukan untuk melamar visa di Kedubes Belanda adalah sebagai berikut:

1. Paspor.

Pastikan paspor berlaku paling tidak 6 bulan sebelum masa berlakunya habis. Jika ada paspor lama, silakan dibawa juga. Paspor lama penting untuk menunjukkan catatan perjalanan-perjalanan sebelumnya, terutama jika paspor baru Anda masih kosong.

2. Pas foto.

Peraturan untuk pas foto visa cukup ketat, misalnya, jarak antara wajah dengan latar belakang foto harus pas, ukuran pas foto harus tepat, wajah pemohon tidak boleh tersenyum, latar belakang harus putih, tidak disarankan memakai baju warna putih, dan seterusnya. Oleh karena itu, saya sarankan pemohon untuk langsung foto di Kedutaan Belanda saja. Jasa foto dan cetaknya disediakan di ruang tunggu Kedutaan dengan biaya tambahan. Pada saat saya melamar visa (tahun 2015), biayanya adalah Rp50.000/4 pas foto yang dicetak.

3. Membayar biaya aplikasi visa

Biaya aplikasi visa langsung dibayar pada saat wawancara sebesar 60 Euro untuk dewasa dan anak-anak di atas 12 tahun dan 35 Euro untuk anak-anak berusia 6-12 tahun. Anda akan ditagih dalam mata uang rupiah sesuai dengan kurs yang berlaku hari itu. Bawalah uang tunai, karena saya pribadi tidak melihat adanya pilihan pembayaran lain seperti debit/kartu kredit dan saya juga tidak menemukan ATM di dalam Kedutaan.

4. Formulir permohonan

Silakan unduh formulir permohonan di sini:

http://www.minbuza.nl/en/appendices/services/consular-services/visa/visas-for-the-netherlands-schengen-visas/applying-for-a-schengen-visa/visa-application-form-schengen-2011.html

Harap baca dan isi formulir dengan lengkap dan hati-hati. Jangan lupa tanda tangan dua kali, pada halaman 2 dan 3 formulir.

5. Asuransi perjalanan

Mengutip situs web kedutaan Belanda mengenai asuransi perjalanan:

“Asuransi perjalanan harus berlaku untuk seluruh periode perjalanan di wilayah Schengen dengan minimal nilai pertanggungan €30.000,- termasuk pengobatan – dan biaya repatriasi. Copy polis harus dilampirkan dalam permohonan, polis asli harus diperlihatkan.”

Asuransi bisa dibeli di berbagai badan penyedia asuransi. Dalam kasus saya, saya membeli asuransi melalui agen AXA Mandiri. Harga asuransi perjalanan tergantung dari jumlah hari Anda akan tinggal di Eropa. Semakin lama, semakin besar pula biaya asuransinya. Sebagai gambaran, untuk perjalanan hingga 21 hari, AXA mematok harga 65 USD/orang untuk asuransi jenis Platinum. Ada juga asuransi khusus untuk keluarga yang lebih hemat, jika Anda akan pergi dengan keluarga. Silakan hubungi agen asuransi Anda untuk menanyakan harga asuransi/pertanggungannya.

6. Bukti keuangan

Jika pemohon membiayai sendiri seluruh perjalanannya, pemohon diwajibkan untuk memiliki minimal 34 Euro/hari/orang di tabungan. Jumlah tersebut dikalikan dengan jumlah hari pemohon akan tinggal dan perhitungkan pula bahwa ini di luar biaya pesawat PP dan akomodasi (hotel/hostel/dsb.). Lampirkan catatan rekening berisi saldo selama 3 bulan terakhir dari bank Anda. Bank Statement ini bisa diminta di bank Anda masing-masing. Anda juga bisa mencantumkan slip gaji selama 3 bulan terakhir.

Jika Anda pergi dengan biaya sponsor, berikut persayaratannya yang saya kutip langsung dari situs web Kedubes Belanda:

“Sponsor di Belanda mempunyai minimum penghasilan dan berlaku 12 bulan kedepan saat permohonan visa diajukan. Lihat link berikut untuk mendapatkan informasi aktual tentang minimum penghasilan:http://.ind.nl/leges/tabel-normbedragen-voldoende-geld.aspx ”

7. Reservasi penerbangan

Pihak kedutaan memang tidak menyarankan Anda untuk langsung memesan tiket pesawat karena bisa saja visa Anda ditolak. Jadi bagaimana caranya untuk mendapatkan reservasi penerbangan tanpa perlu mengkhawatirkan risiko visa ditolak sementara tiket pesawat tidak dapat dikembalikan?

Ada beberapa cara yang bisa Anda coba:

1. Mintalah sebuah agen perjalanan untuk membuatkan Anda reservasi penerbangan yang nantinya bisa dibatalkan jika visa ditolak. Kekurangan metode ini adalah biasanya Anda tidak bisa mendapatkan tiket promo/harga terendah karena sifat tiket seperti ini biasanya sangat terbatas dan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).

