Sekolah Menjadi Orang Tua Part 1: Filosofi Montessori

Sebelum mengambil Diploma in Early Years Montessori, saya mempelajari Montessori secara kasual dan santai melalui berbagai channel Montessori di Youtube dan akun-akun praktisi Montessori di Instagram. Saya menjalaninya dengan santai, mencoba mempraktikkannya ke Reina dan mengira saya sudah memahami inti metode Montessori secara umum. Oh Dear, I was wrong.

Setelah kuliah selama kurang lebih 2 bulan, saya menyadari bahwa pemahaman saya tentang Montessori berubah dan berkembang dengan sangat cepat. Saya belajar bahwa ternyata metode ini lebih dari sekadar melatih bayi-bayi dan batita menjadi mandiri, lebih dari sekadar mainan-mainan edukatif berbahan kayu khas Montessori, lebih daripada rak-rak terbuka yang cantik dan mengundang anak untuk dimainkan, lebih dari sekadar permainan sensory, dan jauh lebih dalam dari sekadar tren pendidikan anak usia dini yang digambarkan dengan begitu cantik dan indah di feed instagram.

Dengan cepat saya menyadari bahwa metode ini mengajarkan saya bagaimana menjadi orang tua. Ya, tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa diploma ini adalah sekolah menjadi orang tua. Saya akan mencoba menjabarkan secara singkat di sini mengenai filosofi Montessori (kalau panjang-panjang pembaca bisa bosan :)) dan bagaimana hidup saya setelah mengenal Montessori.

Revolusi Pendidikan

Montessori mengajarkan sebuah paham yang dimaksudkan untuk merevolusi pendidikan anak usia dini. Menurut Montessori, pendidikan dimulai sejak anak lahir. Sejak lahir anak manusia telah memiliki potensi bawaan yang siap dibukakan dan meledak begitu dahsyat ketika saatnya tiba. Anak memiliki inner teacher dan pikiran penyerap di dalam dirinya yang akan mengajarkan dan memampukan dirinya melakukan segala hal yang diperlukannya untuk menjalani hidup.

Anak berkembang mengikuti silabus yang telah ditentukan oleh alam, tanpa ada yang perlu mengajarinya. Contohnya, anak berjalan dan berbicara tanpa perlu diajari karena anak menyerap begitu sempurna apa yang ada di lingkungannya. Anak tidak hanya melihat dan merasakan setiap pengalaman, dia juga menjadikan pengalaman inderawi ini bagian dari kepribadiannya. Jadi, bukan ibu atau ayah yang mengajarinya, anak memampukan dirinya sendiri berdasarkan segala sesuatu yang dia pelajari dan alami dari sekitarnya. Proses ini berlangsung spontan sejak anak lahir ke dunia dan seluruh pengalaman ini tersimpan di alam bawah sadar anak (subconcious).

Peran Orang Dewasa

Dalam menemani anak tumbuh dan berkembang, orang dewasa perlu mengambil peran yang pasif dan sekunder, dengan lebih banyak mengobservasi dan memberikan sesedikit mungkin intervensi. Orang tua perlu menyadari bahwa anak telah memiliki guru di dalam dirinya yang akan membantunya belajar.

Orang tua juga harus menghindari sikap sombong dan angkuh (misalnya karena orang tua merasa selalu benar, anak dipaksa untuk selalu setuju dengan orang tua), otoriter (orang tua adalah pemegang kekuasaan tertinggi jadi anak dipaksa patuh dan taat), dan semena-mena terhadap anak (sering memarahi, menekan, atau terlalu banyak mengeritik anak). Orang tua perlu menerima bahwa tanpa bantuan mereka pun anak bisa memampukan dirinya sendiri untuk belajar karena anak menyerap segala sesuatu dari lingkungannya. Dan orang tua perlu menerima bahwa anak sendirilah yang akan melakukan tumbuh kembangnya, dan menjadi manusia dewasa.

Kepatuhan akan tumbuh dari dalam diri anak sendiri tanpa dipaksa ketika orang tua menerapkan pola didik yang tepat dan tanpa kekerasan. Jika orang tua merasa anak tidak bisa patuh, orang tua perlu menyadari bahwa anak tidak dapat benar-benar memahami sesuatu berdasarkan instruksi verbal semata. Anak menyerap lingkungannya. Jika dia tumbuh di keluarga yang pemarah, dia akan tumbuh menjadi anak yang pemarah. Jika dia tumbuh di tengah-tengah orang dewasa yang sering memukul dan memaki, maka anak akan tumbuh menjadi individu yang sama. Orang tua tidak bisa berharap anak akan patuh dan menghindari hal-hal negatif jika orang tua sendiri tidak memberikan contoh dan teladan yang sama.

Kedua, menurut Montessori, seluruh bantuan yang orang tua berikan kepada anak haruslah dilihat sebagai bentuk bantuan sesama manusia. Dengan kata lain, anak tidak berutang apa pun kepada orang tua. Orang tua diajarkan untuk melihat bahwa membesarkan anak adalah bentuk tanggung jawab sosial kepada umat manusia karena anak-anaklah yang akan tumbuh menjadi generasi penerus dan mewarisi peradaban.

Ketiga, tidak ada konsep “anak durhaka” atau “anak nakal” dalam Montessori. Selama anak terlahir sehat dan normal, maka anak pada dasarnya ingin menjadi baik, ingin menyenangkan orang tuanya. Orang tua perlu melihat apa yang anak lakukan sebagai sebuah proses pembelajaran yang dia lakukan untuk membangun diri dan mengonstruksi kepribadiannya. Orang tua perlu banyak bersabar dan tidak marah dalam menemani anak belajar, bertumbuh dan berkembang.

Keempat, dalam memandang “kesalahan”, orang tua perlu melihatnya sebagai sebuah peluang bagi anak untuk belajar dan tolak ukur kesalahan haruslah berdasarkan pada kemampuan anak seusianya, bukan dari tolak ukur orang dewasa. Contohnya, jika anak menumpahkan sesuatu, alih-alih memarahi anak, orang tua harus mamahami bahwa motorik halus anak belumlah sempurna, sehingga menjatuhkan sesuatu adalah hal yang wajar.

Bagaimana kalau orang tua kelepasan marah? Jika orang tua salah atau kelepasan marah, orang tua perlu mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada anak, tidak masalah semuda apa pun usia anak. Anak layak mendapatkan rasa hormat.

Kemandirian dan Lingkungan yang Dipersiapkan

Untuk mendukung tumbuh kembang anak, orang tua perlu menyediakan lingkungan yang semenarik mungkin, yang akan mengundang anak untuk beraktivitas dan melakukan sesuatu dengan tujuan yang jelas. Lingkungan yang dimaksud haruslah memfasilitasi kebebasan anak untuk bergerak dan bereksplorasi dan sebisa mungkin dapat melepaskan ketergantungan anak pada orang dewasa. Sediakan furnitur yang ukurannya cocok untuk anak. Sediakan akses ke barang sehari-hari yang biasa digunakan anak. Pastikan ruangan anak aman dan tidak ada yang dapat membahayakan keselamatan anak.

Mengapa kemandirian penting diterapkan sejak dini dalam Montessori? Montessori percaya bahwa pertumbuhan anak sendiri bergerak mengarah kepada kemandirian. Anak belajar bergerak dan akhirnya berjalan, anak berbicara, semuanya adalah sebuah usaha yang pada akhirnya bertujuan untuk melepaskan diri dari ketergantungan.

Hukum alam telah menakdirkan anak untuk berkembang menjadi pribadi yang mandiri. Tanpa kemandirian, manusia tidak dapat mendapatkan kemerdekaan dan kebebasan. Kebebasan sendiri adalah bagian dari kehendak utama manusia yang membantunya untuk bertahan hidup. Oleh karena itu, tidak ada gunanya menghalangi anak untuk menjadi mandiri. Sebaliknya, orang tua perlu memfasilitasi usaha anak menuju kemandirian fisik dan kemudian kemandirian psikis dan sosial.

