Manfaat Membaca: Nutrisi Hati dan Pikiran

Whenever you read a good book, somewhere in the world a door opens to allow in more light.

–Vera Nazarian

read-4

Suatu sore di penghujung tahun 2015, saya menatap rak buku di ruang kerja di rumah kami yang sederhana. Mata saya meneliti satu persatu judul buku yang ada di rak yang menempel di dinding. Waktu saya pindah ke Solo, saya memang tidak membawa koleksi buku saya. Hampir semua koleksi saya tinggalkan di rumah orang tua di Depok. Praktis, yang saya pandangi saat itu sebagian besar adalah koleksi buku Mamat. Hampir seluruh buku yang dia miliki belum pernah saya baca, walaupun saya tahu isi dari beberapa buku tersebut karena Mamat sering membicarakannya.

Saya termenung dan menyadari betapa saya sudah tidak lagi membaca sebanyak dan sesering yang saya lakukan dulu. Saya sempat tidak mengerti ke mana saja waktu berlalu, yang jelas sebagian besar waktu saya tersita untuk bekerja dan melakukan hal-hal lain selain membaca. Namun kemudian saya menyadari bahwa media sosial dan smartphone menyita banyak waktu saya sejak tahun 2011, sejak saya lulus s2. Walaupun sebagian besar aktivitas yang saya lakukan di smartphone adalah membaca, saya tiba-tiba merasa rindu memegang buku. Saya kangen membaca buku fisik dan membaca sesuatu yang bermutu, yang tidak ada hubungannya dengan gosip selebritis, berita politik murahan, dan status alay teman lama di Facebook. Maka detik itu saya pun memutuskan. Resolusi 2016 saya adalah membaca lebih banyak buku.  Saya memulai tahun 2016 dengan membaca trilogi 1Q84 Murakami, dan sejauh ini, saya sedang membaca buku ke-14 tahun ini, Sapiens: A Brief History of Humankind.

Ternyata, banyak kebaikan yang datang dari kembali aktifnya aktivitas membaca saya. Pertama, saya kembali menemukan rasa ‘itu’, rasa yang saya selalu dapatkan ketika sedang membaca buku yang bagus: rasa takjub dan terpesona yang menggelitik dan menstimulasi setiap sel-sel di otak saya. Saya hanyut dalam hal-hal baru yang tidak saya ketahui sebelumnya. Saya menjadi sangat excited membayangkan kondisi politik di Jepang pada tahun 1980an saat membaca 1Q84, saya tidak bisa berhenti terkagum-kagum mengenali sosok CEO Tesla dan SpaceX dalam biografi Elon Musk, saya terperangah tidak percaya saat membaca sudut pandang masyarakat Korea Selatan terhadap vegetarianisme dalam novel Vegetarian, saya merasa terpana saat menyadari bahwa manusia adalah satu-satunya hewan yang memahami konsep imagined realities seperti Tuhan, agama, organisasi, hukum, budaya, dan perusahaan seperti yang dijelaskan dalam buku Sapiens. Membaca jelas membuat saya yang hari ini lebih cerdas dari saya yang kemarin.

Kedua, aktivitas membaca ini semakin mendekatkan saya dengan orang terdekat saya, dalam hal ini Mamat. Dengan banyak membaca, kami jadi tidak pernah kehabisan topik untuk dibicarakan. Hari ini bisa saja Mamat mendongengkan saya kisah dan sejarah Genghis Khan yang termasyhur menguasai daratan Asia dan Eropa serta kenapa ia gagal menaklukan Jepang. Besoknya, gantian saya yang asik bercerita tentang bagaimana seorang atlet ultra marathon berhasil menerapkan diet vegan karena saya baru selesai membaca No Meat Athlete. Saat santai atau sebelum tidur kami juga sering bertukar pikiran tentang cahaya matahari sebagai sumber energi alternatif atau tentang bagaimana memasang solar panel di rumah impian kami di masa depan. Kami juga berbicara tentang masa depan umat manusia, para homo sapiens, di Mars dan perjalanan antarplanet. Kadang kami tidak berhenti berdiskusi seru dan menutup hari dengan lebih banyak pertanyaan untuk dicari tahu jawabannya dan lebih banyak topik untuk dibicarakan hari selanjutnya. Membaca mendekatkan kami.

Ketiga, membaca bagi saya bersifat menyembuhkan. Ketika saya sedih, bingung, marah atau merasa sangat emosional, I turn to Google to search for the right book or article to read. Pada suatu hari ada satu kejadian yang membuat saya kesal. Daripada melakukan sesuatu yang tidak sehat dan destruktif seperti marah-marah dan menyindir orang yang membuat saya kesal di Facebook,  saya mencari-cari artikel psikologi tentang anger management. Saya menghabiskan waktu berjam-jam melakukan riset kecil-kecilan tentang topik ini dan topik terkait lainnya seperti cara berperilaku proaktif dan mengurangi perilaku reaktif. Saat saya sedang merasa down, saya kembali mengambil buku. Saya mencari tahu tentang kenapa manusia kadang merasa depresi dan langkah apa yang bisa saya ambil untuk mengatasinya. Dengan demikian, membaca mengurangi stres.

Dengan banyak membaca saya jadi tahu betapa sederhana dan remehnya masalah saya dibandingkan ancaman nyata yang dihadapi umat manusia seperti pemanasan global. Saya jadi tahu bahwa saya bukan satu-satunya orang di dunia yang pernah merasa sangat sedih dan merana. Saya juga jadi semakin paham bahwa ada banyak persoalan yang jauh lebih penting untuk dipikirkan dan dikerjakan daripada memikirkan kenapa seseorang tidak menyukai saya atau, sebaliknya, berusaha mencari tahu kenapa seseorang melakukan hal-hal yang saya anggap konyol.

Membaca mengobati luka hati saya karena membaca membantu saya memahami sudut pandang orang lain dan membantu membangun karakter diri yang lebih positif. Saat seseorang marah terhadap saya atau mengkritik saya, saya akan merenung dan berpikir. Lalu saya mencari artikel psikologi tentang konfrontasi dan membina hubungan dengan orang lain. Saya jadi tahu bahwa ada begitu banyak hal-hal yang menjadi pemicu kemarahan seseorang dan salah satunya adalah ketidakmampuannya mengendalikan emosi, menerima emosinya dan mengelolanya dengan baik. Saya jadi tahu bahwa terkadang seseorang marah bukan karena faktor eksternal melainkan karena ia marah atas kekurangannya sendiri. Tetapi karena ia tidak mengetahuinya, atau tidak mau mengakuinya, ia menumpahkannya ke orang lain. Saya pikir ini teori yang bagus, karena saya sendiri juga pernah marah dan melampiaskannya ke orang. Tetapi, karena sekarang saya sudah paham, saya yang tadinya mau ikut marah jadi batal. Intinya, reading heals me and makes me a bigger person.

Membaca juga membantu saya memahami cara dunia bekerja. Dunia tidak bekerja berdasarkan keinginan dan idealisme saya. In fact, the world doesn’t give a sh*t about what I think it gives me or how it treats me. Bisa saja saya bekerja mati-matian untuk mendapatkan sesuatu, namun pada akhirnya saya gagal mendapatkannya. Atau, bisa saja saya berharap semua orang bisa patuh pada hukum dan bisa mengambil keputusan yang cerdas, tapi setelah membaca saya kemudian menyadari bahwa hal ini tidak mungkin karena saya tidak hidup di dalam utopia. Dunia tetap berjalan dengan ritme yang unik, sering kali tidak saya pahami, tidak peduli apakah hidup saya baik-baik saja atau tidak. At least, dengan membaca saya menjadi lebih paham akan banyak hal dan bisa menerima saat saya kehilangan gagasan tentang kenapa sesuatu terjadi.

Saya juga menyadari bahwa kebiasaan membaca mengurangi banyak ketakutan dalam hidup. Sebagai manusia, kita sering kali merasa takut dengan hal-hal yang kita tidak ketahui. Kita takut akan masa depan, kita khawatir dengan apa yang mungkin terjadi jika kita mengonsumsi makanan A atau minuman B, kita juga mungkin takut dengan keputusan yang kita ambil di masa lalu atau sekarang. Membaca berarti membuka pintu untuk cahaya memasuki hidup. Membaca baik-baik dan mempelajari manajemen investasi reksadana, misalnya, akan mengurangi kekhawatiran kita akan risiko unrealized loss atau kerugian yang belum direalisasikan. Membaca riset tentang pewarna dan pengawet makanan akan membuat kita lebih bijak dalam memilih apa yang masuk ke dalam tubuh kita dan mengurangi kekhawatiran tentang risiko penyakit seperti kanker. Mempelajari teori fisika dasar akan mengajarkan kita bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan saat mengganti tabung gas selama kita melakukannya dengan benar. Membaca membuat kita lebih bijak dan menghapus banyak kekhawatiran, termasuk ketakutan yang tidak rasional.

read-10

Hal yang tidak kalah penting dari membaca adalah aktivitas ini membuat cara berpikir saya menjadi lebih terstruktur dan dengan demikian saya mampu menyelesaikan masalah dengan efektif dan efisien. Dengan banyak belajar dan membaca, kita mampu menyederhanakan masalah. Membuat masalah yang besar menjadi kecil. Membuat hal yang rumit menjadi simple. Misalnya, orang yang tidak mau belajar dan membaca mungkin mengira masalahnya sebesar gajah di pelupuk mata, padahal bagi orang yang cerdas, masalah tersebut sesungguhnya sangat kecil dan mudah diselesaikan.

Pernah membaca buku pengantar filsafat, yang mungkin paling menarik dan terkenal di dunia, Sophie’s World? Pernah menyelami feminisme dalam The Second Sex yang ditulis Simone de Beauvoir? Mengerutkan kening saat memahami realitas kehidupan negara sosialis dan kediktatoran totaliter stalinis Korea Utara dalam buku Nothing to Envy? Membaca membantu kita memahami banyak konsep yang abstrak seperti kehidupan, emosi, agama, ideologi, politik, dan filsafat. Memahami konsep abstrak mengasah kemampuan berpikir kritis dan analitis. Jadi kalau kita (pernah) bertanya-tanya kenapa seseorang bisa jadi sangat relijius dan ekstrim, kenapa laki-laki sering merendahkan perempuan, kenapa orang yang tidak berpendidikan cenderung tidak mampu berpikir jauh ke depan, itu artinya kita perlu lebih banyak membaca. Dengan membaca, kita akan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita.