2. Pesan langsung di situs penerbangan yang ingin Anda pesan. Beberapa perusahaan penerbangan seperti KLM memiliki kebijakan full refund atau pengembalian uang tiket 100% jika visa ditolak. Yang perlu dilakukan adalah memastikan bahwa tiket yang Anda pesan sifatnya refundable (dapat dikembalikan) dengan cara membaca baik-baik persayaratan pembelian (Terms & Conditions) atau Anda juga bisa menghubungi langsung kantor maskapai tersebut dan menanyakan status tiket Anda. Maskapai lain, misalnya Garuda Indonesia, memberlakukan sistem refund dengan pemotongan jumlah tertentu (misalnya sebesar 60 USD) jika Anda membatalkan pembelian tiket untuk alasan apa pun.

Tiket dapat dibeli dengan uang tunai, kartu kredit, atau debit, tergantung dari maskapai yang dipilih.

8. Surat keterangan kerja atau bukti kepemilikan usaha (S.I.U.P.)

Jika Anda bekerja di kantor/perusahaan, mintalah surat keterangan kerja yang menyatakan bahwa Anda adalah seorang karyawan di perusahaan tersebut dan bahwa Anda akan kembali ke Indonesia setelah perjalanan berakhir. Jika Anda seorang pengusaha/wiraswasta, Anda bisa mencantumkan SIUP atau Surat Izin Usaha Perdagangan.

Bagaimana jika Anda seorang freelancer atau pekerja lepas seperti saya?

Jika Anda seorang freelancer, Anda dapat meminta surat keterangan kerja (atau kerja sama) dari salah satu klien/mitra Anda yang menyatakan bahwa dia pernah menggunakan jasa Anda berikut dengan durasi atau gambaran garis waktu (time line) kontrak kerjanya. Minta klien Anda untuk mencetak surat di atas kop surat perusahaannya dan dilengkapi dengan tanda tangan orang yang bersangkutan/menggunakan jasa Anda. Berikan informasi yang jujur dan relevan di surat keterangan tersebut.

9. Bukti reservasi hotel/hostel/akomodasi lainnya di semua negara yang dikunjungi.

Akomodasi bisa dipesan melalui situs pemesanan hotel online seperti Agoda.com, booking.com, Expedia.com, dsb., dengan menggunakan kartu kredit. Pesanlah kamar yang sifatnya refundable,  sehingga Anda dapat membatalkan pemesanan jika permohonan visa ditolak.

Tips: Anda bisa menggunakan Trivago.com untuk mencari akomodasi. Kelebihan Trivago adalah situs ini membandingkan harga kamar di berbagai situs pemesanan hotel populer sehingga Anda bisa mendapatkan harga kamar yang termurah. 🙂

9. Akte kelahiran dan buku nikah orang tua, jika membawa anak di bawah umur, berikut dengan salinannya.

Jika semua dokumen Anda sudah lengkap, silakan buat janji temu di kedutaan dengan mengisi formulir janji temu di sini:

https://jakarta.embassytools.com/en/index

Pilih janji temu ‘individual’ untuk mengatur janji temu aplikasi visa (jika peserta yang akan melamar berjumlah kurang dari 5 orang).

Pilih waktu yang masih tersedia. Harap diperhatikan bahwa jadwal janji temu di Kedutaan Belanda biasanya cukup padat dan hanya dibatasi hingga 20 orang per sesi. Jadi misalnya Anda membuka situs web pada tanggal 12 April untuk membuat janji, maka bisa saja Anda baru mendapatkan sesi yang kosong (tersedia) pada tanggal 20 April. Ini karena tingginya jumlah pelamar visa terutama pada musim atau waktu-waktu tertentu, misalnya musim liburan/panas.

Setelah membuat janji temu, Anda akan mendapatkan email konfirmasi yang wajib Anda print dan tunjukkan pada tanggal dan waktu yang telah ditentukan.

B. Hari Janji Temu

Pada hari janji temu, sebaiknya pastikan Anda hadir minimal 15 menit sebelum waktu yang telah ditentukan. Jangan datang terlambat lebih dari 15 menit. Hal ini bisa menyebabkan pembatalan janji temu Anda dan risikonya Anda akan ditolak masuk dan harus membuat janji temu ulang secara online. Silakan mengantri di luar pagar Kedubes Belanda dan tunggu instruksi satpam untuk masuk ke wilayah kedutaan.

Setelah masuk ke ruang tunggu, berikan print-an janji temu ke petugas yang ada dengan semua dokumen yang diperlukan. Petugas akan memeriksa kelengkapan dokumen Anda, dan jika Anda belum mempunyai pas foto, petugas akan mengarahkan Anda untuk foto terlebih dahulu, di tempat yang telah disediakan. Anda juga bisa memfotokopi dokumen yang kurang lengkap di tempat membuat pas foto. Biaya foto kopi adalah Rp5000/halaman dan biaya cetak email adalah Rp10.000/halaman. Biaya pas foto Rp50.000/orang.

Petugas juga akan memberikan lembar rencana perjalanan (itinerary) yang harus Anda isi secara manual. Lembar ini harus diisi dengan jumlah hari yang akan Anda habiskan di setiap negara yang akan dikunjungi.