Hadiah dan Hukuman

Tidak ada hadiah dan hukuman dalam Montessori. Ketika anak melakukan sesuatu yang baik dan positif, hadiah terbaik adalah ucapan terima kasih yang tulus kepada anak. Absennya hadiah akan menghindari anak terbiasa dengan konsep sogokan dan pamrih, di mana anak akan melakukan sesuatu yang baik atas dasar imbalan. Sebaliknya, jika anak merasa usahanya dihargai dengan ucapan terima kasih, dia akan merasa senang dan ingin melakukannya lagi karena mengetahui bahwa melakukan hal yang baik itu menyenangkan.

Hukuman pun sesuatu yang perlu dihindari dalam Montessori. Jika anak dihukum ketika dia berbuat kesalahan, anak akan fokus pada hukuman dan reaksi orang tua, alih-alih kepada kesalahan dan cara memperbaikinya. Jadi, ketika anak salah, orang tua perlu memberi tahu bagaimana cara memperbaiki kesalahannya. Jika anak menumpahkan makanan, ajak anak membersihkannya. Anak sudah bisa mulai diajak membersihkan sejak anak mulai bisa berjalan. Tentu, orang tua perlu merendahkan ekspektasi dan tidak berharap anak akan langsung mengerti dan mau diajak membersihkan.

Montessori begitu memuliakan dan menghormati anak, bahkan anak bayi yang baru lahir sekali pun. Montessori percaya bahwa untuk membesarkan generasi yang lebih baik dan minim masalah-masalah sosial seperti kriminalitas diperlukan anak-anak yang jiwanya berkepenuhan, penuh dengan kasih dan sayang. Hukuman dan kekerasan dalam bentuk apa pun (termasuk memelototi dan membentak anak) dapat merusak jiwanya dan mematikan semangatnya untuk belajar. Hanya dengan membesarkan generasi yang berkepenuhan jiwanya, manusia dapat mencapai peradaban yang lebih baik karena diisi dengan pribadi-pribadi yang damai.

Life after Montessori

Ada banyak perubahan yang saya rasakan setelah mempelajari filosofi Montessori. Pertama, perspektif saya tentang menjadi orang tua serta hubungan antara orang tua dan anak berubah total. Dulu saya mengira hukuman dan hadiah itu perlu karena saya sendiri pun dibesarkan seperti itu. Dulu saya mengira peran orang tua adalah primer dan anak adalah individu yang perlu saya suapi dan isi dengan pengetahuan.

Dulu saya kira anak saya berutang hidupnya kepada saya (karena mewarisi pola pikir dan pola didik kebanyakan diri kita saat dibesarkan dulu). Dulu saya berpikir bahwa pendidikan anak usia dini penekanannya ada pada peran orang tua, alih-alih pada diri anak. Tadinya saya mengira anak di bawah 6 tahun belum perlu didengarkan keluhannya dengan seksama dan dimintai pendapatnya. Tadinya saya mengira setiap bantuan yang saya berikan ke anak adalah bentuk kasih sayang, ketika justru Montessori mengajarkan bahwa terlalu banyak membantu anak dapat menghalangi kemandiriannya.

Kedua, saya menjadi jauh lebih bijak dan sabar dalam menghadapi anak. Ketika ingin marah melihatnya melakukan sesuatu yang mengganggu atau merusak, seperti melempar barang atau menumpahkan sesuatu (sangat umum pada anak usia 2 tahun), saya akan menarik nafas perlahan dulu dan mengatakan kepada diri saya “It’s okay. Ini proses belajar dan kami akan baik-baik saja” atau “Saya bisa bersabar. Reina tidak bermaksud menyakiti saya”. Setelah tenang baru saya menghampiri Reina dan mengatakan kepadanya, “Gelasnya kita ambil dan pegang erat-erat, yuk” atau “Yuk, kita bereskan tumpahan makanannya.”

Ada begitu banyak “tamparan” yang saya rasakan selama kuliah filosofi ini. Betapa selama ini saya kurang sabar menghadapi anak, masih sering berteriak kesal dan memberikan tatapan marah ke Reina. Betapa sering saya mengeluh di depannya dan mengatakan hal-hal yang tidak konstruktif. Betapa saya masih jauh dari sosok orang tua yang “ideal”.

Betapa masih banyak “inner child” dalam diri yang sering menangis meronta minta keluar, karena mengingat hal-hal yang sudah lewat, yang lalu saya lampiaskan ke anak saya. Dalam teori psikologi, ini disebut dengan classic displacement, yaitu ketika orang tua marah kepada sesuatu yang lain tapi lalu menumpahkan kekesalannya kepada anak. Mengapa kepada anak? Karena anak adalah target yang lemah dan mudah. Orang tua begitu powerful dan bisa dengan mudahnya memarahi, membentak, sering mengeritik dan mengancam anak ketika justru orang tua itu sendiri yang dirinya tidak berkepenuhan dan perlu banyak mengoreksi diri. 😦

Tapi lalu saya sadar bahwa saya pun berproses. Saya perlu berdamai dengan diri saya sendiri dan bertobat sebelum akhirnya bisa menjadi orang tua yang lebih baik untuk anak saya. Sudah seharusnya saya terus belajar untuk memahami anak dan membenahi diri. Menjadi orang tua mungkin adalah salah satu pekerjaan paling sulit di dunia. Butuh kemauan yang kuat untuk terus berkembang dan berevolusi.

Pagi ini, saya mengintip Reina yang masih tidur di kamarnya (Reina sudah tidur sendiri sejak usia 22 bulan). Ingin rasanya saya mengabadikan momen ini, menatapnya terlelap dengan damai, karena suatu hari dia akan meninggalkan saya dan memulai hidupnya sendiri. Maafkan Mama yang kurang sabar dan banyak kekurangan ini ya, Nak. Mari kita tumbuh bersama dan membuat lebih banyak kenangan indah yang tidak akan meninggalkanmu luka.

Solo, 26-27 September 2020

Haura Emilia

The Summary of The Second Chapter of The Absorbent Mind by Maria Montessori

Please quote and mention me if you’d like to use any parts of this summary. I cannot teach you how to be a decent person, but I hope you’re aware that what you do reflects who you are as a person. Plagiarism is a serious ethical offense.

In the second chapter of the Absorbent Mind, Montessori proposed an idea about what education should be and how it is different with the reality. She argues that the current education system does not help solve social problems since they both seem to exist on different realms. Education seems to be isolated from life and society. She then offers some remedies for this situation: she believes that education should defend life and protect human development from birth by making life itself as the center of education.

Montessori agrees with Gandhi that education is preparation for life. It should focus on protecting life and helping people maintaining theirs. It should enable people to depend on themselves and stand on their feet. Education should also contribute to the life of society and support the development of civilization. It should care about people and have something to offer to solve social problems. To achieve this, we must first realize and understand the reality of education we have now and work together to fix its flaws.

First, the current education system places the emphasis on syllabus and academic performance. Students have to follow the curriculum and learn at the pace they may not even be comfortable with. A child goes to school to learn how to read, write, and count. It is perfectly acceptable to ignore his mental development in order to get him to become literate. However, literacy is only one of the means to be educated. Literacy alone is not the purpose of education. When a child goes home after school, education should enable him to do things for himself, such as self-care and practical life activities. It should help him survive and find or create a job after leaving university. It should help him grow becoming a man who is able to take care of his life. It should also enable him to become a responsible and helpful member of society.  

When education fails, a child may find himself able to read, write, and count, yet he cannot take care of himself. Once he graduates from university, he realizes that he lacks the soft skills he needs to survive in the real world. He still depends on his parents to support himself and he does not know how to socialize with others. If he cannot find the job he wants, he cannot think of a creative solution and he may end up becoming unemployed. As we know, the raise of unemployment could lead to other social problems such as homelessness, crimes, and mental illness like depression.