Membaca juga meningkatkan fokus dan konsentrasi.* Di dunia yang tidak pernah berhenti berbicara seperti sekarang, kita dikelilingi oleh mulut-mulut yang tidak berhenti berkata-kata, jari-jari yang sibuk menumpahkan kekesalan dalam 140 karakter, dan berita-berita hoax dan murahan yang membanjiri layar ponsel dan kaca. Membaca menjauhkan kita dari keriuhan dan membantu kita fokus pada satu hal, bahan bacaan di depan mata. Dengan banyak membaca waktu kita untuk memikirkan urusan remeh dan orang lain yang tidak menyenangkan akan jauh berkurang. Saat membaca konsentrasi kita penuh pada materi yang dibaca dan otak kita bekerja dengan lebih aktif. Bahkan ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa membaca juga memperlambat (atau bahkan mencegah) perkembangan penyakit mental seperti Alzheimer dan Dementia (pikun).**

read-9

Manfaat membaca selanjutnya adalah menambah perbendaharaan kata dan menjadikan kita penulis yang lebih baik. Pernah mencoba menulis blog lalu merasa kehabisan kata-kata? Pernah ingin menulis makalah namun kesulitan mengungkapkan ide yang ada di dalam kepala? Pernah merasa gagal menyampaikan maksud kita saat berkomunikasi dengan orang lain? Pernah menyadari bahwa kita bahkan tidak tahu bedanya imbuhan ‘di’ pada kata ‘dimakan’ dan ‘di’ sebagai preposisi dalam frasa “di sana”? Itu artinya kita kurang banyak membaca. Membaca menambah kosakata dan membantu kita mengomunikasikan ide dan gagasan dengan lebih baik.

Terakhir, membaca menyadarkan saya tentang betapa sedikitnya pengetahuan saya. Ada begitu banyak hal-hal di dunia yang tidak saya mengerti dan ketahui. Saya semakin menyadari bahwa semakin banyak kita mengetahui suatu topik, maka sebenarnya semakin sedikit pula pengetahuan kita tentang hal-hal yang lainnya. Membaca membuat kita jadi lebih bijaksana dan hati-hati dalam bertindak. Reading is truly a humbling experience.

Membaca memang bisa menjadi sangat sulit jika kita tidak biasa atau sudah lama tidak melakukannya. Namun, biasanya hal yang tersulit adalah memulai sesuatu yang baik. Jika kita sudah memiliki keberanian untuk memulainya, selanjutnya akan menjadi lebih mudah. It always takes some courage to start something. Yang terpenting adalah keinginan untuk maju dan terus belajar. Sesungguhnya orang yang paling tidak tertolong adalah mereka yang menyadari bahwa mereka banyak tidak tahu namun malas membaca. Jadi, ayo membaca lebih banyak buku dan menjadi orang yang lebih positif dan produktif, shall we? 🙂

 

Cheers,

Haura Emilia

 

Referensi bacaan:

*http://www.lifehack.org/articles/lifestyle/10-benefits-reading-why-you-should-read-everyday.html

**http://whytoread.com/why-to-read-10-reasons-why-reading-books-will-save-your-life/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Plus Minus Tinggal di Solo

“Betah di sana, Ra?”

“Bukannya gak ada apa-apa ya di Solo?”

Tahun 2015 lalu saya pindah dari Depok dan menetap di kota Solo. Karena saya lahir dan tumbuh besar di Jakarta, beberapa teman merasa heran mengapa saya memutuskan untuk tinggal di kota kecil. Sebenarnya, tinggal di mana saja ada plus minusnya. Tapi karena saya merasa tinggal di Solo lebih banyak untungnya, saya memutuskan tinggal di sini. Berikut sisi positif tinggal di kota kecil seperti Solo.

Pertama, tinggal di kota kecil itu berarti melepaskan diri dari kemacetan kota besar seperti Jakarta. Semua orang Jakarta yang saya kenal paling tidak pernah sekali mengeluhkan kemacetan dan lamanya waktu tempuh dari rumah ke tempat tujuan, kantor atau mall misalnya. Solo bukannya bebas macet sama sekali, sih. Saat weekend biasanya memang padat. Tapi tetap saja tidak bisa dibandingkan dengan kejamnya kemacetan Jakarta.

Kedua, karena luas wilayah yang relatif kecil dan jarang macet otomatis ke mana-mana pun terasa dekat dan cepat. Contohnya, rumah saya berjarak sekitar 6 km dari pusat kota Solo, saya hanya butuh 15 menit berkendara ke sana. Ke Bank dekat, ke pasar dekat, ke bandara dekat, ke mall dekat, ke stasiun dekat… Pokoknya mantaplah.

Walaupun kota kecil, Solo memiliki fasilitas dan ruang publik khas kota besar yang lumayan lengkap. Mau ke mall? Ada 5 mall besar di Solo. Ke bank? Hampir semua bank besar punya kantor cabang di Solo. Ke rumah sakit? Solo memiliki beberapa RS khusus, beberapa di antaranya menjadi rujukan nasional, seperti RS Ortopedi Soeharso, RS Mata Solo, RS Indriati dengan Cancer Center-nya, dan masih banyak RS umum dan swasta lainnya. Asiknya, Solo juga memiliki klinik dan puskesmas hewan dengan fasilitas IGD 24 jam, rawat inap, dan kamar bedah. Solo juga punya beberapa stasiun kereta dan sebuah bandara internasional. Fasilitas sekolah pun lumayan lengkap, mulai dari sekolah negeri, swasta, dan sekolah internasional. Tempat hangout seperti restoran dan cafe serta fasilitas olahraga pun cukup banyak. Oh, satu lagi. Solo juga punya fasilitas transportasi umum bernama Batik Trans yang berhenti di banyak halte di jalan-jalan utama. Busnya bagus, jauh lebih bagus dari Metromini atau angkot kecil di Depok dan Bogor. Hehe.

Keempat, biaya hidup di Solo lebih murah dari kota besar seperti Jakarta. Ini wajar, mengingat UMR Solo (1.5 juta)  kurang dari setengahnya UMR Jakarta (3.3 juta). Harga bahan pokok dan biaya jasa otomatis mengikuti UMR. Contoh sederhananya, harga pasar buah-buahan lokal (bukan impor) di Solo lebih rendah daripada di Jakarta. Sebagai pelanggan setia Superindo, saya sudah membuktikannya sendiri. Harga buah A, misalnya, Rp1200/100 gr di Superindo Solo. Buah yang sama dihargai Rp2200/100 gr di Superindo Depok. Kalau dipikir-pikir, ini mungkin juga karena buah tersebut ditanam dan dipanen di sebuah kota di Jawa Tengah yang jaraknya lebih dekat ke Solo dibandingkan ke Jakarta. Jadi, faktor geografis juga mempengaruhi harga bahan pokok di Solo. Biaya jasa seperti jasa dokter, jasa arsitek, jasa bersih-bersih rumah, reparasi AC, dan laundry kiloan otomatis lebih murah juga. Misalnya, jasa dokter spesialis di salah satu RS swasta di Solo Rp75.000/kunjungan, jasa dokter hewan Rp30.000/pemeriksaan, dan jasa cuci setrika laundry kiloan Rp3000/kilo. Bandingkan dengan di Jakarta atau kota-kota besar lainnya…

Kelima, tanpa kemacetan dan biaya hidup yang relatif rendah, tingkat stres saya pun jadi berkurang. Hehe. Di Jakarta saya sering merasa ‘tua di jalan’ karena lamanya jarak tempuh ke suatu tempat. Saya yang pada dasarnya ‘house fairy‘ (baca: anak rumahan) ini pun semakin malas keluar rumah karena memikirkan macetnya jalanan dan besarnya ongkos transportasi ke mana-mana. Kalau terjebak kemacetan saya mudah merasa stres, entah karena lelah secara mental atau karena kebelet ke toilet misalnya. Haha.

Keenam, tinggal di Solo berarti bisa saving lebih banyak, salah satunya dari pos pengeluaran eating out alias makan di luar. Lagi-lagi saya harus membandingkan hal ini dengan di Jakarta. Kalau mau sering-sering keluar rumah kok rasanya apa-apa mahal di Jakarta. Menghabiskan Rp100.000-150.000 untuk seporsi makanan dan segelas minuman adalah hal biasa di Jakarta. Biar kita mampu sekali pun, kecuali uang sudah gak berseri di bank ya, pasti biaya sosialisasi seperti ini bisa menjadi beban jika tidak dikelola dengan baik. 😉 Di Solo, dengan modal Rp27.000 kita sudah bisa makan soto plus nasi 2 mangkok, 2 gelas es jeruk, lauk tahu dan tempe goreng, plus kerupuk. Kecuali makan di restoran di mall, ongkos makan di luar jauh lebih murah di Solo.

Ketujuh, jarang ada ‘drama’ tinggal di kota kecil seperti Solo. Tinggal di kota besar memang ada saja ‘dramanya’. Demo berserilah, aksi terorismelah (walaupun aksi teror bisa terjadi di mana saja, ya), KRL mogok di tengah jalan, banjir, antrean super panjang cuma untuk beli jus mangga atau tiket promo pesawat sampai kerusuhan di mall gara-gara ada satu outlet merek terkenal yang sedang sale*. Selama saya tinggal di Solo, saya belum pernah terjebak di jalan karena demo. Karena tidak ada KRL (kecuali kereta antar kota), otomatis saya tidak pernah stuck diam lama di dalam kereta, seperti yang dulu sering saya alami di Jakarta. Saat ada Travel Fair di mall, orang jarang antre. Kalau kedai ritel seperti KFC atau J.Co sedang ada promo, antrean tidak pernah panjang. Mungkin hal-hal ini terdengar sangat sepele dan sebagian besar orang tidak mengeluhkannya, tapi bagi saya kemudahan dan kelancaran hal-hal kecil begini membuat saya bisa lebih menikmati hidup dan merasa rileks.

Kedelapan, tinggal di Solo memudahkan saya untuk menjelajahi kota-kota lain di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pulau Jawa itu besar dan menyimpan banyak potensi wisata. Sebelum tinggal di Solo, ada banyak daerah wisata dan kota-kota Jawa Tengah yang belum pernah saya kunjungi. Mau ke Pantai? Di Gunung Kidul ada banyak pantai-pantai yang cantik. Mau panjat tebing? Di Jogja bisa. Mau naik gunung? Di Jawa Tengah saja ada begitu banyak gunung yang bisa kita daki. Wisata kota juga tidak kalah menarik. Kita bisa wisata kuliner di Jogja, Boyolali, Salatiga, Semarang, dan Pati. Modalnya pun hanya sedikit: waktu dan sedikit uang saku. 🙂

Rasanya tidak adil kalau hanya menulis sisi positif dari tinggal di Solo. Sekarang saya akan menulis kekurangan tinggal di kota kecil seperti Solo.

Pertama, sarana dan tempat sosialisasi di Solo tentu tidak bisa disamakan dengan di Jakarta yang semua ada. Kalau kita termasuk orang yang suka bersosialisasi di pusat perbelanjaan, klub, dan menyukai kehidupan malam, tinggal di Solo benar-benar bisa jadi membosankan dan membuat ‘mati gaya’. Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya kira-kira di mana tempat anak muda ‘dugem’ di Solo. Mungkin ini karena saya kurang gaul atau bisa jadi karena memang hanya ada sedikit sekali tempat dugem di Solo. Saya pernah makan di satu ‘tempat gaul’ bernama Social Kitchen di Solo, tapi tempat itu sudah tutup setelah di-sweeping masyarakat setempat karena menjual minuman keras. Tapi yah sepertinya hal ini tidak terlalu berpengaruh bagi kehidupan masyarakat Solo dan tidak terlalu terdengar juga pro kontranya.