Setelah semua dokumen, foto, dan rencana perjalanan lengkap, silakan melapor ke petugas kembali. Anda akan diberikan kunci loker untuk menyimpan tas, barang bawaan, dan handphone. HP dan tas tidak diperkenankan untuk digunakan di ruang tunggu dan tidak diizinkan dibawa masuk ke ruang wawancara. Jadi, tinggalkan barang bawaan di loker, dan masuk ke ruang wawancara hanya dengan dokumen di tangan dan uang tunai untuk membayar biaya aplikasi visa.

Di ruang wawancara Anda akan mengambil nomor antrian dan silakan menunggu nomor dipanggil. Saat nomor Anda dipanggil, petugas wawancara akan memeriksa kembali dokumen Anda, meminta biaya aplikasi, dan menanyakan beberapa pertanyaan terkait dengan rencana perjalanan. Saya sendiri tidak ditanya banyak, hanya sedikit sekali. Setelah itu, sidik jari Anda akan direkam oleh mesin pemindai. Ini adalah prosedur keamanan baru yang wajib dilakukan semua pelamar.

Jika semuanya lancar, Anda akan diminta kembali ke kedutaan beberapa hari kemudian (saya waktu itu melamar pada hari Rabu dan disuruh kembali pada hari Jumat). Pada hari inilah Anda akan mengetahui apakah aplikasi visa Anda diterima atau ditolak.

Sejauh pengamatan saya, jika semua dokumen Anda lengkap dan memenuhi persayaratan, maka kemungkinan besar aplikasi akan disetujui. Mudah, bukan? Sekarang Anda bisa mengurus aplikasi visa Anda sendiri tanpa bantuan agen perjalanan. Biaya pun akan lebih hemat. Selamat melamar visa dan liburan! 🙂

Cheers,

Haura Emilia

An introduction wouldn’t hurt…

Halo semuanya,

Karena ini post pertama saya di WordPress, saya mau memperkenalkan diri dulu. Kata orang kan ‘tak kenal maka tak sayang’, jadi saya mau basa-basi sedikit dulu di sini. 🙂

Nama saya Haura Emilia Erwin, lahir di Jakarta Indonesia, tahun 1986. Saya seorang penerjemah Inggris-Indonesia independen dan bekerja dari rumah (waktu postingan ini ditulis saya berdomisili di Depok). Saya menyelesaikan S1 (2003-2007) dan S2 (2009-2011) di FIB dan FISIP UI, jurusan Sastra Inggris dan Hubungan Internasional. Saya sempat tinggal di Singapura untuk bekerja sebagai penerjemah in-house di perusahaan Inggris pada tahun 2011-2013. Saya juga sempat bekerja sebagai staf pengajar Bahasa Inggris di UI tahun 2007-2009. Sekarang ini, saya beruntung sekali bisa bekerja dari rumah. Jam kerja saya seperti orang kerja kantoran saja, bedanya saya tidak perlu pakai baju bagus, bangun pagi untuk berjuang melawan kemacetan ibu kota, dan bahkan kalau saya kerja pakai celana pendek atau tidak ‘nyisir’ dulu pun tidak akan ada yg protes (dan tahu). 🙂

Saya suka travelling, membaca, dan wisata kuliner. Tapi kalau bisa memilih, saya cenderung memilih makan dan memasak makanan yang sehat, for the sake of health itself. 🙂 Walaupun saya tidak selalu mengonsumsi makanan organik dan rutin pergi ke gym, saya selalu berusaha memenuhi kebutuhan gizi dengan makan banyak serat dari sayur dan buah, dan sebisa mungkin berolah raga ringan (walau kadang masih suka malas) seminggu beberapa kali. :p

Saya suka nonton dan membaca National Geographic, dan sampai sekarang masih membaca dan mengoleksi serial Detective Conan. Obsesi saya yang lain adalah serial kriminal di FOX dan seri favorit saya adalah Law & Order. Oh, saya juga sangat suka kucing dan anjing yang lucu-lucu itu. 🙂

Banyak yang bilang bahwa saya adalah orang yang lucu (lol) namun pada saat yang bersamaan sangat serius dan strict terhadap hal-hal tertentu yang jadi prinsip buat saya. Misalnya, saya sangat strict soal urusan membuang sampah pada tempatnya dan berpegang teguh pada prinsip bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. 🙂

So please keep up with me here on my blog. I’ll be writing more. 🙂

Cheers,

Haura Emilia

Hello!

Halo semuanya,

Nama saya Haura Emilia Erwin, seorang penerjemah Inggris-Indonesia, yang bekerja dari rumah. Saya seorang istri dan pencinta makanan sehat yang menyukai travelling. Keep reading my posts especially if you’re into healthy life style, translation and localization industry. 🙂

Hello everyone,

This is Haura Emilia Erwin. I’m a daughter, sister, and a wife who works as an independent English-Indonesian translator in Indonesia. I love travelling, eating and cooking healthy food and reading.

Keep reading my posts especially if you’re into healthy life style, translation and localization industry. 🙂

Cheers,

Haura