Consequently, education should not limit itself to curriculum and schedule. It must confirm to the facts of life. It is important build a curriculum which supports a child’s development. It should let him learn and study at his own pace. This shall lead to a fun learning experience, where he can enjoy the process. Parents and teachers should be willing to act as the unsung heroes, humbling themselves to learn how to educate without sacrificing their child’s happiness. Therefore, we need to shift the focus of education, from syllabus and lesson plans to helping children prepare for their lives.

Secondly, what happens now is that education is kept apart from society and social care. Since it focuses on academic achievement, it completely ignores students’ psychological and social aspects. If a student does not have enough food at home, it is not something a school should concern. If a child is not happy with the learning environment or if he is being forced and abused at home to pass the exam with flying colors, it is not the school’s problem, either. What it cares about is that this student follows all the school’s rules and studies diligently.

Montessori, on the other hand, believes that education should care about a child’s psyche. It needs to care about his mental development. If his soul is fulfilled, he will grow up becoming a mentally-stable man with great potential. Montessori also thinks that education should go hand in hand with social life. There should be some outside power to enforce this modification.

A proper care must be taken by the government to improve education which protects and defends life. It needs to invest heavily on children’s education and welfare. Be it making and imposing the laws, subsidizing schools, or maximizing the national budget on education, the government must actively find ways to support and protect the lives of children, including those who are of pre-school age and infants. Parents and society should also take their parts in raising a child and protect his life. If a child’s parents are not able to provide him with a proper life and good education, society must find a way to help him. The child needs special help from society to build a proper man.

A mother produces a child, but it is the child who will become a man. Children build humanity and civilization. We must realize that the secret to better society and civilization lies in the hands of children. They have the power to absorb their environment and shape themselves for the future. An Indian child raised in an American family will speak English and act like Americans. In other words, we must create the best environment where a child lives and grows.

In conclusion, to support the development of future generation, Montessori argues that a revolution in education must take place. Education needs to start from birth and it should eliminate every violence. Only when the human soul is free from oppression and restraints, it can reach its full potentialities.

The Summary of The First Chapter of The Absorbent Mind by Maria Montessori

Please quote and mention me if you’d like to use any parts of this summary. I cannot teach you how to be a decent person, but I hope you’re aware that what you do reflects who you are as a person. Plagiarism is a serious ethical offense.

In the first chapter of The Absorbent Mind, Maria Montessori argues that a child has psychic power, a mind that absorbs knowledge and instructs himself, and a meticulous inner teacher that helps him learn everything he needs to know to become a man of great characters and intelligence. She also argues that the most important period of human development occurs during the first years of his life, which explains her take on the importance of early childhood education. She states that during the first two years of a child’s life, education should focus on assisting the development of his psychic power to help unlock his potentials.

Montessori believes that a child is born with a natural inner guide and psychic entities: a soul, personalities, and characteristics. It is the opposite of a classic theory that says men are born as empty vessels. In this view, parents like to think themselves as the teacher, who fills the blank mind of their child with knowledge about himself and the world around him. However, a modern approach to education agrees that a child is born with innate knowledge.

Montessori also believes that a child is born with an absorbent mind. He absorbs what he sees and experiences and then teaches himself things he learns from his environment. Having absorbed the surrounding cultures, he learns and enables himself to grow and develop. Every child possesses mysterious power that enables him to follow a strict syllabus assigned and imposed by nature. Language acquisition is a perfect example. By the age of two, a child speaks the language of his parents. He’s also able to recognize people and things in his environment. It is the inner teacher within him that helps him achieve this great intellectual acquisition.

At the age of three, a child is already a man. Psychologists say that it will take adults 60 years of hard work to achieve what a child has achieved during the first three years of his life. Within him, there’s a foundation of his own personality and he needs a special help from education to hearten his power to absorb cultures. Early education for children under three is therefore crucial as it will affect his development when he is 3 to 6-year old. With the right education in a carefully-prepared environment, his potential is limitless.

The kind of education needed here is not merely the transmission of knowledge, human personality and potential must also be taken into account. Education is a natural process that happens spontaneously in every individual. One does not gain knowledge by listening to words, but by experiencing actual events. This means knowledge cannot be delivered only by verbal expressions. The teacher is not the center of the class. Her role is more like an observer and a guide. The student himself should be the center of education.

A man does not only develop at the university. Instead, education must start from birth as a child starts his development from and before birth. The greatest development happens during the first years of his life, so the best care and attention has to take place. A child will grow becoming a man of virtue if he grows up without any mental oppression. Therefore, it is best to raise a child with respect, free from any form of bullying.

At the end of this chapter, Montessori argues that it is important for parents to humble themselves when raising their child and respect the little soul inside him. They need to play the role of a diligent and composed observer in order to fulfil his child’s needs and help him become independent. Only by acting as servants who serve the master, parents can watch his child evolve into a righteous man who will help shape the future of humanity.

Saya Kuliah Lagi!

Baru-baru ini saya memutuskan untuk mengambil gelar diploma lewat metode distance learning alias kuliah online program Early Years Montessori and Entrepreneurship. Buat yang mungkin belum familiar dengan Montessori, silakan baca lebih lanjut di sini karena saya tidak akan membahasnya.

Kembali ke cerita saya… Mungkin pembaca akan bertanya-tanya kenapa saya mau kuliah lagi? Memangnya gak cukup sudah punya gelar master? Dan di umur segini (34) pula? Sambil mengurus batita yang lagi aktif-aktifnya (23 bulan) tanpa bantuan orang tua, ART, babysitter, atau mertua?

Semua berawal dari adik saya yang mengirimkan screenshot iklan program ini, yang dia temukan di Instagram. Karena dia tahu saya tertarik dengan Montessori dan sejauh ini belajar mandiri tentang Montessori sambil mempraktikkannya ke Reina, dia langsung mengabari saya. Tentu saja saya langsung tertarik. Setelah memeriksa akun Instagram, website, dan membaca review tentang penyelenggaranya, saya mengontak mereka. Contact person menanggapi saya dengan ramah dan memberikan informasi lengkap tentang program yang mereka tawarkan.

Program diploma ini diadakan oleh Montessori Haus Asia Indonesia (MHA), sebuah pusat pelatihan dan pendidikan Montessori dan pendidikan anak usia dini yang berkantor di Jakarta, dan merupakan cabang dari MHA yang ada di Singapura. MHA menawarkan berbagai kursus singkat hingga pelatihan untuk para profesional dan orang tua yang berminat mengenal dan mendalami Montessori. Saat ini MHA sedang dalam proses mendapatkan akreditasi dari lembaga Montessori di Amerika, namun sudah menjadi anggota International Montessori Council (IMC).

Program diploma akan berlangsung selama setahun penuh dan kelas dilakukan 2x seminggu via Zoom. Satu sesi memiliki durasi 3 jam. Para siswa diberikan buku dan modul, plus akan ada pop quiz, assignment berupa esai, dan ujian di akhir program. Para pengajarnya adalah para profesional yang memang mendalami Montessori, beberapa di antaranya adalah founder MHA dan psikolog terkenal. Terdengar benar-benar mirip kuliah pada umumnya, kan? 🙂

Kenapa saya mau kuliah lagi? Pertama, saya sangat suka filosofi Montessori yang menempatkan anak sebagai individu yang layak dihormati. Montessori akan mengajarkan saya banyak tentang respectful parenting, sebuah konsep yang kalau mau jujur masih sangat asing di Indonesia. Kedua, saya juga ingin belajar lebih jauh tentang pendidikan anak usia dini. Saya yakin, ilmu yang akan saya dapatkan akan sangat berguna untuk mendukung tumbuh kembang Reina.