Kedua, tinggal di Solo berarti butuh lebih banyak usaha untuk pergi ke luar negeri dan kota-kota lain di Indonesia. Penerbangan internasional di Solo hanya ada ke Singapura dan Malaysia. Itu pun tidak setiap hari. Kalau mau ke Thailand misalnya, saya harus ke Jogja atau Jakarta dulu dan terbang dari sana. Bepergian ke provinsi lain juga butuh lebih banyak waktu dan biaya. Kalau saya mau ke Jambi atau Padang, saya harus ke Jakarta dulu untuk transit.

Ketiga, Solo bukan kota yang tepat untuk mereka yang selalu ingin up-to-date dalam hal produk konsumen dan barang-barang ritel. Produk baru yang sedang tren atau baru masuk ke Indonesia (barang/chain retail) biasanya masuk ke kota-kota besar terlebih dulu. Orang Solo yang ingin mencoba makan di jaringan restoran yang baru masuk ke Indonesia mau tidak mau kita harus menunggu sampai mereka ke ibu kota dulu. Mau mencoba layanan internet terbaru yang sedang ngehip, eh ternyata belum ada jaringannya di Solo. Mau belanja di butik brand tertentu? Harus ke Jakarta dulu. Mau mencoba layanan spa terbaru? Siap-siap kecewa karena di Solo orang bahkan belum pernah mendengar namanya.

Keempat dan mungkin yang paling penting, lapangan pekerjaan di Solo tidak sebanyak di kota-kota besar. Orang Solo sendiri banyak yang pindah ke kota besar dan bahkan luar negeri demi mendapatkan pekerjaan. Orang Jakarta yang ingin pindah ke daerah tidak bisa seenaknya pindah kalau tidak ada pekerjaan baru yang jelas di kota kecil tujuan. Jadi, meskipun banyak orang kota besar yang bermimpi pindah ke kota kecil, hal tersebut bukan hal yang mudah dilakukan.

Kesimpulannya, buat saya pribadi tinggal di Solo sampai saat ini terasa menyenangkan, terlepas dari semua kekurangannya. Tapi… ini tidak berarti saya sudah pasti akan tinggal di sini selamanya. Kalau suatu hari Solo menjadi terlalu ramai dan tidak menyenangkan lagi, saya akan pindah ke tempat lain. Freelancer mah bebas. Hehe.

 

 

Cheers,

Haura Emilia

 

 

 

Catatan:

*Lihat video kerusuhan pas sale Nike di Grand Indonesia.

 

 

 

Tahun Odyssey

Pada artikel The Times yang dipublikasikan bulan Oktober tahun 2007, David Brooks mendefinisikan ‘Odyssey Years’ sebagai “dekade mengembara yang biasanya terjadi antara masa remaja dan dewasa”.1 Sosiolog di negara-negara barat sepakat bahwa ‘Odyssey Years’ adalah salah satu tahap hidup masyarakat barat yang terjadi antara usia dua puluh dan tiga puluh lima tahun.2 Kata ‘Odyssey’ sendiri diambil dari salah satu puisi Yunani, yang diyakini ditulis di akhir abad ke-8 SM.3 Puisi ini mengisahkan seorang pahlawan Yunani bernama Odysseus, raja Ithaca, dan yang tidak kunjung pulang ke rumahnya 10 tahun setelah peperangan di Troy.4 Singkatnya, ‘Odyssey Years’ adalah masa ‘peralihan’ bagi seseorang yang telah lulus kuliah (atau sedang kuliah) sampai ke tahap sebelum ia memutuskan untuk settle down, alias menikah dan berkeluarga.

Dalam satu dekade (atau lebih) ini banyak hal yang mungkin terjadi, misalnya berganti-ganti profesi, jadi ‘kutu loncat’ dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya, hidup nomaden berpindah-pindah, melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang jauh, menganggur karena bingung mau kerja apa, mencoba bisnis satu dan yang lain, atau melakukan kegiatan apa pun yang sifatnya menunda untuk menikah dan berkeluarga.

Saya pernah mengalaminya. I had my own ‘Odyssey Years’. Kebetulan saya lulus S1 berdekatan dengan ulang tahun saya yang ke-21. Usia ini relatif muda dibandingkan dengan teman-teman seangkatan yang rata-rata setahun lebih tua. Ketika beberapa teman saya mulai memasuki tahap serius dalam kehidupan pribadi dan bahkan sudah ada yang menikah, saya bertekad untuk menunda menikah dan menikmati masa muda saya sebaik-baiknya. Dan ini ada alasannya.

Semasa sekolah (SMP-S1), saya adalah remaja kutu buku yang serius dan membosankan. Walaupun orang-orang terdekat menganggap saya goofy dan lucu, tapi di dalamnya saya adalah orang yang sangat serius dan selalu  memilih berpikir panjang sebelum mengambil keputusan. Waktu SMP, misalnya, saya sudah bertekad untuk memiliki rumah sendiri sebelum usia 30. Rumah yang saya beli dengan usaha sendiri, bukan warisan orang tua atau pemberian suami. Waktu SMA saya tidak pernah keluar malam Minggu untuk pacaran dan memilih untuk ikut les privat mata pelajaran fisika, seperti anjuran orang tua saya. Saya tidak pernah merokok, saya hampir tidak pernah pulang telat dengan alasan tidak jelas, saya tidak pernah clubbing, saya juga tidak pernah terpikir untuk mencoba drugs atau alkohol. Saya tidak melakukannya bukan karena saya menganggap diri sebagai orang yang lebih baik daripada orang-orang yang melakukannya.

Bukan karena saya orang yang baik. Saya hanya berusaha menghindari masalah dan hidup selurus mungkin. Sungguh malas rasanya kalau harus dimarahi orang tua ketika nilai rapor jelek, sungguh tidak ideal kalau di usia muda hamil dan punya anak, sungguh malas juga kalau jadi pencandu dan berakhir di penjara, dan hidup muda dengan kondisi fisik tidak sehat (karena narkotika, alkohol, atau rokok) sungguh bukan pilihan yang menarik buat saya. Saya juga ogah membayangkan di masa depan saya jadi beban orang tua dan pengangguran kalau malas sekolah. Jadi yah, buat beberapa orang, saya adalah anak yang ‘cupu’ dan ‘gak asik’.

Nah, karena pada akhirnya masa sekolah saya habiskan dengan belajar, saya bertekad untuk lebih menikmati hidup setelah lulus kuliah. Saya memutuskan untuk bekerja dan beberapa kali berganti profesi, pindah ke luar negeri, travel ke beberapa belas negara, dan sekolah lagi (S2). Sejak lulus tahun 2007, saya yang dulunya anak Depok, hidup berpindah-pindah. Tahun 2007-2009 saya mengajar di UI Depok dan PPB UI Salemba dan Depok. Dari Depok saya ‘hijrah’ ke Jakarta dan ngekos sambil meneruskan sekolah di UI Salemba. Saya tinggal di Jakarta selama 2 tahun. Tipikal hari-hari saya selama di sana adalah bangun pagi-pagi, pergi kursus bahasa Prancis di CCF (sekarang IFI) selama 4 jam, makan siang, pergi mengajar bahasa Inggris di kampus IISIP selama 2 jam, kembali ke kampus Salemba untuk kuliah sore sampai malam, pulang, tidur. Kapan dan di mana belajarnya? Sebelum tidur, bangun tidur, di kereta, di kamar kosan, di akhir pekan. Dua tahun itu adalah tahun yang sangat sibuk untuk saya.

Setelah lulus S2 tahun 2011, saya mendapatkan pekerjaan di Singapura, di sebuah perusahaan Inggris. Petualangan baru saya pun dimulai. Saya bekerja dan tinggal di sana sampai tahun 2013. Tahun 2013, kantor menawarkan saya untuk mengisi posisi sementara ‘trainer’ di Bali. Hmmm… Bali? Dasar saya orangnya bosanan, saya pun mengiyakan dan pindah ke Bali. Posisi ini hanya dibutuhkan selama 6 bulan. Setelah 6 bulan berlalu, saya memutuskan untuk tidak meneruskan posisi kontrak dan resign. Lalu mau ke mana lagi saya selanjutnya?

Saya kembali ke rumah orang tua di Depok dengan status pengangguran. Saya lalu mencoba peruntungan dengan menjadi penerjemah freelance. Ternyata itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat dalam hidup. Sejak akhir 2013 hingga awal 2015 saya tinggal di Depok dan bekerja sebagai penerjemah lepas purnawaktu. Tahun 2015 saya (akhirnya) menikah dan memutuskan untuk pindah ke Solo. Delapan tahun sejak lulus S1 akhirnya saya memutuskan untuk settle down. That was the end of my ‘Odyssey Years’….

Apa yang saya pelajari dari ‘Tahun Odyssey’ saya sendiri? Pertama, saya jadi bisa memahami adanya pergeseran nilai sosial dalam masyarakat modern. Dulu, jaman bapak dan ibu saya, pernikahan sudah hampir mutlak menjadi pilihan hidup setelah lulus sekolah/kuliah. Bahkan banyak pula yang melewati masa remaja dan langsung memasuki dunia nyata dengan bekerja dan menikah. Generasi sekarang punya lebih banyak pilihan. Sejak kemunculan internet, telah lahir banyak pekerjaan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Dulu ayah saya mungkin hanya bisa bermimpi jadi seorang guru, bukan Social Media Manager. Tante saya hanya fokus ingin jadi PNS, karena pekerjaan lepas tidaklah eksis. Ibu saya hanya ingin jadi ibu rumah tangga, bukan Personal Shopper atau Homecook yang juga Youtuber. Dulu, Pakde saya tidak berani membayangkan dunia di luar Pulau Jawa dan Sumatra karena budget airline belum ada. Eyang saya juga tidak pernah terpikir untuk kerja di perusahaan asing di luar negeri karena menjadi tukang kue atau petani di desa jauh lebih masuk akal.

Teknologi dan kapitalisme melahirkan begitu banyak kesempatan dan peluang baru. Manusia menjadi semakin banyak tahu apa yang ada di belahan dunia lain. Ada begitu banyak tempat untuk didatangi, makanan baru untuk dicicipi, tren fashion terbaru untuk dicoba, skill baru untuk dipelajari, dan profesi baru untuk dilakoni. Generasi sekarang menjadi lebih greedy akan hal-hal baru. Mengapa harus segera menikah kalau bisa keliling dunia lebih dulu? Mengapa harus menimang dan mengurus bayi kalau bisa mengadopsi anjing dan bersenang-senang dengan pasangan dulu? Oh, jangan sebut-sebut soal ‘biological clock’ di depan perempuan modern jaman sekarang. Hanya karena punya uterus, bukan berarti harus digunakan, bukan?