Selain itu, program yang saya ambil juga akan memberikan saya ilmu tentang perencanaan kurikulum Montessori, yang akan membantu jika suatu hari saya memutuskan untuk menyekolahkan Reina di rumah atau homeschooling. Jika pada akhirnya Reina pergi ke sekolah biasa pun, bagi saya pendidikan adalah investasi jangka panjang yang selalu bisa saya andalkan. Jadi, saya yakin saya tidak akan rugi apa pun mengambil program ini.

Okay, segitu dulu untuk postingan kali ini. Saya akan update perkembangannya secara rutin di sini. Wish me luck! 🙂

Cheers,

Haura Emilia

Melatih Batita Tidur Sendiri (Sleep Training Part 2)

Buat yang belum baca tulisan saya sebelumnya tentang pengalaman saya melatih anak tidur di kamarnya sendiri, silakan baca tulisannya di sini.

Mengapa dan bagaimana saya melatih anak tidur sendiri?

Sudah hampir sebulan sejak saya memutuskan untuk melatih putri saya (23 bulan) tidur di kamarnya sendiri. Dari awal saya sudah tahu bahwa prosesnya tidak akan mudah dan emosional, tapi karena saya sudah lelah terbangun terus berulang kali hampir setiap malam selama 22 bulan terakhir, saya pun bertekad akan melatih Reina tidur sendiri.

Sejak lahir Reina tidur di kamar saya dan suami. Awalnya, sampai dia berusia 7 bulan, dia tidur di kasur bayi, alih-alih di kasur yang sama dengan kami berdua. Tapi, memasuki usia 8 bulan, dia saya pindahkan ke kasur saya dan kami tidur berdua. Suami pindah ke kasur lain di kamar yang sama. Saya melakukan ini karena dia mulai terasa berat diangkat-angkat setiap ingin menyusu dan lebih mudah menyusuinya sambil tiduran di malam hari.

Kesalahan saya adalah saya terbiasa membiarkan Reina tertidur sambil menyusu. Ditambah lagi, setiap dia terbangun di malam hari saya akan langsung menyodorkan “nenen” tanpa menunggu sedikit pun. Padahal, sering kali bayi dan batita sebenarnya hanya ‘terbangun’ sebentar dan akan kembali tidur tanpa dibantu. (Oleh karena itu, sebaiknya ibu menunggu 5 menit sebelum menenangkan bayi untuk melihat apakah dia akan kembali tertidur sendiri sebelum dibantu.) Hasilnya, Reina mengasosiasikan tidur dengan menyusu dan tidak bisa tidur tanpanya.

Kebiasaan ini terus berlanjut hingga Reina berusia 22 bulan. Saya selalu terbangun pagi dengan kepala berat karena kurang tidur. Sehari semalam saya kadang hanya tidur 2-3 jam. Ini membuat saya cepat lelah dan cepat marah. Saya tahu kesalahan saya ini dari awal namun karena sebelumnya saya harus bekerja di malam hari setelah Reina tidur, saya harus menidurkan dia dengan cepat agar saya bisa bekerja. Menyusuinya adalah cara tercepat untuk menidurkannya. Jadilah saya melanjutkan kebiasaan “breastfed-to-sleep” ini setiap Reina mau tidur atau perlu tertidur kembali.

Akhirnya, setelah dia genap 22 bulan dan sudah hampir sepenuhnya saya sapih (cerita menyapih akan saya tulis di postingan terpisah) dan saya resign dari pekerjaan untuk fokus mengurus Reina, saya memutuskan untuk melatihnya tidur sendiri. Tidur sendiri artinya bukan hanya tidur di kamarnya sendirian, tapi juga melatihnya agar bisa tertidur kembali tanpa bantuan ketika terbangun di tengah malam.

Lalu, bagaimana saya melatih Reina tidur sendiri? Awalnya, saya mulai menemani Reina tidur di kamarnya setiap tidur siang dan malam untuk membiasakannya tidur di lingkungan yang baru. Saat itu saya merasa belum siap meninggalkannya tidur sendiri karena saya sejujurnya belum rela. 🙂 Saya jadi sadar bahwa ternyata untuk mulai melatih anak tidur sendiri, orang tuanya harus siap juga.

Ternyata setelah hampir sepenuhnya disapih pun Reina masih sering mencari ‘nenen’ ketika terbangun di malam hari. Jadilah, saya masih berkutat di masalah yang sama. Saya sudah mencoba cara halus dengan metode ‘controlled crying’ dan Ferber Method, yakni menunda memberikannya asi ketika dia memintanya di malam hari. Namun, dia mengamuk hebat setiap saya menolak. Dia bahkan menarik baju saya sambil menjerit-jerit. Dia tidak rela menunggu sedetik pun.

Akhirnya, setelah 2 minggu hal ini berlangsung dan metode tadi tidak juga menghentikannya bangun berulang kali dan meminta asi, saya memutuskan untuk mencoba metode cry-it-out. Ini adalah metode meninggalkan anak di kamarnya sendiri dan membiarkannya menangis hingga lelah dan tertidur. Ini sebenarnya metode yang cukup banyak pro dan kontranya.

Beberapa kelompok pemikiran menolak mentah-mentah metode ini karena dianggap menyiksa si anak. Beberapa ahli juga tidak menyetujui metode ini karena menganggap tidak natural bagi bayi untuk tertidur sendiri.

Beberapa ahli lainnya, sebaliknya, menganggap cara ini efektif jika segala cara lain sudah dicoba dan gagal. Kelompok ini juga percaya bahwa tidak ada bukti ilmiah yang membuktikan efek samping jangka panjang metode cry-it-out pada anak ketika mereka dewasa kelak. Jadi, saya yang sudah putus asa memutuskan untuk mencobanya.

Di minggu ke-3 Reina tidur di kamarnya, saya memutuskan untuk menerapkan cry-it-out. Setelah rutinitas sebelum tidurnya selesai (makan malam-ganti piyama-sikat gigi-baca buku), saya mencium dan memeluk Reina lalu mengatakan “Selamat malam Reina. Bobok sendiri, ya”. Setelah itu, dalam keadaan dia belum tertidur, saya keluar kamar dan menutup pintu kamarnya.

Di malam pertama minggu ke-3 ini, Reina menangis menjerit-jerit sekitar 30 menit sebelum akhirnya tidur. Malam itu dia terbangun sebanyak 4x dan menangis selama kurang lebih semenit sebelum akhirnya kembali tertidur sendiri.

Hari berikutnya dia hanya menangis kurang dari 2 menit sebelum akhirnya tertidur. Dia pun hanya benar-benar terbangun sekali pukul 5 pagi. Sambil menangis dia minta diantarkan ke toilet. Buat yang belum tahu, Reina sudah mulai potty training sejak usia 17 bulan dan saat ini (23 bulan), dia sudah bisa kering di siang hari namun masih memakai pospak di malam hari.

Malam ketiga, dia hanya menangis tidak sampai semenit setelah saya meninggalkannya sendiri di kamar. Dan pada jam yang sama, pukul 5 pagi, dia kembali terbangun minta pipis. Saya antarkan dia pipis di toilet, lalu saya bawa kembali ke kamarnya. Saya peluk dan tenangkan dia lalu saya tinggalkan lagi. Dia menangis selama beberapa menit sebelum akhirnya kembali tertidur dan bangun pukul 6.30 pagi.

Malam keempat, Reina masih menangis beberapa menit setelah saya meninggalkannya di kamar. Namun, dia hanya bangun sekali dan merengek beberapa detik pukul 11 malam sebelum akhirnya kembali tertidur sendiri. Setelah itu, dia tidur sampai pagi dan baru bangun pukul 6.10. Untuk pertama kalinya, Reina tidur 10 jam full tanpa terbangun berulang kali. Dia bangun dalam mood yang baik dan memanggil “Mama”. Malam-malam berikutnya, Reina juga sudah bisa tidur panjang sendiri di kamarnya.