Humanisme dan kapitalisme yang dibalut teknologi semakin fokus menjadikan manusia ‘pusat alam semesta’. Kebahagiaan dan ketenangan batin adalah hal utama yang harus diperhatikan. Tidak apa tidak menikah, asal hidup nyaman dan bahagia. Tidak apa menunda bekerja, asal bisa memiliki pengalaman lain yang sama berharganya dengan bekerja, misalnya travel keliling dunia (kalau mampu, tentu saja). Tidak apa tidak memiliki karir dan jadi freelancer, daripada pusing kerja kantoran dan dimarahi bos. Semuanya tentang bagaimana kita bisa jujur dan nyaman dalam merasakan dan mengalami sesuatu. Kita memiliki lebih banyak kebebasan. Everything is okay as long as we’re happy and we don’t hurt others. Tidak percaya? Coba lihat Instagram si A, dia single dan happy, kok. Coba intip Facebook si B, dia kerja freelance tapi bisa bangun rumah. Coba baca cuitan si C di Twitter, dia baru menikah umur 35 dan punya anak umur 37 dan tampak bahagia.

Kedua, ‘Tahun Odyssey’ mengajarkan saya untuk tidak terlalu keras terhadap diri saya sendiri. Waktu adik saya menikah tahun 2013 (saat saya masih bekerja di Singapura), saya sempat merasa tertekan karena keluarga dan masyarakat menilai hal tersebut sebagai tindakan yang paling wajar dan masuk akal bagi perempuan berumur 20an. Sehingga mereka mengharapkan saya untuk melakukan hal yang sama. Pada kenyataannya, saya sedang dalam masa-masa sulit dan pencarian ‘jati diri’ tentang apa yang saya benar-benar inginkan dalam hidup. Saya tidak pernah suka mengikuti pola dan cetakan. Saya ingin jadi diri saya sendiri. Tahun Odyssey memberikan saya waktu yang cukup panjang untuk berpikir, berkembang, tumbuh, dan menjadi dewasa. Dulu saya punya banyak target yang bahkan agak terlalu sulit untuk dicapai bahkan untuk diri saya sendiri. Waktu yang saya berikan untuk diri sendiri pada akhirnya mengajarkan saya bahwa ada banyak hal yang tidak dapat kita kontrol dalam hidup dan untuk merasa tenang serta bahagia kita perlu menyesuaikan ekspektasi dengan keadaan. Dengan kata lain, kita tidak perlu terlalu keras terhadap diri sendiri. Tidak bisa saya bayangkan jika saya harus melewati semua proses pendewasaan ini dengan bayi di pangkuan atau suami yang minta makan dan perhatian.

Ketiga, 8 tahun adalah waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri memasuki ‘adulthood’ dan mulai berinvestasi. Mungkin banyak yang berpikir bahwa saya cuma ‘malas’ memikul tanggung jawab menjadi seorang ibu dan istri sehingga baru menikah di usia 29. Bukan tidak mungkin juga ada yang berpikir bahwa saya adalah orang yang egois dan terlalu asik dengan diri sendiri. Namun benarkah demikian? Selama 8 tahun, walaupun tidak punya karir yang jelas dan jadi kutu loncat, saya bekerja dengan giat paling tidak untuk standar diri sendiri. Saya punya waktu untuk belajar berinvestasi. Dengan bekal ini, saya siap secara mental dan finansial untuk mulai berkeluarga tanpa perlu berharap menemukan jodoh ‘pangeran tampan’ yang berasal dari keluarga konglomerat dan terhormat.

‘Odyssey Years’ bisa menjadi tahun-tahun yang berat dan sulit, bahkan ketika kita secara sadar memilih untuk melaluinya. Memilih untuk menunda berkeluarga bukannya tidak memiliki konsekuensi sama sekali. Poin terpenting adalah menikmati setiap ‘momen pengembaraan’ yang ada di depan mata. Ketika masa-masa sulit datang ya dijalani dan ditertawakan saja. Konon katanya, orang-orang yang paling bahagia adalah mereka yang bisa menertawakan kesulitan mereka. Be strong, be happy, it’s a tough and wild world out there! 😊

 

Cheers,

 

Haura Emilia

 

 

 

Referensi:
1Brooks, David. “The Odyssey Years”. http://www.nytimes.com/2007/10/09/opinion/09brooks.html
2Shell, G. Richard. Springboard. Hal. 2.
3&4 Odysseus. https://en.wikipedia.org/wiki/Odysseus

 

 

 

 

Bersahabat dengan Kegagalan

Siapa yang tidak pernah gagal? Saya pernah. Sering malah. Saya gagal masuk SMA impian saya, saya gagal di beberapa mata pelajaran favorit dan mendapatkan nilai yang buruk, saya pernah gagal mencapai target IPK saat kuliah dulu, saya pernah beberapa kali gagal mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan, saya gagal memperoleh beasiswa impian, dan berkali-kali saya kalah dalam ajang kompetisi atau perlombaan. Saya juga pernah gagal berangkat ke Moscow untuk menjadi interpreter Miss Universe Indonesia dan saya berkali-kali ditolak saat pertama kali mencoba peruntungan menjadi penerjemah freelance. Kalau boleh jujur, ‘gagal’ adalah salah satu nama tengah saya. Perkenalan saya dengan ‘kegagalan’ sendiri terjadi saat saya berusia 6 tahun.

Waktu saya duduk di kelas 1 SD, saya belajar main sepeda untuk yang pertama kalinya. Tidak terhitung berapa kali saya jatuh. Dengan lutut lecet dan tangan yang luka-luka, saya meringis dan setengah menangis saya berusaha bangkit lagi. Saya bertanya-tanya kenapa saya jatuh sementara teman-teman saya terlihat gagah mengendarai sepeda dengan lancar. Hari pertama belajar saya pulang menangis dan mengadu kepada ibu. Saya menumpahkan kekesalan saya ke ibu dengan mengatakan bahwa bersepeda adalah sesuatu yang mustahil saya lakukan. Saya sungguh merasa gagal. Ibu hanya tersenyum dan menyuruh saya untuk melanjutkan belajar ketika luka saya sudah tidak sakit lagi.

Hari kedua, setelah lupa dengan rasa sakit yang dirasakan, saya belajar dengan ditemani saudara yang lebih tua. Kali ini saya masih jatuh, tapi tidak sebanyak hari pertama. Saudara saya memegangi boncengan dan mendorong sepeda saya perlahan dari belakang. Lalu pelan-pelan dia melepaskan pegangannya. Saat menyadari bahwa dia sudah tidak memegangi sepeda saya, saya panik dan menoleh ke belakang. Bruk. Jatuhlah saya. Hari kedua saya belajar bahwa untuk bersepeda kita harus fokus melihat ke depan. Berbekal pelajaran di hari ke-2, saya lebih percaya diri belajar di hari ke-3. Singkat cerita, pada hari ke-4 saya sudah bisa mengendarai sepeda dengan lancar. 😊

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa jarang sekali ada orang yang langsung bisa melakukan sesuatu ketika pertama kali mencobanya. Saya belajar bahwa untuk melakukan sesuatu dengan baik kita perlu memulainya dengan begitu banyak kegagalan. Kegagalan itu yang akan mengajarkan kita hal-hal yang sebaiknya tidak kita lakukan untuk mencapai tujuan. Saya belajar bahwa gagal itu tidak selalu memalukan. Sayangnya, dalam praktiknya, kita sering melupakan hal ini. Menerima kegagalan bukanlah hal yang mudah.

Tidak ada seorang pun yang menyukai kegagalan. Kita semua ingin berhasil. Ingin sukses. Ingin menang. Jadi, alih-alih belajar dari kekalahan dan kegagalan, kita memilih untuk marah dan tidak jarang menyalahkan keadaan atau orang lain. Karena kekalahan itu pahit kita juga memilih untuk tenggelam dalam keputusasaan. Padahal, sedikit sekali dari kegagalan atau kekalahan kita yang sifatnya fatal.1  Oke, katakanlah nilai kita di rapor jelek? Lalu kenapa? Apa itu berarti masa depan kita otomatis suram? Tidak, kan? Atau, kita gagal mendapatkan pekerjaan di perusahaan impian. Apa itu berarti kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik? Belum tentu. Atau, investasi kita gagal. Selama investasi itu tidak melibatkan uang orang lain, hanya kita sendiri yang rugi, bukan? Kita selalu bisa mulai menabung dan berinvestasi kembali. Jadi sebenarnya kita selalu punya pilihan dalam menyikapi kegagalan.

Menurut kolumnis majalah The Economist dan Financial Times Tim Harford dalam bukunya Adapt: Why Success Always Starts with Failure, ada beberapa cara untuk beradaptasi dengan kegagalan. Berikut saya kutip dan terjemahkan langsung poin-poinnya (1-3) dari sini.

Pertama, cobalah berbagai macam hal baru dengan memegang prinsip dasar “gagal itu biasa”.2 Misalnya, saya yang buta soal tanaman ini bisa belajar bercocok tanam dengan menyadari bahwa tanaman saya bisa saja tidak tumbuh atau mati di tengah jalan. Yang tidak tahu soal fotografi bisa mengambil kursus fotografi dengan asumsi hasil karya pertamanya bisa jadi lebih mirip jepretan anak TK. Yang belum pernah berbisnis bisa belajar berdagang dengan mempersiapkan diri (dan dana darurat) jika ternyata dagangannya tidak laku. Dengan menyadari penuh bahwa kegagalan adalah proses belajar yang penting dan biasa, kita akan lebih siap menerima kekalahan.

Kedua, bereksperimenlah dengan sesuatu yang masih bisa kita tanggung risikonya.3 Katakanlah ada seseorang yang mencoba belajar berinvestasi di bursa saham. Di awal belajar, dia menginvestasikan seluruh tabungannya dengan menanamkan modal sebesar 100 juta rupiah. Sebulan kemudian, harga saham yang dia beli terjun bebas dari Rp1000/saham menjadi Rp450 saja! Padahal, saat itu dia butuh uang untuk membayar biaya rumah sakit anggota keluarganya. Apesnya, anggota keluarganya itu tidak punya asuransi. Terjun bebasnya harga saham yang dia beli menyebabkan dia kehilangan lebih dari setengah modal yang dia tanam. Namun, karena ia berada dalam kondisi terdesak, dia terpaksa menjual sahamnya. Unrealized loss (kerugian yang belum direalisasikan) pun segera berubah menjadi realized loss (kerugian yang direalisasikan). Apa yang bisa kita pelajari dari kasus ini? Kita perlu bereksperimen dengan sesuatu yang masih bisa kita tanggung risikonya. Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa si pemilik modal mengambil risiko besar dengan mempertaruhkan seluruh tabungannya. Dia tidak memikirkan bahwa dalam berinvestasi risiko gagal selalu ada. Seharusnya, dia menginvestasikan hanya sejumlah yang mampu ia tanggung jika hilang, bukan seluruh dana yang dia miliki. Jika risiko masih bisa kita tanggung, kegagalan tidak akan terasa pahit-pahit amat.