Akhirnya, saya pun bisa mendapatkan tidur yang cukup dan nyenyak setelah bertahan dengan tidur 2-4 jam sehari selama berbulan-bulan. Reina pun mendapatkan tidur yang panjang dan nyenyak, yang sesuai dengan yang dibutuhkan anak seusianya. Anak usia 1-3 tahun membutuhkan 12-14 jam tidur (siang+malam) dalam sehari. Sebelum sleep training Reina rata-rata hanya tidur 10 jam atau kurang dalam sehari. Ini karena dia terus terbangun dan butuh waktu lama untuk tertidur kembali.

Perlukah Sleep Training?

Membiasakan anak tidur sendiri sejak bayi atau batita bukan hal yang asing di Eropa atau Amerika, namun di Indonesia adalah hal yang lumrah bagi anak untuk terus tidur bersama orang tuanya hingga mereka SD. Jadi kapan sebenarnya waktu yang tempat untuk melatih anak tidur sendiri? Ada banyak pendapat mengenai hal ini.

AAP (American Academy of Pediatrics) menyarankan anak mulai tidur di kamarnya sendiri sejak usia setahun. Sebelum usia setahun anak disarankan tidur di kamar yang sama dengan orang tuanya, namun di tempat tidur yang terpisah (room sharing). Sumber lain ada yang mengatakan sebaiknya sleep training dimulai di usia 4 bulan, yang berarti anak mulai tidur di kamar yang terpisah dari orang tuanya sejak usia 4 bulan. Sejauh ini saya belum menemukan rekomendasi IDAI tentang kapan sebaiknya anak mulai dilatih tidur sendiri.

Mengapa anak perlu dilatih tidur sendiri? Tidur adalah sebuah aktivitas yang krusial bagi tumbuh kembang anak. Pada saat tidur nyenyak malam hari itulah hormon pertumbuhan keluar, sel-sel beregenerasi, dan ini penting bagi perkembangan otaknya.

Sleep training akan membantu anak untuk tidur lebih nyenyak dan lama. Saya akan kutip dari Klikdokter tentang ini.

“Kekurangan lainnya dari bed sharing atau room sharing terlalu lama (dengan anak) akan terlihat saat anak sudah lebih besar. Biasanya anak akan lebih sulit mempertahankan tidur malam yang panjang, mudah cemas, dan kurang mandiri. Sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal Pediatrics menemukan fakta bahwa anak yang tidur bersama dengan orang tuanya hingga usia 9 bulan akan memiliki waktu tidur yang lebih sedikit saat mereka lebih besar nanti, dibandingkan anak yang sudah tidur sendiri di usia 9 bulan.”

Kegunaan lain melatih anak tidur sejak dini, selain anak bisa tidur lebih nyenyak dan lama, adalah orang tua tidak perlu pusing lagi melatih anak tidur di kamarnya sendiri ketika mereka sudah memasuki usia sekolah. Berdasarkan cerita teman-teman terdekat saya yang masih tidur dengan anaknya yang sudah SD, mereka kesulitan membuat anak tidur tidur di kamarnya sendiri. Semakin besar anak dia akan semakin merasa attached dengan orang tuanya, jadi menolak atau sulit untuk tidur sendiri.

Mengapa Sleep Training tidak dilakukan semua keluarga?

Sleep training memang bukan untuk semua keluarga. Ada yang anak dan ibunya sama-sama hard sleeper, alias mudah tidur dan sekali tidur nyenyak tidak mudah terbangun. Jika memang kondisinya begini, silakan skip sleep training.

Pada kasus lainnya, di mana orang tua tidak tinggal di rumah sendiri atau ketika jumlah kamar di rumah tidak sesuai dengan jumlah anak, sleep training juga sulit dilakukan. Kakek nenek si anak mungkin tidak setuju jika ibu dan ayah membiarkan bayinya menangis berjam-jam sebelum akhirnya tertidur sendiri. Jadi, faktor sosioekonomi dan budaya seperti ini adalah faktor penting lainnya yang membuat sleep training kurang populer di Indonesia.

Apa yang diperlukan agar sleep training sukses?

Mengingat ada berbagai macam metode sleep training, penting bagi orang tua untuk mencari info sebanyak-banyaknya dulu tentang topik ini agar bisa memutuskan metode yang ingin dijalankan.

Jika orang tua memang berniat melatih anak tidur sendiri, pastikan untuk mencobanya secara konsisten minimal selama 3 hari berturut-turut untuk melihat apakah metode yang dipilih berhasil ataukah harus berhenti dan mencoba metode lainnya. Pastikan juga keamanan kamar anak dan pasanglah cc tv yang kameranya bisa dipantau lewat aplikasi di smartphone agar orang tua bisa memantau anak dengan lebih tenang.

Cheers,

Haura Emilia

Sumber: https://www.whattoexpect.com/first-year/sleep/sleep-training-baby/

Peran Domestik VS Pencari Nafkah

Salah satu keraguan yang saya rasakan sebelum memutuskan untuk melepaskan klien terakhir saya adalah terkait masalah income. Sebenarnya saya cukup beruntung karena suami saya bisa membiayai hidup kami bahkan tanpa kontribusi finansial dari saya. Tapi ini rupanya lebih ke masalah ego saya.

Sejak berusia 19, saya sudah biasa bekerja dan memiliki penghasilan saya sendiri. Sudah sejak lama saya tidak bergantung hidup pada orang tua. Jadi ketika akan resign dari pekerjaan terakhir karena memilih fokus mengurus anak, saya sempat ragu karena melepaskan pekerjaan berarti kehilangan pemasukan, kehilangan power yang saya rasakan setiap menghasilkan sen demi sen.

Awalnya, saya sempat merasa lemah dan powerless tanpa income saya sendiri. Saya merasa tidak cukup baik jika hanya berperan sebagai ibu rumah tangga yang hanya melakukan pekerjaan domestik seperti menjaga anak, memasak, dan mengurus tetek bengek rumah tangga. Belum lagi kalau mengingat ijazah master yang saya punya dan pengalaman kerja selama 14 tahun yang harus saya simpan dalam kenangan.

Sampai kemudian saya menanyakan beberapa pertanyaan penting kepada diri saya sendiri: “Mengapa saya merasa tidak berdaya tanpa penghasilan sendiri? Mengapa saya merasa lemah dan malu hanya menerima uang dari suami? Salahkah saya berpikir demikian?”

Lalu saya sadar bahwa cara berpikir seperti ini berasal dari perspektif yang menganggap pekerjaan domestik lebih rendah derajatnya dibandingkan pekerjaan yang sifatnya menghasilkan uang. Padahal, pekerjaan domestik pun ya tetap saja pekerjaan. Ada energi yang dikeluarkan, ada target yang harus dicapai, dan ada pengorbanan yang harus diberikan demi tercapainya target. Bedanya dengan pekerjaan pencari nafkah adalah, pekerjaan domestik tidak menghasilkan kapital. Tapi bukan berarti peran domestik lantas pantas diremehkan.

Tanpa peran dan fungsi domestik, rumah tangga juga tidak akan berjalan lancar. Memangnya manusia tidak perlu makan? Tidak perlu tinggal di tempat yang bersih dan nyaman? Tidak perlu memakai pakaian yang rapi? Anak tidak perlu diurus? Tanpa dukungan fungsi domestik, pencari nafkah juga akan kelimpungan dan tidak bisa konsentrasi bekerja.

Beberapa waktu lalu saya lihat di Twitter ada beberapa orang feminis yang mengecam seorang ibu rumah tangga yang memposting foto-foto makanan bekal yang dia siapkan untuk suaminya. Mereka menghakimi perempuan tersebut dengan menyebutnya ‘pemuja laki-laki’ dan bahwa seharusnya perempuan tidak perlu berusaha sekeras itu untuk menyenangkan laki-laki.

Saya pribadi selalu menginginkan kesetaraan dalam hubungan laki-laki dan perempuan, namun kali ini saya tidak setuju dengan para feminis tersebut. Pandangan bahwa “memasak enak dan bagus secara estetika untuk suami adalah hal yang bodoh dan sia-sia” lahir dari perpektif bahwa pekerjaan domestik lebih rendah derajatnya dari breadwinning job. Padahal, kenyataannya peran domestik sama pentingnya dalam rumah tangga.

Hanya karena sebuah pekerjaan tidak menghasilkan uang, bukan berarti pekerjaan tersebut lebih rendah derajatnya daripada pekerjaan yang menghasilkan kapital. Bukan berarti pekerjaan tersebut lebih tidak bergengsi. Bukan berarti pekerjaan tersebut tidak sama pentingnya. Bukan berarti pelaku fungsi domestik layak dipandang sebelah mata.

Saya mencoba merefleksikan peran domestik saya sejak punya anak. Dalam membesarkan anak, saya berusaha belajar sebanyak-banyaknya tentang menjadi orang tua dan perkembangan anak. Saya membaca buku dan ratusan artikel yang bisa membantu saya menghadapi hari-hari saya dengan anak.

Di luar urusan anak, saya juga memasak dan mengerjakan setengah porsi pekerjaan rumah tangga (setengahnya dilakukan suami saya). Ketika anak tidur, saya masih punya waktu untuk menulis dan membaca. Dengan kata lain, Saya menjalankan hari-hari saya dengan produktif walaupun untuk sementara waktu saya tidak memberikan kontribusi finansial secara langsung.

Tanpa kerja sama saya dan suami, kami tidak bisa hidup normal dan waras seperti sekarang. Tanpa fungsi domestik, suami saya tidak akan bisa bekerja dengan tenang. Dia bisa fokus bekerja karena tahu ada yang bisa dia makan di jam makan, karena rumah dalam kondisi relatif rapi sehingga memudahkannya fokus, dan karena tahu anak kami diurus dengan baik oleh istrinya.

Jadi kenapa saya harus merasa minder dan powerless hanya karena peran saya sekarang 100% ada di ranah domestik? Meng-handle fungsi domestik tidak membuat saya menjadi bodoh dan tidak membuat otak saya karatan, karena toh saya melakukan apa-apa juga masih menggunakan otak. Sebaliknya, saya malah jadi lebih ‘alert’ dan ‘fokus’ dalam mengurus anak berhubung sekarang pikiran saya tidak lagi bercabang antara deadline pekerjaan dan anak.

Jadi, Ibu dan Bapak Rumah Tangga sekalian, tidak perlu merasa minder lagi menjalankan fungsi dan peran domestik. Kalian sama penting dan hebatnya dengan para pencari nafkah. Tanpa kalian, pencari nafkah tidak bisa berfungsi normal. Jadi sekali lagi, ini masalah perspektif.

Saya berharap masyarakat kita akan lebih menghargai peran domestik dan melihat pelaku fungsi domestik setara dengan peran pencari nafkah. Dan bahwa peran domestik bukan hanya milik perempuan. Di jaman modern seperti sekarang, sah-sah saja jika perempuan menjadi pencari nafkah dan laki-laki tinggal di rumah mengurus anak dan rumah tangga. Semuanya bisa berjalan selagi kedua pihak sepakat memilih peran masing-masing.

Terakhir, untuk kalian para laki-laki misoginis yang belum tercerahkan, hargai dan hormati istrimu, ya. Istri bukan pembantu dan kalian tidak akan mati hanya karena harus membuat kopi dan sesekali memasak makan siang sendiri. 😉

Cheers,

Haura Emilia

Diary Reina: Rutinitas Harian untuk Batita

Setelah banyak membaca, saya jadi tahu pentingnya rutinitas untuk batita. Batita seperti Reina (22 bulan) membutuhkan rutinitas dan jadwal yang jelas untuk membantunya melewati hari-hari dengan lebih tenang dan kooperatif.

Kenapa batita butuh rutinitas dengan jadwal yang jelas? Anak-anak di bawah 3 tahun itu kan sedang dalam masa pertumbuhan yang pesat, nah ada banyak sekali yang terjadi dalam hidup mereka dan selalu ada saja hal baru yang mereka pelajari. Perkembangan bahasa, sosial, motorik, dan kognitif berkembang dengan cepat setiap harinya. Hal ini bisa membuat mereka bingung dan kewalahan.

Anak-anak butuh konsistensi dalam menjalani hari-harinya, rangkaian kegiatan dan pengulangan yang terjadi secara berurutan agar mereka bisa mengeksplorasi dunianya tanpa rasa khawatir.

Saya pun membiasakan Reina menjalani hari-harinya dengan rutinitas dan jadwal yang teratur. Bangun pagi, bermain, makan, mandi, nonton TV, tidur siang dan tidur malam, semuanya punya jadwal yang jelas dan sama setiap harinya.

Banyak manfaat yang saya rasakan setelah menerapkan jadwal harian dengan disiplin.

Pertama, Reina jadi lebih anteng dan tenang. Dia anteng dan tenang karena tahu persis apa yang akan dia hadapi selanjutnya. Misalnya, ketika dia bangun tidur siang (Reina biasanya tidur siang pukul 11-13.30), dia tahu dia akan segera diberikan makan siang. Jadi dia tidak rewel. Dia (akhirnya!) dengan sukarela mengajak mandi pagi karena dia tahu setelah mandi dia akan diajak bermain. Malam hari pun dia dengan suka cita diajak masuk kamar (jam 20.00) untuk memulai ritual sebelum tidur, yaitu menyikat gigi, membaca (dibacakan) buku, dan tidur.

Rutinitas mengurangi power struggle antara saya dan dia. Saya tidak lagi pusing membujuk dia mandi (dia tadinya tipe yang susah diajak mandi, tapi kalau sudah mandi juga susah diajak udahan. Wkwk). Ini karena dia sudah hapal, habis kegiatan A, dia akan melakukan aktivitas B. Jadi dia tidak khawatir dan bisa tenang karena tahu apa yang mau dia lakukan akan tiba juga waktunya. Rutinitas ini otomatis juga membuat dia merasa lebih percaya diri karena merasa memiliki kontrol atas hidupnya.

Reina jadi jarang rewel. Namanya anak-anak pasti tetap ada nangis, rewel, dan tantrumnya. Tapi setelah menerapkan rutinitas terjadwal, frekuensi ngambek dan rewel Reina jadi jauh berkurang. Saya pun lebih enak dan santai mengurusnya.

Saya jadi lebih waras menjalani hari-hari. Karena tahu persis jam berapa Reina tidur dan jam berapa dia makan, saya bisa lebih mengatur hari saya. Di jam tidur siang yang selalu sama ini saya bisa memeriksa hape, memasak, membaca buku, menulis, atau melakukan pekerjaan rumah lain. Jadi bukan hanya Reina yang jadi disiplin, hidup saya pun jadi lebih teratur. 🙂

Rutinitas bukan berarti saklek sepanjang waktu dan selamanya ya, Ibu-Ibu. Di hari Sabtu, misalnya, ada jadwal berbelanja grocery mingguan di supermarket. Nah, otomatis, ada sedikit perubahan pada jadwal Reina (Reina menunggu di mobil sama Baba sambil menonton DVD selama saya belanja). Tapi itu pun acara berbelanja saya usahakan dilakukan di jam yang sama setiap minggunya, setelah Reina bangun tidur siang dan makan.

Sebelum perubahan jadwal seperti acara berbelanja atau ke rumah si mbah, misalnya, saya selalu memberikan Reina “heads up” dulu. Misalnya, “Reina, setelah makan siang nanti baba dan Reina antar mama belanja grocery, ya. Reina tunggu di mobil sebentar sambil liat DVD sampai mama selesai. Abis belanja Reina bantu mama masukkan makanan ke kulkas. Okay?” Yang biasanya selalu dia jawab “Okay”. 😀

Bosen gak sih begitu-begitu saja kegiatannya setiap hari? Emang gak bete ya di rumah terus? Gak pengen jalan-jalan mamanya, misalnya? Jawaban singkatnya Enggak. Jawaban panjangnya…. Enggak karena….