Ketiga, kenali momen saat kita gagal.4 Saat gagal, tidak jarang kita terjebak dalam fase penolakan alias ‘in denial’. Kita berusaha menghibur diri dan bahkan membohongi diri sendiri dengan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Bisa jadi kita juga menolak menerima bahwa kita salah dan sudah kalah. Skak mat. Kita gagal tapi tetap tidak mau mengakuinya.  Padahal dengan mengakui kegagalan kita bisa mulai melihat apa yang sebenarnya salah. Apa yang membuat rencana kita tidak berhasil. Dengan menerima kekalahan kita juga bisa mulai berpikir jernih mengenai langkah selanjutnya yang harus kita ambil. Apakah kita akan meneruskan perjalanan dengan sedikit ‘manuver’ atau berhenti di situ dan mulai dari awal. Tinggalkan emosi di belakang dan majulah ke depan dengan pelajaran baru di tangan.

Keempat, berpikir positif dan tidak pernah berhenti belajar. Saya ingat hari-hari di mana saya baru menjadi seorang freelancer. Saya mengirimkan ratusan email ke ratusan klien potensial. Setelah beberapa bulan menunggu, saya tidak mendengar kabar dari seorang pun. Ini berarti saya tidak punya pemasukan. Waktu, tenaga, dan usaha saya selama berbulan-bulan pun habis terbang dan menghilang. Saya punya dua pilihan. Saya bisa menangis dan putus asa, lalu mencari pekerjaan kantoran baru. Atau, saya bisa berpikir positif bahwa saya mungkin mencari pekerjaan di tempat yang salah. Agensi terjemahan yang saya dekati mungkin tidak punya proyek untuk pasangan bahasa Inggris dan Indonesia. Atau, kalau pun ternyata saya melamar di tempat yang benar, mungkin mereka sudah punya cukup penerjemah Indonesia yang lebih baik dari saya.

Jika hipotesis pertama yang benar, maka saya hanya perlu mengirimkan lamaran ke calon klien yang baru. Jika hipotesis kedua yang benar, maka saya perlu membangun resume saya agar lebih meyakinkan. Bagaimana caranya? Tentu dengan lebih banyak belajar dan menerima pekerjaan dari calon klien yang lebih dekat lokasinya dengan saya dan berpeluang lebih besar memberikan saya pekerjaan. Dengan berpikir positif, kegagalan terasa lebih mudah untuk dilalui.

Saya jadi ingat kata-kata almarhum ayah saya dulu, “Jangan takut gagal, Nak. Ketakutan tidak akan membawamu ke mana pun. Belajarlah dengan giat dan maju terus ke depan.”

 

Cheers,

Haura Emilia

 

 

Referensi:

1,2,3,4Rapp, Sarah. Why Success Always Starts with Failure. http://99u.com/articles/7072/why-success-always-starts-with-failure

 

 

 

 

Referensi Tarif Penerjemahan (Inggris-Indonesia)

Disclaimer: Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi penulis. Harga atau tarif di lapangan bisa jadi berbeda. Jangan jadikan tulisan ini sebagai satu-satunya sumber referensi. Variabel penentu tarif penerjemahan sangat banyak. Kalau Anda seorang klien, selalu ketahui kebutuhan dan budget Anda. Jika Anda penerjemah pemula, selalu pertimbangan teks, usaha dan waktu yang diperlukan untuk menerjemahkan, serta cari tahu harga pasar terkini.

 

Via (calon klien): “Mbak, terjemahan Inggris-Indonesia sehalaman berapa, ya?”

Aryo (penerjemah pemula): “Tarif penerjemah Inggris-Indonesia umumnya berapa, sih?”

Sebagai penerjemah lepas, saya sering menerima pertanyaan terkait tarif penerjemahan untuk pasangan bahasa Inggris dan Indonesia. Pertanyaan biasanya datang dari calon klien atau rekan penerjemah pemula. Rupanya, pengetahuan masyarakat umum tentang tarif penerjemahan masih sangat kurang. Karena awamnya masyarakat tentang topik ini, masih banyak yang beranggapan bahwa menerjemahkan adalah pekerjaan sepele dan tarifnya pun diasumsikan ‘rendah’ atau ‘murah’. Padahal, profesi penerjemah sama saja dengan profesi-profesi lainnya, seperti pengacara, dokter, akuntan, arsitek, atau software developer, yang memerlukan keterampilan dan pengetahuan.

Nah, kali ini saya berinisiatif untuk menulis soal tarif penerjemahan khusus untuk pasangan bahasa Inggris dan Indonesia. Tarif yang saya maksud dalam tulisan ini mengacu pada tarif penerjemah lepas atau freelance. Saya tidak berbicara tentang tarif penerjemah yang bekerja pada perusahaan penerbitan atau agensi terjemahan. Informasi yang ada di sini bisa berguna baik untuk masyarakat umum, pencari jasa penerjemah, atau penerjemah (pemula) yang sedang mencari informasi seputar tarif penerjemahan.

Berdasarkan jenis teks yang diterjemahkan, ada 2 jenis tarif penerjemahan: terjemahan buku dan nonbuku. Tarif penerjemahan buku berkisar antara Rp8,5 dan Rp20 per karakter atau bermula dari Rp10.000 per halaman jadi (untuk pasangan bahasa Inggris-Indonesia).1 Sementara itu, terjemahan nonbuku tarifnya disarankan mulai dari Rp152.000/halaman jadi. 2 Kalau satu halaman jadi berisi 300 kata, maka kira-kira tarif terjemahan nonbuku yang disarankan adalah Rp506/kata. Dari mana tarif ini berasal? Tarif ini mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan PMK No. 65/PMK.02 Tahun 2015 Tentang Perubahan Standar Biaya Masukan Tahun Anggaran 2016 yang mengatur Satuan Biaya Penerjemahan dan Pengetikan (halaman 61 butir 5).3 Silakan buka website HPI untuk informasi selengkapnya. Mengapa bisa jauh sekali perbedaan tarif penerjemahan buku dan nonbuku? Karena biasanya untuk penerjemahan buku penerbit menggunakan tarif borongan, misalnya sekian juta rupiah untuk penerjemahan satu buku yang berisi sekian ratus halaman. Jadi tidak dihitung per kata atau halaman.

Berdasarkan jenis penerjemahnya, tarif penerjemahan dibagi menjadi 2 juga: tarif penerjemah tersumpah (sworn translator) dan penerjemah nontersumpah. Apa bedanya penerjemah tersumpah dan nontersumpah? Penerjemah tersumpah adalah penerjemah yang memiliki sertifikat dan izin resmi untuk menerjemahkan dokumen hukum/legal seperti ijazah, sertifikat rumah, KK, KTP, dsb. Penerjemah ini biasanya memiliki nomor dan cap sendiri. Untuk menerjemahkan teks nonhukum sebenarnya tidak perlu meminta jasa penerjemah tersumpah. Namun, karena kurangnya pengetahuan masyarakat kita tentang dunia terjemahan, banyak klien yang hanya mau menggunakan jasa penerjemah tersumpah. Padahal, jumlah penerjemah tersumpah jauh lebih sedikit daripada yang nontersumpah. Kembali ke masalah tarif. Karena biasanya tingkat kesulitan dokumen hukum lebih tinggi, maka tarif penerjemah tersumpah juga lebih mahal. Contohnya, jasa seorang penerjemah tersumpah untuk pasangan bahasa Inggris-Indonesia kurang lebih berkisar antara Rp160.000-180.000/halaman jadi.

Penerjemah nontersumpah sendiri terbagi lagi menjadi 2: penerjemah pemula dan penerjemah senior. Umumnya, tarif penerjemah pemula, misalnya mahasiswa yang baru lulus kuliah, di bawah penerjemah ‘senior’. Kata ‘senior’ di sini dapat mengacu pada penerjemah yang sudah berkecimpung di dunia penerjemahan lebih dari 5 tahun atau yang jam terbangnya sudah banyak, misalnya sudah menerjemahkan lebih dari 500.000 kata atau sudah menerjemahkan banyak buku/teks. Beberapa penerjemah pemula yang saya kenal memiliki tarif antara Rp30.000-60.000 per halaman jadi. Sementara, penerjemah yang lebih senior tarifnya cenderung lebih tinggi dari penerjemah pemula. Ada yang mengikuti acuan tarif Peraturan Menteri Keuangan yang sudah saya sebutkan di atas (Rp152.000/halaman jadi), ada pula yang di atas itu (misalnya Rp180.000-Rp200.000/halaman jadi).

Berdasarkan kliennya, ada 2 jenis tarif penerjemahan: tarif penerjemahan untuk klien lokal dan klien internasional. Klien lokal (walau tidak semua) memiliki daya beli yang relatif lebih rendah dari klien yang berasal dari luar negeri. Jadi tarif yang biasanya dikenakan ke klien lokal di bawah klien luar negeri. Sebagai perbandingan, klien lokal mungkin hanya sanggup membayar maksimal Rp90.000/halaman jadi atau Rp300/kata sumber, sementara klien luar bisa membayar Rp180.000/halaman jadi atau sekitar Rp600 atau USD 0.045/kata sumber.

Klien ‘internasional’ pun sering kali memiliki daya beli yang berbeda pula. Klien agensi terjemahan yang berada di Asia umumnya membayar penerjemah dengan tarif yang lebih rendah dari klien agensi terjemahan yang berbasis di Eropa atau Amerika Serikat. Misalnya, klien Asia mungkin menawarkan tarif 0.02-0.05 USD/kata sumber sementara klien agensi yang berbasis di Amerika atau Eropa mungkin bisa menawarkan tarif antara 0.06-0.1 USD/kata sumber. Perlu diingat bahwa penggunaan USD dalam tulisan ini mengacu pada mata uang standar yang biasa digunakan klien internasional. Pada realitanya, penerjemah bisa saja menerima tarif dalam SGD, Euro, GBP, dst.

 

Referensi Tarif Penerjemahan Nonbuku Penerjemah Freelance

No. Pasangan Bahasa Satuan Penerjemah      Klien Tarif
1 Inggris-Indonesia Halaman jadi Pemula Lokal Rp30.000-Rp90.000
2 Inggris-Indonesia Halaman jadi Senior Lokal Rp100.000-180.000 (atau lebih)
3 Inggris-Indonesia Halaman jadi Tersumpah Lokal Rp160.000-180.000 (atau lebih)
4 Inggris-Indonesia Kata sumber Pemula & Senior (yang lulus tes klien agensi terjemahan) Asia USD 0.02-0.05
5 Inggris-Indonesia Kata sumber Pemula & Senior (yang lulus tes klien agensi terjemahan) Eropa & AS USD 0.06 – 0.1
6 Indonesia-Inggris Halaman jadi Pemula Lokal Rp30.000-Rp90.000
7 Indonesia-Inggris Halaman jadi Senior Lokal Rp100.000-180.000 (atau lebih)

 

Pada tabel di atas, saya menyamaratakan tarif terjemahan untuk pasangan bahasa Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris. Ini semata karena memang banyak penerjemah yang saya kenal tidak membedakan tarifnya. Namun, ada pula penerjemah yang membedakan tarifnya. Terjemahan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris umumnya lebih sulit karena Inggris bukanlah bahasa ibu kebanyakan orang Indonesia, sehingga tarifnya pun lebih tinggi. Saya tidak tahu persisnya seberapa besar perbedaannya. Namun, saya pribadi menetapkan tarif 20% lebih mahal untuk pasangan bahasa Indonesia-Inggris. Karena tidak ada acuan yang pasti, tarif harus ditanyakan langsung ke penerjemah yang bersangkutan. Perlu diingat pula bahwa tidak semua penerjemah menawarkan jasa penerjemahan untuk pasangan bahasa Indonesia-Inggris. Alasannya bervariasi, ada yang semata karena tidak mau/suka, ada pula yang merasa penguasaan gramatika bahasa Inggrisnya tidak cukup baik untuk menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Untuk tarif penyuntingan (editing dan proofreading), biasanya tarifnya setengah dari tarif terjemahan. Klien internasional juga ada yang menetapkan tarif penyuntingan per jam, misalnya 20-30 USD untuk menyunting 1000 kata (3-4 halaman) dalam 1 jam.

Seluruh tarif di atas bukanlah harga mati. Ada banyak variabel yang menentukan tarif penerjemahan. Penerjemah bisa saja memberikan diskon jika volume proyek terjemahannya cukup besar. Sebaliknya, penerjemah juga bisa membebankan biaya ekstra jika klien membutuhkan hasil yang ‘kilat’ (kurang dari 24 jam) atau jika materinya terhitung sulit dan membutuhkan banyak riset.

Mengenai kualitas terjemahan, tarif terjemahan memang tidak bisa 100% menjamin mutu dan kualitas. Ada penerjemah berkualitas yang tarifnya tidak terlalu tinggi, ada pula penerjemah yang kualitas terjemahannya ‘kurang bagus’ namun tarifnya termasuk tinggi. Sebagai calon klien, Anda berhak meminta sampel terjemahan untuk melihat apakah kualitas terjemahannya memenuhi standar Anda. Yang jelas, jangan berharap terlalu banyak dari hasil terjemahan yang tarifnya cenderung rendah. Anda juga bisa curiga jika seorang penerjemah menawarkan tarif yang terlalu murah. Bagaimanapun, menerjemahkan membutuhkan tenaga, keterampilan, dan usaha yang tidak sedikit. Penerjemah senior umumnya paham betul hal ini sehingga mereka bisa mengenakan tarif yang ‘lumayan’ atau jauh di atas tarif penerjemah pemula.

Jika Anda seorang penerjemah pemula, atau orang yang baru aktif kembali di dunia penerjemahan, sebaiknya perhitungkan effort, waktu, serta teks yang akan diterjemahkan. Lebih baik lagi jika Anda mencari referensi tarif terjemahan di website yang khusus menyasar penerjemah freelance seperti ProZ dan Translatorscafe.

 

Cheers,

Haura Emilia

WhatsApp Image 2017-07-24 at 2.59.10 PM

 

Referensi:

1,2,3Acuan Tarif Penerjemahan. Begum, Dina. http://www.hpi.or.id/acuan-tarif-penerjemahan

 

Catatan:

Per halaman jadi umumnya ada sekitar 250-300 kata untuk ukuran kertas A4.

 

 

 

 

Neural Machine Translation: Masa Depan Industri Terjemahan?

Untitled

Picture is taken from here. I don’t own the image above. Contact me for removal.

 

English:

ABC Hotel features stunning views of the sunset over the water.

Indonesian (1)

ABC Hotel menampilkan pemandangan matahari terbenam yang menakjubkan di atas air.

Indonesian (2)

ABC Hotel menyajikan pemandangan matahari terbenam di atas air yang menakjubkan.

 

Kalau harus menebak terjemahan mana yang merupakan hasil terjemahan mesin (machine translation atau MT) dan mana yang hasil terjemahan manusia, apa jawaban Anda? Non-penerjemah mungkin akan sedikit bingung dan menganggap keduanya hasil terjemahan manusia. Rata-rata penerjemah profesional mungkin akan memilih hasil terjemahan ke-2 sebagai hasil terjemahan manusia.

Faktanya, terjemahan pertama (Indonesian (1)) adalah hasil terjemahan Google Translate dan terjemahan kedua (Indonesian (2)) adalah hasil terjemahan manusia. Kalau boleh jujur, hasil terjemahan Google pada contoh di atas tidaklah buruk. Bahkan orang awam mungkin tidak akan menyangka bahwa itu adalah hasil terjemahan mesin. Okay, I may cherry-pick the example, but that’s not the point I’m trying to make here. Poin saya adalah, hasil terjemahan mesin sudah begitu maju dan beberapa kalimat bisa diterjemahkan dengan cukup baik dan bisa dimengerti tanpa bantuan seorang post-editor*.

Google Translate bukanlah pemain tunggal atau pertama dalam industri MT. Ada banyak pemain MT lain yang bisa menghasilkan terjemahan mesin seperti Google Translate, misalnya Microsoft Translator, Systran, SDL, dst. MT sendiri sebenarnya bukanlah barang baru dalam industri terjemahan. MT adalah cabang dari computational linguistics yang mempelajari penggunaan software untuk menerjemahkan teks dari satu bahasa ke bahasa lainnya. Ada beberapa pendekatan yang digunakan dalam MT: Rule-based, Statistical, Example-based, Hybrid MT, dan Neural MT1 (Detailnya baca sendiri ya di Wikipedia. Hihi..). Google dan Microsoft sekarang menggunakan metode yang terakhir, Neural MT.2

Neural Machine Translation (NMT) adalah tren terbaru dalam industri penerjemahan. NMT adalah sebuah metode berbasis Artificial Neural Network (ANN), yang diperkenalkan pada akhir tahun 1950an.3 Untuk menjelaskan definisi NMT dan ANN, saya akan menerjemahkan (bebas) sebagian isi artikel “Why Neural Machine Translation (NMT) Might be the Next Big Step for the Industry”, yang saya kutip langsung dari sini:

“ANN adalah paradigma dalam pemrosesan informasi, yang terinspirasi dari cara sistem saraf biologis (seperti otak) memproses informasi. ANN terdiri dari sejumlah neuron yang saling terkoneksi dan bersama-sama bekerja untuk menyelesaikan suatu masalah. Seperti layaknya makhluk hidup yang memiliki kesadaran dan merasakan sesuatu (sentient being), ANN akan belajar melalui pengalaman dan contoh.

Neural MT atau NMT pada dasarnya berupaya menggunakan Recurrent Neural Network (RNN – atau sistem saraf buatan/artifisial) untuk meningkatkan kualitas terjemahan. Jauh melampaui terjemahan mesin statistik tradisional, NMT membangun jaringan neuron tunggal yang secara bersama-sama dapat digunakan untuk memaksimalkan kualitas terjemahan.”

Terdengar sulit dipahami? Sederhananya, NMT memanfaatkan teknologi jaringan saraf buatan (artifisial) untuk mempelajari struktur bahasa dan pada akhirnya menerjemahkan bahasa sumber ke bahasa target seperti layaknya otak manusia.

Baru-baru ini, tim Natural Language Processing (NLP) dari Harvard mengembangkan OpenNMT yang diprakarsai oleh Yoon Kim, seorang developer dan kandidat PhD Harvard. OpenNMT adalah sistem terjemahan mesin neural sumber terbuka yang menggunakan toolkit matematika Torch/PyTorch.4 “Sumber terbuka” (open-source) berarti siapa saja (baca: yang memiliki skill) dapat ikut bergabung untuk mengembangkan NMT. Tujuan OpenNMT adalah mendorong komunitas industri terjemahan untuk berkontribusi menyempurnakan NMT.5

Meskipun NMT adalah tren baru dan aplikasinya dalam bisnis sehari-hari masih sangat terbatas, kita bisa membaca tren yang sangat mungkin terjadi pada industri terjemahan di masa depan. Di masa depan, hasil terjemahan mesin kemungkinan besar akan sangat meningkat atau bahkan dapat menyamai kualitas terjemahan manusia. Tidak perlu tunggu 40 tahun ke depan, sekarang pun kita sudah bisa berkomunikasi (walaupun secara terbatas) dengan orang asing menggunakan Google Translate. NMT bisa jadi merupakan masa depan industri terjemahan.

Perlu waktu yang cukup lama bagi seseorang untuk belajar dan terus berlatih untuk menjadi seorang penerjemah profesional dengan skill yang mumpuni. Katakanlah, seseorang memerlukan waktu 10 tahun untuk belajar dan berlatih menjadi penerjemah yang baik. Itu baru untuk satu orang penerjemah. Bayangkan berapa banyak waktu, biaya, dan energi yang dibutuhkan? Jika teknologi seperti NMT berhasil mengatasi hambatannya (seperti biaya untuk riset dan masalah teknis), kita bisa menukar 10 tahun tadi dengan waktu download beberapa detik saja untuk mendapatkan penerjemah yang andal di dalam saku masing-masing. Jadi, bukan tidak mungkin penerjemah akan masuk ke dalam daftar profesi yang akan punah karena digantikan oleh AI (Artificial Intelligence).

Mungkin perpindahan sepenuhnya dari penerjemah manusia ke mesin tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Dalam jangka pendek (misalnya 5-10 tahun lagi), alih-alih berpindah sepenuhnya ke MT, mungkin akan lebih banyak penerjemah yang beralih ke post-editing. Mesin akan menerjemahkan teks dan manusia berperan sebagai editornya. Jika memang hasil MT semakin baik, proses pengeditan bisa jadi lebih cepat dan volume teks yang akan diterjemahkan pun akan semakin banyak dalam waktu yang lebih singkat.

Sebagai penerjemah, kita memiliki beberapa pilihan. Pertama, kita bisa menolak kemungkinan ini mentah-mentah dan bersikeras bahwa penerjemah manusia akan terus bertahan hingga 100 tahun atau lebih ke depan. Kalau Anda termasuk yang berpikir demikian, think again. Sebagai perbandingan, mari kita lihat perkembangan AI di abad ke-21, misalnya Watson.