Saya dan Mamat (babanya Reina) sudah biasa di rumah saja. Sudah sejak tahun 2013 kami kerja mandiri di rumah (jauh sebelum Reina lahir dan jauh sebelum istilah WFH (Work from Home) menjadi tren). Kami biasa menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar komputer untuk menyelesaikan pekerjaan. Pekerja mandiri seperti kami harus disiplin agar target pekerjaan dan deadline bisa terpenuhi setiap harinya. Jadi intinya, we’re okay with staying at home.

Kedua, kami sadar bahwa hari di mana kami pergi ke luar rumah (sebelum masa pandemi), entah itu sekadar jalan-jalan ke mall atau pergi keluar kota atau luar negeri, adalah hari di mana Reina jadi lebih rewel dan mudah tantrum. Selain karena dia lelah dan merasa aneh di tempat asing, jadwal harian dia menjadi terganggu atau malah berantakan. Jadi, kami berdua memilih mengalah dan memutuskan untuk menghabiskan sebagian besar waktu kami di rumah. 🙂

Ketiga, pada dasarnya saya dan Mamat memang sama-sama anak rumahan. Kami biasa mencari kebahagiaan dengan cara sederhana di rumah saja seperti main game (Mamat), baca buku, dengar musik, atau nonton TV (ini jarang sih, tapi sesekali kami lakukan juga pas Reina tidur).

Rutinitas berhasil kami terapkan juga karena kebetulan kami tinggal bertiga saja dan kami berdua cukup kompak. Kami berusaha hidup seefektif dan seefisien mungkin dan menghandle segala sesuatunya sendiri. Jadi menerapkan idealisme, rutinitas dan jadwal ke anak bukan hal yang sulit.

Bagaimana, Ibu-Ibu? Tertarik menerapkan rutinitas terjadwal juga ke anaknya? 🙂

Cheers,

Haura Emilia

Melatih Batita Tidur Sendiri (Sleep Training Part 1)

Putri saya (22 bulan) sudah hampir lepas menyusu sepenuhnya. Dia sudah tidak perlu menyusu lagi untuk mengantarnya ke alam mimpi. Jadi akhirnya kami memutuskan untuk mulai melatihnya tidur sendiri di kamarnya. Sesekali dia memang dia masih terbangun di tengah malam dan mencari nenen, tapi toh kamar kami bersebelahan dan saya tipe light sleeper, saya bisa dengan mudah memantau atau mendatanginya jika memang benar-benar diperlukan.

Terus terang saya sempat ragu apakah aman untuk membiarkannya tidur sendiri di malam hari. Tapi setelah menimbang kelebihan dan kekurangannya, saya dan Mamat menguatkan keputusan untuk melatih Reina tidur sendiri. Berikut alasan kami memilih untuk mulai melatih Reina tidur sendiri.

Tidur lebih nyenyak. Saya adalah tipe light sleeper, yang sering terbangun di malam hari, sekadar untuk berganti posisi tidur, minum air putih, atau ke toilet. Reina kadang terbangun karena aktivitas malam saya ini. Belum lagi Mamat yang kadang harus bekerja sampai malam dan sering bekerja di kamar. Cahaya laptop bisa mengganggu tidur Reina walaupun lampu kamar sudah dimatikan. Saya perhatikan selama tidur siang sendiri, Reina bisa tidur dengan lebih nyenyak tanpa saya yang setiap sebentar bergerak (sekecil apa pun gerakannya) di sampingnya.

Belajar Mandiri. Night waking atau terbangun di malam hari adalah hal yang sangat umum terjadi pada batita. Selama masa menyusui Reina biasa kembali tertidur dengan cara menyusu dengan mama yang tidur di sebelahnya. Ini membuat dia sulit tertidur kembali tanpa bantuan saya.

Menurut ahli parenting Martha Kempner dari situs What to Expect, batita perlu belajar menenangkan dirinya sendiri ketika terbangun di malam hari. Tidur kembali sendiri adalah sebuah skill yang perlu dan bisa dilatih. Jika dia bisa menenangkan dirinya sendiri, dia bisa kembali tidur dengan lebih cepat dan orang tua pun bisa mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik.

Melatih kepercayaan diri. Saya percaya dengan tidur sendiri Reina akan belajar mengatasi rasa takutnya. Mengatasi rasa takut akan menumbuhkan rasa percaya diri, percaya bahwa dia bisa menghandle situasi dan masalah-masalahnya sendiri, seperti takut gelap atau mencoba tertidur kembali setelah bermimpi buruk.

Memberikan privacy kepada orang tuanya. Menurut cerita ibu saya, saya dan adik sudah tidur di kamar kami sendiri sejak saya berusia 2 tahun dan adik setahun. Hasilnya, dari kecil kami terbiasa tidur tanpa ditemani ibu dan ibu serta ayah pun memiliki privacy mereka sebagai suami istri. Saya ingin mengajarkan hal yang sama ke Reina, dan dengan lepasnya dia dari ritual nenen membuat kami yakin dia siap belajar tidur sendiri.

Apa saja yang saya siapkan untuk melatihnya tidur sendiri?

Memberikan pengertian tentang tidur sendiri. Setiap malam sebelum tidur, saya menemaninya dengan membacakan buku favoritnya dan mengajaknya bicara. Saya katakan kepadanya bahwa dia sudah mulai besar dan anak besar tidur sendiri di kasur dan kamarnya. Saya juga memberikannya pengertian bahwa mama dan baba ada di kamar sebelah dan dia aman. Mama akan datang kalau dia tiba-tiba terbangun karena bermimpi atau ingin pipis ke toilet (Reina sudah mulai toilet training sejak usia 17 bulan).

Memberikan teman tidur. Saya memberikan Reina satu boneka kecil favoritnya untuk dipeluk. Di atas setahun, bayi tidak lagi berisiko terkena SIDS (Sudden Infant Deaths Syndrome), jadi aman memberikannya selimut, bantal, dan sebuah boneka kecil untuk menemaninya tidur.

Lingkungan tidur yang aman dan child proof. Awalnya kami memakai tempat tidur berukuran queen untuk tempat tidur Reina dan berniat memasang pagar di pinggiran tempat tidur agar dia tidak terjatuh. Tapi akhirnya, kami memutuskan untuk menurunkan kasurnya ke lantai saja agar dia lebih aman. Kami juga memastikan kasur Reina jauh dari colokan listrik atau benda lain yang riskan jatuh menimpanya.

Memasang kamera di kamarnya. Kami memasang kamera kecil di atas kasurnya yang bisa dipantau melalui smartphone. Kamera ini penting untuk memantau keselamatannya tanpa perlu masuk ke kamarnya langsung, yang berpotensi membangunkannya.

Ruangan cukup gelap namun tidak terlalu gelap. Penting bagi batita untuk tidur di ruangan yang cukup gelap agar bisa tertidur nyenyak. Dari atas kaca jendela di atas pintu kamarnya cahaya kuning redup dari lampu di lorong depan kamar memberikan sedikit penerangan ke kamarnya.

Melatih anak tidur sendiri atau tidak adalah keputusan personal setiap orang tua ya, Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak. Bagaimana pun sleeping arrangement yang dijalankan, pasti ada pro dan kontranya. Yang terbaik untuk satu keluarga, belum tentu applicable dan baik untuk keluarga lainnya. Apa pun pilihannya, semoga orang tua dan anak bisa sama-sama mendapatkan tidur nyenyak dan berkualitas. 🙂

Cheers,

Haura Emilia

Catatan: Untuk membaca part 2, klik di sini.

Writing Journal Day 22: Life Updates

Halo, Semuanya!