Watson adalah sistem kecerdasan buatan  keluaran IBM yang didesain untuk mendiagnosis penyakit pada manusia. “Watson memiliki potensi keunggulan yang jauh lebih besar dari dokter manusia. Watson dapat menyimpan data seluruh penyakit yang pernah diketahui dalam sejarah. Watson menyimpan riwayat penyakit dan data genom pasien dan keluarganya. Watson juga tidak pernah sakit, lapar, lelah, dan bisa fokus mendiagnosis penyakit manusia. Dengan seluruh keunggulannya, Watson dapat mengancam profesi dokter umum di masa depan.”6 AI juga sudah demikian maju di abad ke-21 ini hingga dapat mengalahkan atlet catur dan pemain Go* profesional tingkat dunia. Jadi, kalau teknologi AI bisa menggantikan peran dokter di masa depan dan saat ini sudah bisa mengalahkan atlet catur serta Go, why on earth can’t it replace the whole human translators, too?

Pilihan kedua, kita bisa menerima dengan lapang dada kemungkinan bahwa penerjemah manusia akan digantikan dengan mesin (misalnya dengan Neural MT) di masa yang akan datang. Dalam 30-40 tahun ke depan (atau bahkan lebih cepat), mungkin profesi penerjemah dan juru bahasa manusia sudah ditinggalkan. Jika hal ini benar-benar terjadi, masih relevankah mengarahkan anak-anak kita sekarang (yang masih kecil) untuk menjadi penerjemah di masa depan? Apakah profesi penerjemah masih ‘laku’ di jaman mereka nanti? Bagi penerjemah muda, apakah ini waktunya bagi kita untuk mulai memikirkan profesi baru dan belajar skill lainnya?

Saya tentu saja bisa salah, karena tidak ada yang pasti pada teknologi (atau apa pun di dunia ini). Tapi saya rasa tidak ada salahnya bagi generasi penerjemah muda dan calon penerjemah untuk berpikir jauh ke depan. Tidak ada gunanya hidup dalam penolakan, atau sebaliknya, ketakutan akan sesuatu yang serba tidak pasti. Lebih baik menyiapkan escape plan, terus belajar, dan tidak berhenti mengembangkan diri.

 

Cheers,

Haura Emilia

 

 

Catatan:

Post-editor: Orang yang mengedit hasil terjemahan mesin

Go: permainan papan strategi yang sangat rumit dari China
Referensi:

1Machine Translation: https://en.wikipedia.org/wiki/Machine_translation#Rule-based

2Neural Machine Translation: https://en.wikipedia.org/wiki/Neural_machine_translation

3Why Neural Machine Translation (NMT) Might be the Next Big Step for the Industry: https://kantanmtblog.com/2016/08/06/why-neural-machine-translation-nmt-might-be-the-next-big-step-for-the-industry/

4Open NMT: http://opennmt.net/

5Harvard Launches Open-source Neural Machine Translation System: https://slator.com/academia/harvard-launches-open-source-neural-machine-translation-system/

6Homo Deus: A Brief History of Tomorrow (Yuval Noah Harari), p. 366

 

Laptop Decluttering: Tips Merapikan Konten Laptop

Declutter laptop

 

Familiar dengan gambar di atas? 😁

Begitulah kira-kira desktop laptop saya jaman sekolah dan S1 dulu. Berantakan. Penuh dengan ikon-ikon dan shortcut gak jelas yang sebagian besar tidak saya perlukan. Belum lagi isinya. Sistem filing dan foldernya. Ada terlalu banyak folder dengan nama yang ditulis ngasal tanpa berpikir seperti ‘campur-campur’, ‘tugas’, ‘random’, ‘miscl’, dsb. File, foto, video, mp3, software, unduhan, semua bisa campur aduk disimpan dalam satu folder. Shame on me. 😆

Konsekuensinya, saya sering kali bingung saat ingin menyimpan atau mencari file tertentu. Tidak jarang juga saya menjadi frustasi karena dokumen penting yang saya cari tidak ketemu dan malah menemukan ratusan file-file gak penting yang saya tidak ingat kapan dan untuk apa saya simpan. Parahnya lagi, laptop saya jadi ‘lemot’ karena isinya kebanyakan ‘sampah’. Saya pun makin ilfil melihat isi laptop sendiri. Hehe.

Untunglah masa-masa itu sudah lewat. Sejak mulai bekerja, saya belajar banyak soal menata konten desktop, laptop, dan PC saya. Sampai saya sempat mengira bahwa isi laptop amburadul seperti kasus saya dulu adalah the thing of the past, alias hanya terjadi di masa lalu, saat orang-orang masih banyak yang ‘gaptek’ dan belum memperlakukan laptop sebagai tool mata pencarian utama. Tapi…. Ternyata saya salah…

Akhir tahun lalu saya berkenalan dengan beberapa rekan kerja yang isi laptopnya mirip dengan ‘tragedi’ saya dulu. Perlu diketahui bahwa rekan-rekan kerja saya ini adalah orang-orang berpendidikan dan, seperti saya, mereka adalah freelancer yang mencari sesuap nasi dengan menggunakan laptop. Saya jadi sadar bahwa ‘fenomena’ cluttered laptop bisa terjadi pada siapa saja, berpendidikan atau tidak, tua atau muda. Saya pun cuma bisa cengar-cengir sendiri teringat laptop saya dulu.

Berdasarkan pengalaman pribadi, ada 6 tips sederhana yang bisa kita lakukan untuk merapikan konten laptop atau PC.

Pertama, rapikan desktop. Hanya letakkan shortcut dan ikon yang benar-benar perlu atau sering digunakan di desktop. Jangan tergoda menyimpan terlalu banyak dokumen di desktop. Pindahkan dokumen dan segala macam file yang membanjiri desktop di folder khusus dengan nama yang jelas di tempat lain, misalnya di Documents. Lalu, alih-alih meletakkan shortcut di desktop, letakkan di Task Bar yang biasanya terletak di bagian bawah desktop (lihat contoh di bawah).

Kalau sudah, mulailah menghapus semua ikon, shortcut, file atau apa pun yang tidak diperlukan setelah Anda memindahkan semuanya ke dalam folder yang baru Anda buat tadi. Lalu, ganti wallpaper laptop dengan gambar yang sederhana dan nyaman di mata. Berikut contoh wallpaper laptop yang simpel dan menenangkan versi saya:

Desktop

Kedua, periksa seluruh isi laptop dan hapus semua dokumen yang (sudah) tidak diperlukan. Periksa dokumen dan file-file yang bertebaran di semua ruang yang ada. Hapus yang tidak perlu, yang double, yang sudah tidak relevan. Hapus dan sisakan yang masih relevan saja. Jika ada dokumen yang sangat penting, misalnya yang bersifat legal, buat folder khusus dan beri nama yang jelas, misalnya Akta dan Ijazah.

Ketiga, menyambung poin sebelumnya, buat folder dan subfolder dengan sistem penamaan yang jelas dan logis. Buat nama folder yang jelas memisahkan setiap urusan. Misalnya: Work, Bills, Pictures, Documents, Videos, Music, Downloads, dsb. Semua file pekerjaan dimasukkan ke folder Work, semua file bukti pembayaran listrik dan uang sekolah anak dimasukkan ke folder Bills, semua foto dimasukkan ke folder Pictures, dst. Nah, kalau sudah, buat subfolder di dalam masing-masing folder jika detailnya banyak. Misalnya, di bawah folder Work, buat lagi beberapa subfolder seperti ini:

Subfolder

Ada lebih banyak lagi detailnya? Buat ‘sub-subfolder’, di dalam masing-masing subfolder. Misalnya, buat ‘sub-subfolder’ di dalam subfolder Finance seperti ini:

Subfolder 2.jpg

Jangan mengulangi kesalahan saya di masa lalu yang menamakan folder seenak perut seperti MISCL (maksudnya sih miscellaneous), CAMPUR-CAMPUR (emangnya es campur?), TUGAS KEMARIN (entah tugas mana maksudnya dan kapan), DARI TEMAN (entah apa wujudnya dan dari siapa. LOL), PRIBADI (ini lebih aneh, maksudnya dokumen confidential? Haha) dan nama-nama lainnya yang berpotensi ambigu dan membuat kita sendiri bertanya-tanya apa maksudnya.

Keempat, gunakan sistem penamaan yang logis dan mudah ditelusuri untuk doc file atau jenis dokumen lainnya. Penamaan file atau dokumen sangat penting terutama untuk sesuatu yang akan kita periksa lagi di masa yang akan datang, misalnya file terkait urusan bayar membayar tagihan atau pembelian sesuatu. Buat saya pribadi, biasanya saya menerapkan sistem penamaan file yang diawali dengan tanggal proyek dikerjakan atau tagihan dibayarkan dan diikuti dengan detailnya. Kenapa saya memulainya dengan tanggal? Agar saya tahu persis kapan file ini saya simpan atau kapan transaksi dan aktivitas tertentu saya lakukan. Misalnya:

file naming

atau yang ini:

file naming 3

Sistem penamaan di atas hanya contoh metode yang dapat kita terapkan jika memang penanggalan dan kronologi waktu adalah fokus perhatian kita. Anda bisa menciptakan sistem penamaan Anda sendiri yang Anda rasa paling sesuai dengan kebutuhan. Yang jelas, selalu konsistenlah dalam sistem penamaan, agar Anda selalu ingat dan tidak bingung di kemudian hari.

Kelima, manfaatkan teknologi Cloud untuk menambah ekstra ruang penyimpanan (storage) dan atau berbagi dokumen dengan laptop/PC yang lain. Ada banyak teknologi berbasis ‘awan’ yang bisa kita manfaatkan untuk menyimpan dan berbagi file. Sebut saja Google Drive dan Dropbox. Kalau belum tahu, kita bisa mendownload Drive dan Dropbox ke dalam laptop/PC kita dan menggunakannya bahkan saat sedang offline!

Dengan sistem cloud ini, kita bisa membagikan isi laptop yang satu dengan laptop/PC yang lainnya. Dengan demikian, kalau suatu saat laptop kita hilang atau tertinggal di rumah, seluruh dokumen kita aman karena kita bisa mengaksesnya di laptop/PC yang lain. Laptop saya sendiri tersinkronisasi setiap saat dengan laptop Mamat dan PC kami di rumah. Jadi, saya tetap bisa mengakses file saya bahkan jika saya tidak sedang pegang laptop sendiri. Metode ini juga mengamankan dokumen dari segala bentuk kerusakan laptop, misalnya terinfeksi virus dan risiko nge-hang atau crash.

Keenam dan terakhir, sisihkan budget untuk back-up data di laptop/PC. Back-up data bisa dilakukan dengan menyimpannya di hard disk external atau NAS (Network Attached Storage).  NAS adalah adalah sebuah server dengan sistem operasi yang dikhususkan untuk melayani kebutuhan berkas data. NAS dapat diakses langsung melalui jaringan area lokal dengan protokol seperti TCP/IP. Kelebihannya terdapat pada system recovery-nya, yaitu pada saat salah satu host rusak dapat di-backup.* Saya pribadi menggunakan NAS merek Synology untuk mem-back-up data, terutama yang berukuran besar seperti foto dan video. Begini tampilannya:

NAS

*Picture is taken from here.

Merapikan isi laptop/PC adalah sesuatu yang sering kali kita tunda, entah karena malas, tidak sempat, tidak tahu caranya, atau alasan lainnya. Padahal isi laptop yang rapi dan teratur dapat meningkatkan kinerja kita secara signifikan dan menghindari kita dari stres yang tidak perlu. Let’s declutter our laptop and it will eventually declutter our lives! 😊

 

Cheers,

Haura Emilia

 

 

Referensi:

*https://id.wikipedia.org/wiki/Network_Attached_Storage

Mendefinisikan ulang sukses

“There are no ‘secrets’ to success. Just clarity of purpose, hard work, focus, and persistence.” 

-Charles A. Lindbergh-

The picture was taken from: https://lifeatunitedworld.wordpress.com/2014/05/02/best-mba-placement-records-in-india/

 

Tujuh tahun yang lalu saya bercakap-cakap dengan seorang junior. Begini kira-kira isi percakapannya:

 

Saya: Jadi kamu ambil kedokteran?

Dia: Iya, mbak. Abis mau kuliah apa lagi? Daripada kuliah jurusan sosial, gak jelas ntar ke depannya. Mau jadi apa?

Saya: Kamu sebenernya pengen jadi dokter atau gak, sih?

Dia: Enggak sih sebenernya, mbak. Tapi karena saya mau sukses ya saya pilih kedokteran.

Saya: Supaya sukses jadi dokter, ya?

Dia: Iya, mbak.

Saya: (Terdiam) Lalu pulang dan membakar ijazah sastra sendiri

 

Percakapan di atas membuat saya berpikir tentang hubungan antara jurusan dan kesuksesan seseorang di dunia kerja serta definisi ‘sukses’ itu sendiri. Harus saya akui, sastra dan bahasa memang biasanya masuk ke dalam daftar jurusan dengan employment rate terendah. Bahkan The Sunday Times UK  pada tahun 2015 menobatkan ‘creative writing’ sebagai jurusan ‘terburuk’ nomor dua untuk mendapatkan pekerjaan. Jurusan ‘berbau’ bahasa ini ada di dalam daftar yang sama dengan ilmu-ilmu sosial lainnya seperti sosiologi, antropologi, dan jurusan seni seperti drama.

Waktu saya masih kuliah dulu, saya sering dengar orang diam-diam atau pun terang-terangan bertanya, “mau jadi apa kuliah sastra?”, seperti junior saya di atas. Bahkan, sesama mahasiswa sastra kami sudah biasa menggoda satu sama lain sebagai “calon-calon lulusan yang tidak punya masa depan alias ‘madesu’ (masa depan suram)”. Hehe. Jadi bagaimana dong kalau sudah terlanjur lulus dengan gelar S.S atau S. Hum (Sarjana Humor) seperti saya? How will I ever make a pretty good living with a literature degree? Benarkah lulusan sastra dan ilmu sosial lainnya tidak bisa ‘sukses’? Dan… Apa sih sebenarnya definisi ‘sukses’ itu?

Seperti banyak sarjana sastra lainnya, tentu saya pernah ada di masa-masa ‘galau’ mau kerja apa dan di mana. Seperti anak baru lulus lainnya, saya juga pernah berambisi ingin ‘sukses’, tapi somehow bingung apa dan bagaimana sebenarnya menjadi ‘orang sukses’ itu sendiri. Namun, perlahan saya mulai menata cara berpikir saya dan belajar untuk mendefinisikan ulang sukses dan cara mencapainya.

Untuk ‘menggapai kesuksesan’ yang pertama harus kita lakukan adalah mendefinisikan sukses itu sendiri. ‘Sukses’ adalah sebuah konsep abstrak yang definisinya terkait erat dengan lingkungan keluarga dan sosial, geografis, media, dan budaya. Buat orang Indonesia beberapa definisi ‘sukses’ paling umum adalah ‘menjadi PNS atau pegawai BUMN’, ‘menjadi selebriti dalam bidang masing-masing’, ‘memiliki rumah tangga harmonis dan keturunan yang baik’, ‘bekerja di perusahaan swasta yang bagus’, ‘bergaji besar’, ‘menjadi pengusaha’, dan seterusnya. Menurut pengamatan pribadi saya, ‘sukses’ di Indonesia erat kaitannya dengan 3F: fame, fortune, and family. Kalau bisa memiliki minimal dua F ini, maka seseorang bisa dianggap sukses. Nah, bagaimana dengan nasib lulusan sastra yang sering jomblo dan ‘diramalkan’ jauh dari ‘fame’ and ‘fortune’ ini?

Kalau indikator ‘sukses’ hanya 3F ini, habislah saya dan Anda (Ya, Anda yang lulusan sastra dan sedang baca tulisan ini. Hehe). Kalau ‘mendirikan start up lokal besar seperti Go-jek’, ‘menjadi Menteri Luar Negeri’, atau ‘menjadi wanita karir sekaligus supermom‘ adalah indikator sukses, tentu saat ini kebanyakan dari kita tidak masuk kategori ‘sukses’. Maka pada akhirnya kita harus mendefinisikan sukses bagi diri kita sendiri. Kita juga yang menentukan indikator sukses. Misalnya, ‘lebih banyak senyum daripada cemberut setiap harinya’, ‘memiliki pekerjaan mandiri’, ‘penghasilan yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari’, ‘memiliki investasi’, ‘memiliki tempat tinggal pribadi’, ‘memiliki kebebasan dan kesempatan untuk menjadi kreatif dan berinovasi’, ‘bisa tidur nyenyak setiap malam tanpa pusing memikirkan utang’, ‘dikelilingi orang-orang yang dicintai’, dan seterusnya. You name it.

Setelah menentukan definisi sukses, pertanyaan berikutnya adalah, “bagaimana cara mencapai kesuksesan itu sendiri?” Menurut salah satu ‘Success Guru’ G. Richard Shell, ada dua aspek diri yang berperan besar dalam mencapai ‘kesuksesan’. Pertama adalah kepercayaan diri bahwa diri kita dapat melakukan sesuatu dengan baik. Kedua adalah kemauan untuk belajar demi mengasah apa yang kita anggap bisa kita lakukan dengan baik. Saya memegang teguh prinsip ini. Pada tahap awal masa pencarian karir, saya memulai kerja dari apa yang saya tahu (skill) dan bisa lakukan dengan baik. Bagaimana cara mengetahui skill sendiri? Dengan membuat analisis sederhana tentang kekuatan dan kekurangan diri dan dengan menelusuri minat dan hobi.

Pada kasus saya, skill paling applicable dan lumayan yang saya miliki saat baru lulus adalah menulis, menerjemahkan dan berbicara dalam bahasa Inggris. Sayangnya, sekadar tahu dan punya satu atau dua skill saja tidak cukup. Kita perlu menyadari bahwa mungkin ada ribuan orang lain yang bisa melakukan apa yang kita lakukan atau bahkan bisa melakukannya dengan lebih baik. Jadi, kita harus terus belajar dan mengasah kemampuan. Asiknya, kita hidup dalam era digital, di mana segala sesuatu bisa kita pelajari secara gratis dan online. Skill yang ‘sederhana’ dan ‘sangat umum’ di jaman sekarang pun (seperti mengetik dengan 10 jari) bisa kita pelajari di internet. Asal kita mau belajar, akan selalu ada ruang untuk meningkatkan kemampuan.

Kedua, untuk menjadi sukses (bahkan sukses dalam definisi kita sendiri), kita perlu menjadi kreatif, fleksibel, dan ‘berpikir di luar kotak’, alias ‘thinking outside the box’. Sederhananya, kita harus mampu melihat peluang kerja yang terbuka bagi orang dengan skill yang kita miliki. Jangan membatasi diri terhadap satu jenis pekerjaan tertentu. Misalnya, jangan melihat profesi pegawai kantoran atau PNS sebagai satu-satunya jalan untuk bertahan hidup. Ada terlalu banyak variabel yang dapat menggagalkan kita dari rencana awal. Kalau kita hanya mau membuka satu pintu, maka pintu menuju peluang-peluang lain (yang mungkin jauh lebih baik dari rencana awal kita) akan selamanya tertutup. Kalau terus menerus gagal tes CPNS atau tidak kunjung mendapat panggilan wawancara kerja di bank asing misalnya, kenapa tidak coba alternatif lain? Kenapa tidak mencoba ranah yang benar-benar berbeda (namun masih relevan dengan skill) seperti mengajar, melamar ke media, atau sekalian menjadi freelancer? Be creative, be flexible, you’ll never know. Life might offer you something better than your expectations! 🙂

Ketiga dan terakhir, fokus dan gigihlah dalam mencapai goal/tujuan akhir. Untuk membantu diri saya fokus pada tujuan utama (baca: sukses), saya menulis goal tersebut berikut langkah-langkah kecil untuk mencapainya. Misalnya, salah satu goal saya adalah mencapai kebebasan finansial saat saya tua nanti, maka salah satu langkah yang perlu saya ambil adalah mulai berinvestasi sejak muda. Langkah berikutnya adalah membuat daftar potensi pemasukan alternatif di luar pekerjaan utama (menerjemahkan). Membuat step-by-step atau action plan akan memberikan gambaran yang jelas tentang apa yang perlu dan sudah kita lakukan untuk mencapai tujuan akhir. Dengan membuat rencana yang jelas dan terarah, kita juga bisa lebih mengantisipasi keadaan sulit dan tidak terduga yang datang tiba-tiba di tengah usaha kita.

Sekarang, ambil selembar kertas dan tulis definisi sukses Anda sendiri dan buat action plan-nya.

Sudah punya? Bagus. Sulit? Belum terpikir? Hmmmm…. Perjalanan menuju sukses memang tidak pernah mudah. 🙂

Kembali ke cerita saya di awal tulisan ini, saya sudah lama tidak bertemu junior saya itu. Saya dengar dia sekarang sudah jadi dokter merangkap ibu rumah tangga. Saya tidak tahu apakah dia sudah menganggap dirinya sukses atau belum. Saya juga tidak tahu apa dia masih berpikir bahwa semua orang yang kuliah selain kedokteran tidak bisa ‘sukses’. I guess it doesn’t matter to me anymore. 🙂 Saya bersyukur dengan jalan hidup yang saya ambil. Saya juga tidak menyesali kuliah jurusan sastra. Saya sudah membuktikan kepada diri saya sendiri bahwa saya baik-baik saja dengan ijazah yang saya punya. Namun, yang terpenting, saya sudah belajar bahwa sebenarnya tidak ada resep rahasia untuk menjadi sukses. Sukses hanya masalah definisi, tujuan akhirnya (paling tidak untuk saya) adalah untuk menemukan kebebasan dan kedamaian, hidup berkecukupan (tidak perlu berlebihan), serta bisa berguna untuk keluarga dan orang lain. 🙂

 

Cheers,

Haura Emilia