Ini mungkin salah satu postingan paling tidak penting di blog ini. LOL. Tapi ini blog saya ya, kan. Terserah saya mau nulis apa. 🙂

Anyway, saya mau nulis tentang life updates kali ini. Sudah 23 hari saya resmi meninggalkan klien terlama dan terakhir saya. Sudah 23 hari pula saya berhenti mengedit terjemahan atau melakukan apa pun yang terkait terjemahan. Jadi ngapain aja saya?

Pertama, saya bisa benar-benar fokus mengurus Reina yang 2 bulan lagi berusia 2 tahun. Dengan melepaskan pekerjaan terakhir itu, saya jadi bisa tidur lebih nyenyak, lebih tidak mudah marah, lebih santai, lebih ceria dan lebih waraslah.

Saya juga jadi bisa fokus menyapih Reina, sebuah proses panjang yang membutuhkan kesabaran luar biasa —and it took such an emotional rollercoaster ride— berhubung saya memutuskan menggunakan metode WWL (weaning with love) untuk menyapih Reina. Selengkapnya tentang cerita ini akan saya bahas di tulisan yang terpisah. Sejauh ini Reina sudah hampir lepas asi 100%, saya optimis dalam waktu dekat dia akan berhenti sepenuhnya. So, yay!

Saya juga jadi lebih fokus mengajak main Reina, memikirkan asupan nutrisi dan memperhatikan tumbuh kembangnya. Baru-baru ini saya iseng memberikan puzzle alfabet ke Reina dan mengajari dia bunyi-bunyi dasar huruf vokal dan konsonan. Tujuan saya bukan untuk mengajari Reina membaca (I really don’t see any points of that at this stage), tapi lebih ke menambahkan aktivitas baru yang saya harap bisa mendukung perkembangan bahasanya.

Ternyata Reina suka sekali dengan puzzle ini. Lucu sekali melihat mulut kecilnya mencoba dan mengulang-ulang bunyi fonetik setiap abjad sambil berusaha memasang setiap kepingan puzzle. Wkwkwk… Ini efek emaknya mantan anak lingustik. Saya happy melihat dia menemukan “harta karun” baru. Gak masalah umur berapa pun nanti dia bisa bacanya, yang penting dia enjoy prosesnya. Ingat kata Maria Montessori, “play is the work of a child”. Biarkan anak mengeksplorasi apa saja karena dari situ secara alami mereka belajar.

Kedua, saya bisa baca buku dengan lebih santai tanpa perlu kejar-kejaran dengan deadline harian. Malah, saya sudah membaca hampir 12 buku tahun ini. Buku ke-11 (Becoming-nya Michelle Obama) benar-benar bisa saya nikmati setiap halamannya. So, yay!

Ketiga, saya jadi punya waktu lebih banyak untuk menulis. Saya sedang mengerjakan 2 buah proyek tulisan baru (detailnya tidak akan saya bagikan sekarang). Ambisius memang, tapi sejauh ini semuanya berjalan dengan lumayan lancar. Dalam waktu 22 hari saya sudah menulis 1 tulisan panjang dan 12 tulisan pendek. Semuanya saya tulis saat Reina tidur siang dan subuh saat Reina belum bangun. So, yay again!

Proyek menulis ini belum membuahkan invoice atau pundi-pundi karena memang masih tahap awal sekali. Saya menulis agar otak saya tidak karatan saja dan supaya tetap bisa produktif. Daripada cuma nonton drakor pas Reina tidur. Sekalian jalan sama membaca buku juga, sih. Semakin banyak membaca otomatis juga jadi lebih banyak yang bisa ditulis.

Terakhir, saya baru-baru ini unfollow hampir semua orang di Instagram. Bukan karena saya merasa teman-teman saya membosankan, tapi karena Instagram membuat saya menghabiskan terlalu banyak waktu, melihat-lihat yang sebenarnya tidak penting untuk saya ketahui. Dengan unfollow hampir semua orang, waktu yang saya habiskan di instagram berkurang drastis, menjadi 10 menit sehari. Sesekali saya akan tetap posting sesuatu di feed, tapi ya paling itu saja. Itu pun kemungkinan saat weekend aja, pas Mamat gak kerja, jadi bisa gantian pegang Reina.

Okay, that’s all I have to say on this post. As always, thanks for reading!

Cheers,

Haura Emilia

29 June 2020

June Writing Journal: Day 1 – On Writing That Book

Sudah sejuta kali saya bilang ke Mamat kalau saya mau menulis buku. Dan sejuta kali itu pula Mamat memberikan respons yang sama: “Yes, you should. Mulailah, dari sekarang. Bikin plan dan jadwal menulis yang jelas. Jangan cuma dikhayalkan. You know what to do.”

Ya, saya tahu. Saya sudah hapal strategi memulai habit baru dan saya sudah berhasil mempraktikkannya dalam hidup saya. Tapi sampai beberapa hari terakhir ini, saya selalu menundanya. Menunda menulis buku yang selalu ingin saya tulis. Jari saya selalu berhenti begitu otak saya memerintahkan saya untuk mulai menulis buku itu. Rasa enggan selalu menyerang dan saya memilih mengalihkan perhatian saya ke hal lainnya, entah itu menulis hal lain atau mengerjakan hal lain.

Sampai akhirnya saya bertanya ke diri sendiri tentang mengapa saya selalu menundanya. Lalu saya menyadari sesuatu. Saya takut.

Saya takut mengingat dan menghidupkan kembali semua luka yang pernah saya alami dalam hidup. Saya takut menuliskan tentang orang-orang yang keberadaannya berusaha saya lupakan dalam hidup. Saya takut menulis tentang mereka-mereka yang kisah hidupnya bersinggungan dengan hidup saya. Saya takut karena tokoh-tokoh yang akan saya bangun berangkat dari orang-orang yang saya dulu dan sekarang kenal. Orang-orang yang beberapa di antaranya telah saya anggap mati atau saya harapkan mati.

Saya juga takut membayangkan reaksi orang-orang ini jika mereka pernah membaca apa yang saya tulis. Walaupun saya berencana menulis kisah fiksi, tapi karakter-karakternya akan berasal dari orang-orang yang saya kenal. Dari orang-orang yang saya sayangi dan saya sakiti. Yang mencintai dan melukai saya pada saat yang sama. Saya takut mereka yang membenci akan semakin membenci. Mereka yang mencinta menjadi terluka. Mereka yang sudah bisa menerima akan kembali menolak. Mereka yang sudah mati akan bangkit dari kubur untuk mengutuki saya. Saya takut kembali ke lubang kesedihan, sebuah sumur dalam di mana saya terpuruk dan bahkan tidak sanggup menoleh ke atas untuk mencari jalan keluar.

Tapi di sisi lain saya tahu saya harus menulis tentang mereka. Saya perlu mengeluarkan mereka dari kepala saya, agar mereka berhenti bicara di saat saya ingin tidur, membuat saya terjaga sepanjang malam. Saya harus menulis apa yang ingin saya katakan agar saya tahu saya tidak akan hidup dalam penyesalan karena gagal menyampaikan apa yang begitu lama mengganjal dan berpotensi membusuk jika tidak dikeluarkan.

Jadi hari ini saya berhasil memaksa diri saya untuk mulai menulisnya. Saya tidak tahu apa saya akan berhasil dan jika ya berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikannya. Saya baru saja memulainya dan itu sudah terasa sulit. Tapi tidak ada yang mudah dalam hidup, saya tahu itu. Jadi meskipun harus menyambuk diri sendiri untuk menulisnya, saya akan terus mencoba melakukannya.

Hari ini saya berhasil menulis 1066 kata untuk buku itu. I know I mostly wrote craps. But as Jodi Picoult once said “I can always edit bad pages, but I can’t edit blank pages”. So, I guess that’s a start, now matter how ugly I think it is. Saya sudah berhasil menghadapi ketakutan saya di hari pertama ini. Besok saya akan mencoba menghadapi dan melaluinya lagi. One day at a time.

7 Juni 2020

Haura Emilia